Boretn Terakhir?

10 - Oct - 2007 | Chatarina Pancer Istiyani | No Comments »

Januari hingga Februari tahun ini, Kampung Nala banjir buah. Kampung Nala merupakan sebuah kampung dari dua belas kampung orang Dayak Panu[1] di Kecamatan Parindu, Sanggau, Kalimantan Barat. Merahnya rambutan menghiasi setiap rumah dan jalanan kampung. Untaian-untaian buah rambai menutupi pokok pohonnya. Dapur-dapur wangi buah tekawai, sejenis buah durian yang dagingnya berwarna oranye, juga buah-buah hutan lainnya. Ada peluntatn sejenis nangka yang dagingnya berwarna putih, mentawak, sejenis nangka yang dagingnya berwarna oranye, dan entaatn buah yang pohonnya menjalar bergetah sebagai pengganti getah karet pada masa lalu.

Memang, saat itu musim buah. Padi di ladang, kelapa sawit di kebun, timun kampung, prenggi, sejenis labu, juga berbuah. Bahkan tengkawang (Shorea spp) di tembawang hutan rakyat yang berbuah hanya lima tahun sekali itu pun tiba musimnya. Namun, musim buah itu dibarengi dengan musim penyakit. Anak-anak sakit perut karena kebanyakan makan buah, orang-orang tua sakit kaki dan punggung karena terlalu banyak kerja sejak pagi hingga menjelang petang. Mata jadi merah dan banyak tahinya karena kena miang padi. Sakit panas dingin juga banyak diderita. Untungnya, di kampung itu ada pak mantri. Pada saat musim buah dan penyakit seperti itu, pak mantri pun panen duit.

Selain pak mantri, di perbatasan dengan kampung tetangga, yaitu Kampung Empaong, ada seorang bidan desa. Kepada bidan desa ini pula orang datang untuk meminta penyembuhan. Bagi orang Nala dan sekitarnya, mantri dan bidan desa ini biasanya menjadi tujuan pertama ketika mencari kesembuhan. Namun demikian, jika tidak menemui kesembuhan, orang akan mencari dokter di Kota Kecamatan Bodok yang jaraknya belasan kilometer. Kalau tidak sembuh juga, mereka akan membawa ke rumah sakit di Kota Kabupaten Sanggau yang jaraknya lebih dari 40 km. Bahkan, orang Nala akan membawa si sakit hingga ke Pontianak ibukota provinsi Kalimantan Barat yang kira-kira waktu tempuhnya 7 hingga 8 jam menggunakan bis. Kalau tidak sembuh juga? Bagi sebagian orang Dayak Panu, sakit yang tak sembuh-sembuh ini dipercayai disebabkan oleh sesuatu yang berasal dari dunia lain yang tidak tampak oleh manusia biasa. Oleh karena itu, mereka berupaya untuk mencari tahu sebab-musabab sakit dan penyembuhannya melalui manusia yang luar biasa. Dalam masyakarat Dayak Panu, orang yang luar biasa dalam hal penyembuhan itu disebut sebagai boretn.

Ilustrasi di atas menampakkan bahwa orang Dayak Panu akan mempergunakan jasa boretn jika sudah terdesak dan tak ada jalan lain lagi. Hal yang mempengaruhi pilihan pertama bukan pada boretn, tetapi pandangan mereka sendiri terhadap cara penyembuhan yang dianggap suatu cara yang ”dalam”, yang tidak mudah dimengerti dengan nalar, dan terkadang membutuhkan ongkos yang tidak sedikit.

Cara pandang demikian ada karena pengaruh modernitas yang dengan mudah masuk ke perkampungan orang Dayak Panu. Dengan keberadaan listrik, perkampungan itu tidak asing lagi dengan televisi, radio, dan beraneka ragam alat elektronik bahkan sampai peralatan musik berupa seperangkat band. Jalan raya penghubung Bodok dengan Kecamatan Meliau yang membelah perkampungan itu menjadi sarana yang mulus bagi masuknya hal-hal baru yang cenderung lebih menarik bagi mereka. Mata pencaharian yang dulunya rata-rata berladang, menoreh karet, dan berburu, kini relatif lebih variatif, seperti: berkebun sawit, menjadi buruh lepas perkebunan kelapa sawit, menjadi pengusaha trayek transportasi, dan menjadi buruh perusahaan kayu. Bahkan, ditanamkannya menara seluler di pinggir jalan itu di tepi Kampung Nala menjadikan komunikasi lebih mudah.

Salah satu hal besar yang berdampak pada cara pandang ini juga adalah kehadiran perkebunan sawit dalam skala besar. Sepanjang Jalan Bodok-Meliau, pohon sawit menjadi pemandangan utamanya. Ada yang baru ditanam, ada yang sudah tumbuh agak besar namun belum berbuah, ada yang sudah berbuah dan siap panen, namun ada juga yang sudah mati kering namun masih dibiarkan di kebun itu. Perkebunan ini jelas telah mengkonversi lahan yang tadinya kebanyakan berupa hutan tempat tanam tumbuh segala macam obat tradisional, buah-buahan, kayu, dan rotan. Kesulitan mendapatkan beraneka ragam tanaman obat dan tanaman untuk keperluan berbagai ritual pun terjadi. Alhasil, masyakarat pun seringkali harus kepayahan menghadirkan berbagai syarat yang disediakan oleh alam. Sebagai contoh, dulunya orang mudah mendapatkan daun oguh ’daun lebar yang biasa digunakan untuk membungkus nasi, tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Dengan dibungkus daun oguh ini nasi menjadi lebih nikmat disantap karena begitu harum. Orang Dayak Panu biasa membawa nasi bungkus ini sebagai bekal ke ladang maupun ke kebun saat menoreh karet. Kini mereka harus berjalan kaki jauh dari rumah untuk menemukan tanaman oguh itu.

Sementara itu, pendidikan disinyalir tidak menyentuh apa yang dimiliki masyarakat lokal secara memadai.[2] Secara khusus pengetahuan tentang boretn, banyak orang sudah tidak mengetahuinya, meskipun mereka masih membutuhkan jasanya. Apalagi anak-anak sekolah. Bahkan anak-anak seringkali takut mendengar bunyi gendang dan gong yang ditabuh ketika tradisi boboretn berlangsung karena rasa ngeri. Dari sisi agama, tak jarang tokoh agama memberikan stigma bahwa praktik boboretn (shamanisme) itu berhala, tidak terbuka dengan perubahan zaman. Di Parindu yang terdiri dari 14 desa dengan 34 dusun itu telah memiliki sejumlah tempat ibadah, yaitu tujuh buah masjid dengan 13 surau, satu gereja katholik, dan lima buah gereja protestan (http://www.sanggau.go.id). Meskipun tak ada tempat yang tetap untuk berkumpul bagi orang Dayak Panu untuk melakukan ritual boboretn. Boboretn tetap dilaksanakan di tempat orang yang membutuhkan jasa boretn. Dengan demikian, tradisi termasuk boboretn menjadi sesuatu yang disimpan, jarang diterapkan karena dianggap sebagai sesuatu yang susah, rumit, kuno, dan tidak mengikuti zaman. Praktik boboretn dilaksanakan jika orang sudah merasa terpaksa.

 

Boretn Dayak Panu

 

Boretn yang ada pada masyarakat Dayak Panu ada tiga macam, yaitu boretn dori, boretn tonyukng, dan boretn dewa. Perbedaan tempat yang menjadi orientasi boretn itulah yang menyebabkan adanya berbagai macam boretn. Boretn dori  artinya adalah boretn yang memiliki imai, yaitu roh yang memberinya kemampuan shamanistis sekaligus menjadi penolong utamanya yang bersemayam di gunung. Dori  itu artinya gunung. Begitu juga dengan istilah tonyukng yang berarti ’tanjung’. Namun ada juga boretn yang juga melaksanakan aktivitas shamanistik, namun tidak termasuk boretn dori maupun tonyukng, yaitu boretn dewa. Kata dewa tidak diketahui makna atau padan katanya. Boretn dewa tidak dipilih oleh imai. Pebatuan, jimat berupa batu yang dimilikinya ada karena ia sengaja mencarinya, bukan pemberian imai.

Yang masih tersisa kini tinggal tiga orang boretn saja. Dua boretn dori, yaitu Kek Sijeng (97 tahun) yang tinggal di Kampung Nala dan Kek Dahe (60-an tahun) yang tinggal di Kampung Bukong. Satu boretn dewa yang masih ada adalah Kek Buyen (70-an tahun) yang tinggal di Kampung Sedowai. Pada usia rentanya, Kek Sijeng sudah tidak seperti dulu lagi. Dia sudah tidak bisa lagi melaksanakan ritual penyembuhan secara lengkap. Tari-tarian sudah tak mampu dilaksanakan. Suaranya terkadang putus-putus dalam melantunkan pomakng atau mantra berlagu. Namun demikian, beliau tetap menghargai keluarga si sakit yang mengundangnya dengan tidak pernah tidur selama ritual penyembuhan dilaksanakan, bisa selama dua hari. Kalau dulu ada yang dilaksanakan hingga berhari-hari.

Dalam melaksanakan ritual shamanistis yang disebut sebagai boboretn, boretn dori dibantu oleh seorang penginte. Penginte ini tugasnya melayani boretn dan menerjemahkan bahasa boretn kepada hadirin. Ia juga menjelaskan kepada boretn tentang apa yang dinyatakan oleh hadirin.[3] Dalam hal ini, seorang penginte juga harus fasih berbahasa Tiong Kandang. Keterampilan berbahasanya ini diperoleh dari seringnya dia bergaul dengan boretn dan seringnya dia mengikuti dan mengasisteni boretn ketika boboretn. Pergaulan boretn dalam kehidupan sehari-hari tidak berbeda dengan anggota masyarakat lainnya. Namun, khusus mengenai hal yang berkaitan dengan profesinya, boretn tidak bisa menceritakan perihal boboretn ini kepada orang lain. Terlebih lagi menceritakan sang imai-nya. Boretn terikat perjanjian tertentu dengan imai-nya. Salah satu janjinya adalah tidak boleh sembarangan menceritakan perihal boboretn ini kepada orang lain, kecuali penginte-nya. Apabila ia melanggar janji maka sang imai akan melukai boretn dengan senjatanya. Bahkan sang boretn bisa meninggal karena ingkar janji.

Selain dua tokoh penting dalam ritual boboretn itu, ada juga orang yang bertugas memanggil semangat orang yang sakit. Dia adalah pemori minu, pemanggil semangat. Pemori minu ini biasanya adalah seorang ibu-ibu yang sudah relatif tua. Konon, dia menjadi pemori minu pun atas petunjuk dari imai sang boretn. Hampir tidak ada kriteria tertentu yang harus dimiliki oleh si pemori minu, kecuali dia ditunjuk oleh imai.

Kemampuan Boretn

Kemampuan boretn yang paling mudah dikenali masyarakat adalah ia dapat meramu tumbuh-tumbuhan dan mungkin juga ada bagian tertentu dari hewan untuk mengobati atau menyembuhkan si sakit. Bahan ramuan tersebut biasanya dia peroleh di sekitar tempat tinggalnya. Walaupun begitu, tak jarang ia harus mencari ke hutan. Sayangnya, kini hutan-hutan di Kecamatan Parindu yang pada waktu lalu selalu menyediakan perlengkapan ritual shamanistis[4] dan berbagai obat tradisional telah banyak yang diubah menjadi perkebunan, terutama perkebunan sawit. Kini, hutan rakyat yang tersisa di Kecamatan Parindu hanya seluas 2.420 ha. Sementara itu, lahan perkebunan (rakyat) mencapai 7.070 ha. Luasnya lahan perkebunan itu antara lain karena adanya investor yang bekerjasama dengan perusahan, yaitu PT PTPN XII. Bahkan dari situs resmi Kabupaten Sanggau, dicadangkan areal seluas 13.000 ha di Kecamatan Parindu untuk perkebunan (http://www.sanggau.go.id).

Kemampuan boretn yang penting adalah kemampuan supranaturalnya. Dalam hal ini boretn dianggap bukan saja bisa menyembuhkan penyakit yang ada di dalam tubuh manusia saja, namun juga menyembuhkan sakit penyakit yang diderita dalam jiwa manusia. Salah satu kemampuan supranaturalnya itu ditandai dengan kemampuannya untuk melakukan perjalanan menuju dunia lain, yaitu dunia imai.[5] Yang dimaksud dengan perjalanan ini bukanlah perjalanan secara fisik, namun roh boretn keluar dari raganya. Hal inilah yang disebut sebagai peristiwa ekstase oleh Michael Harner (1990).[6] Kemampuan ekstase ini hanyalah dimiliki oleh penyembuh yang merupakan shaman. Orang non-shaman tidak bisa melakukan peristiwa ini. Harner menyatakan bahwa shamanisme merupakan suatu teknik ekstase.

Dalam masyarakat Dayak Panu, peristiwa ekstase ini diyakini sebagai roh boretn melakukan perjalanan ke Gunung Tiong Kandang. Secara geografis, Gunung Tiong Kandang ini berada di Tayan. Puncaknya kurang lebih tiga kilometer. Kaki gunung itu ada di Kampung Beruak. Gunung Keramat Tiong Kandang terdiri dari tujuh tingkat, yaitu sebagai berikut.

  1. Kampung Beruak di kaki gunung Tiong Kandang. Nama lengkapnya adalah Kaki Singkandang Tinggi Tujuh Meningkat Bisik Anak Raja Jawa Meraga Jalatn. Termasuk di sini adalah Kampung Mangkit. Kampung Mangkit berada di tengah antara kaki dan puncak gunung. Waktu perjalanan dari Kampung Beruak ke Mangkit kurang lebih satu jam dengan jalan kaki. Selain itu, ada juga pedagi, yaitu sebuah batu besar tempat bia-bia ’sesajian’ dan meminta izin kepada roh-roh yang ada di Tiong Kandang. Bia-bia-nya adalah 1 ekor ayam putih 1 kg, 1 ekor babi 40 kg: babi bolakng (yaitu babi putih jantan, kalau babi yang betina imai-imai itu tidak mau menerimanya), ketan, beras, telur, perote, cekaruk, daun sabakng, beras kuning, uang perak, lilin, dan pelonga
  2. Pintu Sedopo: di sini jalannya berbelok-belok dan sempit. Nama lengkapnya adalah Batu Pintu Lawang Sedopo.
  3. Batu Pekasih (kadang disebut Pengasih), yang nama lengkapnya adalah Batu Pekasih Batu Pipit Beranak Muda, merupakan batu besar yang di bawahnya ada lobang. Di dalam lobang itulah bisa ditemukan sesuatu yang dianggap rezeki.
  4. Batu Bedahan letaknya justru di bawah Batu Pengasih, di antara Batu Menangis dan Batu Pengasih. Batu Bedahan tidak bisa dilewati. Nama lengkapnya adalah Batu Bedahan Bisik Buluh Perindu Tawan Merindu Ati. Area Batu Bedahan ini merupakan medan yang sangat sulit dicapai, sekalipun ditempuh dengan alat-alat. Di bawah batu berlobang itu ada Buluh Merindu. Buluh Merindu itu ibarat bambu, daun dan batang sama dengan bambu biasa.
  5. Lawang Kari
  6. Buka Buna Lawang Jubata
  7. Ayo Nyampi

Gunung Keramat Tiong Kandang merupakan gunung tertinggi tempat bersemayamnya para imai dan sekaligus merupakan gunung terakhir, yaitu ketujuh dari sejumlah dataran tinggi (bukit dan gunung) yang dikunjungi roh boretn untuk minta pertolongan kepada roh-roh yang dapat menyembuhkan si sakit. Sedangkan enam lainnya adalah Mungguk Senapang, Semayang, Semanung, Keramas, dan Mencundung Ale Melintang Bunga.

Hal-hal yang turut mendorong terciptanya keadaan ekstase sang boretn adalah adanya halusinogen yang terdapat dalam aroma asap dari bunga dan daun ikal atau ayo kering yang dibakar. Bunga dan daun ini sejenis kemangi yang berwarna ungu. Kondisi ekstatis juga dipicu oleh bunyi gendang dan gong dengan ritme tertentu yang monoton. Kapan perjalanan ini dilaksanakan waktunya ditentukan oleh boretn. Tentu saja, ketika semua bekal yang berupa bia-bia itu sudah lengkap. Kemampuan ekstase ini ternyata bisa melampaui wilayah orang Dayak Panu. Asal, segala perlengkapan ritual boboretn ada di tempat tersebut. Sebagai contoh Kek Sijeng bisa melakukan boboretn di Pontianak. Kek buyen bahkan pernah diundang melakukan boboretn di Singapura.

Kembali kepada kemampuan boretn, boretn dori juga memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan roh-roh lain baik yang berada di sekitar tempat hidup orang maupun yang berada di gunung-gunung yang jauh dari perkampungan. Ketika ada persoalan yang melibatkan manusia dengan roh maka ia dapat menjadi mediator, negosiator, dan rekonsiliator. Seorang boretn dori Dayak Panu juga dapat menjadi “utusan” untuk pergi ke tempat lain, khususnya ke Gunung Tiong Kandang untuk mencari jawab, obat, dan solusi bagi masalah yang dihadapi masyarakat.  Boretn juga merupakan imam dan ”pendoa” (bandingkan dengan Winzeler, 1993) dalam pelaksanaan ritual-ritual shamanistis.

Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi dengan imai ini menggunakan bahasa Tiong Kandang. Bahasa ini hanya dikuasai oleh boretn dan penginte. Sementara itu, orang Dayak Panu tidak bisa memahami bahasa tersebut. Orang Dayak Panu berbahasa bokidoh. Disebut sebagai bahasa bokidoh karena dalam tuturan sehari-hari kata kidoh yang artinya ’tidak ada’ seringkali muncul. Awalan {bo-} sejajar dengan awalan {ber-} dalam bahasa Indonesia, yang artinya ’memiliki, muncul berulang kali’ Jika dilihat kelompok besarnya, maka bahasa bekidoh ini termasuk kelompok bahasa Bidayuhik. Adanya konsonan pranasal, misalnya (-tn, pn, kng) merupakan salah satu cirinya. Sementara itu, bahasa Tiong Kandang tidak memiliki ciri tersebut. Menurut penuturan seorang penginte, bahasa Tiong Kandang itu banana.  Nana’artinya ’tidak’.

Oleh karena adanya perbedaan bahasa dalam komunikasi dengan imai yang terjadi ketika ritual boboretn ini, maka sesungguhnya tidak ada kesepahaman antara hadirin dengan tokoh sentral ritual penyembuhan, dalam hal ini boretn dan penginte. Namun, masyarakat yang meminta boretn untuk melakukan penyembuhan itu yakin terhadap keseluruhan tata caranya. Hampir semua pasien yang menggunakan jasa boretn tak pernah mengerti apa yang dibicarakan boretn. Hanya lewat penginte saja mereka memahami kata-kata boretn. Dalam hal ini, penginte memiliki kuasa mutlak untuk menjadi penerjemah antara boretn dengan hadirin. Tak seorang pun tahu apakah yang diterjemahkan penginte itu benar atau tidak. Namun demikian, justru ketidaksepahaman inilah yang menjadi salah satu faktor kesembuhan si sakit.

Kita lihat kembali kemampuan boretn yang lain. Seorang boretn juga menjadi “guru” bagi boretn yang lebih yunior dan masyarakat pada umumnya. Boretn yang memperoleh kemampuan menyembuhkan melalui proses belajar disebut dengan boretn dewa. Dia menuntut ilmu dengan boretn dewa yang senior baik ketika ritual berlangsung maupun di luar waktu ritual. Yang dipelajari itu antara lain: mantra, tata cara boboretn, macam, jumlah dan makna bia ‘sesajian’, pengetahuan herbal, dan cara mengenali penyakit.[7]

Lain halnya dengan boretn dori yang mendapatkan kemampuan penyembuhan langsung dari imai. Dia merupakan orang terpilih.[8] Tanda awal terpilihnya orang itu adalah dengan adanya batu yang ditemukannya secara misterius. Misalnya tiba-tiba ada di bawah bantalnya. Setelah itu, orang tersebut akan mengalami kejadian-kejadian yang tidak biasa. Sebagai contoh, setiap bulan sabit terbit dia akan sakit kepala, meraung-raung, dan mata memerah. Oleh karena itu, dia harus menerima fakta bahwa dia terpilih. Hal seperti ini dianggap sebagai suatu panggilan yang menyerupai takdir. Kalau dia melawan panggilan tersebut, maka dia akan selalu sakit dan bahkan segera menemui ajalnya. Untuk itu, dia harus menerima panggilan tersebut. Sebagai tanda bahwa dia menerima panggilan tersebut, maka ia akan melaksanakan proses mamu yakni proses belajar dengan imai selama tiga bulan. Dalam proses tersebut, dia selalu bertemu dengan imai-nya. Pertemuan itu tidak di dalam rumah. Rumah manusia, bagi imai selalu dianggap kotor. Oleh karena itu, imai menjumpai calon boretn itu di luar rumah. Ketika bertemu pun, orang tersebut sudah mulai diajak menuju alam lain.

Sarana yang digunakan untuk pergi ke alam lain itu antara lain adalah bunyi gendang, gong, giring-giring, ayunan dari kayu dan rotan, serta setidaknya ada telor ayam kampung mentah, tuak, dan bunga kemangi kering.[9] Melihat sarana yang harus ada itu, maka dalam mamu tersebut mempersyaratkan adanya orang-orang yang menabuh gendang dan gong. Juga harus ada telur ayam setiap harinya minimal dua butir. Dalam hal ini, dukungan keluarga dan masyarakat sekitar sangat penting, baik menyediakan tenaganya untuk menabuh gendang dan gong, maupun menyumbang tuak dan telur ayam kampung.

Cara yang dilakukan imai dan calon boretn ketika mamu adalah berkenalan, mengajarkan berbagai hal shamanistis, belajar bahasa Tiong Kandang, menyepakati berbagai hal, dan lain-lain. Ada sebagian orang menyatakan bahwa ketika mamu itu, calon boretn dan imai itu saling bercengkerama, seperti layaknya sepasang kekasih yang berpacaran. Hal ini dinyatakan demikian karena ada anggapan bahwa ketika calon boretn itu menjadi boretn maka ia telah beristrikan sang imai.

Dalam sejarah shamanisme orang Dayak Panu, proses mamu ini selalu didukung keluarga boretn dan masyarakat sekitarnya. Tidak pernah ada penolakan dari pihak keluarga dan masyarakat. Namun, penolakan itu justru bisa terjadi pada calon boretn. Ia menolak panggilan. Masyarakat setempat menengarai Kek Acos, adik kandung Kek Sijeng sebagai calon boretn. Namun yang bersangkutan hingga kini tidak melaksanakan mamu, meski tanda-tanda menjadi boretn itu sudah sangat jelas, yaitu dia menderita sakit kepala yang luar biasa ketika bulan sabit terbit. Dengan demikian, keberadaan boretn ini bisa hanya sampai di sini saja. Apakah sang imai tidak akan menjatuhkan panggilannya ke orang yang lain lagi? Wallahualam!

Berbagai kemampuan boretn di atas dipahami sebagai cara untuk menjaga harmoni manusia dengan alam, termasuk manusia, roh-roh, dan Kek Penompa ’Tuhan’ yang tinggal di langit. Pengobatan dengan ritual boboretn ini merupakan cara masyarakat Dayak Panu untuk melangsungkan kehidupan mereka. Penyakit fisik dan jiwa merupakan salah satu tantangan hidup yang mungkin dan bisa dihadapi dengan kearifan boboretn ini. Namun demikian, perkembangan zaman kapitalisme yang menumpangi dunia pendidikan, agama, sistem pemerintahan, media massa, serta pasar telah mengikis keberadaannya. Citranya terguncang. Namun demikian, boretn masih eksis. Sebagian besar penduduk Parindu (yang pada bulan September 2005 berjumlah 27.886 jiwa)[10] masih menggantungkan sebagian nasibnya (dalam hal kesehatan jiwa raga) pada boretn. Hal ini tercermin dari frekuensi boboretn yang diselenggarakan, yaitu setiap bulannya pasti ada ritual boboretn.

Sayangnya, boretn yang ada tinggal tiga orang yang sudah tua-tua. Ada calon boretn, namun hingga saat ini yang bersangkutan belum mau melaksanakan proses mamu. Proses menjadi boretn ternyata tidak gampang. Karena tidak sembarangan orang yang ”terpanggil” dan yang ”terpanggil” belum tentu memenuhi ”panggilan alam.” Ada kekhawatiran pada sebagian orang Dayak Panu akan hilangnya cara pengobatan ini. Namun mereka tidak bisa apa-apa. Mereka juga sadar bahwa menggerutu saja tidak akan membuahkan hasil.  Jadi, mereka adalah boretn terakhir?

 

 

Chatarina Pancer Istiyani

Peneliti di Institut Dayakologi Pontianak, Kalimantan Barat.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Anderson & Foster. 1986. Antropologi Kesehatan. Terjemahan dari Medical Anthropology. Penerjemah: Priyanti P. S. & Meutia F. H. S. Jakarta: Universitas Indonesia.

Bamba, John. 2003. Dayak Jalai di Persimpangan Jalan. Pontianak: Institut Dayakologi.

Harner, Michael. 1990. The Way of The Shaman. New York: Harper San Francisco.

Radam, Noerid Haloei. 2001. Religi Orang Bukit. Yogyakarta: Yayasan Semesta.

Winzeler, Robert, L. 1993. Shaman, Priest, dan Spirit Medium: Religious Specialist, Tradition and Innovation in Borneo dalam The Seen and The Unseen: Shamanism, Mediumship and Possession in Borneo. Seri monograf Borneo Research Council. Volume 2. Williamsburg: The Borneo Research Counci, Inc.

Situs Internet: http://www.sanggau.go.id


[1] Istilah Dayak Panu ini seringkali disebut juga sebagai Dayak Pandu. Namun berdasarkan penuturan informan dari berbagai kampung tempat tinggal mereka menuturkan bahwa yang relatif asli adalah penyebutan Dayak Panu. Hal ini dikarenakan mereka dulunya berasal dari sekitar Sungai Panu. Istilah Dayak Pandu itu merupakan pemberian, terutama oleh negara, yang kini seringkali digunakan dalam tata adminstratif kepemerintahan. Hal ini terbukti dengan adanya bentukan Desa Panduraya. Sebelas kampung lainnya adalah Kampung Bali, Senunuk, Bodok, Sebotuh, Perontas, Empaong, Entuma, Bukong, Gambir, Sedowai, dan Riam.

[2] Di Parindu, telah terdapat sebuah SMU swasta, 2 buah SLTP negeri dan 3 buah SLTP swasta, serta 33 buah SDN dan sebuah SD swasta (http://www.sanggau.go.id).

 

[3] Pada Dayak Bukit, ada sistem komunikasi khusus antara balian yang sedang mengalami kerasukan roh dengan ”penerjemah” yang disebut patati atau juru patati. Patati menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan balian dan menjelaskannya kepada peserta upacara yang juga bertanya kepada balian. Dia menjadi penerjemah ”dua bahasa yang berbeda”. Dengan demikian, untuk menjadi patati, orang harus mengetahui cara berkomunikasi dengan roh-roh (Radam, 2001).

[4] Perlengkapan yang harus ada dalam boboretn antara lain ayunan yang terbuat dari kayu jenis tertentu dengan tali dari kulit kayu kepuak, seludang ’mayang pinang’, beras kampung dan beras pulut ’ketan’, uang logam, pelita, daun sabang, tampung tawar yang terbuat dari beras kampung dan beras pulut, tembakau jawa, pinang dan sirih, tikar, dan sebagainya. Perlengkapan itu tidak bisa digantikan dengan sembarang barang, misalnya beras kampung diganti beras ”kota”.

[5] Balian, shaman Dayak Jalai, juga memiliki kemampuan untuk mengalami kondisi yang disebut lalap, yakni kondisi ”mendekati mati”, rohnya meninggalkan tubuh dan melakukan perjalanan. Dalam hal lalap ini balin dapat menentukan sendiri kapan dia mulai dan mengakhirinya dengan cara ditibuq ’dipukul’ dengan mayang pinang (Bamba, 2003).

[6] Harner, Michael. 1990. The Way of The Shaman. New York: Harper San Francisco.

 

[7] Lihat juga Noerid Haloei Radam (2001:231-243) yang menyatakan bahwa balian muda belajar melalui keikutsertaannya dalam ritual yang dilakukan balian.

[8] Anderson dan Foster (1986:129) dalam bukunya yang berjudul Antropologi Kesehatan menyatakan bahwa istilah shaman digunakan secara luas untuk menyebut salah satu tipe penyembuh yang “terpilih”, yang menderita sakit lama dan biasanya memelihara hubungan dekat dengan roh pembinanya. Jika dikaitkan dengan boretn maka jelaslah bahwa boretn pun merupakan salah satu tipe penyembuh yang terpilih, memiliki hubungan dekat dengan roh pembinanya, namun mereka tidak selalu menderita sakit yang lama.

[9] Pada balian orang Dayak Bukit di Kalimantan Selatan, birama gendang itulah  yang bisa mengantar balian menuju tempat lain (Radam, 2001).

[10] Data dari BPS Sanggau via http://www.sanggau.go.id


Beranda  |  Kategory: Edisi 14 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia