Bukan Perempuan Biasa: Cerita Kemiskinan dari Makassar

15 - Oct - 2010 | Reni Susanti | No Comments »

Hidup adalah perjuangan; kalimat ini klise kedengarannya, tetapi tidak untuk menggambarkan kehidupan Nenek Sitti, perempuan berusia 70 tahun yang tinggal bersama 2 orang cucunya di sebuah kamar kontrakan di salah satu sudut kota Makassar. Dia bukanlah satu-satunya orang miskin di kampungnya, ada puluhan perempuan miskin lainnya yang tinggal di daerah bekas penampungan penderita kusta itu.  Kisah hidupnya tidak terlalu istimewa jika dimaksudkan untuk menguras simpati dan air mata mereka yang mendengar atau membacanya. Kisah Nenek Sitti adalah kisah perjuangan seorang perempuan miskin kota  atas ketidakadilan yang dialami dan perjuangan mencapai kehidupan yang baik dan bermartabat.

Nenek Sitti bukan aktivis sosial jika kita memahami gerakan sosial sebagai sebuah gerakan kolektif yang terorganisir dengan pola kepemimpinan yang kuat, disuport dengan networking, prosedur keanggotaan, framework yang jelas, komunikasi dan publisitas; sebuah tipe gerakan yang identik dengan organisasi, demonstrasi, lobi, dan sebagainya (Bayat 2007). Tidak juga kita dapat menggolongkan Nenek Sitti sebagai pejuang hak perempuan, terutama hak dirinya sendiri dan keluarganya, jika kita melihat pejuang hak perempuan adalah mereka yang berjuang dengan framework canggih seperti kesetaraan gender dan hak asasi manusia dengan tujuan perubahan pada jangka panjangnya.

Tulisan ini bermaksud untuk mengupas kisah hidup Nenek Sitti sebagai sebuah gambaran kehidupan perempuan miskin yang sepanjang hidupnya mempraktekkan apa yang disebut sebagai ‘everyday resistance’ terhadap dominasi superordinat. Dari beberapa episode penting hidupnya, kita dapat melihat lebih jauh bahwa seringkali hal yang diinginkan perempuan adalah kebebasan menentukan pilihan-pilihan hidupnya, bahwa  dalam struktur masyarakat patriarki sekalipun,  perempuan adalah agen yang memiliki kehendak bebas yang setiap saat dapat dikompetisikan dengan struktur masyarakat di mana ia berada.

Aktifitas perlawanan Nenek Sitti tentu saja tidak didorong oleh kesadaran politik, tetapi lebih sebagai kebutuhan untuk bertahan dan  harapan atas kehidupan yang bermartabat; konsep tentang ‘kebutuhan’ dan keinginan untuk mencapai hidup yang bermartabat menjadi justifikasi yang benar, logis dan alami untuk bertahan dan terus menerus meningkatkan kualitas hidupnya (Bayat 1997).

Melalui aktivitasnya yang ‘biasa’ dan ‘sehari-hari’, Nenek Sitti memperlihatkan bahwa secara sadar atau tidak, dalam hidupnya ia telah menolak, bernegosiasi dan memperjuangkan kesetaraan gender meskipun tidak terlibat dalam ‘gerakan sosial’ yang identik dengan protes-protes kolektif menggunakan teori dan strategi mobilisasi tertentu.

Cerita Nenek Sitti hanyalah salah satu cerita dari sekian banyak cerita perempuan miskin yang mengalami nasib dan perjuangan serupa. Orang-orang seperti mereka jarang didengarkan suaranya karena ‘gerakan’ mereka yang sangat biasa dan sehari-hari menjadikan mereka tidak terlihat dari pengamatan kita. Padahal, perempuan-perempuan seperti Nenek Sitti  melalui aktivitas kesehariannya mencoba menemukan ruang-ruang kebebasan  untuk membuat dirinya didengar, dilihat dan dirasakan (Bayat 2007).

Masa Kecil dan Remaja: Melawan Kemiskinan, Memilih Kemiskinan

Nenek Sitti dilahirkan di sebuah keluarga Miskin di kota Makassar tahun 1939. Masih terrekam dengan baik dalam ingatannya keadaan pada jaman perang saat pendudukan Jepang dan  peperangan Jepang melawan tentara sekutu. Ayahnya adalah seorang buruh lepas yang penghasilannya tidak menentu, namun demikian Nenek Sitti dapat menyelesaikan pendidikan dasarnya pada tahun 1954. Menurut ceritanya, pendidikan saat itu gratis dan bebas dari berbagai pungutan sehingga kaum miskin kota seperti dirinya juga bisa mengenyam pandidikan. Sebagai anak tertua dalam keluarga, Sitti muda merasa bahwa ia memikul tanggungjawab yang besar atas keluarga sehingga ia memutuskan untuk ambil kursus mengetik selepas sekolah dasarnya. “Saya ingin mendapatkan kerja kantoran” demikian katanya. Tetapi ia tidak bernasib baik saat itu, Sitti muda gagal dalam ujian mengetik. Orang tuanya hanya mampu membayarkan kursus mengetik tetapi tidak mampu membeli mesin ketik sehingga ia tidak bisa sering berlatih di rumah.

Gadis Sitti menikah di usia 15 tahun dengan seorang tentara berpangkat rendah. Ia tidak bekerja dan tinggal di dalam asrama dengan 5 orang anaknya. Semua berjalan baik-baik saja hingga suatu hari Sitti mendapati bahwa suaminya menikah lagi. Sitti tidak bisa menerima perbuatan suaminya itu, “pilih satu diantara dua: ceraikan istri belakang atau baju dinas lepas dari badan” demikian gugatannya pada si suami. Suami Sitti memilih untuk bersama istri keduanya, lalu Sitti pun melaporkan pernikahan kedua itu pada atasan suaminya dan hilanglah karir militernya.

Pada saat itu Sitti muda dihadapkan pada dua pilihan yang berat: hidup nyaman dan aman dalam tembok asrama militer tetapi dimadu atau berpisah dengan suami dan kembali pada kehidupan miskinnya bersama lima orang anak. Keduanya tentu saja bukan pilihan yang mudah bagi perempuan manapun. Sitti memilih bercerai dari suaminya dengan membawa empat anak bersamanya. Karena tidak mampu menanggung biaya hidup, empat orang anak itu dititipkan pada keluarganya, sementara satu anak yang bungsu diasuh oleh adik suaminya yang saat itu belum bisa mendapatkan keturunan.

Sitti kemudian menikah lagi dengan seorang pegawai dinas lalu lintas dan jalan raya dan memiliki dua orang anak. Baru saja memulai kehidupan baru, suami Sitti meninggal karena sakit. Sitti dipaksa kembali kepada kehidupan lama, menjadi perempuan miskin dengan dua anak balita bersamanya.

Merantau ke Negeri Tetangga

Dirundung duka yang mendalam dan himpitan ekonomi yang mencekik leher, Sitti tergiur untuk merantau ke Nunukan. Seorang calo tenaga kerja mengatakan bahwa penghidupan disana akan lebih baik, maka pergilah Sitti membawa kedua anaknya yang masih kecil-kecil. Sampai di Nunukan Sitti baru diberitahu bahwa dia akan dibawa ke Malaysia sebagai tenaga kerja ilegal,  dan di Nunukan tidak ada pekerjaan yang dijanjikan itu. Setelah menunggu di penampungan selama kurang lebih sepuluh hari, Sitti berangkat ke Malaysia menyeberang ke Pulau Sebatik menuju Tawau. Perjalanan ke Malaysia bagi tenaga kerja ilegal sama sekali tidak menyenangkan, apalagi membawa dua anak yang masih balita. Saat menyeberang ke Sebatik hanya bisa menggunakan  perahu sampan, tanpa cahaya, tanpa suara. “Anak yang masih kecil harus disusui supaya tidak menangis, tidak boleh ada suara apapun saat kita menyebrang, kalau sampai ketahuan kita akan dipulangkan ke Nunukan”, kata Nenek Sitti.

Sesampai di Malaysia, Sitti dan rombongannya sudah ditunggu oleh calon majikan, seorang Malaysia keturunan Cina. Pekerjaan yang diperolehnya adalah membersihkan hutan yang baru dibuka untuk dijadikan kebun kelapa sawit. Sitti yang tidak pernah bekerja kasar sebelumnya, saat itu harus membawa parang ke hutan bersama teman-temannya membersihkan semak belukar di hutan-hutan calon perkebunan. Sehari Sitti dibayar 5 ringgit dan menurut perjanjian, dia harus membayar biaya perjalanan dari Makassar ke Malaysia sebesar 250 ringgit yang dicicil setiap bulan dari gajinya, tetapi Sitti menolak gajinya dipotong.

Di tengah kesibukannya bekerja di kebun kelapa sawit, Sitti masih sempat mengajari kedua anaknya membaca dan menulis sepulang kerja. Kedua anak itu tidak mendapatkan pendidikan apapun selama tinggal di perkebunan. Pada usia yang dianggap sudah cukup besar, mereka mulai diajari bekerja di kebun membersihkan rumput atau memotong-motong ranting.

Nenek Sitti bercerita, pernah suatu saat ia bertengkar dengan teman kerjanya karena pembagian upah yang tidak adil. Sitti dan sepasang suami istri itu bekerjasama untuk meminta jatah satu blok tanah untuk dibersihkan dan uang yang didapatkan akan dibagi tiga. Kedua temannya itu berkali-kali menyuruh Sitti meminta jatah blok pada pengelola kebun dan setiap kali itu pula selalu diberikan. Ketika hari pembagian upah tiba, Sitti merasa dibodohi oleh teman-temannya itu, tetapi Sitti tidak serta merta mengajukan protes. Ia memilih untuk mengumpulkan bukti dengan mencatat setiap pekerjaan yang di lakukannya dalam catatan harian. Ketika kedua temannya berusaha mencuranginya lagi, Sitti membukakan catatan hariannya dan membandingkan dengan catatan yang mereka miliki. Karena kedua temannya tidak mau mengalah, Sitti marah besar dan mengancam akan membunuh salah satu dari mereka. Mereka takut lalu mengadukan Sitti pada pihak pengelola kebun. Manajer kebun lantas menghukum Sitti dengan tidak memperbolehakannya bekerja selama satu bulan.

Tidak bekerja artinya tidak ada uang yang didapat, padahal saat itu persediaan makanan sudah menipis dan ada dua anak di rumah yang harus diberi makan. Ketika makanan benar-benar habis, Sitti selama tiga hari tiga malam tidak makan apapun tetapi malu baginya untuk meminta pada tetangganya. Pada hari ketiga akhirnya ia memutuskan untuk menukar gelas almarhum suaminya dengan beras tetangga. Barulah tetangga-tetangganya mengetahui bahwa Sitti sama sekali tidak punya uang dan makanan, mereka lalu membawakan Sitti beras dan lauk pauk. Mandor di perkebunan lalu meminta pada manajer agar Sitti diperbolehkan bekerja kembali, dan permintaan ini pun dipenuhi.

Keesokan harinya Sitti disuruh masuk ke hutan sendirian, perintah ini tentu saja ditolak oleh Sitti karena dia mengkhawatirkan keselamatan jiwanya. Kemungkinan dipatuk ular atau jatuh melukai diri sendiri dengan parang yang dibawanya adalah hal yang mungkin terjadi jika membuka hutan sendirian. Sitti menolak untuk bekerja dengan duduk di perempatan jalan tempat pemilik perkebunan biasanya lewat untuk berkunjung. Dengan pakaian dinasnya, ia duduk setiap pagi menunggu sampai ada manajer atau pemilik kebun yang lewat, dan suatu ketika pemilik kebun datang dan bertanya kenapa dia tidak bekerja, Sitti menjawab “Masuk ke kebun seorang diri berarti masuk ke lubang buaya, bagaimana kalau saya mati dipatuk ular? Lebih baik Tuan pulangkan saya ke kampung tapi saya tidak mau bayar ongkos saya ke sini. Saya tidak minta dibawa ke sini”. Pemilik kebun lalu memindahkan dia ke bagian pembibitan kelapa sawit dan membebaskannya dari hutang biaya perjalanan Makassar-Malaysia. “Barangkali ini bos saya pikir orang Indonesia keras sekali hatinya” demikian perkiraan Nenek Sitti tentang kebijakan majikannya untuk membebaskan dia dari hutang itu.

Nenek Sitti bekerja sambil membesarkan kedua anaknya hingga lebih dari 10 tahun lamanya di Malaysia. Selama itu sudah tiga kali ia pulang kampung untuk menengok anak-anaknya yang ada di Makassar. Anak tertua Nenek yang dibawa ke Malaysia dinikahkan dengan sesama perantau asal Bugis dan Nenek Sitti mendapat 2 orang cucu sebelum ia kembali ke Makassar bersama semua anggota keluarga untuk selama-lamanya.

Kembali ke Makassar

Kembali ke Makassar bersama seluruh anggota keluarga adalah pilihan yang paling masuk akal bagi Nenek Sitti dan keluarganya. Mereka tidak mungkin menggantungkan seumur hidup mereka di perkebunan, menghabiskan waktu dan tenaga di negeri orang. Nenek Sitti, anak dan cucunya kembali ke Makassar di tahun 1998. Sekembalinya ke Sulawesi, mereka untuk sementara tinggal di kampung keluarga Nenek Sitti di Mamuju tetapi tidak sampai satu tahun mereka memutuskan untuk pindah ke kota Makassar. Tidak banyak yang bisa dikerjakan di kampung, kata Nenek.

Anak tertua Nenek dari suami pertama bercerai dengan suami yang dinikahinya di Malaysia, lalu ia menikah lagi degan seorang tukang ojek. Nenek sangat khawatir dengan nasib cucu perempuannya, Irma, yang tinggal bersama ibu dan ayah tirinya. “Ibunya sudah tua sedangkan ayahnya masih muda, bagaimana kalau ibunya pergi lalu terjadi apa-apa yang tidak kita inginkan”. Selain sering melihat cucunya dipukuli oleh ayah tirinya, Nenek Sitti khawatir jika terjadi pelecehan seksual terhadap Irma, ia lalu memutuskan untuk membawa Irma pergi bersamanya. Irma saat itu sudah tidak melanjutkan sekolah, putus di kelas 5 SD.

Nenek Sitti membawa Irma tinggal di rumah anak dari suami pertamanya. Meskipun tinggal satu atap bersama anak kandungnya, Nenek tidak mengandalkan hidup dari anaknya itu. Ia menghidupi dirinya dengan menjadi tukang cuci pakaian dari rumah ke rumah dan menjadi pembantu rumah tangga selama kurang lebih tiga tahun. Sekitar dua tahun yang lalu Nenek memutuskan untuk pergi dari rumah anaknya dan menyewa sebuah kamar kontrakan, masih di kampung yang sama. Menurutnya, tinggal sendiri lebih bebas karena bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga kapan saja dia mau, selain itu anaknya juga memiliki 6 orang anak dan dia tidak mau menambah beban dalam keluarga itu.

Tinggal di kamar kontrakan tentu saja membuat nenek harus memikirkan pengeluaran untuk membayar sewanya. Dalam hal ini Nenek Sitti mengandalkan kemurahan hati anak-anaknya kalau mereka punya kelebihan uang atau makanan, selain Nenek juga mencuci pakaian beberapa orang. Nenek tidak terdaftar untuk mendapatkan raskin dan BLT karena saat pendataan nenek tidak ada di rumah. Nenek Sitti sudah menghadap Lurah supaya bisa dimasukkan dalam daftar tetapi sampai sekarang belum juga terdaftar. “Saya ini kan pantas mendapat bantuan, saya janda dan sudah tua, tinggal Pak Lurah tunjuk dimana saya bisa urus itu, saya pergi ke sana supaya saya terdaftar” demikian kata Nenek ketika dia menghadap Pak Lurah. Tetapi sampai saat ini permohonannya itu belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Kampung tempat tinggal Nenek Sitti dikenal sebagai tempat penampungan penderita kusta di tahun 90an, tetapi karena letaknya yang strategis, dekat dengan kampus Universitas Hasanuddin, banyak investor lokal membeli tanah di perkampungan itu untuk dijadikan kos-kosan atau warung makan. Penduduk miskin tinggal di dalam gang-gang, mengandalkan hidup dengan menjadi buruh, tukang becak dan tukang cuci. Anak-anak kecil banyak yang mengemis di pertokoan yang hanya berjarak seratus meter dari kampung itu, sementara ibu-ibu mereka menunggu hasilnya di sudut-sudut jalan.

Sekitar tiga tahun yang lalu, sebuah organisasi Islam mendirikan sekolah rakyat bernama Cakrawala di kampung itu. Nenek Sitti memasukkan Irma dan cucu-cucunya yang lain ke sekolah itu. Menurut Nenek, pendidikan itu penting supaya orang tidak canggung dalam bergaul. Prinsip ini sudah dimiliki Nenek Sitti sejak masa remajanya tetapi biaya sekolah yang mahal membuatnya tidak bisa menyekolahkan anak-anak dan cucunya di sekolah umum. “Orang sekolah sekarang ini seperti naik pete-pete (angkot), masuknya gratis tapi di dalam harus bayar, harus beli buku, seragam ini itu, saya tidak sanggup” sesalnya.

Dari kisah Nenek Sitti, ada tiga poin penting berkaitan dengan aktivitas perjuangannya yang biasa dan sehari-hari itu. Dua hal yang pertama bisa dikatakan sebagai ‘framework’ bagi perjuangannya sedangkan yang ketiga adalah keterlibatan pihak luar dalam perjuangan Nenek Sitti. Dua framework tersebut adalah keyakinannya bahwa pendidikan adalah salah satu cara untuk bertahan bagi orang miskin seperti dirinya dan keyakinannya bahwa kebahagiaan adalah pilihan bagi perempuan manapun, miskin atau kaya.  Ketiga poin tersebut akan dibicarakan lebih lanjut di bawah ini.

Belajar berarti Bertahan

Tidak seperti masyarakat desa yang relatif homogen, di kota mereka menjalani kehidupan modern dimana kelas sosialnya beraneka ragam, struktur masyarakatnya lebih jelas dan terinstitusionalisasi. Mereka harus berhadapan dengan prosedur dan peraturan-peraturan tertentu seperti pengalaman Nenek Sitti ketika ia ingin mendapatkan haknya atas raskin dan BLT. Masyarakat miskin kota yang tidak mendapatkan pendidikan yang memadai, akan mengalami kesulitan untuk bernegosiasi pada level birokrasi semacam ini.

Sayangnya, kebijakan sistem pendidikan kita saat ini masih mengeksklusi orang-orang miskin melalui prosedur dan peraturan-peraturan yang dibuat, misalnya untuk mendaftar di sekolah harus memiliki Kartu Keluarga dan Akte Kelahiran, juga harus mengenakan seragam tertentu dan memiliki buku pegangan tertentu. Peraturan-peraturan semacam inilah yang mengekslusi kaum miskin kota dari kesempatan mendapatkan pendidikan karena sebagian besar dari mereka tidak terdokumentasi dengan baik dan tidak mampu secara finansial untuk membeli keperluan sekolah, sedangkan sekolah alternatif seperti Sekolah Cakrawala tidak selalu ada di kantong-kantong kemiskinan di kota.

Dalam struktur yang demikian, Nenek Sitti tetap percaya bahwa salah satu cara bertahan hidup di kota adalah dengan mendapatkan pendidikan dan akses terhadap pengetahuan sebesar-besarnya. Anggapan ini diperoleh dari pengalaman hidup Nenek Sitti yang pernah mengenyam pendidikan dengan cukup baik di jamannya, bahkan sempat belajar keterampilan mengetik. Berulangkali Nenek bercerita bagaimana orang miskin sepertinya bisa sekolah di jaman dulu karena sekolah tidak perlu mengeluarkan banyak uang, tidak perlu membeli buku dan tidak berseragam.

‘Framework’ ini diimplementasikan dengan baik oleh Nenek bahkan ketika ia masih bekerja sebagai buruh di kebun kelapa sawit di Malaysia. Di sela-sela waktu kerjanya dan beratnya hidup menjanda dengan dua anak, ia masih sempat mengajari anak-anaknya membaca dan menulis. “Disana kan tidak ada sekolah, jadi kalau anak sudah agak besar ya diajari bekerja di kebun. Tapi saya juga sempat ajari anak saya membaca dan menulis. Ibunya Irma ini bisa membaca meskipun tulisannya tidak terlalu baik” cerita Nenek Sitti.

Pendidikan juga diyakini Nenek sebagai upaya orang miskin untuk bisa berkomunikasi dengan ‘dunia luar’ yaitu masyarakat kelas menengah ke atas, karena pendidikan membuat orang tidak minder dan memupuk rasa percaya diri. Ketika hidup di  perantauan kepercayaan diri  ini juga menjadi senjata Nenek yang paling utama, hal ini dapat dilihat bagaimana ia berani melawan kecurangan yang dilakukan temannya dan bagaimana ia  mampu bernegosiasi dengan manajer kebun sementara teman kerjanya tidak berani melakukannya.

Keyakinan inilah yang kemudian diturunkan kepada anak dan cucunya. Irma dan adik tirinya dibawa Nenek supaya bisa bersekolah di sekolah gratis dekat rumah Nenek. “Biar dia hanya sekolah terbuka seperti itu (yang jadwalnya tidak tetap dan hanya masuk seminggu tiga kali) tapi yang penting dia bergaul dengan ibu-ibu di Cakrawala, supaya dia tidak canggung” kata Nenek.

Berkat dukungan dan motivasi dari Nenek, Irma menjadi anak yang paling lama dan konsisten bersekolah di Sekolah rakyat Cakrawala, di sana dia mengikuti kelas pengayaan yang diadakan bagi mereka yang putus sekolah. Ada sembilan orang anak perempuan di kelas itu, mereka mempelajari lagi pelajaran yang sudah mereka dapatkan di SD dan pada malam-malam tertentu mereka mengaji bersama. “Kalau perlu biar dia sampai tua sekolah, kalau sudah menikah kalau bisa sekolah ya sekolah terus” kata Nenek.

Namun demikian, kedua orang dari generasi yang berbeda ini memiliki pandangan yang berbeda tentang pendidikan yang diperoleh dari sekolah rakyat itu. Nenek dengan segala pengalamannya meletakkan kebutuhan untuk sekolah sebagai kebutuhan untuk bertahan karena sekolah diyakininya membantu orang dalam pergaulan, sementara sang cucu yang masih belia memiliki cita-cita dan harapan yang tinggi: menjadi guru matematika.

Ketika Sekolah Cakrawala membuka kelompok bermain, Nenek membawa adik tiri Irma untuk tinggal bersamanya supaya bisa bersekolah di sekolah rakyat yang gratis itu. Saat ini Irma dipercaya oleh guru-guru di sekolah itu untuk membantu Kelompok Bermain di pagi hari. Ia juga berencana untuk mengikuti ujian persamaan tingkat SD dalam beberapa bulan ke depan.

 

 

 

Menjadi Perempuan Miskin dan Bahagia

Salah satu gagasan menarik yang diartikulasikan Nenek Sitti dalam beberapa kali pertemuan adalah pilihannya untuk menjadi bahagia meskipun pilihan itu membuatnya menjadi bagian dari kelompok marginal. Kebahagiaan ini adalah hasil dari perjuangannya untuk memerdekakan diri dari segala jenis hegemoni, dan keberhasilannya dalam membuat pilihan-pilihan hidup yang dianggap tepat.

“Dari dulu saya tidak pernah merasakan menjadi orang kaya, hidup saya selalu begini-begini” kata Nenek Sitti di suatu kesempatan. Kehidupannya mulai membaik ketika ia berumah tangga dengan seorang tentara di tahun 50an, tetapi kenikmatan hidup ternyata tidak menjadi kebahagiaan bagi Sitti muda karena suaminya berpoligami.  “Lebih baik saya bercerai daripada saya tidak bahagia” katanya.

Kebahagiaan dan harga diri ternyata tidak membuatnya takut akan kemiskinan. Bahkan setelah bercerai, Sitti terus menerus meminta hak pengasuhan atas kelima anaknya yang saat itu diberikan pada mantan suaminya. “Semua anak-anak diambil Bapaknya, tapi terus saya ganggui, saya datang kasih makanan. Saya tidak punya apa-apa waktu itu tapi biar baju di badan saya jual, akan saya berikan untuk anak-anak saya”. Kegigihannya memperjuangkan hak asuh membuahkan hasil, setelah resmi dipecat dari dinas militer, anak-anak Sitti dijinkan dibawa ibunya.  Meskipun pada akhirnya keempat orang anak yang berhasil dibawa Sitti diasuh oleh familinya, Sitti merasa puas dan bahagia, sebagai seorang Ibu memiliki kemampuan untuk menentukan apa yang terbaik bagi anak-anaknya.

Demikian pula ketika Nenek membawa Irma pergi dari rumah orangtuanya karena ingin menghentikan kekerasan yang dilakukan oleh ayah Irma. Meskipun tindakan itu akan memperberat beban Nenek yang sudah tua, Nenek melakukannya dengan senang hati demi keselamatan dan kebahagiaan cucu perempuannya. Tidak hanya itu, adik tiri Irma yang laki-laki juga diambil Nenek dari orangtuanya agar bisa disekolahkan di sekolah rakyat.

Saat ditanya mengapa dia tidak menikah lagi, Nenek  Sitti menjawab “ Biarlah saya begini, saya janda orang kasihan sama saya.” Hidup menjanda ternyata juga sebagai sebuah strategi Nenek Sitti bertahan dalam kemiskinannya, dan strategi ini cukup berhasil karena image sebagai janda miskin ternyata membuat Nenek Sitti mendapat simpati dari banyak  orang termasuk anak-anaknya, meskipun  kehidupan mereka juga tidak jauh lebih baik darinya “Kalau mereka dapat pembagian beras biasanya juga kasih saya sedikit, kadang kalau ada uang mereka kasih saya untuk bayar sewa kamar”.

Nenek Sitti tentunya tidak pernah membaca teori Nussbaum tentang  capability approach tetapi prinsip hidupnya yang mendambakan kebahagian dan kesehatan emosi adalah implementasi dari  beberapa konsep filosofis Nussbaum.  “Kalau ada laki (suami) paling kita susah bagaimana membagi uang supaya cukup untuk sehari-hari. Tapi kalau seperti saya, saya juga harus berpikir darimana saya dapat uang. Tapi hatiku senang hidup begini. Kalau pikiran banyak, keluar jalan-jalan, duduk-duduk di sekolah . Untungnya saya ini suka cerita dan tukar pikiran, jadi saya tidak stress”.

 Arti Intervensi bagi Perempuan Miskin

Asef Bayat menjelaskan dalam makalahnya Un-Civil Society: Politics of  the “Informal People” bahwa kaum miskin kota ada kalanya akan turut serta dalam sebuah aktivitas politis seperti demonstrasi di jalanan ketika metode ini dirasa perlu untuk dilakukan serta ketika mereka dimobilisasi oleh orang-orang dari luar kelompoknya. Hal ini disebabkan karena kurangnya kekuatan institusional kelompok masyarakat ini sehingga mereka lebih memilih untuk melakukan aktivitas yang sifatnya individual dan terpisah-pisah yang  jangkauannya pendek atau sesaat (Bayat 1997)

Bentuk-bentuk intervensi dari luar komunitas miskin kota seperti yang disebut Bayat dengan “mobilisasi dari luar kelompoknya” bisa bermacam-macam, yang cukup populer adalah pendidikan, baik itu berupa sekolah rakyat atau sekolah terbuka, pelatihan keterampilan hingga pendidikan politik yang bertujuan memberdayakan kaum miskin agar mampu melakukan klaim dan menegosiasikan hak-hak mereka. Bentuk intervensi lain yang bisa muncul adalah memobilisasi masyarakat miskin kota di musim-musim pemilihan umum baik lokal maupun nasional untuk tujuan politik tertentu. Di kampung Nenek Sitti misalnya pada pemilu yang lalu, banyak pemuda dan orang tua yang dimobilisasi menjadi peserta kampanye beberapa partai politik.

Keberadaan Sekolah Rakyat Cakrawala adalah salah satu contoh dari sekian banyak intervensi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat terpelajar yang memiliki kepedulian terhadap komunitas miskin kota di Makassar. Kampung Nenek Sitti sebenarnya bukan perkampungan miskin yang terisolir, pembauran antara penduduk lokal dan pendatang terlihat dari interaksi di sektor ekonomi yang terjadi di kampung tersebut. Mahasiswa yang kos di daerah itu biasanya memanfaatkan jasa dari perempuan-perempuan miskin seperti Nenek Sitti  untuk mencucikan pakaian mereka. Sayangnya interaksi ini tidak disertai dengan aktivitas yang bisa dikategorikan sebagai ‘intervensi’ yang bermaksud mengubah kondisi mereka. Inilah salah satu alasan mengapa Sekolah Rakyat Cakrawala didirikan di tempat tersebut tiga tahun yang lalu.

Sekolah Rakyat ini membidik anak-anak putus sekolah dan pra sekolah sebagai sasaran program mereka. Selain bertujuan untuk pendidikan, sekolah ini juga bertujuan untuk meminimalisasi eksploitasi anak-anak yang dilakukan oleh orangtuanya dengan menyuruh mereka mengemis di pertokoan dan rumah-rumah makan. Seiring dengan berjalannya waktu, terdapat kelekatan antara warga miskin dengan sekolah rakyat ini sehingga dimulai juga program pendidikan untuk orang dewasa. Beberapa Ibu dari murid-murid Cakrawala menjadi peserta dalam kelas membaca dan menulis seminggu tiga kali.

“Intervensi” Sekolah Rakyat dalam kasus Nenek Sitti tidak saja memberikan pengetahuan tetapi menyambung harapan bagi perjuangannya dalam mendidik cucu-cucu yang diasuhnya. “Biarlah mereka sekolah disana sampai dia besar. Nanti Ibu guru yang akan bantu carikan jalan hidupnya anak-anak ini”, katanya.

Dengan adanya sekolah gratis ini, idealisme Nenek terpelihara dengan baik, dia tidak terpengaruh tetangga-tetangganya yang menyuruh anak-anak kecil mereka mengemis. Baginya aktivitas anak-anak cukup berkisar antara rumah dan sekolah (yang letaknya berhadap-hadapan). Kata Nenek, “Saya tidak ijinkan mereka keluar-keluar seperti itu, malu, dan bagaimana kalau ditangkap polisi? Yang penting sekarang anak-anak sekolah, biar di rumah makan nasi dengan garam saja tidak apa-apa”. Kekhawatiran Nenek adalah kalau dia meninggal dalam waktu dekat, maka cucu-cucunya akan dibawa lagi oleh orangtua mereka dan itu artinya berhenti dari sekolah rakyat itu.

Refleksi

Nenek Sitti hanya salah satu dari banyak perempuan miskin kota yang setiap harinya memperjuangkan diri sendiri dan keluarga mereka untuk mendapatkan kehidupan yang layak dan bermartabat. Perjuangan mereka yang banal dan sehari-hari ini seringkali luput dari perhatian para pengamat gerakan sosial, karena sifat-sifatnya yang tidak sesuai dengan definisi gerakan sosial pada umumnya. Padahal jika dilihat secara keseluruhan, aktivitas perempuan-perempuan seperti Nenek Sitti adalah sebuah upaya membuka ruang untuk menegosiasikan kepentingan mereka sebagai perempuan, untuk membuat dirinya didengar, dilihat dan dirasakan, dan aktivitas ini berlangsung terus menerus seumur hidup mereka.

Barangkali kita perlu memaknai kembali apa arti sebuah gerakan sosial bagi masyarakat miskin dan apa arti menjadi aktivis perempuan bagi mereka.

***

Reni Susanti

Dosen Politeknik Negeri Ujung Pandang

 

Daftar Pustaka

Bayat Asef, A Women’s Non-Movement: what It Means to Be a Woman Activist in an Islamic State, Comparative Studies of South Asia, Africa and the Middle East Vol 27 No.1, 2007, Duke University Press, 2007 pp 160-161

Bayat Asef, Un-Civil society: The Politics of the ‘Informal People”, Third World Quarterly, vol 18, No. 1 (Mar 1997), Taylor & Francis Ltd, 1997 pp 55-59

Interview dengan Nenek Sitti dan Irma tanggal 25 Juli, 28 Juli dan 2 Agustus 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Beranda  |  Kategory: Edisi 19 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia