Ketika Bayi Ditangani Dukun

21 - May - 2006 | Tri Marhaeni Pudji Astuti | No Comments »

Siang itu matahari tidak sedang bersedu-sedan. Geriap sinarnya justru meruyap selusupi pepohonan di sepanjang lereng pegunungan Moga, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang. Bagi para pejalan kaki, suasana dan hawa di hamparan hijau ini begitu nyaman. Ditingkahi semilir angin basah pegunungan, nafas seseorang tidak perlu terengah-engah. Tubuh pun tanpa harus berpeluh keringat. Namun lingkungan hijau berhawa relatif sejuk bukanlah prioritas perhatian seorang nenek yang berusia hampir mendekati seabad. Perempuan renta dan trengginas itu berjalan agak tergesa. Ada ibu muda yang harus dia tolong untuk melahirkan.

“Jangan sampai menunggu terlalu lama, kasihan ibu yang bakal melahirkan jabang bayinya ini. Lebih baik kita bergegas cepat membantu persalinannya,” kata perempuan yang biasa disapa Mbah Karsumi oleh warga sekitar.

Hanya berbekal minyak kelapa untuk mengurut perut agar proses kelahiran sang jabang bayi berjalan lancar, Srinth!l terus mengikuti Karsumi ke arah kediaman ibu muda yang membutuhkan jasanya.

Seperti penuturan Mbah Karsumi, kemampuan dan keahlian sebagai dukun bayi dia dapatkan turun temurun. Pewarisan keahlian ini masih berkutat pada wilayah tradisional yang sedikit banyak enggan menerima pola perubahan penanganan kesehatan ibu hamil dan melahirkan.

Entah terjadi secara kebetulan, karena kemampuan dukun bayi atau rendahnya tingkat kesehatan ibu hamil, di Kecamatan Karang Rayung Kabupaten Grobogan dan Kecamatan Moga Kabupaten Pemalang ini merupakan salah satu tempat yang mengalami kasus menyangkut kematian ibu saat melahirkan.

Secara statistik, jumlah kematian ibu di Indonesia memang cukup signifikan. Sinyalemen tentang rendahnya tingkat kesehatan rata-rata perempuan di Indonesia merupakan salah satu indikator yang dianggap cukup serius bagi adanya kasus kematian ibu dan bayi. Sebutlah pada tahun 2003 angka kematian ibu (AKI) masih 307 per 100.000 kelahiran hidup dan Angka Kematian Bayi (AKB) 35 per 1.000 kelahiran hidup (data yang diumumkan oleh Depkes RI). Hal ini berarti, setiap tahun ada 13.776 kematian ibu atau setiap dua jam ada dua ibu hamil, bersalin, nifas yang meninggal karena berbagai sebab. Masih tingginya kematian ibu melahirkan ini menurut survei kesehatan rumah tangga tahun 2001, kebanyakan karena komplikasi pada kehamilan, persalinan dan nifas yang tidak tertangani dengan baik dan tepat waktu, perdarahan, dan keracunan kehamilan.

Memang bukan perkara mudah untuk menjelaskan fenomena kehamilan, kelahiran, dan proses-proses lain yang mengiringinya. Medis punya aturan, sementara dukun bayi pun memiliki pedoman. Selama hamil, biasanya dokter atau bidan selalu menganjurkan para ibu hamil untuk melakukan prosedur penjagaan kehamilan, seperti pemberian tetanus toxid, periksa hamil, pemberian preparat besi, sistem deteksi dini risiko kehamilan, dan sistem rujukan lain. Berbagai prosedur ini pun seringkali harus bersimpang-siur ketika dipraktikkan karena tidak semua ibu hamil melakukan dan menjalani anjuran tersebut. Biaya mahal, jarak yang jauh biasanya menjadi kendala tersendiri bagi para ibu hamil, terutama yang berada di pelosok-pelosok perkampungan.

 

Harap-harap Cemas Kehadiran Dukun Bayi

Ada beberapa hal yang memungkinkan besarnya tingkat pertolongan persalinan oleh dukun bayi, antara lain keterbatasan tenaga kesehatan terutama bidan. Persalinan dengan pertolongan dukun bayi umumnya dianggap lebih murah, mau memberikan perawatan pada ibu dan bayi lebih lama, dan diyakini dukun bayi mampu menghadapi atau mengatasi masalah-masalah supranatural seperti sawanen.[1] Dengan kenyataan ini ibu hamil di desa merasa aman dan senang melahirkan dengan pertolongan dukun bayi.

Meski proses pembelajaran terhadap dukun bayi masih menemui berbagai kendala, tapi para dukun bayi itu masih memiliki ‘kesabaran’ dan ‘ketelatenan’ bila dibandingkan para medis dari kalangan pendidikan formal. Kesabaran serta ketelatenan ini setidaknya merupakan sisi positif dukun bayi. Etos kerja ini tercermin ketika membantu persalinan dan perhatian terhadap jabang bayi dan ibu hamil hingga 35 hari pasca melahirkan. Mereka pun tidak menuntut berapa besar rupiah yang harus diberikan kepada perempuan dukun bayi sebagai imbal jasa.

Cara dukun bayi merawat kesehatan perempuan pasca melahirkan biasanya dengan jalan memijat perut. Hampir bisa dipastikan bahwa cara seperti ini tidak akan terdengar dari mulut dokter atau bidan karena dianggap akan membahayakan kesehatan ibu yang baru melahirkan. Setiap tubuh tentunya tidak memiliki keseragaman daya tahan cukup kuat terhadap pemijatan ini sehingga bisa berdampak pada pendarahan dan tidak sesuai dengan harapan seorang ibu yang awalnya menginginkan posisi kandungan agar bisa kembali seperti semula. Tidak demikian halnya dengan dukun bayi yang memiliki pedoman lain dalam memulihkan kesehatan perempuan paska melahirkan.

Standarisasi Pertolongan Ibu Hamil

Kecenderungan medis modern adalah memberikan pertolongan kesehatan dengan standar ilmu-ilmu medis modern pula. Dalam hal ini, Departemen Kesehatan merupakan institusi yang dianggap paling otoritatif untuk membuat ukuran sehat/tidak sehat mengenai bentuk pertolongan persalinan. Dari mulai anjuran untuk melahirkan melalui dokter, bidan desa, sampai rumah sakit tertentu membuat dukun bayi menjadi semakin tidak diperhitungkan sebagai alternatif pertolongan persalinan. Bahkan tidak hanya itu, mereka juga dituntut untuk mengubah atau menggeser pandangan masyarakat pada umumnya dan dukun bayi pada khususnya untuk dapat menerima nilai-nilai perubahan atau pengetahuan yang lebih baru dan sehat dalam melakukan pertolongan persalinan.

Transfer pengetahuan melalui pelatihan pertolongan persalinan sehat untuk dukun bayi pun semakin marak dilakukan. Biasanya pelatihan seperti ini dilakukan sebagai bentuk kompromi, mengingat sebagian besar masyarakat pedesaan masih menggunakan jasa dukun bayi, sementara itu risiko kegagalan juga masih sangat tinggi. Oleh karenanya keberadaan dukun bayi yang terlatih dan terdidik serta mau menerapkan pertolongan persalinan yang sehat sangat diperlukan. Yang harus diperhatikan juga adalah, bagaimana “menciptakan” dukun bayi yang punya keterampilan seperti yang diinginkan dan juga mau mempraktikkan ilmunya tersebut.

Ada Bayi dalam Timangan Dukun

Tidak ada celemek (plastik pelindung). Yang ada  hanyalah welat (bilah bambu), kunyit, daun opo-opo untuk sawanan,[2] garam krosok, [3] dan gabah. “Kunyit untuk dipotong dengan welat baru welatnya untuk memotong pusar, daun opo-opo ini untuk dipakai ibu hamil di kepala (di sanggul) agar terhindar dari candik olo,[4] garam krosok dan gabah untuk memecah ketuban jika ada anak lahir dalam keadaan bungkus (terbungkus ketuban),” ujar Mbah Karsumi.

Itulah fenomena yang kerap kita lihat tentang persiapan dan bentuk pertolongan persalinan yang biasanya dilakukan oleh dukun bayi. Tidak ada gunting, suntik, atau bahkan inkubator jika sewaktu-waktu terjadi kelahiran prematur. Keadaan ini sudah berlangsung puluhan tahun atau bahkan berabad-abad yang lalu. Tapi kali ini dunia berbicara lain. Modernitas turut andil dalam melindas hampir segala sesuatu yang berbau tradisional, kampungan, dan primitif. Dukun bayi dengan segala eksistensinya mulai digugat, dipertanyakan, dan ditempatkan pada posisi terpojok hanya karena pola pertolongannya tidak sesuai dengan standar pertolongan medis modern.

Anke Neihof (1992) pernah menyatakan bahwa peran dukun bayi di Indonesia masih sangat besar. Meskipun bentuk dan peran dukun bayi di masing-masing daerah berbeda-beda tetapi pada prinsipnya tetap untuk menolong persalinan. Di tempat-tempat tersebut kaum perempuan sudah terbiasa menyerahkan urusan perawatan tubuh dan bayi pada dukun. Tidak sedikit yang percaya bahwa dukun bayi bisa melihat posisi rahim, posisi bayi, dan kapan seorang perempuan akan memunyai anak, serta bisa membetulkan letak bayi yang sungsang [5] atau salah posisi. Ada juga yang masih sejak belum punya anak sudah meminta pertolongan dukun bayi untuk mengurut  (memijit) perutnya agar cepat punya anak tak pelak, kemampuan yang dimiliki oleh dukun bayi tersebut makin menambah kepercayaan kaum perempuan untuk melahirkan dengan pertolongan dukun.

Hanya saja, kemampuan dukun bayi ini lambat-laun menuai kritik dari kalangan medis modern. eksistensi para dukun bayi terusik ketika sederet contoh kegagalan pertolongan persalinan dijadikan potret tentang ketidakmemadaian dukun bayi sebagai alternatif. Mungkin, persoalannya tidak sebatas itu. Alih-alih memosisikan dukun bayi sebagai pihak yang keliru, tidak sedikit pula contoh kegagalan pertolongan persalinan yang dilakukan oleh tenaga medis modern yang lebih “canggih.” Tentunya, hal lain yang juga lebih penting adalah tidak terlalu tergesa-gesa membuat kesimpulan bahwa dukun bayi merupakan pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berhasil atau tidaknya upaya pertolongan persalinan bagi ibu-ibu melahirkan.

Bagaimanapun, pemerintah (Departemen Kesehatan) tetap merasa perlu untuk memberikan pelatihan pertolongan persalinan yang sesuai dengan standar kesehatan kepada dukun bayi dengan harapan agar para dukun bayi tersebut bersedia mempraktikkan hasil pelatihan yang mereka dapat, demikian pula dalam penggunaan alat-alatnya. Di dalamnya terdapat  asumsi: dukun bayi adalah pihak yang tidak mau menerima inovasi baru tentang kemajuan praktik medis yang berkaitan dengan persalinan. Ada penolakan, ada juga penerimaan. Tidak sedikit dukun bayi yang menerima lalu kemudian belajar beradaptasi dengan tawaran baru yang diberikan pemerintah, tapi tidak sedikit pula yang tetap bersiteguh menggunakan cara-cara tradisional dalam membantu persalinan.

Ketidaktunggalan persepsi para dukun bayi dalam menerima ide-ide dan praktik medis modern tentu tidak bisa dipandang sebagai keterbelakangan budaya atau kukuhnya perilaku primitif. Kekakuan dukun bayi dalam memperlakukan medis modern sepatutnya dicermati sebagai sebuah kebijakan tersendiri yang dalam beberapa hal tidak mungkin bisa dipaksakan secara congkak untuk berubah. Mungkin, tukar pengalaman dan kemampuan pertolongan persalinan antara dukun bayi “tradisional” dengan tenaga medis “modern” justru harus dilakukan. Karena dalam hal-hal tertentu, terdapat pengalaman yang tidak bisa disamaratakan antara keduanya. Biasanya, unsur ketelatenan mengurus bayi dengan kasih sayang lebih dimiliki oleh dukun bayi ketimbang perawat, bidan, atau yang lain yang lebih kaku dalam memperlakukan ibu dan bayi yang baru lahir.

Kalaupun tokh dukun bayi juga dianggap sebagai kalangan “tua dan terdahulu”, minim wawasan dan pendidikan, tentu tidak arif dijadikan argumentasi untuk membekuk atau bahkan memangkirkan peran sosial dan kultural para dukun bayi. Pada praktiknya, tidak semua hal yang berkaitan dengan persalinan cukup mudah diselesaikan dengan mengundang seorang bidan atau melalui rumah sakit mewah, meskipun pada tataran tertentu juga tidak cukup selesai dengan menghadirkan dukun bayi dalam rangka menyelamatkan proses kelahiran seseorang. Untuk itu, ada sesuatu yang tetap penting untuk dijelaskan yaitu melakukan aksi komunikatif antara pihak-pihak yang selama ini dijadikan masyarakat sebagai rujukan pertolongan persalinan, baik dukun bayi maupun tenaga medis modern.

Persalinan oleh Dukun Bayi: Mudahkah?

Secara umum masyarakat masih menyikapi suatu peristiwa kehamilan dan kelahiran dikaitkan dengan peristiwa atau nilai-nilai budaya. Meskipun dalam kondisi hidup yang sederhana, namun untuk kedua peristiwa ini tidak jarang keluarga yang bersangkutan akan mengadakan upacara-upacara yang bertujuan menjaga keselamatan janin secara “supranatural” daripada nilai medisnya. Peranan dukun bayi pun sudah mulai tampak sejak awal kehamilan sampai kelahiran.  Dalam upacara tujuh bulan yang sering disebut dengan istilah mitoni [6] dukun bayi menjadi pemimpin jalannya upacara untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang dikandungnya dari mara bahaya. Bahkan masyarakat percaya bahwa dukun bayi bisa dijadikan mediator antara keluarga ibu hamil dan roh leluhur, sehingga keluarga akan mempercayakan dukun untuk memintakan restu demi keselamatan ibu dan bayinya. Setelah upacara mitoni ini berakhir hubungan antara dukun bayi dengan ibu hamil tidak terputus, justru makin intensif. Dukun bayi akan datang secara periodik untuk merawat ibu hamil, seperti memijit/mengurut, dan dukun ini pula yang nanti dipercaya membantu proses persalinan.

Ketika waktu persalinan tiba, sambil menunggu saat-saat kelahiran bayi, masing-masing dukun punya cara tersendiri untuk menyiasati waktu tunggu tersebut. Kebanyakan dukun bayi memberi nasihat-nasihat sambil menyabarkan calon ibu. Biasanya nasihat yang diberikan selalu dikaitkan dengan adat, kebiasaan, atau tingkah laku calon ibu yang bersangkutan. Bahkan nasihat yang berupa ajaran kepasrahan untuk menerima takdir kematian jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam proses persalinan, karena jika hal itu terjadi sudah merupakan kodrat perempuan.

Biasanya lingkungan atau tempat yang akan dipakai untuk melahirkan harus terang dan bersih, untuk itu dukun bayi akan meminta membuka jendela jika ada, dan kalau tidak dia akan meminta tolong untuk membuka genting atau meminta penerangan dengan lampu petromaks. Namun satu kasus yang kebetulan sempat diikuti proses dari awal sampai akhir di salah satu desa, justru dukun menolong persalinan dalam kamar yang remang-remang cenderung gelap. Dukun yang menolong tersebut sudah sangat tua, ia mengaku berusia 90 tahun. Ketika ia dipanggil untuk menolong persalinan, ia tidak membawa alat-alat dukun Kit-nya. Ia hanya membawa minyak kelapa dan bungkusan di selendangnya, yang berisi obat merah dan welat [7] yang akan digunakan untuk memotong tali pusar. Menjelang maghrib, sang dukun baru tiba di rumah ibu yang akan melahirkan. Sang dukun bayi hanya meminta direbuskan air dan meminta kain panjang dalam kamar yang temaram. Tidak lama kemudian bayi bisa keluar dengan selamat dengan pertolongan yang benar-benar jauh dari standar kesehatan.

Peristiwa melahirkan ini memang kebanyakan masih kental diwarnai dengan kepercayaan dan adat masyarakat setempat. Bahkan tidak jarang ditemui peristiwa melahirkan yang dilakukan di tanah beralas tikar karena kalau di tempat tidur akan mendatangkan sengkolo (bahaya) bagi bayi dan ibunya. Ada juga yang diharuskan melahirkan di atas tampah (tempat menampi beras) di lantai, masyarakat percaya bahwa melahirkan memang harus demikian demi keselamatan ibu dan bayinya.

Sampai saat ini masih sedikit jumlah dukun bayi yang mempunyai peralatan dukun Kit. Peralatan canggih sudah barang tentu memiliki aturan (sterilisasi) pada dirinya. Prosedur sterilisasi memang sering diabaikan oleh dukun bayi karena faktor terburu-buru, banyak pasien, atau juga belum terbiasa. Mungkin, inilah salah satu asumsi tentang risiko terkena tetanus yang berakibat kematian bayi.

Hubungan ibu dan dukun bayi akan terjalin terus setelah melahirkan sampai kira-kira 35 hari (selapan ). Hal ini bisa dimaklumi karena dukun bayi diminta merawat ibu dan bayi dengan imbalan yang tidak begitu mengikat harus dibayar dengan uang tunai. Hal ini akan sangat berbeda kondisinya jika melahirkan ditolong oleh bidan desa yang seringkali tidak akan dengan suka rela mau merawat ibu dan bayi sampai 35 hari tanpa imbalan memadai. Biasanya ibu akan dipijit atau diurut oleh dukun bayi setelah masa nifas yang sering disebut dengan “walik dadah“. Tentu ada kontroversi. Secara medis setelah masa nifas perut ibu tidak boleh dipijit karena bisa menimbulkan luka baru dan perdarahan, sementara menurut sebagian dukun bayi tidaklah demikian. Jika setelah dipijit terus keluar darah dikatakan sebagai darah kotor yang tersisa, dan justru akan diurut terus sampai berhenti mengeluarkan darah. Persoalan makan pun jadi fenomena. Kondisi ini diperparah dengan di beberapa perkampungan, sembarangan makan pada waktu hamil dan paska melahirkan adalah pantangan. Ada kebiasaan, ibu yang baru melahirkan harus makan makanan yang direbus dan bukan yang digoreng, telur dan daging ayam juga tidak boleh dimakan, ibu juga dilarang makan gula merah karena nanti anaknya akan lodoken (kotoran yang keluar dari mata). Sementara bidan justru menganjurkan agar makanan-makanan tersebut tetap dikonsumsi karena sangat membantu pemulihan kesehatan ibu dan dapat memperbanyak produksi air susu ibu (ASI).

Ada yang selamat, ada juga yang meninggal meskipun ditolong dengan prosedur yang berbeda. Baik dukun bayi maupun bidan tentu tidak lebih sebagai perantara yang tidak bisa dijadikan sebagai penentu tunggal. Banyak hal yang harus dilihat ketika seorang ibu akan melahirkan: kesehatan fisik maupun mental, ketepatan waktu, dan banyak lagi yang lain yang juga sangat menentukan proses melahirkan.

Di samping itu, dukun bayi merupakan fenomena yang sulit surut dan terpukul mundur oleh gencarnya modernitas yang sarat kekakuan. Dukun bayi merupakan entitas yang juga masih kental spirit kultural, sarat kasih sayang dan ketelatenan yang semua itu tidak mudah ditemukan di puskesmas atau rumah sakit mewah di bilangan kota. Mengkerdilkan dukun bayi dan memangkirkan dari komunitas masyarakat bukan hanya tindakan yang tidak arif melainkan juga mematok orang untuk patuh pada satu pilihan. Padahal, kehadiran dukun bayi merupakan pilihan dari berbagai pilihan lain yang bisa dirujuk. Mungkin, yang tetap penting untuk dilakukan adalah memberikan wadah, merangkul, dan berbagi pengetahuan tentang perlunya menolong ibu melahirkan secara baik tanpa adanya peminggiran terhadap dukun bayi lebih karena asumsi: sang dukun hanyalah produk tradisional yang tidak patut memenuhi rongga-rongga modernitas.

Tri Marhaeni Pudji Astuti

Staf pengajar Jurusan Sosiologi dan Antropologi

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang


[1] Sawanen adalah suatu penyakit yang diyakini masyarakat setempat sebagai akibat gangguan makhluk halus, yang bisa berupa berbagai penyakit fisik maupun mental.

[2] Sawanan adalah ramuan dari berbagai tanaman tradisional yang diyakini bisa menolak mara bahaya bagi si pemakai

[3] Garam yang butirannya besar-besar dan mempunyai sisi-sisi sangat tajam

[4] Gangguan makhluk halus, yang biasanya muncul menjelang waktu shalat maghrib

[5] Sungsang adalah bayi yang lahir dengan kaki keluar terlebih dahulu, seharusnya bagian kepala terlebih dahulu.

[6] Mitoni adalah upacara yang dilakukan ketika usia kehamilan memasuki tujuh bulan.

[7] Welat adalah bilah bamboo yang diraut tipis dan diambil yang paling tajam, biasanya bagian kulit bambu, yang nantinya digunakan untuk memoton pusar bayi yang baru dilahirkan.


Beranda  |  Kategory: Edisi 09 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia