Perempuan dalam Ritual: Mengangan Dewi Sri Membayang Perempuan

11 - Nov - 2004 | Bisri Effendy dan Novi Anoegrajekti | No Comments »

Namanya Dewi Sri, pastilah ia perempuan. Konon, seperti juga namanya, ia adalah Dewi Kahyangan yang memberi kesuburan. Tetapi, karena nama itu hanya populer di kalangan komunitas pertanian sawah, Dewi Sri lalu diasosiasikan sebagai atau menjadi simbol padi. Para petani sawah sangat mengenalnya dengan akrab, bahkan banyak di antara mereka yang menganggapnya sebagai padi itu sendiri. Dewi Sri memang dipandang sebagai salah satu dewa yang mengisi biji padi hingga kemudian menjadi beras. Itulah sebabnya mengapa, seperti yang masih kita temukan di sejumlah kalangan petani di pedesaan Jawa, beras atau padi pantang disia-siakan, karena itu berarti menyepelekan Dewi Sri. Kuwalat, kata orang Jawa menyumpah.

Soal nama memang tidak hanya Dewi Sri. Nini Thowok atau Nini Towong (Jawa), Sangiang Sri seperti tertulis dalam La Galigo (Bugis-Makassar), Nyi Pohaci Sangiang Sri Dangdayang Tisnawati (Sunda), Luing Indung Bunga atau Dara (Datu) Bini Kabungsuan (Dayak),  Seblang (Banyuwangi), dan Betari Sri atau Sang Hyang Ibu Pertiwi, lebih sering disebut Ibu (Bali) menunjuk pada subtansi yang sama, semuanya merupakan simbol padi dan kesuburan. Nama-nama itu, karenanya, menjadi sangat penting bukan hanya dalam memori dan keyakinan petani, tetapi juga dalam upacara-upacara yang dihajatkan untuk itu, serangkai aktivitas religius yang di Jawa biasanya berkelindan dengan niat-niat lain seperti tolak-balak, mengusir pagebluk, keselamatan desa, dan seterusnya. Seperti halnya nama yang ditokohkan, ritual-ritual yang dilakukan juga menyandang nama yang berbeda-beda, Bersih Desa (Jawa Mataraman), Sedekah Bumi (Jawa non-Mataraman), Seren Taun (Sunda) Kebo-keboan dan Seblang (komunitas Using, Banyuwangi), Mappalili (Bugis-Makasaar),  Lepeq Majau (Dayak Kenyah, Kaltim), Bapalas Padang (Banjar, Kalsel), dan Mungkah, Mendak Sari, atau Muat Emping Ngaturan Sari (Bali).

Tidak pelak, karena itu, dalam setiap upacara yang berpautan dengan proses produksi padi khususnya dan pertanian agraris pada umumnya, Dewi Sri menjadi atau ditampilkan sebagai figur terpenting. Di banyak desa di Jawa, misalnya, upacara menjelang musim tanam atau sesudah panen padi, dengan berbagai sebutan, masih sering kita saksikan hingga sekarang. Di sebagian penduduk atau kelompok etnis, ia dipersonifikasi ke dalam seorang gadis jelita, bertubuh semampai, dan berwajah ceria. Dengan pakaian anggun, tutup kepala bercundhuk, dan jurai rangkaian bunga, diarak keliling kampung. Bahkan tak jarang, keliling kampung itu, diiring oleh riuh warna-warni musik yang terdapat di kampung bersangkutan.

Dalam ritual Kebo-keboan di desa Alas Malang (Banyuwangi) tahun 1995 – juga tahun 2003 yang disaksikan Srinth!l –  misalnya, Dewi Sri diperankan seorang gadis cantik mempesona, bernama Tuti; semampai, tinggi (165 cm), kuning langsat, jelita, dan selalu ceria tanpa harus tersenyum. Posisinya di atas tandu berhias yang dipikul 8 orang, menebarkan dua hal sekaligus; pesona dan wibawa. Delapan pasang “kebo-keboan” (terdiri dari orang yang dihiasi seperti kerbau) dan 4-5 jenis musik dan kesenian yang mengiringi arak-arakan keliling desa, ditambah ribuan pengunjung ritual yang berjajar di sepanjang jalan, menjadikan ritual itu terkesan meriah tetapi tetap mistis, dan yang lebih penting lagi, memantapkan posisi Dewi Sri dalam tahta yang agung.

Dari situ, terlihat Dewi Sri sangat penting, terhormat, dipuja, dielu-elukan, dan dikeramatkan. Secara simbolis, seluruh perintahnya dipatuhi, kerling matanya meng-gagap-kan, dan kemarahannya membuat para warga bergetar ketakutan. Persis seperti ketika ia dalam memori dan angan-angan (dalam kehidupan sehari-hari di luar upacara) penduduk pedesaan pertanian. Sesaji, mantra-mantra, dan persembahan lain yang mengikuti proses produksi padi (menjelang tanam, ketika padi sedang hamil, menjelang dan sesudah panen) menjelaskan bagaimana para petani padi menggantungkannya pada Dewi Sri. Kemarahan Dewi Sri, lantaran semua itu tak dipersembahkan, akan menyebabkan biji-biji padi tak terisi, ditinggal pergi oleh Dewi Sri dan dibiarkan dimangsa wereng.

Dewi Sri: Kisah Asal-mula Padi dan Ritus Kesuburan

Meski Dewi Sri sebagai tokoh mitologis dan imajiner sangat jelas bagi para petani, namun siapakah dan bagaimanakah hubungannya dengan padi cukup kontroversial dan variatif yang selalu dikaitkan dengan mitos asal-mula kejadian padi. Di kalangan masyarakat Sunda (Jawa Barat), misalnya, Sri terlahir dari sebutir telur yang berasal (mengkristal) dari titik air mata seorang dewa cacat, Dewa Anta yang menangis sedih karena tidak dapat berpartisipasi dalam mendirikan Balai Pertemuan para Dewa. Karena kecantikan Sri yang tak tertandingi, Bethara Guru jatuh cinta dan ingin mengawininya tetapi dapat digagalkan oleh para dewa lain dengan cara membunuh Sri dan menguburkan-nya di bumi. Beberapa hari kemudian, dari kuburan Sri tumbuh kelapa (dari kepalanya), padi biasa (dari matanya), padi ketan (dari dadanya), pohon enau (dari kemaluannya), dan rerumputan (dari bagian yang lain).

Mirip dengan itu adalah cerita tentang makhluk dewa hubungannya dengan padi di sebagian masyarakat Dayak Kalimantan. Kisahnya bermula dari suatu peristiwa yang merisaukan seluruh penduduk, kekeringan panjang yang melanda Tanah Lingo, suatu dataran tertentu di pulau Kalimantan. Malapetaka ini diyakini sebagai akibat dari pelanggaran aturan dan tatanan para dewa, dan untuk mengatasinya haruslah ada korban persembahan berupa salah seorang penduduk harus rela mati. Di saat kebingungan kolektif, karena tak satu pun yang bersedia mati, muncullah putri bungsu kepala adat menyediakan diri untuk itu. Luing Indung Bunga, nama putri tersebut, rela mati  demi kesuburan tanah dan kesejahteraan penduduk yang amat didambakan. Dan bersamaan dengan mengalirnya darah dari tubuh sang putri, seketika mendung menggulung dan hujan lebat pun membasahi bumi yang telah sekian lama mengering. Sesaat setelah hujan usai, ibu sang putri menjenguk tempat dimana putrinya mati berkorban, terlihatlah sehampar tetumbuhan semacam rumput alang-alang dengan buah berbiji yang menggelantung yang kemudian dikenal sebagai tanaman padi. Sejak saat itulah Luing Indung Bunga dipandang sebagai Dewi Pertanian dan asal muasal tanaman padi di kalangan masyarakat ini.

Agak berbeda dengan itu, di kalangan masyarakat Dayak Kalimantan Selatan, padi dipercaya berasal dari salah satu tanaman di langit (alam para dewa), sebuah tanaman berbentuk pohon besar, akarnya menghunjam di Indung Besar dan pucuk daun/buahnya mencapai puncak langit ke delapan. Buah pohon itu sangat besar dan lebat, bahkan jika ditanam pagi hari, sore hari akan berbuah, sehingga Datu Laki Badangsanak Walu, pemilik tanaman itu, kuwalahan menghimpun dan menyimpannya. Para Dewa juga kesukaran menyantap buah itu karena terlalu besar, mereka bermohon agar buah tanaman itu bisa terpecah atau menjadi kecil. Dan akhirnya atas petunjuk Suwara, Datu Laki Kabungsuan membuat bakul pabayunan (bakul khusus untuk upacara) lalu buah itu dimasukkan ke dalamnya, dan setelah diasapi dengan dupa dan dimantrai selama tujuh hari (siang-malam), buah itu menjadi terbelah dan terpecah kecil-kecil sebesar butir padi sekarang. Datu Bini Kabungsuanlah yang kemudian menyembunyikan sebagian buah yang sudah mengencil itu di dalam balai kaca bagantung (dalam bahasa Balian diasosiasikan sebagai rahim perempuan) untuk dibawa ke bumi. Ketika sampai di bumi, Datu Bini Kabungsuan bagaikan perempuan hamil dan setelah berumur sembilan bulan sembilan hari, lahirlah buah itu bagaikan seorang bayi dan diupacarai: diletakkan diatas kain putih, diasapi dengan dupa alam barasagi dan alam barasangka, ditimang dan dihadapkan ke segenap penjuru bumi. Orang-orang Dayak Kalsel, dengan demikian, percaya bahwa padi adalah buah dari langit yang suci dan tidak boleh disia-siakan. Mungkin karena mite itulah maka bagi orang-orang Banjar pun padi juga dipercaya sebagai tanaman dan buah dari surga (setelah mereka mengenal agama samawi).

Lain lagi ceritanya di kalangan Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan. Matoa Bissu Saidi menceritakan kepada Srinth!l bahwa asal-mula padi tak lepas dari kisah turunnya Sawerigading ke bumi. Ia turun tidak sendirian tetapi di barengi oleh Sangiang Sri, salah satu saudara kandungnya, yang diturunkan dalam bentuk sekuntum tanaman langit yang dikawal oleh seekor kucing belang tiga yang disebut meong palokarallae. Mereka diperintahkan oleh Dewa Patotoe untuk menyediakan makanan bagi penduduk bumi yang juga rakyat Sawerigading. Sekuntum tanaman langit itu ditanam pertama kali di Luwu, tetapi karena masyarakat Luwu sering menyakiti kucing, maka tanaman tadi tak bisa subur di sana. Sangiang Sri bersama meong palokarallae meninggalkan Luwu menuju Wajo, tetapi karena di daerah yang terakhir itu sikap masyarakatnya terhadap kucing sama seperti masyarakat Luwu, maka mereka pindah lagi ke Pangkep. Di daerah inilah Sangiang Sri dan pengawalnya mendapat perlakukan yang baik, sehingga padi menjadi subur.

Di Madura, mitos Dewi Sri bermula dari cerita ketika Bethara Guru menciptakan seorang perempuan cantik jelita bernama Retna Dumilah yang kemudian dicintainya sendiri. Tetapi cinta Bethara Guru gagal karena tak bisa memenuhi permintaan Retna  Dumilah berupa makanan yang tak pernah membosankan, pakaian yang tidak pernah rusak, dan gamelan yang bisa berbunyi tanpa dibunyikan. Maka ketika Bethara Guru hendak menyentuhnya, Retna Dumilah mati seketika dan dikuburkan di suatu tempat di bumi.  Beberapa saat kemudian, lalu tumbuh berbagai macam tanaman, dari kepalanya tumbuh pohon kelapa, dari tubuhnya tumbuh padi sawah, padi gaga, dan pohon enau, dari tangannya tumbuh buah-buahan yang menggelantung, dan dari kakinya tumbuh ubi-ubian seperti talas, ubi, dan lain-lain.

Versi lain, juga dari Madura, hanya sampai ketika Bethara Guru gagal mencintai Retna Dumilah. Kegagalan itu, menurut versi ini, karena seorang dewa yang diperintahkan untuk mencari seluruh permintaan Dumilah bertemu Dewi Sri (isteri Wisnu) dan mencintai-nya sehingga melupakan perintah Bethara Guru. Dewa pesuruh itu terus mengejar Dewi Sri meski ia telah dikutuk (atau menyembunyikan diri dengan menjelma) menjadi seekor babi hutan. Dewi Sri akhirnya kewalahan dan seketika itu pula ia memohon agar dikembalikan ke Kahyangan. Permohonannya terkabul, dan persis tempat dimana Dewi Sri musnah, tumbuhlah hamparan tanaman padi, sedang dari babi hutan muncullah hama-hama seperti tikus, walang, dan lain-lain. Versi ini melanjutkan bahwa untuk membasmi hama-hama itu, Dewi Sri yang sudah kembali ke Kahyangan tadi mengirimkan ular ke bumi; inilah sebabnya masih kita jumpai sebagian petani tidak mau dan tidak berani membunuh ular sawah karena menganggap kiriman Dewi Sri dari Kahyangan.

Di kalangan petani Jawa, pandangan mengenai hal itu sangat beragam. Bagi para petani di Banyumas (Jawa Tengah), misalnya, kehadiran Dewi Sri ke bumi berawal dari saat ketika Bathara Guru menurunkan benih kehidupan, wiji widayat kepada semua dewa, karena ketidak-hadiran Ramadi itu, para dewa tidak mampu memikulnya, dan wiji widayat melesat ke bumi bahkan sampai ke lapisan ke tujuh. Benih kehidupan itu ternyata masuk ke dalam perut Nagaraja atau Hyang Anantaboga yang mulutnya sedang menganga.

Melihat peristiwa itu, Bethara Guru terkejut dan kemudian memerintahkan untuk dimuntahkan, dan ternyata, setelah dimuntahkan, yang keluar adalah dua bayi, laki-laki dan perempuan yang lalu diberi nama Sri dan Sadana. Setelah menginjak dewasa, baik Sri maupun Sadana tidak mau berpisah bahkan meminta untuk dijodohkan yang ternyata tidak setujui oleh para dewa. Hanya karena permintaannya itu, Sadana dikutuk mati yang kemudian, dari mayatnya, muncul berbagai binatang liar seperti monyet, babi hutan, gajah, dan binatang laut. Sri sangat sedih atas peristiwa itu dan meminta agar dibuatkan gamelan Gedobrog untuk menghibur perih hatinya. Tetapi, ternyata ia pun terkena kutukan dan harus mati seperti Sadana. Bethara Narada mendapat tugas membawa mayat Sri ke bumi untuk diserahkan kepada seorang perempuan tani yang sedang bertapa untuk mendapat wiji widayat. Narada memberikan mayat Sri kepada perempuan itu dan berpesan agar dikuburkan secara baik-baik dan disiram terus selama tujuh hari. Setelah itu, dari kubur Sri tumbuh sejumlah tetumbuhan diantaranya tanaman padi.

Serat Manikmaya yang beredar di kalangan masyarakat Jawa Tengah dan Timur menceritakan, dalam beberapa bagian sama dengan di Madura, bahwa Ken Tisnawati (Dewi Sri), putri Retna Dumilah, mati ketika dirayu oleh Bethara Guru yang amat mencintainya. Setelah di kubur, kemudian tumbuh beberapa tanaman yang sampai sekarang bermanfaat bagi penduduk bumi. Dari kepalanya tumbuh pohon kelapa dan padi, dari tubuhnya tumbuh pohon aren, dari kedua tangannnya tumbuh pohon buah-buahan, dan dari kedua kakinya tumbuh ubi-ubian (ubi jalar dan talas).  

Dewi Sri – atau apapun sebutannya – dan padi memang lengket dan tak mungkin dipisah. Cerita rakyat yang masih kita dengar di kalangan masyarakat pedesaan Jawa dan Madura mengisahkan tentang bagaimana Joko Tarub (Jawa) atau Aryo Menak (Madura) berhasil mengawini seorang bidadari (dewi atau peri) yang tidak bisa kembali ke Kahyangan lantaran pakaiannya dicuri saat bidadari itu mandi di suatu sungai atau telaga. Mereka hidup bahagia, tenteram, dan makmur. Suatu keanehan yang selalu mengganggu pikiran Joko Tarub maupun Aryo Menak cukup lama adalah kenyataannya padi di lumbung seperti tidak pernah berkurang meski setiap hari dimasak selama bertahun-tahun. Suatu hari, Tunjung Wulan, nama bidadari itu, ketika hendak bepergian, berpesan pada suaminya untuk tidak melihat tempat dan pelaratan dia masak. Rupanya pesan itu justru membuat penasaran sang suami, dan ketika sang isteri telah jauh, Joko Tarub atau Aryo Menak memeriksa seluruh tempat dan peralatan masak. Di sana ia melihat bahwa ternyata isterinya mempunyai kemampuan memasak satu butir beras cukup untuk memenuhi seluruh keluarga.

Kamanungsan, begitu istilah yang paling populer di Jawa, sehingga kemampuan memasak ajaib bidadari itu lenyap seketika. Maka gelisahlah Tunjung Wulan karena sudah tidak mungkin lagi menghemat padi di lumbung, dan selanjutnya ia memasak nasi seperti umumnya manusia biasa. Tidak sampai setahun, padi di lumbung pun makin menipis dan ketika sampai di lapisan terakhir, paling bawah, ia terkejut bukan kepalang karena ternyata di situlah ia menemukan pakaian bidadari yang dahulu menyebabkan ia tak bisa kembali ke Kahyangan. Tunjung Wulan pun lalu berpamitan karena itu dianggap sebagai garis pemisah antara manusia dan dewa untuk selanjutnya ia kembali ke Kahyangan. Tetapi, para dewa yang sudah lama berpisah dengannya tidak berkenan menerima kembali, dan seperti yang tersurat dalam Serat Pedhalangan Ringgit Purwa, bidadari itu lalu ditempatkan di laut selatan bergelar Nyi Roro Kidul.

Babad Nitik atau Serat Tjabolek menceritakan bahwa Raja Mataram, Sultan Agung, menjelang akhir hidupnya pernah mengadakan upacara penanaman padi dari bibit yang ia datangkan dari negeri Campa. Dalam upacara itu, Sultan Agung didampingi oleh Ratu Laut Selatan untuk secara bersama menanam jenis padi Campa (di Jawa lebih dikenal pari cempo) tersebut dan menganjurkan agar rakyat Mataram menanam dan melestarikannya. Hingga ada proyek intesifikasi pertanian Orde Baru, jenis padi itu di Jawa dianggap sebagai padi paling enak dan sangat banyak produksinya. Dalam serat itu pula disebutkan bahwa upacara penanaman padi tersebut dimaksudkan untuk memenuhi lumbung-lumbung padi seluruh Jawa; lumbung padi Mataram, seperti banyak disebut oleh sejarawan, menyebar hingga di Karawang, dekat Jakarta yang dimaksudkan sebagai logistik perang melawan kompeni Belanda di Batavia.

Dewi Sri ternyata tidak hanya berkaitan dengan dari mana (bibit) padi berasal-mula, tetapi juga berpaut dengan kesuburan. Di samping simbol padi, Dewi Sri juga simbol kesuburan tanaman-tanaman yang hingga sekarang ini sangat dikenal oleh masyarakat pedesaan di Nusantara; kepala, pisang, buah-buahan, ubi-ubian, dan sebangsanya. Mite Dewi Sri juga memperkenalkan berbagai hama pemangsa dan perusak tanaman seperti kera, tikus, walang, dan seterusnya. Mite itu juga meneguhkan kepercayaan petani bahwa untuk mencapai produksi tertentu dari seluruh olah pertanian haruslah selalu menghormatinya dengan berbagai cara dan sesaji, baik sebagai simbol padi maupun simbol kesuburan.

Kesuburan memang didambakan oleh penduduk bumi yang tidak hanya dikaitkan dengan jenis tanaman tertentu dan hama pemangsanya, tetapi juga menyangkut curah hujan. Dan dalam konteks yang terakhir itu, kesuburan tidak selalu berpaut dengan Dewi Sri, meski tetap disimbolisasi perempuan. Berbagai cerita menyatakan bahwa kekeringan yang berkepanjangan di suatu tempat tertentu membuat penderitaan bagi penduduknya sehingga terdorong untuk melakukan berbagai upaya mengatasinya. Nyanyian bersama untuk meminta hujan dari berbagai negeri, bangsa, dan etnis adalah juga mantra-mantra yang dipanjatkan ketika mereka dilanda kekeringan. Misalnya, sebuah pujian berbahasa Arab di kalangan muslim santri: Rabbana anzil alaina ma’an midrara dan seterusnya. Pujian ini sering kita dengar dari berbagai masjid di pedesaan Jawa khususnya menjelang shalat berjamaah (magrib dan isya’), saat-saat mereka dilanda kemarau panjang. Selain, dalam tradisi muslim santri pula, biasa dilakukan shalat bersama di lapangan dengan bacaan dan doa khusus yang dikenal sebagai shalat istisqa’ (harfiah: minta disiram).

Sebuah tradisi yang sangat luas di kalangan berbagai bangsa dalam mendambakan kesuburan itu adalah ritual dalam bentuk tari. Di Cina, misalnya, seperti dinyatakan Curt Sach (World History of the Dance, 1963), jauh sebelum tarikh Masehi, orang-orang Shaman telah menciptakan hujan melalui upacara berbentuk tari gembira. Sebuah tari, mirip dengan tari Itogapuk (Amazon) atau Tsalon (Rio Yayuan), yang mempersatukan gerak laki-laki dan perempuan, melingkari sebuah tanaman, saling menempelkan pinggul, dan akhirnya penari perempuan digendong untuk dibawa pergi. Dalam tari itu, kedua insan berbeda kelamin itu saling konsentrasi membuat dirinya menjadi kekuatan yang mampu menciptakan daya tumbuh bagi tanaman tadi. Tari ritual kesuburan, seperti dilukiskan Ben Suharto (Tayub, Pertunjukan dan Ritus Kesuburan, 1999), selalu berusaha mencapai sikap mistis tentang pengertian seksual dengan cara saling mendekatkan dua jenis seks atau dengan cara saling melingkari.

Ada kalanya yang dikelilingi para penari perempuan itu adalah tubuh laki-laki telanjang seperti pada lukisan batu di Cogul Spanyol, atau seperti ketika, dalam upacara ribuan tahun lalu, sembilan perempuan penggembala domba mengelilingi Krisna, atau seperti ketika sembilan Muses melingkari Dewa Appolo, atau seperti tari Indian Chaco. Ada juga yang lain. sejumlah penari perempuan, dalam upacara kesuburan, sambil memegang phallus (benda mirip kelamin laki-laki) menari melenggok, melingkar dan memukul-mukulkan phallus itu. Bahkan, konon, di Nuba (Afrika Timur Laut) atau di Altai (Turki) para penari perempuan, dalam ritual kesuburan pula, tidak hanya memegang phallus dan memukulkannya kepada sesama penari tetapi memasukkan benda itu ke dalam vaginanya masing-masing. Sangat mungkin kita menganggap semua tari dari berbagai belahan dunia itu porno, erotis, atau bahkan jorok dan tidak senonoh. Tetapi, bagaimana jika dalam kenyataannya semua itu hanya demi atau sebagai simbolisasi kesuburan, sesuatu kepolosan dan keluguan yang acapkali memancing salah tafsir.

Di kalangan masyarakat negeri ini, terutama di Jawa, kita sangat mengenal sejumlah tari yang biasanya dikaitkan dengan kesuburan. Tari Tayub, Gandrung, dan Gambyong, selain sering dikategori sebagai tari pergaulan, selalu disebut-sebut sebagai tari kesuburan bumi. Ketiga tari itu, di banyak tempat di pedesaan Jawa, memang hampir selalu dipertunjukkan dalam setiap Bersih Desa, Sedekah Bumi, atau Petik Laut, bahkan beberapa pengamat tari menyatakan bahwa tari-tari itu sendiri diciptakan sebagai simbol kesuburan. Baik Tayub, Gandrung, maupun Gambyong adalah tari berpasangan perempuan dan laki-laki dalam suatu arena tertentu (pertunjukan) yang diiringi dengan musik dan lagu (tembang).

Para penari ketiga kesenian itu – biasa disebut teledhek, waranggono, ronggeng, atau gandrung – pastilah perempuan yang terlatih, umumnya bertubuh langsing, berparas cantik, dan mempunyai suara merdu. Mereka menari berpasangan dengan laki-laki (dari kalangan penonton atau audien) mengikuti musik dan lagu yang dilantunkannya. Dalam tari berpasangan itu, mula-mula mereka berhadapan dengan jarak yang makin mendekat bertemu-muka (biasanya hingga berjarak 10 cm) mengesankan mau ciuman, lalu si laki-laki bergerak melingkar hingga persis lurus dengan posisi di belakang penari perempuan (penari laki-laki menghadap ke bagian belakang penari perempuan), dan setelah beberapa saat kemudian peneri laki-laki melingkar melalui sisi berikutnya ke arah berhadapan kembali. Ketika pada posisi di belakang penari perempuan, penari laki-laki, seperti ketika berhadapan muka, bergerak makin mendekat dengan posisi tegak dan pada saat posisi yang paling dekat (sekitar 10 cm) ia menggerak-gerakkan ke depan bagian pinggulnya berkali-kali bagaikan seorang yang sedang senggama; gerak tari yang terakhir ini juga sering terlihat ketika mereka pada posisi berhadapan.

Dengan demikian jelaslah bahwa tari kesuburan tidak tampak dengan penuangan tema dengan memperlihatkan cara menanam, merawat, dan memanen melainkan dengan penggambaran ke dalam hubungan seksual perempuan dan laki-laki. Akan tetapi justeru itulah yang menjadi persoalan di kemudian hari. Setelah masyarakat mengalami perubahan sangat mendasar dalam tataran nilai sebagai akibat masuknya agama-agama besar (samawi) dan modernitas yang gencar, gerak tari yang sebenarnya merupakan simbolisai kesuburan dalam konteks reproduksi tadi mendapat ancaman sangat serius bukan hanya dalam pengertian pengemasan ulang tetapi bahkan pemusnahan. Masyarakat yang tadinya tidak mempunyai pretensi negatif apa pun karena murni menganggap sebagai simbol kesuburan (dalam konteks ini bahkan mereka menganggap tari itu sebagai sakral), lalu secara sangat radikal, sebagian besar, menganggapnya sebagai porno, saru, tak senonoh, maksiat, perusak ahlak, bahkan, ini yang paling aneh, tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.

Ternyata tidak hanya itu. Meski di beberapa tempat seperti halnya di Banyuwangi tari tersebut masih dilaksanakan dalam ritual Bersih Desa atau Petik Laut, aura kesuburannya makin menghilang. Entah sejak kapan, baik Tayub, Gandrung, maupun Gambyong telah sejak lama kehilangan dimensi ritual kesuburannya, dan beralih menjadi seni pertunjukan yang sepenuhnya profan dan hanya mementingkan estetika dan etika. Pada masa penjajahan Belanda maupun Jepang, sebagaimana diungkap oleh banyak pengamat seni, ketiga kesenian rakyat tersebut bahkan seringkali dipakai untuk kepentingan politik kaum republik, demikian pula ketika perkelahian politik pada 50-an hingga pertengahan 60-an, ketiganya dimanfaatkan oleh sejumlah partai politik untuk memobilisasi massa demi kepentingan partainya masing-masing. Suatu fenomena yang sebenarnya juga dapat kita saksikan pada zaman Orde Baru, bahkan hingga sekarang.

Yang paling terlihat kini bahwa ketiga tari di atas bukan lagi menjadi simbol kesuburan, tetapi merupakan seni pertunjukan profan untuk memenuhi kebutuhan hiburan masyarakat sekitar atau para wisatawan (pariwisata). Oleh karena itu, komersialitasnya merupakan aspek yang paling penting dan selera penonton yang demikian dinamis menjadi faktor dominan perkembangannya. Tayub, Gandrung, maupun Gambyong seolah kini merupakan komoditas lain dari masyarakat, dimana ketiga kesenian itu beredar dan berkembang. Kenyataan yang terakhir ini sungguh tak bisa lepas dari peran birokrasi dan modernitas (termasuk media dan pasar) yang sejak pertengahan 70-an menjamah seluruh kesenian rakyat demi politik dan (sejak anjloknya BBM) pemenuhan devisa non-migas.

Tetapi peristiwa mengejutkan juga terdengar beberapa tahun lalu. Mbah Noto, wakil Bupati Tuban yang juga dedengkot Tayub, menceritakan kepada Srinth!l bahwa kekeringan dan mengamuknya hama di Tuban 1998-2001 sehingga nyaris tanpa panen padi dihubungkan dengan sebuah larangan pentas Tayub oleh birokrasi dan kaum agama (Islam) di daerah itu. Meski sulit dicari logikanya, masyarakat Tuban percaya bahwa malapetaka yang dialami seluruh petani Tuban saat itu disebabkan oleh kesalahan dan kekeliruan tidak mementaskan Tayub yang dipahami sebagai ritus kesuburan. “Dewi Sri mengamuk dan membiarkan hama-hama itu merajalela memangsa padi”, kata Bambang, petayub yang sangat dekat dengan Mbah Noto.

Dialektika Reproduksi

            Ketika masih dalam keswadayaannya yang relatif penuh (belum terjamah oleh proyek pertanian negara di zaman Orde Baru), para petani kita di banyak tempat di Jawa selalu memilih beberapa onggok padi (bergagang, bertangkai) yang dianggapnya paling pas (tua dan bagus) untuk dijadikan bibit pada musim tanam berikutnya. Dari onggokan tadi, sebagaimana yang terjadi di sebagian petani Jember dan Ponorogo (Jawa Timur), lalu diambil dua gephok untuk diikat sebagai simbol perempuan dan laki-laki atau Sri dan Sadono. Satu gephok diikat dengan menekuk daun-daunnya ke bawah sebagai simbol perempuan atau Sri, dan satu gephok lainnya diikat dengan membiarkan daun-daunnya tegak menjulur ke atas, sebagai simbol laki-laki atau Sadono. Kedua gephok padi berbentuk budaya tadi berikut onggokan lain yang diikat tidak dalam bentuk orang-orangan (sering disebut ikatan unthilan) tersebut lalu disimpan di tempat khusus (disertai upacara slametan) dan tidak akan digiling menjadi beras. Saat tiba menjelang musim tanam berikutnya, bibit tersebut dikeluarkan (juga melalui upacara slametan) untuk disemai di sawah. Begitulah mereka melakukan proses penanaman padi secara terus-menerus dan turun-menurun.

Padi, oleh petani kita, memang diperlakukan secara khusus, melebihi tanaman-tanaman lain yang juga mereka budidayakan di sawah atau di ladang. Kedua gephok padi yang telah dihias tersebut diimajinasi dan diperlakukan sebagai sepasang pengantin yang hendak memulai guliran reproduksi anak manusia. Bibit-bibit padi yang sudah tertanam di sawah juga memperoleh penghormatan dan perlakukan yang serius dari para petani. Menjelang penyemaian di tempat tertentu (di sawah), bulir-bulir bibit tadi mendapat iringan sesaji, minimal bubur merah-putih, dan mantra-mantra atau doa dalam upacara slametan yang khusus diadakan untuk itu.

Ada yang lebih spesifik seperti yang disaksikan oleh Philip van Akkeren (Dewi Sri dan Kristus, 1995) di Mojowarno, Jawa Timur dan James Danandjaja di Trunyan, Bali (Kebudayaan Petani Desa Trunyan, 1989). Di kedua daerah itu, bibit padi diambil melalui cara yang sangat hati-hati. Ketika padi di sawah telah tua dan hari yang menguntungkan untuk memanen telah dipilih, pemilik melaksanakan upacara methik dengan membawa persembahan-persembahan (bubur merah-putih di takir, cabe merah, kembang boreh, dan ayam ingkung) ke sawahnya dan meletakkan takir-takir itu di setiap pojok. Selesai meletakkan persembahan dan pembacaan mantra (sebagian dengan pembakaran kemenyan di atas dupa) dan doa, sang pemilik atau dukun/juru doa lalu memetik bulir-bulir padi yang paling bagus dan tua sebanyak dua genggam untuk diarak pulang ke rumah sang pemilik sawah sebagaimana layaknya arakan pengiring penganten. Sesampai di rumah pemilik, langsung diadakan slametan untuk menjamin keselamatan bulan madu dua genggam bulir padi tadi yang telah dihias bagaikan pengantin. Di Truyan, Bali, kedua genggam bulir padi tersebut dibentuk seperti boneka dengan berpakaian lengkap seperti layaknya mempelai pengantin. Kedua genggam bulir itu lalu disimpan di tempat tertentu yang terjaga dan terus-menerus di rawat sebagai ibu dan bapak padi.

Ketika batang-batang padi di sawah terlihat membengkak bagian atasnya, hal itu pertanda bahwa padi tersebut memasuki masa produksi yang lebih konkret, dikenal dengan sebutan meteng (hamil). Pada saat itulah para petani menyambutnya dengan upacara dengan mempersembahkan sesaji berupa makanan tertentu (umumnya bubur merah-putih) atau mengadakan slametan di rumah pemilik sawah. Persis seperti mereka menyikapi anak atau keluarga mereka yang sedang hasil 7 bulan (nujuhbulan atau methoni) yang diupacarai dalam bentuk yang berbeda di suatu tempat dengan di tempat lain, atau di suatu komunitas dengan di komunitas yang lain. Pada masyarakat santri di Jawa, misalnya, upacara methoni dilangsungkan dengan kenduri bersama dan pembacaan surat Yusuf dan Maryam dari al-Qur’an secara kolektif, minimal tiga kali. Sedangkan di kalangan abangan Jawa, methoni dilaksanakan dengan cara menyiram kedua suami-isteri dengan air tujuh sumur yang dicampur dengan bunga-bunga dan mantra-mantra. Sebelum siraman (biasanya diselenggarakan pada malam hari), kedua suami-isteri disuruh lari berkejaran mengilingi rumah tempat upacara itu dilangsungkan sebanyak tiga atau tujuh kali dan para undangan yang hadir meneriakinya sambil bersorak gembira. Ada kalanya yang tidak memakai memutar rumah tetapi dengan mengganti 7 kali pakaian kedua suami-isteri lalu si suami memangku isteri.

Ada suatu yang sama dalam methoni baik di kalangan komunitas santri maupun dalam methoni di kalangan abangan, yaitu pemajangan ukiran dua sosok laki-laki dan perempuan yang terbuat dari dua kelapa gading sangat muda – di Jawa disebut cengkir – yang diletakkan di atas bokor. Bedanya, jika dua sosok yang terukir tadi di kalangan abangan dibayangkan sebagai Sri dan Sadono, maka dua sosok itu di kalangan santri diimajinasi sebagai Nabi Yusuf dan Siti Maryam; Yusuf oleh setiap muslim santri dibayangkan sangat elok rupa atau ganteng, demikian pula Maryam diimajinasi sangat cantik-jelita. Pemajangan kedua boneka cengkir itu dimaksudkan agar anak yang sedang dikandung (di-pethoni) kelak lahir sebagai anak yang persis, paling tidak seperti Sri atau Maryam jika perempuan dan Sadono atau Yusuf jika laki-laki.

Sangat jelas bahwa baik yang di kalangan santri maupun yang di kalangan abangan, tradisi methoni mempunyai akar yang sama dan karena itu secara subtansial tidak berbeda. Penggantian Sri dan Sadono dengan Yusuf dan Maryam hanya karena pengalihan tokoh ideal yang berbeda tetapi tetap pada titik kepercayaan bahwa orang boleh berharap, dan mewujudkan harapan itu dalam bentuk upacara, agar keturunan mereka ideal seperti tokoh-tokoh yang mereka kagumi; dalam Islam pemberian nama anak juga mengikuti tradisi ini agar dapat sesuai dengan nama yang disandangnya. Yusuf dan Maryam, sebagaimana dilukiskan amat jelas dalam al-Qur’an, adalah sosok yang bukan saja tampan dan jelita melainkan juga sangat baik-budi dan teguh pendirian. Bahkan ada anjuran khusus bagi mereka yang sedang hamil dan suaminya agar selalu membaca surat Yusuf dan Maryam sepanjang kehamilan sebagai upaya tafaul dan tabaruk.

Ada satu kenyataan yang lebih memperlihatkan kesesuaian mite Sri-Sadono dengan reproduksi manusia seperti dilihat van Akkeren di beberapa tempat di Jawa Timur. Akkeren mengatakan:

“Kita melihat Sri dan Sadono terutama dalam bentuk dua boneka di depan ranjang upacara di dalam kerobongan, tempat keramat di dalam rumah Jawa, di mana upacara perkawinan diselenggarakan. Tetapi kesuburan perkawinan manusia bukan hanya saja berkaitan dengan penyatuan antara kedua tokoh mistis ini; ia juga penting bagi kehidupan tanaman padi. Sosok pasangan mistis yang sama serempak berkaitan, baik dengan kesuburan manusia maupun beras, bagi kesejahteraan masyarakat dan alam.”

Ternyata sangat tampak, dalam pandangan dan imajinasi masyarakat Indonesia, begitu tak berbedanya proses reproduksi  padi dan manusia. Bahkan di banyak tempat dipercaya jika bulir-bulir padi bisa menjadi kosong tak berisi akibat tidak dipenuhinya aturan-aturan yang dituntut oleh Dewi Sri, maka anak-anak yang baru lahir bisa terkena penyakit sarap atau sawan karena kelalaian yang sama. Jika ketiadaan panen lantaran bulir-bulir padi tak berisi diatasi dengan upacara dan sesaji tertentu (Bersih Desa, misalnya), maka malapetaka berupa penyakit kolektif yang menimpa anak-anak manusia juga dihadapi dan diselesaikan dengan cara yang sama. Bukankah Bersih Desa juga dimaksudkan untuk tolak-balak dan pengusir pageblug, di samping untuk menyongsong tanam padi dan kesuburan.  

Satu sisi penting yang mesti dilihat dalam mite Dewi Sri, padi, dan kesuburan adalah proses reproduksi yang mengindahkan keseimbangan dan keteraturan saling menguntungkan baik yang menyangkut hubungan sesama manusia, antar jenis kelamin, maupun hubungannya dengan alam. Makrokosmos dan mikrokosmos bagi masyarakat kita (terutama yang dikategori tradisional), seperti yang sering diungkap para peneliti, merupakan jagad yang harus selalu dijaga keseimbangannya, karena melalaikan itu berarti ancaman serius bukan saja bagi kehidupan dan proses dinamikanya tetapi juga bagi kelangsungan jagad itu sendiri. Pelestarian reproduksi padi yang seimbang dan teratur atas “naungan” Dewi Sri dipahami akan menjamin terwujudnya kesejahteraan dan kebahagiaan hidup bersama di muka bumi, sebagaimana pelestarian reproduksi manusia yang menjaga kesenambungan  kehidupan dan menentukan kelangsungan alam nyata.

Perempuan sebagai Hamparan Tanah

Padi, bagi masyarakat kita, ternyata bukan sembarang tanaman. Ia bukan hanya melebihi tanaman lain, tetapi mempunyai kesejajaran dengan manusia. Seperti halnya manusia, padi dipandang berasal dari alam dewata, langit, surga, atau Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, padi dan manusia mempunyai siklus hidup yang sama. Suatu kesamaan,  kesejajaran, hubungan erat, dan relasi mistis yang justeru mengantarkan masyarakat kita menyatu dan simboisis dengan alam. Beras, bagi mereka, tidak hanya dilihat dari sudut ekonomi dan hanya untuk memenuhi kebutuhan kalori, vitamin, protein, dan sebagainya, melainkan merupakan buah perkawinan Ilahi, tanaman firdaus, dan memiliki tenaga misterius yang menguatkan lahir-batin. Sejumlah mite menyatakan bahwa beras adalah makanan Ilahi yang akan menimbulkan kekuatan, keberdayaan, dan mencegah kemalasan. Kulitnya tak akan lapuk, tak menjadi kotor, dan bulir-bulirnya melantunkan musik saat tertiup angin, tanpa harus tersentuh oleh manusia.

Dan buah perkawinan Ilahi itu hanya mungkin menjadi padi ketika ia telah menyatu dengan tanah. Ibu padi di alam dewata yang mati karena dicintai Bethara Guru sebagaimana diceritakan di atas tak mungkin menjadi padi apabila tak disatukan (dikubur) di bumi. Itulah sebabnya, sebagian masyarakat kita menganggap Dewi Sri, selain sebagai simbol padi dan kesuburan, juga  sebagai Dewi tanah. Perkawinan antara Sri dan Sadono yang melahirkan padi, paling tidak oleh orang Jawa, Bali, dan Sasak dianggap bukanlah perkawinan biasa tetapi mempunyai latarbelakang mistis, tradisi hieros gamos, atau perkawainan antara surga/langit dan bumi.

Dengan demikian, wajarlah jika Dewsi Sri dianggap sebagai bumi atau tanah. Sebuah pandangan yang sangat umum terjadi di banayak suku bangsa. Bukankah ketika peri Dafne, seorang putri cantik dalam mitologi Yunani, dikejar-kejar Apolo dan terpojok lalu berdoa: “Oh Dewa-dewa, oh, Bunda Bumi” yang akhirnya, setelah doa itu, ia menjadi pohon “salam”. Akan tetapi, justeru di sinilah masalahnya bermula. Sebagai hamparan tanah, seolah Dewi Sri berada pada posisi bawah, relatif pasif, dan hanya menanti kapan disentuh oleh laki-laki sehingga menjadi produktif. Atharvaveda, sebuah naskah lama, menyatakan: “Perempuan datang sebagai sebidang lahan hidup; taburkanlah benih ke dalamnya, oh para lelaki.” Dalam kenyataan yang kita saksikan, dalam setiap petak sawah atau bidang lahan, memang para lelakilah yang melakukan pencangkulan dan pembajakan (meluku dan menggaru), suatu tindakan yang mutlak bagi reproduksi, serta pengangkutan padi hingga sampai di lumbung.

Sangat mungkin bahwa hal itu merupakan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan, karena tokh, dalam tradisi petani, perempuanlah yang melakukan penanaman, penyiangan,  pemanenan, hingga penyiapan menjadi makanan untuk hidup. Salah satu mite menuturkan bahwa mula-mula Dewi Sri sebagai ibu padi jatuh ke dan menyatu dengan bumi (ia telah menjadi bumi). Lalu ia bertemu dengan Wisnu (Sadono) yang lahir kembali dalam air (menjadi air) dan melangsungkan perkawinan, sehingga padi menjadi subur.

Tetapi pada saat yang sama, Dewi Sri, juga sebagai hamparan tanah, mempunyai otoritas tersendiri dan lepas dari Sadono terutama dalam mengawasi, mengatur, dan mengelola bibit, di samping kesuburan. Para petani, seperti dikisahkan di atas, tampak demikian bergantung pada Dewi Sri dalam menjaga agar bulir-bulir padi yang mereka tanam tak menjadi kosong atau diserang hama. Ketertiban dan keteraturan mereka memberikan sesaji dan mantra serta melakukan berbagai upacara yang sangat rumit memperlihatkan ketergantungan itu, karena hanya Dewi Sri lah, dalam pandangan petani, yang menuntut berbagai persembahan, bukan Sadono. Justeru dalam kondisi feminitasnya, Dewi Sri mampu memelihara dan menggerakkan kekuatan untuk tumbuh dan berkembang-biak.

           

Perempuan sebagai Ibu Pertiwi

            Sudah pasti kita sangat familier dengan sebutan ibu pertiwi, bukan hanya karena ia sering disebut dalam nyanyian/lagu dan percakapan sehari-hari, tetapi sebutan itu sendiri telah menjadi bagian dari ulah politis kita dalam membangkitkan semangat juang dan kepahlawanan demi membela bangsa dan negara. Bukankah setiap kita hendak mengenang jasa seorang tokoh – atau ditokohkan – yang telah meninggal, selalu kita katakan: “ia telah kembali ke pangkuan ibu pertiwi.” Ibu pertiwi, secara politis, merupakan pusat pengabdian kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekaligus.

Ibu pertiwi adalah sebutan lain bagi bumi yang berarti sama dengan Dewi Sri. Bedanya, jika Dewi Sri mendapatkan penghormatan secara tulus dari para pendukungnya (para petani), diposisikan secara proporsional, diakui otoritas-otoritasnya, dan dipenuhi kehendaknya, maka ibu pertiwi yang hanya populer di luar petani, tampak hanya menjadi kembang lambe, kata orang Jawa, atau dikerangkeng dalam pandangan ambivalen. Secara performance, oral, dan sekilas tampak lahir, ibu pertiwi memang dihormati, ditokohkan, simbol pengabdian dan dedikasi, dan dinyanyikan dalam upacara-upacara penting. Tetapi, dalam kenyataan  paling konkret, baik dalam kehidupan politik, ekonomi, maupun budaya, dalam kehidupan individu maupun kolektif, ibu pertiwi sebagai fenomena perempuan, kurang memperoleh proporsi yang memadai, sejawarnya. Kita pasti ingat, sebagai contoh, bagaimana negara memandang dan menyikapi perempuan dalam bentuk pemberian ruang publik yang sangat terkesan sebagai “pelipur lara”.

Mungkin karena rasionalitas pendukung Dewi Sri dan pendukung ibu pertiwi sangat berbeda. Penghormatan, kepatuhan, dan pengakuan otoritas Dewi Sri oleh pendukungnya bisa jadi karena pandangan-pandangan mistis yang memang masih kuat di kalangan mereka, sementara ambivalensi pendukung ibu pertiwi justeru karena rasionalitas mereka yang terbiasa hidup bermain politis dalam segenap aspek kehidupan. Tetapi, tidak mungkin kah elite politik, ekonomi, budaya, dan kaum terpelajar kota, yang kebanyakan laki-laki, sebagai pendukung ibu periwi, terbuka dan tidak terjebak dalam stereotip maskulinitas-feminitas yang kaku sehingga peran-peran sosial dan kultural apa pun tanpa harus menimbang kategori seksual.

Jika para petani percaya bahwa tanpa Dewi Sri bulir-bulir padi akan kosong, tanah akan kering kerontang, dan proses reproduksi tak berjalan sehingga kelangsungan hidup dan kesejahteraannya mustahil bisa diterjadi, maka mengapa roda dan gerak sosial tertentu masih kita yakini tidak mungkin terjadi atau berjalan kurang dinamis apabila hanya diserah kan pada perempuan dan kurang sentuhan laki-laki. Mengapa?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Beranda  |  Kategory: Edisi 07 , Uncategorized | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia