Seksualitas Produk Iklan dan Ramuan

10 - Oct - 2006 | Sigit Budhi Setiawan dan Miftahus Surur | No Comments »

Hari itu adalah hari Jumat malam ketika seorang laki-laki yang kemudian dikenal dengan nama Sumarno (42 tahun) itu mampir ke sebuah warung jamu pinggir jalan milik Yanto (36 tahun). Tanpa tedeng aling-aling, ia segera memesan jamu Pasak Bumi yang dicampur dengan telur bebek dan madu. Tanpa banyak cakap, Yanto segera menyiapkan jamu yang dipesan oleh pembelinya itu. Sepeminuman teh kemudian, satu gelas jamu Pasak Bumi yang telah dicampur dengan telur bebek dan madu itu pun habis dalam sekejap. Banyak yang mengatakan bahwa resep minum jamu apa pun hendaknya dihabiskan dalam sekali tenggak agar tidak tercium bau amis atau pun juga rasa pahitnya. Setelah itu, Sumarno pun pergi meninggalkan warung jamu Yanto dengan wajah berseri-seri.

Menurut Yanto, Sumarno merupakan orang yang ke-11 yang singgah di warungnya untuk membeli jamu kuat khusus laki-laki. Sepuluh orang sebelumnya juga memesan jamu kuat khusus laki-laki meskipun dengan merk yang berbeda. ada yang memesan Kuku Bima, Pria Perkasa, Urat Madu, Ben Pasti, dan lain-lain. “Kalau akhir pekan seperti ini memang lebih banyak yang beli dibanding hari-hari biasanya,” jelas Yanto. Untuk hari-hari biasa, Yanto mengatakan bahwa pembeli yang memesan jamu kuat rata-rata tidak lebih dari lima orang.

Hampir senada dengan Yanto adalah Marni (28 tahun). Perempuan yang sehari-hari berprofesi sebagai penjual jamu gendongan keliling itu pun sering mendapat pesanan jamu kuat khusus laki-laki. Bahkan tidak jarang laki-laki pembeli yang dengan nada menggoda memintanya memberikan ramuan yang paling istimewa. Berbeda dengan konsumen Yanto, para pembeli jamu milik Marni juga tidak sedikit dari kalangan perempuan. Ada yang memesan jamu khusus perempuan sepeti Mustika Rapet, ada juga yang hanya memesan Beras Kencur dan Kunir Asam. “Mereka memang langganan saya, jadi tidak malu atau sungkan kalaupun harus memesan jamu ‘khusus’ untuk perempuan,” tutur Marni.

Jamu, baik yang sudah tersedia dalam bungkusan maupun yang dibuat berdasarkan ramuan sendiri memang tidak asing di kalangan masyarakat. Sebagai yang diyakini memiliki unsur pembugaran bagi tubuh, jamu dan ramuan-ramuan tradisional lainnya juga mampu membangkitkan energi tubuh yang tersita karena pekerjaan sehari-hari. Hal ini telah menjadi kenyataan sekaligus kebiasaan sejak berabad-abad lalu terutama ketika manusia mengetahui bahwa tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar mereka memiliki unsur penyehatan yang diperlukan bagi tubuh.

Pada saat yang sama, kehidupan seksual pun menuntut atau memandang perlu adanya nuansa kebugaran tubuh. Terlepas dari apakah tujuan utama hubungan seksual itu mengharuskan adanya penikmatan, pemuasan, atau keduanya sekaligus, tapi unsur sehat menjadi faktor yang dianggap cukup mendasar. Tapi entah, secara lambat-laun tapi pasti sehat, khususnya dalam hal hubungan seksual, dimaknai secara lebih luas dan diidentikkan dengan kuat, perkasa, tahan lama, dan sebagainya.

Mungkin benar bahwa pemaknaan itu lebih sebagai akibat dari gempuran modernitas yang menempatkan hakikat hubungan seksual harus atau akan lebih memuaskan jika dipenuhi melalui jalur-jalur fisik tubuh. Fantasi-fantasi seksual yang ditebarkan melalui berbagai promosi hampir selalu mengutamakan muatan tubuh secara fisik. Akhirnya, baik itu jamu-jamuan maupun obat penambah sehat dan kuat diproduksi untuk memenuhi kebutuhan modernitas yang berjalin-kelindan dengan hasrat kapitalisme industrial. Sementara pada tataran yang lebih privat, hubungan seksual yang terkadang lebih mementingkan kebersamaan, pengertian, dan kasih sayang tidak lagi menjadi perbincangan publik. Ia selalu kalah oleh kampanye seksualitas modern dan hanya layak untuk membesarkan hati para pasangan yang lemah dalam kehidupan seksualnya.

Kami adalah Subjek dalam Proses   

Tidak diragukan lagi bahwa kampanye produsen jamu-jamuan tradisional yang diproduksi secara modern bukanlah semata-mata mengharapkan harmonisasi hubungan seksual, melainkan untuk melancarkan bisnis industrial ke tengah masyarakat. Paling tidak, terdapat dua hal penting yang bisa dilihat di dalam kampanye tersebut. Pertama, kehidupan seksual sangat berkaitan dengan obsesi fantasi mengenai ideal-ideal seksualitas yang mudah diukur secara fisik. Panjang, besar, legit, rapet, sempit, dan sebagainya merupakan fantasi kenikmatan hubungan seksual yang “dipastikan” akan menghasilkan kepuasan. Kedua, untuk memenuhi ambisi obsesif fantasi seksualitas itulah diperlukan – lebih tepatnya diniscayakan – untuk mengkonsumsi jamu dan ramuan-ramuan tertentu yang murah, mudah didapat, manjur, dan tanpa efek samping. Dari konsep dan tujuan itulah iklan dibuat dan ditayangkan. Perempuan dengan wajah cantik, tubuh indah, sintal nan molek menghiasi berbagai tayangan media, baik elektronik maupun cetak. Suara khas penuh rayuan disajikan sebagai daya tarik ditambah dengan senyum aduhai mendatangi laki-laki dengan jamu merk tertentu di tangan. Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa dengan mengkonsumsi jamu tersebut, keduanya bisa “naik” berkali-kali sehingga kepuasan bisa dicapai secara maksimal. Fantasi seksual yang bukan hanya menggiurkan, tetapi memang sengaja diciptakan untuk merayu benak pikir bagi yang menyaksikan atau cukup mendengar desah halusnya. Dalam kondisi serba disuguhkan oleh rayuan itulah banyak kepala membiarkan diri larut dalam khayal secara berlebihan; entah memikirkan perempuan seksi dalam iklan tersebut atau oleh keinginan tampil perkasa di atas tempat tidur.

Apa yang tampak dari kenyataan seperti itu adalah bahwa iklan menjadi sangat penting berdasarkan merk-merk tertentu. Kecanggihan produsen mengemas produknya agar diminati masyarakat membuat publik menjadi tidak terlalu penting untuk mengamati bahwa berbagai produk dan aneka merk yang berbeda-beda itu sesungguhnya memiliki kemiripan komposisi ramuan. Dan sepertinya bukan itu yang menjadi minat pembeli. Kesan dan kemasan yang disuguhkan oleh iklan itulah yang lebih memancing minat publik. Produsen pun sangat mengerti itu, bahwa komposisi bukanlah hal yang akan dilirik oleh konsumen mereka. Untuk itulah, bombardir kesan dan imaji adalah faktor yang sangat diutamakan. Publik – atau lebih tepatnya pasar – digelorakan oleh penampilan-penampilan tertentu, sudah diatur, dan pastinya menggemaskan. Sehinga hampir tidak terdapat produk ramuan yang diiklankan dengan menampilkan sosok perempuan yang tidak menarik.

Daftar Jamu  Penambah Gairah dan Kekuatan Seksual

NO

NAMA

JENIS

HARGA (Rp)

KOMPOSISI

KETERANGAN

1. Urat Madu Obat Kuat dan Tahan Lama 15.000,- Miristica Fragans, Yohimbin, Euricoma longfolia Radix, Zing beris Rhizoma, dan Curcumae Rhizhoma. Menambah kekuatan dan daya tahan seks, mencegah ejakulasi dini.
2. Ben Pasti Obat Kuat dan Tahan Lama 15.000,- Menambah kekuatan dan daya tahan seks, mencegah ejakulasi dini.
3. Sex Paten Obat Kuat Pria 2.000,- Pasak Bumi, Ginseng, Kuda Laut, Sarang Burung Walet, Tanduk Menjangan, Daun Sambung dan Frono Jiwo Mengatasi Lemah Syahwat, Impotensi Keinginan Seksual Menurun, Air Mani Encer.
4. Macho Man Top Instan Obat Kuat Pria 2.000,- Zing beris Rhizoma, Euricoma longfolia, Piperis Nigri Fructus, Ginseng Powder. Menyembuhkan Lemah Syahwat, Menambah kemampuan bertahan bagiyang tidak berthan lama saat berhubungan seks, menyempurnakan  daya kerja sistem syaraf, menambah sunsum tulang (hormon) dan sperma tozoid pada buah pelir pria.
5. Kuku Bima TL Obat Kuat Pria 2.000,- Tribulus Teretris, Hippocampus, Panax Ginseng, Euricomae Radix, Zing beris Rhizoma. Menambah vitalitas dan libido, menambah semangat, stamina dan kesehatan, membantu mengatasi masalah kesuburan
6. Tangkur Buaya Obat Kuat Pria 2.000,- Euricomae Radix, Zing beris Rhizoma, Panax Ginseng. Menambah tenaga seksual, kurang bergairah.
7. Tangkur Obat Kuat Pria 2.000;- —– Berguna untuk yang kurang perkasa, kurang tenaga, kurang gairah dan lemah syahwat, Memebrikan kepuasan seks dalam hubungan susmi istri.
8. Esha Plus Khusus pria 2.000- Euricomae longifoliae, Zing beris Rhizoma, Piperis Nigri Fructus. Meningkatkan sistem imun dan kekuatan seksual.
9. Millenium Man Jamu Sehat Pria 2.000,- Zing beris Rhizoma, Kaemferiaa Rhizoma. Meningkatkan stamina tubuh.
10. C. Hanoman 2.000,- Myristicae Semen, Eurylomasis Longi Folia. Menambah kesehatan badan bagi kaum pria, lemah badan lesu dan tak bersemangat.
11. Se Soton Plus Gingseng Khusus pria 2.000,- Euricomae Radix, Panax Ginseng Radix. Meningkatkan stamina dan memperlancar peredaran darah.
12. Kuat Joss XL Khusus pria 1.500,- Panax Radix, Serbuk Kuda laut, Euricomae radix, Zingberis Rhizoma, Kaemferiaa Rhizoma.  Untuk meningkatkan keperkasaan, menguatkan pinggang serta memperlancar air seni.
13. Pasak Bumi Khusus pria 1.500,- Euricomae radix. Meningkatkan vitalitas tubuh.
14. Gingseng Kuda laut Khusus pria 1.500, Euricomae Radix,  Zingberis Rhizoma. Berkhasiat khusus bagi keperkasaan pria
15. Pria Perkasa Khusus pria 1.500, Piperis Nigri Fructus, Zingberis Aromatica.  Menambah semangat.
16. Tangkur Putih Khusus pria 1.500,

 Piperis Nigri Fructus, Euricomae radix.Meningkatkan kesehatan pria, menjaga stamina tubuh.17.IrexKhusus pria Yohimbe cortex, Muira puama radix,
L-Arginine HCl , Ginseng radix , Madu.meningkatan libido, sensasi, dan stamina.18.Kuat MajunKhusus pria

 ——–19.Mustika RapetKhusus wanita1.500,

 Coriandri Fructus, Colae Semen, corrigents.Menambah gairah dan kepuasaan pasangan anda, merapatkan dan mengencangkan otot-otot kewanitaan anda, mengobati keputihan.20.Sari RapatKhusus wanita1.500,

 Alyxiae Cortex, Coptici Fructus.Menyembuhkan dan memperindah tubuh kaum wanita, mencegah keputihan.21.Raket WangiKhusus wanita1.500,-

  Membuat rumah tangga harmonis, mencegah.22.Sari AsmaraKhusus wanita1.500,-

 —-Memulikah dan merapatkan rahim setelah melahirkan.23.Rumput FatimahKhusus wanita1.500,-

 Retrofracti Fructus, Piper betle folium.Mengatur haid, melangsingkan badan.24.Sepet WangiKhusus wanita1.500,-

 Zingiber americansis Rhizoma, Murrayae Folium, Guazumae FoliumMelangsingkan badan.25.Sehat WanitaKhusus wanita2.000,-

 Kaemferiaa Rhizoma.Menyehatkan badan.26.Galian PutriKhusus gadis remaja2.000,-

 Curcumae aeruginose Rhizoma.Merawat tubuh.

 

Sumber:

Bapak Yanto dan Tasrib (pejual Jamu Tenda Jalan Margonda Raya) dan mbak Kustiyah, pedagang Jamu Gendong.

Harga jamu di atas adalah harga per sachet, bila diseduh di tempat dengan tambahan telor bebek atau ayam, anggur, jeruk nipis, dan sebagainya harga berkisar Rp. 6.000;– sampai Rp. 7.000;–

Daftar di atas berdasar  atas jumlah pembelian yang sering dicari dan dikonsumsi

Sejumlah deret nama dan merk jamu di atas – seluruhnya sudah terdaftarkan di Depkes RI – menggambarkan bahwa persoalan seksualitas tidak cukup dinikmati tanpa penunjang. Sejumlah deret nama jamu tersebut juga menunjukkan bahwa seksualitas merupakan bagian yang sangat penting dari kehidupan manusia. Belum lagi jika harus ditambah dengan produk-produk jamu tradisional lain yang tidak pernah merasa perlu didaftarkan di departemen kesehatan milik pemerintah. Pada akhirnya, seksualitas menjadi ruang perebutan berbagai kepentingan,  industri, agama, kapitalisme global, dan modernitas dalam bentuk yang lain. Realitas ini pulalah yang juga dipahami oleh Mualimah (32 tahun), penjual jamu gendong keliling. Hampir tiap pekan ia ditawari beberapa produsen jamu untuk menjajakan produk-produk mereka. Tentu, Mualimah bukanlah penjual jamu gendong yang memiliki cukup modal untuk membeli semua tawaran produsen. Ia hanya membeli beberapa jamu dengan merk tertentu yang diperkirakan akan banyak dikonsumsi oleh pelanggan atau para pembeli pada umumnya.

Sebagai seorang penjual, Mualimah memiliki logika sendiri dalam memahami pasar jamunya. Sementara sebagai pribadi perempuan yang memiliki suami, konstruksi mengenai seksualitasnya tentu tidak selalu selaras dengan wilayah seksualitas produk ramuan yang ia perdagangkan. “Saya tidak pernah kok meminum jamu-jamu yang khusus. Kalau mau gitu (berhubungan seksual), ya gitu saja. Tidak usah aneh-aneh,” ujarnya. Bahkan, dalam kenyataannya yang lain, Mualimah juga bertutur bahwa ukuran-ukuran yang serba fisik tidak menjadi target utama dalam meraih kepuasan seksual. Baginya, hubungan seksual merupakan aktifitas keseharian yang tidak harus tuntas dalam sekali kegiatan. Ada hari esok, tidak harus menjanjikan, tapi cukup menjadi waktu yang tersedia untuk melakukannya setiap saat dan sampai kapanpun. “Suami saya sih setiap hari minum Fatigon. Pernah juga coba-coba pakai tisu magic dagangan saya, bertambah besar dan tahan lama juga sih miliknya, tapi saya malah tidak kerasa gitu. Malah kalau biasa-biasa saja, saya yang keluar duluan,” ungkapnya malu-malu.

Hal yang sama diutarakan oleh Sutarto (36 tahun). Laki-laki yang sehari-hari bekerja sebagai penjual buku itu tidak pernah mengeluh mengenai aktifitas seksualnya. “Saya punya istri yang dianugerahi tubuh baik, bersih, dan sehat. Kami berhubungan intim secara biasa-biasa saja, tanpa cara-cara khusus, tanpa jamu-jamu tertentu, juga tidak harus dengan target-target kepuasan. Terkadang kami bisa berhubungan dalam jangka waktu yang panjang dengan syarat kondisi tubuh kita lagi sehat dan fit, tapi itu bukan target kami. Ya biar wajar-wajar saja, biar saja terjadi. Yang kami butuhkan kebersamaan. Kalaupun hari ini tidak puas, besoknya pasti bisa meraih kepuasan itu,” cerita Sutarto.

Apa yang dialami oleh Sutarto berbeda dengan yang disinggung oleh Husni (37 tahun). Laki-laki tukang ojek itu berseloroh bahwa kepuasan dalam berhubungan seksual merupakan target utama. “Saya dan istri memang tidak sering gituan (hubungan seksual. Red). Dalam satu minggu paling banter cuma 2 kali. Tapi justru itu, kami tidak pernah bosan dan kami juga bisa mengatur irama permainan sehingga kami selalu bisa meraih kepuasan,” ujarnya. Untuk tetap menjaga stabilitas dan fitalitasnya itulah ia sering mengkonsumsi jamu-jamu ramuan yang ia beli di warung-warung pinggir jalan.

Proses. Itulah yang sering terlewat dari asumsi mengenai seksualitas dan hubungan seksual itu sendiri. Fantasi dan imajinasi yang digulirkan melalui rayuan dalam media publik seolah-olah ingin membuat subjek-subjek yang menjalaninya bak tubuh mati yang tidak memiliki kreatifitas. Puas tidak puas dibuat bergantung pada target final sehingga konsumsi orang per-orang terhadap ramuan seolah-olah menjadi sangat penting, bukan pada dinamika internal hubungan masing-masing pasangan. Iklan tersebut telah sengaja lupa bahwa hubungan seksual yang sedemikian intim tidak lebih berbeda dengan interaksi dalam bentuk yang lain. Sesekali waktu ia akan menciptakan klimaks, sesekali pula hanya akan menyisakan hambar. Ketika semuanya berlalu, ia akan membentuk suasana lain yang terus diperbaharui.

Apa boleh buat. Dunia global menawarkan imajinasi yang beraneka. Batas tidak lagi menjadi persoalan pada saat seseorang, perusahaan, koorporasi, atau rayuan menawarkan sesuatu. Internet bisa diakses dan ditonton oleh siapa pun dan dari wilayah manapun. Berbagai macam bentuk produk dan tayangan umbar tubuh juga bisa dilihat oleh siapa pun. Pasar bukan lagi sebagai tempat dialog yang menghubungkan berbagai kehendak yang berseberangan karena yang ada hanyalah penawaran dengan harga yang sudah dipatok jelas.  Di situlah kemasan dibungkus rapi untuk menggelembungkan imaji. Seks yang hebat misalnya, adalah yang mengandung unsur A-Z, persis seperti yang ditayangkan dalam informasi teknologik itu. Ia terus beredar hingga akhirnya tidak sedikit yang mengikuti kemauannya.

Bukan hanya itu, pedagang yang kini kian mahir juga semakin mengerti bahwa setiap orang selalu dibayangkan sebagai konsumen. Dengan seksualitas sebagai corong, berbagai jalan ditempuh untuk itu. Di salah satu sudut banyak yang menawarkan imaji seksualitas melalui ramuan berbentuk jamu-jamu tradisional, sementara di sudut yang lain terdapat rayuan menarik melalui penggunaan mantra-mantra tertentu yang bertujuan untuk mendukung daya seksual. Keduanya saling berebut pasar dan kompetisi pun kian sengit. Keduanya sama-sama ingin menampakkan diri sebagai satu-satunya “yang manjur dan memikat.” Melalui selebaran dan iklan, keduanya berebut tempat. Fenomena ini tentu saja menarik karena ia seperti akan menggambarkan bahwa apa yang disebut sebagai tradisional dan modern tidak lagi berdiri di masing-masing tempat yang kaku dan batasan yang jelas. Keduanya bisa diramu dan diaduk menjadi resep yang mujarab.

Siapa pun mengerti bahwa mantra dan semburan air dari mulut mbah dukun adalah bagian dari “dunia lain” yang tidak pernah disentuh oleh rasionalitas. Wilayah itu dikategori masuk dan menjadi bagian dari kelompok, komunitas, atau sosok-sosok yang sangat patuh pada “yang ghaib.” Tetapi ketika infotainment dan tayangan tubuh vulgar dalam film biru menjamah kesadaran publik mengenai seksualitas yang “hebat” maka kenyataannya akan menjadi lain. Wilayah tradisional itu memanfaatkan rayuan modernitas untuk masuk ke dalam logika yang sama, yaitu pencarian peruntungan. Dan justru melalui semburan air dan mantra itulah konstruksi tentang seksualitas dimaknai-ulang. Mbah dukun mulai mengiklankan diri di berbagai media bersandingan dengan Kuku Bima TL atau juga Viagra. Ia pun ingin mengatakan bahwa problem seksualitas pun bisa dibenahi melalui mantra, bukan semata-mata nasehat dokter spesialis di klinik-klinik atau rumah sakit berkelas. Di sinilah sulitnya untuk menentukan apakah fenomena ini merupakan resistensi tradisionalitas di hadapan modernitas, atau lumpuhnya yang tradisional di hadapan yang modern, ataukah suatu bentuk pergulatan yang selalu berproses mencari kemanfaatannya masing-masing?

Dengan demikian, sesuatu yang perlu dilihat dari fenomena jamu, perempuan, dan iklan adalah munculnya geliat dari berbagai wilayah kehidupan, teknologi, dan industri. Tidak ada yang bisa disalahkan di dalam pergulatan itu karena masing-masing memiliki keinginan untuk mencari pengikut dalam sebuah ruang atau pasar yang terbuka. Bagaimanapun, setiap kompetisi selalu memiliki misi memperebutkan pasar. Mungkin, yang tetap perlu untuk dikritisi adalah niat buruk untuk menenggelamkan para kompetitor itu melalui penggerusan oleh kekuatan modal dan cara-cara yang tidak fair. Para dokter boleh saja mengatakan bahwa mereka adalah ahli medis yang bisa memberikan solusi yang terbaik bagi persoalan seksualitas seseorang, tetapi pada saat yang sama mereka juga tidak dibenarkan untuk mengatakan bahwa mbah dukun adalah sosok abnormal, mistik, dan tidak layak dikunjungi.

Lalu, bagaimana memaknai perempuan di dalam pergulatan itu? Salah satu hal yang perlu disadari adalah bahwa peran, posisi, dan identitas perempuan tidaklah tunggal. Sebagai produsen, para perempuan pembuat ramu-ramuan mungkin lebih berorientasi pada pasar, yaitu bagiamana menciptakan dan menemukan konsumen sebanyak-banyaknya tanpa harus disertai dengan visi yang lebih “ideal” seperti mengharapkan kebahagiaan hubungan rumah tangga bagi konsumen ramuannya. Sementara bagi perempuan yang menjadi ikon dalam iklan di media juga sangat mungkin tidak memperdulikan itu semua. Apa yang ia harapkan adalah cukup tampil dan mendapat konsesi yang sesuai dengan kontrak yang ditanda-tangani. Bagi konsumen perempuan yang hampir tiap hari rajin minum satu gelas jamu dan ramuan tradisional yang lain lebih mengharapkan sebuah hasil yang produktif bagi dirinya sendiri dan pasangan mereka, entah berbentuk kebugaran tubuh atau menunjang fitalitas di dalam hubungan seksual.

Dengan pluralitas peran dan posisi perempuan di dalam pergulatan modernitas dan tradisionalitas yang direpresentasikan melalui jamu, ramuan, dan mantra penunjang seksualitas semakin tampak bahwa relasi yang terbangun di antara berbagai pihak di dalam pergulatan itu pun semakin cair, lintas-batas, dan multidimensi. Multisiplitas posisi dan perempuan di dalam pergulatan inilah yang diharapkan mampu mendorong sikap arif bahwa perempuan tetap memiliki peluang untuk bermain-main di berbagai ruang sembari memanfaatkan kebutuhan publik terhadap gaya hidup dan informasi yang disodorkan oleh media. Pada saat yang lain, multisiplitas ini pun juga diharapkan tetap mampu menjadi ruang kritisisme terhadap potensi kompetisi yang bisa saling menjatuhkan dan memperkokoh perempuan sebagai entitas subaltern.

Mualimah bangkit, dengan tergopoh-gopoh ia mengangkat jamu gendongnya. Ia kembali berjalan menyusuri gang-gang di jalanan kota. Ia terus tersenyum kepada setiap orang dan ia semakin tidak peduli apakah setiap pembeli pasti mengalami efek dahsyat dari satu gelas minuman jamu yang dijualnya. Ia, seperti penjual jamu lainnya, hanya ingin ketika sore hari tiba di kontrakannya, jamu gendongannya sudah tidak terasa berat lagi di punggungnya.


Beranda  |  Kategory: Edisi 10 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia