Berjualan Agama di Tangga Sorga

22 - Nov - 2010 | Heru Prasetia dan Ahmad Sabir | 1 Comment »

Dewasa ini, perekonomian yang digerakkan oleh agama bisa berupa bentuk atau produk-produk yang punya potensi untuk dilekatkan pada nuansa agama Islam. Misalnya, Bank Syariah, koran Islam, fashion Islam, baju muslim, dan seterusnya

Salah satu ajaran agama yang paling penting—apapun itu—adalah laku asketis. Sebuah sikap yang mementingkan sesuatu di luar aspek kebendaaan atau ihwal duniawi. Pada tahap selanjutnya orang beragama akan dituntut untuk berperilaku sederhana, sementara agama juga diperlakukan secara sederhana pula. Tapi jalan manusia dan masyarakat tidak selalu berada pada logika linear semacam itu. Nyaris selalu ada paradoks dan ambivalensi. Kita bisa menyaksikan betapa pengalaman dan praktik beragama tidak selalu berharga murah serta tidak selalu berbanding lurus dengan sikap sederhana. Pada titik tertentu besarnya hasrat orang untuk mengalami kegiatan keagamaan juga diwarnai dengan kemewahan. Di sisi lain hal-hal semacam itu juga menerbitkan lahan-lahan baru bagi orang lain untuk mengais rejeki. Termasuk dengan menjadikan barang atau jasa yang bernuansa agama sebagai komoditas. Pada tahap selanjutnya orang kemudian menyebut hal-ihwal semacam itu sebagai komodifikasi agama.

Lalu, apa itu komodifikasi. Sederhananya, komodifikasi adalah komersialisasi atau tindakan mengubah sesuatu menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan demi mendapat keuntungan. Dengan demikian, komodifikasi agama adalah sekumpulan tindakan yang sedemikian hingga mengubah agama atau simbol-simbolnya menjadi komoditas yang bisa dijual dan dibeli demi mendapat keuntungan. Tak hanya agama Islam yang mengalami komodifikasi, hampir semua agama modern dalam dunia kapitalisme lanjut ini juga mengalami komodifikasi. Tulisan ini akan lebih banyak membicarakan mengenai komodifikasi dalam agama Islam.

Selama ini, yang dikenal dengan komoditas dalam Islam adalah menyangkut tentang sesuatu yang kerap disebut sebagai ekonomi Islam, yakni zakat dan prinsip anti riba. Paling tidak, dua hal itulah yang menjadi dasar dari gerak ekonomi Islam. Namun dalam dunia masyarakat konsumer, komoditas dalam dunia Islam tidak melulu menyangkut kedua hal itu. Dewasa ini, perekonomian yang digerakkan oleh agama bisa berupa bentuk atau produk-produk yang punya potensi untuk dilekatkan pada nuansa agama Islam. Misalnya, Bank Syariah, koran Islam, fashion Islam, baju muslim, dan seterusnya. Pendeknya, suatu aktivitas ekonomi yang bersandar pada kebutuhan akan identitas keislaman. Dewasa ini, hal-hal yang berlabel syariah memang sangat diminati masyarakat. Ini, misalnya, bisa dilihat dari semakin pesatnya perkembangan bisnis keuangan yang dikatakan sebagai “berbasis syariah.” Departemen Keuangan menunjukkan bahwa asuransi syariah meningkat sekitar 34 persen per tahun sejak 2002. Demikian seperti dikutip Greg Felay di buku Expressing Islam: Religious Life and Politics in Indonesia. Daftar komoditas tersebut bisa lebih berderet panjang ketika dimasukkan bentuk-bentuk pelayanan jasa seperti wisata ziarah, paket umrah, paket dakwah, dan berbagai pelatihan spiritual. Paket ziarah itu tentu saja membentang dari paket ziarah ibu-ibu kampung dengan menggunakan bus dan minibus ke makam para wali di pelosok Jawa hingga paket wisata ziarah ke luar negeri seperti Timur Tengah dan Asia Utara lengkap dengan pemandu spiritualnya.

Orang bisa berdebat apakah bentuk-bentuk komodifikasi ini akan mengarah pada kematangan keberagamaan masyarakat Islam atau justru membenamkan mereka ke dalam budaya konsumsi yang dangkal, yang jelas fakta sosialnya menunjukkan bahwa gelombang komoditas itu menggelembung kemana-mana. Salah satunya karena semakin canggihnya perkembangan media dan teknologi informasi.

Di televisi kita bisa menyaksikan betapa nuansa agama bisa mendatangkan rupiah. Maraknya tayangan keagamaan versi sinetron, talk show dan semacamnya menunjukkan bahwa gairah untuk beragama juga ditangkap oleh pelaku industri budaya populer sebagai peluang pasar. Cukup dengan menghadirkan penceramah yang sedang naik daun, slot iklan akan segera penuh. Rating pun tinggi. Karena memang bersifat budaya popular, kemasan ceramah dan acara agama di televisi ini senantiasa berubah, tergantung pada permintaan pasar. Pernah pada suatu masa, KH. Abdullah Gymnastiar atau yang dikenal dengan Aa Gym, kyai dari Bandung, Jawa Barat menjadi sosok yang begitu fenomenal di jagat televisi. Dia sangat dikenal, dielu-elukan, dan dirindukan oleh masyarakat. Dengan gaya penyampaiannya yang kalem, sejuk, ditambah tampangnya yang ramah pada kamera, membuat kyai ini begitu kondang dan dikagumi, terutama oleh kaum hawa. Manajemen Qalbu (MQ) yang dipopulerkan Aa Gym dalam ceramah-ceramahnya mampu memikat hati para pemirsa. Hal ini kemudian membuat Aa Gym menjadi laris manis dalam hal manajemen hati yang diusungnya. Belakangan, setelah ia tak lagi populer, televisi mencetak bintang baru dalam ceramah agama: Ustadz Jefry al- Buchori. Tak hanya soal ceramahnya saja, baju yang dikenakannya pun sontak menjadi barang populer yang digemari orang. Muncul pula nama dan fenomena seperti ustad Arifin Ilham. Ustadz satu ini muncul di televisi bersama Majelis “Adzikra”nya yang sering membawakan tayangan zikir berjamaah. Ustadz berjenggot yang ceramahnya suka mendayu-dayu ini seolah-olah “wajib” hukumnya membawa peserta majelis sampai menangis-menangis, berderai-derai air mata terhanyut dalam suasana kekhusyukan zikir berjamaah. Majelis-majelis zikir semacam ini kemudian juga mulai digemari masyarakat. Di beberapa tempat muncul majelis-majelis serupa, bahkan termasuk yang bernuansa politis seperti majelis Adzikra Nurussalam yang berafiliasi pada Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Dalam jagat pertelevisian, deret acara bernuansa religi bisa semakin panjang seperti munculnya sinetron Islam dan realty show berlabel simbol-simbol agama.

Para dai tersebut di atas juga menjadi bagian tak terpisahkan dari komodifikasi itu sendiri. Paling tidak bisa dilihat betapa maraknya bisnis yang dibangun berbasis pada ceramah agama ini. Aa Gym, misalnya, mengembangkan bisnis Manajemen Qalbu yang membentang dari ceramah agama, penerbitan buku hingga stasiun radio. Sementara Yusuf Manshur malah bisa membangun raksasa bisnisnya sendiri dengan nama Wisata Hati yang berbasis pada kegiatan orang untuk menyedekahkan hartanya. Tak tanggung-tanggung ustadz satu ini juga mengembangkan jaringan bisnis multi level marketing, e-miracle. Secara terang dan gamblang, hasil yang dijanjikan adalah keuntungan ekonomi. Kredo yang dibangun olehnya adalah “kaya dunia akherat.” Sementara itu, Jefry al-Buchory punya Uje Centre yang selain memberi layanan ceramah juga menjual sejumlah produk seperti Kaset Uje, CD Uje, Buku Uje, Baju Koko Uje, Celana Sarung, Jilbab, Gantungan Kunci Uje, PIN Uje dan lain-lain. Uje, kita tahu, adalah nama panggilan ustadz Jefry yang kini tengah kondang termasuk mode pakaiannya itu.

Tak hanya di televisi atau di panggung-panggung, para dai kontemporer juga memanfaatkan teknologi seperti hand phone untuk menyebarkan dakwahnya Fenomena bisnis yang melibatkan penggunaan teknologi baru adalah layanan SMS dakwah. Hampir semua dai selebritas tersebut juga punya layanan SMS berbayar. Siapapun anda bisa mendapatkan SMS dari mereka dengan mendaftar pada penyedia layanan tersebut. Dengan dipangkas pulsa sekian ribu rupiah, Anda akan mendapatkan tausyiah dan anjuran-anjuran keagamaan dari dai-dai tersebut. Ada juga ring back tone yang dikelola bersama dengan penyedia layanan komunikasi seluler. Secara kasat mata bisa dilihat aspek ekonomi dalam perputaran mekanisme SMS dan ring back tone dakwah tersebut.

Cara Cepat Mencapai Hakikat

Mar aknya industri berbasis pada agama itu tentu tidak bisa dilepaskan dari munculnya gairah sebagian besar kalangan kelas menengah Islam perkotaan pada agama. Selain munculnya pasar yang sedemikian luas untuk bisnis berbasis dakwah, hasrat banyak orang pada spiritualitas telah melahirkan bentuk-bentuk layanan jasa jalan kedamaian hati dengan bentuk-bentuk yang sebelumnya tidak ada dalam agama tradisional. Bentuk-bentuk baru itu biasanya mencomot sejumlah hal dari tradisi agama kemudian dijadikan sebagai titik tekanan pelayanan. Meditasi, zikir, atau yoga, misalnya. Sejumlah praktik agama tradisional itu ditempatkan dalam kerangka baru dalam paradigma terapi yang tujuannya tidak lain adalah demi kesembuhan, entah itu kesembuhan batin ataupun kesembuhan penyakit jasmani. Pendek kata, bentuk-bentuk yang diambil dari tradisi agama itu dipakai untuk tujuan yang praktis. Demi tujuan-tujuan semacam ini— penyembuhan jiwa maupun raga— orang mau mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Pada sisi lain, para penyedia jasa layanan spiritual ini juga tumbuh subur di mana-mana seiring dengan pasar yang kian menggelembung.

Untuk penyembuh raga, yang marak adalah bentuk-bentuk pengobatan tradisional yang dikaitkan dengan Islam. Misalnya bekam atau pengobatan herbal Habbah al Sauda yang konon sering digunakan Nabi Muhammad saw untuk menyembuhkan segala penyakit. Ada pula bentuk-bentuk lain seperti terapi dengan doa-doa. Semuanya dikemas dengan sangat baik sehingga tidak banyak berbeda dengan penyembuhan modern.

Sementara untuk penyembuh jiwa muncul pelatihan-pelatihan rohani dan training motivasi agar orang bisa hidup lebih bahagia. Fenomena bisnis spiritualitas bisa dengan mudah dijumpai di kota-kota besar. Misalnya yang paling terkenal adalah metode yang diklaim ‘ditemukan’ oleh Ary Ginanjar yang dikenal dengan Emotional and Spiritual Quotation (ESQ). Ary Ginanjar adalah mantan pengajar tetap di Politeknik Universitas Udayana, Jimbaran, Bali. Pada tahun 2001, ia menerbitkan karya tulis ESQ, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual. Buku tersebut laris manis di pasaran. Pada awalnya, Ary Ginanjar berkeliling menjelaskan konsep ESQ-nya melalui bedah buku dan ceramah secara cumacuma. Belakangan dia mengubahnya menjadi training tiga hari lengkap dengan sound system dan multi media. Berkembang dari itu, ia lantas mendirikan ESQ Leadership Center, sebuah lembaga pelatihan sumber daya manusia yang kliennya adalah karyawan perusahaan swasta, BUMN, atau lembaga negara.

ESQ mulai populer pada awal 2000-an ketika bangsa ini tengah disibukkan dengan isu reformasi dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi. Ari Ginanjar memperkenalkan sebentuk training untuk karyawan-karyawan perusahaan atau pada sekelompok individu. Menurut pendiri ESQ, Ari Ginanjar, apa yang disebut reformasi bukan soal perubahan struktur politik namun perubahan etik dan moral individu karena aspek individu itulah yang menurutnya paling penting dalam proses perubahan. Baginya, kesalehan tidak melulu dimaknai sebagai rajin melakukan peribadatan keagamaan, namun yang lebih penting adalah bagaimana praktik keseharian juga mesti dimaknai sebagai laku ibadah. Termasuk dalam hal bekerja. Menurut Ginanjar, prinsip manajemen modern juga bisa dijumpai dalam Islam. Menurutnya, rukun Islam ketiga (zakat) menunjukkan bahwa sebagai seorang muslim orang harus mencapai sukses dalam berbisnis. Orang Islam yang saleh menurut konsepsi ini dengan demikian adalah pribadi yang taat menjalankan ritual agama sekaligus produktif dalam bekerja.

Daromir Rudnyckyj dalam paper yang berjudul Spiritual Economies: Islam and Neoliberalism in Contemporary Indonesia menyebut training-training spiritual seperti ESQ tersebut sebagai “Spiritual economy” yang dipaparkannya sebagai suatu praktik yang disandarkan pada upaya untuk menanamkan etika kerja sebagai ibadah, disiplin diri, tanggungjawab, dan akuntabilitas untuk mencapai kemakmuran duniawi dan keselamatan ukhrowi. Individu-individu yang diangankan oleh pelatihan spiritual, demikian papar Rudnyckyj, adalah individu yang selaras dengan tata perekonomian baru yang tengah dikembangkan, yakni perekonomian neoliberal. Dengan demikian, training-training ini mewakili sisi kedua dari neoliberalisme di Indonesia. Setelah sisi pertama adalah dilakukannya sejumlah kebijakan yang mengubah struktur ekonomi politik negeri ini, sisi berikutnya adalah melaksanakan proyek reformasi individu untuk melahirkan pribadi-pribadi yang sejalan dengan norma-norma
neoliberal.

Kini, dalam satu bulan ESQ Leadership Center bisa menyelenggarakan sekira 100 kali training baik di dalam maupun luar negeri untuk sekitar 10.000-15.000 orang. Sebagai sebuah lembaga, ESQ Leadership Center punya lebih dari 500 karyawan. Perusahaan ini tidak lagi hanya mengurusi training, namun penerbitan, multimedia, retail, hingga ke tours & travel untuk menunjang kegiatan ESQ LC. Didirikan pula Forum Komunikasi Almuni (FKA) yang menjadi ajang bagi para mantan peserta pelatihan ESQ. ESQ Leadership Center juga mendirikan gedung yang dijuluki Menara 165 di Jalan TB. Simatupang, Jakarta Selatan. Para alumni training punya peran sangat penting pada pendirian gedung yang menjadi pusat kegiatan ESQ ini. Training yang dikembangkan oleh ESQ Leadership Center ini bahkan sudah diminati di mancanegara seperti di Malaysia, USA, Singapura, dan sebagainya. Tidak jarang terjadi tukar-menukar metode juga trainer antar negara dalam pelatihan spiritualitas yang dilakukan. Metode ini mengklaim dapat mengukuhkan spiritualitas keislaman dengan waktu singkat cepat dan efisien.

Cukup dengan tiga juta rupiah untuk training tiga hari, kesejukan iman dan indahnya hidup beragama bisa digapai. Noeri Kiki salah seorang account manager salah satu perusahaan terkenal di Jakarta, mengaku pernah beberapa kali mengikuti training spiritualitas ESQ ini. Tadinya ia hanya ingin tahu apakah training ESQ itu bisa meningkatkan spiritualitasnya yang selama ini dicarinya. Tiga juta rupiah tidak terlampau mahal bagi Kiki. Harga itu baginya wajar karena selain training spiritual itu merupakan wilayah yang tidak perlu dihitung dengan materi, acara training juga diadakan di Hotel, lengkap dengan fasilitasnya.

“Taruhlah kalau tidak ada training, biaya hotel sendiri aja dah berapa,” tuturnya tanpa mempersoalkan mengapa latihan itu digelar di hotel mewah. Soal mahal atau tidak barangkali memang relatif. Bagi sebagian orang mengeluarkan uang tiga atau lima juta rupiah bukanlah sesuatu yang terlampau sulit, namun bagi sebagian yang lain uang satu juta saja sudah sangat berharga untuk dibelanjakan sebagai ongkostraining.

“Waduh, mau belajar agama dan membersihkan hati kok mahal, seharga 2 rombong bakso rek..,” ujar Mukhlason seorang mahasiswa ITS (Institut Teknologi Surabaya) yang sebagai mahasiswa baru diwajibkan mengikuti training ESQ. Model pelatihan spiritual semacam ESQ ini memang bertahap. Ada levelnya. bagi yang baru pertama mengikuti training atau pelatihan spiritualitas seperti ini biasanya hanya diisi dengan pengenalan tentang spiritualitas Islam dalam menumbuhkan gairah beribadah. Pada level berikutnya ada-apa yang oleh Firdaus, salah seorang yang pernah mengikuti pelatihan ESQ, disebut dengan manipulasi psikologis. Bagi orang seperti Firdaus, berbagai pengondisian dan kisah tersebut sesungguhnya sekedar simulasi dari peristiwa tertentu. Artinya, peserta sedang tidak melakukan penghayatan spiritual, melainkan sedang masuk dalam simulasi spiritualitas.

Dengan dukungan multi-media seperti display layar lebar, suara menggelegar, lampu yang dimatikan, suhu udara AC yang didinginkan, trainer sedang memanipulasi psikologis peserta melalui sebuah kisah “Suara Hati”. Cara-cara mengisi kekosongan spiritualitas seperti ini memang merupakan cara yang diminati oleh masyarakat kota, masyarakat dengan taraf ekonomi menengah ke atas yang sehari-harinya sangat sibuk bekerja di tengah hiruk-pikuk kota. Varian pelatihan ini cukup beragam seperti pelatihan shalat khusuk, lokakarya tiga jam untuk menyelami hakikat syahadat, pelatihan tiga hari mencari cinta, dan training ESQ. Hampir semuanya menawarkan cara-cepat untuk menyelami makna terdalam kehidupan yang didambakan. Pelatihan spiritual, dengan demikian, adalah semacam cara cepat untuk mencapai tingkat spiritual yang mulanya konon hanya bisa digapai melalui tarekat dan tirakat. Gejala ini sejajar dengan seperti kursus bahasa inggris tiga bulan sukses, atau pelatihan body language dan cara-cara senada lainnya yang bisa didapat dengan mudah dan cepat.

Jika majelis-majelis zikir atau majlis taklim yang menjamur di sudut-sudut kota kebanyakan diikuti oleh ibu-ibu kampung, pelatihan spiritual atau diskusi agama di hotel mewah dan perkantoran sangat digemari oleh kalangan menengah ke atas. Paramadina, misalnya, yang mulanya dirintis dari sebuah klub kajian agama yang didirikan oleh cendekiawan muslim Nurcholis Madjid di era awal 80an, kini telah berubah menjadi lembaga kajian agama yang besar. Ketika itu kajiankajian dilaksanakan dari hotel ke hotel sebulan sekali dengan segmentasi para pengusaha atau profesional yang butuh belajar tentang agama di sela kesibukannya. Gayung pun bersambut, banyak yang merasa tertarik dengan klub kajian agama itu. Tapi sayang, karena hanya sebulan sekali, kajian dianggap tidak mengulas lebih dalam. Lalu muncullah permintaan dibukanya kelas-kelas khusus tentang studi keislaman, yang menurut Rahmat Hidayat, koordinator pelaksana kajian Paramadina, biasanya untuk level dasar dan untuk tahaptahap tertentu. Saat ini kelas di Paramadina yang paling populer adalah tasawuf. Menurut Muhammad Bagir, salah seorang pengajarnya, mereka yang datang mengikuti kelas tasawuf adalah orang-orang yang sebagian besar kecewa terhadap penafsiran agama. Kini, peminat kajian Paramadina tidak terbatas kaum profesional atau pengusaha saja, tapi juga mahasiswa dan masyarakat umum lainnya dari usia 20 hingga 50 tahun.

Paramadina memasang tarif kelas per paket sekitar 600 ribu plus buku. Adapun per kedatangan biayanya 60 ribu, yang untuk ibu-ibu biasanya diadakan pada Kamis pagi. Kajian Paramadina tentu tidak sendiri, sejumlah paket kajian tasawuf juga banyak ditawarkan di sejumlah kota. Misalnya Yayasan Cahaya Perdana Az-Zukhruf di Tanjung Priok, Pusat Kajian Tasawuf Misykat di Bandung, dan lain-lain. Itu baru yang berada dalam kerangka tasawuf Islam. Sementara ada pula layanan-layanan jasa spiritual yang tidak berbasis pada agama Islam seperti maraknya ashram semacam yang dikelola oleh Anand Khrisna dan sejenisnya.

Di luar kajian-kajian tasawuf dan pelatihan spiritual di ruang-ruang mewah, masyarakat kota pada umumnya juga disodori pengajianpengajian agama yang dikelola bukan semata sebagai ceramah agama namun juga sebagai sejenis seni pertunjukan. Salah satu dari gejala yang relatif baru ini adalah pengajian “majelis rasulullah.”

Seni Pertunjukan Atawa Kemeriahan Pencarian Tuhan

Tentu dibutuhkan biaya yang cukup besar untuk mengadakan kegiatan festival kemeriahan atau konser musik yang mampu menyedot ribuan pengunjung, lengkap dengan sound ribuan watt, panggung, display layar lebar, televisi 50 inchi ditambah dengan gegap gempita petasan kembang api yang beberapa kali dilempar ke udara pada acara Majelis Rasulullah. Menurut Aisyah, seorang koordinator Majelis Rasulullah, secara pasti ia tidak tahu berapa biaya yang dihabiskan dalam total keseluruhan acara, namun “Kalau kita diundang, biasanya kita perpaket, satu paket acara ini, kita yang menyiapkan panggung termasuk sound dan marawis dengan harga lima juta rupiah, tapi juga bisa kurang kalau sound system dari mereka tergantung seperti apa maunya,” ungkapnya. Perlengkapan di luar panggung, disiapkan sendiri oleh pihak yang mengundang.

Ketika acara berlangsung, terlihat beberapa panitia dari Majelis Rasulullah menjalankan karung untuk mengutip uang infaq dari para peserta yang hadir di sana. Beberapa orang dengan pakaian seragam Majelis Rasulullah dan berkopiah putih mendatangi setiap orang yang hadir dengan membawa karung tempat uang dikumpulkan. Hasilnya kemudian diserahkan sepenuhnya kepada panitia majelis. Uang yang terkumpul bisa dipastikan jumlahnya cukup besar mengingat orang yang hadir bisa mencapai ribuan.

Sebagaimana galibnya sebuah perhelatan acara yang mendatangkan banyak orang, majelis ini juga bisa membangkitkan putaran uang. Sebut saja pedagang-pedagang kecil yang ada di sekitar kerumunan atau tukang parkir yang memungut rupiah dari mereka yang berkendaraan. “Seribu rupiah setiap motor,” tutur Iwan, seorang juru parkir di acara itu. Ada puluhan pedagang yang turut memeriahkan acara majelis akbar Rasulullah tersebut. Kebanyakan mereka menjual barang-barang islami seperti kopiah, tasbih, wewangian juga ada baju dan makanan. Dan di sana bahkan terlihat Majelis Rasulullah sendiri juga membuka stand dagangan di tempat itu. Ismail salah satu pedagang pasar kaget dalam acara tersebut mengatakan bahwa dirinya tidak hanya ingin mendapatkan keuntungan materi, akan tetapi juga menambah pahala dengan mengikuti majelis. “Jualan saya berkah di sini, karena saya juga mengikuti majelis,“ ujarnya. Ia juga mengaku bisa mengumpulkan lima ratus ribu sampai dengan satu juta rupiah dari kopiah dan tasbih yang dijualnya disana. Sedang untuk penggunaan tempat, Ismail mengaku memberikan retribusi dan kebersihan sebesar Rp. 20.000,- kepada petugas yang dikelola oleh warga setempat.

Bagi peserta sendiri, dibanding acara-acara pelatihan spiritual di hotel-hotel berbintang, acara Majelis Rasulullah ini jelas jauh lebih murah dan mudah diakses. Pada level yang hampir sama, orang juga bisa dengan mudah mengikuti sejumlah majelis taklim. Yakni majelis-majelis taklim yang kerap dibentuk oleh Ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya. Seperti yang diutarakan Nuraini yang aktif dalam kegiatan majelis taklim di bilangan Pondok Pucung, Tanggerang, “Majelis taklim pokja kami, rutin seminggu sekali setiap Kamis sore mengadakan kajian tafsir, tapi nanti sebulan sekali kami ngaji bareng-bareng di masjid.” Untuk mengikuti kegiatan majelis taklim orang cukup memberi infaq seikhlasnya atau membayar iuran yang telah ditentukan. Tidak banyak. Hanya berkisar antara 50 sampai 100 ribu per bulan. Kecuali jika majelis taklim itu punya acara lain seperti wisata ziarah. Tentu harus ada pula dana yang mesti dibayarkan. Lina salah seorang peserta majelis taklim di Bantar Kemang yang baru saja mengikuti ziarah para wali se-Jawa- Bali mengatakan, “Kami semua yang ikut acara ziarah wali ini masingmasing dipungut biaya 700 ribu untuk enam hari diluar biaya makan. Makan kita beli sendiri atau seperti saya membawa lauk dari rumah yang bisa tahan lama jadi tinggal beli nasinya aja.” Tentu saja kita bisa berhitung tentang peluang bisnis dari wisata ziarah ini.
***

Demikianlah, pelatihan di hotel, pengajian yang dikemas sebagai panggung pertunjukan, selebritas penceramah agama, hingga wisata ziarah adalah sederet fenomena kontemporer cara beragama masyarakat konsumer di dunia kapitalisme lanjut. Pengajian dan televisi melahirkan deretan dai selebritas sekaligus perputaran modal yang melingkupinya. Tak hanya itu, citra yang dipancarkan media televisi turut melahirkan produk-produk kultural yang penuh dengan nuansa agama namun beroperasi dalam mekanisme pasar. Ini bisa dilihat dari layanan SMS dakwah hingga model baju-baju koko yang dikenakan para dai tersebut. Sementara itu, pelatihan-pelatihan spiritual baik yang berbasis agama maupun tidak, merepresentasikan hasrat yang cukup besar dari kalangan kelas menengah kota untuk menikmati kebahagiaan dan ketenangan hidup. Termasuk dalam hal ini adalah kajian-kajian tasawuf di hotel berbintang maupun kelas kajian tasawuf untuk kalangan terdidik dan kaum profesional.

Sebagaimana dipaparkan di atas, hasrat orang pada kehidupan relijius—yang tentu saja merupakan niat baik—ternyata juga mengundang komodifikasi atas ornamen-ornamen relijius itu sendiri. Besarnya gairah orang pada spiritualitas juga membuka peluang besar bagi mereka yang mampu memahami kehendak banyak orang itu kemudian menyajikan produk-produk atau layanan jasa yang bisa memenuhi hasrat tersebut. Wallahu a’lam.[]


Beranda  |  Kategory: Edisi 21 | Tags: , | Trackback URI

One Response to “Berjualan Agama di Tangga Sorga”

  1. Iqbal says:

    Ya…Berjualan Agama di Tangga Sorga sangat membuka mata hati kita agar jangan langsung terpesona dengan acara yang dibawakan berdasarkan agama tetapi dibalik itu sebenarnya diikuti bisnis yang besar.

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia