Syair Cinta Untuk Syahid

10 - Oct - 2008 | Teuku Kemal Fasya | No Comments »

Melihat peran perempuan dalam sejarah sosial Aceh, tidak hanya pada banyaknya pemimpin perempuan (sultanah) yang pernah berkuasa di sana. Lebih dari itu, syair Nyawoung, jelas menunjukkan jejak narasi siasat kultural perempuan Aceh atas penindasan (perang, bencana) yang terjadi.   

Allah hai do do da idi
Boh gadong bie boh kaye uteun
Rayeuk si nyak hana peu ma bri
Aib ngon keji ureung donya keun

Allah hai do do a idang
Seulayang blang ka putoh taloe
Berijang rayeuk muda seudang
Tajak banthu prang ta bela nanggroe

Wahei aneuk bek ta duek le
Bedoh sare ta bela bangsa
Bek ta takot keu darah ile
Adak pi mate ka rela

Jak lon tateh meujak lon tateh
Bedoh hai aneuk tajak u Aceh
Meube bak oun ka meube timphan
Meube badan bak sinyak Aceh

Syair yang telah digubah kembali oleh Nurdin Daud album Nyawoung sebenarnya bukan lagu baru. Ia adalah lagu folklore Aceh. Syair dan nadanya cukup populer bagi masyarakat, terutama di pedesaan. Lagu ini menjadi senandung yang menenangkan sang kekasih hati ketika dinina-bobokan oleh sang ibunda. Sebagai lagu rakyat, tidak diketahui siapa yang pertama kali menciptakannya. Lagu ini telah menjelma menjadi pengetahuan lokal dan juga identitas politik Aceh yang telah tewarisi sejak masa kolonial, masa yang penuh pergolakan melawan kaphee (kompeni).

Ini bukan lagu biasa. Di dalamnya mengandung doa dan harapan sang bunda. Setiap anak yang hadir adalah harta paling berharga bagi orang tua. Dalam tradisi Aceh, nyanyian yang ditampilkan menjelaskan misi bagi sang anak jika besar kelak.

Sebagai bagian dari masyarakat Aceh yang masih memiliki kenangan tradisional, saya memahami mengapa syair ini dipilih, bukan lagu Rock n Roll atau instrumentalia Kitaro. Do Da Idi menjadi ikatan komunikasi awal seorang ibu kepada anaknya. Nyanyian ini memang dilantunkan oleh sang ibu ketika mengayun anaknya hingga tertidur. Saat itu sang anak belum memiliki kapasitas baku terhadap bahasa (langue). Kata Do Da Idi sendiri sebenarnya tidak memiliki arti khusus. Seperti ujaran abstrak yang bersifat subjektif (pseudic-parole), setiap kali disampaikan ia mengemban pesan baru. Dalam tradisi pengajaran komunikasi anak, dikenal pola mencampur bahasa (dalam pengertian gramatikal wicara dan grafi) dengan tanda (dalam logika Barthesian, disebut distinctive unit (seperti bunyi a-a’ untuk kotor yang tak boleh didekati oleh anak, uuu  ungkapan melarang dengan maksud memberikan horor, m-m’ untuk melarang, hai-yaa untuk membuat balita tertawa, dsb).

Peran Perempuan Pendendang

Jika Anda termasuk yang pernah mendengar lagu Do Da Idi versi Nyawoung yang dilantunkan Cut Aja Rizka, tentu mengerti kedalaman yang seret-seret dalam nadanya, meskipun Anda tak begitu mengerti detail-detail maknanya. Suara lirih dengan tempo slow itu seperti mengingatkan pada situasi perang yang dialami Aceh. Memang album ini diliris di masa yang penuh haro-hara, di tahun 2000, atau di masa ketika gejolak konflik belum lagi pulih.

Tahun itu dikenal sebagai tahun duka bagi masyarakat Aceh. Beragam konflik yang terjadi seperti penyiksaan di Arakundo, penghadangan demonstrasi sipil oleh aparat TNI dengan peluru tajam di simpang KKA, pembantaian Tgk. Bantaqiyah dan santrinya, dan berpuncak pada kekerasan massal terhadap masyarakat yang akan menghadiri ulang tahun referendum, 8 November 2000, menjadi ‘energi pemberontakan’ bagi masyarakat Aceh. Lagu-lagu dalam album Nyawoung seperti memberikan sengatan lebih atas energi tersebut.

Kisah perih pasca pencabutan DOM Agustus 1998 masih ditambah dengan kekerasan yang sambung-menyambung karena militerisme menjadi kesempatan bagi (sastra) untuk mengurai luka masyarakatnya. Kata-kata dalam syair menjadi penyembuh bagi sakit dan menambah asa. Bahwa tindakan kekerasan yang terjadi di Aceh menjadi semakin sakit karena pemberitaan di media seperti tidak memihak masyarakat korban. Berita, terutama di tingkat nasional penuh distorsi karena hanya mendengarkan pernyataan panglima Kodam dan pihak militer, tanpa ada kesempatan pers menjamah fakta. Pemberlakuan konsep embedded journalism melalui Keppres 43/2003 yang melarang pers untuk melakukan peliputan perang tanpa izin dari militer, menambah perih situasi luka di Aceh.

Ketika berita tidak membela dan ada syair dan musik yang menjadi instrumen pencerita, masyarakat merasa inilah media narasi lain yang bisa dinegosiasikan. Tak heran jika album Nyawoung laku keras karena ia menemukan momentumnya di tengah rasa penat setelah lama bungkam. Mungkin dapat dibandingkan dengan munculnya album Bento dan Pak Tua di masa kekuasaan Soeharto. Nada-nada dalam Nyawoung seperti udara yang melepaskan sesak. Hampir dalam setiap kesempatan lagu ini mengumandang dalam ruang publik: di dalam bis, di kampus, di radio, atau di kamar kos mahasiswa.

Dari segi pengolahan artistik Nyawoung juga tidak dikerjakan asal jadi. Estetika musik terjaga karena gelombang ritmis yang tak membosankan. Nyawoung menjadi pioner bagi pemunculan musik etnik dengan gaya baru. Karakter musik mengapropiasi irama tarian tradisional Aceh seperti Saman dan Seudati. Kelompok musik ini akhirnya juga menamakan dirinya sesuai nama album pertamanya. Berturut-turut baru muncul Rafli dengan kelompok Kande dengan lagu Hasan-Huseni yang sangat terkenal di masa tsunami, Linto dengan sentuhan gitar Momo yang sangat jazzy dan soul, Saleum yang mengingatkan tradisi Dalae Khairat (barzanji) dan Cupa.

Sebelum Nyawoung nasib musik etnik Aceh memang berada dalam  kabin vakum. Lagu-lagu daerah hanya saduran lagu dangdut atau India yang populer. Penggunaan serune kalee (suling Aceh yang mendesing seperti suling India) dan rapa’i (rebana besar) menambah kesan etnik yang telah lama hilang dari seni musik Aceh. Meskipun demikian pengaruh alat musik modern (gitar, bas, keyboard) tidak terabaikan. Memang pengaruh Asia Selatan (Gujarat, Srilangka, dan Benggali) serta Afrika Timur (Mali dan Senegal) dalam musik dan seni suara Aceh begitu rapat. Dapat dikatakan, hadirnya Nyawoung menjadi momentum kebangkitan kembali musik etnik di Seuramo Mekkah dengan berbagai macam sejarah bunyinya.

Kembali ke lagu Do Da Idi, bentuk syair yang terucap memakai format pantun. Dengan rima A-B A-B, lagu ini mengambarkan bagaimana pengaruh pantun dalam pengetahuan naratif masyarakat tidak lekang. Kecuali untuk syair terakhir, yang berpola A-A B-A, seluruh syair memakai pola klasik prosa Melayu. Media deseminasi pengetahuan dengan berpantun adalah ciri yang cukup unik dalam sejarah bahasa Melayu, telah berkembang sejak abad 15, dan menemukan kejayaannya di masa Hamzah Fansury. Fansury sendiri tidak hanya dikenal sebagai pengembang tasawuf wahdatul wujud di Aceh, tetapi juga seorang filsuf linguis Melayu yang cukup tangguh. Dalam sebuah kesempatan penulis berbincang dengan Sitor Situmorang, ia mengatakan bahwa “qur’an”-nya (maksudnya rujukannya) dalam berbahasa dan bersastra adalah syair-syair Perahu Hamzah Fansury. Sayang, ketokohannya di dalam sejarah pengetahuan dan sosial masyarakat Aceh melemah dan terganggu oleh politisasi Syariah yang dilakukan oleh ulama-ulama konservatif.

Allah hai do do da idi
Boh gadong bie boh kaye uteun
Rayeuk si nyak hana peu ma bri
Aib ngon keji ureung donya keun

(Allah hai do do da idi

Mendapat buah gadung, buah-buahan dari dalam hutan

Besar buah hati, tak tahu apa yang akan ibu berikan

Aib dan keji, kata orang yang hidup di dunia)

Syair ini memang memiliki ruhnya ketika dipahami dalam bahasa asli. Translasi terkadang hanya mampu memberikan makna, tetapi membunuh leksikan bahasa dan keluar dari pusat kesusastraannya.  Dalam pengertian Jacques Lacan (1995) disebutkan bahwa penerjemahan, meskipun berasal dari bahasa asli (karena ada juga terjemah atas terjemah) tetap tidak mampu mengikutkan emosi dan psikologi bahasa asli ke dalam bahasa bawaan. Banyak terma dan ekspresi yang ada dalam bahasa asli tidak lagi menjadi ‘wacana’ dalam edisi bahasa terjemahan. Terjemahan hanya berminat kepada pemahaman (understanding) dan bukan pada rasa manis bahasa (literalisme).

Namun yang ingin saya sampaikan, syair ini menjadi semangat doa dari seorang ibu di Aceh yang penuh keluh kesah terhadap masa depan anaknya yang lahir di masa yang sulit. Syair di atas menyediakan ‘setting sosial’ perang Aceh, ketika seorang ibu tidak tahu harus membuat perhitungan apa lagi di tengah dunia yang tak mendukung kebahagiannya, karena memang perang sedang berkecamuk. Kesedihan makin bertimpa ketika ditinggal suami bergerilya atau tewas di pertempuran.

Ada hal yang perlu diingat khusus terkait dengan struktur kebudayaan perempuan Aceh. Meskipun secara umum kesimpulan menyebutkan bahwa ada inferioritas perempuan, terutama pengaruh teologi maskulin dalam sejarah manusia, namun dalam konteks Aceh hal tersebut tidak begitu tepat. Belajar dari konsep bertutur terhadap anak, perempuan (ibu) lebih berperan dibandingkan laki-laki (ayah). Dalam sejarah patriarkal yang kental pun, peran ibu lebih superior dibandingkan ayah ketika berkomunikasi kepada anak. Mungkin ini bukan kesimpulan yang khas di Aceh, karena sebenarnya dalam tradisi Islam peran perempuan tidaklah inferior. Mungkin pengaruh ini lebih cocok dalam tradisi Kristen kuno dimana perempuan memang inferior dan dianggap sebagai proses setan (axis of devil).

Pesan agama banyak sekali mengulas, termasuk dengan metafor, atas peran signifikan ibu dibandingkan ayah. Dalam hadis populer disebutkan tentang bahwa hal itu bukan hanya peran perempuan dalam kodratnya sebagai ibu, tetapi perempuan sebagai gender. Sebuah hadis sahih menyebutkan perempuan adalah tiang negara. Jika perempuan baik maka selamatlah negara, dan jika sebaliknya maka celakalah sebuah negara.

Dalam konteks Do da Idi, saya juga melihat ada struktur dominasi laki-laki dalam membentuk kebudayaan patriarkal yang menindas tidak begitu tepat disematkan dalam konteks masyarakat Aceh (tradisional). Mungkin ada pengalaman traumatis yang unik dalam kebudayaan lain di nusantara terkait relasi laki-laki dan perempuan, tapi tidak cukup tepat digeneralisasi pada konteks Aceh. Sejarah kerajaan di Aceh juga telah mencatat bahwa perempuan juga peran penting dalam politik, bahkan sempat muncul beberapa sultanah di Kerajaan Pasee dan Aceh Darussalam. Lirik Do Da Idi ini menjadi jendela sosio-antropologis tentang konteks relasi gender di Aceh dan menerangkan bahwa perempuan juga memiliki otonomi khusus yang tidak bisa disubstitusi oleh laki-laki.

Pertautan Dengan Hikayat Perang Sabil (HPS)

Coba perhatikan secara sungguh-sungguh, lagu Do Da Idi tak lain sebuah pesan perang! Aceh damai memang lebih panjang umurnya dibandingkan dengan masa perang, jika dirunut sejak kerajaan Peureulak (840 M – ?), Kerajaan Pasee (1272 – 1450 M) dan berlanjut dalam nahkoda kekuasaan Aceh Darussalam (1516 – 1700). Namun sejak Februari 1873, Gubernur Jenderal James Loudon mengirimkan 3000 pasukannya dengan sebuah ultimatum menerima pasukan Eropa Barat itu ke Aceh sebagai sebuah kedaulatan baru atau menerima perang. Perang pun lebih sering berkecamuk dan membangun peradaban Aceh. Hal ini menjadi titik penting perubahan kebudayaan Aceh yang dar es-salam (tanah damai dan tenteram) menjadi dar el-harb (tanah perang dan kekacauan).  Kebudayaan perang adalah kekerasan dan tanpa toleransi agar tetap bisa bertahan hidup dan berkembang. Maka kemudian konsep perang dalam risalah Aceh lebih sering muncul dan membentuk cognitans masyarakat (Reid, 2006:97).

Islam memang memiliki konsep perjuangan yang khas, yaitu jihad (holy war). Konsep ini menunjukkan perjuangan yang dilakukan bukan merupakan brutalisme tanpa motif yang jelas. Seperti telah dipahami dalam banyak literatur fikih, jihad adalah sebuah upaya terakhir yang boleh diambil oleh umat Islam apabila semua kesempatan bernegosiasi telah runtuh. Jihad berarti melawan kafir, kelompok yang dianggap memiliki motif merusak agama Allah. Pilihan jihad bukan pilihan konyol karena akan diganjar surga, dan kematian saat berjihad dihitung sebagai syahid (martyrdom).

Menurut John L. Esposito, pakar tentang Islam politik, konsep tentang jihad yang berarti melakukan organisasi kekerasan bukan tafsir mutlak. Tidak seluruh gerakan dan organisasi Islam setuju menggunakan proses destabilisasi kekuasaan dengan pola kekerasaan atau cara menghasut demi merebut kekuasaan. Sebagian dari kekerasan dan terorisme  memang kerap dilakukan oleh organisasi keagamaan, tapi tidak identik dengan gerakan Islam. Partai Tuhan,  perang suci (Holy War), Bala Tuhan (Army of God), dan keselamatan dari neraka (Salvation from Hell) adalah sebagian hasrat yang tidak rasional dan fanatisme keagamaan dalam Kristen yang juga digunakan dengan maksud mempengaruhi dan melakukan teror untuk menyatakan kebenaran keyakinannya (Esposito,1997: 3).

Meskipun banyak tafsir terhadap jihad dan praktiknya di seluruh dunia Islam, seperti dikatakan Esposito, di Aceh pemahaman jihad digunakan tetap dipakai secara tradisional dengan maksud berperang. Namun uniknya lagu ini masih didendangkan di era pasca kolonial. Jika di masa kolonial alasannya tentu dimengerti, tapi kini, di saat damai?

Lagu Do Da Idi masih dilantunkan. Paling tidak di situasi sebelum perdamaian di Aceh tersepakati. Kini beberapa bagian syair telah digubah, disesuaikan dengan konteks. Namun dalam versi album Nyawoung, kata-kata yang menunjukkan pentingnya berperang membela nanggroe masih jelas. Belum ada album Nyawoung baru yang menceritakan masa damai. Mungkin masa pahit memang lebih menarik sebagai syair dibandingkan masa damai. Karena masa pahit biasanya penuh ironi, sedang masa damai terlanjur penuh puja-puji dan propaganda.

Allah hai do do a idang
Seulayang blang ka putoh taloe
Berijang rayeuk muda seudang
Tajak banthu prang ta bela nanggroe

(Allah hai do do a idang

Ikatan sawah telah putus tali

Lekaslah besar dan matang

Kita berperang membela nanggroe).

Di syair ketiga, nuansa perang sabil (prang sabi) memuncak. Seperti diketahui bahwa di Aceh konsep perang sabil telah cukup populer dan dipakai untuk meningkatkan impulsif melawan musuh tanpa memedulikan nyawa sendiri. Dalam kamus Inggris, kata amook yang digunakan sebenarnya berangkat dari bahasa Melayu yang mengambarkan konteks sejarah bahasa terkait perilaku pasukan Aceh yang tiba-tiba menikam Belanda saat melakukan patroli.

Dalam hal ini sebenarnya penghadiran lagu Do Da Idi dalam album Nyawoung juga terkait dengan momen gerakan mahasiswa Aceh yang mulai bertumpuh pasca kejatuhan pemerintahan Soeharto. Terbongkarnya banyak kuburan massal ladang pembantaian menjadi merica yang makin memanaskan hati masyarakat. Saat itu mahasiswa melakukan aksi senang menyenandungkan lagu Hikayat Prang Sabi (HPS). Lagu ini telah seperti lagu wajib. Saya sendiri telah mendengar lagu HPS ini disenandungkan ketika menghadiri kongres mahasiswa dan pemuda Aceh yang dilaksanakan di Ciburial, Bandung, 23 Juli 1999.

Saat itu terasa lagu ini begitu menggetarkan, dan mengajak semangat untuk tidak takut berperang membela Aceh dengan keringat dan darah. Di hari itu pula, ribuan kilometer dari Bandung, tepatnya di Beutong Ateuh, Jeuram, terjadi pembantaian terhadap Tgk. Bantaqiyah dan santrinya. Pembantaian itu baru tertangkap media dua hari setelahnya, Ulama salaf kharismatik itu dituduh menyimpan senjata di pesantrennya –sesuatu yang hanya agenda intelejen untuk menjustifikasi pembantaian itu. Sebab kemudian tim pencari fakta tidak menemukan senjata itu.

Lagu Do Da Idi  yang sebenarnya lagu rakyat memiliki sejarah pesan yang sama dengan HPS. Meskipun sejarah HPS lebih jelas dibandingkan dengan Do Da Idi, namun saya tak mengerti apa yang menyebabkan mahasiswa dan masyarakat Aceh di masa pasca konflik melantunkan lagu ini, seperti ritual bershalawat di masyarakat Aceh.  Hampir di setiap tenda pengungsi, aksi demonstrasi, pawai, acara pertemuan mahasiswa mesti dimulai dengan menyanyikan lagu ini.

Lagu ini mengingatkan pada lagu Aceh pada umumnya dengan memakai nada-nada rendah dan notasi yang sederhana. Iramanya mengulang dari setiap bait yang dinyanyikan. Yang membuat getar adalah syairnya.

Seperti terungkap dari namanya, syair ini berisi ungkapan puitik yang mengobarkan semangat untuk berperang. Di masa lalu, penggunaan sajak atau pantun tidak dapat dilepaskan dari pola narasi tutur dan tulis yang bermuara dari Bahasa Melayu, yang juga dikenal dengan nama hikayat atau prosa yang berpantun. Perkembangan Bahasa Melayu yang berasal dari Malaka berkembang secara terus menerus sejak abad kedelapan masehi dan menjadi bahasa komunikasi “resmi” (lingua franca) bagi penduduk di semenanjung Melayu, Sumatera, dan Sulawesi. Di akhir abad kedelapanbelas pengaruhnya mulai kuat di Pulau Jawa (Hilmar Farid dalam Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim, 1996 : 107-8).

Menurut Anthony Reid, sejarawan asing yang banyak melakukan penelitian tentang Aceh, dari sejarahnya HPS tidaklah satu versi. Setelah manifesto perang dikeluarkan Belanda kepada Kerajaan Aceh, 26 maret 1873, kondisi peperangan mulai berkecamuk di Aceh. Sebelum tahun-tahun itu, kondisi Aceh masih dalam taraf normal, karena Belanda mampu membangun hubungan perniagaan  secara damai dengan kerajaan Aceh. Namun karena alasan monopoli dan sikap besar hati Raja Aceh yang tidak lagi memprioritaskan perdagangannya ke Belanda serta peraturan cukai yang dibuat oleh para uleebalang yang berada di hampir setiap bandar menyebabkan  gesekan yang berujung kepada peperangan (Reid, 1987 : 28).

Dalam sebuah catatan dikatakan dokumen tentang HPS yang tertua dijumpai diperpustakaan Leiden, ditulis 11 Sya’ban 1122 H atau 5 Oktober 1710, tulisan tangan dalam bahasa Aceh. Dari hasil penelitian Prof. T. Ibrahim Alfian, dokumen itu tak tertera nama pengarangnya, hanya penggubahnya menyebutkan bahwa syair itu berasal dari kitab Ringkasan yang Menggerakkan Cinta yang Menyiksa Hati atau Mukhtasar Muthiri al-Gharam (Reid, 1987: 111). Meskipun demikian kitab ini tak dapat dikatakan sebagai kitab khusus yang berbicara tentang jihad dan perang, karena dari penanggalan tahunnya dapat diketahui bahwa masa itu perang belum lagi berwujud di Aceh. Reid menambahkan, Aceh memiliki sejarah perniagaan dengan bangsa-bangsa Eropa yang harmonis seperti Inggris, Portugis, dan terakhir Belanda.

Perang adalah motif sesungguhnya dari gubahan syair yang dibuat sekitar 1880-an, ketika kondisi moral pasukan di Aceh mulai mengendur. Dapat dipahami, bahwa hikayat atau pantun menjadi sentral hiburan rakyat Aceh saat itu yang juga bernilai pendidikan. Masyarakat Aceh mengalami “proses penyadaran kembali” untuk giat berperang di jalan Allah dan syahid sebagai tamu Tuhan di surga. Ada aspek libidinal juga yang disusupkan oleh sang pembuat syair apalagi kalau bukan tentang cerita para bidadari yang cantik, sesuatu yang belum tentu didapat seumur hidup di dunia. Saya teringat perbincangan dengan Prof. Teuku Jacob tentang HPS ini. menurut pakar paleontologi yang baru saja wafat, 17 Oktober lalu, mengungkapkan ada dimensi seksualitas yang menyusup dalam relung kesadaran masyarakat Aceh ketika saat itu memilih untuk mati di medan perang melawan kaphee kulit putih. Ditelusuri lebih dalam, ada kepentingan ekonomi berperan di sini, namun dibungkus dengan syair yang bernuansa religius.

Beberapa ulama yang terkenal dengan gubahan HPS-nya adalah Tgk. Chik di Tiro atau yang bernama asli Tgk. Mohamad Saman dan Tgk. Chik Kuta Karang. Peran mereka sangat besar dalam “menginsafkan” ulama dan uleebalang yang belum mau bergerak melawan Belanda dan memobilisasi rakyat melakukan peperangan. Ketika ia menggantikan pamannya yang meninggal pada 1888 sebagai Tgk. Chik di Tiro, ia mulai mengisi hari-harinya dengan berkhutbah, dan mengirimi seluruh surat kepada seluruh ulama dan uleebalang Aceh agar menyatukan langkah sebagai umat Islam melawan penjajah kulit putih. Tak lupa di setiap awal surat ia mengutip ayat Qur’an Ali Imran 104, yang berbicara tentang menyerukan kepada yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar. Di antara perbuatan ma’ruf adalah melakukan peperangan melawan kafir dan bentuk meninggalkan yang munkar yaitu menjauhi rasa malas dan takut.

Ulama yang kedua yang cukup berpengaruh, yang salinan syairnya kemudian hari dikutip dan dibahas oleh peneliti-peneliti sejarah dan sastra seperti Denys Lombard, Anthony Reid, James T. Siegel, Ali Hasjmy, dan T. Ibrahim Alfian adalah  Tgk. Chik Kuta Karang, seorang ulama yang populer setelah Tgk. Mohamad Saman, nama  sebenarnya dari Tgk. Chik di Tiro yang meninggal, 25 Januari  1891.

Tentu akan sangat panjang jika harus membahas tentang HPS di tulisan ini. Akan tetapi sebenarnya saya ingin memberikan kesan bahwa pertautan lagu dan syair yang muncul dalam musik Aceh tidak bisa dilepaskan pengaruhnya dari HPS, sebagai sejarah narasi perang-narasi kekerasan yang bisa menentramkan bagi siapa pun yang membacanya. Lagu-lagu di Aceh mengajarkan tentang keutamaan Islam dengan berjuang keras menjaga kemuliaannya. Jihad adalah satu cara menyelamatkan agama. Demikian paling tidak yang dimaksudkan dalam sejarah perjuangan Aceh. Jika saat ini lagu Do Da Idi masih didendangkan.

Antropologi Do Da Idi

Jika mengacu kepada konsep yang pernah dikembangkan oleh Michel Foucault, lagu Do Da Idi ini tidak hanya dilihat sebagai sebuah lagu rakyat, yang menjadi desain dari ethno-music masyarakat tradisional. Lebih dari itu, ia menduduki peran penting dalam menata hubungan sosial masyarakat Aceh. Lagu seperti Do da Idi menempatkan posisi sentral dalam pembentukan epistimologis pengetahuan masyarakat, yang dalam bahasa umum antropologis disebut kearifan lokal (local wisdom).

Dalam The Order of Things, Foucault menyebutkan, bahwa dalam skala makro, bahasa yang dikomunikasikan (yang selanjutnya menjadi wacana) menjadi jalan dalam penyusunan retakan-retakan sosial. Lagu, syair, puisi, prasasti, dsb adalah jalan dalam memahami konteks pengetahuan masyarakat dari masa lalunya dan bukan hanya sosio-kulturalnya.

Syair lokal juga memiliki unsur psikoanalisis dan etnologis, dimana perannya yang menonjol dalam bahasa sebuah masyarakat (tribal). Ia memainkan fungsi linguistiknya secara sempurna dalam mengatur nilai-nilai yang membuat sebuah masyarakat seimbang dalam hidupnya. Hal seperti ini dalam pandangan Foucault lebih jernih dan alami dalam membentuk pengetahuan manusia. Namun gejala ini akhirnya menghadapi krisis dengan pengetahuan modern yang terlalu positif dan generalis dalam membangun nalar.

Syair dan puisi rakyat (folklore) melahirkan peran menonjol dari bahasa, yaitu memunculkan bahasa dan pengetahuan baru, yang tidak sama dengan bahasa dan pengetahuan umum. Ia menjadi the being of language. Di satu sisi ia mengambil peran  bahasa formal yang memurnikan penalaran empiris, tapi di sisi lain ia mengembara sebagai bahasa dan mencari kemungkinan tutur terjauhnya hingga berjumpa dengan batasnya sendiri (Basis no 1, Januari – Februari 2002).

Sikap ini juga menjadi keinsafan bagi siapa pun yang mendengar lagu ini, terutama bagi masyarakat di luar masyarakat Aceh yang tentu memiliki nalar dan kerangka epistimologis berbeda dengan masyarakat (tradisional) Aceh. Akan tetapi, bukan berarti bahwa syair Do Da Idi ini tidak dapat dipahami oleh masyarakat non-Aceh.

Sekadar mengingatkan kembali atas yang ditulis Immanuel Kant dalam Metaphysics of Moral, setiap kita memiliki kemampuan untuk mengolah nalar murni: nalar yang belum dikotori oleh kepentingan politik dan ekonomi. Nalar inilah yang menjadi deposito dan mengarahkan pada berkembangnya humanisme. Inilah sebenar-benarnya nalar, yang prospektif bagi kesehatan pengetahuan. Nalar murni yang tidak birokratis diperlukan untuk membangun loncatan-loncatan yang dinamis dan tidak berprasangka, di dunia yang semakin modern dan berubah.

Untuk konteks Aceh saya merasa bahwa nalar murni yang dimaksudkan oleh Kant adalah sama dengan dekonstruksi pengetahuan positivistik modern yang dikembangkan oleh Foucault kemudian hari. Atau konsep interpretation of local culture yang disampaikan Geertz dalam memahami kebudayaan native, yaitu pahami sebagaimana dipahami oleh masyarakat Aceh, dalam konteks kekiniannya, dalam berbagai macam kompleksitas tuturannya.

Di saat ini, lagu yang dinyanyikan Cut Aja Rizka memiliki konteks psikologis yang berbeda di zaman yang telah relatif aman. Namun keindahan suara mezzo-sopran penyanyi cantik ini memiliki konsep pemaknaan baru bagi yang mendengarnya. Tidak perlu pemahaman linguistik atas apa yang disampaikan, tapi kita bisa mengikuti gerak alur dan detak psikologis yang terbawa bersamanya. Seperti saya yang terhanyut mendengar lagu Besamo Mucho yang dibawakan oleh Christopher Abimanyu di resort Pantai Indah Kapuk, Jakarta melalui televisi. Ia bukan orang Spanyol, dan saya juga tak mengerti apa pesan gramatik dari lagu itu. Tetapi saya menikmatinya. Tak ada kesan bahwa saya takut untuk menikmatinya, bahkan sejak nada pertama. Saya hanyut dan mengembara dalam konsep penafsiran personal. Itu tidak berbahaya. Namanya saja menikmati musik.

Ada aspek-aspek yang secara universal tak dapat dikorupsi yaitu musik. Ada aspek-aspek yang secara khusus menjadi bentuk silang-beda sebagai bagian dari suku bangsa di Indonesia, yaitu musik etnik. Dan ada pengetahuan lokal yang terkandung di dalam syair Do da Idi yang mungkin tidak sesuai dengan logika dan penalaran masyarakat di Jawa, yang disebut sebagai perjumpaan multikultural. Dalam wacana multikultural, dimana penghargaan untuk hidup bersama secara damai dan saling mengerti harus dikedepankan, maka Do Da Idi harus dilihat dari konteks tuturan dan episteme masyarakat Aceh, baik masa lalu atau masa kini. Apalagi di masa kini ketika psikologi dan kesadaran masyarakat telah berubah banyak. Aceh tentu saja telah banyak berubah, dari masa konflik penuh ketertutupan (Orde baru), era konflik di era keterbukaan (pemerintahan Habibie, Gus Dur, dan Megawati), dan era terakhir, pasca konflik dan tsunami (Susilo Bambang Yudoyono). Ia sebagai sebuah wacana yang terus dinamis, seperti dinamisnya lagu Gang Kelinci, yang dinyanyikan oleh Lilis Suryani di masa Jakarta masih lengang tahun 60-an hingga sekarang ketika Jakarta makin kejam kepada masyarakat miskin. Lagu tetap hidup, demikian pula interpretasi atasnya, meskipun dengan lirik yang sama.

Pergerakan pemahaman itu juga harus dilihat dalam konteks peran perempuan di Aceh. Apakah saat ini perempuan Aceh masih dapat dikatakan memiliki peran utama dalam tuturan dan menjadi magnet sosial? Atau sebenarnya modernisasi dan mekanisasi, seperti dikatakan Jacques Ellul menyebabkan masyarakat menjadi sangat teratur dan teknokratis, telah menjerembabkan para perempuan Aceh yang dahulunya terkenal maju dan bermartabat, seperti terbaca dalam kisah Laksamana Keumalahati, Cut Nyak Dien, Cut Mutia, menjadi lemah dan inferior?

Jika saat ini adalah masa regresi, maka dapat dikatakan bahwa permasalahannya bukan pada aspek kebudayaan Aceh, karena sejarah Lamuri (nama Aceh di masa klasik) pernah memiliki pengalaman perempuan ‘menggengam mahkota.’ Kemunduran sekarang lebih merupakan faktor eksternal seperti negara, jaringan global, budaya modern. Aneh bila kemunduran gerakan perempuan –jika setuju dengan kesimpulan ini– terjadi ketika banyak gerakan feminis urban nasional mengampanyekan kesetaraan dan pemihakan kepada peningkatan status perempuan. Ini tentu saja ironi.

Tapi tetap ada yang tertinggal dan tidak sepenuhnya tersaput. Meskipun kini Aceh makin kompleks akibat gagasan rekonstruksi Aceh yang terlalu berambisi pada kosmopolitanisme (dalam pemahaman fisik), tetap masih ada nilai-nilai tradisional dan ingatan yang turun dari gen memori sosial masyarakat. Ia tak sepenuhnya luntur. Meskipun semakin sedikit masyarakat yang mendendangkan lagu Do Da Idi, bukan berarti sedikit itu tidak ada. Merekalah perempuan kampung yang masih percaya dengan adatnya dan menganggap bahwa ‘adat modern’ yang serba praktis dan digital belum bisa menggantikan semua yang dimiliki dalam sejarah dan kebudayaannya. Mereka masih menjadi pendendang dalam ayunan yang diikat di atas pasak rumah.

Do Da Idi masih lagu yang menyeronokkan suasana, walau carutan atas perang telah lama senyap. Kini Aceh membangun kembali sejarahnya, dari sisi yang sebagiannya tidak dikenali oleh masyarakat aslinya. Sebab globalisasi yang mengobjekkan politik bantuan tsunami menjadi tsunami bantuan. Bencana baru. Hanco klaha!

Teuku Kemal Fasya

Ketua Jurusan Antropologi Universitas Malikussaleh Lhok Seumawe

 

Daftar Pustaka :

Adams, Jeff. 1986. The Conspiracy of the Text : The Place of Narrative in the Development of Thought. London : Routledge.

Alfian, Teuku Ibrahim. 1987. Perang di Jalan Allah. Jakarta : Sinar Harapan.

———-. 1999. Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.

Basis, Majalah. edisi Januari – Februari 2002.

———–. edisi Maret – April 2002.

Esposito, John E., (ed). 1997. Political Islam : Revolution, Radicalism, or Reform? Colorado : Lynne Rienner Publishers.

Fasya, Teuku Kemal (ed). 2007. Kata dan Luka Kebudayaan : Isu-Isu Gerakan Kebudayaan dan Pengetahuan Kontemporer. Medan : Usu Press.

Fasya, Teuku Kemal. 2005. Ritus Kekerasan dan Libido Nasionalisme. Yogyakarta: Buku Baik.

Fink, Bruce. 1995. The Lacanian Subject : Between Language and Jouissance. Princenton:  Pricenton University Press.

Foucault, Michel. 1977. The Order of Things London : Tavistock.

Geerzt, Cliford. 1973. The Interpretation of Culture. London-Melbourne: Hutchinson and co.

Latif, Yudi, dan Idi Subandy Ibrahim. 1996. Bahasa dan Kekuasaan: Politik Wacana di Panggung Orde Baru. Bandung: Mizan.

Reid, Anthony (ed). 2006. Verandah of Violence : The Background to the Aceh Problem. Seattle: University of Washington Press.

Reid, Anthony. 2005. Asal Mula Konflik Aceh : Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

————-. 1987. Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera. Jakarta : Sinar Harapan.


Beranda  |  Kategory: Edisi 15 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia