Seks

10 - Oct - 2006 | Jaya Suprana | No Comments »

Sebelum anda membaca, semoga segenap prasangka kultural maupun personal terlebih dahulu dihilangkan sebab penulisan naskah ini memang berdasarkan pada pengamatan lensa kacamata kultural, juga butir-butir sosio ekonomi. Tulisan ini tidaklah berdasarkan latar belakang profesi dengan segala kepentingannya apalagi pengkotak-kotakkan paham politis seperti kapitalisme, konsumtifisme (bukan konsumerisme yang melindungi kepentingan konsumen yang kaprah ditafsirkan sebagai perilaku konsumtif berlebihan) apalagi pornografi. Yang paling penting adalah kenyataan bahwa penulisan naskah ini sama sekali di luar kehendak pribadi saya namun sepenuhnya atas permintaan khusus disertai petunjuk eksplisit dari redaksi majalah yang sedang anda baca ini. Tafsir berdasarkan prasangka, rawan akan menjadi fitnah yang dapat memporak-porandakan segenap tatanan makna naskah ini.

Istilah seks sendiri jelas bukan berasal dari bahasa Indonesia, dengan demikian makna kata ini tidak terlalu sesuai dengan pemahaman peradaban dan kebudayaan Indonesia terhadap apa yang disebut sebagai seks itu sendiri. Karena kata seks tidak bisa dialihbahasakan secara benar-benar akurat, tepat dan benar maka terpaksa istilah asing itu dikaprahkan agar bisa digunakan secara umum dan rutin. Akibat dipaksakan begitu maka seks di Indonesia memang lestari rawan polemik. Aneka ragam kesalahtafsiran muncul yang pada akhirnya memicu berbagai problema konflik dan kekerasan sosial, mulai dari sekedar cacimaki sampai penganiayaan bahkan pembinasaan. Oleh karena itu mengerikan rasanya jika seks diatur lewat Undang-Undang tanpa kesadaran tentang kebenaran makna konsep yang mau diatur tersebut. Berdasarkan studi kelirumologi, tafsir yang keliru pasti menimbulkan sikap dan perilaku yang keliru pula sambil sangat sulit disadarkan bahwa kekeliruan itu keliru selama sang penafsir tetap bersikeras untuk keliru tanpa mau sadar bahwa keliru dan seterusnya dan sebagainya.

Perusahaan keluarga saya yang berlogo JAGO itu sejak 1918 memang memproduksi produk sami untuk membina kehidupan seksual dalam arti menyeluruh. Alasannya sederhana saja, namanya juga wirausahawan sehingga di mana ada kebutuhan pasar maka pendiri perusahaan saya, yakni kakek saya segera berusaha memenuhinya dengan produk-produk jamu yang mampu memenuhi tuntutan tersebut.

Sebenarnya, dalam pemahaman kebudayaan Jawa, pulau tempat perusahaan Jamu Jago didirikan dan melaksanakan kegiatan industrialnya,  apa yang disebut seks tidak sempit terbatas urusan penis atau vagina saja, melainkan menyeluruh sampai kesegenap aspek biologis dan spiritual yang secara langsung maupun tidak langsung terkait pada kegiatan yang disebut seks itu. Mungkin tidak banyak bahasa di dunia ini yang memberi sebutan khusus terhadap rambut yang tumbuh di antara anus dan alat kelamin seperti halnya yang terdapat dalam bahasa Jawa. Rambut kelamin dalam bahasa Inggris – pubic hair – hanya perpaduan dua kata yang sudah ada, sementara bahasa Jawa berani menggunakan satu kata mandiri tanpa mengulang kata sang benda atau lokasi itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa peradaban dan kebudayaan Jawa sama sekali tidak sudi terpaku hanya pada penetrasi alat kelamin pria ke alat kelamin perempuan. Pembahasan yang dilakukan lebih menyeluruh, lebih holistik kesegenap aspek yang terkait pada kegiatan penetrasial tersebut.

Dengan demikian, berkaitan dengan kegiatan seksual, masyarakat Jawa juga sibuk memerdulikan dan memerhatikan masalah-masalah yang menyentuh penginderaan di luar alat kelamin. Misalnya kehalusan  kulit yang terkait pada indera-cium, irama dan nada pengucapan kata-kata yang menyentuh indera-dengar, keindahan bentuk tubuh yang ditatap indera-lihat sampai ke rasa kasih sayang yang membelai indera-spiritual dan seterusnya dan sebagainya sampai kesehatan dan kebugaran tubuh secara menyeluruh sebagai syarat dasar dan utama untuk menempuh kehidupan, termasuk seksual, secara baik dan benar. Semua hal yang menjadi kebutuhan seksual secara holistik tersebut ternyata disadari oleh pemikiran peradaban dan kebudayaan Jawa sehingga muncul pula upaya keras dan karya untuk memenuhinya dalam bentuk ramuan dan obat tradisional Jawa yang populer dengan sebutan jamu. Secara industrial, perusahan JAMU JAGO sebagai perusahaan tertua di marcapada ini sepenuhnya menyadari dan memanfaatkannya untuk secara masal mampu memenuhi tuntutan kebutuhan masyarakat yang tidak terbatas hanya di Jawa saja namun juga ke seluruh pelosok Nusantara bahkan kini mancanegara.

Ramuan dan obat tradisional Jawa ini kemudian dikembangkan menjadi produk industrial dalam bentuk serbuk, pil, tablet, kapsul, kaplet sampai minuman kesehatan. Sesuai tuntutan pasar pula maka ramuan-ramuan tradisional itu diberi identitas nama alias merek seperti Esha, Sarirapat, Sariarum, Galian Singset, Galian Puteri, Terlambat Bulan, Srialus, Basmurat, Pegel Linu, Maskulin, Feminin dan lain sebagainya.

Langkah-langkah industrial JAMU JAGO kemudian juga ditempuh oleh perusahaan jamu lainnya yang kini jumlahnya sudah mencapai ribuan dengan produk jamu masing-masing yang melanglang-buana menjelajah pasar global planet bumi masa kini.

Segenap langkah niaga industri jamu dari dahulu sampai masa kini dan masa depan dalam upaya memenuhi realita kebutuhan masyarakat tentunya tidak berniat – dengan sengaja maupun tidak –  untuk menjerumuskan sikap dan perilaku seksual masyarakat ke arah pelanggaran etika, moral, agama dan hukum. Mengingat pada hakikatnya seks hanya merupakan salah satu alat sikap dan perilaku yang dianugerahkan Yang Maha Kuasa dan Maha Tahu kepada manusia ciptaanNya. Tugas utama seks sebenarnya hanya mengabdi kepada kepentingan reproduksi demi melestarikan kehadiran umat manusia di alam semesta ini, bukan sebaliknya malah manusia yang mengabdi, tunduk serta memberhalakan seks.

Sama sekali tidak ada kemesuman apalagi kemaksiatan dalam upaya pemenuhan tuntutan kebutuhan seksual masyarakat yang beradab dan berbudaya. Sang nilai an sich jelas bukan terletak pada seks sebagai sekedar sang alat namun bagaimana sikap dan perilaku manusia dalam menggunakan dan memanfaatkan seks sebagai salah satu alat kehidupan anugerah Yang Maha Kuasa dan Maha Kasih.

Jika manusia mendayagunakan seks untuk tujuan pemerkosaan, penganiayaan, perusakan moral, pelanggaran ajaran agama, kriminal, melanggar hukum, dan aneka tujuan negatif destruktif apa pun jelas itu mesum, maksiat jahanam, keji, durjana, pendek kata absah dikategorikan sebagai dosa!

Jika seks difungsikan demi kemesraan dalam menjalin kasih-sayang dua insan manusia beradab dan berbudaya serta dibingkai ketulusan nurani peradaban dan kebudayaan maka apa yang disebut sebagai seks itu benar-benar layak dianggap sebagai salah satu anugerah Yang Maha Kuasa dan Maha Kasih yang paling indah dan mulia. Amin

Penulis adalah seorang Budayawan, Usahawan,

Jamulog, serta Praktisi Seks


Beranda  |  Kategory: Edisi 10 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia