Balian, Fenomena Pedalaman yang Masih Eksis

10 - Oct - 2007 | Amir Sodikin | No Comments »

Balian, namanya hampir tenggelam oleh gemerlap dunia modern. Metode pengobatannya dianggap mistik belaka, dan dicibir oleh dunia kedokteran modern.  Namun, seiring beragamnya kajian psikologi sosial, Balian ternyata mendapat pengakuan ilmiah sebagai salah satu metode pengobatan kolektif psikososial, yang masih bertahan di masyarakat pedalaman Kalimantan.

Ritual-ritual Balian berusaha menembus ruang bawah sadar warga, mempengaruhi pikiran warga untuk membebaskan diri dari rasa takut akan penyakit fisik maupun psikis. Kekuatan warga anggota komunitas dirangsang, dijadikan penyembuh alami. Balian berupaya mengangkat kepercayaan komunitas, tidak hanya individu, dan berusaha mengintegrasikan ingatan-ingatan pasien ke dalam tatanan kosmik untuk memperbaiki harmoni yang retak atau disharmoni. Mereka percaya ketidakharmonisan atau ketidakseimbangan sosial dan alam sekitar adalah sumber penyakit. Memang ada reduksi dalam cara memandang dan menempatkan sosok Balian, namun peran Balian sebagai penyembuh hingga kini tidak bisa diremehkan oleh birokrat ataupun institusi modern.  

Bergelut dengan Identitas Balai

Malam mulai merayap menutupi perbukitan Pegunungan Meratus di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Jalan setapak menuju Balai Kacang Parang yang sudah didaki satu jam lebih itu belum menemukan ujungnya, justru semakin lama semakin tertutup ilalang, menit demi menit bukannya lebih dekat tapi justru terasa masih jauh.

Tersesat lagi, jalanan setapak sudah tidak terlihat lagi, tidak ada perkampungan terdekat yang bisa ditanyai, yang ada hanya suara binatang malam. Udara semakin dingin dan kabut mulai menutupi perbukitan. Tapi untungnya, ada satu penanda untuk bisa mencapai balai itu, suara tabuhan musik gendang sayup-sayup terdengar bersama hembusan angin pegunungan. Itu pasti Balai Kacang Parang, sepertinya orang-orang sedang berlatih untuk acara aruh ganal (selamatan besar) nanti malam, upacara adat Dayak Meratus yang akan dikomandoi oleh beberapa tokoh adat atau Balian.

Satu malam ditambah satu hari, para Balian (tokoh adat yang juga bisa berfungsi sebagai penyembuh) Dayak Meratus akan memulai prosesi upacara aruh ganal (aruh= selamatan, ganal= besar). Upacara akan berlangsung sepekan dan malam itu akan dibuka dengan berbagai prosesi yang didominasi dengan membaca mantra-mantra (bamamang) sambil menari-nari (batandik) mengelilingi pusat balai (rumah besar bersama).

Beberapa Balian telah datang dari berbagai penjuru bukit, bahkan ada yang menempuh perjalanan satu hari satu malam hanya untuk bisa mencapai Kacang Parang. Hanya berbekal undangan dari mulut ke mulut, balai di ujung bukit nan sepi itu sudah dipenuhi perwakilan dari belasan balai yang ada di sekitar Pegunungan Meratus. Inilah rapat besar para warga Dayak Meratus sekaligus pertemuan spiritual para Balian yang hingga kini masih eksis.

Para Balian memulai prosesi aruh pada Sabtu malam sekitar pukul 21.00 dan baru keesokan harinya, sekitar pukul 16.00 prosesi pembukaan selesai. Hampir 19 jam tanpa istirahat, tanpa tidur, mereka menjalankan prosesi untuk memulai aruh ganal dengan diiringi tabuhan gendang.

“Mereka melakukan prosesi bamamang dan batandik seperti itu selama enam hari enam malam,” kata seorang warga. Entah apa yang dirasakan para Balian sehari semalam ber-batandik. Namun, yang jelas seusai prosesi, Ayal, salah satu Balian yang juga pembakal (sebutan kepala desa) di Malaris masih terlihat segar, bahkan melanjutkan tugasnya sebagai pembakal untuk meninjau sekolah yang akan dipindahkan.

Sulit dipahami. Padahal, para Balian tersebut rata-rata sudah berumur diatas 40 tahun. Bahkan, ada yang mengaku berumur 104 tahun seperti Udas, warga Malaris yang menjadi damang (sebutan pemimpin beberapa penghulu adat) Hulu Sungai Selatan. Entah dari mana mereka mendapatkan energi untuk batandik siang malam sambil dengan suara lantang mengumandangkan mantra-mantra dalam bahasa Balian. Namun, yang jelas mereka melakukan prosesi itu tanpa bantuan minuman berenergi. “Tanpa keyakinan mereka tak akan bisa melakukan hal itu,” kata Harnelis, warga Dayak Meratus dari Loksado yang menyaksikan upacara. Harnelis menekankan, aruh diadakan murni dari keyakinan warga, bukan mengada-ada. “Apa pun yang terjadi, apakah pemerintah peduli atau tidak, apakah ada yang menonton atau tidak, mereka tetap menggelar aruh,” katanya.

Kedatangan unsur pemerintah dalam upacara aruh saat ini memang menjadi isu utama para tokoh adat Dayak Meratus. Walaupun hanya simbol, bagi mereka kedatangan unsur pemerintah ke balai merupakan kehormatan sekaligus pengakuan bahwa mereka “ada.” Bagi mereka, aruh merupakan identitas eksistensi. Dalam bahasa orang kota, pesta aruh, terutama aruh ganal merupakan hari raya besar Dayak Meratus. Aruh biasanya digelar tiga kali dalam setahun, yaitu aruh ganal yang merupakan pesta besar mensyukuri panen sekaligus merupakan tahun tanam baru, aruh untuk memulai tanam, dan aruh untuk memulai panen. Pada acara itu mereka memakai pakaian baru, makan enak, dan semua libur bekerja.

Di tengah aruh, tepatnya saat tengah malam, ketika sebagian warga tidur, berbagai prosesi pengobatan digelar. Semua warga berada di tepi pusat balai untuk menerima pengobatan dari para Balian. Laki-laki, perempuan, anak-anak, hingga orang dewasa yang merasa sakit semua mendekat ke pusat balai. Dalam beberapa ritual, mereka yang sakit dibawa oleh sebuah gerobak kecil yang sengaja dibuat untuk pengobatan. Selain pengobatan individu, para Balian juga memberikan pengobatan yang bersifat massal kepada semua orang yang datang. Bukan sekadar mengobati individu, prinsip kerja para Balian juga berfungsi kolektif mengobati masyarakat.

Dayak Meratus merupakan warga yang paling sopan dibanding suku lain dan menaruh hormat kepada tamu luar. Warga balai adat memang merindukan kedatangan orang luar, termasuk pemerintah. Selama ini, bagi sebagian warga, kedatangan orang luar adalah simbol pengakuan keberadaan mereka.Warga Dayak Meratus yang sangat menjunjung kesopanan, kini terjebak dalam stereotip negatif yang dibuat masyarakat kota terhadap sebutan Dayak. Warga Dayak Meratus berharap warga kota mau mengubah persepsi dan menganggap Dayak Meratus seperti warga biasa lainnya.

Perempuan Bertahan

Butuh waktu lima hari dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk menelusuri sungai, sehingga butuh perbekalan cukup untuk bisa bertahan hingga di hulu sungai. Sampai akhirnya berhasil menjejakkan kaki di kampung terakhir sungai Murung, Kalimantan Tengah yang merupakan hulu sungai Barito. Keterisolasian yang lama serta kondisi alam yang keras, perebutan sumber daya hutan dan sarang walet, membuat warga kota harus mendefinisikan ulang bagaimana sebuah masyarakat bekerja tanpa tersentuh pemerintahan modern. Inilah potret masyarakat yang jarang berinteraksi dengan dunia luar: penuh dengan misteri. Salah satu hal yang menarik dan masih menjadi penyatu kata sepakat untuk warga di desa itu adalah prosesi adat yang selalu dipimpin oleh Balian. Baik Balian yang berfungsi sebagai imam sebuah ritual religi maupun Balian penyembuh, semua memiliki pengaruh kuat terhadap masyarakat di ujung sungai itu. Semua warga tunduk pada norma yang dibuat oleh Balian, dan tak ada yang berani melanggar norma yang telah disepakati adat dan Balian.

Menariknya, profesi Balian di Balai Kacang Parang didominasi oleh perempuan. Dua Balian sebagai imam sebuah prosesi keagamaan dan satu Balian penyembuh. “Di provinsi lain di Kalimantan, Balian perempuan ini sudah langka seiring masuknya agama-agama besar yang membawa konsep imam laki-laki,” komentar Marko Mahin, seorang peneliti dan budayawan. Dalam situasi kampung yang rawan konflik akibat sering terjadi perebutan sarang walet baik antarwarga maupun antarsuku, kehadiran Balian yang dibawakan oleh seorang perempuan membawa nuansa feminin di ujung Sungai Murung itu. Dalam hal pengobatan, Balian memang satu-satunya alternatif untuk penyembuhan secara individu maupun secara kolektif. Jangan bicarakan toko obat, puskesmas apalagi dokter di sini. Balian perempuan di Balai Kacang Parang kerap melakukan sebuah prosesi ritual untuk pengobatan. Saya sempat menyaksikan sebuah prosesi penyembuhan yang sedang dilakukan oleh keluarga di Balai Kacang Parang. Malam itu, di sebuah rumah kecil, asap kemenyan terus mengepul di ruangan berukuran 5 X 4 meter persegi. Saya dipandu oleh salah satu sosok laki-laki yang bernama Lukas yang dikenal tinggi hati dan suka berkelahi. Lukas di tengah prosesi tersebut menjelma menjadi pemuda yang baik ketika berada di depan masyarakatnya dan di depan seorang Balian perempuan muda. Ternyata dia tahu betul tahap-tahap prosesi yang dilakukan sang Balian.

Pengetahuan metode Balian di desa itu sudah menjadi pengetahuan umum warganya seperti halnya warga kota yang sudah mengerti akan membeli obat apa ke warung jika kepalanya merasa pusing. Pada suatu malam, seorang Balian perempuan, Indu As (35 tahun) melakukan serangkaian ritual penyembuhan. Dari Lukas inilah saya menemukan kesimpulan sementara, bahwa Balian di daerah dengan kondisi alam yang keras itu seperti oase yang membawa kesejukan dan harapan bagi warga di komunitas itu. Lukas yang sempat mengancam dengan tombak berburu ketika terjadi salah paham soal pelanggaran adat, menjadi ramah dan menyenangkan di depan prosesi penyembuhan ala Balian. Balian perempuan itu mengasapi bojah tawur atau beras tawur dalam bahasa Dayak Ot Danum. Ia terlihat membaca mantra dan dalam mantranya menuturkan asal mula beras sambil memohon kepada sang beras. Balian yakin beras itu bisa menjadi utusan atau bidadari yang akan mengajukan permohonan kepada para sangiang atau leluhur untuk membawa spirit pengobatan ke rumah kecil yang penghuninya sedang sakit itu. Saat itu, Balian Indu As sedang mengobati istri Zailani (26 tahun), warga Tumbang Topus, Kecamatan Sumber Barito Murung Raya, Kalimantan Tengah.

Pasien dan Balian berada di tengah ruangan sementara belasan warga menyaksikan upacara itu. Masyarakat percaya, beras akan berubah menjadi tujuh bidadari (namun tak terlihat oleh mata) yang selalu siap membantu mencarikan pengobatan dengan mendatangkan daya upaya secara spiritual ke seluruh penjuru mata angin. Enam perempuan pergi ke sana ke mari mencari leluhur atau sangiang yang akan mengobati, sementara satu putri tetap tinggal di tempat.

“Indu As yang menjadi perantara ini bisa saja berbahasa Dayak Ot Danum, Dayak Ngaju, Dayak Punan, atau Dayak Murung, bisa juga Banjar tergantung leluhur yang masuk ke tubuhnya. Balian sebenarnya tidak tahu banyak bahasa. Namun, karena dia dimasuki roh lain dia bisa bicara sesuai dengan bahasa roh yang masuk,” ujar Lukas. Roh telah memasuki tubuh Indu As. Tangannya terlihat menyisir rambut panjang. Roh yang masuk ke tubuh Balian itu katanya memang seorang nenek berambut panjang. Mirip seperti kisah Lukas sebelum Indu As mengalami trance. Tangannya kemudian mengambil batu kait yang telah disiapkan untuk memulai mendiagnosa penyakit. Inilah prosesi inti yang sedang dinanti-nantikan.

Tiba-tiba, terdengar suara lain dari mulut Indu As dalam bahasa Ot Danum, “Kalian ini sedang ngapain?” tanya leluhur itu melalui mulut Basie, sebutan untuk Balian di hulu Sungai Barito, Kalimantan Tengah. “Saya minta pengobatan untuk istri saya,” jawab Zaelani, warga yang berada di sekitar pengobatan. “Sakit apa dia,” tanya Basie. “Dadanya yang sakit, sulit bernafas,” jawab Zaelani. “Aku minta minta gula merah untuk syaratnya,” pinta suara nenek itu yang kemudian disodori oleh warga dengan gula merah. Gula merah itu digunakan oleh Balian untuk mendeteksi penyakit dan dengan menggunakan sisir maka diangkatlah penyakit itu secara spiritual. “Tiap leluhur yang masuk memiliki metode pengobatan berbeda, ada yang menggunakan sisir, batu, air, tepung tawar, juga darah ayam, saya sudah hafal mereka memakai pengobatan apa saja, pada dasarnya modelnya sama, tapi kami percaya bisa menyembuhkan,” Lukas menjelaskan.

Masih Alternatif Utama

Suka atau tidak, harus dikatakan dunia kedokteran modern hingga kini tidak pernah mampu menembus pedalaman, dan warga pun tidak menyukai kedokteran modern. Inilah fakta ketidakberdayaan kedokteran modern dan juga minimnya daya jangkau pemerintah hingga ke pedalaman. Ritual Balian hingga kini masih menjadi alternatif utama di pedalaman Kalimantan. Tiap provinsi memiliki variasi ritual yang berbeda namun intinya hampir sama. Di komunitas Dayak Meratus Kalimantan Selatan, pengobatan Balian dilakukan bersamaan upacara selamatan atau baaruh. Di Kalimantan Tengah, upacara Balian bisa digelar kecil-kecilan seperti yang dilakukan pada keluarga Zailani di atas.

Hadirnya Balian di pedalaman bukanlah karena keterpaksaan, melainkan karena menjawab kebutuhan. Ketidakhadiran kedokteran modern ke pedalaman bukanlah penolakan, tetapi lebih karena lemahnya daya jangkau sistem kedokteran modern. Keterisolasian dan keterpencilan membuat warga pedalaman menggunakan pengobatan kuno. Semua jenis penyakit hanya mengandalkan Balian karena umumnya tak ada mantri apalagi dokter di daerah itu. Ritual Balian turun-temurun di bumi Kalimantan hingga kini masih bisa disaksikan terutama di daerah yang belum memiliki sistem pengobatan kedokteran modern.

Balian dianggap mampu membangun hubungan dengan dunia roh. Balian percaya manusia merupakan bagian tidak terpisahkan dari suatu sistem yang tertata dan semua penyakit yang ada adalah konsekuensi dari disharmoni dengan tatanan kosmik. Penyakit ditafsirkan sebagai akibat perilaku yang tidak harmoni terhadap alam. Karena itu terapi Balian menekankan pada pemeliharaan keseimbangan atau harmoni alam raya. Di dalam hubungan manusia, dan di dalam hubungan dengan dunia roh. Dalam pengobatan Balian, pasien sebagai individu tidak terlalu dipentingkan. Justru situasi sosial yang menjadi tolak ukur diagnosa penyakit dan lebih penting dibanding faktor-faktor fisik atau psikologis. Pencarian sebab dan pengungkapan diagnosa serta komunikasi intensif dengan pasien atau keluarga pasien menjadi lebih menonjol dibanding terapi sebenarnya.

Terapi Balian dalam beberapa kasus dianggap mengikuti pendekatan psikosomatik (Yunani, psyche= jiwa dan soma= tubuh).  Pendekatan ini menggunakan teknik-teknik psikologis pada penyakit-penyakit fisik. Tujuannya berupaya mengintegrasikan kembali ingatan-ingatan pasien ke dalam tatanan kosmik yang benar. Ritual-ritual penyembuhan itu konon lebih untuk mengangkat pertentangan-pertentangan dan perlawanan-perlawanan bawah sadar ke alam sadar.  Di alam sadar pertentangan dan perlawanan akan mendapat penyelesaian baik oleh pasien maupun oleh keluarganya. Hubungan yang kuat antara penyembuh dengan penderita menjelma menjadi kekuatan supranatural yang menjadi energi penyembuh (Kompas, 8 September 2005).

Ritual-ritual Balian berusaha menembus ruang bawah sadar warga, mempengaruhi pikiran warga untuk membebaskan diri dari psikologi ketakutan akan penyakit fisik maupun psikis. Kekuatan warga anggota komunitas dirangsang, dijadikan penyembuh alami. Balian berupaya mengangkat kepercayaan komunitas, tidak hanya individu, dan berusaha mengintegrasikan ingatan-ingatan pasien ke dalam tatanan kosmik untuk memperbaiki harmoni yang retak atau disharmoni. Mereka percaya ketidakharmonisan atau ketidakseimbangan sosial dan alam sekitar adalah sumber penyakit.

Konsepsi di atas diungkapkan sejalan dengan dinamika dasar psikoterapi modern seperti yang sering disampaikan dalam literatur karya filsuf Fritjof Capra. Capra berpendapat, metode pengobatan tradisional itu disadari atau tidak telah menggunakan teknik-teknik terapeutik semacam kebersamaan kelompok, psikodrama, analisis mimpi, sugesti, hipnotis, pencitraan terbimbing, dan terapi psikodelik. Balian sudah mengenal teknik-teknik itu selama berabad-abad yang lalu sebelum teknik-teknik itu secara ilmiah ditemukan kembali oleh psikolog modern. Namun, tentu saja ada perbedaan antara pendekatan psikoterapi modern dengan pendekatan kuno Balian. Psikoterapi modern, menurut Fritjof Capra, membantu pasien dengan membangun suatu mitos individu dengan elemen-elemen yang diambil dari masa lampau pasien, sementara pengobatan semacam Balian memberi pasien suatu mitos sosial yang tidak terbatas pada pengalaman-pengalaman individu. Konsep pengobatan Balian tidak bekerja pada bawah sadar individu pasien, namun lebih dari itu dia bekerja pada bawah sadar sosial yang kolektif dan dimiliki seluruh komunitas.

Pendekatan Balian dalam memandang tubuh manusia melampaui pendekatan mekanistik kedokteran biomedis yang memandang tubuh manusia secara parsial. Secara tidak sengaja, semangat pencarian pengobatan Balian dapat mengajarkan tentang dimensi sosial suatu penyakit yang selama ini diabaikan dan dilupakan banyak kalangan terutama oleh kedokteran modern.

Berabad-abad para penyembuh bekerja di dalam komunitasnya, terus melakukan pencarian penyembuhan yang dianggap primitif. Berbekal kearifan tradisional, mereka yakin penyakit merupakan konsekuensi dari kekacauan manusia yang tidak hanya melibatkan tubuh melainkan juga pikiran, gambaran dirinya, ketergantungan pada lingkungan fisik, dan sosial, serta hubungan antara manusia dengan makro kosmos. Kekayaan teknik psikologis yang digunakan Balian dengan mengintegrasikan persoalan-persoalan fisik pasien ke dalam konteks yang lebih luas itu mirip dengan terapi-terapi psikosomatik saat ini. Kedokteran Barat yang menganggap tubuh manusia sebagai mesin yang bisa dianalisis menurut bagian-bagian terkecilnya tidak memiliki pendekatan ini.

Fritjof Capra dalam berbagai literatur sering mengkritik metode pengobatan modern. Ia memaparkan, ilmu kedokteran modern sering kehilangan pandangan tentang pasien sebagai manusia dan mereduksi kesehatan menjadi keberfungsian mekanis. Manusia hanya dianggap sebagai sel-sel semata yang bekerja sesuai dengan fungsi masing-masing. Setiap kita sakit, analisis yang digunakan tergantung sel mana yang sedang menderita dan itulah yang diobati untuk bisa memberi rasa nyaman kepada sang pasien. Ilmu kedokteran tidak mengilmiahkan fenomena penyembuhan Balian yang hanya mengenal manusia sebagai satu kesatuan holistik. Psikoterapi Balian hingga kini memang masih menjadi misteri. Belum jelas betul, apakah metode yang dilakukan para Balian di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah tersebut memenuhi kaidah-kaidah psikologi modern seperti artikel-artikel yang ditulis Capra.

Ternyata kebersamaan kelompok, kedamaian internal komunitas, dan konsep harmoni dengan alam, sangat dijaga oleh para Balian dan warga komunitas yang meyakininya. Mereka senantiasa memiliki harapan lebih dan bermakna sehingga mereka bebas dari penyakit dan malapetaka sosial atau bencana alam. Jika harmoni dilanggar, maka terciptalah disharmoni dan itulah awal munculnya beragam penyakit yang biasa melanda pikiran orang-orang modern.

 Amir Sodikin

Penulis adalah pejalan dan wartawan yang sempat tinggal di Kalimanatan Selatan dan Kalimantan Timur


Beranda  |  Kategory: Edisi 14 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia