Kerang Hijau, Perempuan, dan Cerita Kaum Pinggiran

15 - Oct - 2010 | Awali Saeful Thohir | No Comments »

 

Suatu hari di tahun 1290, tiga tahun sebelum Majapahit berdiri, kapal seorang Irlandia bernama Patrick Walton karam di perairan perancis. Tidak bisa pulang ke negerinya, terpaksa dia tinggal di daerah itu, di La Rochelle. Dia mencari makan dengan mengikuti cara orang sana, memasang jaring di laut untuk menangkap burung. Dari setiap tonggak jaring yang ditanamnya di dalam laut, ternyata dipenuhi oleh kerang laut yang berkembang biak. Dicarinya cabang-cabang pohon untuk menghubungkan tonggak-tonggak itu, dan jadilah bagan pengembangbiakan kerang pertama di dunia.[i]

Kerang bisa berkembang biak dengan sendirinya di dalam laut, tanpa harus dikasih makan. Kesukaannya hidup menempel di sembarang tempat di yang ditemuinya. Salah satu jenis kerang, kerang hijau (Perna Viridis), dianggap sebagai hama pengganggu di laut. Kerang hijau ini bisa mengotori kapal badan kapal, mengganggu lajunya, yang berarti meningkatkan biaya perawatan dan mengurangi efisiensi bahan bakar. Lebih dari itu, mereka tidak jarang masuk ke dalam pipa-pipa di dalam kapal[ii].

Rusyati, ibu muda dua anak, bercerita tentang orang-orang yang hidup dari hama, “ada beberapa nelayan yang biasa mengambil kerang hijau yang menempel di badan-badan kapal.” Pekerjaan ini bermanfaat membantu sang pemilik membersihkan kapalnya, dan nelayan mendapatkan kerang hijau untuk dijual sebagai makanan yang lezat dan bergizi tinggi.

 

Hidup dari Hama

Pada mulanya, usaha kerang hijau ini adalah menjadi mata pencaharian sampingan bagi para nelayan.  Namun, karena dirasa cukup menguntungkan, maka semakin banyak orang yang menjadikannya sebagai sumber penghasilan utama. Untuk memulai usaha budidaya kerang hijau dengan bagan tancap, hanya diperlukan biaya produksi sebesar Rp14 juta. Dan akan mendapatkan pemasukan kotor sebesar Rp 26 Juta. Keuntungan sebesar 10 juta/ tahun sudah dapat diraih hanya dengan satu bagan tancap. [iii]

Namanya juga hama, pemeliharaannya tidak terlalu sulit. Benihnya sudah disediakan oleh alam, juga tidak butuh pakan, karena sudah disediakan oleh alam. Pada prinsipnya, usaha ini hanyalah pembesaran saja. Berbeda dengan usaha budidaya perikanan lain, dimana titik kritis hampir terdapat pada setiap tahapan, mulai dari pembenihan, pemberian pakan, pembesaran, kualitas air, atau penyakit. “Adapun dalam budidaya kerang ini, upaya kita hanyalah menyediakan rak-rak kolektor untuk menempel, mengawasinya sampai besar, dan selanjutnya panen. Relatif mudah kan? Jadi, tunggu apa lagi!” kata Endan Suwanda dari Dinas Kelautan dan Perikanan Banten. [iv]

Kalaupun terlalu sulit untuk menjadi petani, bisa juga dengan menjadi pengepul, dengan uang 5 juta, dalam waktu 3 bulan bisa kembali 10 – 15 juta. Tentu saja, kuncinya, memiliki jaringan pemasaran sendiri, kata Rusyati, yang mengurusi usaha rumah tangga kerang hijau di kawasan Cilincing Jakarta Utara. Berdasarkan pesanan, dia mencari barang. Karena itulah, dia juga bekerja sama dengan kakak laki-lakinya, yang bertugas mencari pasokan kerang hijau dari laut. Kakaknya tiap hari bertugas berlayar di sepanjang pantai utara untuk membelinya dari petani-petani bagan di pantai utara.

Di tingkat pengepul inilah, gambaran usaha ekonomi kecil terlihat mempesona.  Serombongan perempuan, sebagian anak-anak remaja, duduk berkumpul tekun mengupas kerang satu-satu. Muka mereka serius, berbicara hanya sedikit-sedikit. Tangannya cepat mengupas satu-persatu kerang. Dimana-mana timbunan kulit kerang yang menggunung. Becek, bau amis. Para lelaki kebanyakan mengambil tugas yang lebih menggunakan otot, mengangkut kerang dari perahu, merebusnya, mengirimkan rebusan kerang ke kelompok-kelompok perempuan, dan akhirnya, membuang timbunan kulit kerang itu ke pinggir laut. Kumpulan-kumpulan para perempuan dalam bekerja itu mengingatkan pada situasi dapur di pedesaan di Jawa ketika sedang menghadapi hajatan besar.

Kerang hijau yang harus dikupas adalah kerang yang ukurannya sangat kecil. Kerang-kerang yang lebih besar biasanya dijual sesuai dengan pesanan. Kerang ukuran besar (sekitar 7 cm) biasanya dibutuhkan oleh restoran-restoran besar. Harganya cukup lumayan, sekitar Rp 5000 per kilo. Untuk ukuran sedang (5 cm) dipasok ke warung-warung tenda. Yang kecil (ukuran 3 cm) dijual ke pangkalan penjual kerang hijau keliling. Kerang kupas biasanya dijual ke pasar-pasar dan siap dimasak. Mudah ditemukan menjadi masakan di warung-warung tegal di Jakarta.

Penghasilan para perempuan pengupas kerang itu tidak bisa dibilang besar, namun kebanyakan meminati pekerjaan itu karena, “dari pada nganggur.” Cukup untuk memberi uang jajan anak-anak, atau untuk membayar sebagian pengeluaran harian mereka. Jelas, mereka bukan perempuan yang hanya mengandalkan pemasukan keluarga dari para laki-laki.

Kelihatannya, benar kata Endan Suwandana, ini adalah bisnis yang sangat mudah. Yang bisa dilakukan oleh siapa saja, tanpa membutuhkan keahlian khusus. Makanya, tidak aneh kalau usaha kerang hijau ini dilihat sebagai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan di wilayah-wilayah pantai. Setelah cukup lama berkembang di Pantai Utara Jakarta (Kamal Muara dan Cilincing), tempat lain seperti Banten, Kabupaten dan Kota Cirebon belakangan melihat pengembangan usaha ini sebagai peluang untuk mengurangi pengangguran.

Di Jakarta, dalam kurun waktu tahun 2000-2004, budidaya kerang hijau ini telah menyerap tenaga di atas 1800 orang per tahun.

Jumlah Tenaga Kerja Budidaya Kerang Hijau di Jakarta Utara,

Tahun 2000 – 2004

No Tahun Kamal Muara

(orang)

Cilincing

(orang)

Total

(orang)

1 2000 658 1.190 1.848
2 2001 665 1.190 1.855
3 2002 665 1.190 1.855
4 2003 678 1.213 1.891
5 2004 665 1.190 1.855

Sumber: BPS Kotamadya Jakarta Utara (2001-2005) dalam anonim, Budidaya kerang hijau, Website dinas peternakan, perikanan dan kelautan DKI Jakarta,  http://explorasi-dinasppkdki.net/filepesisir%5CBudidaya_Kerang_Hijau.pdf

Periode tahun 2000-2004 ini keliatannya memang menjadi periode terindah dalam usaha kerang hijau di Jakarta. Petani yang melakukan budidaya terus mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2000 tercatat jumlah rakit sebanyak 705 unit dengan luasan 101.561 m2, kemudian pada tahun 2001 dan 2002 tercatat jumlah rakit sebanyak 735 unit dengan luasan 102.161 m2, tahun 2003 tercatat jumlah rakit sebanyak 771 unit dengan luasan 107.269 m2, dan tahun 2004 tercatat jumlah rakit sebanyak 1.901 unit dengan luasan 102.161 m2.[v]

Kemesraan hubungan antara pemerintah dengan pengusaha kerang hijau di pantai utara Jakarta, tampaknya juga sedang hangat-hangatnya pada periode itu. Pada tahun 2003, Suku Dinas Perikanan dan Kelautan Kotamadya Jakarta Utara membina 44 kelompok tani dengan jumlah anggota 603 nelayan. Pemerintah bekerja sama dengan Bank DKI memberikan bantuan untuk lima kelompok tani sebesar antara 10 – 15 juta rupiah.[vi]

Tidak mengherankan, periode ini produksi kerang hijau di Jakarta juga mengalami meskipun fluktuatif tapi dalam tingkat yang cukup tinggi  pada tahun 2000 tercatat jumlah produksi sebanyak 118.920 ton, kemudian pada tahun 2001 dan 2002 meningkat menjadi sebanyak 125.660 ton, dan tahun 2004 mengalami penurunan menjadi sebanyak 122.000 ton.[vii]

Tapi, di Jakarta, bahkan, untuk hidup dari hama pun, ternyata tidak semudah yang dikira.

 

Makanan Sehat?

Kerang-kerangan oleh beberapa pihak dianggap sebagai sumber makanan sehat. Selain bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan lezat dia juga dianggap sebagai sumber lemak sehat. Made Astawan, dalam artikelnya yang berjudul “Sehat dan Awet Muda bersama Kerang”, mengatakan bahwa kerang merupakan sumber protein hewani yang lengkap. Mengandung semua jenis asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh. Asam amino esensial adalah asam amino yang tidak dapat dibuat di dalam tubuh, sehingga mutlak harus berasal dari makanan. Hal terpenting yang berkaitan dengan protein adalah kemampuannya untuk dicerna dan diserap tubuh setelah dikonsumsi. Kemampuan tubuh mencerna protein kerang adalah sekitar 85-95 persen. Hal ini berarti kerang dapat digunakan sebagai sumber protein yang baik bagi semua kelompok usia.

Kerang juga kaya akan vitamin larut lemak (A, D, E, dan K), serta vitamin larut air (B1, B2, B6, B12, dan niasin). Selain itu, kerang merupakan sumber utama mineral yang dibutuhkan tubuh, seperti iodium (I), besi (Fe), seng (Zn), selenium (Se), kalsium (Ca), fosfor (P), kalium (K), flour (F), dan lain-lain. Bahkan, mineral dari makanan laut lebih mudah diserap tubuh daripada kacang-kacangan dan serealia (padi-padian). Keunggulan kerang juga adalah memiliki kadar lemak total dan lemak jenuh yang rendah, tetapi kadar asam lemak tak jenuh {omega-3} cukup tinggi. Konsumsi omega-3 yang cukup akan membuat peredaran darah lebih mudah dan lancar, sehingga mencegah terjadinya hipertensi.[viii]

Tabel. Kandungan zat gizi per 100 g daging kerang dan udang

Kandungan gizi Kerang Udang
 Energi (kkal) 59 91
 Protein (g) 8,0 21,0
 Lemak (g) 1,1 0,2
 Karbohidrat (g) 3,6 0,1
 Kalsium (mg) 133 136
 Fosfor (mg) 170 170
 Besi (mg) 3,1 8,0
 Vitamin A (SI) 300 60
 Vitamin B1 (mg) 0,01 0,01
 Air (g) 85,0 75,0

sumber: Direktorat Gizi Depkes (1992) dalam Made Astawan, Sehat dan Awet Mudah Bersama Kerang, Senior, tanpa tanggal, http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Nutrition&y=cybershopping%7C0%7C0%7C6%7C499, 31 Agustus 2009

Mengutip suatu penelitian yang dilakukan sebuah lembaga di Inggris,  Astawan mempaparkan dugaan awal bahwa mengkonsumsi kerang-kerangan akan membuat orang awet muda.[ix]

Namun, dan disinilah sulitnya bagi para pengusaha kerang hijau Jakarta, saat ini banyak pendapat yang mengatakan bahwa kerang hijau dari Teluk Jakarta tidak lagi bisa dibilang sehat. Berbagai laporan menunjukkan bahwa kerang hijau yang dihasilkannya ternyata telah tercemar logam berat. Kerang hijau disebut sebagai filter feeder, berperilaku mendapatkan makanan dengan cara melahap air disekelilingnya dan menyaringnya di dalam tubuhnya. Kalau hewan ini hidup di perairan yang tercemar, maka yang tersaring dan mengendap di dalam tubuhnya bukan hanya makanan, melainkan juga zat- zat pencemar itu.

Padahal, tingkat pencemaran di Teluk Jakarta dianggap sudah sangat tinggi.  Itu tampaknya yang mendorong banyak pihak mulai khawatir. November tahun 2008 lalu misalnya, DPRD DKI Jakarta meminta pemerintah provinsi untuk melarang warganya mengonsumsi kerang hijau dari teluk jakarta karena diduga tercemar logam berat, namun, Wakil Gubernur DKI, Prijanto, mengatakan akan mengadakan penelitian lebih dahulu sebelum membuat larangan.[x]

Meskipun penelitian resmi dari pemerintah sampai tahun lalu belum ada, sebenarnya, kekhawatiran di kalangan warga Jakarta telah menyeruak pada tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2002 misalnya, di internet seseorang menyebarkan email yang mengatakan bahaya mengkonsumsi kerang hijau dari teluk Jakarta, dengan mengutip bocoran penelitian yang dilakukan oleh seorang peneliti LIPI:

Dikatakannya, sebenarnya untuk dikonsumsi, kerang-kerang itu harus bebas logam-logam berat dalam jumlah nol (0%). Kalaupun ada ambang batasnya, biasanya sekitar 0,05. Itu, biasanya diterapkan di negara-negara maju. Sementara, di Indonesia, terutama di wilayah Muara Angke memiliki nilai konsentrasi yang cukup tinggi bahkan paling tinggi disbanding daerah-daerah Jakarta lainnya. Dari hasil penelitiannya, angka konsentrasi itu ada yang mencapai angka 1,8 atau hampir 2. Kebanyakan di atas 1 konsentrasinya. Kondisi ini tentu memprihatinkan kita, dan, cukup untuk membuat kita berhati-hati dalam mengonsumsi makanan kerang.[xi]

Pada Mei 2004, seorang mahasiswa S-3, Institut Pertanian Bogor, Isdrajad Setyobudiandi mempresentasikan disertasinya yang berjudul “Beberapa Aspek Biologi Reproduksi Kerang Hijau Perna viridis Linnaeus, 1758 pada Kondisi Perairan Berbeda”, dan menyimpulkan bahwa, “Kerang hijau di Teluk Jakarta mengandung logam berat. Apabila dikonsumsi terus menerus akan membahayakan kesehatan.”[xii] Itu terjadi karena kandungan logam berat di perairan tersebut sudah melampui ambang batas kesehatan. Padahal, kerang hijau berperilaku sebagai “filter feeder”, yang melahap semua organisme yang ada. Dampaknya adalah, lokasi di sekitar habitat kerang akan bebas dari pencemaran, namun, jika kerang itu dikonsumsi manusia akan berdampak buruk bagi kesehatan.

Kabar ini dimuat di website Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi). Dan seakan senang dengan mulai terbuktinya kecurigaan bahwa kerang hijau di teluk Jakarta sudah tidak layak dikonsumsi, website ini memulai laporannya dengan  kalimat yang penuh kelegaan:

Indikasi tentang kandungan logam berat pada kerang hijau kini terbuktikan. Mahasiswa S-3 Institut Pertanian Bogor (IPB) Isdradjad Setyobudiandi menyarankan penggemar kerang laut, khususnya kerang hijau dari Teluk Jakarta berhati-hati karena tingginya kandungan logam berat pada tubuh kerang. [xiii]

Pada Januari 2008, seseorang mengirimkan surat ke sebuah mailing list, menyatakan keprihatinannya tentang usaha kerang hijau di Teluk Jakarta. Sambil mengutip sumber-sumber dan memberikan link-link yang memberikan informasi tentang pencemaran di Teluk Jakarta, dia menuliskan bahwa masyarakat pantai utara Jakarta harus, “tidak boleh menangkap ikan, menternak kerang hijau atau biota laut lainnya yang diambil dari PANTURA Jakarta dan yang akan dikonsumsi oleh mahluk-makhluk hidup (manusia dan hewan).  Alasan saya jelas sekali bahwa usaha-usaha ini adalah usaha-usaha menyebarkan polutant kepada masyarakat luas yang menjadi penyebab penyakit-penyakit berbahaya.”[xiv] Dia mengusulkan untuk segera melakukan alih profesi terhadap mereka yang bergantung kehidupannya dari penangkapan, pengolahan dan penjualan hasil-hasil laut yang diambil dari perairan PANTURA.

Pendeknya, meskipun belum ada ketegasan sikap dari pemerintah terhadap usaha kerang hijau di Teluk Jakarta,  pada banyak kalangan warga Jakarta, pemahaman bahwa kerang hijau dari perairan ini telah tercemar logam berat tampaknya sudah menjadi kesimpulan umum. Dugaan bahwa mengkonsumi kerang-kerangan akan membuat awet muda, tampaknya juga tidak akan berlaku pada hasil Teluk Jakarta.

 

Reklamasi

Pada awal awalnya, pengumpulan dan pengupasan kerang hijau di kampung Rusyati dilakukan di dalam kampung. Tapi kemudian mendapat protes warga sekitar. “Nggak mau tahu, pokoknya setelah pekerjaan selesai, kampung ini harus bersih lagi,” begitu kata tetangga-tetangga di kampungnya menurut Rusyati. Memang sih, usaha ini membuat lingkungan jadi kotor dan bau,” sambungnya. Akhirnya, para pengusaha kerang hijau terpaksa harus menyingkir keluar dari kampung dan menempati lokasi tepat di garis pantai.

Itu kalau yang mengusir adalah tetangga sendiri. Bagaimana kalau yang melakukannya pemerintah? Sudah sejak masa Orde Baru mereka mendengar bahwa kawasan mereka akan digusur oleh pemerintah, untuk proyek reklamasi. “Kalau Pak Harto tidak lengser, mungkin kita ini sudah tergusur,” kata Rusyati.

Tidak begitu halnya dengan rekan-rekan mereka di Kamal Muara. Pada tahun 2006 bulan Februari, bagan-bagan budidaya kerang di wilayah Kamal Muara mulai digusur oleh pemda. Beragam alasan dikemukakan untuk penggusuran itu, misalnya menghalangi jalur lalu lintas laut. Meskipun, sulit untuk membantah anggapan bahwa alasan yang sebenarnya adalah keberadaan pengembangan kawasan di sekitar wilayah itu yang dilakukan oleh pihak swasta yang telah melakukan reklamasi sendiri, meskipun reklamasi resmi dari pemerintah belum berjalan.

Rencana reklamasi pantai utara Jakarta yang telah dimunculkan sejak tahun 1993 telah menuai beragam kontroversi dan berkali-kali tertunda pelaksanaannya. Tahun 2009 ini, pemerintah DKI Jakarta menegaskan akan memulai lagi proyek tersebut dengan memanfaatkan dana pinjaman dari Bank Dunia.  Proyek yang akan menciptakan daratan baru seluas  2326 hektar tersebut akan mengubah tampilan pantai utara Jakarta, dan dilakukan oleh tujuh perusahaan. Tidak ada wilayah pantai utara Jakarta yang tidak akan terkena proyek ini. Bahkan, selain reklamasi, melalui Rencana Tata Ruang Wilayah 2010-2030 pemerintah DKI Jakarta juga merencanakan melakukan tata ulang untuk seluruh kawasan Jakarta Utara, demi mengembalikan fungsinya sebagai pusat aktivitas ekonomi.[xv] Proyek reklamasi tersebut, tidak terhindarkan lagi akan berarti penggusuran bagan-bagan pembudidayaan kerang hijau, dan meskipun juga mengakui keberadaan pemukiman nelayan,  akan berarti penggusuran bagi warga yang selama ini tinggal di sepanjang pantura.

Rencana reklamasi ini digagas sebagai alternatif pengembangan kawasan DKI Jakarta. Reklamasi akan dilakukan sepanjang 32 km pantura dengan lebar 1,5 km. Pilihan pengembangan kota ke arah utara ini dilihat sebagai satu-satunya pilihan yang memungkinkan mengingat pengembangan ke arah selatan sangat terbatas, karena kawasan ini merupakan wilayah resapan air, sedangkan pengembangan kea rah timur terbentur oleh lahan pertanian beririgasi teknis. Kawasan Pantai Jakarta Utara akan dijadikan pusat kegiatan bisnis dan pelayanan menghadapi era perdagangan dan investasi bebas tahun 2020.[xvi]

Namun, reklamasi bukan tanpa tantangan. Persoalan lingkungan yang terutama adalah masalah rawan banjir karena 40% wilayah pantura merupakan dataran rendah, drainase yang sangat minim, sanitasi buruk, land subsidence, dan yang tidak kalah penting jaringan dan pasokan air bersih tidak memadai.[xvii] Pada Tahun 2003, Kementerian Lingkungan Hidup (LH) menyatakan Pemprov DKI tidak mampu memenuhi kaidah penataan ruang dan ketersediaan teknologi pengendali dampak lingkungan. Ketidaklayakan reklamasi pantai Jakarta ini telah disampaikan Menteri LH dengan menerbitkan Surat Keputusan Menteri LH Nomor 14 Tahun 2003. Dasar pertimbangannya sesuai ketentuan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 Pasal 22 tentang amdal.[xviii]

 

Cerita Kaum Pinggiran

Sepertinya, inilah cerita susahnya kaum pinggiran dalam arti yang sebenarnya. Para pengusaha kerang hijau ini di Cilincing ini harus berusaha di pinggir kampung mereka, karena dianggap terlalu mengganggu di dalam kampung. Maka mereka harus bekerja di pinggir laut. Saking mepetnya dengan laut, setiap tahun mereka pasti mengalami bencana karena rumah kerja tersapu ombak pasang. Mereka menghasilkan berton-ton kulit kerang sisa kupasan tiap minggunya, dan bagi orang luar kelihatannya mereka membuangnya begitu saja disekitar mereka. Sesungguhnya, mereka berusaha memanfaatkan limbah kerang mereka untuk meninggikan tanah tempat kerja, mencoba untuk mengecilkan dampak keganasan ombak laut. Sebuah usaha yang entah apa bisa dibilang berhasil.

“Selama ini kami makan kerang hijau baik-baik saja, enggak sakit,” kata Rusyati, ketika diminta komentarnya tentang kelayakan kerang hijau di Teluk Jakarta. Tentu saja, ujaran seperti itu sulit untuk meyakinkan masyarakat bahwa kerang hijau yang dijualnya layak dimakan. Toh, sudah sering disampaikan bahwa dampak makanan kerang hijau ini akan berlangsung  dalam jangka waktu yang panjang.

Persoalannya adalah para pengusaha kerang hijau Teluk Jakarta memang tidak memiliki kemampuan berarti untuk berhadapan dengan berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli. Publik tentu akan lebih mudah percaya hasil-hasil penelitian ilmiah, disamping mungkin anggapan wajar setelah melihat secara langsung kondisi air Teluk Jakarta yang penuh limbah. Bahkan, tercemarnya laut oleh limbah ini pun diakui oleh pengusaha kerang hijau. Namun dengan konsekuensi yang berbeda. Limbah, kata Rusyati, mengakibatkan kerang sulit berkembang. Kerang yang dipanen menjadi lebih kecil ukurannya.

Sekali lagi, dalam diskusi tentang layak tidaknya kerang hijau produksi Teluk Jakarta untuk dikonsumsi, para pengusaha kerang juga berada di pinggiran. Suara mereka tidak akan terdengar. Semua orang tahu bahwa untuk membuktikan kelayakan kerang hijau untuk konsumsi haruslah melalui serangkaian penelitian mendalam dengan metode yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Tanpa harus kehilangan kepercayaan dengan kemampuan rakyat, dalam kondisi wajar mereka tidak akan mampu melakukan penelitian ilmiah yang sama dengan yang dilakukan oleh para ahli.  Dan kalaupun ada dorongan besar di kalangan mereka yang membuat mereka mampu melakukannya, dibutuhkan upaya yang lebih besar untuk meyakinkan publik bahwa penelitian yang mereka lakukan benar-benar bisa dipercaya.

Berhadapan dengan rencana reklamasi? Benar bahwa setiap warga negara berhak hidup dan bertempat tinggal di manapun yang mereka sukai di negeri ini. Namun, proyek reklamasi juga didasarkan pada berbagai macam peraturan yang sah menurut hukum. Yang bahkan, kelihatannya sulit untuk dihentikan oleh pejabat sekelas menteri lingkungan hidup.

Dan mereka juga minoritas. Lihat data di atas, sebelum bagan-bagan Kamal Muara digusur, jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam usaha ini cuma 1800 orang, seperlima dari kekuatan Satpol PP DKI Jakarta pada 2009, yang mencapai 7800 personil.[xix]

 

Apa yang akan dilakukan?

Apa yang akan dilakukan ketika penggusuran terjadi? “Belum tahu nih, kita mau ngapain,” kata Rusyati. Kalau masih mau berteguh di usaha kerang hijau, berarti mereka harus pindah ke luar Jakarta. Ke Banten misalnya. Namun, tentu saja mereka harus memulai usahanya dari nol. Selama ini mereka menyuplai kebutuhan kerang hijau untuk konsumsi dalam kota. Hitung-hitungan singkat, dengan pindah ke luar kota, berarti ongkos transportasi untuk memasok kerang hijau ke Jakarta akan semakin besar. Ini berarti, sulit mendapatkan keuntungan seperti yang sekarang dinikmati.  Belum lagi, tidak mudah untuk memulai kehidupan baru di tempat yang baru. Seandainya reklamasi benar-benar terjadi, mereka harus memilih: kehidupan baru dengan bisnis lama, atau tetap tinggal di wilayah itu namun harus berusaha di bidang lain yang selama ini tidak mereka tekuni.

Reklamasi, yang berarti penggusuran dan penghentian usaha kerang hijau, tampaknya akan menjadi jalan keluar yang paling menguntungkan bukan hanya bagi rencana tata ulang kota, melainkan juga untuk menyelamatkan warga kota dari makanan beracun kerang hijau. Tanpa harus melakukan larangan eksplisit terhadap produk kerang hijau dari pantura Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan sendirinya akan “menyelesaikan” persoalan makanan kerang yang tercemar ini dengan menerapkan reklamasi yang menyingkirkan usaha ini, dan termasuk penduduknya.

Kalau ingin mencari akar masalah pencemaran kerang hijau, dapat mudah ditebak bahwa para pengusaha kerang hijau adalah pihak-pihak yang terkena dampak limbah (baik industri maupun rumah tangga) yang setiap hari digelontorkan melalui sungai-sungai yang mengalir ke teluk jakarta. Menghentikan pencemaran laut dengan sendirinya akan menyelesaikan persoalan tercemarnya kerang hijau dan akan menyelamatkan usaha rakyat ini. Namun, masih belum ada tanda-tanda keberhasilan upaya pengurangan pencemaran di Teluk Jakarta. Para penegak hukum yang seharusnya bersikap menindak tegas para pelaku pencemar utamanya, ternyata juga belum melangkah.

Di tepi sungai Saigon di Vietnam, sekelompok peneliti dipimpin oleh Stephan Kohler dari Universitas Tehnologi Graz, Austria, berhasil menyelesaikan ujicoba memurnikan air yang telah tercemar logam berat seperti cadmium, zinc, timbal dan besi. Air tercemar yang dituangkan keatas kulit kerang yang telah ditumbuk, terbukti kembali bersih murni.[xx] Sementara, penelitian lain menunjukkan, kerang yang hidup di air tawar terbukti bermanfaat mengurangi pencemaran logam berat.[xxi]

Kalau ada yang mampu mengembangkan penelitian-penelitian tersebut, dan menerapkannya di kawasan Teluk Jakarta, mungkin ada manfaat lain yang bisa diambil dari budidaya kerang hijau di kawasan itu. Meskipun harus melakukan modifikasi, namun ada peluang mereka tidak kehilangan pekerjaan. Itupun, kalau upaya ini mampu bekejaran dengan proyek reklamasi yang terus memburu.

Pertanyaannya, siapa yang sanggup melakukannya?

 


[i] http://everything2.com/user/sneff/writeups/Mussel, 15 Agustus 2009; Maguelonne Toussaint-Samat, A history of food hal. 401, http://books.google.com, 15 Agustus 2009.

[ii] NIMPIS (2002). Perna viridis species summary. National Introduced Marine Pest Information System (Eds: Hewitt C.L., Martin R.B., Sliwa C., McEnnulty, F.R., Murphy, N.E., Jones T. & Cooper, S.). Web publication <http://crimp.marine.csiro.au/nimpis>, Date of access: 2/2/2009.

[iv] ibid

[v] Dinas peternakan, perikanan dan kelautan DKI Jakarta,  http://explorasi-dinasppkdki.net/filepesisir%5CBudidaya_Kerang_Hijau.pdf, 30 Juli 2009.

[vii] Dinas peternakan, perikanan dan kelautan DKI Jakarta,  http://explorasi-dinasppkdki.net/filepesisir%5CBudidaya_Kerang_Hijau.pdf, 30 Juli 2009

[viii] Made Astawan, Sehat dan Awet Mudah Bersama Kerang, Senior, tanpa tanggal,  http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Nutrition&y=cybershopping%7C0%7C0%7C6%7C499, 30 Juli 2009.

[ix][ix] Made Astawan, Sehat dan Awet Mudah Bersama Kerang, Senior, tanpa tanggal,  http://cyberwoman.cbn.net.id/cbprtl/cybermed/detail.aspx?x=Nutrition&y=cybershopping%7C0%7C0%7C6%7C499, 30 Juli 2009

[xii] http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=2624&tbl=cakrawala,  15 Agustus 2009

[xiii] http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=2624&tbl=cakrawala,  15 Agustus 2009

[xiv] http://www.opensubscriber.com/message/mediacare@yahoogroups.com/8346735.html,  15 Agustus 2009

[xv] http://koran.kompas.com/read/xml/2009/04/15/03525394/reklamasi.mulai.2009,  15 Agustus 2009

[xvi] http://kiara.or.id.4244.masterweb.net/index.php?option=com_content&task=view&id=22&Itemid=70,  15 Agustus 2009

[xvii] http://www.kbn.co.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=485&Itemid=160,  15 Agustus 2009

[xviii] http://www.kompas.com/printnews/xml/2008/07/20/19381824/reklamasi.pantai.jakarta.dimulai.2009,  15 Agustus 2009

[xix] http://epaper.republika.co.id/berita/41632/Foke_Janji_Perhatikan_Satpol_PP,  15 Agustus 2009

[xx] http://dsc.discovery.com/news/2009/04/27/shells-metals-water.html,  15 Agustus 2009


Beranda  |  Kategory: Edisi 19 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia