Seksualitas Oreng Madure: Gelas Bergoyang dan Sendok pun Bergetar

10 - Oct - 2006 | Abd. Latif Bustami | No Comments »

 

Tot toli tot tot kaceperra jen onjenan

Pak Ali sake’to’ot pellerra jen onjenan

(tot toli tot tot, buah kecipir bergoyang-goyang

Walaupun Pak Ali sakit lutut, ’burungnya’ menggeliat terus).

Bait di atas merupakan sebagian nyanyian oreng Madure [1](orang Madura) perempuan (bine’ ) untuk menyatakan ekspektasi atas seksualitas laki-laki. Dalam bahasa Madura, konsep laki-laki (lake’ ) bermakna kuat, perkasa dan memberikan kepuasan syahwat bagi pasangan mereka, maka kalau sebaliknya disebut ta’ lalake’ (bukan laki-laki). Sementara itu, di kalangan laki-laki (lake’ ) ekspektasi seksualitas perempuan diungkapkan dengan ’ka sampang ka roma sake’ toan dokter capengan pote. Je’ pang gampang daddi reng bine’ mon ta’ e pola ta’ paju lake’ (walaupun secara fisik perempuan, pada dasarnya menjadi perempuan sangat sulit, karena harus pandai merawat diri, kalau tidak mampu memberikan kepuasan seksual maka akhirnya akan sulit mendapat jodoh). E pola bermakna perempuan yang santun dalam kehidupan, merawat fisik, dan memuaskan suami di tempat tidur (katedungan). Dengan demikian, hanya perempuan seperti itu yang mudah mendapatkan jodoh (paju lake). Dua ungkapan kultural di atas merepresentasikan kontestasi kuasa laki-laki dan perempuan (lake’ – bine’ ) dalam ekspektasi seksualitas. Artinya, pasangan suami-istri (lake-bine) oreng Madure membayangkan kenikmatan seksual masing-masing. Dalam bayangan itu seksualitas  berimplikasi pada peran dan fungsi serta perilaku suami-istri. Dalam realitasnya, kontestasi itu berujung pada  kuasa asimetris dalam dunia serba laki-laki. Tuntutan suami terhadap istri menjadi dominan (e pola), sedangkan istri kepada suami biasa saja (lalake’ ).

Selain itu, pentingnya menjaga dan mempertahankan keperawanan (paraben) bagi perempuan juga menjadi sebuah tuntutan kultural bagi masyarakat Madura. Dalam mitos yang dilembagakan melalui Babad Soengenep, seorang tokoh Madura, Kodhe Panoleh (Joko Tole) berhasil menghancurkan Sam Po Twa Lan (Dempo Awang), seorang penguasa Cina yang akan menguasai Madura  sebagaimana terdapat dalam konsep chung-kuo (negara pusat)  dan wai kuo (daerah vasal). Dempo Awang berusaha menaklukkan Madura dan berusaha menggauli perempuan Madura. Tindakan itu berarti perempuan Madura akan kehilangan keperawanannya sehingga Kodhe Panoleh membela mereka. Ideologi yang berakar pada budaya malu (todus) pada akhirnya memunculkan konsep ”carok”, karena bagi masyarakat Madura  ’e tembeng pote mata a ngo’an poteya olang’ (daripada hidup menanggung malu lebih baik mati berkalang tanah). Pada pertempuran di atas, Joko Tole akhirnya menang dan keperawanan perempuan Madura bisa diselamatkan.[2] Babad ini sedikit banyak menyelipkan dan melegitimasi budaya patriarki yang menampilkan laki-laki sebagai pahlawan. Sampai saat ini, pengaruh cerita keperawanan dalam babad itu berimplikasi pada konstruksi oreng Madure terhadap perempuan.[3]

Realitas itu bisa ditelisik pada kebudayaan Madura yang ekologinya didominasi sistem tegal. Sistem itu berimplikasi pada terbentuknya pola perkampungan terpusat di tegal dengan pola perumahan ’tanean lanjheng’ (halaman luas). Dalam kompleks perumahan itu terdapat rumah tinggal orang tua dan anak-anak mereka, kandang, dan langgar.[4] Penghuni rumah tinggal itu berkaitan dengan adat menetap sesudah menikah matrilokal, yaitu seorang suami menetap di rumah kediaman istri.

Pola perumahan dalam tanean lanjheng bermakna perempuan berada dalam kontrol orang tuanya yang berada di roma toghu (rumah induk). Arsitektur rumah menguatkan bias maskulin. Bahan untuk tiang penyangga rumah (sasaka agung) harus berasal dari kayu yang kokoh (salarak) karena harus menusuk kayu yang melintang dari bahan yang lebih lunak (babirun). Bahan itu tidak boleh sebaliknya. Kayu salarak merupakan simbol laki-laki, sedangkan kayu babirun merupakan simbol perempuan. Laki-laki disimbolkan dengan kayu yang kuat dan kokoh, sedangkan perempuan dengan kayu lunak. Maknanya adalah laki-laki harus menusuk perempuan. Sasaka agung itu merupakan simbol seksualitas lake-bine dengan harapan penghuni rumah bisa salamed (selamat), merdi (dikarunia keturunan), dan berkat (keberkatan). Kebudayaan Madura memberikan ruang serba laki-laki  sehingga melahirkan model patriarki. Ungkapan bepa’, babu’, guru, rato’ (ayah, ibu, guru, dan pemerintah) menguatkan hirarki yang dibangun dengan bias laki-laki

Ritus daur hidup menempatkan perempuan pada posisi yang lebih rendah dari laki-laki. Perempuan sebagai tukang masak, sedangkan laki-laki penerima tamu. Pada saat ritus dilaksanakan perempuan harus menunda selera untuk makan sampai ritus selesai. Waktu yang lama dalam proses mempersiapkan sampai dengan membersihkan sisa-sisa ritus membuat selera makannya menjadi hilang. Selain itu, perempuan juga dikenakan beberapa larangan (ta’olle) karena siklus pertumbuhan dan perkembangannya (menstruasi). Misalnya, tidak boleh memasak dalam ritus, tampil di depan umum, melaksanakan sholat dan puasa, dan masuk ke masjid. Perempuan diibaratkan gelas yang mudah pecah. Artinya, kalau dirawat (eraksa,  epola) akan bagus tetapi kalau tidak sulit mendapatkan jodoh. Dengan sendirinya, jamu untuk perempuan di Madura bervariasi mengikuti siklus. Misalnya, selesai haid diberi minum jemo bangkes, jemo paka’, jemo saningrom supaya organ vitalnya harum dan rapat. Saat mau menikah diberi minum jamu jemo paraben, jemo paka’ agar vaginanya tidak basah (kessap), saat mengandung minum jamu cellep (dingin) agar macekka’ (kandungannya kuat), marajhe (membantu pertumbuhan janin), dan makecceng (metabolisme darah lancar) serta maancar (mempermudah persalinan). Belum lagi, kalau pasca melahirkan diharuskan minum jemo bebhejje (memperlancar air susu), jemo ronronan, jemo paka’, jemo latek (mengembalikan kondisi kembali seperti ‘perawan’) serta menggunakan parem bebe (beras, jahe, masoji, merica, air cuka) yang dioleskan ke bagian perut ke bawah dan bedhek taber (bedak yang dioleskan ke bagian wajah). Di sisi yang lain, laki-laki saat memasuki puber diberi minum jemo lanceng dan pada saat mau menikah dengan minum jemo anga’.

Laki-laki selalu ingin mengendalikan semua ruang perempuan baik publik maupun privat. Relasi itu semakin dominan dengan tafsir-tafsir teks agama sebrang yang secara belah bambu dominan berpihak kepada laki-laki. Tafsir itu digunakan oleh mereka dengan didukung oleh pembenaran yang pada umumnya turut dilegitimasi kyai, sehingga di hadapan umat, kyai menjadi multiperan (polymorphic). Pelembagaan tafsir melalui institusi keagamaan dengan jejaring kuasanya membuat kiai berikut tafsirnya cenderung menjadi dogma sebagai wilayah yang tidak tersentuh, tidak mungkin, misteri, dan sakral.

 Ketika ruang itu dipermasalahkan oleh sebagian orang ’pelintas batas antar ruang’[5] dan menjadi kawasan tersentuh serta serba mungkin, terciptalah ruang baru yang samar dan transisional atau ’abu-abu’. Implikasi dari kondisi itu adalah between and betwext (Turner, 1974). Artinya, ada ruang baru yang diusung tetapi belum merupakan bagian yang berterima dan ada ruang lama yang dipertahankan. Masing-masing ruang tersebut mempunyai kebudayaan yang berbeda dan berkompetisi sehingga ruang itu menjadi arena kontestasi yang sesungguhnya. Komponen yang merasa otoritas dan previlege mereka terancam akan bertahan, sedangkan pendukung pembaruan mengedepankan logika-logika mereka.

Gugatan terhadap kuasa seksualitas yang asimetris mulai muncul, resistensi terselubung melalui sindiran dalam nyanyian dan ungkapan-ungkapan dalam kehidupan keseharian mereka menjadi ’back stage’, dan pengambilan sikap tak terduga dengan berselingkuh (bur leburen), dan minta cerai (a telaq) dengan membeli pasakh (inisiatif cerai dari sang istri). Salah satu alasan perceraian yang tidak terduga adalah ketidaknyamanan seksual. Buk Saibe (31 tahun) menyatakan alasan perceraiannya karena suaminya ta’ lalake’ (tidak mampu memberikan kepuasan seksual sebagaimana yang ia bayangkan) atau seksualitas suaminya di bawah ekspekstasinya.

Tulisan ini berupaya menjelaskan bagaimana seksualitas dibayangkan, terutama seksualitas sebagai arena pergumulan kuasa laki-laki dan perempuan, ikhtiar kreatif untuk memenangkan pergumulan tersebut, pemenuhan kepuasan batin, dan variasi hasil pergumulan. Tulisan ini diawali dengan penjelasan tentang kebudayaan oreng Madure, relasi laki-laki- perempuan (lake’ – bine’ ) dan suami-istri (lake-bine), katedungan (tempat tidur) sebagai arena kontestasi, pilihan pemenuhan seksualitas yang dibayangkan, dan penyelesaian kesenjangan ekspektasi seksualitas.

 

Lake’ – Bine’ dan Lake-Bine

 

Pada masyarakat Madura keberadaan laki-laki (lake’ ) dan perempuan (bine’ ) bukan hanya merepresentasikan persoalan jenis kelamin melainkan juga konstruksi masyarakat setempat tentang penampilan fisik tersebut. Konstruksi masyarakat itu ditentukan oleh kebudayaan setempat, kualitas interaksi dengan agama-agama resmi, dan perkembangan kesejarahan. Jenis kelamin itu berimpikasi pada sejumlah identitas. Di Madura, jenis kelamin yang dilihat dari ketampakan fisik akan melahirkan identitas baru, yaitu iyo’ dan iye’. Iyo’ digunakan untuk menyebut keturunan Cina, sedangkan iye’ untuk menyebut keturunan Arab.[6] Data tentang jumlah penduduk di empat kabupaten di Pulau Madura menurut latarbelakang suku bangsa mereka berdasarkan sensus penduduk 2000 adalah, Jawa (43.203), Madura (3.088.751), Using (25), Cina (1479), Bawean (187), Sunda (795), Tengger (11), Arab (1689), dan lainnya (94.031). Jumlah penduduk pada tahun 2000 di Pulau Madura adalah 3.230.171 orang. Interaksi antara iyo’ dan iye’ dengan oreng Madure lebih kuat ke iye’ karena kesamaan keyakinan keagamaan dan klaim keturunan (nasab) Nabi Muhammad SAW. Kedua identitas itu mempunyai kesamaan, yaitu superior.[7]

Kualitas interaksi itu, saat ini  mengakibatkan batas antara kedua wilayah itu menjadi kabur. Bahkan, kebudayaan hadir menyerupai agama. Nilai dan norma laki-laki dan perempuan dikonstruksi berbeda. Tidak jarang para pelintas batas ranah tersebut saling pinjam identitas dan menjadi pergunjingan tiada henti. Bisa jadi, persoalan itu muncul karena terjadi tarik ulur yang dilakukan individu untuk memanipulasi situasi dengan mengadopsi dinamika eksternal yang mereka alami.

Perubahan itu terjadi ketika desa  tidak lagi terisolir dan manusia saling  berinteraksi. Desa menjadi wilayah yang semakin terbuka dan jaring-jaring kapitalisme menciptakan deteritorialisasi. Siaran televisi menjadi acuan baru menggantikan tafsir-tafsir lokal yang selama ini membelenggu, antena parabola sudah mulai menyembul di beberapa tanean lanjheng, perangkat elektronik rumah tangga berada dalam rumah sehingga paradigma lama menjadi kadaluarsa. Infrastruktur pembangunan mulai menembus batas termasuk pembangunan sumur bor dan irigasi yang memberikan kemudahan bagi perempuan sehingga bisa mengerjakan yang lain. Perubahan itu memunculkan ekspresi gaya hidup yang beraneka ragam.

 Perempuan dengan menggunakan atribut celana panjang ketat dengan aksen pada lekukan selangkangan, baju dengan memamerkan bagian pusar, rambut pendek, duduk jongkok dengan posisi mengangkang, merokok, dan memakai celana pendek merupakan contoh dari sekian deret yang menjadi pemicu masalah. Sebenarnya, bukan itu inti persoalan. Hal ini lebih sebagai atribut yang berakar pada konstruksi yang muncul dari individu yang ingin berubah dari nilai dan norma yang sedikit mengganggu kekuasaan sang individu dan mengancam kekuasaan para orang tua sebagai pemegang kekuasaan atas kebudayaan mereka. Perubahan telah terjadi dan pendukung mereka semakin luas. Akhirnya, perubahan itu dalam jangka waktu yang lama menjadi kebiasaan, yang pada perkembangan selanjutnya menjadi kelaziman yang bermuara pada diakuinya atribut perubahan tersebut sebagai bagian kebudayaan mereka. Tensi perubahan itu menjadi lemah dan kuat tergantung dari konteks yang mengitarinya seperti siklus. Siklus perubahan itu tidak akan pernah berhenti dan terus bergerak.

Dalam perkembangannya, relasi laki-laki (lake’ ) dan perempuan (bine’ ) yang melembaga itu menentukan interaksi dalam kehidupan rumah tangga. Konstruksi jenis kelamin (lake’ – bine’ ) menjadi relasi yang sarat makna sosial-budaya, yaitu suami-istri (lake-bine, raka-robiye). Konstruksi patriarki yang melembaga itu memengaruhi kehidupan rumah tangga. Relasi timpang itu semakin mendapatkan pembenaran. Relasi timpang yang sering terjadi dan dibangun berdasarkan konstruksi ideologi laki-laki sebagai kepala rumah tangga berimplikasi pada pembelahan aspek mata pencaharian. Laki-laki di luar rumah mencari nafkah, sedangkan perempuan membantu sang suami dengan beraktivitas di ranah privat. Perempuan yang mempertanyakan sang suami dikonstruksi sebagai perempuan yang menyimpang. Perempuan yang keluar rumah tanpa izin sang suami bisa ditafsirkan sebagai perempuan yang kurang baek (ta’becce’ ), sedangkan laki-laki yang pergi tanpa ijin sehingga sering mendapat predikat jarum super (jarang di rumah suka pergi) tidak mendapatkan perlakuan yang setara. Laki-laki lebih mendapatkan pembenaran sebagai pencari nafkah dan laki-laki tidak mungkin hamil (lalake’ ).

Salah satu hal yang membuat prihatin adalah pasangan suami istri yang tidak mempunyai anak (jubheng), Pada kasus ini yang sering dijadikan kambing hitam adalah perempuan. Terdapat perumpamaan yang telah menjadi kesadaran umum bahwa sperma laki-laki diibaratkan sebagai benih, sedangkan indung telur perempuan diibaratkan tanah. Benih selalu baik sehingga tumbuh atau tidaknya benih itu tergantung pada kondisi tanah. Jika tanahnya gersang pasti benih tidak akan tumbuh, bila tanahnya subur maka benih akan bisa tumbuh. Konstruksi tersebut melembaga sehingga dominasi patriarki senantiasa berlangsung.

Seorang laki-laki pernah mengeluh karena kenginannya untuk membantu istrinya yang baru nifas dengan mencuci sebagian pakaian yang kotor dianggap lingkungan sekitarnya sebagai ”istiqomah” (Ikatan Suami Takut Istri Terpenjara di Rumah), sang istri dianggap tidak menghargai suaminya, sehingga keluarga besar suaminya mulai mempersoalkan. Argumentasi hadits yang mengajarkan untuk membantu sang istri dan memperlakukan dengan perbuatan yang baik (wa asyiruhunna bil ma’ruf) tidak mampu memberikan pencerahan.

Sementara itu, pasangan suami-istri membayangkan hubungan seksualitas yang saling memuaskan. Laki-laki membayangkan pasangannya berperan aktif, rapat  sekali (rapet), menggairahkan, vaginanya harum, tidak amis, dan tidak kering. Ekspektasi perempuan itu diibaratkan seperti cangkir bergoyang, bukan sendoknya. Cangkir sebagai personifikasi perempuan (vulva), sedangkan sendok merupakan simbolisasi laki-laki (phalus). Sementara, yang dibayangkan sang perempuan adalah laki-laki ibarat ‘tongkat yang selalu bergerak walaupun digoyang sang cangkir’ (theg-othegen, odi’). Relasi itu hadir fluktuatif. Kadang hasilnya ‘sang tongkat lemmes’, lelot’ yang berujung sang perempuan ‘sakit kepala’ (sake’ cethag).

 

Katedungan: Arena Kontestasi

 

Ekspektasi seksualitas lake-bine di atas direalisasikan waktu acampor e katedungan (bercinta di tempat tidur). Katedungan merupakan arena kontestasi sesungguhnya. Hasil dari kontestasi itu adalah lake-bine berusaha memberikan yang terbaik alih-alih ibadah. Simak saja pengakuan Surya (32 tahun), seorang ibu rumah tangga (oreng bengkoan) ”sebelum acampor selalu minum jamu mas, kalau tidak suami saya (tang lake) lari karena saya tidak bisa memberikan servis terbaik ’agaluy’ (goyang berputar)”. Pernyataan yang berbeda diungkapkan oleh Sitti (43 tahun) petani tegal, dalam sebuah percakapan dengan beberapa tetangga waktu ’nyerret’ untuk mencari kutu menyatakan ”odi’ reya malarat.je’sakenga andi’ lake sogi ta’ kera alako e nga’ reya” (hidup itu susah, andaikata menjadi orang kaya tentu tidak bekerja seperti ini). Yang lain menyahut’ belum tanto, enga’ ganeka’? (belum tentu seperti itu). Yang lain menimpali’ ma’ enga’ ganeka, pekkeranna beremma? (mengapa bisa belum tentu, bagaimana jalan pemikirannya?) Sitti mempertahankan jawabannya dengan tenang ’tekka sogi mon anuna ta’ odi’. Dina tekka’a ta’ andi kor anuna odi, tak enggi le’! (biar walaupun kaya, kalau alat kelaminnya laki-laki lemas?! Lebih baik hidup sederhana asal alat vitalnya tegak dan memuaskan).

Mak Giye (45 tahun) menginformasikan bahwa Sitti itu ’wah, pak ganeka bine se nomer duwa’! (wah, pak, itu istri yang nomer dua). Sitti mendengar dan segera menimpali’ ta’ arapa. jek tang lake abine pole. Je’ la sengko’ ta’ olle di’odien, gi’ a binea pole jen ta’ olle di’odien!kapelengen kaule, pak!. (Tidak apa-apa. Suami saya akan kawin lagi, padahal saya sudah mendapatkan senjata yang sudah loyo, masih mau kawin lagi berarti akan memperoleh senjata yang semakin loyo sehingga saya sakit kepala). Nyi Apsa nyeletuk dan memberikan jawaban ’ango a pesa’a, e tembeng ta’ olle di’odien (lebih baik bercerai daripada tidak mendapatkan alat vital yang betul-betul tegak). Jawaban tersebut diamini lainnya dengan tersipu-sipu.

Sitti, yang mendapati persoalan itu seketika berujar ’ya, melle pasa a tellaq, teros a kabin sirri. Mon ka KUA repot ben bule pon toa, todus’ (iya, minta cerai, dan nikah sirri, kalau ke KUA repot dan saya sudah tua, malu). Nikah sirri menjadi pilihan terbaik bagi mereka. Jawaban tersebut tidak seragam. Ada yang mempertahankan hubungan suami-istri dengan alasan untuk mengabdi kepada suami dengan menerima kondisi apa adanya sesuai dengan anjuran dari keluarga besarnya serta kiai, ada yang berdalih  acampor  sebagai salah satu, dan ada yang berusaha mencari alternatif supaya sehat, kuat, dan rapat. Yang terakhir merupakan ikhtiar kreatif lake-bine untuk memilih sarana memenuhi kegiatan seksual yang dibayangkan.

 

Nowan: Pilihan Pemenuhan Seksualitas

Simak penuturan seorang pelatih sinden di Desa Slopeng, Kabupaten Sumenep, Ny.Suratmi (70 tahun) ”seorang wanita harus pintar merawat badan (araksa, epola) dengan minum jamu, menggunakan koteka, sren-asren agar suami atau pasangannya perna  (betah di rumah), esto paraten (sayang), roman dipadiyan, mon toman libaliyen (pelayanan seksual yang memuaskan sehingga minta terus). Kalau tidak memberikan pelayanan maka jangan heran kalau suami atau pasangan anda mencari perempuan yang lain.”

Pantangan terhadap makanan tertentu menjadi pelajaran yang baik untuk araksa beden, yaitu perempuan dilarang makan makanan yang amis, seperti terasi dan petis supaya badan tidak berbau. Selain itu juga dilarang makan mentimun dan pepaya agar vaginanya tidak basah (kessap) serta minum jamu secara teratur[8].

Keampuhan jamu Madura menjadi realitas, bukan hanya sekedar mitos ketika  ramuan Madura diidentikkan dengan kenikmatan seksual. Jamu itu dikenal pula untuk merawat dan menjaga stamina tubuh, untuk menjaga keperkasaan lelaki maupun perawatan organ-organ tubuh wanita. Ramuan Madura itu bukan hanya terkenal di dalam negeri melainkan juga sampai ke luar negeri. Jamu Tongkat Ali (Madura Stick) dikategorikan sebagai produk andalan dari  kawasan ’Negara Bawah Angin’ yang terletak di Laut Selatan.[9] Hayati Waladi, pimpinan Perusahaan Jamu Madura Sari dari Sampang, mengakui bahwa produk jamu tradisional untuk meningkatkan gairah seks sangat diminati konsumen di Malaysia maupun Arab Saudi, meskipun sangat disayangkan pengirimannya masih secara kecil-kecilan.

Oreng Madure ada yang mengkonsumsi jamu yang diracik oleh tukang jamu (pajemoan) yang keahliannya diperoleh secara turun temurun. Pekerjaan meracik bahan jamu ini dikategorikan sebagai pekerjaan penuh kehati-hatian (panastes). Nyi Maspia (80 tahun) dari Desa Salopeng, Sumenep memperoleh keahlian jamu dari kakek dan neneknya yang bernama Salusen dan Satenga. Kemudian, dia mewariskan keahliannya kepada menantunya (manto) yang bernama Hadiye (30 tahun), istri Masrunah (55 tahun), anak laki-laki Nyi Maspia yang mengelola topeng dalang Madura Rukun Pewaras[10]. Pewaris ilmu yang lain adalah Nyi Umdira, 65 tahun, dua pupu (dupopo) Nyi Maspia. Proses pewarisan itu dilakukan secara simbolik;  Nyi Maspia menyerahkan wadah untuk minum jamu yang terbuat dari tempurung kelapa (bethok) kepada Nyi Umdira. Jamu mereka dinyatakan sebagai jamu pageren,  karena bahan-bahannya diambil dari tanaman di lingkungan mereka. Pertimbangan silsilah (nasab), keahlian, usia, dan kesamaan jenis kelamin (pade bebine’ ), serta harganya yang murah dan terjangkau dijadikan dasar bagi masyarakat untuk memilih jamu yang diracik oleh keturunan tersebut dan menjadi pengguna setia (langgenan).

Keberadaan jamu saat ini berkontestasi dengan jamu produk kemasan, kapsul dan pil, serta minuman suplemen energi. Misalnya, jamu Madura Perkasa Lelaki seharga Rp 5.000/pak, Rp 35.000/botol, dan Rp 50.000/botol isi 40 kapsul. Ada berbagai jamu untuk wanita mulai dari pemontok payudara hingga perawatan organ intim yang disebut jamu empot-empotan. Harga bervariasi dari Rp 5.000-Rp 50.000. Nyak Midah (40 tahun) mengatakan ”kalau perempuan minum jamu itu maka bapak pasti tambah jos, ketagihan (katagiyen) karena sang istri akan memberikan pelayanan dengan gerakan empot-empot ayam dan istri merasakan sang suami ereksi dalam waktu yang lama (odi’),” ujarnya sewaktu menjelaskan keampuhan jamu produksinya.

Selain jamu-jamu di atas, terdapat jamu-jamu tradsional lain yang cukup terkenal. Jamu yang dibuat oleh Paguyuban Jamu Tradisional Madura Are’ Lancor Pamekasan, misalnya meracik berbagai jenis jamu khas Madura dengan bahan-bahan (simplisia) yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang terdapat di Madura. Jamu Tradisional Madura Cap Payung yang diracik ’rasa kopi’ oleh K. Sa’um/H. Murais dapat menyembuhkan lemah syahwat. Jamu Rasa Kopi Sehat Bugar  dengan berat 150 gram, untuk ± 12 kali  minum seharga @ Rp. 15.000, sedangkan dengan berat 300 gram untuk ± 25 x minum seharga @ Rp. 26.000. Dalam kemasan jamu itu dinyatakan aturan pelarangan, yaitu hindari minum-minuman keras. Jamu produksi K. Murais ini mempunyai dua klasifikasi, yaitu Cap PAYUNG untuk yang kurus dan NYIOR KONENG untuk yang berat badan sudah ideal. Jamu tersebut telah memperoleh Ijin Depkes.[11] Jamu tradisional Madura produk Bapak Erfan dari Manding, Sumenep menyediakan jamu sehat, jamu kuat lelaki dengan pemasaran melalui internet dan telepon serta jasa siap antar. Jamu tradisional ramuan Madura asli produksi Ibu Abdullah, Madura dijual dengan Rp 35.000, setiap paket  dan belum termasuk ongkos kirim. Mereka mengklaim Madura asli untuk memasarkan produksinya. Jamu dengan label Madura Asli merupakan klaim-klaim untuk mendongkrak pasar. Juga jamu dengan label Madura seperti produk  T. DJOJO, CV dari  Dukuh  Legundi, Desa Krikilan Driyorejo Gresik dengan pemasaran via internet dan pasar bebas.[12]

Jamu Multi Guna Al Mu’arris, khusus pria dewasa dijual seharga Rp 35.000. Jamu Al Mu’arris merupakan ramuan tradisional bangsa-bangsa Arab dan India berdasarkan resep Nabawiyah dan di dalamnya terkandung bahan-bahan alami yang dipilih, terdiri dari madu murni, karun jiragam (biji hitam, je’dem), minyak habbatus sauda’ (biji Jintan Hitam), piper longum (perangsang otot dan syaraf serta sel-sel yang lemah ke seluruh organ tubuh, obat kuat),  nimmiku (raja anti biotik alami yang mampu meningkatkan kemampuan seksual), serta akar-akaran dan rempah-rempah yang dapat membantu mengatasi lemah syahwat serta memperkuat daya tahan tubuh. Jamu ini merangsang otot dan saraf serta sel-sel yang lemah ke seluruh tubuh sehingga berfungsi dengan baik, yang akan mengatasi lemah syahwat, mengentalkan mani, menghambat ejakulasi dini, mengobati encok dan pegal-pegal serta memberikan kekuatan ganda secara alami dalam menggairahkan seks secara optimal.

Salah satu racikan Madura yang dijadikan rujukan bagi kekuatan seks juga ditemukan di Stasiun Pasar Minggu, Jakarta, yaitu ramuan tradisional Lindung (belut) dan Lintah  yang dikombinasikan dengan pulosari, pucuk benalu cemara, daun selasih (warna hitam). Khasiat dan kegunaannya adalah memperbesar dan memperpanjang penis serta mengobati lemah syahwat, sangat cocok bagi pasangan yang kecewa, tidak tahan lama, kadang-kadang baru 3 atau 5 menit sudah ”keluar” (ejakulasi prematur). Cara pengunaannya; ramuan hitam harus dicampur dengan ludah basi  2 sampai 3 tetes lalu dikocok sampai merata, setelah mandi pagi balurkan ramuan hitam ke seluruh batang penis, lalu diurut dari pangkal sampai ke ujungnya selama 3 sampai dengan 5 menit (ulang pada malam hari sebelum anda tidur) sedangkan  jamu yang berwarna kuning khusus untuk bersenggama, dengan cara sebelum bersetubuh, balurkan 3 sampai 5 tetes ramuan yang kuning ke seluruh batang penis lalu ditunggu selama 45 menit sampai 60 menit baru bersetubuh. Ramuan kepala lindung dan  lintah merujuk pada Mujarobat halaman 53, Tajulmuluk halaman 43 dan 56, dan Buku Ramuan Madura, (hlm. 14). Mereka menerima panggilan khususnya lemah syahwat, sebagaimana penuturan Syafrizal, penjual racikan tersebut dari Kampung Jembatan, Cakung Jakarta Timur. Pada prinsipnya, jamu Madura berdiri atas klaim ‘asli’ dan berada dalam dua dunia, yaitu dunia tradisi dan global. Yang pertama melahirkan seperangkat pengetahuan dan perilaku mempertahankan keaslian dan sebagian yang lain melakukan revitalisasi (kemasan, proses pembuatan, dan komposisi).

Di sisi lain, ada yang menggunakan obat gairah seks dalam bentuk kapsul. Bahkan, ada yang mengkonsumsi produk global, yaitu viagra. Celakanya, ada sindiran yang beredar di masyarakat tentang penggunaan viagra. Karena obat ini mahal maka ia tidak digunakan saat berhubungan kelamin sehingga hanya dicium-cium dan dirasakan. Dengan sendirinya yang tegak terus adalah wilayah di sekitar mulut sedangkan yang bawah tetap letoy (loyo).[13] Obat seks itu  mengandung sildenafil sitrat, yaitu senyawa kimia yang bekerja dengan cara meningkatkan kadar cyclic guanosine monophosphate (cGMP) dalam corpus cavernosum diesterase tipe 5 (PDE 5) untuk meningkatnya nitrogen oksida (NO), sehingga penggunanya merasakan efek relaksasi otot polos dan pembuluh darah yang menyebabkan peningkatan aliran darah ke dalam corpus cavernosum, lalu terjadilah ereksi. Efek tersebut dimanfaatkan untuk pasien yang menderita gangguan pada proses ereksi atau disfungsi ereksi. Obat tersebut tidak memberi pengaruh besar pada pengguna yang tidak mengalami gangguan ereksi. Karena sildenafil itu bukanlah obat kuat, justru akan menimbulkan efek samping. Di antaranya, gangguan penglihatan, gangguan pencernaan, muntah, sakit kepala, reaksi hipersensitif, dan priapism (ereksi berkepanjangan lebih dari 4 jam).[14]

Obat penambah vitalitas pria Scorpion berbentuk kapsul produksi PJ Sinar Makmur, Madura termasuk yang berbahaya. Demikian juga dengan penambah vitalitas dan gairah sex Vi-Gra berbentuk kapsul produksi Hema Care; obat kuat pria dewasa Pastigra berbentuk kapsul produksi Hema Care; jamu kuat dan tahan lama Kuda Mas berbentuk kapsul produksi PJ Makmur Abadi; jamu kuat perkasa Spontan-On berbentuk kapsul produksi PJ Sinar Wahyu, Sumbar; obat kuat andalan pria dewasa Bali-Bali berbentuk kapsul produksi PJ Madura Sakti; dan obat kuat andalan pria merk Bali-Bali berbentuk kapsul PT Jaya Makmur, Bandung.

Di samping menggunakan jamu-jamu ramuan tradisional, juga terdapat mantra-mantra yang diyakini mampu menambah daya tarik untuk meningkatkan gairah seksual. Penambah daya tarik atau yang terkenal dengan sebutan pengasihan ini merupakan bagian dari kegiatan berhubungan seksual yang seringkali dilakukan oleh banyak pasangan. Contoh, mantra pengasihan (sren asren) pernah digunakan dan seringkali dibaca oleh Mardi;

 

Bismillahirrohmaniroohim. Sren-asren, bidedderi katoronanna are kamuncar, kumelong, nyonar katera’anna a kadiya bulan pornama, a kembeng kananga sanga’, tekka benes, pantes atena ingsun seumoro dhe’ wong sapujagad (untuk orang banyak). Kalau untuk diri sendiri dhe’ atena ingsun.

Ada juga resep rahasia dan supplemen/vitamin dari Ilmu Lanang Sejati  yang berguna untuk mencapai lebih banyak frekuensi ereksi yang lebih keras, mendongkrak kemampuan sistem kekebalan tubuh pemakai dan menambah  energi dan stamina dengan pembayaran model mahar (mas kawin).[15] Di samping itu ada yang mengandalkan ngelmu  lanang sejati dengan tujuan untuk memperbesar zakar secara akal dan gaib. Ilmu ini merupakan gabungan dari beberapa ilmu melalui pendekatan ilmiah dan alamiah. Simak saja pernyataan dalam brosurnya:

Kami sampaikan kabar gembira untuk anda. Apakah anda termasuk seorang lelaki yang mempunyai senjata kecil , loyo, kurang bertenaga, kurang besar , kurang berotot, impoten, mani encer , ejakulasi prematur dll. ?. Bikin besar panjang keras berotot, atasi impotensi , kuatkan ereksi, ejakuasi dini, cegah kangker prostat, mampu orgasme berkali-kali !!! , meningkatkan ejakulasi anda 10 x atau lebih kali lipat dan mengejutkan istri anda ketika anda mencapai klimaks! Membuat istri anda ketagihan…! Kami hadir untuk anda, dengan Aji Lanang Sejati ini seluruh keluhan diatas akan teratasi.

Bukan itu saja, ilmu ini menawarkan jasa memperbesar senjata model Arab Sudan  tanpa obat/suntik/pompa/pemberat dan tanpa efek samping untuk pria usia 15 s/d 50 Tahun. Harganya ditentukan dengan model mahar sebesar Rp. 50.000,- yang ditransfer ke nomer rekening di bank tertentu.

 Masyarakat dihadapkan pada beberapa pilihan tersebut untuk memenuhi ekspektasi seksualitas mereka. Dasar yang dipakai adalah nowan (cocok). Setiap orang mempunyai pilihan sesuai dengan kemampuan mereka. Ada yang nowan dengan racikan jamu pageren, jamu kemasan, koteka, sren-asren, ajian, kapsul, dan obat kuat lainnya.

 

Penyelesaian Kesenjangan Ekspektasi Seksualitas.

Akhir dari semuanya adalah terjadi kesenjangan antara apa yang dibayangkan dengan realitas dan/atau realisasinya. Laki-laki dengan segala strateginya cenderung kalah ‘di bawah yang dibayangkan’. Ibaratnya perempuan itu sungai dan laki-laki ibaratnya kencing di sungai. Hasilnya beraneka ragam. Ada yang mempertahankan dengan alasan agama dan budaya; ada yang memilih cerai dengan pertimbangan agama, kebudayaan, dan ekonomi, dan ada yang berusaha dengan jamu; serta menerabas dengan bur-leburen (perselingkuhan).[16] Kehebatan goyangan perempuan Madure bukan sekedar mitos melainkan realitas.

Akhirnya, ada folklor perempuan Madura yang berkisah tentang seorang  laki-laki bule yang ingin merasakan kenikmatan bercinta dengan perempuan dari berbagai latar belakang. Tiba di Madura, bule tersebut ingin menikmati perempuan Madura. Si perempuan mempertontonkan kehebatan goyangannya dengan memasukkan timun ke dalam kemaluannya kemudian timun itu keluar menjadi acar. Selanjutnya, ketela pohon dimasukkan ke kemaluannya dan keluar menjadi tape. Akhirnya, si Bule  berpikir seratus kali, lha kalau barangnya masuk keluarnya bisa-bisa menjadi corned beef (Danandjaja, 2004).

Penulis adalah Staf Pengajar di Universitas Negeri Malang, Pengajar Tidak tetap di Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia dan Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, serta Manajer Monitoring dan Evaluasi Partnership for Governance Reform in Indonesia.

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Astuti, Widji, 2002  ‘Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan jamu Madura di Kabupaten Sumenep’ Jurnal Ekonomi Universitas Merdeka Malang,  Tahun 6, No. 1, Januari 2002.

Bustami, Abd. Latif. 1990/1991. ‘Penggunaan Jamu Tradisional sebagai Alat Kontrasepsi pada Masyarakat Petani  Tegal di Desa Salopeng Kecamatan Dasok Kabupaten Suemenep: Suatu Kajian Antropologi Kesehatan’. Laporan Penelitian. Malang: Lembaga Penelitan IKIP Malang.

_______. 1995. ’Rukun Perawas, Rukun Pewaras, dan Rukun Pewaris Organisasi Topeng Dalang di Sumenep’. Jurnal Bahasa dan Seni Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang.

_______. 1997. ‘Sejarah, Etos dan Perilaku Sosial Orang Madura’ dalam Aswab Mahasin, dkk (penyunting), 1997. Ruh Islam dalam Aneka Budaya Bangsa, Jilid 2, Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal.

_______. 2005. Carok dan Perempuan Madura dalam Hayat. Edy P dan Miftahus Surur (peny.). Perempuan Multikultural. Depok: Desantara.

Danandjaja, James. 2000. Folklor Indonesia. Jakarta: Pustaka Grafitipress.

Kuntowijoyo. 2000. Radikalisasi Petani. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Lapian, A.B. ‘Sejarah Nusantara Sejarah Bahari’. PidatoPengukuhan Guru Besar Luar Biasa.

 

 

 

 

Catatan Belakang


[1] Oreng Madure sebagai jati diri suku bangsa, yang diekspresikan dalam penggunaan bahasa Madura, pola permukiman, pengetahuan, keyakinan, dan nilai budaya yang dijadikan acuan dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Madura di kalangan keluarga yang berada pada stratifikasi bawah (oreng kene’ ) mengenal tiga tingkatan bahasa, yaitu sengko’-be’na, bule-dhika, dan kaule-sampeyan. Eskpresi yang utama adalah Islam sebagai agama oreng Madure. Jumlah oreng Madure menurut Sensus Penduduk 2000 adalah 3,37% sehingga berada di urutan keempat setelah Jawa (41, 71%), Sunda (15,41%), dan Melayu (3,45%) Jumlah itu menurun dibandingkan dengan hasil sensus 1930 (7,28%) berada dalam posisi ketiga setelah Jawa (47,02%) dan Sunda (14,53%). (Suryadinata dkk 2003: 12-13). Menurut saya, konflik antaretnis di Kalimantan berpengaruh terhadap penurunan jumlah orang Madura. Jati diri orang Madura berada di persimpangan jalan karena perkawinan antaretnis dan antarbangsa. Anak-anak dari hasil perkawinan itu menjadi tidak jelas suku bangsanya dan cenderung memilih sesuai dengan kota kelahiran mereka.Di sisi lain, dalam sensus itu yang dijadikan dasar pengklasifikasian etnis adalah pengakuan diri sehingga anak-anak hibrid memilih etnis superior dan dominan.

[2] Dalam babad itu digambarkan Dempo Awang menggunakan perahu yang bisa terbang untuk menaklukkan Jawa. Sesuai dengan pesan paman Joko Tole, yaitu  Adi  Rasa, kalau  menemui kesulitan  bisa memanggil namanya maka muncullah kuda terbang yang berkulit hitam yang bernama Mega Remmeng dan sebuah cambuk. Dalam pertempuran  yang berlangsung di darat dan udara, keduanya bisa terbang (ngabber) dan Joko Tole berhasil mencambukkan  pecutnya ke pera-hu Dempo Awang sehingga hancur berkeping-keping. Kuda terbang Joko Tole djadikan lambang Kabupaten Sumenep dan nama-nama desa dan situs di Madura mengacu pada pertempuran tersebut. Cerita yang berbeda Dempo Awang dikaitkan dengan perahu yang sarat muatan yang bermakna keberhasilan berdagang (Lapian, 1992)

[3] Cerita itu menguat di kalangan orang tua  dan ditransmisikan melalui cerita tutur kepada anak-anak mereka. Mereka mengungkapkannya dengan konstruksi perempuan di luar Madura dikonstruksi tidak perawan sehingga rasanya hambar (cia), goyangannya kurang menggigit. Ungkapan itu dinyatakan oleh informan, Ibu Aisyah  kepada anaknya yang mempunyai pacar perempuan Jawa.

[4] Integrasi masyarakat dibentuk melalui institusi masjid dan pasar kecamatan.Kuntowijoyo mengaitkan lemahnya gerakan sosial di Madura karena lemahnya lembaga yang berperan sebagai simpul pengintegrasi masyarakat (Kuntowijoyo, 2000). Menurut saya, saat ini telah terjadi perubahan mendasar. Perubahan sosial yang disebabkan oleh mekanisme pasar, ekspansi pasar, dan integrasi pasar telah menciptakan berbagai simpul integrasi masyarakat.

[5] Para pelintas batas antarruang itu melakukan perlawanan kultural dengan carok fisik dan simbolis. Bentuk perlawanan tersebut dijelaskan oleh Bustami (Bustami, 2005).

[6] Iyo’ berasal dari istilah cung kuo (Cina sebagai pusat kekuasaan) dan Iye’ berasal dari istilah sayyid (orang yang diutamakan, orang yang dihormati).

[7] Mereka melarang perempuan menikah dengan laki-laki yang berasal dari masyarakat setempat. Alasannya adalah prinsip kekerabatan mereka adalah patrilineal sehingga nasab mereka hilang. Laki-laki dari keturunan mereka boleh menikah dengan perempuan setempat. Di kalangan iye’, orang Arab yang menikah dengan perempuan setempat dikenal dengan istilah ahwal (saudara seibu). Pada tahun 1990-an terjadi kasus di Sumenep, yaitu Hanto menikah dengan perempuan ningrat Arab, As Saqqaaf (Syarifah). Konflik antara iye’ yang mendukung pelarangan menikah perempuan Arab dengan laki-laki lokal  dan oreng Madure pendukung  boleh laki-laki lokal menikah dengan perempuan Arab. Bahkan, Bupati turun tangan membela laki-laki Madura menikah dengan perempuan Arab. Konflik meluas sehingga dikenakan jam malam. Selang beberapa tahun pernikahan, Hanto meninggal sehingga mitos larangan menikah menjadi realitas dan diceritakan terus menerus di kalangan orang Arab.

[8] Akhir-akhir ini kecenderungan perubahan gaya hidup kembali ke alam (back to nature) telah menyebabkan permintaan yang cukup besar terhadap obat-obatan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau obat tradisional atau dalam masyarakat kita lebih dikenal sebagai jamu. Salah satu penyebab kecenderungan perubahan gaya hidup tersebut adalah adanya efek samping (side effect) penggunaan obat sintetik dan antibiotik, serta berkembangnya pandangan masyarakat bahwa pemanfaatan bahan yang bersifat alami relatif lebih aman dari pada bahan buatan (sintetik).

[9] Di benua Eropa dan Asia, posisi Madura terletak di bagian selatan, sebagaimana dalam iklan di luar negeri dinyatakan bahwa ‘Here is the most rapid – acting medicinal herbs from The Madura Island of The South Seas, specially formulated for women who want to develop their full potential. The composition of these wonderful medical herbs are made from traditional and purest pharmaceutical quality herbs found only on The Madura Island. This secret formula was perfected and skillfully blended with newly discovered ingredients into high – potency formula to give the following effects : 1. To stimulate and intensify mutual excitement during intercourse.  2. To eliminate vaginal “white discharges” (leucorrhoea) and banish vaginal odor. 3. Relief from internal irritation in the vagina that cause discomfort.  4. Ideally suitable to be used by women who try to accomplish their full potential, because the medicinal herbs will reduce excessive liquid substance in the vagina and to provide maximum sexual pleasure for both participants. Iklan yang lain di Singapura menyatakan ‘The Madura Stick has been used hundreds of years by the women of Madura Islands. It is safe and very effective. The Jamu Herbal Stick contains the traditional purest pharmaceutical quality herbs. The madura stick with jamu which keep the vagina clean and healthy. Quickly eliminates the melanin, tightens and maintains healthy appearance of vagina for both women with or without any experience of giving birth. Tightening the vagina will bring more sexual pleasure to you and your partner. The Jamu Herbal Stick utilizes the cutting — edge technology. Each product is made by hand. All the composition of the madura stick is purest natural! The Jamu Herbal Stick can also help to solve the vagina discharge trouble. Keep underwear clean without any traces. Our Madura Stick For Women comply with International Quality Standards and their quality and durability are fully guranteed’.

[10] Organisasi Topeng Dalang di Desa Slopeng ada tiga, yaitu Rukun Perawas  ’Se Banjir’, Rukun Pewaras, dan Rukun Pewaris (Bustami, 1995).

[11] Berdasarkan hasil operasi pengawasan dan pengujian laboratorium Badan POM periode 2001 hingga 2003, terdapat 78 produk jamu/obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat terdiri atas  antalgin, furosemid, teofilin, diapam, fenilbutason, deksametason, CTM, talbutamid, klorpropamid, teofilin, parasetamol, pirosikap, kafein, metiltestosteron, dan sildenafit sitrat. Tindakan produsen dan pengedar produk obat tradisional/jamu yang dicemari bahan kimia obat, melanggar UU No 23/1992 tentang Kesehatan. Mereka juga bisa dijerat UU No 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen dan pelakunya diancam hukuman pidana penjara maksimum lima tahun atau Rp 2 miliar. Produk jamu yang mengandung bahan kimia obat berbahaya dan dilarang beredar, di antaranya Jamu Ramuan Tradisional Madura (Wahyu Illahi, Sumenep) (Suara Merdeka Selasa, 17 Juni 2003).

[12] Penelitian terhadap 36 responden per satu unit usaha. Responden adalah pemakai jamu yang melakukan transaksi pembelian di unit usaha jamu madura. Berdasarkan hasil analisis regresi diperoleh beberapa temuan yang mendukung strategi untuk meningkatkan penjualan jamu madura, dan terbukti bahwa harga, distribusi, dan produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap permintaaan jamu madura, produk adalah faktor dominan yang mempengaruhi permintaan jamu Madura (Astuti, 2002).

[13] Bahan kimia golongan obat keras sildenafil sitrat dalam mengobati masalah impotensi – yang dijual dengan merek dagang Viagra – telah ditanggapi secara keliru oleh masyarakat sebagai obat kuat. Hal itu terbukti dari hasil temuan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) atas 15 produk yang mengklaim sebagai obat tradisional untuk keperkasaan pria, namun mengandung obat keras sildenafil sitrat. Ke-15 produk tersebut telah diperintahkan untuk diamankan, ditarik dari peredaran dan dimusnahkan atas perintah Kepala BPOM Sampurno (Suara Merdeka, Selasa, 30 Agustus 2005), di antaranya obat kuat Spider, produksi Sinar Makmur Madura;  Obat Penambah Vitalitas Pria Scorpion, PJ. Sinar Makmur Madura; Obat Kuat Andalan Pria Dewasa Bali-Bali, produksi PJ Madura Sakti  (Tempo Interaktif  Jakarta, 29 Agustus 2005, pukul 14.10)

[14] Bahkan ada satu dari 15 produk itu yang menimbulkan efek samping ereksi berkepanjangan hingga 4 jam, sehingga penggunanya harus berobat ke dokter untuk menormalkannya kembali. ”Hal-hal semacam itu kan sudah tidak sehat,” ucap Sampurno menegaskan.

[15] Proses transaksi mengidentikkan barang dengan manusia dianggap sebagai dua mempelai. Ketika keduanya cocok maka terjadi ijab kabul. Kesepakatan itu diitndaklanjuti dengan pembayaran mas kawin (mahar). Dengan sendirinya aspek magis religius benda tersebut terjaga. Model pemasaran itu sering terjadi pada relik dan komoditi yang berdimensi magis religius.

[16] Dalam lima tahun di Kecamatan Dasok, terjadi eskalasi jumlah perempuan yang meminta cerai (melle pasha) kepada suaminya dengan berbagai alasan. Salah satu alasan yang mengejutkan adalah karena ’burung suaminya’ tidak ereksi  (ta’ odi’ ) dan tidak memberikan kepuasan seksual (ta’ lalake’ ) (Wawancara dengan seorang petugas KUA, Ibnu, 20 Maret 2006).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biasa


Beranda  |  Kategory: Edisi 10 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia