Panggung Dangdut Indramayu: Hibrida Masyarakat Pantura

5 - Apr - 2013 | Heru Prasetia | 3 Comments »
Panggung Dangdut Indramayu: Hibrida Masyarakat Pantura

Sumber Foto: http://www.gunawanmaryanto.web.id/2010/06/catatan-catatan-dari-indramayu-1/

Penyanyi dengan dandanan seronok, goyang heboh, penonton yang riuh bergoyang, dan panggung dangdut. Tontonan semacam itu bisa kita saksikan di hampir semua kota- kecil-menengah sepanjang jalur jalan raya Dandels di pantai utara jawa. Indramayu adalah salah satunya. Wilayah kabutapen yang hanya berjarak empat jam dari ibu kota ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan penuh pertunjukan panggung musik.

Pada masa panen tiba, panggung pertunjukan bisa muncul setiap malam berganti-ganti dari satu desa ke desa lainnya. Sekilas, tak ada yang membedakan pertunjukan di sudut-sudut Indramayu ini dengan segala tontonan panggung yang tersebar di sekujur kota-kota pantai utara Jawa: musik dangdut cita rasa lokal yang dipadu dengan aksi panggung khas pertunjukan rakyat. Namun jika ditelisik lebih jauh, kita akan sampai pada pertanyaan-pertanyaan yang tidak hanya menyoal mengapa pertunjukan semacam ini bisa begitu hidup di kawasan ini tetapi juga tentang kehidupan kebudayaan Indramayu itu sendiri secara lebih luas.

Secara nasional Indramayu kalah tenar dibanding Cirebon. Kebudayaan Cirebonan lebih kerap disebut-sebut ketika orang ingin merujuk pada sebuah kebudayaan yang bukan Sunda di Jawa Barat. Padahal Indramayu sejatinya juga bisa mewakili sesuatu yang bukan Sunda dan bukan pula Jawa. Secara historis, Indramayu punya akar sejarah sebagai bagian dari kerajaan Mataram. Tapi pada perkembangan selanjutnya, masyarakat Indramayu mengidentifikasi diri sebagai bukan bagian dari Mataram Jawa yang mereka sebut sebagai “wong wetan”, sementara mereka menyebut orang Sunda sebagai “wong gunung”.

Dalam perkembangan pula, Indramayu punya kedekatan dengan budaya Cirebon. Pada titik tertentu kemudian orang bisa mengatakan bahwa Indramayu ada pada persilangan budaya Jawa-Sunda-Cirebon.i Dari segi bahasa, orang Indramayu dipengaruhi dua bahasa yakni sunda dan jawa—terutama dialek Tegal dan Brebes. Letaknya yang berada di garis pinggir Jawa secara historis juga membuatnya menjadi tempat pertukaran dari berbagai budaya, termasuk Islam yang memang masuk menyusur melalui garis pantai Jawa. Namun, sekali lagi, dalam diskursus kebudayaan, orang akan lebih banyak mengenal Cirebon ketimbang Indramayu. Nama Indramayu akan lebih identik dengan pekerja perempuan dan keseronokan.

Jika anda bertanya pada sopir-sopir truk yang melintasi setiap hari di jalan pantura tentang Indramayu, jawab mereka pasti soal warung remang-remang. Warung ini tidak hanya menyediakan kopi, tentu saja, tapi juga daging pemuas birahi. Konon pula, Indramayu adalah pemasok terbesar perempuan pekerja seks di Kramat Tunggak Jakarta. Sebuah catatan melaporkan bahwa separuh pekerja seks di Kramat Tunggak berasal dari Indramayu.ii Citra seronok ini barangkali yang kemudian membuat para petinggi lokal gerah. Kita masih ingat beberapa tahun lalu sempat muncul ide ajaib tentang tes keperawanan untuk anak-anak sekolah di Indramayu.iii

Secara sosio-ekonomi, Indramayu dikenal sebagai penyedia TKI dan Pekerja Rumah Tangga. Sebuah kota kecil yang jaraknya dari pusat perekonomian negeri tidak sampai satu hari perjalanan tentu membuat para penghuninya tertarik mengais remah-remah pembangunan di pusat negeri. Sulit untuk menemukan data yang definitif tentang jumlah orang Indramayu yang mengadu nasib di Jakarta, tapi secara umum kita tidak akan sulit menemukan orang Indramyu yang bekerja di sektor informal seperti pekerja rumah tangga dan pekerja seks di Jakarta. Mengenai TKI, pada bulan Februari 2009 tercatat ada seribu orang yang berangkat ke luar negeri menjadi pekerja.iv Banyaknya TKI asal Indramayu juga bisa dibaca dari aliran uang yang dikirim TKI asal Indramayu. Setiap harinya sekitar 1 Milyar rupiah dikirimkan oleh para TKI dari luar negeri ke keluarganya di Indramayu. Data remitansi dari BNP2TKI(Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia) menyatakan rata-rata mengirimkan 250 milyar per tahun ke Indramayu.v

Sesungguhnya bangunan sosial masyarakat Indramayu adalah masyarakat agraris. Jika anda melewati jalur utara yang melintasi Indramayu, anda akan melihat hamparan sawah yang begitu luas. Data-data yang ada juga menunjukkan betapa pertanian adalah sektor paling penting di Indramayu. Indramayu dikenal sebagai salah satu lumbung padi di jawa barat, atau bahkan di Indonesia. Data yang disajikan di situs BPS Jawa Barat menunjukkan bahwa Indramayu mempunyai kekuatan besar di sektor pertanian. Sektor pertanian menyumbang 16,02 persen dari total Produk Dometik Regional Bruto Kabupaten Indramayu. Dari sumber yang sama dinyatakan bahwa 52,71 persen penduduk yang berusia di atas 10 tahun bekerja di sektor pertanian.vi Namun data di atas kertas itu tentu saja tidak lantas menyuguhkan kemakmuran mereka yang terlibat di sektor pertanian. Masalah seperti ini bukan nasib pertanian Indramayu saja tapi juga persoalan pertanian di negeri ini secara umum: buruknya tata niaga dan persoalan kepemilikan lahan. Di Indramayu, hanya 30 persen yang memiliki lahan, 70 persen lainnya adalah buruh tani.vii Tanaman padi hanya memberi panen dua kali dalam satu tahun. Dua kali panen dalam setahun tentu saja hanya memberi remah-remah rejeki yang berujung pada ketidakcukupan. Dengan demikian, kendati di atas kertas menjadi sektor ekonomi terbesar, anak-anak muda Indramayu enggan menjadi buruh tani dan memilih meraih mimpi di Jakarta atau luar negeri karena masih punya mimpi lain di luar menjadi petani. Lahan pertanian yang hanya dimiliki segelintir orang dan tata niaga tani yang selalu tak berpihak pada petani memberi sumbangan besar pada hilangnya daya tarik pertanian serta dalamnya kemiskinan manusia tani di Indramayu.

Dalam pada ini, perempuan menjadi tulang punggung pengais rejeki, mereka meninggalkan keluarga bekerja di ibu kota atau luar negeri demi menghidupi keluarga di kampung halaman. Banyak contoh sukses, terbaca dari rumah-rumah baru yang dibangun selepas mereka pergi, namun tak sedikit pula cerita pilu akibat utang yang kian menumpuk sementara nasib mereka tak membaik karena dikibuli orang atau ditelan majikan kejam. Banyaknya kisah pilu dari para pekerja di luar negeri itu tak menyurutkan para gadis Indramayu untuk mengadu nasib di negeri seberang. Bagaimanapun, pusaran uang dari TKI tetap lebih menggiurkan ketimbang menjadi petani. Kisah sukses dan kesejahteraan yang telah terbukti di depan mereka membuat pekerjaan di luar negeri tetap punya daya tarik, termasuk pekerjaan di dunia remang-remang. Pada titik tertentu orang akan mengaitkan ihwal semacam ini dengan human traficking.

Perdagangan manusia tentu adalah cerita horor. Tapi Indrammyu punya nuansa lain soal ini. Sebagian besar studi tentang human traficking melihat para gadis yang bekerja di perdagangan seks adalah orang yang lemah, tak punya harapan, dan tak berdaya. Kasus para gadis Indramayu bisa memberi contoh yang berkebalikan dari stereotype itu. Dalam hal pekerja pramuria di negeri asing, secara umum sering dinyatakan bahwa para perempuan tersebut adalah korban human traficking. Umumnya mereka akan dianggap sebagai korban tak berdaya dari suatu persekongkolan jahat yang hendak menghisap mereka
Studi Atsushi Sano menunjukkan bahwa para pramuria dari Indramayu ini memang justru yang berkehendak dan juga didorong oleh lingkungan dan keluarga agar bekerja sebagai pramuria di luar negeri.viii Tidak sedikit keluarga yang melihat anak perempuan mereka sebagai aset untuk mendatangkan uang melalui jalan-jalan seronok terebut.

Kisah tentang para TKI, pekerja rumah tangga, dan pekerja seks ini adalah kisah tentang para perempuan yang ingin menulis sejarah baru dengan impian baru kendati juga dibaca sebagai peneguhan atas citra keseronokan itu tadi. Panggung hiburan di Indramayu adalah bagian lain dari kisah perempuan Indramayu yang menorehkan sejarah itu.

Dalam sejarah seni pertunjukan di Indramayu, sebelumnya sudah dikenal Tarling, sebuah pertunjukan sandiwara yang ditingkahi dengan lagu. Tarling merupakan kesenian yang sangat populer di wilayah Indramayu dan Cirebon. Tarling (akronim dari instrumen yang dipakainya:gitar dan seruling) sangat populer dalam pentas acara-acara masyarakat seperti perkawinan dan syukuran. Tarling sendiri selalu mengalami perubahan setiap waktu. Dari dua orang yang bermain gitar dan seruling berkembang dengan kelengkapan instrumen lain seperti gong, tutukan, bahkan kendang. Dari lagu yang cuma rangkaian pantun berlirik cerita monolog menjadi berbentuk dialog.ix Dalam pertunjukan Tarling, lagu yang dinyanyikan adalah lagu yang berisi cerita, panggung tarling—dengan demikian—adalah semacam panggung sandiwara dengan lagu sebagai salah satu ornamennya. Sampai dengan dekade 80-an kesenian Tarling masih sangat populer. Belakangan kepopulerannya redup digantikan dengan pertunjukan organ dangdut yang meninggalkan sandiwara dan menyisakan lagu untuk bergoyang. Kelompok Tarling yang tersisa, harus menyesuaikan diri dengan memasukkan lebih banyak lagu untuk bergoyang ketimbang fokus pada sandiwaranya.

Pertunjukan paling populer dan diminati masyarakat Indramayu kini adalah orkes dangdut, bisa berupa orkes organ tunggal maupun grup. Keduanya serupa: pertunjukan panggung penuh goyang. Tulisan ini akan memaparkan cerita sekitar pertunjukan panggung tersebut yang ternyata bisa bercerita tentang cukup banyak hal mengenai realitas sosial dan kebudayaan di Indramayu.

Dangdut pantura:tradisional atau modern?
Jika ada pertanyaan tentang jenis musik apakah yaang disajikan para penghibur di panggung-panggung pertunjukan di Indramayu (atau pantura pada umumnya) saat ini? Akan meleset jika jawaban dikerangkai dalam bingkai modern atau tradisional. Kita tak pernah bisa memberi kata pasti tentang apakah itu jenis musik modern atau tradisional, bahkan untuk musik dangdut itu sendiri. Instrumen dan ornamen yang dikenakan pertunjukan itu adalah perangkat modern, hampir semuanya, tapi pertunjukan itu sendiri mewakili sebuah kontinum yang berakar cukup dalam di masyarakat tradisional Indramayu. Kesenian panggung sudah dikenal barangkali puluhan tahun silam.

Umumnya, pangung pertunjukan tersebut dipenuhi dengan musik dangdut. Jikapun terdapat lagu lokal, biasanya dikemas dalam irama goyang khas dangdut. Akat musik yang dimainkan bisa beragam, dari organ tunggal yang mengandalkan electone, hingga sebentukk grup band yang lengkap sampai alat musik seperti saxophone.x Di panggung-panggung orkes di Indramayu, mereka tak hanya menyanyikan lagu dangdut yang luas dikenal di Nusantara, namun juga lagu-lagu tradisional yang dilantunkan dan dikemas agar sejalan dengan pertunjukan panggung yang penuh goyang. Juga sering dimainkan jenis musik yang mulai marak pada akhir 90-an dan dikenal dengan nama “dangdut remix”, “dangdut koplo”, atau “dandgut disko” . Jenis musik ini menggabungkan unsur-unsur dangdut dengan ritme elektronis membuahkan subgenre musik yang seolah datang dari anatah berantah. Karena dangdut sendiri sudah merupakan campuran dari berbagai unsur musik seperti India, Melayu, dan rock, maka musik dangdut koplo menjadi semacam hibridnya musik hibrid. xi

Sebagai sebuah genre dangdut dikenal sebagai musik yang khas Indonesia, bukan musik pop namun juga bukan musik tradisional. Alat musik yang dipakai mewakili keduanya. Alat-alat modern dan tradisional. Secara kultural, dangdut konon berakar pada irama melayu dan gambus namun dalam perkembangannya ia juga menyerap unsur-insir musik Barat. Secara sosial, dangdut dilekati sebagai tontonan masyarakat kelas bawah, buruh, tani, dan masyarakat pinggiran lainnya. Ia dimainkan di pinggir jalan, di lapangan, dan di klub-klub murahan di sudut-sudut kota. Kendati perkembangan dangdut semakin pesat dan besarnya penerimaan media massa elektronik seperti Televisi, secara umum genre musik dangdut tetap dianggap sebagai musik konsumsi kelas bawah.xii Secara musikal, estetika dangdut kerao dikatakan tidak mewakili estetika yang berkelas tinggi. Dari segi pertunjukan panggung, dangdut lebih didekikasikan untuk melayani khalayak kelas kampung. Demikian pula dari segi ornamen panggung. Para penyanyi dan pemain musik di panggung hampir selalu mengenakan kostum yang mencolok, sama sekali berbeda dengan apa yang mereka kenakan sehari-hari. Biasanya berupa rok mini,warna baju mengkilap, dan stocking. Secara kostum, ada perbedaan yang cukup kentara antara penyanyi di panggung-panggung ini dengan penyanyi musik pop modern. Kendati berbeda dengan kostum penyanyi lagu tradisional (bandingkan dengan penyanyi tarling atau sinden), kostum penyanyi dangdut juga tidak bisa dikatakan mewakili cara berpakaian masyarakat modern di perkotaan sehari-hari. Bahkan, kostum gemerlap tersebut malah menegaskan citra “kampungan” dari musik dangdut.

Dari sisi kostum dan jenis musik, tampak bahwa panggung orkes musik adalah sesuatu yang bukan “tradisonal” namun juga tidak cukup “modern.” Saya sengaja meletakkan kedua istilah itu dalam tanda petik untuk menegaskan bahwa term tersebut dipakai dalam pengertian yang paling populer mengenai keduanya. Musik dan kostum tersebut mewakili budaya hybrid yang sesungguhnya dibangun masyarakat Indramayu dan pantura pada umumnya. Dari jenis musik, samahalnya dangdut, apa yang mereka sajikan jelas bukan tradisional dan juga bukan modern. Panggung-pannggung itu sejatinya juga mewakili realitas hibrid masyarakat pantura. Kota kecil menengah yang berbasis agraris yang kebanyakan masyarakatnya tidak menaruh harap pada dunia pertanian tentu juga mengidap nalar-nalar urban sebagaimana mereka yang hidup di perkotaan yang penuh industri. Pemaparan kasus kecil di salah satu sudut Indramayu di bawah ini akan memberi gambaran tentang realitas hibrid tersebut.

Orang-Orang Panggung Indramayu
Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, adalah salah satu wilayah yang di dalamnya terdapat begitu banyak penyedia layanan hiburan panggung musik. Terletak sekitar 1 jam perjalanan ke arah barat dari kota Indramayu, Losarang merupakan salah satu pusat kesenian panggung di Indramayu. Melewati jalur pantura yang membelah Losarang, pandangan kita akan terpapar papan-papan nama orkes dan organ tunggal yang bertebaran di wilayah ini. Papan-papan itu memberi petunjuk tentang nama grup, alamat, dan kontak telepon. Semacam iklan untuk menyambut mereka yang hendak mencari para penghibur panggung. Tantu saja tak hanya di Losarang, di wilayah-wilayah seperti Sliyeg dan Jatibarang, juga bisa kita dapati deretan papan nama semacam ini.

Kecamatan Losarang sebagaimana Indramayu pada umumnya adalah wilayah pertanian, penduduknya banyak yang menjadi petani penggarap. Pada musim panen, para petani itu punya cukup uang untuk melangsungkan hajatan seperti khitanan, nikahan, rasulan (khitan perempuan), dan sejenisnya. Pada acara hajatan ini, hampir dipastikan akan selalu ada acara hiburan. Pada hari-hari macam inilah para pegiat panggung juga turit merasakan berkah masa panen. Pada masa-masa inilah papan-papan nama grup musik organ tadi seperti menemukan makna sosialnya. Papan-papan nama grup musik organ seperti pandawa muda, singa bergoyang, simba ganjen, dan semacamnya semakin mencolok saja.

Nama-nama yang seolah mewakili sebuah kelompok itu sejatinya tidak merjuk pada grup atau kelompok tertenu yang sudah baku, tapi pada satu agen atau manajemen pertunjukan. Para pemain dan penyanyi pada umumnya bekerja sebagai freelance yang bisa bermain di bawah bendera grup apa saja—yang di panggung tentu saja memakai kostum grup tersebut. Pada umumnya, agen-agen pertunjukan di sudut-sudut desa ini tidak punya kelengkapan apapun atas sebuah pertunjukan, namun mereka punya kontak yang sangat baik dengan para penyedia jasa sound system, panggung, alat musik, pemain musik (berikut kostumnya), dan para penyanyinya. Kalau yang terakhir ini, kostum pada umumnya membawa sendiri.

Udin, marbot sebuah musola di salah satu kampung di Losarang yang setiap sore sibuk menjagar ngaji anak-anak kampung di musolanya, adalah seorang pengelola sebuah agen pertunjukan. Grup yang ia kelola merupakan metamormosa dari kelompok rebana/kasidah. “Sejak tahun 90an saya membina rebana dan kasidah untuk anak-anak muda di desa ini. Sudah sampai terkenal itu. Sering diundang ke desa-desa lain, ” tutur Udin ketika ditanya tentang awal mula ia terjun di bisnis panggung hiburan ini. “Lama-lama banyak yang mulai senang organ. Saya mulai mememasukkan alat musik lain,” imbuhnya. Pada masa-masa itu itu kasidah sudah mulai tidak digemari. Orang mulai mengenal organ tunggal dengan pemain musik yang cuma satu orang itu. Udin mulai menggeser bisnisnya menjadi bisnis pertunjukan dangdut pada sekitar tahun 2004. Para penyanyi yang dulu bernyanyi untuk kasidah mulai menyanyi dangdut di panggung-panggung. “Istilahnya AC/DC..,” tambahnya untuk menyebut penyanyi yang bisa menayanyikan lagu kasidah maupun dandgut. Udin pun lebih banyak menerima order pertunjukan dangdut ketimbang kasidah. Tanpa canggung Udin, yang juga seorang pegwai di Kantor Desa ini, mengubah bisnisnya menjadi bisnis pertunjukan dangdut. Itu dilakukannya karena bisnis dangdut jauh lebih menguntungkan daripada kasidah. “Saya menuruti saja selera masyarakat,” ujarnya. Harga untuk sekali pentas siang hingga malam berkisar antara 4 sampai 5 juta.

Saya sempat menyaksikan satu pertunjukan kasidah yang dikelola Udin pada sebuah acara syukuran haji. Penyanyi yang dibawa Udin adalah penyanyi yang biasa tampil di panggung-panggung dangdut. Tentu dalam acara kasidah itu mereka tampil lengkap dengan jilbabnya dan lagu-lagu rohani, nyaris tanpa goyang. Pada kesempatan lain, di panggung yang hiburan yang lain, para penanyi yang sama tampil dengan kostum pertunjukan dangdut yang gemerlap dan seronok, lengkap dengan goyangan dan saweran. Saweran adalah ketika para penonton mulai naik ke atas panggung dan mulai ikut bergoyang sambil memberi uang pada penyanyinya. Biasanya sambil mabuk. Semakin mabuk semakin banyak uang yang diberikan.

Salah satu penyanyi yang disebutnya sebagai AC/DC tersebut adalah, sebut saja, Ramilia. Pada mulanya adalah kasidah. Ramilia mulai belajar menyanyi sebagai pelantun lagu kasidah hingga jenis lagu-lagu semacam itu tidak lagi begitu diminati warga. Ia lantas mulai bernyani di panggung-panggung dangdit, baik organ tunggal maupun orkes. Sampai kini, Ramilia menjadi penyanyi yang bisa tampil sebagai pelantun lagu kasidah maupun sebagai penyanyi dangdut. Selain pelantun kasidah, Ramilia juga pernah tampil sebagai qoriah—pembaca ayat al-qur’an pada acara pengajian. Ia memang pernah menjadi guru ngaji di sebuah madrasah. Kini ia tinggal bersama suaminya—seorang musisi dangdut—dan punya seorang anak. Ia biasa dibayar sekitar 150 ribu rupiah untuk pentas dangdut siang sampai malam dan 50 ribu rupiah untuk menyanyi kasidah—jauh lebih sedikit salah satu karena kasidah hanya tampil sebentar di malam hari sebagai selingan pada acara pengajian. “Kalau pentas organ tunggal atau orkes bayarannya lebih besar, kasidah kan cuma sebentar,” imbuhnya.

Di atas pangung, goyang Ramilia tergolong moderat, tidak cukup seronok, tapi cukup membuat orang ikut bergoyang dan melempar saweran. “Uang dari saweran lebih banyak daripada honor resmi”, kata Ramilia. Uang saweran ini dikumpulkan jadi satu kemudian di bagi rata pada seluruh crew pertunjukan—termasuk ketua rombongan/agen. “Yang penting gimana caranya orang mau kasih saweran,”kata Ramilia. Di panggung ia memang sangat aktif mengambil uang sawer itu. Umumnya para penonton yang sudah mulai mabuk akan semakin banyak memberi sawer. Ramilia terlihat tanpa beban ketika menyebut soal mabuk dan sawer. “Saya senang kalau sudah pada mabuk. Mereka jadi lupa dengan uangnya,” imbuh Ramilia.

Uang sawer ini memang punya kaitan dengan mabuk atau tidaknya penonton. Sebagaimana diakui Ramilia, ketika Indramayu diributkan dengan tewasnya orang yang menenggak minuman keras yang kemudian mendatangkan razia besar-besaran pada minuman keras, dia merasakan betapa panggung menjadi sepi saweran. Kalaupun ada, jumlahnya jauh berkurang dibanding sebelum geger miras itu.

Seperti Ramilia, awalnya Santi adalah penyanyi kasidah. Seiring dengan pudarnya minat orang Indramayu pada kasidah, Santi mulai menyanyi dangdut. Dari penampilan kesehariannya, ia tampaknya cukup taat beribadah. Sebuah ruangan kecil di rumah barunya ia jadikan ruang sholat lengkap dengan mukena, sajadah, tasbih, dan al-qur’an. Di panggung dangdut, ia tampil sebagaimana layaknya penyanyi dangdut di panggung-panggung itu. Mengaku tak pernah mengenakan stocking, Santi biasa bergoyang heboh di atas panggung..Tapi ketika menyanyi kasidah, ia tampil begitu tertutup dengan jilbab. “Saya menyesuaikan saja dengan kondisi..” ujarnya. Suaminya, Adi, seorang gitaris yang juga tampil pada pertunjukan-pertunjukan dangdut. Bersama suaminya itu, ia membangun rumah barunya yang ia sebutnya sebagai hasil mencari nafkah dari panggung. Seperti Ramilia, ia mengaku penghasilannya datang lebih banyak dari saweran daripada honor resmi. Dan itu hanya bisa didapat di panggung dangdut. bukan di panggung kasidah. Saweran, sekali lagi, juga melibatkan minuman keras. “pernah dapat 300 ribu jika pas ramai. Kalau sepi ya ..bisa cuma 4 ribu,” paparnya. Santi tau persis jika ia harus memancing orang untuk sawer. Sebab dari sanalah ia bisa menapatkan banyak uang. Para penyawer ini biasanya juga saling bersaing satu sama lain. Orang akan merasa bangga jika mampu memberi uang sawer lebih banyak. “Saya senang kalau orang bersaing begitu,” imbuhnya. Oleh karena itu, penting itu memainkan persaingan para penyawer itu.

Baik Ramilia dan Santi (berikut para suaminya yang menjadi pemain musik), lantas menjadi penganggur begitu masa tanam tiba. Ketika uang hasil panen sudah habis, seiring musim hujan tiba, Indramayu dan sekitarrnya mulai sepi dari panggung pertunjukan, nyaris tidak ada panggung pertunjukan. Ramilia dan dan Santi (berikut para pengiringya) hanya berdiam di rumah. Para pelaku lainnya, kadang menjadi buruh tani atau tukang. Padahal jika musim panen dan musim hajatan, mereka bisa jadi hanya tidur empat jam sehari karena saking sibuknya dari panggung ke panggung. Ini menunjukkan keterkaitan erat antara panggung hiburan itu dengan kultur agraris masyarakat Indramayu. Pertunjukan dangdut—juga kasidah atau sandiwara tarling (yang sudah sangat berkurang peminatnya) bergantung pada siklus agraris masyarakat Indramayu.Kendati pertanian tidak lagi menjadi satu-satunya pendorong roda ekonomi masyarakat, kultur agraris tetap mengakar kuat hingga melahirkan siklus tersendiri. Ia menjadi penanda dari basis sosial masyarakat yang menghidupinya. Panggung pertunjukan itu baru bermunculan ketika orang sudah mendapat cukup uang untuk melangsungkan hajatan atau menggelar syukuran. Orang akan merasa malu jika tidak mengadakan acara pertunjukan ketika sedang punya hajat. Dalam masyarakat agraris, hajatan akan selalu diadakan ketika masa panen tiba. Selain karena saat itu orang sedang punya cukup uang, konon orang mengadakan hajatan menunggu musim panen karena jika dilakukan pada masa tanam, sumbangan yang akan ia terima dari uang kondangan bisa jauh lebih sedikit karena orang sedang tidak pegang uang pada masa-masa itu. Lepas dari itu, Panggung dangdut, pada titik ini, adalah bagian dari ritus sosial yang bersandar pada siklus kehidupan agraris.

Penutup
Satu hal yang bisa dicatat dari panggung hiburan di Indramayu adalah kenyataan hibrid yang begitu gamblang. Dari sisi kostum, para penghibur itu jelas meminjam dari berbagai khazanah budaya yang beragam hingga melahirkan pakaian yang seolah datang dari planet mars itu. Dari sisi musik, genre atau bahan subgenre yang disajikan bisa jadi merupakan kelanjutan dari musik tradisi yang mengakar lama namun telah dipadu dengan musik lain dari tempat lain pula. Secara kultural, para pelaku bisnis panggung hiburan juga adalah mereka yang sehari-hari hidup seperti layaknya masyarakat di desa. Mengurus mushola, belajar mengaji, membajak sawah, dan seterusnya yang sama sekali berbeda dengan penampilan mereka di atas panggung. Contoh paling baik yang melukiskan cita rasa campur aduk ini adalah penyanyi AC/DC di atas: yang bisa bernyanyi kasidah sekaligus dangdut trendy secara bergantian. Pada satu sisi ini adalah gambaran keterbukaan dan daya serap pada kultur yang begitu ragam, pada sisi yang lain ini merupakan bentuk pernyataan bahwa sejatinya kebudayan adalah sesuatu yang selalu bersifat terus saling menyerap dan meminjam.


1. Supali Kasim, http://supalikasim.blogspot.com/2009/07/sejarah-indramayu.html

2. Lihat Atsushi Sano, Young dream seekers from a village of Indramayu to Japan: Constrained rural livelihoods and youth migration in West Java, Indonesia, paper pada diskusi panel International migration, multi-local livelihoods and human security: Perspectives from Europe, Asia and Africa, Institute of Social Studies. 2007

3. Wacana tes keperawanan pada para siswa sekolah ini ditolak oleh banyak pihak. Pada akhirnya ide Bupati Indamayu Irianto Safiudin pada tahun 2007 ini dibatalkan. Lihat http://www.detiknews.com/read/2007/08/19/143124/818818/10/bupati-indramayu-batal-tes-keperawanan-siswi-smu. Diakses 18 Oktober 2010

4. Lihat http://www.pikiran-rakyat.com/node/107681 diakses 19 Oktober 2010.

5. Lihat http://tkiindramayu.blogspot.com/2009/03/1-milyar-kiriman-uang-tki-tiap-hari.html. Diakses 18 Oktober 2010.

6. http://jabar.bps.go.id/Kab_Indramayu/Pertanian.htm . Diakses 30 September 2010

7. Lihat R Kristiawan,”Nasib TKW”: Sebuah Balada Rakyat Indramayu, Kompas, 26 Desember 2004

8. Lihat Atsushi Sano, Op Cit.

9. Chaerul Salam, Siti Chamamah Suratno, Perlawanan Wanita Terhadap Dominasi Patraiarki Dalam Teks Tarling Cirebon: Sebuah Analisis Semiotika Riffatere. Jurnal Humanika 2005, XVIII(2).

10. Electone adlah nama paten alat musik organ yang merupakan perkembangan dari organ elektrik. Alat musik ini bisa menirukan bermacam-macam bunyi alat musik lain dan dikombinasikan dalam waktu yang bersamaan hingga efeknya bisa menampilkan bunyi musik seperti orkestra atau band.Pada perkembangan yang lebih mutakhir alat musik ini juga digabungkan dngan sistem operasi penyumpanan data komputer. Lihat Debora Ratnawati Yuwono dan T Bramantyo, Apresiasi Musik Klasik Melalui Elcetone. Humanika 2006, XIX(2)

11. Jeremy W. Wallach, Dangdut trendy, Is it techno? Is it traditional? No, it’s techno hybrid ethnic house music. http://www.insideindonesia.org/edition-78/dangdut-trendy. Diakses pada 15 Oktober 2010.

12. Sebuah studi tentang konsumsi pada penjualan kaset menunjukkan hal ini. Lihat Jeremy Wallach, Exploring Class, Nation, And Xenocentrism In Indonesian Cassette Outlet. http://www.jeremywallach.com/wp-content/uploads/2008/12/DPubS.pdf. Diakses pada 10 Oktober 2010.


Beranda  |  Kategory: Esai | | Trackback URI

3 Responses to “Panggung Dangdut Indramayu: Hibrida Masyarakat Pantura”

  1. [...] ini pernah diposting di situs Jurnal Srinthil (lihat di sini). Saya menyiapkan tulisan ini sebagai pengiring film dokumenter berjudul Kerudung Shanty yang [...]

  2. Salam sejahtera

    Tulisan ini sangat menarik, mohon kiranya saya dapat dibantu untuk dapat berkomunikasi dengan penulisnya saudara Heru Prasetia.

    Saya ingin menanyakan beberapa hal terkait dengan artikel ini, terimakasih.

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia