Leluhur Kami adalah Para Balian

11 - Nov - 2004 | Marko Mahin | No Comments »

Sei  Kayu adalah  perkampungan orang Dayak Ngaju yang terdapat di pinggir sungai Kapuas-Kalimantan Tengah. Georg Baier, seorang missionaris Jerman, ketika mengunjungi kampung ini pada tahun 1928 menyebut kampung ini sebagai heidendorf  (kampung orang kafir) yang gelap-pekat tanpa Terang Kristus.

Dalam nyanyian suci para basir dan balian ketika menghantar arwah menuju sorga-loka, tandak atau nama tahbisan kampung ini adalah:

Lewu payong nyaho, rondong karawang batu sambang.  Kaleka liau haramaung tiro-tiroh entenge, bahanyi mandui daha belum, tuntang liau lunuk garu sangkabilan hinting sangiang. Kamban pangadien kato-kantok hanyie petah kapandoian tanggiri hamaring[1] (Perkampungan  bunyian gong yang tanpa henti, tempat tinggal orang-orang yang ahli dalam menghantar arwah.  Pemukiman orang-orang gagah-berani yang tidak takut mandi darah, dan tempat orang-orang yang dapat menjadi jalan turun para sangiang, kediaman orang-orang yang tak kenal takut untuk berlumuran darah segar)

Menurut salah seorang tetua kampung,[2] konon pada zaman dulu di kampung ini berdiam seorang ahli hanteran (pengantar arwah) yang bernama Basir Kamis. Ia tidak hanya ahli hanteran, yang tahu seluk-beluk upacara dan detail nyanyian suci yang harus dilantunkan pada saat upacara kematian, tetapi ia juga  seorang guru hanteran yang mengajar dan mendidik  orang lain agar bisa hanteran yang dikenal dengan nama basir dan balian. Di perkampungan kecil ini, Basir Kamis mendirikan Balai Ajar Balian yaitu  semacam pusat pelatihan dan pendidikan bagi para basir dan balian.[3] Hal ini menyebabkan kampung terkenal  sebagai  pusat para balian dan basir, bahkan pusat agama Kaharingan, agama asli orang Dayak, akibatnya adalah selalu ada upacara dan ritual atau latihan-latihan melakukan upacara atau ritual, yang ditandai dengan pemukulan gong (payong)  yang tanpa henti. Di sisi lain, kampung ini juga terkenal dengan para imam perempuan yang disebut dengan Bawin Balian,  dengan tokoh utamanya adalah Balian Buhol, yang kemudian hari menjadi istri dari Basir Kamis.

Pada tahun 2002, ketika saya mencoba  untuk mencari siapa keturunan Basir Kamis dan Balian Buhol, ternyata mereka adalah tamanang atau pasangan tanpa keturunan.  Ketika diadakan pelacakan untuk mencari siapa saja yang pernah menjadi murid Basir Kamis dan Balian Buhol, dan siapa keturunan mereka pada masa kini, saya mendapat jawaban bisu atau gelengan kepala yang disertai ucapan dia aku katawae (tidak aku tahu).

Di sepanjang sungai Kapuas-Kalimantan Tengah, hingga kini masih dapat ditemukan para basir yaitu para imam laki-laki atau ahli hanteran laki-laki. Kendatipun jumlahnya sangat sedikit dan semakin berkurang dari tahun ke tahun, paling tidak dapat dikatakan bahwa ada orang yang berprofesi atau menjabat sebagai basir. Bahkan ada banyak orang yang tidak malu-malu mengakui bahwa ia adalah anak dari seorang basir.  Hal yang sangat bertolak belakang dengan balian yaitu  imam perempuan atau ahli hanteran perempuan. Kini tidak ada seorangpun Bawin Balian. Tidak ada seorangpun yang mau berucap “aku adalah anak atau cucu seorang balian.”

Fakta gelap mengenai para imam perempuan atau Bawin Balian merupakan titik berangkat dari tulisan ini, yaitu ingin mengetahui apa dan siapa para Bawin Balian itu serta hubungannya dalam ritual-ritual yang ada di kalangan orang Dayak Ngaju?

Bawin Balian Menurut  Mitologi-Mitologi  Suci

Panaturan atau Ceritera Asal-Usul merupakan kumpulan mitologi suci orang Dayak Ngaju.  Pada mulanya, Panaturan hanya dituturkan secara lisan dalam upacara atau ritual. Namun kemudian mulai ditulis dan  dibukukan.[4] Dalam perkembangan selanjutnya, Panaturan dilihat sebagai  “Kitab Suci” bagi orang Dayak Ngaju yang menganut agama Hindu Kaharingan, atau dalam istilah Lewis KDR, Ketua Umum Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan, Panaturan adalah:

“Pedoman yang menjadi dasar pegangan bagi umat Kaharingan…memuat ajaran Kaharingan mulai dari awal kejadian alam semesta dengan segala isinya, sampai kepada ajaran di dalam kehidupan sebagai umat manusia, hingga penyatuannya kembali pada Sang Pencipta (Ranying Hatalla Langit)…Buku Panaturan adalah buku ajaran Kaharingan”[5]

Pada tahun 1973, Panaturan versi pertama (selanjutnya disebut Panaturan 1973)  diterbitkan oleh Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan. Pada tahun 1996, Panaturan versi kedua (selanjutnya disebut Panaturan 1996) diterbitkan oleh Majelis Besar Agama Hindu Kaharingan. Versi kedua ini lebih lengkap dan disertai dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia.  Semua informasi berikut ini bersumber dari dua versi Panaturan itu.

Dalam tuturan mitologi suci orang Dayak Ngaju, nenek moyang manusia pada mulanya tidak tinggal di dunia ini. Mereka tinggal di dunia keabadian yang disebut dengan Lewun Sangiang (Kampung para Sangiang).  Sangiang adalah sebutan untuk mahluk yang  tidak fana, yang tidak pernah mengalami kematian. Nenek moyang pertama adalah Manyamei Tunggul Garing Janjahunan Laut[6] (selanjutnya disebut Manyamei) dan istrinya Kameloh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun (selanjutnya disebut Kameloh). Pada mulanya, mereka hanya tinggal bersama begitu saja, yang berakibat pada keguguran demi keguguran yang harus dialami oleh Kameloh setiap kali hamil. Melihat hal itu, Ranying Hatalla dan Bawin Jata Balawang Bulau, Allah dwi tunggal orang Dayak Ngaju, memerintah Raja Uju Hakanduang-Kanaruhan Hanya Basakati, untuk mengadakan upacara perkawinan bagi Manyamei dan Kameloh.  Upacara itu nanti menjadi contoh (Kawin Suntu) yang harus dilakukan oleh semua keturunan Manyamei dan Kameloh dikemudian hari.[7]

Menurut Panaturan 1973, Raja Uju Hakanduang-Kanaruhan Hanya Basakati melakukan semua tata cara adat dan ritual perkawinan ini di hadapan atau disaksikan oleh para Bawin Balian (Kasampangan Bawin Balian).[8]  Dalam acara perkawinan kali pertama itu, Bawin Balian melaksanakan hukum tabu yaitu menyelenggarakan upacara syukur terimakasih dan upacara  membayar nazar.[9]  Hal itu berarti Bawin Balian telah ada dan ikut bagian dalam upacara dan ritual perkawinan yang kali pertama itu.

Setelah tata cara adat dan ritual perkawinan dilaksanakan, beberapa waktu kemudian Kameloh pun hamil dan kemudian melahirkan kembar  anak lelaki, yang diberi nama: Raja Sangiang, Raja Sangen dan Raja Bunu.[10] Di kemudian hari, Raja Bunu,  karena beberapa kasalan (pelanggaran),[11] ia dan semua keturunannya tidak diperbolehkan lagi tinggal di Lewu Sangiang dan diturunkan ke dunia ini yang disebut dengan Lewu Injam Tingang (Kampung Titipan Burung Enggang). Untuk sementara waktu yaitu hingga generasi ke-9 (jalatien tilap atawa turun), mereka yang telah diturunkan  ke dunia tidak mengalami kematian.  Namun selanjutnya, semua mereka mengalami kematian.

Agar mereka yang mati dapat menikmati kembali keabadian di Lewun Sangiang maka diadakanlah upacara Tiwah yaitu upacara menghantar kembali arwah yang telah mati untuk masuk kembali ke Lewun Sangiang atau Lewu Tatau (Kampung Kaya Raya).[12]  Sehubungan dengan itu, beberapa waktu setelah mereka tinggal di dunia ini, Raja Bunu dan seluruh keluarganya dipanggil kembali ke Lewun Sangiang untuk menghadiri Tiwah Suntu[13] yaitu contoh pelaksanaan upacara Tiwah yang diselenggarakan secara khusus agar Raja Bunu sekeluarga  dapat mencontohnya dan kemudian melaksanakannya ketika salah seorang dari mereka meninggal dunia.

Pada waktu pelaksaanaan Tiwah Suntu, yang terjadi di Alam Atas pada zaman purbakala ketika nenek moyang pertama masih hidup, telah disebutkan peranan para Imam Perempuan atau Bawin Balian  Dikatakan bahwa mereka berasal dari satu tempat yang bernama Lewu Telo dan mendapat tugas untuk memperlihatkan jalan kembali yang harus ditempuh para arwah untuk dapat tiba di Lewu Tatau.[14]

Kendatipun telah diadakan Tiwah Suntu, entah kenapa ketika  keturunan Raja Bunu telah tiba pada generasi ke-10, tampaknya mereka telah lupa bagaimana caranya melaksanakan Tiwah.[15] Karena itu maka diputuskan untuk mengutus Bawi Ayah turun ke dunia untuk mengajarkan  bagaimana menyelenggarakan Tiwah dan upacara lainnya.[16]

Menurut Panaturan 1996, tugas utama Bawi Ayah adalah untuk mengajar para perempuan bagaimana melaksanakan upacara  balian, karena itu maka mereka disebut dengan nama Bawin Balian. Berdasarkan ajaran Bawi Ayah pula, maka kalau umat manusia di dunia melaksanakan upacara Tiwah, maka pelaksana upacara itu adalah para Imam Perempuan atau Bawin Balian. Itulah awal mula atau asal usul adanya Bawin Balian di dunia ini.[17]

Namun dikemudian hari, tugas para Imam Perempuan atau Bawin Balian  diambil alih atau diganti oleh para Imam Laki-laki atau  Hatuen Balian  atau sering disebut juga dengan Basir Hatue. Hal itu terjadi sampai sekarang, sehingga tidak dikenal lagi adanya para Imam Perempuan atau Bawin Balian. Menurut Panaturan 1996  alasan penggantian adalah karena tugas balian itu cukup berat bagi wanita maka kemudian diganti oleh laki-laki.[18]

Para Budak dan Pelacur Suci

Bagi para missionaris Bawin Balian merupakan sebuah fenomena kegelapan yang harus ditiadakan. Missionar Becker, yang bekerja di kalangan orang Dayak Ngaju dari tahun 1848 hingga 1849, melaporkan bahwa sekitar tahun 1842, di Pulau Petak[19] tempatnya bekerja,  terdapat  lebih dari seratus orang Bawin Balian, sedangkan pada tahun 1844  ada 50-an orang. Sedangkan di Kahayan lebih banyak lagi.[20] Menurut Becker Bawin Balian itu mempunyai suara yang jauh lebih merdu dari suara para imam laki-laki dan lebih berdaya tarik seksual, kegiatan mereka selalu ditujukan kepada lawan jenisnya. Bagi Becker, Bawin Balian adalah penyakit masyarakat yang melumpuhkan sendi-sendi kehidupan, perusak moralitas dan harta benda, penghancur benih peradaban dan penghalang terbesar untuk meningkatkan jumlah penduduk, penyebab orang-orang Dayak menjadi asusila dan amoral.[21]

Penilaian demikian muncul karena pekerjaan rangkap yang harus dilakukan oleh Bawin Balian yaitu sebagai pelacur, penyanyi, dan penari, dan juga imam perempuan.[22]  Dalam beberapa manuskrip yang ditulis oleh orang Dayak Ngaju sendiri juga dinyatakan bahwa pada waktu upacara ritual keagamaan, kegiatan “menjual tubuh” juga dilakukan oleh Bawin Balian. Kegiatan seksual itu rupanya menjadi media penularan penyakit kelamin seperti seperti kencing nanah dan sipilis.[23] Hal itu dilihat sebagai penyebab ketidaksuburan laki-laki, sehingga angka kelahiran kecil dan jumlah penduduk tidak meningkat. Begitu juga dalam hal menghibur, dikatakan bahwa mereka sangat pandai menyusun lagu-lagu pujian untuk seseorang (Karunya), sehingga yang mendengarnya  akan merasa tersanjung dan tersentuh hatinya, dan kemudian tidak segan menganugerahi Bawin Balian itu dengan harta kekayaan seperti emas, perak, gong, dan bejana-bejana antik.[24]  Tampaknya aktivitas memberi hadiah kepada Bawin Balian ini merupakan prestise tersendiri bagi laki-laki Dayak pada waktu itu, mungkin juga menjadi penanda status sosial, dimana harga diri dan gengsi dipertaruhkan. Maka muncullah semacam persaingan antar-lelaki, sehingga dilaporkan ada yang sampai jatuh miskin karena Bawin Balian.[25]   Bercengkrama dan tidur dengan Bawin Balian dilakukan oleh semua orang termasuk para bangsawan (Utus Gantung) dan kepala-kepala suku.[26]

C. Hupe, pada tahun 1846, menambahkan bahwa adanya Bawin Balian salah satunya disebabkan tingginya biaya pesta perkawinan dan mas kawin (palako) di kalangan orang Dayak Ngaju. Kemudian di kalangan orang Dayak Ngaju sendiri ada anggapan bahwa “bukanlah seorang laki-laki” kalau tidak pernah menggauli Bawin Balian. Karena itu tidak heran kalau ada ibu-ibu yang tidak keberatan kalau suaminya berhubungan dengan Bawin Balian, bahkan mendorong anak laki-laki mereka yang sudah akilbalik untuk tidur dengan Bawin Balian agar mendapat pengalaman dan pendidikan seksual.[27]

Namun seringkali menjadi seorang Bawin Balian bukanlah urusan manusia tetapi lebih kepada panggilan pribadi dari yang ilahi untuk menjadi seorang medium, mediator atau perantara antara manusia dan Yang Ilahi. Biasanya  bermula dari mimpi dilanjutkan dengan masuknya salah Sangiang ke dalam tubuh seorang perempuan. Akibat perempuan itu bisa mengalami semacam “kegilaan sementara” yang dalam bahasa Dayak Ngaju disebut dengan layau-layau atau bojon. Setelah itu seorang perempuan dengan lancar dapat menuturkan mitos asal mula untuk mendatangkan pemulihan, kesembuhan, untung dan rejeki.

Dalam pandangan para missionaris, aktivitas para Bawin Balian  adalah kegiatan terkutuk dan tidak bermoral. Merupakan “kebejatan yang ngeri dan persundalan Sodom.”[28] Akibatnya adalah semua orang yang bergaul dengan Bawin Balian juga dianggap sebagai tidak bermoral, seperti yang dialami oleh Ambo seorang kepala suku Dayak Ngaju pertama yang dibaptis menjadi Kristen. Dalam laporan seorang missionar pada tahun 1856 dikatakan:

Dari semua orang Dayak yang ada disitu tidak ada yang setia mendengarkan khotbah seperti Ambo. Tetapi, seperti semua orang muda Dayak pada umumnya, ia hidup tidak bermoral. Pagi hari ia belajar di gereja dan menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan baik, tetapi pada malam hari ia ditemui sedang mabuk-mabukan minum tuak atau di pergaulan orang Balian.[29]

Para missionaris sangat teliti dalam melacak asal-asul dan pola hidup serta cara kerja para Bawin Balian. Hal itu tergambar dari tulisan Hans Schärer[30] yang sumber utamanya adalah laporan-laporan dan tulisan-tulisan para missionaris:

Berdasarkan pada berbagai laporan, yang mana sebagian besar saling sesuai satu dengan yang lain, kita dapat menyusun laporan sebagai berikut mengenai keberadaan  balian dan basir di dalam kehidupan orang Ngaju. Gadis-gadis muda dan cantik dari kalangan para budak dipilih oleh golongan merdeka (golongan yang lebih tinggi atau yang lebih rendah). Dalam rentang waktu bertahun-tahun mereka diajarkan tentang nyanyian-nyanyian suci, legenda-legenda, dan upacara-upacara ritual oleh seorang balian yang lebih tua dan berpengalaman. Mereka masih tetap budak yang berada dalam kekuasaan para pemiliknya, tetapi mereka tidak lagi bekerja di ladang-ladang, dan hanya ambil bagian sedikit dari pekerjaan rumah tangga yang ada. Keuntungan yang mereka bawa kepada tuan-tuan mereka menunjukkan bahwa mereka telah disewakan sebagai pelacur, biduan, dan penari, dan juga sebagai imam perempuan, yaitu pada saat pesta dan kegiatan-kegiatan lainnya. Untuk tidur satu malam dengan seorang balian memang ada hadiah yang diberikan kepadanya, dan 30 sen dibayarkan kepada pemiliknya. Untuk pelayanan yang lainnya, kalau ia bekerja sepanjang siang dan malam, jumlah yang dibayar adalah 60 sen. Pada zaman dulu (dan masih berlaku kini) anak-anak perempuan dari golongan merdeka dapat saja menjadi balian. Sebab dari tindakan yang sangat tidak biasa ini umumnya dikarenakan mereka telah tergoda untuk menjadi balian, atau karena patah hati.

Beberapa peneliti sebelum Schärer[31] juga memaparkan pendapat yang hampir seragam, bahwa Bawin Balian itu perempuan-perempuan dari golongan budak yang dididik untuk menjadi imam perempuan. Hal yang sama pula diungkapkan oleh Fridolin Ukur[32] yang juga menggunakan laporan-laporan dan tulisan-tulisan para missionaris sebagai sumber datanya:

Balian, biasanya dipilih dari antara golongan jipen [golongan budak-pen] oleh golongan merdeka. Gadis-gadis yang cantik dipilih, kemudian dididik oleh balian tua sampai mereka memahami seluruh ritus, serta hapal segala rapal, sangen, sansana, ceritera-ceritera dan nyanyian ritual dan segala hukum-hukum dan ilmu-ilmu pengobatan dsn.. Golongan balian dikalangan suku Dayak Ngaju ini semuanya berasal dari golongan budak pada saat mereka ditahbiskan menjadi balian mereka dibebaskan dari seluruh pekerjaan dan kewajiban seorang budak serta menerima kebebasan yang cukup besar. Mereka memperoleh semacam privilage yang istimewa, walaupun pada hakekatnya mereka masih milik dari tuannya.

Dari paparan di atas, tampak ada dua hal yang menjadikan kehidupan Bawin Balian hitam kelam tanpa kehormatan, yaitu riwayat hidup mereka yang adalah turunan para budak dan kekhususan mereka yang dapat ditiduri oleh lelaki manapun ketika dilangsungkan upacara adat. Hal itu mengakibatkan mereka dipandang rendah, setara dengan perempuan gampangan dan pelacur. Karena itu, menurut kamus Ngaju Dayak-Jerman yang ditulis oleh Hardeland diterangkan bahwa adalah sangat memalukan bagi orang-orang merdeka kalau ada  di antara kaum keluarganya  yang menjadi balian.  Pilihan menjadi Bawin Balian dapat mengakibatkan seorang kakak laki-laki membunuh saudara perempuannya.[33] Kendatipun demikian, pada sisi lain mereka sangat diperlukan, dihormati dan disegani, seperti yang diungkapkan Ukur[34]:

Peranan dan kedudukan para balian ini begitu mutlak di dalam kehidupan masyarakat suku sehingga jarang ada peristiwa-peristiwa di mana balian tidak diperlukan, karena di samping tugas-tugas pokok mereka seperti yang diuraikan di atas, mereka juga memainkan peranan selaku sumber hiburan bagi orang banyak, baik dengan nyanyian maupun tari-tarian.

Schwaner, yang mengadakan penelitian di Kalimantan pada 1843-1847, mengatakan bahwa para Bawin Balian selain sebagai imam perempuan yang ahli dalam hal yang rohani, mereka juga adalah tabib-tabib penyembuh untuk orang-orang sakit, namun itu saja tidak cukup[35]:

Mereka tahu bagaimana caranya menghibur para tamu dengan cara yang menyenangkan yaitu dengan nyanyian-nyanyian mereka yang mengagungkan perbuatan-perbuatan para tua-tua dan para pahlawan pada waktu itu. Pada saat seperti itu mereka sering memanfaatkan pengaruh kuat yang terdapat dalam nyanyian itu  terhadap para lelaki, yaitu dengan membangkitkan khayalan-khayalan atau dengan mendorong mereka untuk pergi dalam perang antar suku (asang) atau berdagang, hal itu seringkali sangatlah berpengaruh.

Namun di samping itu, kata  Schwaner mereka juga mempunyai keahlian lain:

Meskipun panggilan mulia mereka adalah sebagai mediator antara manusia dan Tuhan, balian pada saat yang sama mereka adalah public women yang tahu bagaimana caranya menarik perhatian kaum laki-laki dengan seni yang tidak biasa.  Banyak penduduk pribumi yang kaya-raya kehilangan harta-benda dan ternaknya  karena berhubungan dengan balian macam ini. Walau bagaimanapun mereka tetap dihargai dan sangat dihormati oleh para lelaki dan perempuan, dan tidak seorangpun melihat kehidupan mereka yang a-susila itu sebagai sesuatu yang salah.

Dari paparan di atas tampak bahwa Bawin Balian merupakan fenomena yang sarat dengan ambiguitas, ramai dengan perdebatan dan tantang-jawab. Hal itu terjadi karena dalam tradisi dan hukum adat Dayak Ngaju kegiatan perzinahan merupakan sesuatu yang  terlarang dan mendapat hukuman yang berat. Namun dalam kasus Bawin Balian,  hubungan seksual antara orang yang bukan suami-istri tidak dilihat sebagai, percabulan, perzinahan atau perbuatan yang salah.[36] Mallinckrodt, yang melaporkan bahwa sekitar tahun 1928-an kegiatan Bawin Balian sudah tidak lagi ditemukan, mengatakan bahwa  itu merupakan praktek pelacuran suci yang dilakukan atas dasar-dasar religius.[37] Demikian juga Ugang yang menyebutkan itu sebagai  akta keagamaan yang sakral yang dipentaskan kembali demi dan untuk kesuburan tanah air, panen yang melimpah, dan kebahagian seluruh masyarakat.[38] Karena itu tidak boleh dilakukan secara sembarangan tetapi harus melalui prosedur adat.  Damang Salilah, seorang tokoh adat dan juga seorang basir (Balian Hatue),  mengatakan bahwa prosedur untuk dapat tidur bersama Bawin Balian, dalam hukum adat Dayak Ngaju disebut dengan Singer Habasir Nyampangan,[39] yang adalah sebagai berikut:

Singer Habasir Nyampangan

Kinjap oloh helo horan mawi pesta mahapan oloh balian, oloh balian aton bawi dan aton hatue. Maka oloh balian bawi te puna tau hatuen oloh lewu minjame batiroh dengae intu human oloh eka balian.

 

 

Maka kapuna hadate amon oloh handak hinje batiroh dengan oloh balian bawi, te helo balaku ijin dengan oloh tempon gawi tuntang ie mampatei manuk ije kungan.  Dahan manuk te hapan oloh tempon gawi manyaki ewen ndue te (oloh balian bawi dengan hatue te). Amon limbah inyaki awi, te ewen ndue tau melai intu huma eka balian te katahin gawi pesta te, kareh malayan amon jari hapus gawi oloh balian iagah buli lewue.

 

 

Inyewut : “habasir” rimae oloh hatue te hinje oloh balian bawi te katahin pesta. Maka amon oloh hatue te tantai gawie manakau hinje oloh balian te intu human oloh tempon gawi, te ie buah hukum singer adat,:“Habasir Nyampangan”, kahaie : 1 kungan manuk jagau tuntang oloh hatue te mambayar laluh oloh balian bawi te dan dia tau batiroh dengan oloh balian bawi te, intu huma eka pesta. Oloh balian te musti malalus auhe balian helo, limbah te ewen ndue tau hinje menter batiroh.

 

Maka amon aton oloh hatue beken handak batiroh atawa manakau gawi sala dengan oloh balian jete kea, sampai manjadi kalahin ewen sama hatue, te ie ije handak kilau marampas bawi te, buah hukum singer adat, kahaie : Jipen 1 (Rp.30,-) hayak manjulok 1 kungan manuk jagau akan oloh tempon pesta.

Denda Adat Habasir Nyampangan

Kerap kali orang-orang dulu kala mengadakan pesta dengan mengundang balian baik yang laki-laki maupun perempuan. Maka balian perempuan itu oleh laki-laki kampung setempat memang boleh dipinjam tidur dengannya di rumah tempat orang mengadakan acara balian itu.

Maka inilah tata-cara adat kalau ada orang yang mau tidur bersama dengan balian perempuan, terlebih dahulu meminta ijin dengan orang yang empunya pesta dan ia menyembelih ayam satu ekor. Darah ayam itu oleh dipakai oleh orang yang empunya pesta untuk menyaki (dioleskan) mereka berdua (perempuan dan laki-laki itu), kemudian mereka berdua tinggal di rumah tempat acara itu diadakan selama acara berlangsung, yang nanti akan berhenti kalau acara sudah selesai dan para imam diantar kembali ke kampungnya.

Disebut habasir artinya laki-laki itu tidur bersama perempuan balian selama acara pesta berlangsung.  Maka apabila laki-laki itu dengan sengaja secara diam-diam meniduri perempuan balian itu dalam rumah orang yang empunya pesta, maka ia kena hukum denda adat: “Habasir Nyampangan”, sebesar satu ekor ayam jago dan laki-laki itu membayar upah perempuan balian itu, yang dilakukan di rumah tempat pesta. Perempuan balian itu harus melaksanakan tugasnya terlebih dahulu, sesudah itu mereka berdua dapat tidur bersama.

Maka jika ada laki-laki lain yang juga ingin meniduri atau secara diam-diam tidur bersama dengan perempuan balian yang sama, hingga muncullah perkelahian, maka laki-laki kedua yang ingin merampas perempuan itu kena hukum denda adat sebesar  1 Jipen (Rp. 30) dan memberi ayam jago satu ekor kepada orang yang empunya pesta.

Dari sekian banyak peneliti Barat, hanya  Schärer yang tidak terjebak untuk memberi penilaian “hitam-putih” atas Bawin Balian. Dapat dikatakan ia mampu menyelami kedalaman makna sistem religi orang Dayak yang ia sebut dengan Ngaju Religion, dengan simpati ia menjelaskan:

Pelacuran suci para balian dan praktek semburit atau homoseks para basir adalah berhubungan dengan totalitas yang ambivalen. Pelacuran suci, yang kita temui di hampir seluruh komunitas yaitu pada acara-acara penting keagamaan, tidaklah menandakan disintegrasi adat tetapi kembalinya seluruh kosmos dan orang-orang suci kepada totalitas Keilahian. Pelacuran suci memperagakan kesatuan individu dan seluruh komunitas dengan Keilahian yang biseksual, dan kembali kepada Pohon Kehidupan. Hal ini bisa terjadi bila peristiwa penciptaan yang suci di masa lampau  telah dipentas-ulang sebagian atau seluruhnya. Kondisi yang diperlukan untuk pementasan-ulang itu adalah bersatu dengan Keilahian dalam hubungan seksual yang suci, melalui itu keutuhan yang berkelamin ganda telah dipulihkan. Dari sinilah  pelacuran suci mendapat signifikansi religiusnya yang utama. Dan dari sini pula kita dapat memahami  bagaimana para ibu, yang dikenal berkarakter sopan dan pendiam, pada waktu dulu pernah mendorong para puteranya untuk berhubungan-badan dengan seorang balian, dan adanya pandangan bahwa adalah sangat memalukan jika seorang laki-laki tidak pernah mengadakan hubungan seksual dengan perempuan balian. Juga dapat dimengerti jika pada zaman dahulu, seseorang yang melaksanakan satu acara ritual, maka ia  harus tidur beberapa malam dengan seorang balian, tentu saja sang empunya hajat sewaktu-waktu. Dari sekian tulisan telah jelas bahwa hubungan seksual dengan seorang balian tidaklah dianggap sebagai perbuatan maksiat.[40]

Uraian Schärer di atas tidak lepas dari thesis utamanya bahwa konsepsi mengenai Tuhan merupakan titik sentral untuk menilai dan menginterpretasikan seluruh kebudayaan dan agama Dayak, dan keseluruhan kehidupan dan pemikiran orang Dayak. Baginya doktrin keilahian Dayak adalah titik-berangkat dan fokus untuk memahami kehidupan dan pemikiran orang Dayak Ngaju.[41] Karena itu, hubungan seksual yang dilakukan oleh Bawin Balian merupakan pelacuran suci dalam rangka dramatisasi ulang sejarah penciptaan suci yang terjadi pada masa lampau di mana penciptaan atau munculnya satu kehidupan baru (atau keadaan, dan suasana yang baru) diawali manunggalnya dualitas keilahian yaitu Hatalla dan Jata.[42]

Berdasarkan pada paparan di atas tampaklah betapa pentingnya seorang Bawin Balian dalam upacara-upacara keagamaan atau ritua-ritual yang diselenggarakan oleh orang Dayak Ngaju. Ia tidak sekedar selaku Pengantara atau Mediator antara Keilahian Yang Tertinggi dan manusia, bukan juga sekedar ahli hukum adat dan tradisi, atau tabib penyembuh dan peramal, melainkan di dalam diri mereka inilah ada detiknya di mana kehadiran Keilahian itu sendiri dimanifestasikasi.

Ritual Para Bawin Balian

Di atas telah dipaparkan bahwa menurut Panaturan atau mitologi suci orang Dayak Ngaju, sejak zaman purbakala Bawin Balian telah memimpin upacara ritual keagamaan, yaitu perkawinan dan tiwah. Berikut ini adalah beberapa nama ritual balian yang ada di kalangan oang Dayak Ngaju[43]:

  1. Balian Manyaki/Mamapas Pali : Balian Penyucian diri dari segala kekotoran hidup.
  2. Balian Mambuhul : Balian untuk meneguhkan nafas kehidupan dan segala kebaikan.
  3. Balian Mampendeng Sawang : Balian peneguhan dan pemberkatan perkawinan.
  4. Balian Mampandui : Balian untuk membaptis bayi yang baru lahir dengan tujuan untuk memperkenal sang bayi kepada para leluhurnya yang sudah meninggal dunia, sehingga bila nanti ia meninggal dunia ia dikenal dan disambut oleh para leluhurnya yang sudah terlebih dahulu menetap di Lewu Liau (Perkampungan Arwah).  Baptisan juga bertujuan agar nanti ia bila sudah meninggal dunia di Alam Seberang juga dimandikan oleh Rawing Tempon Telon di Telaga Nyalong Kaharingan Belum (Telaga Air Kehidupan) yang menghidupkan dan membawa kebahagian.[44]
  5. Balian Balaku Untung :  Balian Meminta rejeki dan berkat.
  6. Balian Mungkal Untung :  Balian untuk meneguhkan atau mengikat segala rejeki dan keberuntungan yang telah ada dalam kehidupan seseorang.
  7. Balian Balaku Nuntung Puser : Balian menyambung tali persaudaraan.
  8. Balian Balaku Nuntung Untung :  Balian agar keberuntungan dan rejeki terus berlanjut dan tidak berhenti.
  9. Balian Balaku Nuntung Tahaseng (Balian Mubah Ukur/Tipeng) :  Balian untuk meminta tambahan umur.
  10. Balian Mambang Karuhei Palus Manjung Ganan Halamaung/Balanga.             
  11. Balian Balaku Untung Parei :  Balian untuk keberhasilan Panen
  12. Balian Harahan Bewei.                             
  13. Balian Hai Palus Harahan.                      
  14. Balian Nyakean Tingang Sangkai.         
  15. Balian Hamihing : Balian sebelum melakukan penangkapan ikan.       
  16. Balian Tantulak Dahiang Baya : Balian Menolak Bala.
  17. Balian Manyanggar Palus Mampendeng Karamat : Balian untuk Membuka wilayah peladangan atau pemukiman baru yang dilanjutkan dengan mendirikan rumah bagi penjaga tempat itu.
  18. Balian Pakanan Sahur Lewu atawa Balian Pakanan Sahur Kabuat : Balian untuk memberi makan penjaga dan pemelihara kampung atau pribadi.
  19. Balian Hirek :  Balian mohon kesembuhan dari penyakit
  20. Balian Paleteng Malambung : Balian meminta keselamatan bagi perempuan hamil agar anak dan ibu sehat hingga kelahiran tiba.
  21. Balian Tantulak Matei: Balian untuk menghantar roh ke tempat penantian sementara.
  22. Balian Tiwah:  Balian untuk menghantar roh masuk ke Lewu Tatau atau tempat yang abadi/sorga loka.

Dari 22 bentuk ritual balian di atas dapat dibagi lagi dalam 3 kelompok  besar yaitu :

  1. Balian Gawi Belum (No. 1-15) dilaksanakan untuk kepentingan manusia yang masih hidup.
  2. Balian Sahur Parapah (No. 17-20)  untuk upacara membayar nazar atau janji.
  3. Balian Gawi Matei  (No. 21-22) untuk kepentingan orang yang sudah mati.

 

Pada jaman dulu, Bawin Balian boleh melaksanakan hampir semua acara balian, kecuali Balian Tiwah yang merupakan hak istimewa dan terbatas untuk Hatuen Balian.  Sementara Balian Mamapas Pali, Balian Balaku Untung, dan Balian Hirek dapat dilaksanakan baik oleh Bawin Balian maupun Hatuen Balian. Sedangkan yang menjadi hak istimewa dan hanya boleh dilaksanakan oleh Bawin Balian adalah Balian Pakanan Jata atau Balian Paleteng Malambung.  Begitu juga dengan Balian Mampandui yang biasanya dilakukan di sungai-sungai besar. Yang paling utama dan sering dilakukan oleh Bawin Balian adalah Balian Tantulak Dahiang Baya yang bertujuan untuk  menghalau pelbagai macam kesialan hidup dan  firasat buruk, serta mengenyahkan kedukaan dan kejengkelan. [45]

Salah satu acara balian yang sering dilakukan oleh Bawin Balian adalah Balian Balaku Untung yaitu ritual untuk memohon untung dan rejeki kepada Sangiang Raja Ontong, yaitu penghuni Alam Atas atau Lewu Sangiang yang tugasnya adalah memberi untung dan melimpahkan rejeki kepada umat manusia. Pelaksanaannya memerlukan waktu dua hari dan dilakukan oleh 7 (tujuh) orang Bawin Balian. Korban untuk kelengkapan ritual adalah; 7 gantang beras, 7 ekor ayam, 1 butir telur dan 7 lembar tikar. Untuk mengetahui apakah permohonan empunya pesta terkabul atau tidak, Bawin Balian melumuri satu potong rotan dengan nasi yang sudah ditaburi dengan serbuk emas.  Kemudian didiamkan selama satu malam. Kalau keesokan harinya rotan itu bertambah panjang sedikit, maka itu pertanda  bahwa orang mengadakan pesta  telah diberkahi dengan keuntungan dan rejeki.[46]

 

Perempuan-Perempuan Yang Tersingkir

Siapakah Para Bawin Balian itu?. Sian Jay, seorang anthropolog perempuan dari Inggris, ketika melakukan penelitian di Kalimantan tengah pada tahun 1987-1988, menemukan bahwa sudah tidak ada lagi Bawin Balian.  Tidak mengherankan karena pada tahun 1928 Mallinckrodt telah melaporkan bahwa pada waktu itu sudah tidak lagi ditemukan adanya Bawin Balian. Walaupun demikian, Sian Jay masih menemukan adanya jejak Bawin Balian yaitu pada ceritera rakyat  mengenai para imam Dayak mula-mula yang adalah semuanya perempuan, di mana mereka diajar oleh 177 orang bawin sangiang (perempuan dari Alam Atas) yang dikenal dengan sebutan Bawi Ayah.[47] Demikian juga dengan Anne Schiller, seorang anthropolog dari Cornel University, ketika mengadakan penelitian pada  bulan Desember 1982, bulan Juni 1983, dan setiap musim panas pada tahun 1991, 1995 dan 1996,  hanya mendapat ceritera tentang adanya seorang Bawin Balian yang hidup di permulaan abad 20, bernama Sanun.[48] Tampaknya Bawin Balian telah pupus dari kehidupan orang Dayak Ngaju dan hanya ada dalam mitologi-mitologi suci dan sansana, yaitu ceritera epic yang dituturkan dengan bernyanyi. Di  sana dapat ditemukan informasi bahwa Bawin Balian yang pertama bernama Indu Nyaloh[49], dan ada seorang Bawin Balian, bernama Balu Indu Tamanang, yang  mempunyai suara yang sangat merdu sehingga tidak hanya manusia yang tergila-gila mendengarkan suaranya tetapi juga para Sangiang yang berdiam di Alam Atas.[50]

Baik mitologi suci maupun ceritera-ceritera rakyat, pada dasarnya setuju bahwa pada mulanya bukanlah para lelaki yang menjadi imam atau penyelenggara balian, tetapi perempuan yang dikenal dengan sebutan Bawin Balian. Dari penjelasan panjang di atas tampak bahwa Bawin Balian adalah perempuan yang luar biasa. Di dalam diri mereka melebur berbagai jabatan dan fungsi, yang bila  dirunut akan tersusun sebagai berikut:

  1. Bawin Balian adalah imam perempuan karena mereka ada perantara atau mediator antara manusia dan Keilahian Tertinggi.
  2. Bawin Balian adalah teolog perempuan karena selalu berbicara mengenai Tuhan.
  3. Bawin Balian adalah ahli sejarah perempuan karena mereka harus menuturkan silsilah dan riwayat hidup dan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi dan dialami oleh para leluhur.
  4. Bawin Balian adalah penyair perempuan karena mereka harus pandai menyusun kata-kata indah dalam melakukan upacara-upacara keagamaan.
  5. Bawin Balian adalah penyanyi perempuan karean mereka harus menyanyikan kidung-kidung suci para balian dalam rangka mendatangkan sangiang.
  6. Bawin Balian adalah pendidik perempuan karena melalui nyanyian mereka lagukan dan syair mereka ucapkan terselip pengajaran tentang kewajiban dan hak manusia baik ketika hidup di atas muka bumi ini, maupun nanti kalau sudah kembali ke alam baka.[51]
  7. Bawin Balian adalah tabib perempuan karena melalui kegiatan mereka orang disembuhkan dari penyakit.
  8. Bawin Balian adalah penari perempuan karena dalam melakukan kegiatan balian mereka harus melakukan gerakan-gerakan tertentu.
  9. Bawin Balian adalah ahli adat dan tradisi, karena melalui tuturan mereka maka muncul berbagai macam aturan tabu (pali) dan hukum adat.
  10. Bawin Balian adalah penanda status sosial, gengsi dan prestise seseorang lelaki.
  11. Bawin Balian adalah dukun perempuan.
  12. Bawin Balian adalah keturunan para budak yang hina
  13. Bawin Balian adalah guru seksual bagi anak muda yang masih hijau
  14. Bawin Balian adalah pelacur  yang menjual suara, gerak dan tubuhnya demi uang.

Satu hal penting yang harus kita catat mengenai Bawin Balian adalah mereka merupakan kaum perempuan yang tersingkir. Mereka sudah tidak ada lagi dalam acara-acara balian. Padahal acara-acara ritual keagamaan merupakan titik pusat kehidupan masyarakat tradisional Dayak. Hal itu berarti mereka tidak hanya kehilangan hak dan karir istimewa mereka untuk menjadi pemimpin agama tetapi juga kehilangan hak untuk melantunkan kidung-kidung suci, menjadi seorang teolog, ahli sejarah, ahli adat dan tradisi, seniwati, dan pengajar. Posisi mereka diturunkan menjadi Bawi Sampangan yaitu kaum perempuan dari kalangan budak yang  mencari nafkah dengan cara menjajakan tubuh.[52] Karena itu mereka juga seringkali disebut dengan nama Sampangan Bawin Balian.[53]

Ada banyak hal yang mengakibatkan tersingkir dan hilangnya  peran Bawin Balian sekarang ini, mulai dari faktor eksternal seperti masuknya agama-agama dunia, moderenisasi, dan  intervensi negara, hingga faktor internal seperti proses birokratisasi dan rasionalisasi yang saat ini sedang terjadi pada agama suku.  Semuanya, paling tidak untuk saat ini, sangatlah tidak ramah dengan kaum perempuan yang dikenal dengan Bawin Balian.

Penutup 

Di Sei Kayu, kampung kelahiran dan tempat orang tuaku bertempat tinggal,  terdapat beberapa pasah batu yaitu pondok kecil berisi batu yang sengaja dibangun bagi  kediaman penjaga spiritual kampung.[54] Namun yang paling banyak dikunjungi adalah pasah batu yang Juru Kunci-nya adalah seorang perempuan. Ketika ditelusuri ternyata ia adalah pewaris sekaligus keponakan dari Basir Kamis dan Balian Buhol yang tersohor itu.  Kepada perempuan ini aku harus memanggil mina (bibi), dan ketika kata mina itu aku ucapkan pada saat itu aku sadar bahwa  leluhur kami adalah para balian.

Banjarmasin-Sei Kayu, November 2004.

Penulis adalah Orang Dayak Ngaju. Pengajar di STT-GKE Banjarmasin. Koordinator Umum Forum Dialog Kalimantan Selatan dan Direktur Eksekutif Lembaga Studi Dayak-21. E-mail: marko_mahin@yahoo.com

 

 


Catatan Belakang

 

[1] Tjilik Riwut, Maneser Panatau Tatu Hiang (I),  Palangka Raja, 1962, halaman. 4.

[2] Bue Bapa Rada, wawancara pribadi tahun 2002.

[3] Dalam Bahasa Dayak Ngaju, kata Balian memiliki beberapa arti, pertama untuk menunjuk kepada berbagai macam kegiatan upacara ritual keagamaan misalnya tiwah, balian hirek, balian manganan sila, balian mampandoi dst.. Namun bisa juga dipakai untuk menunjuk kegiatan para imam dalam upacara ritual keagamaan yaitu pada saat memukul katambong (gendang dalam bentuk panjang) dan melantunkan nyanyian atau mantra suci. Namun kata ini juga dipakai untuk menunjuk kepada para imam pelaksana upacara ritual keagamaan kalau  perempuan disebut Bawin Balian dan kalau laki-laki disebut Hatuen Balian atau  Basir Hatue. 

[4] Hardeland, seorang missionaris Jerman, mulai tahun 1855 mulai mengumpulkan bahan-bahan mengenai mitologi-mitologi suci orang Dayak Ngaju. Pada tahun 1858 ia menerbitkan buku mengenai Tata Bahasa Dayak Ngaju, sebagai lampiran buku itu adalah kumpulan mitologi suci orang Dayak Ngaju yang diberi judul Augh Olo Balian Hapa Tiwa (Perkataan-perkataan Balian yang dipakai untuk Tiwah). Lihat August Hardeland, Versuch einer Grammatik der Dajackschen Sprache, Amsterdam, 1858.  Kemudian pada 12 Mei 1939, di Kuala Kapuas, Damang Salilah, seorang Tokoh Adat dan Tukang Hanteran, telah membukukan mitologi suci orang Dayak Ngaju itu dalam 73 buah buku tulis tipis. Kini manuskrip itu terdapat di Perpustakaan Universitas Leiden-Belanda dengan kode Or. 8887. Pada tahun  1977 Lembaga Bahasa dan Seni Budaya Universitas Palangkaraya, Kalimantan Tengah, menerbitkan karya Damang Salilah ini dalam bentuk stensilan, lihat Damang  Y. Salilah, Agama Kaharingan: Susun Gawi Tiwah Sampai Balaku Untung, Palangka Raya: Lembaga Bahasa dan Seni Budaya UNPAR, 1977. Pada tahun  1946, Hans Schärer, seorang missionaris berkebangsaan Swiss yang telah bekerja di Kalimantan antara tahun 1922-1939, menyelesaikan Thesis Doktoralnya dengan judul Die Gottesidee der Ngadju Dajak in Süd-Borneo,  di Leiden University.  Thesis itu pada tahun 1946 diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Ngaju Religion. Schärer menjadikan mitologi suci orang Dayak Ngaju sebagai sumber penulisan thesisnya dan itu diikutsertakan sebagai lampiran. Lihat Hans Schärer, Ngaju Religion: The Conception of God Among A South Borneo People, The Hague: Martinus Nijhoff, 1963. Pada tahun 1966, setelah Schärer meninggal, diterbitkan kumpulan mitologi yang pernah dikumpulkan Schärer, lihat Hans Schärer, “Der Totenkult der Ngadju Dajak in Süd Borneo,”  dalam VKI, Vol, 51, Bagian 1 dan 2, ‘s-Gravenhage: Nijhoff, 1966.  Mengenai studi terbaru mitologi suci orang Dayak Ngaju lihat Sri Tjahjani Kuhnt-Saptodewo Zum Seelengeleit bei den Ngaju am Kahayan, Akademischer Verlag München,  1992.

[5] Lewis KDR, Kata Sambutan dalam Panaturan tahun 1996.

[6] Panaturan 1973. Dalam Panaturan 1996, pasangan nenek moyang disebut dengan nama Manyamei Malinggar Langit dan Kameluh Bajarumat Hintan (hlmn. 16).

[7] Panaturan 1973, hlmn.  76-77.

[8] Ibid, hlmn. 83.

[9] Ibid, hlmn. 87.

[10] Ibid, hlmn. 95.

[11] Mengenai pelanggaran-pelanggaran itu lihat Panaturan 1973, Cetakan Ke V, halaman 259-60.

[12] Menurut orang Dayak Ngaju, Lewu Tatau, yang seringkali diidentikkan dengan sorga-loka, merupakan satu tempat yang serba berkelimpahan, tanpa kerja, kesakitan dan penderitaan, serta tempat hidup selamanya.  Secara lengkap  dituturkan sebagai berikut:  Lewu Tatau Habaras Bulau, Habusung Hintan, Hakarangan Lamiang, Kewu ije dia heka tulang rumpung, rundung isen kamalasu uhat, eka belum ije palus katatahie (Kampung Kaya Raya Berpasirkan Emas dan Intan, Berkerikilkan Batu Merjan, Kampung dimana tulang tak pernah letih dan  otot tidak  pernah sakit, tempat  hidup selamanya).  Lihat Panaturan 1973, halaman 213.

[13] Panaturan 1973, halaman 218-219.

[14] Ibid, halaman 222

[15] Panaturan 1996, halaman 186.

[16] Ibid, halaman 188-9, bdk. Panaturan 1973, halaman  49-50.

[17] Ibid, halaman 196.

[18] Ibid.

[19] Dalam naskah-naskah Zending, Pulau Petak menunjuk kepada satu pangkalan misi  yang berada di Bethabara dan  Palangkai (dua tempat yang berdekatan), dan sering disebut sebagai Pangkalan Pulau Petak. 

[20] J.F. Becker, “Het district Poelopetak.  Zuid en Oostkust van Borneo”, dalam IA, 1 jrg, I, 1849, hlmn.431

[21] Ibid., hlmn. 454.

[22] Hans Schärer, Opcit, hlmn. 53

[23] Or. 8878/6, halaman 36, Or. 572 (Ep. 30), halaman 7.

[24] H.L, Pangkoh, “Pesta Balian,”  dalam Barita Bahalap,  Nyelo 28, No. 17, 1 September 1940, halaman 111

[25] Ibid.

[26] Tamanggong Ambo Nikodemus, Or. 527/108, Leiden: KITLV

[27] C.Hupe, “Korte verhandeling over de godsdienst, zeden, enz. Der Dajakkers.” TNI, Vol 8/3, pp. 127-72, 248-50, dalam Scharer 1963 halaman 55.

[28] Jahresberichte der R.M.G Tahun 1847, halaman 157, dalam Ukur , Opcit, halaman 74.  Bandingkan , M. T.H Perelaer., Ethnographische beschrijving der Dajaks, Zalt-Bommel: Joh. Norman & Zoon, 1870, halaman 32.

[29] Tamanggong Ambo Nikodemus, Or. 527/108, Leiden: KITLV.

[30] Hans Schärer, Ngaju Religion: The Conception of God Among A South Borneo People, The Hague: Martinus Nijhoff, 1963, halaman 53-54.

[31] Hardeland, Becker, Hupe, dan Perelear.

[32] Fridolin Ukur, Tantang-Djawab Suku Dajak,  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1971, halaman 72-3.

[33] August Hardeland, Opcit, hlmn. 35.

[34] Ukur, Opcit, hlmn. 76.

[35] C. A. L. M.  Schawanner, Opcit, hlmn. 185.

[36] C. A. L. M.  Schawanner, Borneo. (2 vols).  Amsterdam: PN van Kampen, 1835, hlmn. 185.  Bandingan C.Hupe, Ibid.

[37] Mallinckrodt, J. Het adatrecht van Borneo. dl. 1-2. Leiden: M. Dubbeldemand, 1928, hlmn. 521.

[38] Hermogenes Ugang, Menelusuri Jalur-jalur Keluhuran, Jakarta: BPK Gunung  Mulia, 1983, hlmn. 119-120.

[39] Martin Baier, Das AdatbuBrecht der Ngaju-Dayak (Salilah-Kodex), Disertasi di Tübingen University-Jerman, 1977, hlmn. 365-6.

[40] Hans Schärer, Opcit,  hlmn. 58.

[41] Ibid, hlmn. 6.

[42] Ibid, hlmn. 156.

[43] Daftar ini diambil dari Panaturan 1996, hlmn. 627-8.  Sedangkan penjelasannya didapat dari berbagai sumber.

[44] A.H. Kloke, Traditional Medicine among the Ngaju Dayak,  Borneo Research Council Monograph Series No. 3, 1998, hlmn 220.

[45] J.F. Becker, Opcit., hlmn. 454.

[46] Perelaer, Opcit.,  hlmn 20-22, 39-49,51-55.

[47] Sian Jay, “The Basir and Tukang Sangiang: Two Kinds of  Shaman among the Ngaju Dayak,”  dalam Indonesia Circle, No. 49, June 1989, hlm. 32.

[48] Anne Schiller, Small Sacrifices: Religious Change and Cultural Identity Among    The  Ngaju of Indonesia, New York-Oxford: Oxford University Press, 1997, hlmn. 40.

[49] Schärer, Opcit, hlmn. 56.

[50] Anne Schiller, “Shaman and Seminarians: Ngaju Dayak Ritual Specialists and Religious Change in Central Kalimantan,”  dalam Contribution to Southeast Asian Ethnography, 8:5-24.

[51] Teras Mihing dan Anthel Dese (Ed.),  Sejarah Pendidikan Kalimantan Tengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,  1982, hlmn. 11-12.

[52] Damang J. Salilah, Hukum Adat Kalimantan Tengah II, Palangkaraya: Lembaga Bahasa dan Seni Budaya  Universitas Palangka Raya, 1977, hlmn. 96-7.

[53] Lihat Panaturan 1973, hlmn. 83, 222.

[54] Pemelihara dan Penjaga spiritual kampung dalam bahasa Dayak Ngaju disebut sebagai: Pataho Hagan Lawang Mangkalewu, Batu Mamben Gadoh Mangarundong.


Beranda  |  Kategory: Edisi 07 , Uncategorized | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@srinthil.org
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia