Simbol Kesetaraan Gender Dalam Naskah Lontaraq Tanete Karya Retna Kencana Arung Pancana Toa Colliq Pujié

11 - Nov - 2004 | Nurhayati Rahman | No Comments »

Makkedai I Baégo (Arung Macégéq): “ Kénagi Andi Patarai, Petta Juba” Makkedani Petta Matoaé:”Kumui monro ri Tanété atammu”. Makkedasi I Baégo: “Namakessing-kessing garéq Petta Juba, Andi Patarai, iamu maéloq upolakkai”

Berkata I Baégo (raja Macégéq): “Kemana gerangan Andi Patarai Petta Juba” Petta Matoaé (Raja Tua) pun menjawab: “Hambamu ada di Tanété”, kembali berkata I Baégo: “Konon khabarnya Petta Juba Andi Patarai sangatlah tampan, dialah kelak yang akan kupersuamikan”

(dialog antara raja Macégéq dengan raja Tanete).[1]

 

***

“Di dalam hal-hal yang lama kutemukan sesuatu baru” kata Pak Ishak Ngeljaratan sekali waktu. Ternyata itu benar, di dalam Pra–Kongres Kebudayaan di Bali beberapa bulan yang lalu, saya telah mempresentasikan sebuah makalah yang membahas tentang “Prinsip-Prinsip Demokrasi Sistem Pemerintahan Tradisional di Sulawesi Selatan”. Kali ini saya menemukan sebuah naskah kuno di Kabupaten Barru Sul-Sel yang berjudul “Lontaraq Tanété” yang ternyata isinya menggambarkann bagaimana peran-peran publik kaum wanita yang menggambarkan kesejajaran dengan kaum pria.

Naskah tersebut ditulis oleh Colliq Pujié, yang nama lengkapnya Retna Kencana Coliq Pujié Arung Pancana Toa Matinroé ri Tucaé. Bila diurai satu-satu arti nama itu, maka. “Retna Kencana” adalah nama Melayu yang diberikan oleh orang tuanya sejak kecil[2]. “Colliq Pujié” berarti: ‘pucuk daun yang terpuji’, sedangkan “Arung Pancana Toa” adalah gelar jabatannya sebagai Raja Tua di Pancana. Setelah meninggal dunia ia diberi gelar anumerta “Matinroé ri Tucaé” yang berarti “yang tertidur di Tucaé” Tucaé adalah nama salah satu tempat di Lamuru[3], tempat Colliq Pujié meninggal.

Pancana tempat Colliq Pujié menjadi ratu adalah salah satu kerajaan bawahan Tanété [4]yang terletak di tepi pantai[5]

Ayahnya bernama La Rumpang  Mégga, yang dilantik menjadi raja Tanété yang ke-19 pada 1840. La Rumpang tinggal di sebuah istana yang besar dan megah, namun menurut Matthes tidak terawat dengan baik, karena rajanya (La Rumpang) tidak terlalu menghiraukan urusan kerajaan, ia lebih banyak bersantai-santai atau pergi berburu. Itulah sebabnya sehingga seluruh urusan kerajaan termasuk administrasinya dikendalikan oleh Colliq Pujié.[6]

Tidak diketahui dengan pasti kapan tepatnya Colliq Pujié lahir, hanya menurut perkiraaan Matthes ia diperkirakan lahir sekitar tahun 1812-an.  Ia kemudian menikah dengan La Tanampareq To Apatorang, raja Ujung. Dari perkawinannya ini ia dikarunai tiga orang anak, dua di antaranya adalah perempuan: Wé Tenriollé Siti Aisyah, yang kedua I Gading dan yang lelaki bernama La Makkawaru.

Tahun 1852 ketika ia berusia 40 tahun dan telah janda, ia bertemu dengan Matthes, seorang misionaris Belanda yang bertugas untuk mempelajari bahasa dan sastra di Sulawesi Selatan. Atas kepiawaiannya di bidang mengarang dan menulis, ia menjadi nara sumber utama beberapa peneliti dari Eropa antara lain Ida Pfeiffer dari Austria,  A. Lighvoed, dan Matthes. Dan yang terakhir adalah yang terlama, sekitar 20 tahun  ia membantunya, mengumpulkan, menyalin, dan mengarang naskah-naskah untuk keperluan penelitian Matthes. Selama itu pula ia mendampingi Matthes masuk keluar pedalaman Sulawesi Selatan. Sesuatu tindakan yang paling berani untuk ukuran wanita saat itu.

Salah satu karya monumentalnya adalah salinan 12 jilid naskah La Galigo yang sebelumnya terserak-serak episodenya pada beberapa daerah. Waktu itu seseorang keluarga cukup memiliki satu episode saja itu sudah dianggap luar biasa. Karena naskah-naskah itu tak mau dilepaskan pemiliknya kepada Matthess, maka ia pun meminta Colliq Pujié menyalinkannya dan menyusun episode itu secara berurutan sampai 12 jilid, jadi semacam editor. Dua belas jilid naskah La Galigo yang disalin Colliq Pujié inilah yang sekarang dianggap sebagai karya sastra terpanjang di dunia – 300.000 bait, yang menurut Kern hanya sepertiga dari jumlah naskah La Galigo secara keseluruhan[7].

Semua karyanya baik yang dihasilkan oleh Colliq Pujié maupun karya peneliti Eropa yang menjadikannya sebagai nara sumber utama kini tersimpan di beberapa museum dan perpustakaan di Leiden dan beberapa perpustakaan dan museum di belahan dunia lainnya. Meskipun begitu, hidupnya sangat miskin dan menderita, ia diasingkan di Makassar, dipisahkan dari keluarganya dan tinggal di sebuah gubuk yang menurut Matthes jauh lebih besar kandang babi orang Belanda[8]. Menurut Matthes pengasingan ini dilakukan karena seringnya cekcok dengan puterinya I Ollé. Belanda berusaha untuk mendamaikannya tapi tidak berhasil. Karena itulah, pada bulan Maret tahun1857 Belanda melarang Colliq Pujié kembali ke Tanété dan ditetapkan untuk tinggal di Makassar dengan tunjangan 20 gulden ditambah 2 pikol beras perbulan. Belanda tidak menjelaskan apa sebab pertengkaran itu terjadi dan mengapa mesti dipisahkan dengan puterinya, hanya Matthes dalam salah sebuah suratnya kepada Nederlandsch Bibelgenoostschap  bercerita:

“Hampir setiap hari saya mengunjungi seorang Ratu Bugis (Colliq Pujié) yang tinggal berdekatan dengan saya, dan yang ditetapkan di sini oleh pemerintah (Belanda ) dengan alasan politik” [9]

Tidak ada sumber dokumen tertulis yang menjelaskan alasan politik itu. Hanya menurut Andi Muhammad Rum[10] pertengkaran itu dipicu oleh besarnya dukungan yang diberikan oleh La Sangaji (suami I Ollé) kepada Belanda yang ditentang keras oleh Colliq Pujié.

Untuk memenuhi kebutuhannya, iapun menyalin karya sastra dan naskah-naskah di Sulawesi Selatan untuk Matthes. Gaji dari  pemerintah Belanda sebanyak 20 gulden dan 2 pikul beras itu tidaklah cukup, sehingga seringkali ia menjual  perhiasan warisan dari keluarganya. Beberapa kali ia minta untuk kembali ke daerahnya atau pindah di tempat yang lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik, tetapi tak pernah diizinkan oleh pemerintah Belanda.

Pada tahun 1867 Colliq Pujié barulah mendapat izin untuk kembali ke Tanété., namun karena tetap kurang cocok dengan I Ollé, ia kemudian berpindah-pindah di rumah anaknya yang lain, yaitu I Gading yang menjadi ratu di Mario atau La Makkawaru yang menjadi raja di Lamuru.

Tanggal 11 Nopember 1876 Retna Kencana Colliq Pujié Arung pancana Toa meninggal dengan tenang di Lamuru, dan dimakamkan di Tucaé, maka digelarlah ia “Matinroé ri Tucaé” yang artinya ‘terbaring di Tucaé’.

***

Sejarah perjalanan hidup Colliq Pujié adalah sebuah perjalanan sejarah anak manusia yang panjang dan berliku seperti halnya senarai sejarah perjalanan leluhurnya yang ia ceritakan dengan lantang, tanpa basa-basi, penuh dengan ketelanjangan data yang tidak ditutup-tutupi dalam “Sejarah Kerajaaan Tanété” atau dalam bahasa Bugis disebut “Lontaraqna Tanété”. Naskah yang ditulisnya pada tahun 1852 ini kemudian dicetak dan diterbitkan oleh G.K.Niemen dengan judul Geschiedenis van Tanette,  diterbitkan oleh, ‘Gravenhage, Martinus Nijhoff, Leiden  pada tahun 1883 yang selanjutnya akan dibicarakan secara singkat di bawah ini.

Di dalam naskah ini alurnya dibagi ke dalam 18 bab yang menceritakan raja I Tanété sampai raja ke XX. Setiap tokoh  diceritakan mulai lahirnya, percintaannya sampai ke perkawinannya. Alur ceritanya tunggal, tetapi kadang-kadang terdapat alur kilas balik dicelah-celah peristiwa seorang tokoh. Hal ini menyebabkan alur cerita menjadi kompleks, ditambah lagi penamaan tokoh yang selalu berubah-ubah, karena hampir setiap tokoh mempunyai nama lebih dari satu

Isinya, bercerita seputar kehidupan istana para raja-raja Tanété dahulu yang digubah dalam bentuk prosa lirik dengan bentuk penceritaan yang bersifat prolog dan dialog. Karena itu, membaca buku ini tak ubahnya membaca sebuah roman yang berkisah di seputar  percintaan, peperangan, intrik, kekuasaan, ketulusan,  kejujuran dan berbagai  nilai-nilai kebenaran lainnya yang berhadapan dengan nilai-nilai buruk. Semua itu diperankan oleh tokoh sejarah Tanété yang di dalam berintekrasi secara kultural dan sosial tidak mengenal batas-batas geografi, suku dan jenis kelamin. Kisah-kisah itu dibungkus dalam bahasa Bugis halus dengan kadar cita sastra yang tinggi, sehingga ia dapat pula dikategorikan sebagai sastra sejarah.

Sejarah seperti ini di dalam tradisi Bugis disebut lontaraq [11]  sebuah bentuk penulisan sejarah tradisionil di Nusantara yang oleh banyak ahli dari luar dianggap memenuhi kriteria untuk disebut sebagai sejarah modern.  Hanya pada bagian awalnya saja yang dipenuhi oleh misteri, sesudah itu, cerita mengalir dengan data dan fakta yang jelas tanpa dibumbui oleh hal-hal yang bersifat supernatural dan gaib.

Berbeda di Jawa atau Melayu yang geneloginya berasal dari tokoh penting dalam sejarah dunia yang berasal dari Islam atau Hindu seperti Nabi Adam, Iskandar Zulkarnain, atau Rama, dan sebagainya. Kisah-kisah tradisional dalam sejarah kerajaan di Sulawesi Selatan genealoginya selalu berasal dari salah satu dari dua tempat, yakni: 1) dari Boting Langiq ‘pusat langit’, atau 2) dari Buri Liu ‘dasar laut’. Yang berasal dari Boting Langiq disebutnya sebagai To Manurung ‘orang yang turun’ sedangkan yang berasal dari Buri Liu disebutnya sebagai To Tompoq ‘orang yang muncul’. Mereka beranggapan bahwa baik To Manurung maupun To Tompoq adalah keturunan dewa yang dijelmakan di bumi. Karena itulah mereka menyapa To Manurung sebagai Dewataé, sedang To Tompoq disapanya sebagai To Sangiang (Sang Hyang…?).

Agaknya kisah-kisah sepertti itulah yang menyertai berdirinya Kerajaan Tanété – tempat Colliq Pujié dilahirkan, yang setelah kemerdekaan Indonesia ia dilebur menjadi bagian dari kabupaten Barru Sulawesi Selatan  (sekitar 100-an km dari Makassar).

Konon sekali waktu, orang Pangi naik ke gunung jangang-jangangngé untuk berburu. Pada waktu mereka tiba di puncak gunung, mereka dikejutkan oleh adanya sebuah guci yang berisi penuh air. Mereka berpikir, pastilah ada manusia di sekitar tempat ini. Mereka penasaran. Rasa penasaran itulah yang mengantarnya masuk sampai ke kedalaman puncak gunung tersebut. Dan benar, di sana ia temui sepasang suami istri yang di sekitarnya beterbangan burung-burung yang membawa ikan. Ikan-ikan itulah yang menjadi makanan utama sepasang suami istri itu. Orang Pangi kemudian bertanya: “Dari manakah asal kalian berdua”. Jawab mereka: “ Kami tidak tahu asal kami, yang pasti salah satu dari empat mata arah angin, yaitu utara, timur, selatan dan Barat? Orang Pangi pun yakin bahwa orang itu pasti To Manurung atau To Tompoq.  Benar juga dugaannya, karena di kemudian hari, kelak setelah dewa ini melahirkan anak-anaknya, maka  anak-anak tersebut menyapanya To Sangiang. Itu pertanda dia adalah To Tompoq (Orang yang muncul dari Buri Liu), diperkuat lagi adanya petunjuk bahwa mereka berdua hanya makan ikan, di tengah-tengah gunung. Karena itulah orang Pangi lalu memutuskan untuk mengajak orang asing ini turun menjadi raja di daerahnya, tapi ditolak dengan halus oleh To Sangiang.

Akhirnya, secara rutin orang Pangi itu naik ke gunung tersebut dengan dua tujuan:1) berburu, dan 2) menjenguk sepasang manusia dewa itu. Tak lama kemudian dewa ini telah melahirkan puteri,  dan setelah dewasa sang putri kemudian dijodohkan dengan  putera  raja orang Pangi di Ale-Kaleqé.

Setelah itu, To Sangiang memilih turun dari gunung dan tinggal di sebuah tempat kosong yaitu Batu Léppanaé di kampung La Poncing. Di sanalah ia membangun sawah dan membentuk perkampungan. Kampung itulah kemudian yang diberi nama Aganionjo. To Sangiang menjadi raja pertama di tempat itu. Tidak lama  kemudian, sepasang putranya tidak pernah akur, selalu bertengkar, To Sangiang takut kalau mereka saling membunuh. Karena itulah ia memutuskan untuk mencari raja pengganti yang bisa dipatuhi oleh kedua putranya. Pilihannya jatuh pada raja Segeri. Inilah cikal-bakal raja Aganionjo, yang dikemudian hari diubah namanya menjadi kerajaan Tanété. Perubahan ini dilakukan oleh To Maburuqé Limanna (raja Tanété yang ke-8) sebagai wujud persaudaraannya dengan kerajaan Tanété di selayar.

Dari sinilah Colliq Pujié memulai cerita leluhurnya, yang pada garis besarnya  memberi gambaran kepada kita tentang 2 hal, antara lain : 1) silsilah raja-raja dan adat istiadat kerajaan Bugis/Makassar 2) kebebasan berbicara dan berekspresi tanpa mengenal perbedaan jenis kelamin, agama dan ras.

Setiap raja mempunyai tanggung jawab untuk melanjutkan kebijakan raja-raja pendahulunya, meskipun begitu mereka juga melakukan evaluasi terhadap setiap kebijakan, yang mana bisa dilanjutkan dan mana yang tidak. Ia juga berimprovisasi secara kreatif untuk menciptakan hal-hal baru. Karenanya setiap raja mempunyai keunikan-keunikannya tersendiri serta kelebihan dan kekurangannya. Semua itu diceritakan secara gamblang tanpa  ditutup-tutupi kejelekannya.

Raja  Tanété I adalah Datu Gollaé masih kerabat raja Gowa, karena itu mulai raja I ini sampai  ke raja IX mereka dengan rutin datang ke Gowa memberikan sesembahan seperti mempersembahkan sebagian hasil panen bila habis panen. Hal ini merupakan  tanda bukti akan kesetiaannya kepada raja Gowa sebagai  raja bawahan Gowa yang berdaulat. Namun sekali waktu terjadi insiden, ketika raja Tanété X Matinroé ri Bulianna berkuasa, tanpa sengaja raja Bone, Arung Palakka yang masih kerabat raja Gowa diburu oleh raja Gowa karena  konflik yang tak bisa diredam. Raja Tanété menyembunyikannya, maka alangkah murkanya raja Gowa. Sejak saat itu, hubungan antara Gowa dan Tanété memburuk yang selanjutnya berakhir dengan pemutusan diplomatik. Sejak saat itu pula, Tanété beralih menjadi negara bagian dari kerajaan Bone yang sekali-sekali naik mempersembahkan pajak ke Bone. Sementara itu, Arung Palakka yang terdesak akibat tekanan Gowa yang terus-menerus, akhirnya meminta bala bantuan kepada kompeni Belanda, dan dengan bantuan Belanda inilah ia dapat melawan hegemoni kekuasaan Gowa yang sangat kuat dan ekspansif. Sebagai konsekwensinya, ia harus takluk di bawah kekuasaan Belanda. Raja Tanété yang merupakan bawahan raja Bone mau tak mau harus pula membantu Bone dan Belanda melawan Gowa termasuk membantu kompeni menghalau pemberontakan Cina dan pasukan Jawa di jawa Tengah.

Persekutuan dengan Bone ini berlangsung terus sampai akhirnya raja Tanété X ini digantikan oleh putra sulungnya Daéng Matulung (raja XI) yang tidak beberapa lama setelah dilantik ia mengundurkan diri karena tidak suka pergi menyembah ke Bone dan diperintah oleh Belanda. Ia lalu digantikan oleh adiknya Daéng Matajang yang memang sejak kecil telah dititipkan kepada raja Bone untuk belajar adat-istiadat dan tata cara memegang kekuasaan.

Waktu berjalan terus dan  sejarah anak manusia pun turut berputar, bergulir,  dan mengalir mengikuti perjalanan sang waktu yang tak pernah bisa dihentikan sejenak  oleh siapapun. Raja-raja Tanété silih berganti yang setuju tidak setuju, terima atau tidak terima, ia harus tunduk kepada takdir untuk menjadi bagian dari kekuasaan Bone dan Belanda. Namun ketika kekuasaan tiba di tangan La Patau, raja Tanété XVII, raja yang tanpa basa-basi menolak permintaan Belanda untuk menghadap kepadanya dalam suatu pertemuan yang diadakan oleh Gubernemen di Makassar: “Kalau Belanda butuh dengan saya dia yang harus menghadap ke saya, bukan saya yang harus menghadap kepadanya” begitu katanya. Belanda  sangat tersinggung, sekejap saja, kehidupan masyarakat Tanété tiba-tiba berubah, gonjang-ganjing, kacau-balau akibat perlawanan yang tidak berimbang antara pasukan La Patau dengan kompeni Belanda. Meskipun begitu, semangatnya luar biasa, dan tak pernah surut sedikit pun, sampai akhirnya terdesak masuk ke gunung. Beberapa saat ketika dia sudah kewalahan, penasehatnya menyarankannya untuk mundur, dengan tegas ia menjawab: “Turunkan saja perahuku, biar saya pergi merantau jauh”. Sang penasehat langsung menanggapi itu sebagai signal bahwa sang raja meminta dirinya untuk diturunkan sebagai raja, maka jawab sang pensehat: “tak ada satu pun yang bisa menurunkan tuanku kecuali atas keinginan tuanku sendiri”. Ketika itulah ia mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada saudara perempuannya Daéng Tennisanga menjadi ratu Tanété XVIII, sementara La Patau tetap melanjutkan perlawanan dari gunung, tiga kali gencatan senjata tiga kali pula berperang sampai akhirnya ia kalah. Itulah sebabnya ketika ia meninggal ia digelar anumerta sebagai Petta Mpélaingngé Musuqna  artinya  ‘raja yang meninggalkan peperangannya’.

Tidak begitu lama setelah kekuasaan Daeng Tenrisanga (saudara perempuan La Patau) ia pun mengundurkan diri, Belanda lalu menunjuk La Rumpang menggantikannya, ayah Colliq Pujié seperti yang telah dibicarakan di atas.

***

Gambaran umum yang kita dapatkan dalam penampakan hiruk-pikuk kehidupan setiap tokoh adalah tidak adanya batas-batas perbedaan antara berbagai jenis kelamin maupun agama dan suku, baik dalam berinteraksi secara sosial maupun di dalam menduduki posisi-posisi penting dalam struktur kekuasaan.  Bila dirunut satu-persatu, dari raja I sampai raja  XX dalam naskah ini, maka  9 di antaranya adalah perempuan, selebihnya adalah laki-laki, namun istrinya juga semuanya adalah ratu yang berkuasa di tempat lain, meskipun hanyalah raja kecil tapi berdaulat di dalam sebuah kerajaan besar. Demikian pula halnya dengan para ratu, suaminya juga adalah raja di tempat lain. Bahkan Terniléléang ratu Tanété XV berkuasa di dua tempat sekaligus yaitu Kerajaan Tanété dan Karejaan Luwuq [12] karena kebetulan ayahnya orang Luwuq.

Wanita-wanita itu merupakan makhluk-makhluk publik yang hidup melampaui zamannya. Mereka memimpin pasukan perang, berdiplomasi, mengambil kebijakan-kebijakan, memutuskan perkara, dan mengekspresikan perasaannya sesuka hati tanpa dihalangi oleh basa-basi  tata krama seperti yang sering kita temukan dalam kerajaan feodal lainnya. Wanita-wanita itu berseliweran kesana-kemari dengan tranportasi utama perahu. Kadang-kadang mereka melahirkan di tempat lain dan dengan entengnya anak itu dititipkan kepada ibu pengasuhnya lalu sang ratu melanjutkan perjalanannya untuk kepentingan diplomasi. Hal itu dapat kita lihat ketika I Ollé yang ketika menghadap ke raja Gowa, ia sedang hamil tua. Dua malam setelah tiba di Gowa, ia melahirkan. Anak itu diberinya nama Wé Pancaitana, dan mendapat ibu Susu[13] dua orang: satu dari raja Gowa yang satunya lagi dari Lamuru. Sesudah itu anak tersebut dititipkan kepada pengasuhnya kemuadian ia menuju Tanété kembali.

Kebebasan bukan hanya terlihat dalam posisi penting dalam kekuasaan tapi juga dalam hal perjodohan. Tenriléléang adalah ratu yang paling eksotis, ia meninggalkan suaminya menuju Sapirié karena merasa sudah tidak cocok, padahal ketika itu ia telah dikaruniai tujuh orang anak dan telah menjelang manupouse. Ketika suaminya menyindir dalam nyanyian antara lain ia berkata: “biar saja engkau pergi, tak mungkin lagi ada yang jatuh cinta padamu dan menikahmu, karena engkau sudah tua”. Kalau aku tidak masalah karena aku masih bisa punya selir yang lain”.  Maka jawab Tenriléléang: “Pekkumutono siaq, pekkumutoni tauwé” artinya kamu begitu aku juga bisa begitu, dengan kata lain apa yang bisa kamu lakukan aku pun juga bisa melakukannya. Dan ternyata ia buktikan, karena tidak lama sesudah ia berpisah dengan suaminya ia menikah lagi dengan Ponggauqé ri Bone (raja Bone) dan meskipun sudah tua pesta perkawinannya dilangsungkan secara meriah.

Di dalam naskah ini juga kita temukan tradisi mangoting-oting suatu bentuk ungkapan perasaan cinta seorang wanita kepada laki-laki yang disukainya – tentu saja juga menyukainya – dengan jalan mengikatkan selendangnya ke ujung keris laki-laki[14] maka kalau ini terjadi tak ada satu pun orang yang bisa memisahkannya, kecuali menikahkannya. Hal ini dapat kita lihat pada percintaan antara Kadi dan I Buba, yang karena telah saling mangoting, maka Tenriléleang menikahkannya.

Peristiwa yang tidak kalah serunya adalah saat La Maddusila raja Tanété XVI memerintahkan kepada Arung Lipukasi (salah satu raja bawahan Tanété) mallalengeng akka (mengangkat baki) untuk tamu-tamu perempuan. Sang raja Lipukasi protes tidak mau melaksanakannya, tapi jawab La Maddusila: “Yang saya perintahkan bukan pribadimu tapi kedudukanmu sebagai raja bawahan yang punya tata krama untuk tunduk kepadaku”. Dengan perasaan terpaksa ia pun melayani satu persatu tamu-tamu perempuan yang hadir dalam pertemuan itu. Alangkah risih dan kikuknya sang raja Lipukasi.

Sementara itu, di dalam lalu lintas pergaulan antar bangsa, kekebasan juga terlihat dengan jelas, antara lain dapat kita lihat hubungan orang Belanda, Bugis, Makassar, Buton, Melayu, Parengki (Prancis), Inggris, meskipun yang pertama dan yang terakhir ini sering mereka bermusuhan, sehingga mereka berperang, tapi bukan atas nama bangsanya ataupun agamanya, melainkan atas nama perilaku kolonialismenya.

Peperangan antara Belanda dan Gowa yang tak kunjung usai membuat mereka terpaksa gencatan senjata yang diakhiri oleh sebuah perjanjian yaitu disebut, Perjanjian Bungaya. Para penanda tangan  perjanjian itu masing-masing memegang kitab sucinya. Orang Belanda memegang kitab Injil, sementara orang Makassar memegang Al-Quran. Sebelum penandatanganan dilakukan mereka bersumpah atas nama Tuhannya masing-masing, sambil meletakkan kitab suci mereka di kepalanya. Suatu gambaran yang memperlihatkan bagaimana mereka saling menghargai agama dan kepercayaan masing-masing.  Suatu gambaran yang belum ditemukan dalam laporan dan dokumen resmi pemerintah.

***

Dua bagian yang telah diceritakan di atas, yakni: 1) sejarah kehidupan pribadi Colliq Pujié yang dilatari oleh sistem sosial dan kultural dari zaman yang diwakilinya, 2) sejarah kehidupan para raja  yang masih tersimpan  dalam memori Colliq Pujié yang tentu saja didasari oleh berbagai bacaan lontaraq sebelumnya memberi gambaran kepada kita tentang adanya saling mempengaruhi dan tarik-menarik antara kenyataan di luar sastra dan kenyataan di dalam karya sastra.

Kedua-duanya menjelaskan kepada kita tentang pentingnya arti kebebasan dan kemerdekaan bagi manusia. Baik perempuan maupun laki-laki, di dalam berpikir dan dalam bertindak. Tentu saja kemerdekaan dan kebebasan itu dibatasi oleh nilai-nilai yang dianggap luhur dan telah disahkan oleh masyarakat pendukungnya, yakni masyarakat Bugis. Nilai-nilai itu telah mengalami pengujian dan pengesahan secara evolutif dalam perjalanannya dari waktu ke waktu.

Maka apa yang dikatakan oleh Evert Jan [15]  bahwa wanita Bugis/Makassar sangatlah berkuasa kepada laki-laki, sebaliknya laki-laki sangat takut kepada perempuan meruapakan suatu sistem yang tidak pernah ia temukan dalam bangsa lain yang pernah ditemuinya. Karena itu, benarlah apa yang dikatakan oleh DR. Ian Caldwell[16] bahwa tatanan sosial dan kultural masyarakat Sulawesi Selatan tidaklah bias gender. Peran dan kedudukan wanita sama dan setara.

Makassar, 23 Agustus 2003

Nurhayati Rahman


[1] Dalam buku Geschiedenis van Tanette,  karangan Colliq Pujié yang diterbitkan oleh G.K.Niemen, ‘s Gravenhage, Martinus Nijhoff, Leiden 1883:108

[2] Dalam tradisi orang Bugis khususnya di Tanété, orang  yang mempunyai darah Melayu selalu mempunyai nama Melayu yang diberikan sejak ia lahir

[3] Terletak di kabupaten Bone Sulawesi Selatan sekitar 140 km dari Makassar..

[4] Terletak di kabupaten Barru Sulawesi Selatan sekitar 100 km dari Makassar

[5] Terletak di Kabupaten Barru, sekarang.

[6] Koolhof dalam Pendahuluan La Galigo, jilid I, 1995: 6.

[7]  Koolhof dalam Pendahuluan La Galigo, jilid I, 1995: vii.

[8] Idem halaman 13.

[9] Koolhof dalam Pendahuluan La Galigo, jilid I, 1995: 12.

[10] Cucu kelima lapis Colliq Pujié yang sekarang menjabat sebagai Bupati Barru, yang penulis wawancarai bulan Desember 2002h

[11] Berasal dari kata “lontaraq” yang berarti daun lontar. Dalam kebudayaan Bugis/Makassar kata ini mempunyai dua makna: 1) huruf Bugis/Makassar yang dulu ditulis di atas daun lontar, 2) sejarah atau silsilah.

[12] Kerajaan tertua dan terbesar di sulawesi selatan

[13] Biasanya ibu susu ini adalah orang terdekat raja/ratu yang memang sudah mendapat kepercayaan penuh untuk itu.

[14] Zaman dulu, setiap lelaki Bugis/Makassar bepergian selalu mengikatkan keris di pinggangnya.

[15] Hasil perbincangan saya di Leiden 23 Juli 1996. yang bersangkutan pernah menjadi tenaga pengajar di Universitas Hasanuddin kurang lebih 10 tahun.

[16] Hasil perbincangan saya Januari 2003 di Makassar.


Beranda  |  Kategory: Edisi 07 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia