Gempita Pencarian Tuhan Di Tengah Kota

23 - Nov - 2010 | Ahmad Sabir - Heru Prasetia | 1 Comment »

Pengajian eksklusif, gempita lautan massa yang bersholawat, atau praktik-praktik tarekat di pojok-pojok kafe adalah representasi dari sejumlah gejala atau kecenderungan umum masyarakat perkotaan pada relijiusitas.

Ada keramaian orang pada sebuah acara di malam minggu ketiga bulan November tahun 2009 lalu. Kembang api berloncatan ke langit menerangi malam persis di atas Pasar Minggu Jakarta Selatan. Jika dilihat sekilas, kegiatan ini mirip festival atau konser musik. Ada sebuah panggung, lengkap dengan display layar lebar agar mereka yang berada jauh dari panggung bisa dengan jelas menatap orang-orang di atas panggung.

“Pentas” ini dilengkapi pula dengan sound system ribuan watt yang mampu melengkingkan suara hingga mencapai radius ratusan, bahkan ribuan meter. Suasana serupa pasar malam bisa dijumpai di pinggir jalan dekat lokasi acara. Di sekitar lokasi acara terlihat banyak penjual yang menjajakan dagangannya, dan kebanyakan mereka berdagang barang-barang yang diasosiasikan sebagai benda-benda relijius seperti kopiah, sarung, parfum non alkohol bahkan semacam merchandise dari acara pengajian itu sendiri. Massa yang datang dalam acara tersebut didominasi oleh kalangan muda. Di jalan-jalan menuju lokasi acara, terlihat konvoi kendaraan baik dengan mobil bak terbuka maupun rombongan motor yang memadati jalan. Jika saja para peserta konvoi ini tidak mengenakan kopiah putih, berbaju putih dan berjaket hitam dengan tulisan “Majelis Rasulullah” di punggungnya, maka dapat dipastikan orang akan mengira ada sebuah pesta atau konser musik. Tapi inilah pengajian itu. Inilah pengajian yang bernama “Majelis Rasulullah.”

Majelis pengajian ini bisa berpindah-pindah, tergantung pada “order”. Pimpinan sekaligus pendiri Majelis ini adalah Habib Munzir al Musawwa, yang akan memberikan siraman rohani pada acara tersebut. Ia memulai kiprahnya dalam dunia majelis zikir setelah pulang dari studinya di madrasah Darulmustafa di Yaman. Pada awalnya ia mengadakan majelis setiap malam Selasa di Cipayung dengan mengajar fiqh atau aturan-aturan dalam Islam. Namun karena melihat sepinya minat masyarakat, ia mengubah fokus utama pengajiannya menjadi majelis shalawat dan zikir. Dari situlah ia mulai memberi nama pada majelisnya sebagai “Majelis Rasulullah,” yang ia artikan sebagai tempat orang berkumpul untuk mencintai ajaran Rasul. Besarnya minat masyarakat membuatnya memindahkan acara ke masjid-masjid besar. Setiap selasa, secara bergantian ia menggelar acara di masjid Raya Al Munawar Pancoran Jakarta Selatan, Masjid Raya At Taqwa Pasar minggu Jakarta Selatan, Masjid Raya At Taubah Rawa Jati Jakarta Selatan, dan Ma`had Daarul Ishlah Pimpinan KH. Amir Hamzah di Jalan Raya Buncit, Kalibata Pulo.

Tidak lama kemudian ia mulai memusatkan acara majelisnya di Masjid Raya Al Munawar, Pancoran, Jakarta Selatan. Ribuan orang hadir setiap malam Selasa di masjid itu untuk mendengar ceramah sang habib. Habib Munzir al Musawwa sendiri mengaku sebagai pengikut tarekat Alawiyyah, sebuah tarekat yang berasal dari Hadramaut, Yaman Selatan. Nama Alawiyyah dinisbatkan pada Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir seorang ulama sufi abad 17 yang berasal dari Hadramaut. Umumnya tarekat ini diidentikkan dengan kaum Alawiyyin atau para keturunan Nabi Muhammad dari garis Alawi bin Ubaidillah. Kaum Alawiyyin juga kerap dikenal dengan sebutan Bani Alwi. Tarekat Alawiyyah ini tersebar di berbagai negara di Afrika, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Di luar hari Selasa itulah, majelis ini bisa berpindah ke berbagai tempat di Jakarta dan sejumlah kota di Jawa. Para pendukung majelis ini bahkan sudah tersebar di sepanjang pantai utara Jawa, Bali, Mataram bahkan di luar negeri seperti Singapura, Johor, dan Kuala Lumpur. Tidak hanya menggunakan media tradisional seperti panggung pengajian, majelis ini juga memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dengan menggunakan video, majalah, dan situs internet untuk menunjang kegiatan-kegiatannya. Untuk mengetahui agenda-agenda kegiatan komunitas ini, orang cukup mengunjungi situs majelisrasulullah.org.

Di tempat lain, sebuah cara mencari Tuhan tidak digelar seperti pesta pasar malam tapi dalam keheningan sebuah kafe, Rumi Café namanya. Kafe ini terletak di kompleks ruko jalan Iskandarsyah ke arah Kemang, persis di samping Mabua Harley Davidson, kawasan elit Jakarta Selatan. Kafe ini menempati dua lantai sebuah ruko berlantai tiga, bergabung dengan kantor Yayasan Asih di lantai paling atasnya. Dinding interiornya dicat abu-abu tua. Di lantai satu, di samping susunan meja dan kursi layaknya kafe, sejumlah buku dan foto tokoh sufi, termasuk Rumi, dipasang berjejer di etalase dan dinding-dindingnya. Dan di etalase lain ada kumpulan beberapa manekin pria berbusana whirling lengkap dengan topi khas, sorban, dan jubah hitam. Sedang di lantai dua dibiarkan kosong dengan beberapa kaligrafi dan foto ulamaulama sufi di dindingnya. Kafe ini memang dirancang bukan semata untuk menyediakan ruang hiburan dan tempat bersantai.

Pengelolanya sepertinya memang menghendaki tempat ini sebagai majelis untuk bertemu dan berbagi ilmu. Termasuk menonton tarian sufi. Selain itu, pengelola kafe ini juga membuat sejumlah program seperti Program Workshop Whirling Dervishes Rumi, Meditasi Sufi, Dzikir Sufi & Sufi Dance. Tak hanya menjadi tempat nongkrong, kafe ini juga dilengkapi layar lebar untuk pemutaran film relijius para sufi. Rumi Café dilengkapi dengan perpustakaan, penjualan berbagai buku tentang sufisme, DVD, VCD, CD, merchandise Rumi berupa baju Whirling Dervishes, dan Kajian Tasawuf. Pengunjung Café Rumi datang dari berbagai macam latar belakang, mulai dari masyarakat kebanyakan sampai para eksekutif muda Jakarta. Menurut pengelolanya, kafe ini memperkenalkan tarekat Naqshbandi al-Haqqani, yang dasar kekuatannya terletak pada zikir. Menurut Mukhsin, pengurus harian Rumi Café, kafe ini sengaja dibuat untuk tempat bertemu, berdiskusi, sekaligus menjadi ruang untuk belajar tentang sufisme. Setiap Senin malam, di lantai dua Rumi Café diperagakan whirling dervishes, tarian sufi yang berputar-putar itu, yang diperkenalkan oleh Jalaluddin Rumi.

Jalaluddin Rumi sendiri adalah seorang sufi sekaligus penyair abad 13 Masehi. Rumi dikenal sebagai seorang tokoh sufi yang menekankan pada aspek cinta dalam syair-syairnya. Sebagaimana para sufi lainnya, konsep sentral dalam pemikiran Rumi—yang tercermin dalam syair-syairnya—adalah Tauhid. Rumi percaya bahwa syair, musik, dan tari bisa menjadi jalan untuk mencapai Tuhan. Karena itulah Rumi memperkenalkan Sama’, yakni mendengarkan musik dan menari untuk memfokuskan diri pada Tuhan. Tarian sufi whirling dervishes adalah salah satu bentuk ungkapan cinta Ilahi yang dianggap sebagai karya Rumi.

Para pengikut Rumi membentuk satu tarekat bernama Mawlawi Order atau tarekat Maulawiyah. Sementara itu, tari berputar-putar itu kini berkembang menjadi seni pertunjukan. Selain di negeri asalnya di Turki, tarian ini juga dipertunjukkan di sejumlah tempat di negara-negara Barat. “Tarian sufi ala Rumi yang kami adakan bukan sekadar tarian, namun merupakan zikir. Dan ini diperkenalkan oleh guru kami Maulana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani yang masih merupakan keturunan dari Jalaluddin Rumi,” kata Mukhsin. Syaikh Nazim Adil al-Haqqani adalah pimpinan tarekat Naqshbandi al-Haqqani, salah satu sub-order dari tarekat Naqshbandiyah, yang belakangan ini berkembang cukup pesat dan digemari oleh anak-anak muda di kalangan perkotaan.

Selain menjadi pimpinan tarekat Naqshbandiyah, Syaikh Nazim juga punya garis pada tarekat Qadiriyah dan Maulawiyah. Sebagai salah satu murid dari guru-guru Maulawiyah sekaligus keturunan Rumi maka tidak mengherankan jika Syaikh Nazim juga memperkenalkan tarian sufi tersebut pada murid-muridnya. Tarian ala Rumi ini kini cukup populer di kalangan murid tarekat Naqshbandi al-Haqqani. Tarekat Naqshbandi al-Haqqani ini sekarang menjadi bagian dari tren pencarian spiritualitas kelas menengah perkotaan.

Pengajian sejenis dengan level dan audience yang sedikit berbeda diadakan oleh Paramadina, setiap Kamis pagi yang dipandu oleh Jalaluddin Rahmat. “Kajian Kamis pagi di Paramadina merupakan level pertama untuk masuk ke tingkatan berikutnya yaitu jalan sufi mendekatkan diri pada Ilahi,” ungkap Yati salah seorang yang sebelumnya aktif dalam pengajian Kamis pagi di Paramadina. Kajian Paramadina termasuk kajian agama yang cukup dikenal di kalangan Islam kelas menengah di Jakarta. Kajian ini tidak melulu bertema tasawuf, namun memang tema tasawuf termasuk salah satu yang paling digemari. Acara kajian ini tidak gratis. Untuk satu paket pengajian bersama Jalaluddin Rahmat, misalnya, peserta dipungut 650 ribu rupiah untuk sebelas kali pertemuan. Selain bersama Kang Jalal, Kajian Paramadina juga kerap menggelar
acara diskusi dan sejumlah pertemuan. Misalnya diskusi bulanan tentang tema pemikiran tokoh atau ulama tertentu. Untuk mengikuti acara semacam ini peserta dipungut sekitar 50 ribu rupiah setiap pertemuan.

Kajian Paramadina tersebut hanya satu contoh dari sejumlah kegiatan pengajian atau ceramah mengenai Islam dan tasawuf yang digemari kalangan eksekutif di Jakarta. Contoh lainnya adalah Padepokan Thaha yang dipimpin Ustadz Rachmat Hidayat yang menawarkan sebuah jalan menuju kedekatan pada Tuhan. Kajian Paramadina maupun Padepokan Thaha bukanlah suatu tarekat sebagaimana pengertian tarekat konvensional seperti Naqshabandiyah atau Qadiriyah. Keduanya lebih merupakan bentuk-bentuk baru pencarian spiritualitas yang tidak berafiliasi pada tarekat yang sudah mapan.

Tidak hanya di kota besar seperti Jakarta, di kota-kota kecil juga bisa ditemui komunitas-komunitas yang mempelajari tasawuf tanpa terikat pada tarekat tertentu meski telah membentuk semacam komunitas yang cukup solid. Di Solo, misalnya, bisa dijumpai komunitas yang belajar tasauwuf di pesantren Khalimatussa’diyah yang dipimpin oleh seorang perempuan yang dianggap punya kelebihan spiritual (lihat Liputan Khusus).

Pengajian eksklusif, gempita lautan massa yang bershalawat, atau praktik-praktik tarekat di pojokpojok kafe adalah representasi dari sejumlah gejala atau kecenderungan umum masyarakat perkotaan pada relijiusitas. Di luar itu, sejumlah forum kajian atau majelis zikir bisa dengan mudah dijumpai di sudutsudut kota. Di Masjid Bani Umar, Tangerang, misalnya, setiap minggu pagi berkumpul sejumlah orang mengikuti kajian Ahad Dhuha. Masjid megah dan halaman yang luas berikut taman-tamannya yang asri ini terletak di kompleks perumahan elit di Graha Bintaro. Seminggu sekali di masjid ini diadakan kajian Dhuha Ahad yang diadakan pada pukul tujuh sampai sembilan pagi. Kajian ini biasanya diisi dengan ceramah agama kemudian diikuti sedikit tanya jawab. Biasanya ustadz yang diundang berbeda setiap minggunya tergantung pada minat panitia penyelenggara. Peserta kajian ini tidak hanya datang dari kompleks sekitar masjid, namun juga dari tempat-tempat lain yang berjauhan.

Di seantero Jakarta—dan juga di kota-kota besar lainnya—kita dengan relatif mudah menjumpai kegiatan-kegiatan majelis taklim semacam itu. Di Jakarta bisa disebut ada ratusan majelis taklim. Majelis-majelis taklim ini biasanya dikelola oleh ibu-ibu, dan pesertanya juga ibu-ibu. Pengajian seperti ini dibuat berdasarkan wilayah RT atau kelurahan. Majelis taklim ini lebih diminati oleh ibu-ibu rumah tangga yang tidak bergelut dengan karir atau kerja kantoran. Dalam rutinitasnya, majelis taklim-majelis taklim lebih banyak diisi dengan wiridan bersama selain mengundang seorang ustadz untuk memberikan ceramah agama. Sering sekali majelis taklim juga merupakan perkumpulan tolong-menolong antar warga, atau sebagai wadah arisan dan sosialisasi antar warga seperti yang kebanyakan ada pada majelis taklim di Jakarta. Majelis taklim biasanya rutin menyelenggarakan pengajian yang sudah ditetapkan, misalnya seminggu sekali atau sebulan dua kali.

Seperti sudah umum, setiap majelis taklim kegiatannya dipusatkan pada masjid yang ada di sekitar rumah warga sehingga terkadang nama majelis taklim mengikuti nama masjid tempat mereka mengadakan kegiatan. Sebagian lainnya juga ada yang diadakan secara bergilir dari rumah ke rumah dalam anggota majelis taklim tersebut. Akan tetapi ada juga yang dicampur, di mana dalam sebulan hanya sekali diadakan di masjid dan lainnya diadakan bergilir dari rumah ke rumah Majelis taklim juga sering dijadikan ajang bersosialisasi warga, untuk memperkuat silaturahmi antar tetangga. Acara-acara semacam ini juga mendapat sokongan dari pemerintah setempat, seperti yang terjadi pada majelis taklim al Abror di Jurang Mangu, Tanggerang. Selain ceramah dan berzikir bersama, majelis ini juga punya kegiatan sosial kemasyarakatan, misalnya kerja bakti bersih-bersih lingkungan seperti pemberantasan jentik nyamuk.

Bentuk majelis taklim memang bermacam-macam, ada yang seperti majelis taklim al Abror yang diketuai Ibu Hamidah ini, ada pula majelis taklim yang mencukupkan diri pada pengajian atau ceramah saja. Majelis taklim di Pondok Pucung Tanggerang yang digerakkan oleh Ibu Nuraini, misalnya, hanya mengadakan kajian tafsir Alqur’an. Ia bersama ibu-ibu lain di RT-nya dengan berkelompok sengaja memanggil ustadz yang cendekia dan mumpuni untuk mengupas kandungan al-Qur’an ayat demi ayat yang rutin dilaksanakan secara bergilir dari rumah ke rumah dalam kelompoknya. Mereka berharap taklim kajian al-Qur’an tersebut mampu mengubah cara pandang dan sikap mereka seharihari untuk lebih dekat kepada Ilahi. “Kita lihat banyak sekali acara-acara pengajian di Jakarta ini, bahkan di televisi, tapi kenapa masih banyak kita lihat perilaku kejahatan, perbuatan menyimpang, selingkuh, korupsi dan lain sebagainya. Itu kan menunjukkan selama ini pengajian-pengajian dan siraman rohani itu cuma di permukaan saja. Tidak ada sikap untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt yang bisa kena di hati,” ucap Nuraini. Bagi Nuraini, kebutuhan spiritualitas tidak cukup hanya sekadar diisi dengan wiridan, mendengarkan tausyiah, menonton ceramah di TV, tapi harus mendalami secara penuh ajaran Islam melalui tafsir al-Qur’an.

Tentu saja majelis-majelis taklim para ibu di kampung-kampung tersebut punya nuansa yang sangat berbeda dengan pengajian eksklusif yang diikuti kalangan profesional dan eksekutif muda di hotel-hotel berbintang atau di rumah-rumah mewah. Berbeda juga dengan para ibu muda yang dengan antusias melakukan baiat pada mursyid-mursyid (guru) tarekat. Satu mewakili kegelisahan kaum urban dalam pencarian spiritualitas, satunya lagi mencerminkan komunalisme ibu-ibu kampung. Namun dua hal tadi berada dalam dimensi yang sama yakni gairah pada agama.

Dari Mencari Kawan Hingga Mencari Tuhan

Sebagian dari mereka yang melakukan pencarian spiritual di kajian-kajian eksklusif tersebut menyatakan bahwa keikutsertaan mereka dalam acara itu adalah demi mencari kedamaian jiwa di tengah hiruk-pikuk kota. Kehidupan kota yang keras melahirkan jiwa-jiwa yang sakit. Di kantor, yang dijumpai adalah persaingan tanpa ampun, di jalanan yang dilihat hanya serapah orang-orang yang terjebak macet, sementara yang menunggu di rumah diliputi kebosanan. Pendeknya, hidup tidaklah indah. Pada titik inilah orang mulai mencari jalan lain yang menuntun pada kebahagiaan hidup. Motivasi orang mengikuti acara-acara relijius ini pasti tidak sama. Tapi mereka berada pada ruang perjumpaan yang sama. Desi misalnya, sengaja datang jauh-jauh dari rumahnya di Bekasi untuk mengikuti berbagai kegiatan di Rumi Café seperti pelatihan whirling dervishes maupun diskusi-diskusi rutin yang diadakan yang dianggap mampu menyeimbangkan spiritual. Aktivitasnya selama ini dirasa kurang.

“Kesibukan sehari-hari yang sifatnya duniawi baik itu di kerjaan maupun di keluarga membuat saya merasa perlu untuk rehat sejenak meleburkan diri kepada Allah melalui kajian sufi dan zikir-zikir di sana,” ungkap Desi, seorang ibu muda dengan anak balita yang berprofesi sebagai PNS di Depdiknas ini.

Sementara bagi Yulida, pengajianpengajian majelis taklim sangat penting bagi dirinya untuk bekal kehidupan setelah kematian. “Kehidupan Jakarta kayak begini menuntut aku mau tak mau harus mendekatkan diri kepada Allah. Pengajian seperti ini membuat aku mengerti tentang agama dan juga untuk bekal di akhirat nanti,” ungkap Yulida, seorang pengajar di Jakarta Pusat.

Sedangkan Yati Idris yang pernah mengikuti pengajian di Paramadina mengatakan bahwa pencariannya pada jalan menuju Tuhan adalah karena ia selalu bertanya pada diri sendiri, apa yang sebenarnya ia cari dalam belantara kehidupan kota yang hiruk pikuk ini.

“Semua kesibukan ini membuat jiwaku meronta, apa yang sebenarnya kucari? Toh harta dan hal-hal yang bersifat duniawi tak akan ada habisnya, tak akan ada ujungnya, tak akan ada kepuasan jika semua aktifitas, harapan dan cita-cita digantungkan ke sana,” ungkapnya.

Yati kini aktif mengikuti tarekat Naqshabandiyah al-Haqqani melalui perjumpaannya dengan Syaikh Hisyam al-Kabbani.

“Syaikh Hisyam telah banyak memberiku pelajaran. Dia mengajarkan kepadaku sisi Islam yang berbeda sama sekali dengan yang pernah kukenal selama ini. Dia menunjukkan kepadaku jalan untuk bercinta kepada Allah Swt,” tandasnya.

Syaikh Hisyam al-Kabbani adalah wakil sekaligus menantu Syaikh Nazim Adil al-Haqqani, pimpinan tarekat Naqshabandi al-Haqqani. Jalan yang ia sebut sebagai jalan sufi itu telah ia rasakan sebagai jalan kebenaran dan kebahagiaan. “Jalan sufi yang kurasakan ini membuatku benar-benar kuat, sekuat perjuanganku untuk berusaha mengangkat martabat saudaraku yang kebetulan kurang mampu,” imbuhnya.

Sementara itu Noeri Kiki, seorang account director salah satu perusahaan event organizer ternama di Jakarta, mengaku perlu mencari spiritualitas di luar kerangka formalitas agama yang ada selama ini. Ia merasa bukan sebagai seorang penganut Islam yang kaku atau ketat dalam menjalankan agama, namun ia tetap merasa pemenuhan aspek spiritual bagi individu itu penting. Karena itu ia tertarik untuk mengikuti training Emotional and Spiritual Quotient (ESQ) demi memenuhi dahaga ruhani akibat
kesibukan kerja yang akut.

Tentu tidak semua dilandasi oleh hasrat pencarian akan spiritualitas semacam itu, ada pula yang didorong oleh kebutuhan-kebutuhan lain di luar itu, misalnya kebutuhan untuk bersosialisasi dan mencari kawan baru. “Tadinya saya cuma pengen tahu seperti apa sih, semenarik apa sih pengajiannya, tapi asyik juga kok buat menambah bekal ilmu agama kita, juga untuk mengisi waktu senggang daripada nonton gosip terus… hehehe.., kan sekalian juga menambah teman,” ungkap Ratna seorang ibu muda yang aktif dalam pengajian kamis pagi di Paramadina.

Apapun motivasinya, mereka berada dalam satu orbit kecenderungan relijius, yakni pencarian akan ketentraman batin. Paling tidak, ada semacam ketentraman ketika mereka hadir di pertemuan-pertemuan tersebut, entah karena bertemu Tuhan atau karena bertemu kawan. Para ibu atau gadis yang berbondong-bondong bershalawat dan mendengarkan ceramah Habib Munzir al Musawwa juga punya hasrat yang beragam. Di antara mereka ada yang berharap berkah dari sang habib atau sekadar menikmati keramaian.

Para ibu itu tentu tak sendiri, tidak sedikit pula pria yang menjalani laku serupa: mengikuti kajian rutin, bergabung pada salah satu ordo tasawuf tradisional, atau menghadiri ceramah yang diisi oleh penceramah kondang. Teguh Prihandono, misalnya, lelaki berusia 30 tahun yang berprofesi sebagai konsultan investasi di salah satu perusahaan konsultan di Jakarta ini selalu rutin mengikuti Majelis Rasulullah di manapun majelis digelar. Setidaknya satu minggu sekali Teguh menyempatkan diri
untuk mengunjungi kegiatan Majelis Rasulullah dari rumahnya di Pondok Pinang, Bekasi. Hal paling utama yang membuatnya terdorong untuk secara rutin mengunjungi Majelis Rasulullah adalah karena daya tarik kharismatik tokoh pimpinan Majelis Rasulullah yang dalam setiap majelis akbar digelar selalu memberikan tausyiah, “Kata-kata dan doanya membuat hati saya teduh, saya mengidolakan Habib dan selalu menantikan setiap tausyiahnya,” papar Teguh yang tak jarang mengeluarkan air mata setiap kali mendengar tausyiah dan doa dari tokoh idolanya tersebut, yakni Syeikh Habib Munzir al Musawwa, pimpinan Majelis Rasulullah.

Selain itu, Teguh merasa mendapat sesuatu yang berbeda setelah mengikuti kegiatan Majelis Rasulullah itu. Nuansa keberislaman yang kental dalam kegiatan majelis akbar membuatnya merasa tenang, dan benar-benar menghanyutkannya hingga ekstase dalam iman yang memuncak kepada Tuhan. “Saya merasa nyaman dengan kebersamaan persaudaraan Islam disini, dan merasa iman saya bertambah dan semakin dekat kepada Allah setiap kali mengikuti majelis akbar ini,” tuturnya. Keikutsertaannya dalam Majelis Rasulullah ini membuat hidupnya lebih seimbang, antara kesibukan duniawinya dan spiritualitas keimanannya.

Semarak dan gegap gempita majelis doa juga menjadi daya tarik tersendiri yang tidak kalah dibanding siraman ruhani atau kehadiran syaikh pemandu zikir. Aisyah, seorang koordinator putri Majelis Rasulullah, mengatakan bahwa konvoi di jalanan adalah aspek penting dari “performance” majelis. Itu adalah bagian dari apa yang disebutnya sebagai dakwah. “Kalau ada konvoi-konvoi ramai-ramai di jalan kan bisa juga memberitahu ke orang-orang bahwa ini lho malam minggu ada pengajian, untuk mencari pahala mengharap ridho Allah,” ujar Aisyah. “Ini karena kami cinta Allah dan cinta Rasulullah, inilah yang menggerakkan kami,” imbuhnya. Gemuruh acara yang terdengar ke mana-mana menjadi kenikmatan tersendiri. Ada kepuasan yang dirasakan ketika menyadari bahwa yang dilakukannya adalah salah satu cara agar orang
ingat pada Tuhannya.

Deret tujuan dan motif orang untuk turut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan agama itu bisa teramat panjang dan sangat beragam, barangkali sebanyak orang yang terlibat itu sendiri. Masing-masing orang bisa jadi punya hasrat dan motivasi yang berbeda. Jikapun hendak dibuat generalisasinya, barangkali saja bisa dikatakan bahwa mereka berada pada jalan pencarian spiritualitas. Pencarian atas sesuatu yang barangkali tak dapat dijumpainya di tempat lain. Namun, tetap saja, alasan kenapa orang bisa melakukan pencarian itu dan mengapa ia mencari di suatu tempat (dan bukan tempat lain) adalah soal yang sepenuhnya personal. Pengakuan Ratna di atas menyiratkan bahwa aktivitasnya lebih dilandasi pada keinginan untuk bertemu kawan. Bagaimanapun, spiritualitas sendiri merupakan sesuatu yang maknanya bisa
berbeda pada setiap orang. Teguh, misalnya, mengalami spiritualitas pada penghayatannya atas kehadiran sang penceramah atau ustadz, sementara bagi Nuraini pengalaman spiritualitas ditemuinya dalam pengetahuan akan kebenaran kalam Ilahi.

Sementara Noeri Kiki bisa mencerna spiritulitas dalam bentuk-bentuk yang melampaui formalitas
aturan agama. Bagi Teguh, tak jadi soal apakah yang ia lakukan bisa disebut tasawuf atau tidak, karena yang paling penting baginya adalah ketentraman ketika menatap dan mendengarkan ceramah. Ia pun tak risau soal istilah. Ia bahkan mengaku tak tahu-menahu soal tasawuf atau sufi dan tidak begitu yakin apa yang dilakukannya merupakan jalan sufi. Dan ia tak peduli soal itu. Jika demikian halnya, maka membayangkan bahwa orang-orang yang mengikuti aneka macam kegiatan keagamaan tersebut karena berangkat dari pemahaman serupa tentang spiritualitas akan membuat kita melupakan aspek-aspek penting betapa spiritualitas bisa dimaknai dengan cara yang sangat beragam.[]


Beranda  |  Kategory: Edisi 21 | Tags: , | Trackback URI

One Response to “Gempita Pencarian Tuhan Di Tengah Kota”

  1. Marliana Simanjuntak says:

    Syaiful Karim (dosen fisika UPI Bandung) mengajarkan prosesi melihat Allah yang dinamakan tawajjuh. Apa yang mereka lihat sebenarnya phosphene (http://en.wikipedia.org/wiki/Phosphene). Detail prosesi tawajjuhnya bisa dilihat di http://www.facebook.com/notes/sudirman-el-batamy/testimoni-tentang-kesesatan-ajaran-ritual-tawajjuh-misykatul-anwar-jika-anda-mus/10150348811676020.

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia