Manuskrip Bugis Assikalaibineng Menakar Seksualitas Laki-Laki Dan Perempuan

10 - Oct - 2006 | Muhlis Hadrawi | No Comments »

Kesadaran orang Bugis mengenai eksistensi seksualitas sebagai sesuatu yang fundamental[1] pada diri manusia  telah dijumpai dalam mitologi I La Galigo. Dalam cerita  I La Galigo[2] dikisahkan tentang seorang putra lajang turunan bangsawan botillangiq (langit) bernama Batara Guru yang diutus oleh Dewata (Tuhan) ke allélino (bumi) yang masih kosong sebagai penghuni pertama. Baru tujuh hari tujuh malam di bumi serta-merta Batara Guru didera perasaan “kesepian” yang tak terkira, sehingga ia memohon kepada Dewata agar diperkenankan kembali ke langit. Namun keadaan segera berubah setelah putri We Nyiliqtimo datang dari dunia bawah (uriqliu) untuk menemani sekaligus menjadi istrinya. Kesepiannya pun hilang seketika. Batara Guru pun kerasan tinggal di bumi sampai akhirnya mereka melahirkan anak-cucu sebagai cikal-bakal penghuni bumi (Luwu ).     Manuskrip atau lontara Bugis yang secara khusus mengemas masalah seksualitas sampai hal yang paling subtansif dikenal dengan nama lontara Assikalaibineng. Manuskrip ini menyajikan pengetahuan seks mulai dari konsep filosofi seks, pengetahuan alat reproduksi, tahapan atau prosedur hubungan, doa-doa, mantra-mantra, teknik perangsangan, posisi dan gaya persetubuhan, teknik sentuhan, penentuan jenis kelamin anak, pengendalian kehamilan, waktu baik dan buruk dalam  persetubuhan, tatacara pembersihan tubuh, pengobatan  kelamin, serta perilaku-perilaku  seksual lainnya (Hadrawi, 1999 dan 2006). Lontara seks Bugis ini dapat disejajarkan dengan kitab seks lain seperti Serat Centini dan Serat Nitimani dalam masyarakat Jawa, Kama Sutra pada masyarakat India, dan Ars Amatoria (The Art of Love) pada bangsa Romawi.  Tidak jauh berbeda dengan kitab seks lainnya, Assikalaibineng secara khusus juga mengajarkan aspek-aspek seksualitas sampai pada hakekat atau derajat pemahaman seksual yang paling tinggi dan ideal terhadap manusia.

          Secara historis, sejak sekitar abad XVII, tasawuf Islam telah berkembang di tengah masyarakat Bugis-Makassar. Pada saat itu, Assikalaibineng telah melembaga dalam masyarakat terutama pada kalangan bangsawan, aristokrat, dan kaum santri.  Kepemilikan pengetahuan Assikalaibineng dalam masyarakat relatif terkait dengan sistem genealogi keluarga atau kelompok tarekat keagamaan. Pewarisan pengetahuan Assikalaibineng melalui media lisan yang ditransfer kepada seseorang lazimnya dilakukan ketika ia akan memasuki perkawinan. Pengetahuan Assikalaibineng yang diperoleh itu kemudian menjadi bekal untuk praktik seks yang dianggap benar dan bermutu. Namun, sajian pengetahuan seks yang lebih lengkap dan utuh secara rinci terdokumentasi dalam lontara Assikalaibineng.

          Assikalaibineng bagi masyarakat Bugis merupakan teks yang bersifat practical knowledge, sebab pengetahuan yang ada di dalamnya dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari (Roger Tol, 1993). Dalam sistem kebudayaan Bugis ia terposisikan sebagai pengetahuan positif yang bermanfaat bagi pembinaan kehidupan seksual keluarga. Teksnya memberikan wawasan pada manusia bahwa seks tidak  sekadar berdimensi biologis, tetapi juga berdimensi psikologis, sosial, serta spiritual. Terkait dengan itu maka seks tidak sekadar dipahami dalam proporsi sebagai kesadaran biologis belaka, tetapi telah menjadi bagian dari sistem sosial yang didasari oleh seperangkat nilai agama (Islam) dan budaya Bugis.

          Kenyataan mengungkapkan bahwa teks-teks tradisional pada umumnya yang disublimasi oleh doktrin-doktrin keagamaan relatif tidak memberikan “ruang” setara dan adil bagi perempuan. Teks yang secara khusus mengandung relasi suami istri (seksualitas), kerapkali menyimpan konsep “relasi kuasa” dengan memosisikan istri (perempuan) sebagai pihak yang ternegasikan baik pada sektor domestik (rumah tangga) maupun pada sektor publik (lingkungan sosial).  Di pihak lain, laki-laki digambarkan sebagai “penguasa”, sedangkan perempuan sebagai “rakyat”. Sistem relasi yang timpang itu kemudian memunculkan potensi terjadinya tindak kekerasan terhadap kaum perempuan. Kitab Uqud al-Lujayn  karya Syaikh Nawawi dari Banten misalnya menyebutkan, laki-laki diperkenankan memukul istri jika tidak mematuhi aturan yang dikehendaki suami. Tak berbeda dengan cerita seperti I Daramatasia di Sulawesi Selatan yang juga mengandung tema yang bias jender  dengan menggambarkan perempuan sebagai makhluk lemah. Tokoh istri terposisikan sebagai “hamba” atau “pelayan” atas kebutuhan dan tirani suami. Doktrin teks seperti ini, yang dikenal bernuansa agama, secara literal turut mengambil andil mengkonstruksi ideologi yang merugikan kaum perempuan, karena mengajarkan sekaligus melegitimasi paham dominasi laki-laki terhadap perempuan.

         Tulisan ini akan  mengupas konstruksi gender secara spesifik pada fenomena seksual dalam manuskrip seks Bugis dengan berangkat dari sebuah pertanyaan: “bagaimana kedudukan laki-laki dan perempuan melalui konstruksi identitas dan peran gender dalam aktivitas seks menurut Assikalaibineng?

 

Identitas Seksualitas Laki-laki dan Perempuan Secara Biologis

Perbedaan identitas seksual laki-laki dan perempuan secara biologis menurut teori-teori kebudayaan adalah sesuatu yang sifatnya alami. Namun faktor-faktor lain seperti budaya, agama, alam, geografi, pengaruh asing, dan lain-lain turut mengonstruksi konsep relasi seksual di dalam masyarakat. Perbedaan hormonal laki-laki dan perempuan, seperti halnya dengan banyak spesies, menunjukkan karakter laki-laki  lebih agresif daripada perempuan.  Dalam perspektif biologis ini, Maxon dan Charles memberi penjelasan bahwa ekspresi genetika merujuk kepada sifat organisme biologis misalnya: struktur fisiologis, biokimia, perilaku, kemudian faktor genetika dan lingkungan.

         Terkait dengan itu, dalam perspektif fenotipe seksual (sexual phenotype), sifat atau perilaku agresifitas laki-laki  dipandang sebagai implikasi  biologis manusia yang diakibatkan oleh hormon testoteron. Perbandingan  tingkat emosional, seperti yang dilakukan Unger misalnya, mengungkapkan bahwa laki-laki (masculine) berkarakter lebih agresif dan lebih aktif daripada  perempuan. Terkait dengan perbedaan biologis tersebut, identitas dan perilaku seksual laki-laki dan perempuan juga menunjukkan perbedaan.  Pengaruhnya bagi laki-laki, selain agresifitas, juga  pada suara yang lebih besar, berkumis, berjenggot, pinggul lebih ramping, dan dada yang datar. Di pihak lain, perempuan mempunyai suara lebih bening, buah dada menonjol, pinggul relatif lebar, dan organ reproduksi yang sangat berbeda  dengan laki-laki. Ahli genetika menyimpulkan bahwa fenomena itu juga terjadi pada binatang. Pengaruh testoteron  itulah yang menyebabkan jenis jantan  lebih agresif daripada  jenis betina berikut karakter biologis lainnya.

          Anatomi kelamin laki-laki (penis) dan perempuan (vagina) secara biologis menunjukkan  bentuk  serta tugas yang berbeda. Dalam peristiwa hubungan seksual, kelamin laki-laki bertugas menembus masuk rongga vagina dan mengirim masuk kromoson atau sel-sel benih. Sebaliknya, kelamin perempuan  bertugas menunggu pemasukan dari kelamin laki-laki. Kelamin laki-laki tidak dapat berfungsi apabila tidak menegang (ereksi), tetapi tidak demikian  terhadap vagina. Vagina tetap dapat menerima  masukan atau penetrasi penis meskipun tidak  dalam keadaan birahi. Lantas bagaimana identitas kelamin laki-laki dan perempuan secara biologis terkonstruksi secara kultural  lewat media bahasa simbolik?

          Teks Assikalaibineng mengungkapkan kepada kita bahwa identitas reproduksi-biologis perempuan dan laki-laki serta-merta berimplikasi pada status dan peran seksualnya. Analogi-analogi kata bahasa Bugis yang berkaitan dengan simbol seksualitas menguatkan status seksualitas laki-laki dan perempuan pada sifat aktif dan pasif. Bahasa simbolik merujuk pada karakter seksual yang dimaksud umpamanya: bosi (hujan), mataesso (matahari), dan passampo (penutup bakul) bagi laki-laki; serta kata dareq (kebun); uleng (bulan) dan bakuq (badan bakul) bagi perempuan. Kata-kata tersebut secara semiotis mengandung implikasi gender dengan sifat maskulin dan feminim.

       Secara simbolik objek-objek di atas menunjukkan kualitas maskulin dan feminim. Kata hujan merupakan simbol untuk laki-laki dan kebun adalah simbol untuk perempuan, sehingga kualitas dua simbol ini beroposisi biner, yaitu aktif dan pasif. Fenomena hujan menyiram kebun (bumi) sebagai kualitas aktif, sedangkan kebun (bumi) disirami hujan sebagai kualitas pasif. Begitu pula sifat matahari bagi laki-laki dan bulan bagi perempuan; matahari bersifat aktif karena bersinar setiap hari, tetapi tidak demikian halnya dengan bulan karena mengalami siklus bersinar atau tidak bersinar setiap malam. Kualitas yang sama terdapat pada simbol bakul (wadah) dan penutup bakul. Pameo Bugis mengatakan “penutup yang mencari wadah, bukan wadah yang mencari penutup” artinya “laki-laki yang mencari (memilih) perempuan, bukan sebaliknya perempuan mencari laki-laki” karena pandangan adat menganggap tidak layak dan tidak etis jika yang terjadi sebaliknya.

       Konsep tersebut kemudian terimplementasi dalam sistem normatif yang bersifat konvensional, yakni pada proses perkawinan, mulai tahap awal hingga akhir, pihak laki-laki bertindak sebagai pihak yang aktif mencari, memilih, dan melamar calonnya, sedangkan pihak perempuan hanya bertindak sebagai pihak yang dicari, dipilih, dan dilamar. Jika terjadi sebaliknya, hal itu dianggap sebagai perilaku yang tidak lazim dan dapat menjatuhkan harga diri (siriq) wanita berikut keluarganya. Perilaku seperti itu dalam sistem normatif Bugis disebut dengan “polo paqbatang” artinya melanggar norma-norma adat.

 

Peran Seksual Laki-laki dan Perempuan

Secara ideologis status simbolik seksualitas pada sifat maskulin dan feminim tersebut kemudian mengondisikan laki-laki (suami) berperan lebih dominan daripada perempuan (istri) dalam hubungan seksual. Dalam arti bahwa, seorang laki-laki dikondisikan untuk berperan sebagai  laki-laki, yakni aktif. Sebaliknya, seorang perempuan  dikondisikan untuk berperan sebagai perempuan, yakni pasif.  Peran aktif-pasif ini kemudian memola relasi seksual  suami istri sebagaimana lakuan-lakuan yang tergambar dalam teks Assikalaibineng.

  Seluruh rangkaian aktifitas seksual dalam teks Assikalaibineng mulai pada tahap cumbu rayu (foreplay), tahap inti atau senggama (coitus), hingga tahap  akhir hubungan seks (pembersihan dan perawatan tubuh), mendudukkan laki-laki sebagai pihak yang mendominasi lakuan seks, sedangkan istri sebagai pihak penerima lakuan.

Dengan status seksual laki-laki yang aktif itu, Assikalaibineng menyaratkan pihak laki-laki harus memiliki pengetahuan yang cukup agar dapat melakukan hubungan seks dengan istrinya secara berkualitas. Di sisi lain, suami disyaratkan untuk berbuat bijaksana dalam menjalankan peran seksualnya. Pihak suami seharusnya memperhatikan tatacara yang baik dalam berhubungan seksual. Ia pun disyaratkan mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan seksual istri, namun pada sisi lain ia tidak mengabaikan kebutuhan seksualnya sendiri secara positif.

  Fase hubungan seksual sebagai tahap inti hubungan seks menunjukkan intensitas peran suami yang aktif serta menjadi  pengendali  aktivitas seksual termasuk teknik atau gaya persetubuhan. Teks Assikalaibineng memaparkan perlakuan fase inti hubungan seks ini misalnya cara menyentuh  titik peka pada vagina empat sisi yaitu kiri, kanan, atas, dan bawah. Sentuhan terhadap empat dinding tersebut menunjukkan cara dan gaya persetubuhan yang variatif dan seluruh gaya itu dikendalikan oleh pihak laki-laki. Menyentuh empat pintu vagina istri itu menjadi tahap awal sebelum menyentuh daerah terdalam (pintu syurga) vagina, yang disebutkan akan memberi puncak kenikmatan seksual terhadap istri.

h. 80 …Ketika itu mekarlah kelaminnya seperti mekarnya kelopak bunga/ Masukkanlah zakarmu hingga batas kepalanya/ Jika kamu akan menyentuh pintu kanan/

h. 81 tekuklah kaki kananmu dan luruskan kaki kiri perempuan/ Pastilah kamu menyentuh pintu kanan/ Bacalah ini sebanyak tiga puluh tiga kali/ Subhanallah/ Jika kamu akan menyentuh pintu kiri, maka luruskan kaki kanan  perempuan/ Pasti kamu menyentuh dinding yang kiri/ Bacalah ini sebanyak tiga puluh tiga kali/ Subhanallah/ Apabila kamu akan menyentuh  pintu atas, maka janggal panggul perempuan naik setinggi empat jari/ Pasti kamu menyentuh pintu atas/

h. 82 Baca lagi ini sebanyak tiga puluh tiga kali/ Subhanallah/Kemudian usaplah pahanya istri/ ulangilah kembali dari awal kemudian sentuhlah bagian tengah faraj benda berupa jarum letaknya pada pintu  dekat saluran kencing/ Itu membuat rasa nikmat perempuan memuncak/ Kemudian peganglah buah dada istri/ Ciumlah perantaranya/ Baringkanlah di pangkuanmu/ Maka kamu pasti menyentuh dinding atas/ Perkirakanlah sepertiga zakarmu masuk/

h. 83 Dua bagian tidak masuk/ Kemudian rebahkan kedua kakinya/ Lalu sentuhlah pintu kiri/ Kemudian rebahkan kaki kanannya/  Rapatkan lututnya dan gerak-gerakkan punggung perempuan/ Perkirakanlah menyentuh pintu kanan yang akan membuat perempuan merinding/ Apabila  akan memaksimalkan perbuatan kita maka  baringkan telapak kaki, membuat perempuan sangat merasakan kenikmatan/  Maka dia pun melihat kekayaan  Allah Taala/

(Terjemahan Teks ASK Rol 33/40 hlm. 80-83 koleksi ARNAS Sulsel)

Lakuan-lakuan seks serta teknik sentuhan terhadap empat dinding vagina dalam berbagai teks Assikalaibineng termasuk pada kutipan teks di atas sekaligus menunjukkan teknik dan gaya persetubuhan untuk menciptakan sensasi seksual. Beberapa teknik yang diungkapkan itu bertujuan untuk mencapai kenikmatan persetubuhan terutama bagi pihak istri. Seperti pada teks di atas mengajarkan suami memilih teknik atau gaya persetubuhan yang bervariasi, akan tetapi pada sisi lain ia perlu menciptakan komuniaksi dengan istri untuk bersepakat memilih sebuah teknik atau gaya persetubuhan yang dikehendaki bersama.  Assikalaibineng    mengungkapkan bahwa hendaknya suami membuat perlakuan seksual yang dapat diterima dengan baik dan menyenangkan istri, seperti tidak memaksa, tidak menyakiti, atau tidak mengejar kesenangannya secara sepihak.

Proporsi perlakuan suami  adalah sebagai pemberi dan istri sebagai penerima. Teks Assikalaibineng secara instruktif membimbing suami untuk membuat perlakuan yang tepat kepada istrinya. Assikalaibineng melihat sangat penting bagi suami memiliki pengetahuan yang cukup mengenai tubuh dan perasaan seksualitas perempuan. Meskipun demikian tidak ada bagian teks  dalam Assikalaibineng  yang mengungkapkan larangan terhadap suami harus menghalangi dan mencegah istrinya  jika ia juga mengambil peran atau lakuan seksual. Sebaliknya, Assikalaibineng mewajibkan suami untuk memberikan sensasi seksual yang paling menyenangkan dan diinginkan oleh istrinya. Begitu pula suami tidak dibenarkan melakukan penetrasi apabila tubuh istrinya belum siap menerima masukan serta emosi (perasaan) seksualnya belum bangkit. Jika laki-laki tidak mengindahkan kode-kode seksualitas perempuan tersebut maka Assikalaibineng mencapnya sebagai lelaki “dungu” dan “membosankan”.

 Assikalaibineng pun tidak merestui suami memperlakukan istrinya seperti budak seks. Assikalibineng mengajarkan laki-laki cara memuliakan perempuan melalui peristiwa hubungan kelamin. Pihak suami harus memuliakan dan tidak memperlakukan  istrinya menurut kehendak sepihak atau hanya memerhatikan kepentingan dirinya sendiri. Sehingga, Assikalaibineng menekankan kepada suami agar melihat kondisi istri ketika akan mengajaknya berhubungan seks dan melarang suami membangunkan istri yang sedang tertidur untuk melakukan seks. Jika itu terjadi Assikalaibineng menganggap suami telah memperlakukan istrnya sebagai “budak”. Situasi  yang dianggap ideal adalah ketika menjelang tidur dan ketika istri siap secara lahir dan batin. Gejala ini terlihat pada kutipan teks berikut.

h. 72 … Jika menjelang tidur kemudian kamu melakukannya, maka istri menganggap dirinya merasa disayangi dan  dimuliakan/ Akan tetapi, jika dia sedang tidur kemudian mengajaknya berhubungan, maka ia merasa tubuhnya diperlakukan seperti budak/  Persiapkanlah segalanya sebelum melakukannya/

h. 73  Lakukanlah tidur bersama dalam satu sarung dan melakukannya terlebih dahulu, istri akan  merasa dirinya dimuliakan/ Kemudian lanjutkan  tidur dalam satu sarung/  Apabila kamu tidur bersama dalam satu sarung,  lakukanlah sehingga merasa dirinya dimuliakan dalam tidurnya/  Maka kamu  sudah memuliakannya, lalu teruskanlah tidur bersama-sama/  Itu berarti kamu melakukan perbuatan yang memabangkitkan gairahnya/  Apabila kamu sudah melihat gairahnya muncul maka kamu dapat melakukan persetubuhan/

h. 74 Lakukan rangsangan  terlebih dahulu  sehingga  dapat memuncakkan nafsunya birahinya/

(Terjemahan Teks ASK Rol 33/40 hlm. 72-87 koleksi ARNAS Sulsel)

Seandainya peran seksual itu hanya dipandang sebatas aktif dan pasif semata maka secara sepintas kedudukan suami dan istri  terkesan menyimpan bias gender. Akan tetapi, apabila melihat pada hakekat persetubuhan menurut konsep Assikalaibineng maka peran yang berbeda antara suami dan istri itu justru bertujuan menciptakan tujuan sama yang akan dicapai oleh kedua belah pihak. Lakuan-lakuan seks yang berbeda antara laki-laki dan perempuan bukanlah “ketimpangan peran” melainkan “keserasian (equilibrium) peran” dalam persetubuhan. Bahkan bisa memberi kesan jauh bahwa hubungan seks adalah semacam “ritual persembahan kenikmatan”  laki-laki kepada perempuan.

Konsep seksualitas yang hendak disampaikan teks Assikalaibineng kepada publik adalah bahwa perempuan mempunyai hak seksualitas yang mesti diperhatikan oleh pihak laki-laki. Dalam hal ini perempuan secara psikologis dan biologis mempunyai hak untuk melakukan atau tidak melakukan seks pada kondisi tertentu. Perempuan juga mempunyai hak untuk memperoleh kenikmatan seksual atas pasangannya, bukan hanya berstatus sebagai penyaji tubuh dengan seribu satu kenikmatan bagi suami. Maka hak seksualitas perempuan (istri) dan pihak laki-laki (suami) adalah sama. Paradigma Assikalaibineng mengenai “keserasian” peran seksualitas ini sejalan dengan  konsep al-Qur’an  dalam hal pernikahan yang ideal, yakni rumah tangga  yang dihiasi oleh mawaddah wa rahmah.

Assikalaibineng menempatkan dua tujuan hubungan seksual, yaitu untuk memperoleh keturunan (seks reproduktif) dan untuk memperoleh kenikmatan (seks rekreatif/non reproduktif). Akan tetapi dengan motif apapun seks itu dilakukan, Assikalaibineng mengajarkan agar kedua pasangan mempraktikkannya dengan benar. Dan, yang lebih penting pula adalah kedua insan (suami istri) senantisa menjalankan kehidupan seksnya secara etis dan ideal serta saling memuliakan sebagai manusia yang meraih karunia Ilahi.

 

Perempuan Termuliakan Dalam Seks

Walaupun disebutkan bahwa laki-laki dan perempuan berbeda peran dalam aktivitas seksual, akan tetapi hal tersebut dianggap sebagai kapasitas biologis dan psikologis.Teks Assikalaibineng dapat dikecualikan dari kategori teks-teks tradisional yang bias jender, karena secara ideologis telah memberikan kemuliaan terhadap perempuan. Teks Assikalaibineng memberikan kedudukan perempuan bukan di bawah laki-laki. Ideologi gender dalam Assikalaibineng menunjukkan sisi kemuliaan  perempuan  (istri) yang harus dijunjung tinggi oleh laki-laki (suami). Ideologi gender ini secara simbolik dapat dijumpai pada dimensi religius sebagai hakekat paling tinggi dalam hubungan seks. Ilustrasi religius ini dapat dilihat pada simbol yang terdapat pada sebuah teks Assikalaibineng, yakni pada rol 26/13 ARNAS UP.

Terjemahan secara literer ilustrasi di atas akan terbaca sebagai berikut:

    Penglihatan laki-laki  kepada perempuan

    Penglihatan perempuankepada laki-laki

Secara simbolik ilustrasi tersebut memberikan kedudukan dan nilai terhadap perempuan lebih tinggi daripada laki-laki. Konsep Iman dalam Islam menyebutkan bahwa Allah memiliki kualitas sebagai pencipta, pemberi wahyu, pemberi amanah, dan lain-lain. Sedangkan Nabi Muhammad memiliki kualitas sebagai manusia, yakni sebagai ciptaan Allah, penerima wahyu, pengemban amanah, dan lain-lain.

Dalam penafsian yang serupa, simbol tersebut secara hirarki mengungkapkan kepada kita bahwa “Allah sebagai sumber rahmat dan kenikmatan bagi kehidupan manusia, sementara Nabi Muhammad sebagai rasul yang terpercaya, pembawa amanah dan penerus berkah dan ke-Mahakaya-an Allah di muka bumi”. Relefansi makna simbol religius ini dalam relasi seksual suami istri dapat dimaknakan, “suami adalah sosok umat Muhammad yang meneruskan amanah dan berkah Allah untuk dipersembahkan kepada sang istri.” Karunia itu adalah kenikmatan seksual dan benih (air mani) janin manusia yang akan disemaikan pada rahim istri untuk meneruskan kehidupan di bumi.

Simbol pemuliaan perempuan juga dapat dijumpai pada pribadi suami dan istri dalam persetubuhan sebagai representasi simbolik penyatuan Ali dan Fatimah. Pada hakekatnya teks Assikalaibineng mengungkapkan hubungan seks suami dan istri sebagai representasi pernyatuan kualitas Saidina Ali dan Fatimah Az-zahrah. Implementasinya adalah istri memandang suaminya  dalam kualitas Ali sebagai pribadi setia, terpercaya, perkasa, dan seterusnya. Sebaliknya, suami memandang istri dalam kualitas Fatimah sebagai pribadi perempuan yang salehah, berilmu, cantik, dan seterusnya. Gairah batin dalam simbol ini dapat dipahami sebagai harapan pada suami dan istri agar saling memuliakan, saling menyayangi sebagaimana kasih sayang yang tercipta antara pasangan Ali dan Fatimah sebagai teladan dalam kehidupan berkeluarga.

Selanjutnya, teks Assikalaibineng juga menampilkan ilustrasi yang motifnya memuliakan perempuan lewat simbolisme terhadap kelamin (faraj atau vagina). Tasawuf seks dalam Assikalaibineng menyimbolkan vagina istri sebagai sebuah pintu rahmat Tuhan yang menjadi jalan menuju  sorga. Sehingga ketika sang suami akan melakukan penetrasi pada vagina atau sebelum memasuki tahap senggama (koitus) maka laki-laki disyaratkan mengucapkan lafaz salam contohnya: “Assalamu ‘alaikum ya baabar rahmaan:

 

…/muinappasi bérésellengiwi  mubacai iyaé/ Assalamu ‘alaikum ya baabar rahmaan/ Naribalitonasa ri makkunraié/  Wa ‘alaikumus salaam ya syyidal amiin/  h. 67 Muinappana mattenniwwi  poppanna …/

 

Terjemahan

… kemudian berilah salam  dengan membaca / Assalamu ‘alaikum ya baabar rahmaan/ Maka istri memberi Jawaban/  Wa ‘alaikumus salaam ya syyidal amiin/  h. 67 Lanjutkan dengan memegang pahanya/

(Teks Assikalaibineng ASK Rol 33/40 hlm. 66-67 koleksi ARNAS Sulsel)

Secara religius kelamin istri dianggap sebagai sebuah pintu rahmat Tuhan, yakni sebuah objek kenikmatan seksual karena di situlah berkah Tuhan dapat ditemukan. Selanjutnya, pada ilustrasi  seperti yang ditampilkan di bawah ini mengambarkan dinding pintu menuju syurga tersebut berdiri empat orang wanita sebagai penjaga, yaitu para istri Rasulullah Muhammad SAW: Aisyah, Khadijah, Maemuna, dan Salamah.

Gambar mengilustrasikan empat wanita mulia penjaga pintu faraj dengan posisinya masing-masing: Khadijah penjaga pintu atas, Salamah pintu bawah, Aisyah pintu kanan,  dan Maemuna  pintu kiri. Dalam teks Assikalaibieng aktivitas seksual pintu-pintu tersebut disentuh dengan mengucapkan salam sebagai pernyataan pemuliaan terhadap kelamin, perempuan, dan hubungan seks itu sendiri. Tentu saja makna psikologis dan religius terhadap simbol-simbol seksualitas tersebut dapat diinterpretasi lebih lanjut.

 Secara psikologis sikap memuliakan perempuan rupanya menjadi salah satu nilai utama kemuliaan seks yang dikemas dalam Assikalaibineng. Assikalaibineng memaparkan bagaimana seks dilakukan dengan menunjukkan sikap laki-laki untuk menghargai dan memuliakan perempuan sebagai pasangan seksualnya. Assikalaibineng menekankan faktor kesiapan istri secara psikis senantiasa menjadi hal penting dalam melakukan hubungan seksual dan suami harus memahami hal itu sebagai apresiasi  terhadap kemuliaan perempuan. Maka secara prosedur, suami  disyaratkan mengucapkan “salam” kepada istri sebelum melakukan seks dan tidak melakukannya dengan tergesa-gesa, menuruti emosi seksualnya. Jika istri telah memberi jawaban maka itu adalah isyarat bahwa istri telah siap secara fisik dan psikis untuk bersedia melakukan hubungan seksual. Itulah sebabnya laki-laki dipandang penting mengenali kode-kode tubuh dan seksualitas perempuan agar tahu kondisi secara lahir dan batin  kapan hubungan seksual sudah atau belum dapat dilakukan.

 Dapat disimpulkan bahwa Assikalaibineng adalah pengetahuan seksual bagi laki-laki (maskulin), yakni tentang tatacara melakukan hubungan seksual berikut memberikan apresiasi manusia mengenai seks hingga dimensi religius. Pada dasarnya, Assikalaibineng memberikan posisi yang mulia terhadap perempuan serta mengajarkan kepada laki-laki cara memuliakan perempuan lewat peristiwa seksual. Akhirnya, dapat dikatakan bahwa hubungan seksual adalah sebuah ritual persembahan kenikmatan pada perempuan. Pameo Bugis mengatakan naiya allaibinengengnge anre-anre teppajinna, artinya seks ibarat makanan yang tak pernah membosankan.

Penulis adalah Staf Pengajar di Fakultas Sastra                                                Universitas Hasanuddin, Makassar

 

Catatan Belakang


[1] Bandingkan dengan pendapat H.C.Witherington, seorang sarjana psikologi Amerika yang mengemukakan tentang tiga motivasi dasar pada diri manusia yaitu: lapar, proteksi diri, dan seks. Menurutnya ketiga unsur tersebut menjadi hal yang fundamental dan funsional terhadap segala bentuk aktifitas manusia. Menurutnya, seks menempati sepertiga dari seluruh motivasi dasar yang ada pada diri manusia. (Lihat Ma’ruf Asrori dan Anang, 1977).

[2] Kisah Batara Guru dan We Nyiliqtimo diringkas dari teks yang terdapat pada episode awal dalam cerita La Galigo yang disebut dalam episode Mulatau dalam R.A. Kern seri terjemahan KITLV/LIPI, 1989.


Beranda  |  Kategory: Edisi 10 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia