Konstruksi Identitas Masyarakat Lun Dayeh di Kalimantan Timur

10 - Oct - 2007 | Yekti Maunati | No Comments »

Masyarakat Lun Dayeh merupakan subkelompok Dayak, yang mengalami pergolakan panjang dalam menguatkan identitasnya. Mereka tinggal di wilayah Krayan, Kalimantan Timur. Pergulatan identitas terjadi karena penduduk asli Krayan ini tidak hanya berhubungan dengan para migran yang berdatangan, tetapi juga berhubungan langsung dengan masyarakat di negara lain, Serawak-Malaysia, yang berbatasan dan semula merupakan kelompok yang sama. Ketika batas negara semakin jelas mereka berkembang menjadi kelompok yang berbeda identitasnya, terutama yang berkaitan dengan identitas nasionalnya. Kehidupan masyarakat yang multietnik merupakan wajah wilayah perbatasan Krayan kini dan dalam konteks demikian, identitas masyarakat Lun Dayeh menjadi penting.

 

Identitas sebagai Konstruksi Sosial   

Berbagai ahli menganggap bahwa identitas budaya merupakan sebuah konstruksi sosial.[1] King and Wilder menjelaskan bahwa etnisitas merupakan ekspresi dari produk masa lalu, kebangkitan asal-usul yang sama, hubungan sosial, dan kesamaan dalam nilai-nilai budaya dan ciri-ciri seperti bahasa dan agama. Namun, dimensi sejarah tentang identitas menunjukkan bahwa identitas itu tidak pasti, tidak konstan, dan tidak kekal, tetapi kadang berubah dan dapat dibentuk atau dikonstruksi (2003:198). Dalam proses pembentukan identitas itu, kekuasaan sering berperan. Misalnya saja kekuasaan Barat berperan penting dalam pembentukan identitas, baik melalui peran ilmuwan sosial dan misionari. Selain itu, berbagai kelompok juga sering berperan dalam pembentukan identitas, misalnya kaum intelektual, birokrat, kelompok elit, dan penguasa. Negara juga ikut berperan penting (Eriksen, 1993) dan deretan “otoritas” lainnya (Barth, 1989). Identitas budaya tertentu sering dioposisikan dengan kelompok lainnya. Dayak, misalnya, dioposisikan dengan Islam, artinya Dayak adalah non-Islam. Misalnya saja, orang-orang yang semula Dayak menjadi ‘masuk Melayu’ ketika mereka beralih ke agama Islam (Coomans, 1987).

Penggunaan penanda-penanda identitas (markers of identity) tertentu yang diambil dari budaya kelompok tersebut dapat berubah tergantung keadaan dan konteks tertentu. Misalnya, Eller mencatat bahwa kelompok yang pertamanya menggunakan agama sebagai penanda identitasnya mungkin berubah dengan menggunakan kelas atau bagian dari budayanya (1999:9). Eller memberikan contoh tentang perubahan identitas dari black pada African American di Amerika Serikat yang pada dasarnya tidak mengubah anggotanya, tetapi mengubah penanda etnisitas dari warna kulit menjadi keturunan leluhur dalam arti luas (1999:10-11).

Identitas pada dasarnya cair, artinya identitas dapat berubah karena merupakan konstruksi sosial. Masyarakat Dayak sendiri juga mengalami perubahan. Dulu orang-orang Dayak malu untuk menyebutkan dirinya Dayak karena mereka diasosiasikan dengan keterbelakangan. Berbagai cerita tentang rasa malu mengaku sebagai orang Dayak terjadi karena pengalaman pahit, misalnya dikejar-kejar untuk dilihat telinga panjang atau tatonya (Maunati, 2004). Tetapi belakangan, banyak dari orang-orang Dayak yang bangga mengaku sebagai orang Dayak dan tidak selalu mengacu pada subetniknya seperti Kenyah, Tunjung, Kayan, dan Bahau. Kebanggaan sebagai orang Dayak terbangun karena berbagai hal, baik karena kekuatan politik maupun ekonomi. Misalnya saja dengan banyaknya orang-orang Dayak yang menduduki posisi sebagai birokrat, mereka memiliki kesejajaran dengan kelompok lainnya yang dulu mendominasi pemerintahan (Maunati, 2001). Orang Dayak dulu sering terpinggirkan, tetapi kini mereka bangkit dan muncul dengan penguatan-penguatan identitas.

Tanda-tanda identitas etnik bisa dilihat dari berbagai aspek, misalnya budaya materi, agama, dan bahasa. Namun, tanda-tanda identitas bisa berubah tergantung dengan situasi dan konteks tertentu. Misalnya, Eriksen (1993) mengatakan bahwa identitas akan muncul ketika suatu kelompok merasakan adanya ancaman. Selain itu, ketika kita berbicara tentang identitas kelompok etnik tertentu selalu terkait dengan kelompok lainnya. Artinya, identitas etnik tidak terasa kuat jika tidak ada kaitan atau ancaman dari kelompok lainnya. King (1982:35) misalnya, menyitir dari Rousseau, menekankan bahwa orang Kajang mengidentifikasi mereka berlawanan dengan orang Kayan sebagai bentuk dari mekanisme pertahanan melawan Kayan yang agresif dan menguasai politik.

Penanda-penanda identitas budaya mungkin berasal dari agama, bahasa, dan adat-istiadat yang dianggap khusus milik kelompok tersebut. Namun, tumpang tindih bisa terjadi di antara kelompok etnik yang berbeda. Di wilayah abu-abu, dimana penanda-penanda identitas tumpang tindih, keberadaan perbedaan budaya menjadi problematis (Kahn, 1995). Proses pembentukan identitas sering diwarnai oleh kesulitan karena adanya wilayah abu-abu dan juga batasan kekhususan kelompok-kelompok etnik. Percampuran atau perubahan kelompok etnik dapat terjadi.

Selintas tentang Lun Dayeh di Krayan   

Lun Dayeh di Krayan merupakan kelompok etnik yang masuk dalam kelompok Dayak. Dayak sendiri bukan merupakan realitas objektif yang kuno, tetapi merupakan sebuah konstruksi yang relatif modern. Berbagai studi tentang Dayak sering mengkaitkan Dayak dengan karakteristik tersendiri. Tetapi dari kebanyakan para antropolog atau ilmuwan sosial klasik ketika mendiskusikan Dayak sering menghubungkan antara lain dengan sistem pengayoan (berburu kepala), rumah panjang, dan berburu. Sistem pengayoan memiliki arti yang bervariasi dari ritual (McKinley, 1976), ekonomi (Koepping, tt) sampai dengan kesuburan (Freeman, 1979). Sebagian dari elemen-elemen budaya yang dianggap milik orang Dayak banyak yang sudah merupakan masa lalu karena mereka sudah meninggalkannya. Misalnya saja, rumah panjang sudah dihapus oleh pemerintah dan digantikan oleh rumah individual yang dianggap lebih bersih dan sehat. Tetapi meskipun elemen-elemen budaya yang dulu dianggap khusus milik orang Dayak sekarang tidak lagi dipergunakan, tidak berarti mereka bukan orang Dayak karena seleksi dari elemen apa yang akan dipergunakan dalam menunjukkan identitas kelompoknya dapat berubah tergantung situasi dan konteks tertentu. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk membahas masalah identitas ini karena hal ini melibatkan berbagai aspek kehidupan.

Studi yang khusus membahas tentang identitas orang Dayak sendiri masih sangat kurang. Studi yang telah dilakukan antara lain oleh Maunati (2000) dan Ju Lan dan Maunati (2004). Maunati (2000) dalam studinya tentang identitas Dayak melihat dua kekuatan besar yang mempengaruhi terbentuknya identitas Dayak, yakni kekuatan politik dan ekonomi. Keduanya memiliki andil yang besar dan sulit ditarik garis tegas yang mana yang paling dominan dari keduanya karena kedua kekuatan saling tarik menarik. Kedua kekuatan itupun terfragmentasi menjadi berbagai elemen. Misalnya, kekuatan politik antara lain mencakup kekuasaan kolonial, Orde Baru, dan pemerintahan lokal. Ju Lan dan Maunati (2004) dalam studinya di tiga wilayah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Serawak melihat kemunculan identitas ‘pan-Dayak’ dalam arti gagasan tentang jalinan hubungan antara Dayak di Kalimantan dan Serawak telah muncul dan bahkan kerjasama pun telah terjalin. Misalnya Credit Union yang sudah dikembangkan di Kalimantan Barat mulai diajarkan di Kalimantan Timur yang misinya adalah untuk memperkuat masyarakat Dayak di pedalaman terutama dalam manajemen keuangan. Dari kedua penelitian tersebut  masih banyak yang belum dibahas secara mendalam, misalnya masyarakat Dayak yang tinggal di perbatasan yang berhubungan langsung dengan warga negara yang berbeda dari negara tetangga apakah memiliki pola yang sama dalam hal kebangkitan identitasnya. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk mengisi kekosongan dari pembahasan tentang identitas masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan tersebut.

 

Kebangkitan identitas terkait erat dengan penciptaan image tentang masyarakat Dayak dan dinamikanya. Para ilmuwan sosial berperan dalam menentukan image tentang kelompok etnik tertentu karena melalui tulisan-tulisannya mereka ikut menentukan siapa kelompok etnik tersebut. Para ilmuwan sosial klasik menggambarkan tentang Dayak melalui berbagai tradisi-tradisi yang menonjol atau ditonjolkan oleh para ilmuwan tersebut. Seperti telah disinggung di atas bahwa image yang paling menonjol antara lain adalah pengayoan, rumah panjang, dan ladang berpindah. Tentu saja image tentang Dayak yang dikemukakan oleh pada ilmuwan sosial klasik tersebut banyak berubah sejalan dengan perubahan zaman. Misalnya saja, orang Dayak sudah banyak yang tinggal di rumah individual daripada rumah panjang. Memang rumah panjang masih merupakan bagian penting dalam cerita-cerita orang tua yang pernah tinggal di rumah panjang (lihat Maunati, 2000). Selain itu, rumah panjang yang masih tertinggal kebanyakan untuk dijadikan tujuan wisata bukan untuk tempat tinggal. Di Krayan sendiri masyarakat Lun Dayeh sudah tinggal di rumah individual. Pada tahun 1970-an oleh pemerintah mereka disarankan untuk tinggal di rumah individual yang dianggap lebih bersih dan sehat. Meskipun mereka tinggal di rumah individu bukan berarti mereka kehilangan ke-dayakannya karena aspek-aspek budaya yang dipergunakan sebagai penanda identitas dapat berubah. Di bawah akan dibahas beberapa isu yang berkaitan dengan identitas masyarakat Lun Dayeh di Krayan.

Di Krayan, mayoritas penduduknya adalah orang-orang Lun Dayeh yang juga dikenal sebagai orang Putuk. Di sebut Putuk karena dahulunya mereka menghuni di tepi Sungai Putuk. Sementara itu pengertian Lun Dayeh, menurut penduduk setempat ‘Lun’ berarti ‘Orang’, dan ‘Dayeh’ adalah ‘Hulu’, jadi artinya orang-orang yang tinggal di hulu. Lun Dayeh merupakan bagian dari etnik Dayak yang di kenal sebagai penduduk asli Kalimantan. Istilah ‘Dayak’ itu sendiri pada umumnya ditujukan pada non-Muslim, penduduk asli non-Melayu yang tinggal di pulau Kalimantan (King, 1993: 29). Terdapat perbedaan versi tentang arti Dayak Menurut Lindblad, kata Dayak berasal dari bahasa Kenyah daya yang artinya hulu atau pedalaman (1988: 2). King juga menjelaskan lebih lanjut bahwa Dayak mungkin berasal dari kata aja, kata Melayu yang artinya penduduk asli (1993: 30). Ia juga memperkirakan bahwa kata itu berasal dari Jawa Tengah yang berarti tingkah laku ‘kurang pantas atau kurang patut’ (King, 1993:30). Pada umumnya masyarakat sendiri sering menganggap ‘Dayak’ sebagai ‘hulu’ karena mereka umumnya tinggal di pedalaman.

Dulu arti orang Dayak sering diasosiasikan dengan keterbelakangan, tetapi sekarang telah banyak berubah dan orang-orang yang dianggap dalam kelompok Dayak tersebut juga banyak memperjuangkan untuk sederajat dengan kelompok lainnya. Sejak otonomi daerah masyarakat Dayak yang tinggal di pedalaman lebih memiliki kekuatan baik dari segi ekonomi maupun politik. Namun hal ini bukan berarti masyarakat lain tidak diperbolehkan hidup berdampingan dengan mereka yang telah tinggal berabad di sana. Di Krayan, berbagai masyarakat luar juga hidup berdampingan secara harmonis, misalnya orang Bugis, Jawa, Toraja, Timor, dan Sunda.

Data 2004 dari Statistik Kecamatan Krayan,[2] menunjukkan bahwa penduduk di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan adalah sebagai berikut: Jumlah Penduduk Kecamatan Krayan: 7170 orang; Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin: Laki-laki: 3806 orang; Perempuan: 3364 orang. Sedangkan, penduduk berdasarkan kelompok etnik adalah sebagai berikut:

Orang Lun Dayeh             : 6.995

Orang Bugis                      : 41

Orang Timor                      : 63

Orang Jawa                       : 51

Orang Batak                      : 2

Orang Padang                   : 1

Orang Tanah Toraja          : 15

Orang Sunda                     : 2

Jumlah penduduk berdasarkan Agama yang dianut adalah sebagai berikut:

-          Islam                           : 215

-          Katolik                                    : 719

-          Protestan                     : 6876[3]

 

Penduduk asli, yakni orang-orang Lun Dayeh pada umumnya memiliki sawah dan ladang. Pada umumnya orang-orang Dayak bertumpu pada ladang berpindah (lihat misalnya Dove, 1988; Lebar, 1972; and Conley, 1973). Namum, berbeda dengan masyarakat Dayak pada umumnya, orang-orang Lun Dayeh memiliki sawah karena memang kondisi geografisnya memungkinkan untuk persawahan padi, bahkan padi adan sangat terkenal baik di Kalimantan Timur maupun Serawak, Malaysia Timur.[4]  Sawah di Krayan terkenal subur dan ini juga diakui oleh petugas Dinas Pertanian yang bertugas di sana. Sedangkan perkebunan belum terlalu memuaskan hasilnya karena berbagai persoalan, antara lain transportasi yang sulit untuk penjualan produk.

Selain bersawah, masyarakat Lun Dayeh juga sering menjadi buruh tani maupun bekerja sebagai buruh di Serawak, Malaysia. Sebagai orang Lun Dayeh, bekerja di Serawak tidaklah sulit karena di negeri seberang tersebut mereka memiliki kerabat-kerabat dekat, bahkan kakak maupun sepupu. Jika keluarga di Serawak membutuhkan tenaga dalam bidang pertanian, mereka akan memanggil kerabatnya yang berada di Krayan. Orang-orang Lun Dayeh juga berbeda dengan migran Indonesia yang di Malaysia karena mereka sering mendapatkan kemudahan karena alasan keluarga tersebut. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kita lihat banyaknya orang-orang Lun Dayeh yang sering bekerja di Serawak.

Selain bersawah masyarakat Lun Dayeh juga melakukan pekerjaan-pekerjaan tradisional yang sering dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Dayak secara umum, misalnya berburu dan memetik hasil hutan. Mamak, misalnya, ia memetik hasil hutan seperti pakis untuk dipasarkan di Long Bawan. Mamak terkadang tidak hanya membawa pakis-pakis hutan yang dijual dengan harga Rp 1000,- per ikatnya, tetapi juga kerajinan tikar maupun lemang, makanan yang terbuat dari ketan dimasukkan dalam bumbung. Pagi hari Mamak pergi ke hutan untuk mengambil pucuk-pucuk pakis yang banyak diminati di Long Bawan. Jika Mamak mendapatkan cukup banyak pakis, ia akan mengikatnya dan pergi berjalan menelusuri jalan yang dikeraskan dari desa Kuala Belawit tempat tinggalnya menuju Long Bawan. Di Long Bawan ia akan menjajakan dagangannya keliling memutari desa Long Bawan. Ketika kami berjalan kaki untuk berkunjung ke Kuala Belawit, Mamak berjalan bersama kami. Ia baru saja menjual pakis muda yang semuanya terjual habis, tetapi ia membawa pulang beberapa lemang yang tidak terjual. Setiap ikat pakis ia jual dengan harga Rp 1000,-

Berburu menjadi bagian penting dari masyarakat Lun Dayeh, terutama kalangan mudanya. Pak Sal, misalnya, ia berburu ke berbagai lokasi hutan yang memang masih relatif lebat. Dari zaman nenek moyang berburu merupakan kebiasaan yang tidak terpisahkan dari masyarakat Dayak dengan berbagai subetniknya. Dulu, hasil buruan umumnya dibagi pada para tetangga tanpa bayaran, tetapi hal ini sudah jarang dilakukan oleh masyarakat. Kini mereka berburu untuk diperdagangkan yang biasanya daging yang telah dipotong-potong diikat sebelum dijajakan ke pasar atau kepada penduduk secara langsung. Harga satu ikat daging sekitar Rp 10.000,- Satu kijang biasanya dibelah empat dan harganya seluruhnya sekitar Rp 200.000,-, sedangkan payau bisa mencapai Rp 500.000,- – Rp 600.000,- satu ekornya tergantung besar kecilnya. Babi hutan dapat diperoleh tetapi tergantung musimnya dan biasanya hanya dijual pada orang-orang non-Muslim saja.

Berternak kerbau merupakan bagian yang sangat penting bagi masyarakat Lun Dayeh karena kerbau tidak hanya berfungsi sebagai persembahan untuk meminang perempuan maupun denda dalam hukum adat, tetapi juga fungsi ekonomi lainnya seperti dijual untuk biaya pendidikan anak. Desa selain memiliki padang penggembalaan umum, individu juga umumnya memiliki padang pengembalaan tersendiri. Selain itu, kumpulan padang pengembalaan yang dimiliki keluarga besar juga banyak ditemukan di sana. Bapak Dinas Peternakan menjelaskan bahwa pemerintah sudah banyak memberikan bantuan berupa kerbau, babi, dan itik kepada masyarakat.

Orang-orang Lun Dayeh juga banyak yang bergelut di sektor perdagangan. Di Long Bawan, misalnya, mereka berjualan kelontong, membuka warung, maupun mengelola penginapan. Pak Yag yang memiliki penginapan di lantai 2, juga memiliki toko kelontong di lantai 1 serta membuka restoran/warung makan. Di Long Bawan memang menjadi tempat membeli orang-orang dari berbagai desa di Kecamatan Krayan Induk maupun Krayan Selatan. Kota kecil ini dipenuhi dengan toko-toko dan warung makanan. Fungsi kota ini hampir sama dengan Buduq Nur di Ba Kelalan dimana masyarakat Krayan membeli barang-barang di sana. Begitu pula orang-orang dari desa sekitar Long Bawan membeli barang-barang dari Long Bawan jika mereka tidak ingin langsung membeli barang dari Ba Kelalan karena alasan transportasi yang sulit. Ketika penelitian sedang berlangsung, beberapa orang dari desa-desa sekitar Long Bawan membeli barang-barang di Long Bawan dan sebagian dari mereka menggunakan gerobak yang ditarik oleh kerbau, dan sebagian lainnya jalan kaki atau naik kendaraan roda dua (motor)

Penguatan Identitas Lun Dayeh

Ketika kita berbicara identitas, artinya kita berbicara tentang kaitan antaretnik yang ada di wilayah perbatasan Krayan-Kalimantan Timur dan Ba Kelalan-Serawak. Jika dulunya hubungan yang terjalin hanyalah antar orang-orang Dayak, Lun Dayeh dan Lun Bawang, kini terjadi perubahan yang signifikan karena kedatangan orang-orang non-Dayak dari berbagai penjuru di Indonesia, terutama orang Jawa, Timor, Bugis, dan lain sebagainya, yang kedatangannya pun tidak selalu langsung dari wilayah Indonesia, tetapi juga dari Malaysia. Umumnya orang-orang Indonesia yang datang dari Malaysia banyak yang mengalami masalah, lalu mereka datang dan bertempat tinggal di Krayan atau mereka menikah dengan orang-orang Krayan, seperti yang terjadi pada orang-orang Timor.

Jika terjadi persaingan antarkelompok baik karena ekonomi maupun politik atau dengan menggunakan argumentasi Eriksen (1993) terjadinya ancaman maka identitas kelompok akan muncul. Namun ancaman itu tidak hanya berasal dari kelompok lain tetapi bisa dari kekuasaan, identitas budaya akan menguat. Hal ini sebenarnya terjadi pada masyarakat Lun Dayeh di Krayan. Dulu ketika tidak ada hal yang mengusik dan mereka hidup tenang dengan alam yang memberikan sumber-sumber yang mencukupi untuk mereka, mereka tidak khawatir dan tidak merasa perlu untuk menonjolkan identitasnya. Tetapi kini, persoalannya tidak hanya masuknya masyarakat lain di sana tetapi sangatlah kompleks karena hubungan mereka dengan orang-orang yang semula satu kelompok yang kemudian tinggal di Malaysia juga memunculkan persoalan yang baru. Batas negara yang tegas membuat kelompok tersebut berkembang menjadi kelompok dengan identitas lain. Selain itu, otonomi daerah yang digulirkan juga memberikan warna tersendiri bagi masyarakat Dayak pada umumnya yang dulunya terpinggirkan dalam kekuasaan, kini mereka mendapatkan peluang-peluang yang lebih terbuka. Oleh karena itu, sangatlah menarik untuk memahami identitas Lun Dayeh kontemporer.

Masyarakat Dayak, khususnya Lun Dayeh sering merasa perlu adanya peningkatan dalam masyarakatnya, baik dalam manajemen keuangan maupun pemahaman lainnya sehingga mereka dapat setara dengan kelompok lainnya. Mereka lama termarjinalkan baik dari segi politik maupun ekonomi. Berbagai upaya telah dilakukan oleh masyarakat Lun Dayeh untuk lebih berpartisipasi dari segi politik melalui berbagai organisasi dan dari segi ekonomi, utamanya melalui Credit Union (CU). Dari segi ekonomi, Credit Union menjadi penting karena di kecamatan Krayan ini belum ada bank. Menurut informasi yang diperoleh persoalan yang dihadapi adalah karena belum adanya fasilitas yang mendukung berdirinya bank, utamanya listrik yang belum bisa hidup pada siang hari sementara bank memerlukan fasilitas komputer. Oleh karena itu, Credit Union menjadi alternatif yang sangat bermanfaat bagi masyarakat setempat, terutama masyarakat Lun Dayeh. Credit Union pertamanya dikembangkan oleh orang-orang Dayak di Kalimantan Barat guna meningkatkan kemampuan manajemen keuangan masyarakat Dayak di sana.

Selain persoalan ekonomi, isu budaya dan politik merupakan hal penting dalam upaya pemahaman terhadap identitas kelompok Dayak, utamanya Lun Dayeh ini. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, berikut ini akan dibahas lebih detail tentang identitas Lun Dayeh.

 

Seperti dikemukakan di atas, Krayan dihuni oleh berbagai kelompok etnik, dari Lun Dayeh, Jawa, Timor, Bugis, Sunda, dan lainnya. Hubungan antara kelompok etnik sangat penting untuk dibahas karena di Krayan telah dihuni oleh berbagai kelompok etnik dalam jangka waktu yang cukup lama dan sekarang terus berdatangan kelompok etnik yang bervariasi tersebut. Jika dulu Krayan dihuni oleh orang Lun Dayeh saja, artinya masih sangat homogen, isu tentang hubungan antaretnik tidak menjadi bagian yang penting dan bahkan isu tentang identitas juga sering terlupakan jika kelompok etnik tidak berdampingan atau berhadapan dengan kelompok lain. Kini kedua isu tersebut, yakni etnisitas dan identitas menjadi menarik untuk dikaji, terutama karena wilayah perbatasan sering menjadi tempat transit bagi para pendatang dari berbagai penjuru, serta terus adanya ketergantungan dengan masyarakat seberang, yaitu masyarakat Serawak-Malaysia Timur.

Sejak dulu masyarakat Lun Dayeh selalu berhubungan dengan orang-orang Lun Bawang-Serawak. Mereka bahkan sering dianggap berasal dari satu kelompok dimana mereka menggunakan bahasa yang sama dan dimengerti satu sama lainnya (lihat Ardhana dkk, 2004). Hubungan antara orang-orang Lun Dayeh dan Lun Bawang bisa digambarkan “on and off” karena disatu pihak mereka berhubungan erat karena mereka banyak yang berkerabat. Sedangkan berbagai isu ekonomi, seperti isu gate dan fee (RM 5 atau sekitar Rp 10.000,-) membuat orang-orang Lun Dayeh sering merasa tertekan dengan orang-orang Lun Bawang, terutama yang bertempat di sekitar gate tersebut. Hubungan sosial dan keagamaan antara kedua masyarakat sangat erat karena tidak jarang mereka saling mengunjungi pada berbagai acara keagamaan maupun acara keluarga. Namun, hubungan ekonomi karena perdagangan yang pada dasarnya orang-orang Lun Dayeh tergantung pada masyarakat Lun Bawang di Ba Kelalan, Serawak sering membuat berbagai gejolak yang kurang menyenangkan.

Di Krayan sendiri, belakangan ini semakin banyak pendatang yang bermukim, dan sebagian besar tidak mendaftarkan kedatangannya. Krayan sering berfungsi sebagai pos untuk pelarian para pekerja Indonesia yang ilegal atau yang memiliki masalah dengan taoke di Malaysia, misalnya tidak dibayar gajinya. Selain itu, Krayan juga dijadikan tempat mengadu nasib bagi para pendatang yang mencoba untuk menjadi pedagang, pengusaha maupun buruh. Misalnya saja kebanyakan orang Jawa yang datang bekerja sebagai buruh, petani, dan pedagang. Para petani ini umumnya menikah dengan penduduk setempat, orang Lun Dayeh. Sedangkan para buruh umumnya tinggal sementara, tetapi ada juga yang kemudian menetap di Krayan.

Hubungan antarkelompok etnik sangat penting untuk dipahami meskipun masyarakat Krayan masih tergolong didominasi oleh kelompok etnik Lun Dayeh sedangkan kelompok lain jumlahnya sedikit. Namun demikian, bukan berarti hal ini sepi tanpa ada persoalan dalam kaitannya dengan hubungan antar kelompok etnik tersebut. Memang pada umumnya masih dapat dikatakan kehidupan mereka rukun dan harmoni, tetapi pertanyaannya akankah hal itu terus berlangsung jika hal-hal yang bisa menimbulkan konflik tidak diantisipasi.

Kekhawatiran dari para penduduk asli muncul ketika misalnya banyak dari pendatang yang membeli tanah di daerah Krayan. Memang terdapat beberapa pendatang yang karena menikah dengan penduduk asli sehingga mereka memiliki tanah karena warisan ataupun kalau mereka membeli tanah memang istri/suaminya penduduk asli. Berdasarkan wawancara dengan beberapa tokoh adat, terjadi kekhawatiran dan mereka berusaha untuk menasehati para penduduk asli untuk tidak menjual tanahnya pada para pendatang yang belum tentu menetap selamanya di Krayan. Kekhawatiran tersebut dikarenakan tanah di Krayan semakin terbatas, terutama untuk sawah. Memang banyak tanah lainnya yang luas, tetapi para pendatang banyak yang membeli tanah-tanah yang strategis, seperti di pinggir jalan. Kekhawatiran itu juga dikarenakan masyarakat Lun Dayeh selama ini dimanjakan oleh alam dan hidup dalam kecukupan meskipun tidak bisa dikatakan berlebihan. Di satu pihak, sebagian masyarakat menyadari jika pendatang mendorong kemajuan pada masyarakat Krayan karena para pendatang gigih bekerja dan banyak yang berusaha untuk mencari sumber-sumber ekonomi yang belum terjamah oleh masyarakat disana. Pak Joseph dan beberapa orang Lun Dayeh menyadari tanpa adanya pendatang sulit bagi masyarakat untuk berkembang karena orang-orang Dayak selama ini dimanjakan dengan alam. Namun demikian, tentu sebagai masyarakat pendatang mereka diharapkan mengikuti adat yang ada di daerah tersebut karena jika tidak akan merusak tatanan yang sudah terjaga dengan baik oleh masyarakat Lun Dayeh.

Menurut informasi yang diperoleh dari masyarakat di Krayan pada umumnya pendatang mengikuti adat setempat, yakni adat masyarakat Lun Dayeh terutama yang berkaitan dengan hubungan antarmasyarakat. Bagi pendatang yang kami wawancarai mereka juga berusaha mengikuti adat setempat karena mereka menyadari sebagai pendatang seyogyanya mengikuti adat yang diterapkan di masyarakat setempat.

Masyarakat Lun Dayeh sejak dulu memiliki adat yang terus menerus dipelihara. Di wilayah tersebut terdapat 4 wilayah adat: Wilayah Adat Krayan Hilir, Wilayah Adat Krayan Hulu, Wilayah Adat Krayan Tengah, dan Wilayah Adat Krayan Darat. Setiap wilayah adat memiliki kepala adat besar yang dipilih setiap 5 tahun dengan cara pemilihan. Jadi kepala adat besar tidak dipilih berdasarkan keturunan. Dulu, hukum adat berupa oral dan orang-orang tua mengalihkannya kepada yang lebih muda secara oral. Tetapi sekarang sebagian sudah memiliki bukunya, seperti wilayah Adat Lon Taw Sungai Krayan –yang merupakan Wilayah Adat Krayan Hilir. Wilayah Adat Krayan Darat dimana kepala adat besarnya bertempat tinggal di Long Bawan juga sudah memiliki hukum adat tertulis tetapi sekarang sedang dalam proses diperbanyak untuk selanjutnya disebarluaskan. Berdasarkan wawancara dengan kepala adat besar wilayah adat Krayan Darat, pada dasarnya hukum adat tersebut mengatur berbagai urusan yang antara lain tentang: hutang-piutang, wilayah adat, perkawinan, jual beli, pencurian, pelanggaran adat istiadat, penghinaan, fitnah, ternak peliharaan, perzinahan, menghilangkan nyawa, kecelakaan, kerusakan harta benda bergerak, perbatasan perorangan, dan berbohong.

Sebagai contoh, Forum Musyawarah Masyarakat Adat Lon Taw Sungai Krayan (2000) menerbitkan buku tentang ‘Hukum Adat Masyarakat Adat Lon Taw Sungai Krayan’ yang menjadi pegangan bagi masyarakatnya. Buku ini antara lain terdiri dari ketentuan umum, masyarakat adat Lon Taw, wilayah Malt-Sk, lembaga adat, struktur lembaga adat Lon Taw, dan berbagai hukum adat yang dapat digambarkan antara lain sebagai berikut (hanya diambil beberapa bab sebagai contoh):

Bab IV: Lembaga adat, pasal 4: (1) yang dimaksud dengan Lembaga Adat adalah Forum Masyarakat Adat Lon Taw Sungai Krayan yang mewakili masyarakat adat Lon Taw Sungai Krayan, (2) Lembaga Adat Lon Taw Sungai Krayan dalam (1) terdiri dari orang dan tokoh-tokoh masyarakat yang diangkat oleh Masyarakat Adat dalam Iraw Masyarakat Adat Lon Taw Sungai Krayan, (3) Lembaga Adat Lon Taw Sungai Krayan yang dimaksud dalam (2) adalah yang melaksanakan, memberlakukan dan menegakkan Hukum Adat Lon Taw Sungai Krayan dengan seadil-adilnya dan memelihara teguh dan utuh Hukum Adat Lon Taw Sungai Krayan dengan murni

Diakui oleh Bapak Kepala Adat Besar Krayan Darat bahwa hukum adat yang mereka buat hampir serupa dengan hukum adat Lon Taw tersebut, hanya terdapat sedikit perbedaan dalam jumlah dendanya. Meskipun mereka di Krayan Darat masih dalam proses penggandaan hukum adat, mereka memiliki pegangan tentang hukum adat dan sudah menjalankan dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan tentang batas-batas tanah sering menjadi bagian yang penting dalam pembahasan adat.

Hukum adat yang berlaku di Krayan, menurut pengakuan beberapa informan, dijalankan sesuai dengan aturan yang telah ada. Pak Mal, misalnya, dengan bangga menceritakan bahwa masyarakat Lun Dayeh sejak dulu taat pada aturan adat. Ketika penelitian dilakukan, terjadi rapat-rapat adat yang membahas masalah-masalah yang muncul di sana.

Hubungan antaretnik memang relatif baik. Namun, identitas orang-orang Lun Dayeh tetap penting untuk dibahas karena kehidupan mereka tidaklah sendiri di hutan belantara, tetapi berhubungan dengan orang-orang lainnya. Identitas orang Dayak, seperti halnya Lun Dayeh, sering dikaitkan dengan kekhususan dalam hal kebudayaan, agama, dan bahasa. Di Krayan sendiri tidak hanya ditempati oleh orang-orang Lun Dayeh, tetapi banyak para pendatang dari berbagai daerah baik yang langsung datang dari Indonesia maupun orang-orang Indonesia yang datang melalui Malaysia. Mereka yang belakangan ini tidak selalu menetap di Krayan, tetapi terdapat juga orang-orang yang menetap dan akhirnya menikah dengan penduduk setempat, misalnya orang-orang Timor.

Sebagaimana dikemukakan di atas, dalam hal mata pencaharian berbagai ahli yang meneliti tentang masyarakat Dayak, mereka sering mengkaitkan masyarakat Dayak dengan sistem ladang berpindah (lihat misalnya Dove, 1988; Lebar, 1972; and Conley, 1973). Namun, hal ini tidak selalu benar karena kenyataannya terjadi hal-hal yang berbeda. Contohnya di Krayan pada umumnya masyarakat Lun Dayeh bersawah.  Identitas Dayak sebagai peladang berpindah adalah cair karena hal tersebut bukan satu-satunya karakteristik orang Dayak. Bersawah bagi masyarakat Lun Dayeh adalah sudah turun temurun. Selain bersawah, mereka memang melakukan pekerjaan-pekerjaan yang serupa sebagaimana umumnya masyarakat Dayak lainnya yang tinggal di daerah hulu. Misalnya, mereka berburu di hutan sekeliling Krayan yang memang masih sangat lebat. Mereka juga melakukan pekerjaan tradisonal lainnya yang sering dikaitkan dengan karakteristik orang Dayak, seperti memungut hasil hutan. Sebetulnya sulit dikatakan hal-hal tersebut merupakan tanda identitas Lun Dayah atau Dayak pada umumnya karena berbagai etnik di berbagai wilayah di Indonesia maupun di Asia Tenggara banyak yang melakukan hal yang serupa. Oleh karena itu, identifikasi seperti ini memang tidak bisa menjadi satu-satunya karena terdapat wilayah abu-abu dimana masyarakat lain juga memiliki karekteristik yang serupa. Orang-orang Lun Dayeh bangga dengan produksi padi yang sangat dikenal lezatnya, beras adan. Setiap kali bertemu dengan orang Lun Dayeh mereka selalu menyarankan ‘bawalah beras adan dari Krayan sebagai oleh-oleh.’ Diakui oleh beberapa orang Lun Dayeh yang mengatakan bahwa masyarakat Lun Dayeh memang kurang pandai bertanam sayur-mayur karena mereka mudah mencari sayur dari hutan, seperti sayur pakis. Tetapi mereka juga beragumentasi jika sayur kebanyakan ditanam mereka kesulitan menjualnya mengingat transportasi sangat sulit.

Selain mata pencaharian yang khusus, pola tempat tinggal juga sering menjadi bagian penting sebagai tanda dari identitas budaya kelompok tertentu. Misalnya orang-orang Dayak, secara tradisional, sering dikaitkan dengan rumah panjang atau lamin. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dahulu dan sebagian sampai sekarang masyarakat Dayak tinggal di rumah panjang (lihat Geddes, 1968; Lebar, 1972; Whittier, 1978; dll). Geddes,1968), misalnya, mengatakan bahwa bangunan rumah panjang merupakan sebuah indikasi cara hidup yang khas orang Dayak Darat. Sementara, Whittier (1978) melihat orang-orang Kenyah sering mendirikan rumah panjangnya di bantaran sungai. Para ahli tersebut juga mengilustrasikan bentuk-betuk rumah panjang beserta siapa saja yang tinggal di bilik-bilik rumah panjang tersebut. Masyarakat Lun Dayeh dulu juga tinggal di rumah panjang, tetapi kini rumah panjang tinggal kenangan karena terjadi perubahan besar dimana masyarakat diharapkan untuk tinggal di rumah-rumah individu yang dianggap oleh pemerintah lebih bersih dan sehat. Sebagaimana diceritakan oleh beberapa tetua Krayan, dikatakan bahwa rumah panjang dianggap kotor oleh pemerintah karena di bawahnya terdapat anjing dan hewan lainnya. Selain itu rumah panjang dianggap tidak sehat. Perubahan pola tempat tinggal tidak hanya terjadi di Krayan, tetapi di mana-mana di Kalimantan Timur karena pada waktu itu secara seragam kebijakan pemerintah mengubah rumah individu sebagai rumah yang lebih sehat (Maunati, 2004). Memang, rumah panjang menjadi penting ketika muncul pariwisata karena kekhasan orang-orang Dayak harus ditonjolkan sehingga banyak kasus rumah panjang dipelihara untuk pariwisata, tetapi masyarakat Dayak tetap memiliki rumah individu.

Di Krayan sendiri, pola tempat tinggal masyarakat Lun Dayeh tidak lagi di rumah panjang, tetapi di rumah individu. Sulit untuk membedakan bahwa satu rumah merupakan rumah orang Dayak dengan rumah-rumah orang-orang non-Dayak. Kembali, isu identitas dengan menonjolkan pola tempat tinggal menjadi problematis. Namun, hal ini tidak berarti mereka bukan orang Lun Dayeh karena identitas sering hanya mengambil elemen-elemen tertentu dari budaya suatu kelompok. Misalnya, meskipun orang-orang Lun Dayeh memiliki pola tempat tinggal yang serupa dengan orang Bugis, identitas mereka tidak sama karena orang-orang Lun dayeh memiliki cara hidup yang berbeda dan umumnya menganut agama yang berbeda pula dengan orang-orang Bugis. Oleh karena itu, penanda identitas dapat berubah tergantung dari situasi dan konteks tertentu. Selain itu, identitas juga tergantung dengan pengakuan kelompok itu sendiri.

Sistem kekerabatan sering menjadi kunci untuk memahami identitas suatu kelompok etnik. Para antropolog sering menggambarkan kekhasan kekerabatan sebagai salah satu tanda dari kelompok pemiliknya ketika dikaitkan dengan pertanda identitas. Kekerabatan di antara kelompok Dayak, seperti Kenyah (lihat Whitteir, 1978), Dayak Maloh (lihat King, 1978), Iban (lihat Freeman, 1960), Ngaju (lihat Schiller, 1996) dan Dayak Maanyan (lihat Lebar, 1972) bersifat bilateral. Whittier (1978) dan Conley (1973) menggambarkan orang Kenyah memperhitungkan kerabatnya secara bilateral, dengan penekanan yang relatif seimbang pada garis ibu (matrilineal) dan garis ayah (patrilineal). Masyarakat Lun Dayeh maupun Lun Bawang memiliki sistem kekerabatan bilateral dimana mereka menelusuri keluarga dari sisi laki-laki dan perempuan (Ardhana dkk, 2004).

Organisasi sosial dan politik di Krayan bisa digambarkan sebagai berikut. Krayan memiliki 4 wilayah adat, yakni Adat Krayan Darat, Adat Krayan Hilir, Adat Krayan Hulu, dan Adat Krayan Tengah. Pemilihan Kepala adat besar dipilih bersadar pemilu dengan suara terbanyak. Dalam kaitan dengan politik, pada umumnya masyarakat yang multietnik tidak terjadi perbedaan yang menonjol. Pada umumnya masyarakat Lun Dayehlah yang berpartisipasi di bidang politik dibandingkan dengan para pendatang dari Jawa, Bugis, dan lainnya. Hal ini tidak mengherankan karena mereka sebagai kelompok mayoritas lebih memiliki masa pendukung dibandingkan dengan segelintir masyarakat pendatang. Bagi mereka yang sudah menikah dengan orang Lun Dayeh sering merasa posisinya abu-abu (gray area) karena mereka belum juga dianggap bagian penuh dari penduduk asli. Misalnya saja, Pak Ur menceritakan pengalamannya menjelang Pemilu salah satu pidato dari tokoh dari PUSAKA (Penduduk Asli Kalimantan)  mengatakan bahwa ‘terserah mereka mau yang menganggap sebagai penduduk asli atau tidak.’

Namun, perkembangan selanjutnya PUSAKA lebih banyak bergerak dalam bidang kebudayaan. Misalnya, mengadakan acara ‘PEMUNG ERAU PENGERANI’ tahun 2006. Artinya Pemung Erau Pengerani sendiri adalah pesta sehabis panen, pesta rakyat. Pesta rakyat ini juga bermakna lebih dalam karena ini merupakan bagian dari identitas masyarakat Lun Dayeh. Ini merupakan upaya untuk menggali berbagai budaya tradisional milik orang Lun Dayeh. Misalnya,  dalam acara pesta rakyat Pemung Erau Pengerani tahun 2006 ini diadakan berbagai acara yang antara lain: pertandingan tata boga yang meliputi pertandingan masakan tradisional seperti bakar daging, masak dalam bambu, yang intinya adalah masakan yang sejak dulu menjadi masakan tradisional rakyat Krayan dan bersumber dari hasil hutan. Kemudian ada pertandingan hasil panen padi terbanyak, untuk mendorong masyarakat agar lebih kreatif membuka lahan. Sedangkan pameran dan kesenian diadakan, agar kaum muda Lun Dayeh kembali mengenal dan mengetahui dan sekaligus bisa membuat kerajinan tangan yang sudah dibuat sejak nenek moyang mereka ada. Kerajinan tangan itu antara lain, membuat patung, membuat sumpit, membuat ‘bekang’ (bakul kayu rotan), membuat saung (topi tradisional), dan ‘agak’ (tampi beras).

Pada dasarnya tujuan diadakannya erau adalah untuk membangkitkan kembali tradisi-tradisi nenek moyang yang sudah hilang atau dilupakan oleh masyarakat Lun Dayeh, utamanya generasi muda. Ada rasa kegelisahan dikalangan orang-orang tua jika tradisi-tradisi tersebut hilang karena derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang tidak luput mempengaruhi masyarakat Lun Dayeh yang tinggal di pelosok sekalipun. Menurut Pak Alay, tokoh masyarakat di Long Bawan, Sejak tahun 1932 kebudayaan Lun Dayeh sudah banyak yang hilang karena masuknya agama Kristen oleh misi Amerika. Pada waktu itu, kebudayaan-kebudayan Lun Dayeh tidak boleh dipakai lagi. Akhirnya kebudayaan Lun Dayeh banyak yang hilang. Akhir-akhir ini masyarakat Lun Dayeh menyadari betapa pentingnya kebudayaan itu bagi masyarakat maka diangkat kembali kebudayaan-kebudayaan itu. Pariwisata yang dikembangkan belakangan ini juga menjadi salah satu pendorong untuk mengembangkan tradisi-tradisi yang telah lama ditinggalkan oleh masyarakat Lun Dayeh.

Kebudayaan yang bisa menjadi peneduh rasa dikembangkan di sana karena hal tersebut dianggap tidak mudah menjadi alat pemecah, tetapi pemersatu bagi masyarakat. Misalnya, PUSAKA berusaha bergerak dibidang penggalian dan pengembangan budaya untuk maksud menumbuhkan kecintaan pada tradisi nenek moyang tetapi juga untuk mempersatukan masyarakat.

Tanda-tanda identitas etnik bisa dilihat dari berbagai aspek, misalnya budaya materi, agama, dan bahasa. Tetapi tanda-tanda identitas bisa berubah tergantung dengan situasi dan konteks tertentu. Misalnya, Eriksen (1993) mengatakan bahwa identitas akan muncul ketika suatu kelompok merasakan adanya ancaman. Selain itu, ketika kita berbicara tentang identitas kelompok etnik tertentu selalu terkait dengan kelompok lainnya.

 

Identitas dipercaya merupakan hasil konstruksi sosial. Artinya, identitas itu tergantung dengan kondisi dan cair. Misalnya, identitas Lun Dayeh dulu terkait dengan rumah panjang dan animisme, tetapi sekarang identitas Lun Dayeh dikaitkan dengan agama Kristen. Rumah panjang adalah masa lalu karena mereka sudah tidak tinggal di rumah panjang, tetapi bukan berarti mereka bukan orang Lun Dayeh lagi, mereka tetap orang Lun Dayeh meskipun tinggal di rumah individu. Namun, tanda-tanda yang menjadikan mereka diidentifikasikan sebagai orang Lun Dayeh atau Dayak secara umum sebagian telah berubah. Penggalian budaya tradisional yang dulu diasosiasikan sebagai milik orang Lun Dayeh juga dilakukan untuk mencari jati diri orang Lun Dayeh. Hal seperti ini adalah tidak mengherankan karena identitas itu sendiri dibentuk. Proses pembentukan identitas sangatlah kompleks karena di sini peran kekuatan ekonomi dan politik juga sering bermain sebagaimana terlihat dalam pembentukan identitas Lun Dayeh.

Yekti Maunati

Peneliti Pusat Penelitian Sumber Daya Regional

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PSDR-LIPI)

 

Daftar Pustaka

Ardhana, I Ketut dkk (2004) Border of Ethnicity and Kinship: Cross Border Relations between the Kelalan Valley Serawak and the Bawan Valley, East Kalimantan, Jakarta: PSDR-LIPI & SDI.

Barth, Fredrik (1969) Introduction. Dalam Fredrik Barth (editor), Ethnic Groups and Boundaries: The Social Organization of Culture Difference. Bergen-Oslo: Universitets Forlaget. London: George Allen & Unwin.

                            (1989) The Analysis of Culture in Complex Societies. Ethnos, 54 (3-4): 121-142.

Conley, William. W, (1973) The Kalimantan Kenyah: A Study of Tribal Conversion in Terms of Dynamic Cultural Themes. A dissertation of Doctor of Missiology, School of World Mission, Ann Arbor, Michigan: University Microfilms, A XEROX Company.

Coomans, Mikhail (1987) Manusia Daya: Dahulu, Sekarang, Masa Depan. Jakarta: PT Gramedia.

Dove, Michael R (1988) Introduction: Traditional Culture and Development in Contemporary Indonesia. Dalam Michael R. Dove (editor), The Real and Imagined Role of Culture in Development: Case Studies from Indonesia. Honolulu: University of Hawaii Press.

 . (1988) Sistem Perladangan di Indonesia: Suatu Studi Kasus dari Kalimantan Barat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Eriksen, Thomas Hylland (1993) Ethnicity & Nationalism: Anthropological Perspectives. London dan Boulder, Colorado: Pluto Press.

Forum Musyawarah Masyarakat Adat Lon Taw Sungai Krayan (2000) Hukum Adat Masyarakat Adat Lon Taw Sungai Krayan. Tarakan: Forum Musyawarah Masyarakat Adat Lon Taw Sungai Krayan.

Freeman, J.D (1960) The Iban of Western Borneo. Dalam George Peter Murdock (editor), Social Structure in Southeast Asia. Viking Fund Publication in Anthropology number twenty-nine. New York: Wenner-Green Foundation for Anthropological research, Inc.

                            (1968) On the Concept of the Kindred. Dalam Paul Bohannan dan John Middleton (editor), Kinship and Social Organization. Garden City, New York: The Natural History Press.

                            (1979) Severed Heads that Germinate. Dalam R.H. Hook (editor), Fantasy and Symbol: Studies in Anthropological Interpretation. London, New York, dan San Francisco: Academic Press.

Geddes, W.R. (1968) Nine Dayak Nights. London, Oxford, dan New York: Oxford University Press.

Hall, Stuart (1992) The Question of Cultural Identity. Dalam Stuart Hall, David Held, dan Tony McGrew (editor), Modernity and its Future. Cambridge: Polity Press in association with Open University.

Ju-Lan Thung dan Maunati, Yekti (2004) “Part A: The (Re) construction of the ‘Pan Dayak’ identity in Kalimantan. Dalam The (re) construction of the ‘Pan Dayak’ Identity in Kalimantan and Serawak: A Study on Minority’s Identity, Ethnicity and Nationality”, Jakarta: PMB-LIPI.

Kahn, Joel S. (1980) Minangkabau Social Formations: Indonesian peasant and the world-economy. Cambridge, London, New York, New Rochelle, Melbourne, and Sydney: Cambridge University Press.

                         . (1993) Constituting the Minangkabau: Peasants, Culture and Modernity in Colonial Indonesia. Providence/Oxford: BERG.

                         . (1995) Culture, Multiculture, Postculture. London, Thousand Oaks, and New Delhi: SAGE Publications.

King, Victor T. (1993) The Peoples of Borneo. Oxford UK & Cambridge USA: Blackwell.

                            (1993) Tourism in Borneo: General Issues. Dalam Victor T. King (editor), Tourism        in Borneo: Issues and Perspectives. Papers from the second Biennial International Conference Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia, July 1992, Borneo Research Council Proceedings Series.

King, Victor T. and Wilder, William D (2003). The Modern Anthropology of South-east Asia, London and New York: Routledge Curzon.

Kipp, Rita Smith (1993) Dissociated Identities: Ethnicity, Religion, and Class in an Indonesian Society. The United States of America: The University of Michigan Press.

Koepping, Elizaberth Whinfrey (t.t) Friendship and Feud in Late 19th Century Borneo, Working Paper No 49.

Lebar, Frank M. (1972) Ethnic Groups of Insular Southeast Asia, Volume I: Indonesia, Andaman Islands, and Madagascar. Frank M. Lebar (editor and compiler). New Haven: Human Relations Area Files Press.

Lindblad, J. Thomas (1988) Between Dayak and Dutch: The Economic History of Southeast Kalimantan 1880-1942. Dordrecht-Holland/Providence-U.S.A.: Foris Publications.

Maunati, Yekti (2000), Contesting Dayak Identity: Commodification and the Cultural Politics of Identity in East Kalimantan, Dissertation, La Trobe University, Melbourne, Australia.

                         . (2004) Identitas Dayak: Komodifikasi dan Politik Kebudayaan, Yogyakarta: Lkis.

McKinley, Robert (1976) Human and Proud of It! A Structural Treatment of Headhunting Rites and the Social Definition of Enemies. Dalam G.N. Appell (editor), Studies in Borneo Societies: Social Process and Anthropological Explanation. Centre for Southeast Asian Studies, Northern Illinois University, Special Report No. 12.

Picard, Michel (1997) Cultural Tourism, Nation-Building, and Regional Culture: The Making of a Balinese Identity. Dalam Michel Picard & Robert E. Wood (editor), Tourism, Ethnicity, and the State in Asian and Pacific Societies. Honolulu: University of Hawai’i Press.

Schiller, Anne (1996) An “Old” Religion in “New Order” Indonesia: Notes on Ethnicity and Religious Affiliation. Sociology of Religion, 57 (4): 409-417.

Statistik Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan (2004)

Vickers, Adrian (1989) Bali: A Paradise Created. Ringwood: Penguin Books Australia Ltd.

Whittier, Herbert L. (1973) Social Organization and Symbols of Social Differentiation: An Ethnographic Study of the Kenyah Dayak of East Kalimantan (Borneo). PhD dissertation, Michigan State University.

                            . (1978) The Kenyah. Dalam Victor T. King (editor), Essays on Borneo Societies. Oxford: Oxford University Press, Hull Monographs on South-East Asia No 7.

Wood, Robert E. (1997) Tourism and the State: Ethnic Options and Constructions of Otherness. Dalam Michel Picard & Robert E. Wood (editor), Tourism, Ethnicity, and the State in Asian and Pacific Societies. Honolulu: University of Hawai’i Press.

                        . (1998) Touristic ethnicity: a brief itinerary. Ethnic and Racial Studies, March, 21 (2): 218-241.


[1] Lihat King 1982; Vickers 1989; Hall 1992; Eriksen; Kipp 1993; Kahn 1993,1995; Picard 1997; Wood 1998; King and Wilder 2003.

[2] Data tahun 2005 sedang dalam proses sehingga belum bisa diinformasikan.

[3] Terdapat perbedaan jumlah penduduk dan jumlah penganut agama karena perbedaan tahun perhitungan. Untuk jumlah penganut berdasarkan data terakhir dan dikumpulkan dari catatan gereja.

[4] Menurut masyarakat Krayan, di Serawak dan Malaysia pada umumnya padi adan diakui sebagai padi Bario.


Beranda  |  Kategory: Edisi 14 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia