Selamat Tinggal Kartini Selamat Datang Ratu Kalinyamat

21 - May - 2006 | Miftahus Surur | No Comments »

Sore itu hujan mengguyur perkampungan Tulakan-Sonder, + 25 km sebelah utara Kota Jepara, propinsi Jawa Tengah. Srinth!l baru menginjakkan kaki ketika sebuah teguran serta merta muncul dari bibir seorang perempuan paruh baya. “Mau nyari jodoh ya?” Srinth!l hanya bisa tersenyum, gagap, dan bertanya-tanya. Di sekitar perkampungan Sonder, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara itulah terletak sebuah petilasan yang diyakini penduduk sekitar sebagai tempat (pernah) bertapanya Ratu Kalinyamat, Adipati Jepara pertama. Tidak jauh dari tempat pertapaan, terdapat sungai dan pancuran air yang dianggap sebagai tempat mandinya sang Ratu.

Sebuah kisah sejarah yang tidak pernah terbakukan itu kemudian mengemuka menjadi versi. Kekeramatan Ratu Kalinyamat menyisakan cerita – yang tidak jarang cenderung mitis – di benak masyarakat setempat. Entah dari mana muaranya, tapi yang jelas sebagian penduduk masih yakin bahwa air sungai tersebut mengandung petuah: sebagai obat dan bahkan sebagai sarana pelaris mendapatkan jodoh (pasangan hidup). Maka tidak heran, jika pada malam-malam tertentu, khususnya pada malam Jum’at Pahing akan dijumpai jubelan manusia yang kebanyakan perempuan beramai-ramai mandi di sungai tersebut di samping kemudian sowan (ziarah) ke petilasan Nyai Ratu.

Ketika ditelusuri, kisah mengenai kekuatan pelaris tersebut berasal dari efek magis (Jawa: sawaban) dari topo udo sinjang rambut (tapa telanjang dengan bertutup rambut)-nya Ratu Kalimanyat. Tapa “telanjang” itu dianggap memiliki daya magis yang luar biasa dan bukan semata-mata simbol kepiluan. Meskipun demikian, tidak semua masyarakat sekitar Sonder mengiyakan mitos tersebut. Bagi sebagian masyarakat yang penganut Islamnya kuat, kepercayaan terhadap kekuatan atau daya pelaris perempuan akibat sawaban Ratu Kalinyamat tersebut hanyalah penyimpangan yang dibuat-buat. Kiai Thohir (77 thn), salah seorang sesepuh desa mengatakan bahwa cerita tersebut merupakan karangan yang tidak mengandung kebenaran. “Mana mungkin Nyai Ratu berlaku demikian (tapa telanjang, Red.). Orang-orang itu memaknai topo udo sinjang rambut secara harfiah. Padahal maknanya tidak demikian. Yang dimaksud udo itu adalah pelepasan dari semua simbol kekeratonan, simbol keratuan, dan kekayaan duniawi. Beliau itu kan termasuk wali, keturunan Sultan Trenggono yang sudah diakui keulamaannya, jadi sangat mustahil melakukan perilaku yang tidak senonoh,” ujarnya.

Alih-alih melakukan klarifikasi atau mungkin juga pembelaan yang mengarah purifikasi, tetapi ketokohan Ratu Kalinyamat yang sudah menjadi legenda imajiner tersebut tidak pernah lekang dari pemaknaan yang mendua. Ia menjadi mitos yang diuri bukan hanya karena kesuciannya tetapi juga anggapan tentang adanya unsur magis pada dirinya. Mbah As’ad (77 Thn), salah satu sesepuh kampung Kalinyamatan menuturkan bahwa kekuatan Ratu Kalinyamat itu masih bisa dirasakan sampai sekarang. “Saya sendiri punya peninggalan Nyai Ratu berupa tombak dan batu akik. Dan semenjak saya memiliki pusaka itu, kehidupan saya semakin tentram, seolah-olah kedua pusaka ini ikut membantu menjaga hidup saya dan keluarga,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa 20 tahun yang lalu ia pernah membuat batu bata yang bahan tanahnya diambil dari setinggil – tanah tinggi tempat kerajaan Ratu Kalinyamat yang jaraknya hanya 100 m dari rumahnya. “Tapi aneh, hampir dua hari saya membakar 125 batu bata mentah, tapi tidak ada satu pun yang matang. Lalu saya pindahkan pembakaran di tempat lain, di luar area setinggil, alhamdulillah bisa matang,” ceritanya lebih lanjut.

Informasi Bisu: Siasat Perempuan “Pinggiran”

Desa Mantingan (+ 20 Km sebelah selatan Kota Jepara) boleh dibilang satu-satunya kampung di seluruh seantero Jepara yang lebih banyak produksi ukirannya. Kampung ini pun sangat dikenal sebagai tempat persemayaman akhir Ratu Kalinyamat, yang diakrabi, dipuja, dan disambangi oleh warga sekitar. Secara kategoris, kaum laki-laki di Mantingan lebih banyak yang menekuni ukir, sementara tidak sedikit para perempuan yang ikut nimbrung sebagai tukang amplas. Kegiatan seperti ini merupakan pemandangan yang tiap hari terpampang di Mantingan. Sangat berbeda jika kita tengok di dusun-dusun sebelahnya dimana pembagian kerja lebih terfokus pada bidang pertanian dan perdagangan.

“Nah, makanya wajar kalau di Mantingan itu rumahnya bagus-bagus kayak di kota karena usaha mereka kan di bidang mebel. Sering juga didatangi bule yang ingin membeli barang-barang ukiran seperti meja, kursi, dan sebagainya. Tapi, ya seperti itu. Kok kayaknya kalau sedang kerja tidak kenal waktu. Apalagi kalau pas lagi banyak pesanan, siang dan malam terdengar mesin ketam kayu,” ujar Sami’ah (39 thn), salah satu penduduk Desa Sowan Kidul, Jepara.

Sami’ah sepertinya ingin menjelaskan keuletan kerja yang dilakukan oleh mayoritas penduduk Mantingan dibanding dengan penduduk dusun lain. Asumsi mengenai kesejahteraan yang bersinggungan dengan kehidupan ekonomi sepertinya berusaha dimentahkan. Bahkan, perdebatan mengenai segregasi gender yang menitikberatkan pada hubungan timpang antara laki-laki dan perempuan yang seringkali ditilik dari pembagian kerja yang tidak seimbang pun berusaha dipertanyakan ulang oleh Sami’ah. “Lha, kalau di sini kan beda. Kebanyakan orang sini bekerjanya di sawah, itu kan tidak tiap hari dan tidak terlihat ngoyo. Bagi kami, biarpun rumah jelek, yang penting bisa makan, anak-anak bisa sekolah, dan tenang ibadah. Buat apa kerja terus tapi tidak pernah kumpul sama tetangga, tidak pernah ikut pengajian ibu-ibu, jarang yasinan karena kalau sudah malam capek akibat terlalu banyak kerja,” lanjutnya.

Dengan pengertian lain, asumsi mengenai peminggiran kaum perempuan dari wilayah publik – biasanya berupa partisipasi politik dan sosial yang, kerap dianggap masuk wilayah laki-laki -  menjadi lebih cair. Perempuan yang bekerja di sawah atau sebagai tukang amplas tidak menganggap itu sebagai tekanan (pressure) berbasis gender, tetapi lebih berdasarkan keinginan saling mengisi dalam membangun kehidupan rumah tangga secara bersama-sama. Mungkin, satu hal yang masih melekat dalam pola interaksi itu adalah kuatnya konstruksi yang berbasis agama mengenai posisi dan peran laki-laki/perempuan dalam kehidupan masyarakat. Hal ini sangat wajar mengingat hampir seluruh perkampungan yang tersebar di wilayah Jepara sedikit banyak berhimpitan dengan pesantren, basis keilmuan agama Islam.

Seiring dengan itu, Srinth!l sempat pula terhenyak ketika tidak sedikit perempuan yang menghindar untuk dimintai keterangan mengenai sejarah dan peran Ratu Kalinyamat di Wilayah Jepara. Terlepas dari apakah sosok Ratu Kalinyamat sudah menjadi mitos yang sarat dengan kekeramatan, tetapi penghindaran itu lebih dikarenakan rasa khawatir – mungkin juga takut – berbicara sembarangan. Sekilas, sepertinya tampak adanya perbedaan bidang antara laki-laki dan perempuan, terutama dalam persoalan siapa yang lebih otoritatif memberikan informasi kepada pihak lain. Dalam hal ini, laki-laki lebih dipercaya untuk melakukan pembicaraan publik kepada pihak luar. Hampir di setiap tempat di mana Srinth!l singgah, keingintahuan untuk menanyakan sesuatu hampir pasti dijawab dengan “silahkan tanyakan kepada pak Petinggi (Kepala Desa/Lurah).” Dan ketika seorang istri ditanya tentang sesuatu, maka ia lebih memilih untuk menyerahkan jawabannya kepada, atau paling tidak ditemani oleh sang suami. Rasa takut dan khawatir memberikan informasi yang salah kepada pihak lain membuat para perempuan lebih menyerahkan segala sesuatunya kepada suami atau pejabat lokal yang dipercaya.

“Wah saya takut kalau nanti ada apa-apa. Apalagi kalau sampai yang saya katakan salah, bisa-bisa saya ditangkap,” ujar Rini (46 thn) kepada Srinth!l. Mungkin pernyataan seperti ini merupakan sindrom yang masih melekat pada sebagian benak masyarakat di berbagai daerah yang sering ditakuti-takuti oleh pemerintah (Orde Baru) agar masyarakat tidak berbicara mengenai segala sesuatu – terutama kritik terhadap aparat – kepada orang lain. Praktik pembungkaman publik seperti ini mendorong masyarakat untuk mengapresiasi segala sesuatu yang dianggap asing secara hati-hati. Dan perempuan, sebagai pihak yang terkadang berhadapan dengan persoalan ini lebih memilih mencari “selamat” dengan menyerahkan otoritasnya kepada laki-laki.

Mungkin dan bisa jadi bahwa penyerahan otoritas dari pihak perempuan kepada laki-laki seperti ini bukanlah jenis pembedaan peran yang berdampak pada bentuk diskrimasi gender dalam kehidupan masyarakat lokal, melainkan lebih tepat dibaca sebagai sebuah siasat untuk menyelamatkan diri, paling tidak menghindar dari beban psikologis yang membuatnya merasa tidak nyaman akibat ungkapan-ungkapan dan cerita-ceritanya yang “tidak pas.”

Jejak Langkah Ratu Kalinyamat dalam ‘Teks’ Jepara

Sampai saat ini, cerita tentang Ratu Kalinyamat tetap menjadi kisah yang diuri, kental dengan mistik, seperti takhayul yang sulit untuk dikoreksi. Tapi tokh apa pentingnya ketika masyarakat menerima legenda itu tanpa kritik dan tidak sedikit yang menjadikannya simbol kepahlawanan dalam konteks kehidupan politik lokal. Bahkan, makam tempat persemayaman Sang Ratu yang terletak di Desa Mantingan itu tidak pernah sepi dari pengunjung. Ada yang sekedar kirim doa, tapi ada juga yang memohon “sesuatu”, ngalap berkah. Maklum, semasa hidupnya sosok perempuan yang satu ini bukan sembarang sosok. Ia punya trah, berdarah biru, dan pengampu tradisi kerajaan besar Islam di Jawa kala itu: Demak.

Ada tutur yang mengatakan bahwa Ratu Kalinyamat – yang nama aslinya Ratu Retna Kencana, ada juga yang mengatakan Raden Ayu Wuryani – merupakan keturunan dari Sultan Trenggono (1504 – 1546 M), yang berarti pula cucu dari Raden Patah (1478 – 1501 M), raja pertama kerajaan (kesultanan) Demak. Setelah beberapa tahun memerintah Jepara, kesendirian memegang tampuk kekuasaan membuat Ratu kalinyamat merasa perlu untuk mencari seorang pendamping. Pada waktu yang sama, datanglah seorang perantau bernama Raden Thoyib, putra Syeikh Muhayyat Syah, Raja kerajaan Islam Aceh.

Menurut riwayat, sang pendatang ini adalah raja dari Samudera Pasai yang pergi meninggalkan kerajaan karena dirongrong oleh Raden Takyim, sang kakak yang merasa berhak menduduki kursi sultan setelah ayahnya mangkat. Seteru membuat Raden Thoyib minggir, pergi tanpa tujuan sampai akhirnya mendarat di Tiongkok dan diangkat sebagai anak oleh Cie Wie Gwan, patih kerajaan Tiongkok kala itu. Tak lama kemudian, kerajaan dirundung persoalan. Giwang mahkota kaisar Tiongkok rusak dan tidak ada satu pun ahli logam di seluruh pedaratan Tiongkok yang mampu memperbaikinya. Sayembara diumumkan, sang patih mendapatkan mandat, dan kepala menjadi taruhan. Kesedihan sang patih membuat Raden Thoyib tergerak dan akhirnya menyediakan diri untuk memperbaiki mahkota kaisar. Konon, hanya dalam waktu satu malam Raden Thoyib mampu memperbaiki mahkota kaisar dan bahkan lebih bagus dari sebelumnya. Kekaguman kaisar terhadap kemampuan Raden Thoyib membuatnya ingin mengangkat pangeran Aceh ini menjadi anak. Raden Thoyib menolak, bukan jabatan yang ia inginkan atau kedudukan besar menjadi putra kaisar. Ia semakin gerah, rayuan yang datang bertubi-tubi membuat telinganya semakin bising, muak, dan membosankan. “Bukan di sini tempatku,” ujarnya hingga secara diam-diam ia pergi meninggalkan Tiongkok sampai akhirnya mendarat di Jepara.

Di Jepara, ia lebih menampilkan diri sebagai muslim yang berpijak di tengah-tengah masyarakat yang memiliki kepercayaan plural: Hindu, Budha, Kejawen, dan juga Islam. Mula-mula ia kikuk, ia sadar bahwa dirinya adalah orang asing yang secara tiba-tiba hadir. Tapi, mungkin juga ia sadar bahwa di sekitarnya membutuhkan sebuah kehadiran baru yang meskipun muncul sekonyong-konyong namun membawa sebuah inspirasi atau mungkin juga wahyu yang harus diwedar. Mula-mula Raden Thoyib hanya menyampaikan satu-dua ayat kepada komunitas di sekelilingnya. Lambat-laun, ia menjadi da’i kondang yang memikat banyak orang untuk mengikuti jejaknya: menjadi muslim yang berpegang teguh pada Alquran.

Tapi entah atas dasar apa jika kemudian Raden Thoyib justru mengabdikan diri di kerajaan Kalinyamat sebagai tukang Kebun. Pertemuan demi pertemuan, pembicaraan demi pembicaraan membuat Ratu Kalinyamat merasa ingin mengetahui kejelasan identitas abdinya. Awalnya Raden Thoyib hanya terpaku diam dan tidak memberikan jawaban, sebuah sikap yang justru memunculkan kemarahan bagi sang Ratu. Pada sisi ini, mungkin diamnya Raden Thoyib dianggap sebagai penghinaan, membuat sang Ratu geram dan penasaran karena diam berarti tidak ada dialog, tidak ada bahasa yang bisa merumuskan ruang bersama, dan cakap menjadi terhenti. Konsekuensinya, Raden Thoyib dipenjarakan. Tapi akibat dari desakan yang terus-menerus, akhirnya Raden Thoyib membeberkan siapa dirinya sebenarnya. Debar jantung Ratu Kalinyamat semakin tak terkira saat mendengar penuturan abdinya, sebuah kalimat terngiang “putriku, calon suamimu kelak adalah seorang trah yang bukan Jawa. Ia berasal dari seberang dan dialah yang akan membahagiakanmu,” ujar sabda yang pernah dilontarkan oleh sang ayah. Dan tanpa keraguan sedikit pun, Ratu Kalinyamat meminta Raden Thoyib menjadi suaminya. Setelah menikah, Ratu Kalinyamat menyerahkan tampuk kepemimpinan kerajaan kepada sang suami yang kemudian diberi nama baru Sultan Hadlirin, yaitu raja yang datang dari tanah seberang.

Sepeninggal Pangeran Sabrang Lor (Sultan Demak II), terjadilah perebutan kekuasaan Demak antara Pangeran Sekar dan Raden Trenggono. Sunan Prawoto, putra Raden Trenggono sekaligus kakak Ratu Kalinyamat lalu membunuh Pangeran Sekar dengan harapan kelak dialah yang akan mewarisi tahta kerajaan. Terbunuhnya Pangeran Sekar secara otomatis membuat tampuk kepemimpinan diwarisi oleh Raden Trenggono. Dan setelah Sultan Trenggono wafat, kekuasaan diambilalih oleh Sunan Prawoto. Layaknya pembunuhan Arok oleh Anusapati yang akhirnya juga mati diujung keris yang sama oleh Tohjaya. Sejarah terulang. Ario Penangsang, putra Pangeran Sekar ini sakit hati dan memerintahkan Rangkut untuk membunuh Sunan Prawoto. Peristiwa meninggalnya Sunan Prawoto – meskipun secara tidak langsung – di tangan Ario Penangsang membuat Ratu Kalinyamat gusar. Bersama dengan Sultan Hadlirin, keduanya berangkat ke Kudus untuk minta keadilan kepada Sunan Kudus, yang juga mertua Sultan Hadlirin dari istri keduanya bernama Raden Ayu Pradabinabar di samping Ratu Kalinyamat, terhadap apa yang telah dilakukan oleh Penangsang, murid kesayangan Kanjeng Sunan. Apa lacur, bukan pengadilan yang diperoleh justru pembelaan Sunan Kuduslah yang muncul. “Lho, kakakmu kan memang berhutang nyawa pada Penangsang. Yah, anggap sajalah sebagai pembayar hutang. Lunas bukan?!” ujar Kanjeng Sunan enteng.

Ratu Kalinyamat terdiam, tentu saja ia kecewa. Dengan segera ia meninggalkan salah satu jenderal Wali Songo itu kembali ke Jepara. Tapi Ario Penangsang masih blingsatan. Ia pun tahu bahwa sepeninggal Sunan Prawoto, untuk sementara Demak diampu oleh Sultan Hadlirin sembari menunggu Ario Pangiri, sang pewaris Demak itu dewasa dan siap menerima tahta. “Tanggung Kanjeng Sunan. Akar yang satu ini jika dibiarkan tumbuh akan mempersulitku di kemudian hari. Ini harus dibersihkan!” bisik Penangsang kepada sang guru.

Tidak jelas apa jawaban Sunan Kudus waktu itu, yang pasti kemudian Ario Penangsang mengirim utusan untuk membunuh Sultan Hadlirin. Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat yang sedang berada di tengah perjalanan terkejut ketika keduanya dihadang oleh utusan Ario Penangsang dengan keris – ada yang mengatakan tombak – terhunus di tangan. Tanpa perlawanan berarti, akhirnya Sultan Hadlirin terbunuh di depan Ratu Kalinyamat.

Terdapat versi lain yang menuturkan bahwa terbunuhnya Sultan Hadlirin adalah efek dari “pembangkangannya” terhadap Sunan Kudus karena mangkir dari amanat Kanjeng Sunan untuk turut membantu mendirikan Masjid Kudus. Meskipun kemangkiran ini sudah dipenuhi oleh Sultan Hadlirin dengan membuat mihrab masjid kudus dari klaras (daun-daunan) layaknya Sunan Kalijaga yang membuat salah satu tiang masjid Demak dari tatal kayu, tetapi perbuatan Sultan Hadlirin ini justru dianggap sebagai pamer kesaktian di hadapan Kanjeng Sunan. Sang wali marah, Penangsang bertindak dan membuat Ratu Kalinyamat menjadi janda. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 1549 M.

Entah apa yang dirasakan Ratu Kalinyamat melihat kenyataan suaminya meninggal di tangan Penangsang. Apalagi ketika ia tahu bahwa di balik peristiwa ini terdapat campur tangan wali, Kanjeng Sunan Kudus yang cukup dikenal ortodoksinya. Geram, haru, duka, dendam campur aduk menjadi satu. “Ini kesewenan-wenangan, ini tidak adil, apa salah suamiku?” rintih Sang Ratu. Penderitaan batin yang ditanggungnya membuat permaisuri Jepara itu pergi meninggalkan kerajaan, melakukan perjalanan dan bertapa di beberapa tempat untuk menghilangkan duka: topo udo sinjang rambut, begitu Babad Tanah Jawi menuturkan.

Laku tapa Ratu Kalinyamat ini membuat keluarganya resah. Jaka Tingkir (Hadiwijaya), Adipati Pajang yang juga ipar Ratu Kalinyamat sempat mendatangi tempat pertapaan sang Ratu dan diminta untuk kembali ke keraton. Ajakan itu ditampik, “aku tidak akan kembali sebelum keramas dengan darah Penangsang,” sumpah Ratu Kalinyamat. Jaka Tingkir tersungut. Ia berpikir, skenario harus segera dibuat, Ario Penangsang harus dibunuh. Atas siasat yang dibangun bersama Ki Ageng Pamanahan, Ki Panjawi, dan Ki Juru Mertani, akhirnya Ario Penangsang terbunuh di tangan Danang Sutawijaya.

Entah berapa tahun lamanya Ratu Kalinyamat melakukan tapa. Paling tidak, terdapat tiga tempat yang pernah dijadikan singgah sang Ratu. Pertama di daerah yang saat ini dikenal dengan nama Gilang, + 100 m sebelah timur masjid Mantingan. Dengan ditemani kedua putri angkatnya Semangkin dan Prihatin, Ratu Kalinyamat mulai melakukan semadi. Tapi tidak lama kemudian, mungkin juga dirasa kurang nyaman lalu Ratu Kalinyamat pindah ke tempat pertapaannya yang ke dua di daerah Donoroso, tempat yang saat ini di kenal dengan nama kampung Pengkol yang berdekatan dengan pusat pemerintahan Kabupaten Jepara. Menurut Sri Setiawati, Juru Kunci pertapaan bahwa singgahnya Ratu Kalinyamat di tempat ini pun tidak berlangsung lama karena Ratu merasa kurang tenang, hingga akhirnya Ratu Kalinyamat pindah ke Sonder, Kecamatan Keling. Di tempat inilah Ratu Kalinyamat menghabiskan masa bertapanya hingga akhirnya ia bersedia kembali ke keraton setelah ia menyaksikan sendiri potongan kepala Ario Penangsang yang dipersembahkan oleh Jaka Tingkir.

 

Menghadirkan Pesona: Sang Ratu dalam Ingatan

Sepertinya bukan sesuatu yang berlebihan jika dikatakan bahwa hampir seluruh warga Jepara sangat memuji kisah legendaris Ratu Kalinyamat. Hal ini terbukti dengan kenyataan di mana makam Ratu Kalinyamat sampai detik ini selalu ramai dikunjungi banyak orang, bukan hanya dari wilayah Jepara tapi juga dari Demak, Kudus, dan sekitarnya. “Ya orang yang datang ke sini itu macam-macam. Tapi kebanyakan mereka berharap mendapatkan berkah dari Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin, karena keduanya kan waliyullah,” jelas Mbah Ahmad Muzaidi (62 thn), juru kunci makam. Demikian halnya dengan Muhammad Ihsan (26 thn) dan Anisa (21 thn), pasangan suami-istri ini mengaku bahwa hampir setiap malam Jum’at selalu ziarah ke makam Ratu Kalinyamat yang terletak di samping Masjid Mantingan. Dalam doa, keduanya berharap agar berkah Yang Kuasa dilimpahkan melalui doa yang dikhususkan untuk Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin. “Untuk madangke piker (menjernihkan pikiran). Istri saya ini kan sekarang sedang hamil dua bulan. Jadi kami minta semoga kehamilan istri saya ini selalu dalam keadaan baik dan nanti lancar waktu melahirkan,” ucap Ihsan.

Terlebih lagi jika bertepatan dengan malam Jumat Pahing atau tanggal 17 Jumadil Awwal (sistem pertanggalan menurut tahun hijriyah/Islam), maka hampir satu malam suntuk makam Ratu Kalinyamat dan makam suaminya selalu penuh dengan jubelan peziarah. Maka tidak aneh jika tempat pemakaman yang satu ini layaknya sebuah tempat pariwisata yang dianggap unik, eksotis, dan memiliki nilai sejarah tersendiri sehingga menarik orang untuk mengunjunginya. Hal ini dibenarkan oleh Petinggi Mantingan, Achmad Slamet yang mengatakan bahwa makam tersebut lebih tepat disebut sebagai pariwisata religius. Dengan santai ia mengatakan bahwa dirinya tidak merasa kuatir terjadi penyimpangan perilaku peziarah ketika makam tersebut dijadikan sebagai ajang pariwisata. “Kenapa harus takut. Lagian siapa yang bakal macam-macam di makam, bisa-bisa kualat, terkena bendu. Orang ke sini kan ya cuma untuk sowan, kirim doa. Masak kalau pacaran ke sini kan ya tidak mungkin,“ ujarnya.

Lain halnya dengan Syaikuna (45 thn). Sosok yang dianggap kiai oleh masyarakat sekitar kampung Sowan Kidul, Jepara itu mengatakan bahwa dirinya lebih sering ziarah ke Imogiri, Yogyakarta karena di sanalah makam Ratu Kalinyamat yang sebenarnya. “Yang saya tahu yang di Mantingan itu makam Sultan Hadlirin. Sementara menurut pengembaraan spiritual saya, makam Nyai Ratu Kalinyamat ya yang di Yogyakarta itu,” jelasnya. Memang, sampai saat ini terdapat perbedaan keyakinan dan pengetahuan antara yang “asli” atau “tidak asli” mengenai makam Ratu Kalinyamat. Di Imogiri, Kota Gede Yogyakarta juga terdapat makam yang diyakini sebagian masyarakat sebagai tempat persemayaman Ratu Kalinyamat. “Yah, itu kan biasa saja to? Makam Syeikh Abdul Jalil (Syeikh Siti Jenar. Red) saja tidak hanya satu kok, di tempat lain juga ada. Kita kan tidak tahu persis apakah yang di Mantingan, di dekat makam Sultan Hadlirin itu makam Syeikh Abdul Jalil yang asli atau bukan,” lanjutnya.

Meskipun demikian, sepertinya masyarakat tidak terlalu peduli dengan hal itu. Yogyakarta atau Mantingan bukanlah pembeda atau penghalang untuk menghadirkan wajah Ratu Kalinyamat dalam kehidupan masa kini. Sejarah kepahlawanan sang Ratu merupakan perekat imajinasi masyarakat untuk memantapkan posisi kekuasaan dan kebudayaan Jepara sebagai trah kerajaan Demak yang memangku tradisi Islam pertama di wilayah Jawa. Masyarakat tidak lupa bagaimana gigihnya Ratu Kalinyamat berjibaku melawan penjajahan Portugis. Tahun 1550 M, Raja Johor di Malaka meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk bersama-sama bertempur mengusir Portugis dari tanah Malaka. Permintaan itu ditanggapi oleh Ratu Kalinyamat dengan mengirimkan bantuan bala tentara yang diangkut oleh 40 buah kapal yang kemudian bergabung dengan bala tentara yang berasal dari negeri Islam yang lain. Serangan tentara gabungan tersebut gagal dan dapat dipatahkan oleh Portugis. Tapi, 24 tahun kemudian (tahun 1574 M), Ratu Kalinyamat kembali mengirimkan bala tentara Jepara ke Malaka untuk menghancurkan portugis meskipun dapat dipatahkan juga oleh Portugis.

Salah satu faktor yang membuat Ratu Kalinyamat tetap dijadikan sosok legendaris masyarakat Jepara adalah bergabungnya dua identitas kepribadian antara sultan (sebagai keturunan raja yang cukup disegani) dan muslimah yang cukup diakui ketekunannya menjalankan ajaran agama. Fenomena ini menjadi relevan ketika mayoritas wilayah Jepara dihuni dan sesak dengan simbol-simbol Islam. Masyarakat lebih merasa penting untuk membesarkan anak-anaknya di pesantren daripada tempat belajar yang lain. “Lho kalau jaman dulu, sekolah(an) itu buat apa wong sudah ada pondok (pesantren). Apalagi anak perempuan, yang penting bisa ngaji ya cukup. Sekolah itu kan untuk orang-orang yang mampu, priyayi, anak pejabat, bukan untuk wong cilik,” ujar Rini.

Sampai saat ini, pesona religiusitas Ratu Kalinyamat masih bisa dinikmati dan dilihat oleh warga masyarakat seperti adanya masjid Mantingan (1559 M), dan makam Sultan Hadlirin – atau disebut dengan mausoleum jirat. Pesona tersebut semakin kental dalam benak masyarakat ketika antusiasme warga seolah-olah tidak pernah lupa dengan kegigihan Sang Ratu yang berjibaku melawan penjajahan Portugis, “perempuan yang gagah berani (De Krange Dame). Raha Jepara, seorang perempuan kaya dan memiliki pengaruh besar (Rainha de Jepara senhora Poderosa e rice),” demikian De Ceuto – penulis Portugis – menuturkan.

Di samping itu, konstruksi dan imajinasi masyarakat terhadap pesona Ratu Kalinyamat terus dipupuk melalui rutinitas masyarakat Jepara yang selalu melakukan peringatan “hari Kalinyamat” tiap tanggal 10 April, sebuah hari dimana pertama kali Ratu Kalinyamat menerima penobatan sebagai penguasa Jepara pada tahun 1549 yang lampau. Hendro Martojo, Bupati ke-47 Jepara mengatakan bahwa bagi masyarakat Jepara, Ratu Kalinyamat bukan hanya sosok, tapi juga figur yang mengilhami masyarakat. “Nyai Ratu itu pembela masyarakat kecil, setia, berani, dan adil. Dan bagi masyarakat Jepara, Nyai Ratu Kalinyamat itu adalah pejuang demi kemajuan Jepara dan juga tokoh agama. Itu yang bisa ditangkap dari figur Ratu Kalinyamat,” kata orang nomor satu di Jepara ini.

Pada tanggal ini, personifikasi Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin selalu dimunculkan dengan menampilkan sepasang laki-laki dan perempuan sebagai simbol fisikal dan mitis yang diarak keliling wilayah, mulai dari daerah Kalinyamatan – tempat yang diyakini sebagai pusat kerajaan Kalinyamat tempo dulu – sampai Mantingan.

Siapa pun pasti mengerti bahwa yang tampil, yang diarak, dan yang dipuja itu bukanlah Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin yang asli. Hanya saja, disadari atau tidak, mungkin inilah salah satu siasat paling jitu yang dipakai untuk mempercakapkan masa lalu atau kejayaan pemimpin lokal 500 tahun silam menjadi realitas masa kini yang mudah ditangkap dan diingat kembali oleh masyarakat. Tampaknya, masyarakat pun menyadari bahwa personifikasi melalui rutinitas peringatan tahunan seperti itu menjadi penting meskipun tidak lebih dari sekedar untuk mengingatkan kembali adanya kisah, sebuah lakon, atau cerita tentang Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadlirin. Mengingat bukan berarti hanya sekedar membuka kembali apa yang pernah terjadi, tapi di balik itu ada sesuatu yang tetap penting untuk dihadirkan.

Kartini, Di Manakah Engkau Kini?

Pesona yang tampak dengan penghadiran Ratu Kalinyamat sepertinya berbeda jika dibanding dengan pesona yang muncul dari “kehadiran” Kartini, pahlawan nasional yang juga berasal dari Jepara. Perempuan yang saat ini dipuja karena diyakini sebagai tokoh penggagas pencerahan bagi perempuan kolonial ternyata menyisakan resepsi yang tidak seindah, se-greget, atau se-mitis Ratu Kalinyamat. Meskipun darahnya bangsawan, priyayi karena menjadi putri Adipati Ario Sosroningrat yang sekaligus jelata karena ia juga cucu dari Ngasirah, anak Madirono yang dikenal sebagai buruh pabrik gula Mayong, tetapi peran yang pernah dilakukan Kartini hanya menyisakan sebuah tugu yang layak dilihat sebagai penanda sejarah di tengah lalu-lintas jalanan kota.

“Memang, Kartini itu layak menjadi pahlawan karena dia telah berjasa dengan membuka kesempatan bagi perempuan untuk mengenyam dunia pendidikan,” tutur Ana Khomsiah Damiri, ketua Koalisi Perempuan Indonesia Kabupaten Jepara. Pernyataan ini disangkal oleh Achmad Thohir yang melihat bahwa Kartini tidak memiliki peran apa pun dalam upaya pencerahan di bidang pendidikan.

“Kartini itu ya tidak memiliki peran apa-apa. Bapaknya saja antek londho (Belanda), sudah gitu usianya kan tidak lama. Jadi ya tidak memiliki peran apa-apa. Kalaupun orang mengatakan dia itu berperan dalam bidang pendidikan, sejarahnya tidak seperti itu. Dulu, Kartini itu kan dijadikan anak pingit, dia ingin belajar tulis tapi karena tidak memiliki teman, maka dia minta romonya untuk mendatangkan teman ke rumahnya. Jadi bukan atas inisiatifnya untuk melakukan pencerahan bagi masyarakat, tapi lebih karena kesepiannya di rumah,” jelas mbah Thohir.

Tak urung, sejarah telah memberikan penghargaan tersendiri bagi mendiang istri Djojohadiningrat ini. Namanya ditoreh sebagai Pahlawan (Kemerdekaan) Nasional. “Lha kalau mau jujur. Seharusnya yang layak menjadi pahlawan nasional itu ya Ratu Kalinyamat, bukan Kartini. Wong Nyai Ratu itu jelas-jelas bahu-membahu dengan prajurit, dengan rakyat melawan penjajah. Sementara Kartini kan cuma menulis, katanya dia pengen agar semua orang bisa sekolah, lha ini kan tidak pas to, wong dulu di Jepara ini orang lebih memilih ngaji di pesantren kok,” ujar Syaikuna.

Tampaknya, apa yang dikemukakan oleh mbah Thohir maupun Syaikuna berbanding lurus dengan ungkapan Klaus H. Schreiner (1997) bahwa pembentukan kategori pahlawan sebenarnya merupakan hasil dari kebutuhan negara yang merasa penting untuk memberikan kesadaran – lebih tepatnya indoktrinasi – bagi masyarakat (secara umum disebut sebagai warga negara) bahwa bangsa ini pernah melahirkan sosok yang berperan penting dalam pergerakan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Salah satu bentuk penyadaran ini seringkali dilakukan melalui beragam ritual – biasanya berbentuk upacara hari pahlawan – yang tujuannya tidak lebih sebagai dorongan penciptaan rasa nasionalisme dan kesadaran politik di dalam “kehidupan berbangsa dan bernegara.” Selain menyimpan agenda-agenda tertentu seperti penanaman penafsiran khusus tentang masa lalu untuk mengukuhkan kepentingan-kepentingan politik masa kini, pencatutan nama Kartini sebagai pahlawan nasional telah bergeser menjadi pencitraan perempuan yang dianggap pantas sebagai emblem negara. Sepantasnya kita mempertanyakan bahwa prosedur penetapan tentang seseorang layak menjadi pahlawan atau tidak ternyata melalui mekanisme tertentu yang sangat tergantung pada kepentingan kekuasaan.

Dengan demikian, anggapan bahwa Kartini adalah seorang feminis yang gigih memperjuangkan kebebasan bagi perempuan sepatutnya dikaji-ulang dalam rangka untuk menempatkan proyek pemberdayaan sebagai tolok-ukur keberlanjutan gerakan perempuan masa kini. Tepatkah aktifitas Kartini ditilik sebagai sebuah gerakan pembebasan perempuan dari belenggu kolonialisme, atau, sebuah cermin dari kegigihan elit perempuan yang merasa perlu menyelamatkan kehidupan perempuan yang lain? Ungkapannya pada tahun 1903 “berilah orang Jawa pendidikan” menampakkan asumsi Kartini yang melihat orang Jawa sebagai entitas bodoh yang tidak mengerti apa-apa, bahkan meminta uluran tangan Eropa untuk “mencerdaskan” orang Jawa, sebuah asumsi yang sering diadopsi oleh segelintir aktifis masa kini untuk melakukan “pemberdayaan” yang sama bagi perempuan.

Tentu, apa yang menarik dan tersisa dari kisah Kartini adalah sudut pandang, unek-unek, atau grundelan menyikapi dan berhadapan dengan, di satu sisi kolonisasi dan di pihak lain dominasi keluarga feodal. Semua itu terserak di dalam cantuman yang terkenal dengan sebutan Surat-surat Kartini, yang sulit kita saksikan bagaimana dialog terjadi karena yang terrekam hanyalah tulisan Kartini, sementara kritik dan balasan dari Stella atau Abendanon tidak sampai ke tangan publik. Mungkin, satu hal yang bisa dicermati dari korespondensi seperti itu adalah sebuah sikap maklum betapa sulitnya untuk memposisikan diri di hadapan kedua bentuk dominasi itu. Akhirnya, tawaran modernitas Eropa menjadi satu-satunya alternatif bagi Kartini untuk membangun sebuah citra mengenai kemajuan, pembebasan, dan kemandirian yang kesemuanya bertumpu pada keharusan untuk mengenyam pendidikan: “kau tahu kalau dari dulu, hingga kini, salah satu mimpi terbesar kami adalah pergi ke Eropa untuk melanjutkan pendidikan kami,” tulis Kartini 25 April 1903 yang lampau.

Sayang, entah karena keterputusan alur pemahaman sejarah atau semangat ‘pemberdayaan’ Kartini yang tidak menyentuh kalangan grassroot, pola pikir Kartini hanya tersisa di dalam ritual formal: upacara bendera dengan keharusan bagi para perempuan – mulai tingkat Sekolah Dasar sampai Ibu-ibu Pegawai Negeri Sipil – memakai kain batik, terkesan anggun, Jawa, dan priyayi. Mungkin benar bahwa ketika lirik lagu Ibu Kita Kartini tersenandung, kepala menjadi tertunduk, seolah-olah hikmad, tapi hati dan pikiran tertuju pada persoalan lain karena ketokohannya tidak lebih sebagai hasil dari kategorisasi penguasa yang ingin sekedar menjelmakan wajah, sejarah, dan pesonanya supaya tetap layak menjadi ingatan.

Cita-cita besar Kartini yang ingin melakukan kesetaraan pendidikan bagi masyarakat Jawa ternyata tidak pernah kesampaian. Maklum, karena Kartini sendiri tidak pernah bergumul dengan kehidupan perempuan yang saat itu sedang mengalami penindasan kolonial. Alih-alih berusaha melakukan pencerahan, ide-ide Kartini hanya patut menjadi pemikiran pribadi dan tidak pernah menyentuh kebutuhan kaum perempuan sejamannya. Di sinilah sebenarnya Kartini telah gagal, karena tidak mampu mewujudkan alur-pikirnya menjadi garapan publik yang bisa dinikmati oleh semua perempuan. Kita kian lupa atau bahkan tidak ambil peduli bahwa apa yang dicita-citakan Kartini merupakan medium bagi pengagungan Eropa yang ingin meletakkan diri sebagai pahlawan di tengah-tengah masyarakat yang “tidak berdaya.” Seolah-olah, kearifan Eropa hanya menjadi satu-satunya kiblat yang patut dijadikan sandaran mencari inspirasi di bidang pemikiran. Dan mungkin, hanya berkat cita-cita yang dibakukannya dalam berbagai tulisan itulah yang membuatnya menjadi patut untuk dijadikan sebagai pahlawan nasional.

Dalam hal ini, Ratu Kalinyamat sangat berbeda. Eropa bukan impiannya karena ia tahu bahwa Barat yang waktu itu datang bukanlah sesuatu yang layak untuk dijadikan standar, sebaliknya, Barat adalah orang lain atau juga musuh yang harus diusir dari wilayah Kalinyamat. Sampai detik ini, masyarakat Jepara mengingat Ratu Kalinyamat bukan karena ia hanya sekedar tokoh, tapi di sebagian benak dan batin yang masih mengirim doa, Ratu Kalinyamat adalah abdi masyarakat, waliullah, tidak lagi sekedar pemikir reflektif yang berandai-andai dengan pemikiran njelimet lalu dibanggakan karena ia memiliki dokumen berupa puluhan buku. Bagi Ratu Kalinyamat, pemikiran terkesan lebih banal dibanding ketika ia mengarahkan itu semua pada aksi transformatif. Di saat genting, ia tahu bahwa rakyat membutuhkan kehadirannya. “Entah aku ini seorang feminis atau bukan. Yang aku tahu, aku ini hanyalah seorang perempuan yang berusaha membangun kejayaan Jepara bersama rakyatku.”

Dan jika akhir-akhir ini beberapa orang dari Fakultas Sastra Universitas Diponegoro mengusulkan agar Ratu Kalinyamat pun dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional mudah-mudahan keinginan itu tidak mengarah pada bentuk material: kebanggan semu yang ingin melihat nama Ratu Kalinyamat turut menghiasi nama-nama jalan, gang rumah, dan patung-patung seperti pahlawan lain, yang seolah-olah patut menjadi ingatan tetapi kehilangan ruh dan simbol perekat sosialnya.


Beranda  |  Kategory: Edisi 09 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia