Maria Sebagai Ibu

21 - May - 2006 | A. Koesumakristi | No Comments »

“Seorang bapak dari sebuah keluarga menengah pada suatu kali membawa sebuah lemari plastik yang baru saja dibelinya dari toko sepulang dari kantor. Sebenarnya lemari itu sederhana saja, terdiri dari sebentuk plastik lembaran dengan motif gambar dan pola potongan  tertentu, dilengkapi dengan rangka lemari yang terdiri dari beberapa potong besi pipa ringan. Sewaktu dibeli masih dalam bentuk packing, maka sesampai di rumah lemari plastik itu masih harus dirakit terlebih dahulu sesuai dengan gambar petunjuk teknis pemasangannya hingga bentuk lemari akan terwujud nantinya.

Sejenak setelah melepas lelah, bapak itu membuka packing lemari plastik tersebut dan mulai merakitnya. Sambil mengutak-kutik dan melihat gambar untuk mencocokkan, kemudian mencoba menghubungkan pipa rangka lemari yang satu dengan pipa lainnya. Namun kiranya ia mendapat kesulitan serius. Dua jam telah berlalu, upaya merakit lemari plastik itu belum juga selesai. Kelihatan lelah dan jengkel atas kegagalannya, bapak itu meninggalkan lemari plastiknya dalam keadaan terbengkalai dan masih berantakan belum terakit dengan baik. Ia pergi begitu saja tanpa pesan kepada istrinya.

Selang dua jam berikutnya, bapak tersebut pulang ke rumah kembali dan langsung menuju tempat lemari plastiknya dengan maksud untuk mencoba merakitnya lagi. Namun betapa takjubnya ia ketika melihat lemari plastiknya telah berdiri gagah dan terakit dengan sempurna. Istrinya berdiri di samping lemari plastik itu sambil menyeka keringat, terlihat sedikit kelelahan karena baru saja selesai merakit lemari tersebut.

Sang suami bertanya keheranan kepada istrinya, bagaimana mungkin istrinya yang jelas-jelas tidak bisa membaca gambar petunjuk teknis merakit lemari, bisa memasangnya dengan sempurna. Dengan tersenyum polos istrinya menjawab: “Saya hanya mencoba menggabung-gabungkannya dengan menggunakan penalaran yang wajar-wajar saja.” Sebuah penyelesaian yang sederhana, seturut naluri keibuan.

Mencermati kisah pendek tersebut di atas, menjadi tampak betapa keperkasaan akal pikiran dari sang bapak ternyata menjadi sia-sia ketika berhadapan dengan hal-hal yang sesungguhnya amat sederhana. Justru naluri lembut seorang ibu yang biasa-biasa saja ternyata lebih berhasil menyelesaikan persoalan. Kalau sang bapak dimasukkan ke dalam kelompok lelaki (positif, maskulin, yang, le), sementara sang ibu dikelompokkan dalam perempuan (negatif, feminim, yin, la), jadilah dikotomi yang tegas dalam keseimbangan sifat-sifat posif-negatif dunia. Pergulatan silih berganti tiada akhir dari unsur positif dan unsur negatif inilah yang memutar roda kehidupan melahirkan segala macam kejadian yang mengisi lembaran sejarah dunia. Digambarkan secara bagus sebagai bola Yin-yang (Korea), dimana di dalam unsur positif terkandung pula segi-segi negatif, sementara pada unsur negatifpun terdapat segi-segi positif. Di dalam posisinya yang sempurna keduanya bergerak saling menyeimbangkan. Kiranya jelas bahwa sekalipun kedua unsur tersebut, potitif (bapak, maskulin, yang, le) dan negatif (ibu, feminim, yin, la), sekalipun sifat-sifatnya saling bertolak belakang namun bersifat pula saling melengkapi. Jadi peran seorang bapak (unsur positif) tidaklah lebih dominan dari peran seorang ibu (unsur negatif). Sementara kehadiran seorang ibu tidaklah lebih rendah dari keberadaan seorang bapak.

Tidaklah dipungkiri bahwa anggapan budaya dunia pada umumnya masih bersifat paternalistis, dimana peran ayah (unsur positif) sebagai patron menjadi lebih dominan. Bisa dilihat, bagaimana Allah (sebagai zat awal yang seharusnya netral dan tak berkelamin) atau dewa (yang berada pada puncak sejarah awal manusia) pada lazimnya digambarkan sebagai berkelamin pria. Sebut saja budaya Yunani dengan Zeus-nya, ajaran Hindu dengan Brahma, Wisnu, dan Syiwa-nya, serta iman Kristen yang menyebut Tuhan dengan sebutan Bapa. Pemberian stigma kepada Yang Tertinggi (seolah) dengan kelamin pria (positif, maskulin, yang, le) inilah yang memposisikan hubungan antara yang menyembah dengan yang disembah menjadi hirarkis formal. Ritus pemujaannya dipenuhi rambu-rambu agamis yang menjadikannya kaku tidak segar. Sebagaimana rumah, sebanyak apapun pintu sebuah rumah, tanpa jendela maka rumah itu menjadi kaku tidak luwes. Demikian pula dalam konteks budaya (dan agamis) hubungan vertikal hablun minaalah (antara ciptaan dengan yang menciptakan) yang hirarkis formal dengan ritus yang kaku, diupayakan menjadi segar dan lebih manusiawi dengan “memasang jendela-jendela”. Munculah totoh-tokoh dewi sebagai penyeimbang peran dewa. Sebut saja keberadaan Dewi Kwan-Im Pouwsat (ritus Cina) sebagai Dewi Welas Asih yang selalu membela manusia dari ketidakadilan yang kejam. Di India hadir Dewi Gangga sebagai Dewi Kesuburan ibu yang menberikan kemakmuran dan menjadi cikal bakal Wangsa Bharata. Pada zaman kerajaan Kediri semasa era Hindu kuno di Indonesia, dimunculkan sosok Dewi Kali, isteri Dewa Siwa (pengertian istri disini merupakan wujud personifikasi kesaktian dari dewa bersangkutan), yang mampu menetralisir kekuatan jahat (wabah dan penyakit) yang ditebarkan sebagai kutukan Siwa. Kesaktian Kali yang bisa menyembuhkan penyakit ini mentahtakannya sebagai Kali Mahausada (Kalimahusada? Damarjati Supajar pada Seminar di UGM pra-reformasi), serupa ibu yang menjagai anaknya (umat) dari segala marabahaya. Jangan lupa pula dalam kasanah budaya Jawa terdapat Dewi Sri sebagai dewi pelindung padi, yang menyejahterakan seluruh penghuni tanah Jawa; mengangkat aspek peran Dewi Sri sebagai ibu yang memberi makan kepada anak-anaknya..

Dalam ajaran Katholik, hadir sosok Maria, seorang wanita sederhana yang menjadi ibu dari tokoh sentral Yesus Kristus. Kiranya Gereja Katholik menyadari bahwa suasana hirarkis formal dengan ritus liturgis yang kaku ortodok serta segala hukum Gereja yang feodalistik-dogmatis tanpa kompromi (terutama pra Vatican II), perlu dicairkan dan disegarkan (secara alternatif?). Disinilah keberadaan Maria menjadi perlu, untuk ditahtakah sebagai Ibu Gereja.

Pada dasarnya Gereja Katholik mengakui adanya Para Orang Kudus. Sebenarnya mereka adalah manusia biasa saja, tidak selalu sempurna menurut ukuran manusia, mengecap rasa suka dan duka, bahkan dihinggapi rasa takut dan menderita sakit juga. Sebagai manusia biasa, merekapun mewarisi kecenderungan untuk berdosa, bahkan acapkali mereka menperlihatkan kekurangan dan kelemahan ini. Namun mereka diangkat sebagai Para Orang Kudus, karena semasa hidupnya, mereka bersedia dan berani menjawab panggilan Allah untuk berbuat menampakan wajah-Nya yang penuh kasih kepada semua orang. Mereka meninggalkan semua halangan yang bersifat nafsu keduniawian dan menjalani panggilan Allah dengan sepenuh hati tanpa memperhitungkan segala resiko, bahkan resiko menderita sakit sampai mati dalam menjalankan tugas perutusNya. Seolah dalam rahmatNya, mereka siap sedia dan sanggup berbuat apa saja. Penghormatran kepada Para Orang Kudus bukan semata-mata karena mereka orang yang luar biasa hebatnya dan sangat menonjol, melainkan karena rahmat ilahi yang bersemayam dalam diri mereka hingga memberikan kesanggupan kepada mereka. Dalam diri Para Orang Kudus terpancarlah sinar pokok dari segala kekudusan, yaitu Allah sendiri; dengan demikian penghormatan kepada Para Orang Kudus adalah penghormatan kepada Yang Mahakudus pula. Sejarah kehidupan mereka banyak memberikan inspirasi bagi yang hidup lebih kemudian untuk meneladan kebijakan  Para Orang Kudus, menampakkan wajah kasih Allah kepada sesama, agar hidup menjadi lebih bernilai dan pantas untuk diperjuangkan.

Maria adalah salah satu dari sekian banyak Para Orang Kudus. Bahkan karena kedudukan Maria sebagai ibu biologis Yesus, maka oleh Gereja Katholik, Maria ditempatkan pada kedudukan yang istimewa.

Pemujaan terhadap Maria sudah berlangsung sejak awal sejarah Gereja purba. Berdasarkan beberapa penggalian pada situs-situs yang berhubungan erat dengan dunia Perjanjian Baru, diketahui bahwa Theonas (Patriark Aleksandria sekitar abad III M) telah mendirikan sebuah gereja untuk menghormati secara khusus Maria. Pada sekitar abad III-IV Masehi, orang-orang Kristen Yahudi telah membangun sebuah tempat suci (pemujaan?) yang dipersembahkan bagi seorang perempuan yang namanya dimulai dengan huruf awal M. Seorang peziarah mengartikan inisial M itu sebagai Maria. Demikian pula tulisan-tulisan yang banyak dijumpai pada tembok-tembok katakombe Romawi serta grafiti di ruang bawah Basilica St. Peter, Vatican, Roma, merupakan bukti nyata bahwa Maria dimuliakan sebagai perlindungan (Ibu) bagi orang-orang beriman yang meninggal.

Asal dari dasar teologi tentang Maria, sampai saat ini belum diputuskan secara resmi oleh Gereja. Para teolog selama ini lebih memfokuskan peran Maria sebagai Ibu Gereja dengan beberapa aspek yang dianggap sentral, antara lain Maria-Hawa baru, Maria penuh rahmat, Maria-pola Gereja, dan lain sebagainya. Namun kiranya bisa disebut ensiklik Paus Leo XIII (Adiutricem Populi, 5 September 1895) tentang peran Maria sebagai Ibu (perantara) dalam rangka upaya menuju persatuan umat Kristen (ensiklik ini terlebih ditujukan kepada umat Kristen Timur). Pada tanggal 31 Desember 1931, sehubungan dengan peringatan Konsili Efesus (tahun 430), Paus Pius XI menerbitkan ensiklik Lux Veritatis, yang salah satu tema utamanya memuat perihal keibuan Maria. Disusul Paus Pius XII mengeluarkan ensiklik Ad Caeli Reginam (11 Oktober 1954) tentang Maria sebagai Ratu. Kemudian dalam rangka peringatan 50 tahun peristiwa penampakan Maria di Fatima, Paus Paulus VI mendekritkan ensiklik Signum Magnum (13 Mei 1967) sebagai usaha untuk lebih memperjelas soal keibuan rohani Maria.

Pada perkembangan selanjutnya, kiranya peran Maria dalam Gereja menjadi semakin  penting. Sebagaimana biasa terjadi dalam setiap kehidupan sehari-hari sebuah keluarga, manakala kedudukan bapak menjadi sentral maka hubungan anak terhadap bapak menjadi formal. Hal ini mendorong anak untuk melakukan sikap tindakan alternatif yang lebih luwes lagi dengan berusaha mendekatkan diri kepada ibu. Fungsi ibu di sini bisa diartikan sebagai pembela (membela anak selagi ada permasalahan dengan bapak), juga sebagai penghibur (yang membangkitkan lagi manakala anak jatuh terpuruk) dan penguat (yang meneguhkan ketika anak menghadapi persoalan), mungkin juga sebagai penampung (tempat anak mencurahkan isi hati) ataupun sebagai perantara (membujuk bapak agar mendengarkan permohonan anak). Sekilas singkat mungkin peran Maria sebagai Ibu Gereja bisa digambarkan sebagai ibu dari sebuah keluarga tersebut diatas.

Pemberian peran yang cukup besar kepada Maria dalam Gereja (bahkan dianggap terlalu besar oleh Gereja Reformis), dikhawatirkan akan menggeser kedudukan Yesus yang seharusnyalah menjadi tokoh sentral dalam Gereja. Pemujaan (devosi) kepada Maria yang merebak dimana-mana (sehingga banyak memunculkan tempat peziarahan Maria, namun khususnya di Indonesia acapkali kurang jelas historisnya), kalau tidak diimbangi dengan penjelasan dari pihak Hirarki yang gamblang dan mudah dicerna oleh umat, memang bisa menimbulkan penyimpangan-penyimpangan. Itulah kiranya yang dirisaukan oleh Gereja Reformis; bukannya tanpa Maria maka Yesus tidak akan bisa lahir ke dunia, melainkan apabila tidak ada Yesus maka Maria akan serupa perempuan biasa saja yang tidak mempunyai keistimewaan apapun juga. Dalam upaya mengantisipasi hal tersebut, kiranya Gereja sudah cukup tanggap. Oleh sebab itu Konsili Vatican II menyebutkan: “……. Menganjurkan dengan sangat, supaya dalam memandang martabat Bunda Allah yang istimewa dengan sungguh-sungguh mencegah segala ungkapan berlebihan yang palsu, seperti juga kepicikan sikap batin. Hendaklah kaum beriman mengingat, bahwa bakti yang sejati tidak terdiri dari perasaan yang mandul dan yang bersifat sementara, tidak pula dari sikap mudah percaya tanpa dasar. Bakti itu bersumber pada iman yang sejati, yang mengajak kita mengakui keunggulan Bunda Allah, dan mendorong kita sebagai putra-putrinya mencintai Bunda kita dan meneladan keutamaan-keutamaannya.” (Lumen Gentinum 67).

Pandangan Gereja Katholik terhadap gambar dan patung (ikon-ikon kudus) pada umumnya dirumuskan dengan cukup jelas oleh Paus Yohannes Paulus II dalam surat apostoliknya Duodecimum Saeculum (Desember 1987), dalam rangka memperingati 1200 tahun Konsili Nicea II (787). Paus berkata antara lain. “ …Tanpa menyangkal kemungkinan bahwa praktik penyembahan berhala dari agama kafir dapat timbul lagi, Gereja mengizinkan bahwa Tuhan Yesus, Santa Maria, para martir, santo dan santa diperlihatkan dalam bentuk gambar atau patung guna mendukung doa dan kebaktian kaum beriman.” Selanjutnya dikatakan pula, “Kesenian dapat memperlihatkan bentuk atau lukisan wajah insani Allah dan mengantar orang yang memandangnya ke dalam misteri yang tak terperkirakan bahwa Allah menjadi manusia demi keselamatan kita.” Dengan mengutip pernyataan Konsili Nicea II, Paus Yohannes Paulus II selanjutnya menegaskan bahwa, “…selalu dibedakan antara sungguh menyembah dengan memberi hormat. Menurut keyakinan kita, menyembah hanya boleh dilakukan terhadap Allah. Sedangkan memberi hormat boleh dilakukan untuk gambar dan patung, karena menghormati patung sebenarnya menghormati diri yang digambarkan dalam patung itu.” Secara umum boleh dikatakan bahwa iman bukan pertama-tama mencari ungkapan dalam bentuk-bentuk keagamaan; melainkan berusaha mewujudkan diri dalam kehidupan nyata. Semua upacara ibadat dan semua barang kebaktian hanya dapat merupakan tanda yang mengarahkan manusia kepada kenyataan hidup yang mengatasi segala keterbatasan. Dalam iman orang harus melepaskan diri ke dalam tangan Tuhan, dan tidak mencoba mengikat Tuhan pada kebaktian manusia. Demikian tertulis dalam buku Iman Katolik, Buku Informasi dan Referensi.

Disadari bahwa peran spiritual  Maria di kalangan pemeluk Katholik modern saat kini dirasa masih kuat sekali. Contoh yang nyata dan belum lama berselang terjadi di Filipina pada saat berlangsung Revolusi Damai Edsa (Epifanio de los Santos Avenue). Terjadi mulai hari Sabtu 22 Februari 1986, ketika Filipina  berada diujung tanduk pertumpahan darah, sampai dengan Senin 24 Februari 1986. Atas himbauan sang gembala Kardinal Sin, penduduk Manila dan sekitarnya berbondong-bondong tanpa mempedulikan ancaman keselamatan diri mereka sendiri bergerak rampak menuju Edsa. Dari rumah-rumah sederhana mereka keluar berkumpul di lapangan, kemudian bergerak menuju jalanan untuk bertemu dengan rombongan-rombongan lain bersama-sama menuju Edsa. Mereka berjalan sambil mendaraskan doa rosario dan mengarak patung Maria. Tampak bagaimana mereka banyak berharap pada peran spiritual Maria sebagai Ibu yang melindungi dan Perantara yang mendamaikan. Mereka betul-betul meyakini akan keterlibatan Maria, dalam upaya mereka untuk mengubah negeri Filipina menuju situasi yang lebih baik lagi, dengan damai tanpa pertumpahan darah. Sejarah mencatat, bahwa rakyat Filipina berhasil menyelenggarakan sebuah revolusi damai, dengan tanpa setetes darahpun yang menitik berkat peran Maria sebagai Ibu spiritual mereka, yang telah memberikan inspirasi dan menyatukan mereka dalam satu upaya gerakan damai. Maria mereka pahami sebagai seorang ibu yang melindungi dan mendamaikan anak-anaknya yang tengah bertikai.

Perbedaan pandang antara Gereja Universal dan Gereja Reformis tentang kedudukan Maria kiranya tidak perlu dipertajam, dan selayaknyalah disikapi dengan saling arif. Berikut sebuah cerita imajinatif yang sederhana, namun kiranya cukup sejuk untuk mendamaikan dan menjembatani dua pihak yang belum bisa saling memahami.

“Seorang penganut Protestan (Gereja Reformis) dan seorang pemeluk Katholik (Gereja Universal), keduanya secara kebetulan mati pada saat yang bersamaan. Dalam menghadapi ajal, sang Protestan dijemput oleh Yesus, sedang sang Katholik dibimbing oleh Maria. Sesampainya di Surga, mereka saling bertemu. Seraya membimbing sang Protestan, Yesus memperkenalkan kepada ibuNya: “Inilah Maria, ibu-Ku yang kuhormati.” Mariapun menyambut seraya memperkenalkan Putranya kepada sang Katholik: “Dialah Yesus, Putraku yang kukasihi.” Mereka berempat berjabat tangan saling memperkenalkan, kemudian beriringan dengan sejuk dan damai bersama-sama menuju ke kediaman Bapa mereka. Indah bukan? Itulah bahagian dari Surga, tanpa syak-wasangka, tanpa pertentangan; yang hadir adalah saling berbagi anugerahNya dalam segala suka dan duka sebagai sesama anak Allah, ahli waris surgawi.”.

Di dalam Al Quran, Maria (ditulis sebagai Maryam) diantara perempuan sejamannya mendapat kedudukan yang cukup terhormat sebagai primus inter pares (perdana antara yang sederajat). Maria adalah salah satu dari sedikit perempuan dalam Al Quran yang dilukiskan secara panjang lebar disertai banyak pujian. Bahkan dalam Al Quran nama Maryam ditulis 34 kali, lebih banyak dari pada nama Maria dalam Perjanjian Baru yang hanya ditulis sebanyak 19 kali. Seturut Al Quran, Maryam adalah perempuan yang pantas diteladani. Tradisi Muslim yang secara efektif sangat terikat pada istri-istri Nabi Muhammad, menempatkan Maryam pada hirarki keempat setelah Khadija-A’isya dan Fatima. Bahkan Maryam adalah satu-satunya nama perempuan yang dijadikan judul sebuah surah Al Quran, yaitu Surah Maryam; surah ke 19 Al Quran ini termasuk surah yang cukup terkenal.

Dalam khasanah budaya Jawa, figur seorang ibu cukup diperlukan. Mitos Nyai Ratu Kidul misalnya, eksis sebagai sastra (tutur) magis yang diperlukan (atau sengaja diciptakan?) untuk memperkuat legitimasi bagi kedudukan setiap Raja Mataram Islam. Nyai Ratu Kidul (kadang ditulis Nyai Roro Kidul, atau sering sebagai Kanjeng Ratu Kidul) adalah ratu siluman atau peri berjenis kelamin wanita, yang merajai (melegenda) hampir disepanjang pesisir selatan pulau Jawa. Menurut legenda, Nyai Ratu Kidul sebagai penguasa Laut Selatan kesaktiannya luar biasa dahsyat, bahkan usiapun tidak bisa mengalahkannya. Pengaruh dan kewibawaannya luas tak terbatas, seperti halnya laut selatan yang tak bertepi. Dengan mengambil manfaat filosofis kekuatan magis beserta pengaruh kewibawaannya, maka Nyai Ratu Kidulpun harus selalu hadir secara abadi menyertai dan mendampingi setiap Raja Mataram Islam yang sedang berkuasa, demi kelanggengan dan legitimasi magis kedudukan raja tersebut. Karenanya, diangkatlah Nyai Ratu Kidul sebagai Ibu (tempat berlindung),  sekaligus istri (pendamping, tempat berbagi) bagi setiap Raja Mataran Islam yang sedang bertahta. Sebuah rangkap kedudukan yang rancau, namun sah-sah saja karena diperlukan.

Ajaran Gereja tidak mengenal adanya dewi (dewa perempuan). Karenanya agak aneh ketika Maria dalam khasanah budaya Katholik Jawa disebut sebagai Dewi Mariyah. Akan lebih pas sekiranya Maria disebut sebagai Kanjeng Ibu Mariyah, konotasinya akan lebih mendekatkan hubungan antara ibu dengan anak hingga terjalin lebih mesra lagi.

Kalaupun hubungan antara Maria sebagai ibu (biologis-fisik) Yesus dengan Maria sebagai ibu Tuhan (Theotokos-dalam dogma konsili Efesus), agak sulit dipahami. Maka kiranya cerita pengalaman kecil di bawah nuansanya diharapkan bisa lebih mendekatkan lagi kepada pemahaman itu.

Dalam adat budaya Jawa untuk saling berkomunikasi lazim dipergunakan tingkatan bahasa. Tingkatan bahasa Jawa tertinggi disebut sebagai kromo inggil, tingkat yang lebih rendah lagi disebut kromo madyo, dan tingkat bahasa yang paling rendah dikenal sebagai bahasa ngoko. Orang dengan tingkat derajat yang rendah kalau berbicara dengan yang berderajat lebih tinggi haruslah mempergunakan bahasa tinggi, sedang orang yang berderajat tinggi kalau berbicara dengan yang berderajat lebih rendah cukup dengan bahasa tingkat menengah atau bahkan bahasa kasar saja. Pada bulan Desember tahun 1977, salah seorang istri Hamengku Buwono IX (raja kraton Yogyakarta pada saat itu), bersama putrinya menghadiri sebuah resepsi pernikahan sederhana. Dalam percakapan yang terjadi diantara keduanya, terasa ada sesuatu yang aneh mengganjal. Mereka menggunakan media bahasa Jawa untuk berkomunikasi. Namun sang ibu berbahasa sangat halus kepada putrinya (Jw: kromo inggil), sedangkan sang putri menjawab dengan bahasa kasar (Jw: ngoko). Menjadi aneh, mengapa seorang ibu (yang lebih tinggi tingkatnya) berbahasa halus kepada anaknya (yang lebih rendah tingkatnya), sementara ketika menjawab anak tersebut menggunakan bahasa kasar. Ketika perihal penggunaan tingkatan bahasa tersebut dipertanyakan kepada yang memahami tentang unggah-ungguh (tatacara) berbahasa Jawa,  dijawab demikian: “di dalam adat keraton, seorang istri raja, sekalipun dia adalah seorang ibu, derajatnya lebih rendah dari pada putra-putrinya; karena putra-putrinya itu adalah anak seorang raja yang berkuasa, sedangkan istri raja tersebut bukan keturunan langsung raja. Jadi istri raja tersebut haruslah berbahasa halus kepada putrinya, sebagai tanda penghormatan kepada anak raja, sekalipun putri tersebut adalah juga anaknya sendiri.”

Cerita ini mengungkapkan, bahwa seorang istri raja, sekalipun ia adalah seorang ibu dari anaknya sendiri, tetapi juga sekaligus ibu dari seorang anak raja. Perbedaan menempatkan anaknya sendiri menjadi sebagai anak raja, diungkapkan ketika sang ibu berbicara dengan bahasa yang sangat halus kepada anaknya tersebut, sebagai tanda hormat kepada  seorang anak raja. Dengan analogi tersebut kiranya bisa dibedakan antara Maria sebagai ibu biologis Yesus, dan Maria sebagai Bunda Tuhan (Theotokos).

Pemahaman Maria sebagai ibu biologis Yesus, nyata ketika Maria ikut serta mendampingi Putranya, sejak awal proses peradilanNya dihadapan para Imam Agung Anas dan Kayafas, Pontius Pilatus, Herodes, sampai penyaliban dan pemakamanNya. Kiranya hal tersebut yang meyakinkan Gereja akan penyertaan Maria sebagai Ibu Gereja, yang setia menyertai seluruh perjalanan panjang sejarah Gereja, dalam segala peristiwa jatuh dan bangun, suka dan duka, penindasan dan kejayaan, sampai akhir sejarah umat manusia nanti.

Acapkali upaya memahami peran Maria sebagai ibu (terlebih Ibu Gereja), secara rasional menemui banyak kesulitan; hingga rasanya menghadapi sebuah misteri. Namun misteri tidak sama dengan rahasia. Misteri tidak terselubung seutuhnya. Misteri selalu dapat dijangkau dan didalami, sekalipun tidak pernah dapat dipahami atau dijelaskan secara tuntas, sehingga seolah-olah tidak perlu dipertanyakan lagi. Hal ini disebabkan sebuah misteri selalu menyangkut pribadi (person) baik yang manusiawi maupun (terutama) yang ilahi. Oleh karenanya misteri bukan melulu menyangkut soal budi dan ilmu pengetahuan, melainkan terlebih persoalan hati nurani dan cinta kasih.

Akhirnya; in dubiis libertas, in necesitatibus unitas, in omnibus caritas; didalam segala hal yang belum dipastikan kita bebas menentukan sikap, didalam semua hal yang sudah bersama-sama diputuskan kita bersatu melaksanakan, namun diatas segala-galanya adalah cinta-kasih. Bagaimanapun juga; dimana dan kapan saja seorang Ibu dengan segala perannya tetaplah dibutuhkan.

                                                               Yogyakarta,  10 April 2005.


[1] Pengurus FMKI (Forum Masyakarat Katholik Indonesia) DIY dan Bendahara ISKA (Ikatan Sarjana Katholik) Komisariat Daerah Yogyakarta., dan aktif di Gerakan Bumicsara Rukun Lokal Yogyakarta.


Beranda  |  Kategory: Edisi 09 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia