Tubuh Ketiga. Perayaan-Perayaan yang Berada di Antara

25 - Mar - 2013 | Yudi Ahmad Tajudin dan Gunawan Maryanto | No Comments »
Tubuh Ketiga. Perayaan-Perayaan yang Berada di Antara

Sebuah Catatan Proses.

Prolog
Sudah satu dekade ini banyak proyek kesenian Teater Garasi dilakukan berdasarkan gagasan dasar: teater sebagai alternatif alat baca kenyataan sosial. Pada dasarnya gagasan ini hendak menempatkan dan menggunakan teater sebagai suatu media, suatu alat alternatif, utuk membaca fenomena atau problem sosial tertentu yang berlangsung di masyarakat di Indonesia. Hasil bacaan (kerap kali juga: proses pembacaan) atas fenomena atau isu tersebutlah yang kemudian kami olah lalu kami presentasikan sebagai suatu peristiwa pertunjukan.

Proyek teater yang kami lakukan dalam gagasan tersebut, dengan sengaja tidak diawali dari suatu naskah lakon yang sudah ditulis sebelumnya, tetapi kami mulai dengan memilih isu atau fenomena atau tema sosial yang ingin kami amati (atau kami gelisahkan). Setelah tema atau isu dipilih dan didiskusikan bersama, seluruh tim kreatif lalu melakukan riset (literatur) dan observasi lapangan atas isu atau fenomena sosial itu. Hal-hal yang kami temukan dalam riset dan observasi itu –bisa analisa, gagasan, pernyataan hasil wawancara, benda-benda, gambar, gerak dan lain-lain–, yang kami anggap menarik dan relevan lalu kami olah di studio latihan ke dalam bentuk dan peristiwa pertunjukan.

Dua karya pertunjukan Teater Garasi yang bisa dijadikan eksemplar atas proyek teater sebagai alternatif alat baca kenyataan sosial adalah “Je.ja.l.an” dan “Tubuh Ketiga. Pada Perayaan-perayaan yang Berada di Antara.” Yang pertama diciptakan dalam rentang waktu 9 bulan –diskusi dan riset awal dimulai dari bulan September 2007 dan presentasi publik digelar pertama kali pada 17-18 Mei 2008. Yang kedua diciptakan dalam rentang 6 bulan, Maret-Oktober 2010.

Jika “Je.ja.l.an” merupakan penelusuran kami atas isu benturan (baca: kontestasi, negosiasi, apropriasi dan adaptasi) antar kelas dan kebudayaan sebagaimana yang berlangsung di jalan-jalan di kota-kota besar di Indonesia, “Tubuh Ketiga” merupakan pelacakan kami atas problem dan kenyataan kebudayaan (atau: produk-produk budaya) yang tercipta di antara benturan-benturan kelas dan kebudayaa tersebut. Dengan kata lain, “Tubuh Ketiga” merupakan semacam tatapan yang lebih mendekat (zooming-in) atas fenomena dan isu yang digelar di “Je.ja.l.an”.

Selanjutnya, di bawah ini, adalah paparan atau catatan ringkas dari proses penggarapan/pelacakan “Tubuh Ketiga”.

***

Siang terlalu panas untuk sebuah kegembiraan. Tapi orang-orang terus berdatangan mengusung beras di punggung mereka. Di atas panggung para penyanyi menghadirkan lagu-lagu cinta yang sedih dengan irama gembira. Panggung yang mengambang di atas selokan itu pun bergoyang mengikuti tubuh mereka. Anak-anak kecil berlarian mencari mainan dan jajanan kesukaannya: lotere, burung pipit dalam kandang-kandang kecil seadanya, juga es yang membuat lidah mereka berwarna-warni. Orang-orang dewasa menukar kupon dengan makanan tersaji di halaman. Lalu duduk sejenak menikmati hiburan. Sementara empu hajat berjaga di bawah gapura besi, seadanya, yang ditumbuhi bunga-bunga plastik, seadanya. Menyalami mereka yang datang, mengantar mereka yang pergi.

Monolog di atas diucapkan Sri Qadariatin, aktor Teater Garasi, di atas panggung dalam pertunjukan “Tubuh Ketiga”. Menggambarkan suasana hajatan yang banyak kami hadiri selama melakukan observasi di Indramayu, dalam rentang bulan Maret – April 2010. Kami sengaja datang di bulan-bulan itu, karena pada saat itu adalah musim panen di Indramayu.

Musim panen di Indramayu adalah musim perayaan. Panggung-panggung hiburan didirikan di banyak tempat. Di halaman luas maupun di atas selokan mampat. Di musim panenlah warga Indramayu menggelar berbagai macam hajatan: rasulan, sunatan, kawinan maupun upacara-upacara ritual. Dapat ditengarai dengan mudah: mereka memiliki cukup modal (untuk menggelar hajatan) di musim panen. Bahkan yang bukan petani pun menggelar di musim panen sebab para undangan (baca: penyumbang) sebagian besar adalah petani atau mereka yang bersandar pada pertanian.

Demikian secara singkat lanskap yang terbentang di hadapan kami: berkarung-karung gabah di tepi jalan maupun di samping-samping panggung hajatan. Juga hingar-bingar musik tarling-dangdut dan goyangan para penyanyi. Dari sanalah kemudian kami masuk ke kehidupan para penyanyi maupun musisi tarling dangdut yang menjadi fokus tatapan kami dalam riset “Tubuh Ketiga”.

Hasil riset inilah yang kemudian kami wujudkan, salah satunya, menjadi pertunjukan teater dengan judul yang sama yang kami gelar di Teater Salihara dalam memenuhi undangan Festival Salihara Ketiga (12-13 Oktober 2010). Pertunjukan tersebut juga digelar di Taman Budaya Yogyakarta (11-12 Maret 2011). Dalam buku acara pertunjukan kami menyebut pentas ini adalah semacam esai tentang Tarling-Dangdut dan Indramayu. Tepatnya, semacam perenungan dan penelusuran atas kebudayaan yang terbentuk di ruang “antara”. Atas bentuk dan ekspresi kebudayaan “ketiga”, yang tak lagi bisa dirumuskan dengan kategori dan ukuran-ukuran yang pasti.

Kenapa tarling-dangdut. Dan kenapa Indramayu?
Sebagai sebentuk kesenian yang berkembang di pesisir utara Jawa, Tarling-Dangdut begerak di antara kebudayaan agraris dan industrial, antara desa dan kota, antara yang tradisional dan yang modern. Tarling-dangdut kemudian selalu berada dalam posisi yang dilematis. Ia dianggap bukan seni tradisi tetapi juga belum diterima sebagai seni modern. Tapi di tengah posisi problematis itu ia terus tumbuh menjadi penanda kota dan wilayah Indramayu.

Sementara sebagai sebuah kota, Indramayu tumbuh di antara pusat-pusat kebudayaan yang saling menanamkan pengaruhnya—Jawa Tengah (Solo dan Yogyakarta), Jawa Barat (Bandung), dan Jakarta yang merupakan pusat Indonesia modern. Ia bisa dibaca sebagai desa sekaligus kota yang tumbuh di “ruang ketiga”. Itulah entitas kebudayaan yang tidak tumbuh dari satu definisi atau identitas saja, tetapi tersusun dari pertemuan dan percampuran budaya-budaya yang berbeda. Tubuhnya terbangun dari lapisan-lapisan. Karena itu ia hanya bisa dipahami dengan berbagai pendekatan dan sudut pandang.

Sebagai semacam esai, pertunjukan ini kemudian melihat, sebagaimana Tarling-Dangdut dan Indramayu, dalam banyak hal Indonesia adalah (atau: tersusun dari) entitas-entitas kebudayaan “ketiga”. Pertanyaan atau isu penting yang kemudian muncul adalah: apa yang bisa kita lakukan (kita ciptakan) dari dan dengan seluruh tradisi serta kebudayaan yang membentuk kita?

Agrarian Dystopia dan Tarling Dangdut
Berangkat dari pertanyaan itulah kami bisa melihat daya kreatif yang luar biasa dari para seniman dangdut-tarling di Indramayu, yang berdasar data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Indramayu tahun 2007 yang kami dapatkan, jumlah senimannya mencapai kurang lebih 1075 orang dan tergabung dalam 285 kelompok. Kreativitas yang kami tunjuk di sini adalah kemampuan mereka selaku seniman dalam berdialektika dengan kenyataan (infrastruktur pertunjukan, kemampuan individu, dan modal ekonomi yang semuanya terbatas). Juga keterbukaan dan keringanan mereka dalam menggunakan banyak unsur budaya yang ada di sekitar mereka (tradisi dan modern). Banyaknya pelaku, maraknya tanggapan di panggung dan lahirnya lagu-lagu baru di setiap musim membuktikan kemampuan mereka untuk terus berkarya.

“Kelompok tarling dangdut harus kreatif. Kalau tidak akan kalah saing dengan kelompok lain.” Kata Eka, pimpinan Grup Tarling Dangdut Ekawati, salah seorang seniman yang kami temui. Dalam pertunjukannya Eka menambah adegan arak-arakan untuk mengusung penyanyi, lawakan untuk semakin memeriahkan suasana, juga atraksi sulap. Hal ini senada dengan Hj. Aas Rolani, pimpinan Grup Aas Rolani. Biduan yang pernah menyabet Anugrah Dangdut TPI di tahun 2002 ini menyebut jenis musiknya adalah Gamelor. Singkatan dari gamelan orkes. Aas memasukkan elemen gamelan ke dalam komposisi musiknya—mirip dengan campur sari di Jawa.

Di bawah ini adalah kutipan panjang dari catatan hasil wawancara kami dengan Ekawati, penyanyi dan pimpiman grup tarling-dangdut Ekawati di desa Tambi. Wawancara yang kami lakukan sebagai bagian dari observasi kami ini, akan memberi gambaran lebih jauh atas situasi yang melatari penyanyi atau elompok tarling dangdut di Indramayu.

29 Maret 2010
Eka adalah penyanyi organ pertama yang kami temui. Kebetulan rumahnya tak jauh dari Sanggar Mulya Bhakti tempat di mana kami menginap. Dengan berjalan kaki kami mendatanginya… Rumahnya tak terlalu besar. Tapi terlihat ada ruang bermain billyar di sebelah belakang. Beberapa lelaki tengah asik bermain Billyard di kejauhan ketika kami sampai di teras rumah Eka. Tak berapa lama suami Eka membuka pintu dan menyilakan kami masuk. Sebuah ruang tamu yang tak terlalu luas. Satu set sofa. Bunga-bungaan dari kaca di meja. Di sudut ada sebuah kursi dan meja kantor. Di dinding dua foto Eka berukuran besar. Di antara kedua foto tersebut terletak sebuah hiasan kepala seseorang, semacam relief dari besi. Belakangan baru kami tahu bahwa hiasan berbentuk kepala tersebut adalah wajah Beethoven.

…Eka berasal dari keluarga seniman. Bapaknya adalah pemain sandiwara. Dulu sebelum menjadi penyanyi adalah pemain akrobat. Genjring atau rudat—semacam sulap (sekitar tahun 1987 waktu masih SMP). Waktu musim tarling ia ikut pula bermain tarling. Waktu datang musim organ kemudian ia menjadi penyanyi organ. Dan tampaknya ini adalah pilihan terakhirnya. Enak main di organ karena simpel, tuturnya. Tidak banyak orang. Tidak banyak panjak-panjak (pemain) seperti dalam musik hidup (sandiwara, tarling). Menurutnya organ yang main cuma satu orang tapi musik yang dihasilkan macam-macam: kendang, suling. Namun dalam perkembangannya, karena bersaing dengan tarling, maka tiap tahun harus ada peningkatan/penambahan. Mulailah ditambahkan gitar melodi, suling, terompet dan kendang. Supaya tidak kalah dengan tarling, katanya. Kalau di Jawa seperti musik campur sari….

Eka telah mengeluarkan 5 album (Asal Sing Kuat, Masih Dhemen, Kembang Zaitun, Doyan Mabok, Sabarlah Sayang). Eka tidak mengarang lagu sendiri, tapi membeli dari pengarang-pengarang lagu setempat. Harga lagu utama sekitar satu juta rupiah. Harga tersebut berlaku untuk pengarang-pengarang lagu yang sudah tenar. Untuk pengarang lagu baru harganya duaratus ribu per lagu. Setiap lagu sudah lengkap dengan aransemen musiknya berbentuk disket. Sudah ada musiknya, jelas Eka.

Dalam tiap pertunjukannya, Eka tidak hanya membawakan lagu-lagunya sendiri. Tetapi tergantung dari permintaan tuan rumah atau penonton. Karena yang dicari adalah saweran. Hanya biasanya ia mengawalinya dengan lagu yang ada di albumnya. Selanjutnya tergantung dari permintaan penonton. Jadi mau tidak mau ia harus menghafal banyak lagu agar bisa memenuhi segala macam permintaan…

…Pemerintah daerah berdasar tuturan Eka sama sekali tak membantu pertumbuhan organ tunggal. Malah tiap kali ada perayaan seperti 17 Agustus para seniman diminta menyumbang uang. Mereka juga diwajibkan membeli kalendar dari pemerintah dengan harga 50 ribu. Setiap kali mendirikan panggung mereka juga harus membayar 25 ribu kepada pamong budaya setempat. Jika dalam satu bulan mereka manggung 10 kali setidaknya mereka mengeluarkan 250 ribu plus rokok untuk pamong yang selalu mendatangi pertunjukan mereka. jika tidak diberi mereka akan datang ke rumah Eka, mengecek pada buku agenda untuk memastikan jumlah pertunjukan. Mbak Wangi menambahkan bahwa orang-orang ini datang dari Dinas Pariwisata. Dan ini adalah pungutan liar yang menimpa semua jenis kesenian di Indramayu. Sebagai pimpinan grup Eka juga harus membayar 400 ribu per tahun untuk ijin usaha keseniannya. Jadi mereka harus memiliki semacam SIM yang harus diperbaharui setiap tahunnya. Eka juga menambahkan bahwa sekarang setiap personil juga diwajibkan memiliki semacam kartu anggota kesenimanan. Setiap orangnya 500 ribu. KTP dalang katanya.

Pungutan liar tak hanya datang dari pihak penerintah. Beberapa oknum wartawan juga melakukannya. Setiap kali menulis sosok penyanyi organ mereka mendatangi rumah penyanyi dan meminta imbalan. Tak tanggung-tanggung. Untuk tulisan pendek setengah halaman sebuah majalah lokal mereka bisa meminta 500 ribu. Namun Eka menolak membayanya karena pada waktu wawancara ia sudah dimintai 50 ribu untuk ongkos transport. Ia menunjukkan majalah tersebut kepada kami. Majalah Persada. Sebuah majalah internal sebuah organisasi. Tulisan tersebut berjudul “Penyanyi Cantik Ekawati Laris Manis di Pasaran”. Berisi tentang persiapan Eka dalam meluncurkan album terbarunya. Di sana digambarkan Eka tak ubahnya selebritis-selebritis televisi…

Sejauh ini masyarakat cukup menerina kehadiran pemain organ, kata Eka. Tidak ada yang menentang. Hanya kalau main di pesantren biasanya mereka diminta untuk menyesuaikan jenis pakaiannya. Kadang mereka juga diminta untuk menyanyikan lagu-lagu qasidahan. Tapi makin malam yang jatuhnya jadi dangdut lagi karena permintaan penontonnya.

Berkarir sebagai penyanyi organ adalah sebuah kebanggaan bagi Eka. Seneng di mana-mana dipuja, katanya. Diistimewakan. Dihormati dan dihargai oleh masyarakat di sekitarnya atau masyarakat penanggapnya. Dan Eka pun harus balas menghormati mereka dengan menjaga penampilannya.

Menjadi penyanyi dangdut-tarling bisa juga dibaca sebagai jalan kreatif mereka lepas dari kemiskinan. Sebagaimana diungkapkan Santi Revaldi, salah seorang penyanyi tarling dangdut pendatang baru. Jika tidak menjadi penyanyi mungkin ia akan menjadi TKI sebagaimana perempuan-perempuan lain di kampungnya. Kemiskinan memang menjadi hantu di sawah-sawah Indramayu. Data dari BPS Indramayu yang dilansir oleh Kompas pada tahun 2007 lalu menunjukkan bahwa sektor pertanian menyumbang kemiskinan terbesar di bumi Wiralodra ini. Sekitar 169 ribu (atau sepertiga) rumah tangga di Indramayu tercatat sebagai rumah tangga miskin (termasuk kategori sangat miskin, miskin dan hampir miskin). Hasil penelitan dari Corebest yang digagas oleh Paguyuban Petra Mekar pada tahun 2006 lalu juga memberikan statement yang senada : sektor pertanian adalah sumber lapangan usaha terbesar sekaligus juga merupakan sektor penyumbang kemiskinan terbesar. Di satu sisi kita bangga dengan potensi pertanian padi di Indramayu yang sangat besar, di sisi lain, sektor ini masih menyisakan ironi berkepanjangan. (Casdira)

Siang memang terlalu panas untuk menikmati lagu-lagu. Air mengalir pelan di bawah panggung menuju sawah. Mencari Dewi Sri. Dewi Sri yang makin lama makin miskin dan suatu hari memutuskan pergi menjadi TKI.

Teks di atas menutup bagian yang kami sebut “Agrarian Dystopia”, bagian pertama dari pertunjukan “Tubuh Ketiga” yang mencoba membentang lanskap kota Indramayu, berikut soal dasar yang melingkunginya, yakni kondisi pertanian yang buruk. Dalam pertunjukannya, bagian ini kami rangkai dengan adegan selanjutnya, yang kami sebut “Organ in Wonderland”.

Organ in Wonderland
“Meski saya bukan petani tetapi rejeki saya mengikuti alur petani.”
- Aas Rolani, penyanyi tarling-dangtur ternama

Sejak kapan tarling dangdut muncul di Indramayu, tak ada angka tahun yang pasti. Dari sejumlah narasumber yang sempat kami datangi hampir semua menyebutkan awal atau pertengan 90-an. Eka mendirikan grupnya tahun 1995, sementara menurut pengakuaannya Aas Rolani mendirikan grupnya setahun lebih dahulu. Jadi kurang lebih pada tahun 1994 kelompok Aas mulai berdiri. Pada kurun waktu yang sama Campursari juga mulai tumbuh di Jogja, tepatnya di Wonosari Gunung Kidul. Campursari adalah bentuk perpaduan organ (alat musik elektronik, atau juda dikenal dengan sebutan shyntesizer) dengan alat musik gamelan Jawa.

Tentu saja “organ tunggal dangdut” –nama lain untuk menyebut jenis musik dan pertunjukan tarling-dangdut– atau campursari atau kendang-kempul di Banyuwangi tak muncul begitu saja. Organ tunggal dangdut di Indramayu tak ubahnya adalah tranformasi dari jenis dan pertunjukan musik “tarling” yang berkembang sebelumnya di daerah Indramayu dan Cirebon. Bentuk kesenian ini pada dasarnya adalah pertunjukan musik, namun disertai dengan drama pendek. Nama “tarling” diambil dari singkatan dua alat musik dominan: gitar elektronik dan suling. Pada perkembangannya, selain kedua instrumen ini lalu juga digunakan sejumlah perkusi, saron, kempul, dan gong. Awal perkembangan tarling tidak jelas. Namun demikian, pada tahun 1950-an musik serupa tarling telah disiarkan oleh RRI Cirebon dalam acara “Irama Kota Udang”, dan menjadikannya populer. Pada tahun 1960-an pertunjukan ini sudah dinamakan “tarling” dan pada saat itu unsur-unsur drama, cerita yang disampaikan oleh penyanyinya di antara lagu-lagu yang mereka bawakan, mulai masuk.

Semenjak meluasnya popularitas musik dangdut pada tahun 1980-an, kesenian tarling terdesak. Ini memaksa para seniman tarling memasukkan unsur-unsur dangdut dalam pertunjukan mereka, dan hasil percampuran ini dijuluki tarling-dangdut (atau tarlingdut). Selanjutnya, pada kisaran thau 1990an, akibat tuntutan konsumennya sendiri, lagu-lagu tarling yang dicampur dengan irama dangdut kerap dibawakan hanya oleh satu pemusik organ dan satu penyanyi dangdut, sehingga terbentuklah grup-grup organ tunggal.

Atas “nasib” dari pertunjukan kesenian tarling (bukan tarling-dangdut) itu sendiri saat ini, berikut ini catatan proses kami mungkin akan sedikit memberi gambaran:

“Malam, tepat tengah malam, 28 April 2010, kami menuju lokasi pertunjukan tarling. Yang main adalah kelompok tarling “Duniawati”. Penonton sudah sepi ketika kami datang, padahal pertunjukan tarling baru saja dimulai. Sebagaimana cerita yang kami kumpulkan sebelumnya, penonton tarling sangat sedikit. Sangat kontras dengan panggung yang besar dan gebyar dan musik yang sangat keras volumenya. Iya, panggung Duniawati sangat besar. Terbesar dari panggung kelompok-kelompok lain yang sudah kami saksikan sebelum-sebelumnya.
Penonton sudah bubar. Begitulah nasib tarling. Mereka main tepat tengah malam, jam 12, seusai pertunjukan organ tarling-dangdut. Rasanya seperti sekadar mengisi panggung yang sudah kadung terpasang saja. Sambil menunggu pagi saat panggung harus dibongkar dan didirikan lagi di tempat lain. Benar-benar sepi, hanya beberapa orang yang terlihat menempati kursi undangan….

Awal tahun 90-an memang menjadi akhir dari kehidupan kesenian tradisonal di banyak tempat di Jawa. Kelompok-kelompok kesenian tradisional banyak yang terpaksa harus gulung tikar di akhir 80-an dan awal 90-an. Beberapa yang bisa dicatat adalah bubarnya kelompok Wayang Orang Ngesti Pandhawa di Semarang dan Siswo Budhaya di Tulung Agung. Dua kelompok kesenian Jawa yang cukup besar itu harus berakhir karena alasan ekonomi dan kehilangan penontonnya. Hal yang sama juga menimpa banyak kelompok yang lain, bahkan Srimulat yang sudah sedemikian menasional. Srimulat kehilangan panggungnya terakhirnya di Surakarta, setelah sebelumnya menutup pertunjukannya di Jakarta dan Surabaya. Ketoprak RRI Nusantara II Yogyakarta juga harus mengurangi jadwal pertunjukan rutinnya. Wayang Orang Sriwedari di Surakarta juga mengalami nasib yang tak jauh berbeda. Hal yang sama tampaknya juga menimpa tarling dan sandiwara di Cirebon dan Indramayu.

Barangkali situasi seperti tersebut di atas berhubungan dengan maraknya TV swasta yang mulai meluaskan jangkauan siarannya secara nasional di tahun-tahun tersebut. Atau mungkin masyarakat penonton kesenian-kesenian tersebut sudah berubah. Generasi telah berganti. Dan mereka membutuhkan tontonan yang lebih sesuai dengan jaman mereka. Mungkin saja. Dibutuhkan penelitian yang lebih mendalam untuk mengurai hal ini. Tetapi tepat pada saat itulah kemudian muncul kesenian-kesenian gaya baru, yang sejatinya adalah perubahan bentuk dari kesenian yang sudah ada sebelumnya. Di Yogya muncul Ketoprak Plesetan dan grup-grup Campursari, di Jakarta muncul Ketoprak Humor dan Lenong Rumpi, di Jawa Timur bermunculan kelompok Ludruk Humor, di Banyuwangi Kendang Kempul mulai memasukkan isntrumen-instrumen modern dan di Indramayu muncul Organ Tunggal Tarling Dangdut.

Kelompok Organ Tunggal di Indramayu tumbuh bagai jamur di musim penghujan, demikian diistilahkan oleh Wangi Indriya, seorang dalang perempuan dan maestro tari topeng gaya Indramayu. Hal tersebut diiyakan oleh Eka. Tiap desa punya kelompok organ tunggal, katanya. Tak hanya satu kelompok, bisa-bisa sebuah desa memiliki lebih dari 5 kelompok. Belum lagi ketambahan dengan kelompok-kelompok Singa Depok yang juga mulai merambah orkes organ juga. Singa Depok adalah jenis kesenian “sisingaan” yang biasa digunakan untuk mengarak pengantin sunat atau adat rasulan. Siang hari mereka memainkan singa depo lalu dilanjutkan sore dan malam harinya dengan musik tarling-dangdut.

Satu kelompok organ setidaknya melibatkan 30-50 orang personel dalam setiap pertunjukannya. Meliputi penyanyi (biasanya 6 orang), pembawa acara, pemusik (organ, tamborin, kendang, terompet, gitar, bas), penata suara, pekerja panggung dan pengemudi. Sebuah kelompok organ yang besar dan terkenal memiliki alat-alat musik serta perlengkapan panggungnya sendiri. Mirip dengan kelompok ketoprak tobong yang main dengan berpindah-pindah tempat. Sedangkan kelompok-kelompok kecil atau kelompok yang baru merintis jalan harus menyewa seluruh peralatan jika mereka mendapat tanggapan. “Di sini kadang sebuah kelompok hanya punya nama saja. Seluruh alat-alatnya bisa nyewa,” jelas Santi Revaldi. Tarif panggung mereka juga cukup beragam. Kelompok-kelompok tenar macam Hj. Aas Rolani, Ekawati dan Dewi Kirana mematok tarif 8 – 10 juta rupiah (dari wawancara di awal tahun 2010. Saat ini, sangat mungkin angka itu sudah berubah) untuk pertunjukan di dareah Indramayu. Untuk pertunjukan luar kota tarifnya menyesuaikan dengan jarak tempuh mereka. Sebagai contoh Aas mematok harga 22 juta rupiah untuk pertunjukan di Banten.

Berikut adalah catatan lapangan ketika kami menyaksikan pentas tarling-dangdut dari salah kelompok besar, “Puspa Kirana”.

Akhirnya kami nonton juga pertunjukan Dewi Kirana bersama kelompoknya Puspa Kirana, 27 April 2010, di Susukan Cirebon.  Segera muncul beberapa perbedaan dengan pertunjukan-pertunjukan organ yang kami saksikan sebelumnya: yang punya hajat adalah orang berada/kaya, panggung lebih besar dan terasa mahal, pertunjukan lebih tertata/terasa profesional, keamanannya bukan hanya hansip tapi juga beberapa personil polisi, dan penontonnya berjubel.

Dewi Kirana konon adalah artis paling laris dan mahal di Indramayu selain Hj. Aas Rolani. Menyewa Puspa Kirana setidaknya tuan hajat harus menyiapkan 10 juta rupiah untuk artis dan panggung (termasuk lampu dan sound). Sebagai sebuah kelompok yang kuat, Puspa Kirana mampu mengikat para pemusik dan penyanyinya. Bukan cabutan sebagaimana kelompok-kelompok yang kami saksikan sebelumnya… Karena tetap, para pemusik memiliki waktu untuk terus mempertajam permainannya, bukan hanya memainkan aransemen standart sebagaimana Kesod Group, Indra Cs, Maharani atau pun Een Nada. Bahkan mereka punya lagu Laskar Puspa Kirana yang dimainkan untuk membuka pertunjukan. Alat musik yang dimain bertambah satu lagi: Saxophone. Meski cara memainkannya seperti suling ata hanya menggantikan suling di beberapa tempat, kehadiran saxophone terasa memberi warna tersendiri.

Selain MC dan Penyanyi, Puspa Kirana mempunyai badut atau pelawak yang turut tampil menyegarkan suasana. Konon Aas maupun Ekawati juga memakai pelawak untuk meramaikan pertunjukannya. Artinya hanya kelompok-kelompok besar yang menambahkan pelawak dalam pertunjukan organ tarling dangdutnya. Kelompok-kelompok bertarif 10 juta rupiah untuk satu kali pertunjukannya….

…Di depan panggung terpampang tulisan besar “Puspa Kirana The Queen of Pantura” lengkap dengan nomor telepon untuk menanggap dan tulisan www.dewikirana.com. Tapi tak berapa lama kami harus menyingkir dari kursi karena ternyata kursi-kursi itu disediakan untuk aparat keamanan dan polisi. Saya pun menyelinap ke samping panggung, memilih posisi berdiri saja supaya bisa bebas bergerak…

…Dan Dewi Kirana tampil di puncaknya. Membawakan beberapa lagu andalannya: Wong Lanang Lara Atine, Braja Tumama, Mujaer Mundur dan sebagainya. Tangga dramatik sudah ditata sedemikian rupa hingga penampilan Dewi Kirana adalah klimaksnya. Penyanyi lain tak ada yang melebihi kecantikan Dewi Kirana. Kualitas vokalnya juga berada di bawah Dewi Kirana. Mungkin memang disengaja seperti itu. Tapi yang terasa benar adalah Dewi Kirana adalah aset utama kelompok tersebut. Tanpa Dewi Kirana mungkin pertunjukan malam itu akan menjadi pertunjukan yang biasa saja.

Meski telah dilarang naik ke panggung, sesekali tetap saja ada penonton yang naik ke panggung. Selain utusan dari tuan rumah yang naik untuk meminta lagu dan menyapaikan sawerannya, beberapa pemuda dengan berani—mungkin karena mabuk—naik ke panggung. Tapi mereka tak bergoyang, hanya menyampaikan saweran dan permintaan lagu. Beberapa pemuda naik ke samping panggung untuk menyampaikan saweran dan bak seorang hero ia mengangkat kedua tangannya seperti habis memenangkan sebuah pertempuran…

Pelaku tarling dangdut sangat tergantung hidupnya dari musim panen. Di musim itulah mereka banyak mendapat panggilan manggung. Perayaan-perayaan, dari pesta panen, pernikahan, khitanan, rasulan semua menumpuk di musim panen. “Meski saya bukan petani tetapi rejeki saya mengikuti alur petani.” Ungkap Aas. Sebenarnya bukan hanya tarling dangdut yang mendapat banyak tawaran main di musim panen. Tetapi juga semua jenis kesenian yang lain.

“Di musim panen banyak sekali hiburan.” Kata Wahyudin, seorang petani yang sempat kami temui di Ngglayem. “Adanya uang ya di musim panen.” Tambahnya. Maka tak heran di musim itulah biasa para petani maupun nelayan melangsungkan hajatannya. Dari menyunatkan sampai mengawinkan anak.

Tak hanya orang kaya, keluarga yang tak cukup berada pun bisa membuat pesta. Tradisi nyumbang di Indramayu sangat kuat dan ketat. Jika tak datang menyumbang pada sebuah hajatan ia akan menjadi buah bibir lingkungan sekitarnya. Seluruh jumlah sumbangan dan nama penyumbang juga tercatat dengan jelas. Dan seseorang yang punya hajat berhak menagih sumbangan pada seseorang jika jumlahnya kurang dari yang ia berikan sewaktu dulu seseorang tersebut punya hajat. Seperti sebuah arisan. Dan dengan cara itulah pesta hajatan terus berlangsung.

“Di luar musim panen saya nganggur saja di rumah.” Kata Santi. Sementara suaminya yang juga pemain organ memilih menjadi buruh tani atau buruh bangunan di musim sepi tanggapan. Lain halnya dengan Eka. Ia tetap bisa menyanyi karena memiliki pekerjaan tetap di diskotik. Meski hanya bergaji 30 ribu rupiah, Eka bisa mendapat lebih banyak uang dari para penjoget yang menyawer. Katanya ia bisa mendapatkan 200 – 300 ribu rupiah per malam dari saweran. “Kalau tidak ada yang nyawer gak seru,” kata Santi. “Selain penghasilan berkurang penyanyi juga jadi gak semangat!”

Displacement dan Jejak-Jejak
Menyawer juga sebuah tradisi lama dalam pertunjukan tradisional di banyak tempat di Indonesia. Bentuknya bisa berbeda-beda. Tapi intinya sama: memberi hadiah pada seniman pujaannya. Menyawer adalah bentuk keterlibatan langsung seorang penonton. Dan di pertunjukan organ dangdut saweran mendapat ruang yang sangat besar. Seorang penonton boleh naik ke atas panggung untuk menyawer penyanyi (bandingkan dengan pertunjukan tradisional di Jawa pedalaman di mana penonton hanya bisa melempar hadiahnya dari bawah panggung). Dan setiap kali seorang penonton menyawer penyanyi akan menyebut namanya keras-keras. Hal ini akan membuat penonton yang lain berebut menyawer agar juga disebut namanya. Seorang penyanyi organ dituntut untuk bisa merayu penonton agar terus menyawernya. Mereka memuji-muji penonton agar mau menyawernya. Mereka memanggil nama penonton yang dirasa memiliki uang besar dengan beragam cara seperti Bos Beras, Bos Rajungan, Sing Duwe Bondan (nama tempat), Sing Duwe Jakarta dan sebagainya. Dan para penonton sepertinya sangat menikmati ketika namanya disebut. Mereka seperti mendapat panggung untuk tampil di masyarakatnya. Seperti botol bertemu tutup: penyanyi membutuhkan saweran, penyawer membutuhkan panggung untuk tampil.

Sampai di sini kami seperti melihat bahwa sejarah kebudayaan bisa dilihat sebagai suatu aliran yang tak selalu berkelanjutan, ia juga tersusun dari patahan-patahan. Satu hal yang jelas, selalu ada proses negosiasi di dalam aliran itu. Terutama ketika kebudayaan tertentu berhadapan dengan kebudayaan baru yang datang dari luar. Proses tawar-menawar yang terjadi bisa saja frontal dan keras, tetapi juga kerap “diam-diam” dan halus melalui moda apropriasi dan adaptasi.

Dua catatan lapangan di bawah ini memberi gambaran lain atas ihwal di atas:

30 Maret 2010
Hj. Aas Rolani tengah bersiap untuk pengambilan gambar video klip terbarunya ketika kami datang menyambangi rumahnya. Aas menyambut kedatangan kami di ruang tamunya yang cukup mewah dan tertata. Beberapa foto dirinya terpampang di dinding. Ada juga foto keluarga. Yang cukup menonjol adalah foto dua bapak-bapak berpakaian polisi lengkap dengan seluruh bintang kepangkatannya. Di almari terdapat beberapa piala dan setumpuk buku tafsir Al Qur’an. Di sudut, sebagaimana di ruang tamu penyanyi Eka, terdapat semacam meja kantor. Mungkin untuk mengurusi agenda pemanggungan. Aas mengenakan pakaian muslim. Wajahnya berpoles make-up lumayan tebal…

Bagi Aas tarling dangdut dengan organ tunggal sama saja. Lagunya sama. Arahnya juga ke sana-sana juga, katanya. Bedanya hanya di tekhnis: organ tunggal sudah terpogram musiknya, sedangkan tarling menggunakan musik hidup. Tapi dalam perkembangannya organ tunggal menambahkan lagi beberapa elemen musik pendukung macam gitar, seruling, terompet dan lain sebagainya. Organ tunggal yang benar-benar tunggal, hanya organ saja, masih tetap ada dalam perayan-perayaan yang sederhana. Biasanya lesehan, kata Aas. Tapi jumlahnya tak banyak. Sudah ketinggalan jaman, tambah Aas. Sekarang kelompok organ sudah melengkapi elemen-elemen musiknya. Aas sendiri menyebut grupnya dengan nama Gamelor kependekan dari gamelan organ. Jadi hampir mirip dengan campur sari di Jawa karena menggunakan gamelan juga. Lagu-lagu yang biasa dibawakan adalah lagu Cirebon atau Dermayu populer. Bukan lagu-lagu klasik, imbuhnya.

Sebagaimana Eka, Aas berasal dari keluarga seniman. Ibunya adalah seorang sinden. Dan bapaknya adalah gitaris tarling. Suaminya, H. Khisol Radisah juga berasal dari keluarga seniman. Aas memilih jalur kesenian ini karena menurutnya lebih mudah, tak perlu berlama-lama latihan sebagaimana dalam musik klasik. Belum sempat belajar klasik sudah terlanjur dikenal (namanya), Mbak, katanya. jadi kalau mau balik ke klasik agak males belajarnya. Sebenarnya bukan males, tapi tidak ada banyak waktu. Mulai menyanyi sejak kecil. Tapi namanya mulai dikenal sekitar tahun 2000-an lewat lagunya Mabok Bae…

Sebagai seorang Hajah, Aas tetap menggunakan busana muslim dalam tiap pertunjukannya. Ia tidak mau menggunakan busana yang seronok dan menonjolkan aurat. Dan ia sama sekali tak merasa terganggu dengan hal itu. Malah bangga. Di Indramayu belum ada yang seperti saya, katanya. meski belakangan dia bilang banyak penyanyi yang kemudian meniru model berpakaiannya. Bahkan ia dimintai saran oleh penyanyi lain dalam hal memilih pakaian muslim…

Ketika ditanya bagaimana dengan penampilan atau goyangnya ketika menyanyi Aas cuma tertawa. Dari dulu mah saya biasa saja. Jadi tidak ada yang berubah. jadi jogetnya standart saja. tidak gimana-gimana gitu. Ia juga mengungkapkan bagaimana orang tuanya dalam mendidiknya sebagai seniman. Yang pertama adalah suara dulu, tegasnya. Saweran juga terus jalan meski dia berpenampilan seperti itu. Sudah tradisi, katanya. dan selama ini tak ada penyawer yang nakal atau mengganggunya. Mungkin mereka segan karena saya seorang pimpinan. Jadi kalau mau nyawer juga pakai duit yang gedhe.

…Aas Rolani bukanlah nama aslinya. Aas adalah nama panggilannya. Lengkapnya Asiah. Rolani diambil dari nama anaknya: Rolani Agustyn. Anaknya juga penyanyi, tetapi bukan penyanyi dangdut. Ia grup band, kata ibunya.

Tanggal 26 April 2010 kami berangkat menuju Pecuk yang terletak di kecamatan Sindang Indramayu. Kawan kami, Rasmadi, pemain gitar yang cukup ternama di kalangan pemusik tarling-dangdut, mentas lagi siang itu. Setelah bertanya ke sana-ke mari kami berhasil menemukan tempat hajatan di mana pertunjukan organ tarling dangdut tersebut mentas. Ternyata Rasmadi tak main bareng dengan Indra Cs seperti malam sebelumnya. Ia main bersama kelompok Maharani. Di sini kami mendapati lagi kenyataan bahwa panggung organ dangdut itu dibangun di atas selokan. Di belakang panggung kami bertemu dengan mas MC dari Indra Cs semalam. Tapi ia tak main. Ia justru sibuk dengan perangkat pemancar radio mininya. Rupanya pertunjukan itu disiarkan secara langsung melalui sebuah stasiun radio.

Cuaca yang panas membuat pertunjukan itu tak terlalu meriah. Penonton kebanyakan hanya duduk di kejauhan, berteduh di bawah pohon maupun emperan rumah….

Saya sendiri menonton dari kejauhan sambil melihat lalu lalang para tamu undangan. Setiap yang datang selalu membawa karung beras. Di tempat parkir beberapa pemuda membantu menurunkan karung-karung tersebut dari boncengan sepeda atau sepeda motor. Lalu mereka mengusung masuk ke dalam mengiringi si penyumbang. Setelah ditimbang oleh seorang petugas, juga dicatat, penyumbang segera menikmati hidangan prasmanan sambil menyaksikan pertunjukan organ dangdut tersebut.

Epilog
Ini dunia semakin rhizoma. Menjalar-jalar dan memapar segala hal hampir seketika. Tak ada lagi yang tunggal. Tak pernah lagi ada yang tunggal. Pun pusat. Bahkan pusat.

Teks di atas hadir sebagai salah satu latar belakang adegan menjelang akhir perunjukan Tubuh Ketiga. Teks itu sperti mewakili refleksi kami atas situasi dan proses terbentuknya ‘kenyataan ketiga’ atau ‘kebudayaan di antara’, sebagaimana yang sedikit tergambar dalam catatan-catatan di atas. Refleksi yang lebih berposisi sebagai pertanyaan ketimbang kesimpulan. Terutama dalam kaitannya dengan bagaimana mesti memaknai kenyataan dan proses-proses kebudayaan di antara tersebut.

Praktik sinkretik di Jawa atau Nusantara memang sudah berlangsung lama. Memang tak mudah untuk menyebut praktik sinkretik yang terlihat dalam tarling dangdut tersebut sebagai sebuah strategi kebudayaan begitu saja. Strategi adalah sebuah hasil yang dicapai melalui tapal evaluasi. Juga berdasar posisi subyek yang bisa menentukan jarak antara refleksi dengan tindakan. Posisi subyek yang sadar dengan potensi politik atau potensi sosialnya. Kalau dia “menyatu” sebagai common practise maka praktik-praktik semacam tarling dangdut di atas lebih beroperasi sebagai moda produksi yang cenderung tidak dievaluasi—karena lebih didorong oleh tekanan ekonomi atau hal lain. Tapi bukan berarti produksi-produksi kebudayaan kita tidak pantas dirayakan atau diposisikan sebagai potensi. Pertanyaannya adalah potensi yang seperti apa. Potensi yang bagaimana dan untuk apa?

Di sisi lain terlalu susah juga untuk tidak melihat praktik-praktik tersebut bukan sebagai strategi begitu kami menimbang produk-produk kultural semacam punakawan dalam wayang Jawa atau kejayaan kerajaan-kerajaan pesisir. Di titik percakapan ini terlihat pentingnya satu diskusi yang melakukan semacam identifikasi posisi kita secara kultural, Indonesia, dalam jejalin kebudayaan yang saling bersilangan ini. Di sini akan terjawab pertanyaan di atas: potensi yang seperti apa. Potensi seperti yang terlihat dalam praktik-praktik kreatif yang tampak katrok dan seenaknya di fenomena Tarling Dangdut di Indramayu itu. Karena sesungguhnya praktik tersebut menunjukkan daya kreatif yang luar biasa dalam berhadapan dengan sesilangan kebudayaan yang datang dari mana-mana sekarang ini. Satu daya kreatif yang menunjukkan sikap yang rileks, terbuka dan percaya diri, daripada misalnya sikap-sikap reaksioner dalam bentuk pengerasan-pengerasan identitas yang menunggalkan, intoleran dan keras terhadap yang lain yang sekarang banyak berkembang di sekitar kita.

Itu kenapa, pada akhirnya, karya pertunjukan yang kemudian tercipta dari proyek pelacakan kami ini kemudian kami beri judul: “Tubuh Ketiga. Pada Perayaan-perayaan yang Berada di Antara.”

Jogjakarta, Juli-Oktober 2011


Beranda  |  Kategory: Esai | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia