Menuju Pintu-Pintu Surga di Tengah Etalase Kota

25 - Nov - 2010 | MUHAMMAD NURKHOIRON | No Comments »

Ritus kehidupan kota yang ditandai oleh industrialisasi, moneterisasi, dan segudang gaya hidup perkotaan bertumpang tindih dengan keriuhan lain: menari-nari gaya Rumi, dzikir, sholawat dan kenikmatankenikmatan lain yang meluap di tengah laku para sufi.

Said said
Said I remember when we used to sit
In the government yard in Trenchtown
Oba, ob-serving the hypocrites
As they would mingle with the good
people we meet
Good friends we have had, oh good
friends we’ve lost along the way
In this bright future you can’t forget
your past
So dry your tears I say
No woman, no cry

Syair Bob Marley ini menarik disadur ulang untuk memaknai suasana kehidupan orang-orang modern saat ini. Dan melalui syair itu, bisa jadi Bob Marley benar, tidak ada perempuan, maka tak akan nada tangisan, no women, no cry. Setegar lelaki yang tak putus mengejar asa, begitulah sejarah orang-orang modern saat ini dilukiskan. Fenomena ini setidaknya tergambar dari suasana kota-kota besar saat ini, dimana orang-orang harus bergulat bersama mesinmesin raksasa, teknologi, birokrasi dan impian akan hari depan. So dry your tears I say, kata-kata ini mengingatkan juga pada apa yang telah disampaikan oleh Max Weber (1864-1920), sosiolog yang banyak melukiskan paradoks-paradoks

berikut kompleksitas persoalan orang-orang modern. Seperti dia bilang, dunia saat ini seperti, “dunia yang tak lagi punya pesona” (disenchanmet of the world), rodaroda waktu diisi dengan jeruji-jeruji mekanik, orang-orang tergerus di dalam rutinitas kerja, kerja dan kerja. Pendeknya, hari-hari yang tak pernah dilalui dengan puisi.

Tetapi, seperti diingatkan Bob Marley pula, in this bright future you can’t forget your past (di dalam masa depan yang cerah ini, kau tak bisa melupakan masa lalumu). Mesin waktu modern, demikian menurut Sayyed Hossein Nasr, tak bisa memutus rantai kecenderungan dasar paling asasi dari diri manusia. Dalam katakatanya itu ia melukiskan dasar yang paling asasi dari manusia itu adalah kecenderungan mencari yang perennial.

“Saya rela meski Allah mengambil nyawa saya hari ini, asalkan saya tahu untuk apa saya dilahirkan,” kata Astrid Darmawan.

Jeritan Astrid ini seperti menggemakan kembali kata-kata Hossein Nasr itu. Padahal, siapa yang tak kenal Astrid? Ia tak kurang apapun dalam hidupnya. Hampir semua kemewahan di Jakarta telah ia reguk. Berada dipuncak karir dengan reputasi sebagai artis nasional, Astrid tidak merasa kekurangan secara material. Boleh dibilang ia bergelimang harta. Suami, keluarga, pergaulan, seluruhnya mendukung karir hidupnya. Namun justru di tengah kemewahan ini ia merasa hampa, hatinya galau, dan terus menderu seperti pesakitan yang terus meronta mencari obat penenang. Di saat-saat seperti ini ia berbalik. Perempuan berdarah Sunda, Jawa, dan Belanda ini adalah sedikit contoh dari orang-orang kota saat ini yang telah memutar hidupnya lebih dari 180 derajat. Astrid mencari ustadz dan guru mengaji.

Hal yang sama juga terjadi dalam kisah hidup Gito Rollies, mantan rocker 1980an, yang pernah lelap oleh obat-obatan, alcohol dan kenikmatan dunia. Di usianya yang udzur, Gito terus diselimuti jubah putih dan muka berjenggot (khas orang-orang yang berada di tengah-tengah jamaah tabligh). Pada detik-detik terakhir, sebelum ia dijemput sang waktu, hari-harinya dipenuhi dengan dzikir dan tasbih. Muka seram, berotot yang dulu ia tampilkan saat di panggung berubah menjadi senyum ramah dan doa-doa.

Rupanya, biografi dua sosok artis ini berubah menjadi bagian dari sejarah-sejarah kota. Ratapan suara yang merindukan dunia lain seperti Astrid dan Gito terus bergeliat di sudut-sudut kota. Bahkan suara ini menjadi bagian yang turut mewarnai perubahan kota itu. Kota-kota yang semula digambarkan sebagai pusat-pusat peradaban modern, penggerak rasionalisasi, industrialisasi, dan lebih-lebih seperti terjadi di negara-negara Eropa, deklerikalisasi (hancurnya karomah para kiai/ulama), mengalami pembalikan (turning point).

Di seputar gagasan ini, sinyalemen Auguste Comte (1798-1857) bisa jadi keliru. Gerak pendulum modernitas, udara dan bumi yang dipijak orang-orang modern saat ini tidak terus menanjak menuju apa yang dinyatakan Comte sebagai masyarakat dengan rasionalitas positivistik. Pesona dunia yang disangka Weber tersapu oleh angin modernitas/rasionalisasi, ternyata bangkit dan terus bersemi. Fenomena ini ditandai oleh maraknya ritual-ritual agama, keyakinan magis di tengah etalase kota. Ritus kehidupan kota yang ditandai oleh industrialisasi, moneterisasi, dan segudang gaya hidup perkotaan bertumpang tindih dengan keriuhan lain: menari-nari gaya Rumi, dzikir, sholawat dan kenikmatankenikmatan lain yang meluap di tengah laku para sufi. Seperti dialami Astrid dan Gito, orang-orang di Jakarta sebagian mengalami titik balik. Lihatlah Yati Idris (lihat, Perjalanan Mencari Sang Kekasih). Meskipun bukan sosok artis dan tak pernah tergiur dengan nongkrong di kafe-kafe malam, Yati Idris adalah sisi lain dari orang-orang kota yang memilih jalan kesepian. Cintanya tertawan diantara tumpukan buku-buku sufisme, diskusi, pengajian dan ritual ala Rumi. Sebelumnya, Yati belajar membekali agama untuk menegaskan kemapanannya. Dilahirkan dari keluarga berpendidikan, Yati dibebaskan memilih karir dan pendidikannya. Di saat ia lulus dan mendapatkan karir seperti yang ia cita-citakan, Yatipun galau. Sepertinya, ia tak puas dengan kemahiran dalil-dalil agama merasionalisasi kejadian alam dan pengalaman manusia. Iapun terdiam dan terperangah dengan jalan-jalan sufi. Ia berhenti dan larut di jalan ini.

Rupanya, jalan kesepian yang dilalui Yati semakin hari semakin diminati. Ini adalah titik balik dan kehidupan baru orang-orang yang telah terkoyak oleh kegaduhan Jakarta. Karena, Jakarta kini tidak saja terus disesaki penduduk, pusat industri dan mesin raksasa bagi perputaran uang tertinggi di Indonesia. Jakarta adalah ruang-ruang hiburan, percintaan kaum muda, perselingkuhan, dan “kebebasan”. Namun, seperti dirasakan Yati, kebebasan seperti ini nyaris seperti fatamorgana. Seperti burung-burung yang lepas di udara, kebebasan ini nyaris tanpa tujuan. Lantas apa beda antara manusia dan burung-burung itu? Yati terus bergulat menemukan jati diri dan maknanya bagi kehidupan. Pergulatan itu kian seru di saat ia ditinggal suaminya. Dan Cinta Yati kembali bersemi tetapi tidak kepada lelaki. Cinta Yati tertawan kepada sosok yang selama ini ia cari, ia rindukan: Sang Ilahi.

Ziarah, Karomah, dan Majelis Taklim

Tentu saja tak semua jalan menuju sunyi mesti ditempuh seperti Yati, Astrid dan Gito. Yati, Astrid dan Gito memiliki kemewahan untuk berdiam di tengah waktu senggang. Mereka tak harus hidup di tengah lorong sempit dalam rumah sederhana yang serba terbatas. Mereka bukan bagian dari penduduk-penduduk di kampung Jakarta yang tiap hari mengayuh kaki mengejar angkot, naik bemo, berdesakan di gerbong-gerbong kereta, dan hidup di gang kecil dengan ukuran rumah yang sangat sederhana. Meskipun bukan sesuatu yang mustahil jika jalan-jalan sufi seperti dilalui Yati tersangkut di tengah-tengah kampung kota, toh tak mungkin orang-orang ini tersulut dengan diskusi, dan ceramah-ceramah agama bergaya ilmiah. Di Kampungkampung ini, cerita-cerita legenda, karomah, dan hal-hal istimewa dari para tokoh jauh lebih popular dan bisa dinikmati. Tidak heran, orang-orang Islam di kampung Jakarta kerap menghabiskan separoh hidupnya dengan ziarah, meniti karomah dan mengikuti pengajian-pengajian di Majelis taklim. Tengok saja di Jakarta Utara. Di sini setidaknya terdapat dua makam keramat yang ramai dikunjungi “para pencari karomah dan berkah”.

Di Tanjung Priuk, di tengah deru truk-truk besar yang berbaris-baris menata bongkar-muat barang-barang kiriman, tergeletak makam yang disebut-sebut para peziarah sebagai situs keramat. Para peziarah menandai situs ini sebagai makam Mbah Priuk (Al Imam Al’ Arif Billah Sayidina Al Habib Hasan Bin Muhammad Al Hadad Al Husaini Ass Syafi’i Sunni R.A). Para peziarah di Mbah Priuk tak terpengaruh dengan aksi kekerasan beberapa bulan lalu, ketika polisi merangsek dan menggerus barisan massa untuk membongkar makam ini. Sebaliknya, aksi kekerasan ini terus menebarkan kebesaran legenda Mbah Priuk.

Menurut santri yang selalu berada di makam tersebut, mereka kerap mencium aroma wangi yang khas di sekitar makam. “Hal tersebut sering kami alami, secara tiba-tiba tercium bau minyak wangi yang khas,” katanya.

Aroma wangi tersebut, dianggap para santri maupun peziarah sebagai pertanda berkah. “Kehidupan orang yang mencium bau tersebut akan mendapatkan berkah di dunia dan akhirat. Tapi harus yakin dan diamalkan saat berada di luar lingkungan,”katanya meyakinkan.

Selain di Priuk, makam keramat lain terdapat di Masjid Keramat Luar Batang. Di masjid ini terdapat makam Habib Husein bin Abu Bakar Alaydrus (wafat, 1756 M). Tiap hari makam-makam ini tak sepi dari pengunjung. Bukan saja dari Jakarta, makam Habib Husein ini dikunjungi peziarah dari berbagai daerah. Mereka berduyun-duyun dengan menggunakan bus sewaan, mobil pribadi, hingga sepeda motor. Para peziarah ini datang dari berbagai kalangan, tidak terkecuali kiai-kiai Jawa, Habib dan para politisi. Tidak jarang diantara para peziarah ini menginap di samping makam.

Selain di utara, kita juga bisa berkunjung ke tengah (Jakarta Pusat) dan ke sebelah selatan (Jakarta Selatan). Di Jakarta Pusat, tepatnya di daerah Cikini, terdapat makam Al Habib Abdurahman bin Abdullah Al Habsy. Sebelum makam ini dibongkar, para peziarah datang silih berganti. Makam keramat lain terdapat di Kalibata. Adalah makam Habib Kuncung yang dikelilingi gedung–gedung besar dan Mall Kalibata. Di mata para peziarah, ia dikenal ulama dengan prilaku ganjil (khoriqul a’dah), bertingkah laku diluar kebiasaan manusia pada umumnya.

Selain ziarah, oase lain ditemukan penduduk-penduduk kota melalui dzikir dan mendengar petuah-petuah ustadz, ustadzah, guru Habib, dan kiai. Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir, jamaah-jamaah pengajian semakin meningkat jumlahnya. Pengajian di Kwitang terus menanjak. Minggu pagi misalnya, dari arah menuju Kwitang (Cikini), kerap dijumpai ibu-ibu berkerudung dan busana putih. Mereka seperti siap menata baris sendiri-sendiri tanpa menunggu komando. Jamaah ini berduyun-duyun untuk mendapatkan karomah dari almarhum Habib Ali Kwitang (Al Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi). Pada umumnya, mereka datang dari kampung-kampung di sekitar DKI, Bekasi, Depok dan Bogor. Datang secara bergerombol, mereka berbondong-bondong menuju stasiun-stasiun kereta (KRL). Mereka biasanya disertai anak-anak, remaja, dan lelaki dewasa.

Habib Kwitang boleh dibilang tonggak baru bagi perjalanan Jakarta menuju kota metropolis. Kampung-kampung yang semakin padat, wajah-wajah muram disertai derai keringat buruh-buruh pabrik, pedagang kaki lima karena berebut rejeki di sudut-sudut Jakarta, seperti tersiram cahaya dari arah Kwitang. Di masa hidupnya ia adalah oase di tengah padang pasir. Ini diakui sendiri oleh sebagian besar pengikutnya. Siraman rohani dan bimbingannya merembes sampai ke uluk hati. Minggu pagi yang cerah seperti gerimis air mata yang diringi isak tangis. Suara lirih sang Habib membawa murid-muridnya tergiring ke suasana sahdu.

“Terutama di saat beliau mentalqinkan dzikir atau membaca sholawat dengan suara mengharukan, disertai tetesan air mata, maka segenap yang hadir turut meneteskan air mata”, ujar Muttakin salah satu pengikut setia pengajian di Kwitang.

“Tidak mungkin jika tidak dikarenakan keluar dari hati yang ikhlas, hati yang disinari oleh nur iman dan nur mahabbah kepada Allah dan Rasul-Nya SAW, katanya kemudian.

Habib Kwitang sosoknya semakin melegenda. Pada suatu pagi, ketika makamnya di Cikini dibongkar, suasana menjadi ramai gaduh. Di sekitar makam, tiba-tiba menyembur air tawar yang jernih. Tanpa menunggu komando, beberapa orang silih berganti mengambil air yang keluar dari liang lahat itu. Air itu dipercaya memiliki tuah untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Salah satu warga yang mempercayai tuah air itu adalah Sayuti, 40 tahun, warga Kwitang, Jakarta Pusat. Dia mempunyai keluhan pada pundak yang terasa sakit sejak satu setengah bulan lalu akibat terjatuh. “Saya tidak bisa tidur,” katanya. Setelah meminum air dari makam itu sakitnya hilang dalam sekejap.

Semangat mengaji mingguan seperti di Kwitang, nampaknya semakin menjadi rutinitas yang dijalani sebagian penduduk Jakarta. Di pojok-pojok jalan besar di Jakarta, sering dipasang spanduk-spanduk besar yang mengumumkan ritual dzikir akbar. Tidak jarang acara ini dihadiri oleh elite-elite politik; ketua partai, pejabat setingkat menteri, hingga presiden. Lelaki bersurban, berjubah putih yang menjadi pengikut-pengikut setia dzikir ini, jumlahnya bisa diatas angka ribuan. Mereka datang dari berbagai kampung di Jakarta. Suasana kemacetan menjadi bertambah ketika para jamaah (penggembira) yang aktif ini tengah berjalan menuju panggung dizikir/ pengajian. Majelis Rasulullah (Habib Munzir Almusawa), Jamaah Nurul Musthofa (Al Habib Hasan Bin Ja’far Assegaf), jamaah dzikir Arifin Ilham, Ustadz Haryono, adalah sedikit dari beberapa perkumpulan (jamaah) yang rutin mengadakan panggung pengajian. Majelis Rasulullah dan Nurul Musthofa kerap meramaikan jalan-jalan besar di sekitar Jakarta; pasar minggu, kalibata, pancoran dan sekitarnya. Pengajian ini bisa diikuti ribuan jamaah.

Para jamaah berjubel memenuhi jalan dengan lantunan dzikir dan doa. Suara teduh sang Habib diresapi dengan khusuk, terdengar isak tangis disana-sini, lantunan taubat dan air mata. Saya mencari barokahnya Habib”, ungkap Mamad lirih. Mamad adalah satu diantara ribuan jamaah pengajian yang secara teratur mengikuti pengajian-pengajian Nurul Musthofa. Ia rela mengisi sebagian aktivitasnya sebagai jamaah Nurul Musthofa. Ia sudah merasa cukup, dan mungkin tak akan ngotot mengais rejeki seperti lelaki-lelaki lain di Jakarta. Hari-harinya dilalui dengan mengontrol hasil sewaan rumah indekost, memanjakan perkutut dan tentu saja mengaji. Dan seperti jamaah lain yang jumlahnya ribuan, ia ikut berduyun-duyun mendengarkan suara Habib mengisi kalbunya, meskipun harus dilakukan dengan berdesak-desakan.

Habib Munzir Almusawa, pemimpin Majelis Rasulullah juga dikenal peneduh kalbu. Ia membimbing jamaahnya dengan nasehat-nasehat mulia, dengan mengutarakan hadits-hadits Rasul saw dan ayat Alqur’an. Suaranya diatur, terjaga kelembutannya dan terkesan menyejukkan. “Saya belajar sastra”, akunya untuk menambah khasanah di panggung-panggung pengajiannya.

Habib Munzir kerap menambah sound system bertenaga besar, dan menghasilkan suara yang maksimal. Tak beda dengan panggung-panggung band papan atas. Oleh karena itu, ribuan jamaah tak mengurangi kualitas suaranya. Dari jarak 200-300 meter suara merdunya masih terjaga.

Di televisi, acara-acara pengajian berlangsung tiap hari. Misalnya pengajian subuh. Yang menarik, pengajian-pengajian subuh di televisi banyak diikuti perempuan separoh baya. “Menjelang pukul 01.00 dini hari, di depan rumah saya terdengar suara berisik, beberapa perempuan berseragam serba putih, mereka siap-siap untuk berangkat menuju sebuah stasiun televisi swasta di bilangan Jakarta Barat”, tutur Sjamsoeir Arfie, seperti disampaikan melalui situs http://www.theglobalreview.com.

“Menurut rencana, ibu-ibu berkerudung tersebut bakal jadi penggembira acara “Da’wah Subuh” seorang Ustadzah. Di acara tv ini, kaum lelaki tak lagi menguasai panggung para da’i. Beberapa ustadzah/juru da’i kerap menghiasi pengajian-pengajian subuh ini. Yoyoh Usroh, Mamah Dedeh Rosyidah, adalah sebagian ustadzah yang mulai dihafal pemirsa, khususnya ibu-ibu. Yoyoh Usroh dan Mamah Dedeh bergaya jenaka, suka mewarnai isi pengajiannya dengan cerita-cerita jenaka. Geeerrrrrrr, seringkali suara ini bergemuruh ketika dua ustadzah ini berceloteh. Dan merekapun terhibur.

Mungkin berbeda dengan Astrid yang merindukan Tuhan melalui pergulatan pribadi alias sendirian. Ibu-ibu yang memiliki jamaah pengajian, majelis taklim lebih senang bertukar sapa, saling menaruh curhat, membangun pertemanan melalui perkumpulan-perkumpulan pengajian ini. “Kita juga giatkan arisan, di sela-sela pengajian. Sekali waktu olahraga bersama”, kata Walimah. Walimah sendiri hidup di kampung Depok.

Ia menjalani pengajian-pengajian di majelis selama puluhan tahun. Pengajian ini dilakukan secara berkeliling di tiap-tiap rumah anggota. Tidak jarang perkumpulan yang diikutinya mengikuti kegiatan pengajian dan acara ziarah ke Habib-Habib di Jakarta. Di kampung tempat Walimah sendiri, tiap kamis pagi, suara khataman Al Quran dikumandangkan ibu-ibu melalui TOA mushollah sebelah rumah.

Komunitas majelis taklim ibu-ibu seperti ini terbilang paling langgeng. Mungkin karena tak harus diatur secara formal, komunitas seperti majelis taklim ibu-ibu tidak pernah susut karena ditinggal anggotanya. Di kota Depok (salah satu wilayah JABODETABEK) majelis taklim ibu-ibu berlangsung sangat aktif. Suara-suara pengajian bersautan dari satu TOA ke TOA lain. Nyaris seperti suasana di pondok pesantren. Lebih-lebih di hari kamis/malam jumat, kegaduhan mengaji berseliweran di kampung-kampung melalui TOA-TOA masjid.[]


Beranda  |  Kategory: Edisi 21 | Tags: , | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia