Poskolonialisme dan Feminisme Dimanakah Letak Kartini ?

21 - May - 2006 | Gadis Arivia | No Comments »

 Pendahuluan

Pada tahun 1985 seorang feminis kelahiran Culcutta, India, bernama Gayatri Spivak melontarkan sebuah pertanyaan kritis,  « apakah ‘subaltern’ dapat berbicara ? »  Subaltern di sini dimaksudkan sebagai kelompok lemah, yang tidak berdaya. Ketika Spivak melontarkan pertanyaan ini para akademikus ketika itu diajak berpikir keras apakah semua pengetahuan mengenai yang tidak berdaya benar-benar berasal dari yang tidak berdaya atau hasil konstruksi dari kaum intelektual atau LSM sekalipun dan kaum superior lainnya?  Ide ini ia dapatkan dari Foucault tentang sejarah dan kemudian ia refleksikan tentang sejarah bangsanya sendiri seperti yang ia kutip dari Ranajit Guha:

Sejarah nasionalisme India sudah sejak lama didominasi oleh kaum elit dari baik kolonialis maupun borjuis-nasionalis…apa yang mereka lakukan adalah membagi prejudis sejarah pembentukan dan perkembangan kesadaran-nasionalisme India yang seluruhnya hampir dibentuk oleh kaum elitis.  Di dalam sejarah baik kolonial maupun neo-kolonial  pembentukkan India dianggap sebagai kesuksesan pemerintah, administrator, kebijakan-kebijakan, institusi-institusi, budaya kolonial ; hal ini terlihat dari tulisan-tulisan kelompok nasionalis dan neo-nasionalis, tercermin pada karakter-karakter elit India, institusi-institusi, aktivitas-aktivitas dan ide-ide.(Spivak, ‘Can the Subaltern Speak ? ‘ dalam Charles Lemert, Social Theory, 1993:610).

 

Dengan kata lain Spivak ingin menunjukkan bahwa kaum elitlah yang terus menerus mengkonstruksi  « subaltern ». Tapi tak dapat dipungkiri pula bahwa pemunculan kembali tentang kekuatan suara yang terpinggirkan ironisnya diinspirasikan oleh pihak « lawan » yang berusaha menyadarkan kelompok minoritas atas penindasan yang mereka alami.  Kurang lebih inilah yang dialami Spivak ketika pertama kali tersentak tentang ketidak berdayaan kelompok lemah  bukan diingatkan oleh kelompoknya sendiri namun  justru dari luar.

 

Tempat pertama kali saya membaca Derrida adalah tempat di mana saya dibesarkan.  Saya ketika itu tidak paham siapa dia.  Namun saya sangat tertarik karena ia secara nyata mempreteli tradisi filsafat dari dalam dan bukan dari luar, karena tentunya kita dibesarkan dalam  sistem pendidikan di India di mana nama pahlawan dari suatu sistem filosofis adalah manusia universal, dan kita diajarkan bahwa bila kita memakai pendekatan internasionalisasi manusia, maka kita menjadi manusia.  Ketika saya melihat di Perancis ada orang yang mempreteli tradisi yang memberi tahu kita apa yang disebut manusia, menjadi sangat menarik juga (Spivak, 1990 :7).

 

Spivak mendapatkan ide tentang masalah “subaltern” perempuan dari pemahamannya tentang pemikiran-pemikiran para filsuf kontemporer seperti Derrida.  Dalam kasus perempuan persoalan semakin kompleks. Seseorang yang miskin, berkulit hitam dan perempuan pula mempunyai tiga beban sekaligus.  Bukan saja lemah secara ekonomi, ras pinggiran tapi sekaligus warga negara kelas dua !  Para feminis menyatakan bahwa pada poin pembahasan perempuan ia menjadi obyek karena adanya budaya patriarkhi yang membuat perempuan disunyikan, privelese menjadi perempuan (berikut pemikiran-pemikirannya) telah secara sistematis dihilangkan.

Di dalam paper ini saya ingin mengulas tentang wacana kelompok lemah yang terpinggirkan dan kaitannya dengan teori poskolonial.  Pada akhirnya ingin pula mencoba mengkaji Kartini dari sudut pandang teori poskolonial.

 

Feminis Poskolonial = Perempuan Dunia Ke-tiga

            Teori feminis dan poskolonial memulai dengan usaha untuk melihat keterkaitan antara gender/budaya/etnisitas dengan cara menolak oposisi biner yang menjadi dasar dari otoritas patriarkhal dan kolonial. Teori oposisi biner ini telah banyak dikemukakan oleh feminis Perancis Helene Cixous, seorang novelis yang mengkontraskan gaya menulis perempuan (l’ecriture feminine) dan gaya menulis laki-laki (l’ecriture masculine).  Bagi Cixous, gaya menulis laki-laki mengakar pada libidonya, phallusnya yang mempunyai dasar pemikiran ”phallogosentris”. (Lihat Gadis Arivia, 2003:129).   Cara penulisan maskulin mendasarkan argumen-argumennya pada oposisi biner, misalnya;

Aktif/Pasif, Mahahari/Bulan, Budaya/Alam, Siang/Malam, Lisan/Tulisan, Tinggi/Rendah, dan lain sebagainya.

Budaya patriarkhal mengasosiasikan laki-laki dengan segala yang positif; aktif, matahari, budaya, siang, tulisan, tinggi sedangkan mengasosiasikan perempuan dengan segala yang negatif; pasif, bulan, alam, malam, lisan, rendah.  Dikotomi ini dilakukan untuk mempertahankan cara berpikir yang bertumpu pada nalar (reason).  Sedangkan emosi dan gairah (passion) dikecilkan sebagai penulisan yang tidak ilmiah.

Pada permasalahan Dunia ketiga, teoretikus poskolonial melihat bahwa cara berpikir dikotomik yang kental mendiskriminasikan wacana dan budaya lokal. Pendiskriminasian ini dipicu lewat kondisi-kondisi imperialis. Dalam wacana feminis Dunia ketiga terdapat ”kolonialisasi ganda” adanya kontras antara ketidakmatangan politik dunia ke-3 dengan ethos progresif feminisme Barat.  Jadi, representasi perempuan Dunia ketiga tampil sebagai yang bodoh, miskin, tidak terdidik, terikat tradisi, terdomestikasi, orientasi keluarga tradisional, dan korban.  Sedangkan representasi perempuan Barat tampil sebagai yang pintar, mapan, terdidik, punya pilihan bebas, dan modern (lihat Mohanty dalam Leela Gandhi, 1998:200).  Pengetahuan tentang perempuan Dunia ketiga menjadi obyek pengetahuan Dunia pertama, seperti yang dipermasalahkan oleh Spivak terhadap tulisan Julia Kristeva, ”Perempuan Cina” yang menggambarkan perempuan-perempuan Cina yang berdiam diri di Huxian Square, sebuah teks yang ditulis di Perancis pada tahun 1970.  Spivak menganggap tulisan Kristeva hanyalah tulisan elaborasi sendiri tentang perempuan Cina yang dilihat sebagai other (yang lain).

Pertanyaan Kristeva terhadap para perempuan yang berdiam diri itu, adalah tentang identitas dirinya sendiri dan bukan identitas para perempuan itu…Ini khas karakteristik kelompok pemikir (Cartesian-red).  Walaupun mereka mempunyai perhatian tentang ”yang lain” yang berbeda dari Barat, namun, pertanyaan-pertanyaan mereka sangat berpusat pada diri sendiri: bila kita bukan masuk pada aliran umum sejarah dan filsafat, lalu, kita masuk pada kategori apa? who then are we (not), how are we (not)?  (Spivak, 1988:137).

Tampak tegas bahwa Spivak menukik pada penggugatan pengetahuan yang otoritatif, di sini terdapat  ”kekerasan epistemik”.  Trinh Minh-ha lebih jauh menegaskan ”Kita tidak perlu mendengar apa yang dikatakan Dunia Pertama tentang Dunia Ketiga, kita ingin mendengarkan perbedaan dan kebosanan pada persamaan” (Trinh, 1989:88).

 

Kartini Feminis Kolonial?

            Tentu tidak dapat disangkal bahwa Kartini di dalam pemikirannya banyak melontarkan kritik pedas pada orang-orang kolonial:

…Dan masih juga, sejumlah orang Belanda mengumpati Hindia sebagai ”ladang kera yang mengerikan.”  Aku naik pitam jika mendengar orang mengatakan ”Hindia yang miskin”.

Orang mudah sekali lupa kalau ”negeri kera yang miskin ini” telah mengisi penuh kantong kosong mereka dengan emas saat mereka pulang ke Patria setelah beberapa lama saja tinggal di sini. (Yulianto, 2004:xxxv).

Di rumahnya yang nyaman, karena ia anak seorang Bupati terkenal, Kartini menulis tak henti-hentinya kepada teman Belandanya, Stella Zeehandelaar, seorang sosialis yang mempunyai hubungan kuat dengan gerakan sosialis di Belanda dan memiliki jaringan dengan orang-orang Belanda yang berpengaruh.  Kartini dibesarkan dengan privelese seorang priyayi Jawa, mendapatkan pendidikan yang layak berbahasa Belanda, sastra dan seni, pelajaran tentang agama Islam dan pendidikan Barat secara ekstensif.  Ketika harus meninggalkan bangku sekolah, Kartini tetap mendapatkan bimbingan dari Marie Ovink-Soer, istri kontrolir Jepara, wakil pegawai administratur kolonial.  Dia mengenalkan Kartini pada sastra feminis Belanda, mengajarnya melukis, memasak a la Eropa dan membimbing kefasihannya belajar bahasa Belanda. (Cote dalam Yulianto, 2004:xiv).  Dengan demikian Kartini fasih berbicara tentang feminisme  dan kritis terhadap perkembangan politik di tanah Jawa.  Apakah pemikiran feminis Kartini?

Pertama, Kartini mendambakan sosok perempuan yang independen, dalam suratnya Jepara, 25 Mei 1899, ia menulis bahwa:

Aku sungguh ingin mengenal seorang yang kukagumi, perempuan yang moderen dan independen, yang melangkah dengan percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat, antusias dan punya komitmen, bekerja tidak hanya untuk kepuasan dirinya namun juga memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya.  Keinginanku untuk berada di zaman baru seperti itu sungguh terasa panas bergelora.  Ya, aku bisa katakan, meski aku tak akan pernah mengalaminya di Hindia, namun aku amat ingin berbagi dengan saudari-saudariku yang berada nun jauh di sana, di Barat.

Bagi Dr. Joost Cote,  Kartini adalah seorang feminis karena mengalami pencerahan pendidikan Belanda dan keterlibatannya pada wacana-wacana feminis Belanda. (Cote dalam Yulianto, 2004: xiii).  Kartini pun mengungkapkan dalam suratnya yang sama di tahun 1899:

Almarhum kakekku, Pangeran Ario Tjondronegoro dari Demak adalah seorang pelopor kemajuan yang gigih-dia Bupati pertama dari Jawa Tengah yang mengundang “seorang tamu” dari seberang lautan: budaya Barat untuk masuk ke rumahnya.

Kedua,  Kartini sangat dipengaruhi oleh permikiran Liberal tentang hak-hak individu dan hak pendidikan yang setara.  Suratnya tertanggal 13 Januari 1900 dan 25 Mei1899 berbunyi:

Aku tidak pernah membiarkan perempuan-perempuan yang lebih tua dariku, meski status sosialnya lebih rendah dariku, untuk memberi hormat sesuai dengan gelarku…Hatiku teriris, saat melihat orang-orang, yang usianya lebih tua dariku, berjalan merangkak berlumur debu untukku.

…Kami anak-anak perempuan, diikat oleh adat istadat dan kebiasaan, hanya boleh sedikit saja mencicipi kemajuan, terutama pada bidang pendidikan.

Ketiga, Kartini sangat menentang diskriminasi terhadap perempuan, suratnya tertanggal 23 Agustus 1900, mempermasalahkan hal ini:

Yang pertama dan utama, aku akan menghapus adat kebiasaan buruk yang lebih memihak anak laki-laki daripada anak perempuan.  Kita tidak seharusnya terkejut akan sifat laki-laki yang memikirkan diri sendiri saat kita menyadari bagaimana, sejak kecil dia sudah dimenangkan dari perempuan, adiknya.  Dan sudah semenjak masa kanak-kanaknya laki-laki sudah diajari untuk merendahkan perempuan.

Keempat,  Kartini menyikapi perkawinan dengan sinis, suratnya tanggal 23 Agustus 1900  mengungkapkan:

Tuhan menciptakan perempuan sebagai teman laki-laki, dan takdir hidupnya adalah untuk menikah.  Baik, hal ini tidak harus diingkari dan aku mengakuinya dengan senang hati, meski berabad-abad yang akan datang kebahagiaan tertinggi bagi perempuan terus akan, hidup sederajat dengan laki-laki!  Tapi sekarang siapa yang bisa hidup dalam persatuan yang harmonis jika hukum perkawinan seperti yang sudah aku gambarkan ini?  Tidak wajarkah jika aku sendiri membenci, memandang rendah perkawinan jika hasilnya merendahkan martabat perempuan dan menganiaya perempuan sedemikian mengerikan?

Kelima, Kartini menyatakan ”perang” terhadap poligami, dalam surat tahun 1900:

Untungnya, tidak semua Muslim mempunyai empat orang istri, tapi setiap perempuan yang sudah menikah di belahan dunia kami sadar bahwa dia mungkin bukan istri satu-satunya dan cepat atau lambat suami yang dicintainya itu bisa saja membawa seorang teman untuknya yang mempunyai hak sama atas suaminya: menurut hukum Islam, perempuan itu sudah menjadi istri sah.

Kelima pemikiran feminis Kartini dapat dikatakan datang dari pencerahan Barat yang sangat ia kagumi.  Kajian yang menarik di sini adalah apakah suara Kartini tentang hak-hak perempuan lebih memenangkan ide-ide feminisme ketimbang perlawanan terhadap kerangka pikir kolonial?  Apakah Kartini dapat dikatakan mempunyai ide originalitas sebagai perempuan ”pribumi”?

Kembali ke Spivak, apakah Kartini telah berhasil menyuarakan ”subaltern”nya?  Menarik untuk kembali melihat teori Spivak:

Antara patriarkhi dan imperalisme, konstitusi subyek dan formasi obyek, sosok perempuan menghilang bukan dalam ketiadaan namun pada perwujudan sosok ”perempuan Dunia Ketiga”, terjerat antara tradisi dan modernisasi (Spivak, 1988:306).

Dalam teori di atas Spivak menamakannya sebagai gendered subaltern karena apa yang diungkapkan adalah cita-cita besar yang melampaui permasalahan yang dekat dengan dirinya.  Dalam konteks Kartini, permasalahan perempuan yang ia ungkapkan adalah permasalahan sebuah cita-cita besar yang ingin diraihnya, atau bisa juga pemikiran teman-teman Belandanya yang sangat ia kagumi itu, namun, ia tidak berbicara tentang pengalaman pergulatan persoalan dirinya sendiri.  Ia hanya menjadi ”medium” sebuah cita-cita besar kendaraan untuk teks-teks aliran besar, persamaan, kesetaraan dan hak-hak perempuan yang telah diformulasikan oleh Barat (Belanda).  Buktinya?  Dari kelima isu-isu feminis yang dikemukakan Kartini sebagian besar ia gagal.  Kesetaraan pendidikan yang ia cita-citakan sebatas cita-cita pencerahan yang ia cuplik dari kesetaraan ide-ide Barat.  Tidak pernah ia memperjuangkannya dalam ruang lingkupnya, mengenal dan bergumul dengan kaum perempuan Jawa yang tertindas, tidak pula terbersit olehnya untuk mengajari mereka membaca.  Kartini berhenti pada kata ”kasihan” untuk mayoritas perempuan Jawa yang bodoh.  Kritiknya terhadap poligami tidak terwujud secara nyata, akhirnya, ia mengalah dinikahkan kepada pria yang telah beristri dan mati karena melahirkan, diusia  yang masih muda , 24 tahun.

Dalam posisi politiknya, Kartini secara pedas mengkritik sikap-sikap kolonial yang mencari untung di tanah Jawa.  Namun, ia sama sekali tidak membicarakan pemberontakan atau melontarkan ide-ide pembebasan dari penjajahan.  Adakah Kartini justru mendukung penjajahan Belanda?

Mungkin yang paling menyakitkan dan tragis adalah pengakuannya tentang ibunya di dalam suratnya tertanggal 18 Agustus 1899, ”Ibuku masih sangat terhubung dengan Kerajaan Madura.  Kakek ibu yang hebat adalah Raja dan neneknya seorang Ratu.  Tapi kami tidak terlalu memikirkan hal ini.”  Yang Stella tidak tahu dan Kartini tahu benar bahwa ibunya sesungguhnya bukanlah seorang keturunan priyayi melainkan seorang selir (lihat tulisan Gunawan Muhammad dalam Yulianto). Tampaknya Kartini lebih nyaman mengidentifikasi dirinya sebagai bangsawan.

 

Penutup

            Walaupun banyak yang dapat dipelajari dari Kartini tentang perjuangan hak-hak perempuan, namun, perjuangan Kartini lebih tepat digolongkan pada perjuangan feminis gelombang pertama, tepatnya feminisme liberal. Feminisme liberal sangat menitikberatkan perjuangannya pada ide keunikan manusia yang otonom yang mampu membuat pilihan-pilihan bebas karena rasionalitasnya. Kartini berada dalam lingkup pencerahan ini. Di lain pihak, pendekatan poskolonial lebih bertumpu pada ”posisionalitas”  yang memihak pada otherness.  Terjemahan otherness tidak diselesaikan dengan tanpa pemihakan akan tetapi dengan kesadaran penuh menggali yang dimarjinalkan, yang tidak terpikirkan, yang disunyikan.  Keributan yang dihasilkan Kartini kepada teman-teman Belandanya adalah keributan tentang ego rasional dirinya sendiri bukan pemecahan kesunyian kaumnya yang tergolong sebagai the other.  Akhirnya, Kartini sendiri dibunyikan dan diramaikan sebagai ”pahlawan” baik di zaman Belanda maupun Orde Baru dengan kepentingan yang berbeda-beda, yang satu ingin mempertahankan tradisi berpikir kolonial sedangkan yang lain mengunggulkan representasi  ke-Jawaan, membungkam tokoh-tokoh perempuan di pelosok tanah air lainnya yang mungkin saja lebih progresif dan jelas pemihakannya pada kaum tertindas.

Daftar Pustaka:

Arivia, Gadis. 2003. Filsafat Berperspektif Feminis, YJP, Jakarta.

Gandhi, Leela, Postcolonial Theory, A Critical Introduction, Allen&Unwin, Australia, 1998.

Lemert, Charles, Social Theory, The Multicultural & Classic Readings, Westview Press, USA, 1993.

Spivak, Gayatri, Outside in the Teaching Machine, Routledge, New York, 1993.

——————-, Can the Subaltern Speak?, Macmillan, 1988.

——————-, French feminism in an international frame, in Other World Essays, Methuen, NY.

——————-, The Postcolonial Critic : Interviews, Strategies, Dialogues, ed. Sarah Harasym, Routledge, 1990).

Trin T Minh-ha, Woman, Native, Other, Indiana University Press, Bloomington, 1989.

Yulianto, Vissia Ita, Aku Mau, Feminisme dan Nasionalisme, Kompas, Jakarta, 2004.


Beranda  |  Kategory: Edisi 09 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia