Teks Kartini, Teks Lyan

21 - May - 2006 | Akhol Firdaus | No Comments »

Kartini adalah sebuah cerita tentang lyan. Juga keterbatasan. Paling tidak, keterbatasan untuk berkata ‘tidak’ terhadap semua identitas lyan yang dipikulnya.

Sejarah memang tidak pernah berterus terang tentang Kartini, tetapi demikianlah Kartini sendiri mendifinisikan lyan-nya. Lahir di balik tebalnya dinding Asisten Wedana onder-distrik Mayong, Kabupaten Jepara, Kartini sepenuhnya memerankan lyannya dalam gedung Wedana tersebut. Ini bukan soal Kartini adalah perempuan. Meski pada zamannya, perempuan dengan mudah keluar masuk gedung Wedana, untuk diperselir pejabat Wedana. Status Kartini sebagai lyan di Kewedanaan Mayong, justru ditentukan oleh garis nasabnya sebagai anak seorang selir yang tidak memiliki trah aristokrat.

Sejak kelahirannya, 1 April 1879, Kartini sudah terbiasa dengan status kelas kedua, baik sebagai perempuan maupun sebagai anak seorang selir adipati. Gedung Wedana yang distrukturisasi berdasarkan status istri tua dan selir adipati, juga merupakan episode lain dari cerita tentang lyan Kartini.

Sejak lahir, bayi Kartini hanya layak menempati rumah luar yang dibedakan dari gedung utama. Karenanya, Kartini adalah bocah perempuan yang mengerti makna diskriminasi, demikian kurang lebih penegasan Pramoedya Ananta Toer. Ia tahu bagaimana rasanya hidup di bawah atap ‘rumah luar’. Ia juga tahu mengapa ibunya tidak layak menempati gedung utama Asisten Wedana.

Tampaknya, sejarah memiliki cara sendiri untuk menempatkan Kartini berada dalam situasi lyan. Di usia belia, Kartini sudah masuk sekolah. Meski bagi banyak perempuan, pergi sekolah adalah ‘pelanggaran besar terhadap adat kebiasaan,’[1] tetapi Kartini merasakan berkah tersebut. Privelese ini ia dapatkan bukan karena ia berkemauan, tetapi karena ia anak seorang bupati. Dalam salah satu suratnya kepada Estelle Zeehandelaar, Kartini mengamini, bahwa ‘para bupati memberikan atau telah memberikan pendidikan yang sama sebagai kami terima…’[2]

Privelese inilah yang menghantar Kartini sampai di pelataran Sekolah Rendah Belanda, satu-satunya sekolah yang ada di Jepara pada masa itu. Tetapi justru di sinilah Kartini kembali menemukan dirinya sebagai lyan, setidaknya bagi sebagian besar teman-temanya yang berkulit putih.

Dalam teksnya sendiri, ketika bercerita tentang pengalamannya di Sekolah Rendah Belanda, Kartini selalu mempersepsi dirinya sendiri sebagai perempuan Jawa yang berbeda dengan teman-temannya dari Eropa. Sebuah surat yang ditulisnya untuk Estelle Zeehandelaar cukup merepresentasi hal ini:

“…”Ayolah Lesty, berceritalah, atau membacalah buat kami,” rayuan seorang gadis coklat, yang bukan hanya karena warna kulitnya, tetapi juga karena pakaiannya menunjukkan, anak Pribumi. Seorang gadis putih yang besar, yang sedang bersandar pada batang pohon serta membaca buku dengan rajinnya, mengangkat pandangannya, dan menjawab: “Ah tidak, aku harus meneruskan pelajaran bahasa Prancis ini.”

“…Tapi coba kau katakan, Ni, kau tak pernah ceritakan padaku, kau mau jadi apa kelak?”

Si Jawa itu menggelengkan kepala dan menjawab pendek: “Tidak tahu”.[3] [CM: Penulis]

Tafsir Pramoedya Ananta Toer sepertinya tepat ketika menegaskan Kartini sebagai gadis yang sangat memahami makna diskriminasi. Karena pemahaman inilah, Kartini menginternalisasi sendiri semua identitas lyan-nya menjadi kesadaran semua teks yang digoreskannya.

Identifikasi Kartini tentang dirinya sendiri, seperti tampak dalam teks di atas, menegaskan bagaimana pengalaman hidup sebagai lyan diinternalisasi sendiri menjadi kesadaran Kartini. Identifikasi ini pula yang menegaskan mengapa Kartini merepresentasikan dirinya sendiri berbeda dengan gadis-gadis Eropa yang ‘putih besar’. Meski begitu, bukan teks deferensiasi rasial ini yang menyebabkan surat Kartini tersebut penting dikaji, tetapi bagaimana cara Kartini mengiyakan semua identifikasi yang membedakan dirinya dengan teman-temannya yang berkulit putih. Hal ini selanjutnya menjelaskan bagaimana kesadaran perempuan elit pribumi diciptakan oleh kolonialisme, dan bagaimana pula seorang elit pribumi memainkan strategi pembedaan identitas dengan mayoritas.

Mencari Transendensi

Dalam himpitan diskriminasi, seseorang masih bisa menemui diri-transendennya.[4] Dan Kartini sendiri adalah cerita tentang pencarian diri-transenden tersebut. Hidup di gedung Kewedanaan, memang cukup menjadikan setiap inci tubuh dan mental Kartini diterjemahkan secara bebas, dikapling-kapling berdasarkan nalar feodalisme dan laki-laki.[5] Seseorang bisa gila dalam situasi seperti ini, persis seperti yang dirasakan Kartini sendiri. Tidak mengherankan, ‘dalam kepala dan hatinya yang gila itu, berhuru hara ratusan pikiran yang memberontak’.[6]

Apa boleh buat, dinding Kewedanaan itu terlalu kokoh untuk diatasi. Pemberontakan ini pun gagal menjadi sesuatu yang garang. Kartini mengakui keterbatasannya. Justru karena itu, ia butuh ruang sublimasi. Bagaimanapun, pikiran-pikiran yang memberontak, tetap harus menemukan tabungnya.

Masa pingitan yang panjang memaksa Kartini untuk menyalurkan energi pemberontakannya, dengan membaca dan menulis. Ia membaca apa saja yang terlintas di depan matanya. Ia menelan buku ‘dengan lahapnya, mentah ataupun matang,’ demikian Kartini menggambarkan usahanya. Di sebuah lembar suratnya, ia bercerita:

“…di mana adat dan kebiasaan negerinya tak memberinya tempat pelarian di dalam tangan orang tua, di dalam hati orang tua, terhadap jiwanya yang beduka cita menderita itu, ia dapat hiburan pada sahabat-sahabatnya yang pendiam dan bisu: ‘buku’.” [7]

Di setiap lembar buku, Kartini mensublimasi energi perlawanannya. Melalui pengetahuan Kartini merajut diri-transendennya. Kartini menemukan dirinya yang lain, selain diri yang mendiami ‘kotak’ pingitan. Buku menjadi medan baru baginya, tempat semua imaji, kecerdasan dan fantasinya dikembarakan. Dari bilik pingitan, ia ‘masuk ke dalam dunia yang menciptakan kecerdasan melalui realitas dan fantasi,’ tulisnya.

Pengetahuan adalah ibu bagi Kartini. Pengetahuan tidak hanya membantu Kartini mendefinisikan diri-transendennya, tetapi juga membantu mendefinisikan semua realitas yang berhasil ia candra. Tetapi di sinilah pertaruhannya. Di balik imajinasi yang ia peroleh dari buku, di mata Kartini realitas menjadi sesuatu yang ‘menjijikkan’. Maka membaca benar-benar menjadi pelarian. Membaca sama artinya dengan mengembarakan fantasi, karena ‘tak perlu ia cari-cari di dalam buku, kalau hanya hendak mengetahui hal-hal yang menjijikkan dan kotor; kehidupan yang nyata ini sudah penuh dengannya…’

Dengan begini, Kartini akan mudah tergoda mengutuki realitas yang dipijakinya. Mendiami ruang ‘menjijikkan’ di satu sisi, dan memfantasikan keadaban pada saat yang bersamaan, sudah cukup alasan bagi Kartini untuk selalu membandingkan keadaban dan ketidakberadaban. Suratnya kepada Nyonya Abendanon menceritakah hal ini.

“Mengapakah kami perlu tinggal untuk sementara waktu di Eropa? Ialah untu membebaskan diri kami dari pengaruh-pengaruh mengganggu yang diberikan oleh pendidikan Pribumi, yang tidak dapat kami hindarkan ini!

Orang-orang Eropa yang paling asingpun, sekalipun sebanyak satu batalyon,…tak gentar kami menemuinya; terhadap seorang Jawa yang tak kami kenal, seorang saja, larilah kami bersembunyi seperti siput di dalam kepompong kami.”[8] [CM, Penulis]

Demikianlah kurang lebih cara pengetahuan mengajari Kartini untuk membedakan yang Eropa dan yang pribumi, termasuk perbedaan antara keadaban dan ketidakberadaban. Melalui buku, Kartini mengetahui soal pribumi dan ketidakberadaban. Melalui buku pula Kartini memfantasikan Eropa dan keadaban. Dua kutub yang didefinisikan secara diametral oleh pengetahuan, termasuk oleh Kartini.

Teks di atas sekaligus menegaskan bahwa Kartini adalah semangat zamannya. Semangat yang mewakili bagaimana seorang aristokrat mempersepsi Eropa, diri, dan pribumi. Diri seorang aristokrat tidak pernah bisa menjadi diri Eropa, tetapi diri yang sama juga tidak pernah benar-benar menjadi pribumi. Kartini seperti berada dalam situasi trans-posisi. Menjadi Eropa, ia tidak bisa. Menjadi pribumi pun, ia terlanjur tidak memiliki epistema yang sama dengan kebanyakan perempuan pribumi.

Dalam situasi trans-posisi seperti ini, pemberontakan Kartini seperti sedang melawan entah. Terhadap aristokrasi, ia pun melakukan pembelaan-pembelaan etis, sebagaimana tampak pada pembelaan etis yang dilakukan terhadap ayahnya. Atas nama cinta, Kartini tidak sepenuhnya emoh terhadap aristokrasi. Kartini memang menyaksikan banyak ketidak-laziman dalam gedung Kewedanaan, tapi bukan pada diri ayahnya. Kartini memang mencintai kebebasannya, dan terpanggil untuk mengabdikan hidupnya pada perempuan-perempuan pribumi yang terbelakang, tetapi bila ayahnya melarang, segeralah Kartini ‘akan terima larangan itu dengan tawakal!’[9] Bila separuh hidup Kartini berada di bawah tatapan ayahnya, maka separuh hidup ini pula Kartini sedang menunda perlawanannya.

Terhadap Eropa dan penjajahan? Pandangan Kartini bahkan kabur antara Eropa sebagai penjajah, dan Eropa sebagai berkah pengetahuan. Kartini memang mencandra sekian ketimpangan yang harus dipikul oleh pribumi, tetapi dari semua teks yang ditulisnya, tidak ada yang bisa memastikan bahwa Kartini mengetahui kepada siapa ketimpangan tersebut harus dialamatkan.

Salah satu suratnya kepada Estelle Zeehandellar, Kartini mengisahkan, betapa tragis nasib yang dialami pribumi. Entah dari mana Kartini mengetahui, bila di bumi Jawa atau di Hindia masa itu, hanya ada 20.000 bidan, dan oleh karena itu tiap tahun ada 30.000 bayi yang mati sia-sia akibat minimnya pengobatan.[10] Kartini juga mengetahui, betapa masyarakat pribumi selalu diancam kelaparan, karena kekeringan panjang di musim kemarau. Sementara di musim hujan, masyarakat juga harus menghadapi wabah kolera akibat banjir.[11] Menghadapi situasi seperti ini, Kartini juga tidak pernah memberi tahu, siapa yang harus bertanggung jawab atas petaka tersebut. Dan inilah alasan mengapa, teks Kartini tidak pernah mempersoalkan Eropa dan penjajahan sebagai muasal petaka yang dihadapi pribumi.

Kartini tidak pernah mempersoalkan Belanda, sebagaimana Kartini tidak pernah mempersoalkan ayahnya. Mengetahui sekian petaka yang dihadapi pribumi, tentu saja patriotisme Kartini bangkit. Tetapi apa boleh buat, sang ayah melarangnya untuk berbuat sesuatu, dan Kartini pun akhirnya menerima ‘dengan tawakal’. Kartini juga, mungkin saja, tidak mengetahui makna penjajahan, sebab dalam teksnya yang lain, ia begitu yakin, bahwa ‘Eropa pasti akan ajari kami untuk jadi bebas sesungguhnya.’[12] Dengan begitu, dalam pikiran Kartini, petaka pribumi, tidak pernah menjadi bagian dari kesalahan Eropa.

Melalui keyakinan ini, segeralah tampak bahwa Kartini sebenarnya sedang melawan imanensinya sendiri. Sebuah sikap yang khas perempuan aristokrat. Bukankah sikap ini pula yang pernah melatari Simone deBeauvoir menuliskan karya adi-luhungnya, The Second Sex. Semua konseptualisasi deBeauvoir tentang diri-transenden perempuan, lahir dalam situasi ketika ia menolak definisi-definisi aristokrat-borjuis yang diberikan kepadanya. Di ruang aristokrat-borjuis inilah, deBeauvoir merasakan dirinya didefinisikan secara ‘brutal’ menjadi lyan.[13] Hal ini pula senyatanya yang dirasakan oleh Kartini. Di level pengalaman hidup di ruang aristokrasi ini, Kartini semisal dengan deBeauvoir. Meskipun pengalaman keduanya, sebagai perempuan kulit putih dan perempuan pribumi, selalu bisa ditarik pembedaan yang tegas.    

Pengalaman hidup di ruang aristokrasi, menghantar deBeauvoir untuk mempersoalkan semua imanensi yang diciptakan untuk perempuan. Bagi deBeauvoir, menjadi pingitan, istri, ibu, menjadi pelacur sekalipun, perempuan tetap mendiami medan imanensi yang diciptakan oleh laki-laki.[14] Kartini pun berpikiran demikian. Perempuan pribumi di mata Kartini, adalah perempuan yang menerima saja semua imanensi yang diciptakan untuknya. Salah satu suratnya kepada Nyonya Abendanon menggambarkan pikiran tersebut.

“Seorang gadis Jawa adalah sebutir permata, bila ia pendiam, tak bergerak-gerak seperti boneka kayu; bicara hanya bila benar-benar perlu dengan suara berbisik, sampai semut pun tak sanggup mendengarnya; berjalan setindak demi setindak seperti siput; tertawa, harus tanpa suara tanpa membuka bibir…”[15]

Pikiran yang sama juga bisa dijumpai dalam sebuah surat kepada Estelle Zeehandelaar.

“Duh, kau akan menggigil, kalau ada di tengah-tengah keluarga Pribumi yang terkemuka. Bicara dengan atasan haruslah sedemikian pelan-pelan, hanya orang di dekatnya yang dengar. Kalau seorang wanita muda tertawa o-heo, tak boleh dia buka mulutnya.”[16][CM, Penulis]

Kartini mendefinisikan perempuan Jawa, berdasarkan pengalamannya. Meskipun begitu, bukan definisi ini yang penting bagi seorang eksistensialis, seperti layaknya deBeauvoir dan Kartini. Keberhasilan mendefinisikan imanensi seperti tampak pada teks di atas, hanyalah syarat untuk penelusuran status diri-transenden. deBeauvoir menegaskan diri-transendennya dengan cara melakukan penolakan terhadap semua institusi laki-laki. Dan di titik inilah Kartini berbeda dengan deBeauvoir. Kartini memilih tinggal di dalam institusi laki-laki, sambil melabuhkan semua fantasinya tentang keadaban dan pengetahuan Eropa.

Dengan begini, Kartini menjadi perempuan Jawa yang tahu diri. Keterbatasannya mengatasi angkuhnya dinding aristokrasi, meyakinkannya bahwa jalan transendensi dapat ditempuh dengan mengakuisisi kesadaran Eropa. Kartini yakin bahwa ‘hanya dengan pengetahuan…Bahasa Belanda, untuk sementara lapisan atas masyarakat Pribumi dapat dibawa ke arah kecerdasan, ke arah kebebasan jiwa!’ Keyakinan seperti inilah yang meneguhkan eksistensi seorang Kartini.

Bukan Subaltern

Seperti katarsis, Kartini mengakuisisi kesadaran Eropa untuk mengatasi ketidakbermaknaan hidup dalam sekapan aristokrasi. Pencarian diri-transenden itupun kemudian menemukan pelabuhannya pada apa yang ia sebut sebagai ‘kecerdasan’ dan ‘kebebasan jiwa’.

Tidak pernah salah bila eksistensi Kartini, kemudian, ditentukan oleh seberapa banyak buku yang berhasil ia baca. Kecintaan Kartini ‘pada pustaka telah menjadi candu’.[17] Korespondensi yang dilakukan dengan teman-temannya di Eropa, telah membuka mata Kartini tentang keadaban, demokrasi, dan kesetaraan. Buku-buku yang dikirim oleh teman-temannya di Eropa inilah yang membuat Kartini ‘lupa pada kehidupan yang menjengkelkan ini.’

Buku bukan hanya pelarian, tetapi juga katarsis. Semakin dalam Kartini memfantasikan keadaban, demokrasi, dan kesetaraan, semakin mapan pula ia berdiri pada situasi trans-posisi. Hidup Kartini tak hanya berisi ketidakbermaknaan, tetapi juga obsesi tentang ‘kebebasan jiwa’. Di persimpangan realitas dan fantasi inilah, Kartini menemukan dirinya. Semua ketidakbermaknaan dirinya menjadi terdefinisikan, di saat ia memfantasikan adanya keadaban, demokrasi, dan kesetaraan.

Di ruang Kewedanaan dan Sekolah Rendah Belanda, Kartini bisa saja ‘tawakal’ memerankan diri sebagai lyan. Tetapi ini tidak berlaku di ruang pengetahuan dan kesadaran yang ia regulasi sendiri secara otonom. Kartini kemudian benar-benar menemukan identitas dirinya di antara retakan kesadarannya sebagai kelas baru, perempuan pribumi yang terpelajar.

Identitas Kartini dipunguti sendiri dari sekian banyak strategi pembedaan.[18] Identitas yang ia warisi secara determinan, harus berbeda dengan identitas yang ia kreasi sendiri dengan bantuan pengetahuan kolonial. Inilah alasan penting mengapa seorang elit pribumi, semisal Kartini, memang harus bersenyawa dengan kesadaran Eropa. Persekutuan kesadaran ini penting untuk menunda identitasnya sebagai lyan. 

Persekutuan kesadaran model demikian dapat membiaskan persepsi-persepsi Kartini terhadap semua realitas yang berhasil ia candra. Ketika ia mendefinisikan perempuan pribumi seperti ‘sebutir permata’ atau ‘boneka kayu’, misalnya, maka besar kemungkinan identifikasi ini adalah bias dari persekutuan kesadaran Kartini dengan pengetahuan Eropa.

Perempuan Pribumi pada masa Kartini hidup adalah perempuan yang bahkan tidak sempat menjadi ‘sebutir permata’ atau ‘boneka kayu’. Mengapa? Perempuan pribumi pada masa Kartini hidup adalah situs resmi tentang bagaimana energi manusia bisa diperas sampai pada batas nadirnya. Di tengah lilitan tanam paksa yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial pada tahun 1870-1900, perempuan pribumi adalah benteng terakhir bagaimana seseorang harus menyelamatkan nyawanya di tengah lilitan represi kerja paksa. Dalam situasi seperti ini, ratusan ribu bahkan jutaan perempuan pribumi, mungkin tidak sempat membayangkan, apalagi menjadi sebutir permata.

Bila demikian, perempuan pribumi yang ditunjuk oleh Kartini, pastilah perempuan aristokrat yang memang dijadikan pajangan di dinding-dinding Kewadanaan, sebagaimana ia pernah memerankannya. Dengan identifikasi seperi ini, Kartini tidak hanya sedang menegaskan bahwa dirinya memang tidak mendiami epistema yang sama dengan mayoritas perempuan. Lebih dari sekadar perbedaan epistema, di balik identifikasi tersebut, Kartini sedang menstratifikasi identitasnya sendiri, yang beranjak dari sekadar ‘sebutir permata’ karena persenyawaannya dengan kesadaran Eropa. Mungkin, tiadanya epistema perempuan pribumi ini bisa menjadi berkah, sekaligus masalah bagi Kartini. Masalah yang paling verbal, tampak pada kegagalan mencari muasal kondisi ketakberadaban yang ia sebut secara berulang-ulang dalam teksnya.

Berkahnya, Kartini menempati kesadaran dan kelas lain, yang membedakan dirinya dengan mayoritas perempuan pribumi. Tidak sia-sia Kartini bersenyawa dengan kesadaran Eropa, karena cara inilah yang terbukti bisa menghantar Kartini menemukan posisi bicara atas nama dirinya sendiri. Kesadaran Eropa yang difantasikan, memungkinkan Kartini untuk menemukan bahasa konseptual, di tengah-tengah mayoritas perempuan pribumi yang terbungkam.[19] Tetapi justru karena posisi ini, identitas Kartini sepenuhnya tergantung pada medan discursive yang diciptakan oleh kolonialisme.[20] Dan di dalam posisi seperti inilah, Kartini hanya sedang melanjutkan pewacanaan yang direproduksi oleh kolonialisme dan tidak sedang merepresentasikan suara mayoritas perempuan pribumi sebagai subaltern.

Penulis adalah Feminolog, Pemrakarsa Lembaga Pinggir Indonesia.


[1] Surat Kartini, Jepara 25 Mei 1899 kepada Estelle Zeehandelaar, seperti dikutip oleh Pramoedya Ananta Toer dalam Panggil Aku Kartini Saja (Hasta Mitra, 1997), h. 39  

[2] Surat Kartini, Jepara 23 Agustus 1900 kepada Estelle Zeehandelaar

[3] Surat Kartini, Jepara Agustus 1900 kepada Nyonya Abendanon

[4] Term diri-transenden diterjemahkan dari term Being -for-Itself (pour-soi) menunujuk pada kesadaran eksistensi yang dikreasi oleh diri subyek sendiri. Term ini dipinjam oleh Simone deBeauvoir dari Jean-Paul Sartre dalam karyanya The Second Sex.

[5] Hal ini persis seperti konseptualisasi Simone deBeauvoir tentang diri-imanen perempuan yang diterjemahkan secara bebas oleh semua institusi laki-laki. Lih. The Second Sex (Vintage Books, 1974), h. 571

[6] Surat Kartini, Jepara Agustus 1900 kepada Nyonya Abendanon

[7] Surat Kartini, Jepara Agustus 1900 kepada Nyonya Abendanon

 

[8] Surat Kartini, Jepara 10 Juni 1902 kepada Nyonya Abendanon

 

[9] Surat Kartini, Jepara 23 Agustus 1900 kepada Estelle Zeehandelaar

[10] Akses informasi yang diperoleh oleh Kartini tergolong istimewa. Di samping korespondensi, Kartini juga mendapatkan kiriman buku-buku dan majalah yang memungkinkannya memperoleh informasi yang memadai tentang perkembangan situasi di Jawa, salah satunya Kartini juga membaca karya Multatuli.

[11] Surat Kartini, Jepara 12 Januari 1900 kepada Estelle Zeehandelaar

[12] Surat Kartini, Jepara 10 Juni 1902 kepada Nyonya Abendanon

[13] deBeauvoir, The Second Sex (Vintage Books, 1974), h. 354

[14] deBeauvoir, Ibid, h. 748

[15] Surat Kartini, Jepara Agustus 1900 kepada Nyonya Abendanon

[16] Surat Kartini, Jepara 18 Agustus 1899 kepada Estelle Zeehandelaar

[17] Surat Kartini, Jepara Agustus 1900 kepada Nyonya Abendanon

[18] Strategi pembedaan yang dimaksud merujuk pada term identity-in-differential. Term yang digunakan oleh oleh Ranajit Guha untuk mengidentifikasi elit Pribumi dalam proses pembentukan identitasnya. Lih. Gayatri C Spivak, Can Subaltern Speak?, dalam Patrick William and Laura Chrisman (ed.) Colonial Discourse and Post-Colonial Theory A reader (Harvester Wheatsheaf, 1994), h.79  

 

[19] Sebagaimana konsep Gayatri C Spivak, sublatern menunjuk pada kelas sosial yang tidak memiliki posisi dan bahasa konseptual untuk merepresentasikan dirinya sendiri, termasuk tidak ada telinga penjajah dan pribumi yang mau mendengarkan. Atas definisi ini, Kartini tidak teridentifikasi sebagai subaltern.

[20] Gayatri C Spivak, Can Subaltern Speak?, dalam Patrick William and Laura Chrisman (ed.) Colonial Discourse and Post-Colonial Theory A reader (Harvester Wheatsheaf, 1994), h.79  


Beranda  |  Kategory: Edisi 09 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia