Manipulasi Orgasme pada Perempuan : Fenomena Budaya Patriarki pada Seksualitas

27 - May - 2004 | Sri Basittanti | No Comments »

Anak perempuan memang berkembang secara berbeda jika dibandingkan dengan anak laki-laki. Hal ini bukan hanya didukung oleh perbedaan organ seksual mereka melainkan juga konstruksi sosial-budaya yang demikian kuat sehingga menumbuhkan sikap yang –dipaksa- bergantung kepada laki-laki. Kebergantungan yang ‘terpaksa’ ini merambah pada hubungan yang lebih luas antara laki-laki dan perempuan, bukan hanya yang melibatkan hak dan kewajiban dalam bidang pekerjaan, tetapi juga masalah seksualitas. Seks diidentikkan dengan aktivitas laki-laki yang mencari dan membutuhkan kenikmatan. Laki-laki diberi permisivitas dalam memiliki imaginasi-imaginasi yang variatif dalam seksual. Namun, tidak begitu halnya dengan perempuan. Perempuan hanya diberi peluang untuk mengerti apa itu seks, ketika mereka menikah. Sehingga, hanya dari pernikahanlah perempuan dapat mengetahui apa itu seks, dengan pengetahuan yang juga sangat terbatas. Yaitu, pengetahuan yang diberikan oleh pasangannya yang juga menjadi pemimpinnya di dalam keluarga. Perempuan yang ingin banyak mengetahui tentang seks dianggap nakal dan tidak pantas. Terutama bagi perempuan-perempuan terhormat dan kalangan terpelajar. Seks merupakan hal yang sangat tabu sifatnya. Sedangkan laki-laki, sebagai suami, yang nantinya menjadi kepala keluarga, memiliki ruang lebih luas untuk belajar mengenai perilaku seks.

Konstruksi budaya patriarki yang membuat keleluasaan pada laki-laki untuk berbuat lebih daripada perempuan dalam segala hal, membuat laki-laki tidak malu-malu untuk membaca majalah-majalah, membuka situs-situs porno, dan melakukan praktik seksual pra-marital dan ekstra-marital. Aktivitas-aktivitas berimaginasi seksual, masturbasi atau persenggamaan tunggal, sekian lama hanya dikhususkan untuk laki-laki. Perempuan-perempuan yang mengerti tentang bagaimana berhubungan seks dengan melebihi pengetahuan laki-laki, biasanya hanyalah pelacur atau pekerja seks komersial yang memang dijadikan partner seks hanya untuk memenuhi kenikmatan para laki-laki dan tidak pantas untuk dinikahi. Itu sebabnya banyak perempuan yang enggan untuk membicarakan dan mengeksplorasi potensi seksual yang ada dalam diri mereka.

Seksualitas Laki-laki dan Perempuan dalam konteks Patriarki

Tidak diragukan lagi, laki-laki dan perempuan dari awalnya sudah dilihat sebagai kategori yang berbeda. Perempuan sendiri dianggap subordinat dengan adanya sejarah Adam dan Hawa. Adam dianggap superior dan superordinat karena terlahir lebih dahulu, dan mitos yang ada mengenai terjadinya Hawa dari tulang rusuk Adam menambah subordinat Hawa sebagai moyang dari perempuan. Bahkan Aristoteles, seorang filsuf yang amat tersohor, menyebutkan perempuan sebagai setengah manusia.

Dengan kata lain, budaya patriarki, baik yang berdimensi agama maupun adat istiadat lokal juga turut berpengaruh terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat dalam memandang dan menempatkan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari baik atau buruk implikasi yang muncul dari adanya budaya patriarki, yang jelas konstruksi sosial-budaya tentang perempuan sekiranya perlu diurai.

Penguraian ini menjadi penting karena wujud patriarki bisa dengan mudah beralih wujud, bukan hanya berbentuk laki-laki, tetapi juga berbentuk yang lain, seperti institusi, masyarakat, agama, dan sebagainya. Sylvia Walby (1993) mengemukakan bahwa patriarki bisa dibedakan menjadi dua: patriarki privat dan patriarki publik. Artinya, telah terjadi ekspansi wujud patriarki dari ruang-ruang pribadi dan privat seperti keluarga dan agama ke wilayah yang lebih luas yaitu negara. Ekspansi ini menyebabkan patriarki terus menerus berhasil mencengkeram dan mendominasi kehidupan laki-laki dan perempuan. [1]

Bentuk dari patriarki dalam kehidupan yang privat salah satunya terjadi pada kehidupan seksual antara laki-laki dan perempuan. Dari pembagian sifat-sifat laki-laki dan perempuan menyebabkan perkembangan yang timpang dalam perkembangan kehidupan seksual di antara keduanya. Perempuan yang diasumsikan sebagai mahluk yang pasif dan menerima rangsangan dan bukan melancarkan rangsangan seperti laki-laki tidak memiliki keberanian untuk mengubah berbagai takdir yang dikonstruksikan kepada perannya. Bahkan, hal ini bukan hanya kesalahan laki-laki atau perempuan saja, hal ini merugikan kedua belah pihak yang menginginkan terjadinya kenikmatan dua arah. Perempuan yang merasa dirinya ditakdirkan sebagai pelengkap dan memenuhi kebutuhan laki-laki, hanya berkonsentrasi pada kepuasan lawan seksnya semata tanpa memperdulikan kenikmatan dirinya. Hal ini membuat banyak perempuan dengan perspektif serupa tidak mengetahui arti kenikmatan berhubungan seksual dan bagaimana fungsi dari aktivitasnya tersebut memiliki dampak positif yang membuatnya sangat ingin melakukannya dengan motivasi kenikmatan diri (self), dan bukan atas nama pengabdiannya pada laki-laki yang dicintainya semata.

Mungkin kita sering mendengar berbagai anggapan yang menyatakan bahwa perempuan hanya menyukai seks pra-penetrasi, perempuan lebih suka berpegangan tangan, sentuhan lembut, dan berciuman dengan lembut (bukan dengan penuh birahi). Dan hal ini merupakan gejala yang saling menular di antara perempuan yang menganggap seks sebagai sesuatu yang tabu bahkan sebagai sebuah siksaan. Hal ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Kebutuhan perempuan untuk dihargai merupakan dasar dimana hal-hal emosional di atas menjadi begitu penting dan menjadi pemanasan (foreplay) dari hubungan seks itu sendiri. Selain itu, kebiasaan laki-laki yang terlalu terburu-buru dengan alasan tidak tahan untuk melakukan penetrasi dan ejakulasi menyebabkan perempuan kurang menyukai saat-saat penetrasi itu sendiri.

Mencermati ulasan di atas, satu hal yang lebih penting adalah perlunya sosialisasi yang mendalam tentang bagaimana pentingnya kenikmatan bagi perempuan juga menjadi bagian dari perbincangan masalah seksualitas. Karena, jika hal ini tidak dilakukan, maka ketertutupan (ketabuan) untuk membicarakan persoalan seks bisa membawa pada perilaku yang tidak menyenangkan. Simak saja pengakuan Erina (20 th, bukan nama sebenarnya) yang berpendapat tentang berhubungan seks dengan pasangannya:

“Menurut gue, itu bukan sesuatu yang penting. Kadang-kadang, kalau cowok gue nggak dateng-dateng, kita puasa berhubungan, ga papa tuh…Yang penting kan gue sayang banget sama dia…Kangen sih…”

Waktu ditanya, apakah ia membutuhkan alat bantu untuk pengganti, jika ia menginginkannya dan kebetulan terangsang, ia hanya berkomentar :

“Ya nggak mungkin lah…masa diem-diem ga’ ada apa-apa jadi horny sendiri…emangnya gue hiperseks…”

Dengan menyimak pernyataan tersebut dapat dibayangkan bagaimana perempuan tersebut memaknai seks sebagai sesuatu yang bukan menjadi kebutuhannya. Dengan kata lain, hubungan dan pengalamannya dalam melakukan hubungan seksual, ia tidak pernah merasakan kenikmatan bagi dirinya sendiri.

Berbeda dengan para laki-laki. Para laki-laki memiliki imaginasi yang sangat positif tentang apa itu berhubungan seks. Umumnya mereka membicarakan seks sebagai kebutuhan yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari seperti juga kebutuhan biologis lainnya, yaitu, makan, minum, dan membuang air. Banyak laki-laki yang sangat tergila-gila dengan membuka situs-situs porno dan berimaginasi liar untuk bercinta dengan perempuan-perempuan seksi dari bintang film sampai teman perempuan yang dkenalnya. Dan seks menjadi sesuatu yang penting dan harus dipenuhi dengan variatif sesuai dengan impiannya demi mencapai kenikmatan yang diinginkannya.

Dodi, Salah seorang mahasiswa berusia 25, menceritakan tentang aktivitasnya bermasturbasi setiap malam sebelum tidur :

 

“Yah, kalau tiap malam nggak ngocok dulu, ga bisa tidur…soalnya kan spermanya mesti dikeluarin, kalau enggak, bisa pusing kepala… Kadang-kadang sambil ngebayangin maen bareng ama bintang-bintang tv… Kadang ngebayangin cewek gue…gayanya juga macem-macem…”

Pada umumnya laki-laki sudah menganggap masturbasi atau aktivitas seks tunggal ini sebagai salah satu penyelesaian bagi mereka yang tinggal sendiri dan tidak memiliki perempuan yang dijadikan partner sebagai teman mereka berhubungan seks untuk melepaskan birahi dan ketegangan tersebut. Hal ini menjadi gambaran bagaimana mereka memaknai pentingnya seks sebagai bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kenikmatan yang selalu ingin diulang secara terus menerus dan menjadi kebiasaan. Sementara banyak perempuan yang menganggap ini biasa bagi laki-laki, namun tidak bagi mereka. Bahkan, jika ada yang melakukannya, akan malu untuk mengatakannya meski pada sahabatnya sendiri.

Orgasme dan Ejakulasi pada laki-laki dan perempuan

Salah seorang peneliti yang mengamati persoalan orgsme adalah Margaret Mead. Ia menyimpulkan bahwa kapasitas orgasme merupakan suatu tanggapan yang dipelajari, dimana dalam budaya-budaya tertentu kemungkinan ini bisa (tidak bisa) membantu para perempuannya untuk berkembang lebih matang. Misalnya masyarakat Mundugumor, sebuah suku di Papua Nugini, percaya pada orgasme pada perempuan. Hal yang berbeda terjadi pada suku Aparesh, tetangganya, tidak mempercayai orgasme dapat terjadi pada perempuan. Hal yang sangat menarik di sini adalah bahwa kapasitas mengalami orgasme melibatkan sejumlah tanggapan yang dipelajari secara kultural. Hanya di dalam masyarakat yang mengajari teknik-teknik untuk mencapai klimaks saja, perempuan dapat mencapai klimaks dalam persetubuhannya (Ladas, Whipple & Perry, 1999 : 16). Ini tentu saja merupakan temuan yang sangat menarik bagi pemerhati kajian seksualitas. Orgasme sebagai sebuah bagian yang penting dalam aktivitas seksual, ternyata bukan hanya terjadi secara alamiah, namun merupakan sebuah teknik yang memerlukan pembelajaran intensif untuk mendapatkannya.

Masters dan Johnson  melakukan pengamatan langsung terhadap masturbasi dan hubungan seksual untuk dapat memahami secara jelas tentang apa yang terjadi pada tubuh manusia sebagai akibat adanya rangsangan-rangsangan erotis. Keduanya membagi siklus tanggapan seksual menjadi empat fase, yaitu rangsangan, plateau (fase perangsangan lanjut), orgasme, dan resolusi.

Selain itu, Masters dan Johnson juga menekankan keyakinan pada temuan mereka bahwa orgasme pada perempuan melibatkan klitoris dan bagian-bagian lain introitus perempuan (liang vagina). Ini mengakibatkan gesekan-gesekan antar klitoris kerudung kepalanya sendiri. Gesekan-gesekan ini dapat terjadi selama masturbasi dan juga selama persetubuhan. Teori ini menyangkal teori Freud tentang orgasme yang terbagi pada orgasme klitoral yang dianggap tidak feminin dan tidak matang, dan orgasme lain yang diakibatkan oleh penetrasi vaginal, yang menurutnya feminin dan matang. Master dan Johnson tidak sependapat dengan Freud, yang membagi kedua bentuk orgasme ini.

Helen Kaplan dalam bukunya “ The New Sex Therapy”, menulis, “apa pun gesekan yang dilakukan pada klitoris, baik yang dengan lidah, dengan jari si perempuan atau pasangannya, dengan vibrator, atau dengan bersenggama, orgasme perempuan hampir selalu dimungkinkan oleh stimulasi klitoral. Tetapi wujudnya selalu dengan pergerakan otot sirkum vaginal.”[2]

Namun sejumlah pakar pada masa itu tidak hanya puas dan berhenti dengan temuan orgasme yang terjadi diseputar klitoris dan vagina karya Freud dan Master &Johnson saja. Perry dan Whipple menyatakan bahwa ada satu titik di dalam vagina yang sangat peka terhadap tekanan yang keras dan dalam. Titik itu berada pada dinding dalam vagina kira-kira dua inci dari pintu masuk vagina. Titik ini dinamakan “Grafenberg Spot” atau G-Spot yang mengambil nama dari Dr. Erns Grafenberg, seorang dokter modern pertama sekaligus peneliti seks dan ahli ginekologi dari Jerman. G-Spot ini ditemukannya dalam sebuah penelitiannya pada tahun 1940-an terhadap sejumlah perempuan. G-Spot merupakan sebuah potongan jari erektil di dinding depan vagina, tepat di belakang tulang pinggang, yang bertindak seperti klitoris kedua. G-Spot dikenal sebagai suatu zona erogen berbentuk buncis yang jika dirangsang dengan tekanan yang cukup keras, akan menghasilkan orgasme vaginal yang berbeda dengan orgasme klitoral dan jika terangsang menghasilkan suatu cairan.[3]

Penemuan G-Spot ini melahirkan argumen baru seputar orgasme vaginal bagi sejumlah perempuan. Jika dimasukkan dua jari yang menghadap ke muka sampai separuhnya lalu digoyangkan. Pada mulanya stimulasi ini akan menimbulkan perasaan ingin buang air kecil, tetapi kemudian tergantikan dengan naiknya gairah seksual dan pelebaran area ini, yang lau mengantar ke orgasme (orgasme ganda), ditambah dengan limpahan ejakulasi cairan yang bening dan bersih seperti sperma. Namun, penemuan ini pun masih memancing keraguan yang cukub besar, karena bisa saja gesekan dari G-Spot merupakan stimulasi dari akar klitoris, sehingga orgasme tetap saja terjadi melaui klitoris. (Swift, 2000 : 328-329).

Pada penduduk asli Trobriand di Pasifik Selatan, selain sadar terhadap G-Spot mereka juga mengetaui tentang ejakulasi perempuan. Mereka menggunakan kata yang sama, momona, untuk cairan pelepasan laki-laki dan perempuan. (Ipipisi momona secara harfiah berarti “dia menyemprotkan cairan pelepasan”). Orang-orang Trobrian percaya bahwa cairan pelepasan ini melumasi dan meningkatkan kenikmatan. Para ahli antropologi Barat meragukan akan kebenaran ejakulasi pada perempuan, mereka menganggapnya sebagai mitos semata. Mereka juga menyatakan bahwa para perempuan Melanesia mengeluarkan air kencing selama orgasme. Namun, sepertinya tidak mungkin jika orang-orang Trobriand tidak dapat membedakan antara ejakulasi dan kencing. (Ladas, Whipple & Perry, 1999 : 105). Pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat yang diteliti tersebut mengenai  orgasme dan ejakulasi tidak dapat dipungkiri sebagai sebuah pengetahuan yang unik, yang tidak dimiliki oleh seluruh masyarakat di berbagai komunitas lainnya.

Konsep yang mereka gunakan untuk menggambarkan ejakulasi (momona) harus diakui sebagai sebuah bentuk kebudayaan yang dishare di antara masyarakat Trobrian. Keberadaan konsep momona sendiri seharusnya sudah menjadi simbol bagaimana seksualitas serta kenikmatan dianggap sebagai sebuah nilai yang penting dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan suku Trobrian. Selain itu, hal yang juga menarik dalam kasus suku Trobrian ini adalah bagaimana laki-laki dan perempuan dapat memiliki konsep yang sama tentang ejakulasi. Dalam konteks seksualitas kita dapat melihat bahwa relasi antara keduanya tampak setara. Kedua belah pihak mengakui bahwa ejakulasi bukan hanya milik laki-laki semata, namun perempuan juga merasakan hal yang sama.

Ejakulasi perempuan merupakan sebuah temuan yang tidak kalah kontroversialnya dibandingkan dengan G-Spot. De Graf dalam Treatise Concerning the Generative Organs Of Woman, mencatat bahwa selama hubungan seksual, prostat perempuan mengeluarkan cairan untuk melumasi sistem reproduksinya secara berlebihan sehingga cairan itu mengalir keluar dari alat kelaminnya. Cairan ini yang dianggap sebagai mani perempuan yang sesungguhnya. De Graf menguraikan cairan itu “memancar” dengan daya dorong yang kuat dan “dalam suatu semburan”(vulkanis). Pada perempuan, seperti halnya pada laki-laki, ejakulasi melibatkan pengeluaran cairan yang menyembur melaui uretra pada saat orgasme. Jumlah cairan yang dikeluarkan secara umum beragam antara perempuan yang satu dengan perempuan lainnya dalam satu kesempatan dan kesempatan lainnya. Dalam kasus-kasus yang diamati oleh Whipple dan Perry, jumlahnya beberapa tetes sampai seperempat sendok teh. Cairan ini tidak berwarna, jernih atau seperti susu. Namun banyak perempuan yang tidak mengetahuinya dan ragu menyatakan bahwa ini air maninya, akan tetapi air seni. (Ladas, Whipple & Perry, 1999 : 88-91).

Para ahli antropologi melaporkan bahwa ejakulasi perempuan sesungguhnya memainkan peranan penting dalam upacara-upacara pubertas pada suku-suku Afrika tertentu. Suku Batoro di Uganda memiliki suatu adat yang disebut kachapati, yang berarti “menyemprot dinding”. Sebelum seorang perempuan muda Batoro dianggap memenuhi syarat untuk menikah, para perempuan tua Batoro mengajarinya bagaimana melakukan ejakulasi. (Ladas, Whipple & Perry, 1999 : 99-100). Dalam kasus pada Suku Batoro ini, pentingnya ejakulasi bagi perempuan tercermin dari upacara adat pra-pernikahan tersebut. Perempuan yang tua merasa penting untuk memberikan pengalamannya tentang teknik untuk berejakulasi. Namun ada hal yang dapat dicermati dari fenomena ini, dengan adanya ritual kachapati ini bagi perempuan, menunjukkan akan ketidaktahuan perempuan pra-nikah tentang seksualitas dan berbagai tahapannya. Sedangkan laki-laki tidak diberikan pengetahuan yang sama dengan sebuah ritual resmi. Ini menunjukkan pentingnya memberikan pengetahuan bagi perempuan mengenai konsep orgasme dan ejakulasi dalam persetubuhan. Sehingga perempuan dapat juga menikmati kenikmatan bersenggama seperti layaknya laki-laki dengan kondisi setara. Bukan sebagai partner yang membantu laki-laki untuk mencapai kenikmatan sepihak.

Kenikmatan Seksual Perempuan: Manipulasi untuk Substansi?

Kenikmatan dalam persetubuhan pada pasangan berorientasi heteroseksual senantiasa menjadi perdebatan yang menarik. Ini terbukti dari sejumlah buku yang kerapkali membedah teknik-teknik yang diperlukan untuk memuaskan perempuan. Buku-buku ini terus diterbitkan dalam berbagai versi dan variasi. Namun, muaranya hanya pada satu titik, bagaimana memuaskan perempuan secara seksual. Karena pada kenyataannya, perempuan selalu menjadi mahluk yang kompleks dan tidak terduga dalam sebuah relasi seksual laki-laki dan perempuan. Banyak komentar-komentar yang dapat memberikan gambaran mengenai kenikmatan versi perempuan. Hal inilah yang membutuhkan pengamatan lebih lanjut untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang ada seputar kenikmatan seksual perempuan. Simak saja pengakuan beberapa perempuan berikut:

Merry, perempuan lajang , 19, perempuan karir.

Setiap harinya Merry disibukkan dengan urusan pekerjaan yang tiada habis-habisnya. Dari mulai harus bertemu klien, membuat laporan, sampai dengan makan malam untuk menjaga hubungan dengan relasi. Merry bukan perempuan yang tidak menarik. Ia memiliki kulit yang putih dan tubuh yang cukup indah. Namun, pekerjaannya membuat dirinya jarang bertemu dengan laki-laki muda. Semua klien yang membutuhkan jasanya rata-rata berusia sekitar 50an ke atas. Ditengah kesepiannya dalam pekerjaan, Merry mulai merasa membutuhkan kasih sayang. Hubungannya dengan kekasihnya yang setahun lebih tua darinya kandas di tengah jalan karena tingkat kesibukannya yang cukup tinggi dan jabatannya yang terus menerus naik sehingga si laki-laki akhirnya memilih untuk meninggalkannya dan mencari perempuan yang tentu saja lebih muda.

Ketika kesepian berbicara, nalurinya sebagai perempuan dan anak bungsu yang jauh dari orangtua membutuhkan kasih sayang dari seorang laki-laki. Akhirnya, Daniel duda berusia 50an menjadi pilihannya. Daniel adalah laki-laki yang cukup sukses, dari keluarga terhormat dan kesepian. Inilah yang membuat mereka akhirnya memutuskan untuk berkomitmen untuk menjadi sepasang kekasih sambil menjajagi tahapan selanjutnya.

Awalnya hubungan ini mulus tanpa ada kendala, karena keduanya saling membutuhkan dan saling mengasihi. Layaknya dua orang yang sedang memiliki hubungan yang romantis, keduanya tergoda untuk melakukan persetubuhan. Daniel memang tertarik secara seksual terhadap Merry kekasih mudanya. Meskipun, sudah lama sekali Daniel tidak melakukan persenggamaan sesudah perceraiannya dengan isterinya. Namun, ternyata, tidak semudah itu untuk melakukan hubungan seksual yang siimpikan oleh keduanya. Merry sebagai perempuan yang masih sangat muda tentu memiliki birahi yang meletup-letup yang sudah sekian lama tidak disalurkannya semenjak kepergian mantan kekasihnya. Tetapi, Daniel ternyata tidak memiliki kekuatan untuk melakukan hal tersebut. Baru beberapa menit, Daniel sudah mengalami ejakulasi. Padahal, Merry belum merasakan apa pun. Terangsang pun belum. Namun, demi membahagiakan kekasihnya dan tidak ingin menyusahkan maka Merry hanya tersenyum seolah-olah ia pun puas.

Setelah mengetahui kekuatan kekasihnya yang hanya tahan beberapa menit saja, Merry mulai belajar untuk bermain drama. Ketika suatu hari kekasihnya tersebut meminta lagi, Merry hanya berusaha untuk menyenangkan kekasih tanpa berharap banyak. Dan ketika kekasih bertanya, apakan ia puas, ia hanya tersenyum mengangguk sambil mencium kekasihnya.

Kebanyakan perempuan melakukan hal ini, jika pasangannya bertanya mengenai masalah kepuasan. Ini terjadi dalam banyak kasus, dimana perempuan sangat enggan membuat pasangannya kecewa dan bersedih. Padahal, mungkin saja ada cara lain yang dapat membuat perempuan ini juga puas tanpa melakukan penetrasi yang cukup lama. Akan tetapi, karena perempuan yang memiliki persepsi seperti ini dan juga ada faktor sungkan jika dianggap terlalu agresif sebagai perempuan, keduanya tidak mendapatkan hasil yang optimal dari persetubuhan mereka.

Sementara itu, Rini, seorang mahasiswi, dari sebuah universitas terkemuka, memiliki pengalaman yang berbeda dalam masalah seksual.

Rini memiliki seorang kekasih yang juga berstatus mahasiswa seperti dirinya. Awalnya, Rini tidak ingin melakukan hubungan seks di luar nikah. Namun, demi cintanya kepada kekasihnya, akhirnya pertahanannya runtuh. Selama dua setengah tahun mereka berpacaran, Rini tidak mengerti dimana letak kenikmatan dari bersetubuh. Yang ia rasakan hanya rasa sakit pada saat coitus dilakukan pada vaginanya. Akan tetapi, ia enggan untuk menanyakan hal ini pada kekasihnya. Ia hanya pasrah setiap kali ia harus merasakan siksaan seperti itu. Sementara ia sudah tidak bisa melepaskan diri dari kekasihnya lantaran hubungan mereka sudah terlau jauh dan dirinya sudah tidak suci lagi. Yang dilakukannya adalah bertahan hingga datang masa kekasihnya mau melamarnya.

”Gue nggak pernah tau rasa enak yang dulu orang bilang dibuku-buku seperti terbang ke langit. Mungkin memang begini rasanya bercinta buat cewek. Lagian nggak penting, lagi…..emangnya cowok, kalo nggak dikeluarin pusing. Kadang-kadang, gue ngerasa terangsang, tapi anehnya waktu cowok gue mau masukin, kok sakit banget. Tapi, ya, ditahan aja…

Fenomena yang amat berbahaya dalam relasi seksual antara dua jenis kelamin ini adalah ketidakpuasan salah satu pihak dan tidak diketahui oleh pihak yang lainnya. Dalam konteks tulisan ini, perempuan adalah pihak yang tidak memperoleh kenikmatan tersebut. Seperti telah dijelaskan pada ulasan sebelumnya, konstruksi budaya terhadap kedua hubungan yang tidak setara ini, membuat ketidakpuasan dari pihak perempuan sekian lama menjadi hal yang tidak penting.

Pada masa keterbukaan seperti saat ini, banyak laki-laki merasa nyaman jika ia dapat juga memberikan kenikmatan bagi perempuan, bukan hanya bagi dirinya sendiri. Meskipun hal itu sebenarnya masih bagian dari ego yang tercipta sebagai laki-laki. Laki-laki ingin dilihat sebagai pejantan yang baik dan dapat membuat perempuan tergantung kepadanya secara seksual. Bukan rahasia jika hal ini merupakan salah satu kebanggaan laki-laki. Baru-baru ini, beberapa televisi menayangkan iklan untuk produk obat kuat laki-laki. Iklan tersebut jelas sekali memvisualisasikan seorang model laki-laki yang gagah fisiknya dan dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang “macho”. Misalnya saja seperti pekerja di pertambangan dan aktivitas di fitness centre. Setelah mengkonsumsi produk tersebut, laki-laki jadi kuat dalam beraktivitas di pekerjaan dan juga seksual. Ini membuat pasangan mereka puas dan laki-laki merasa bangga dan menceritakan hal ini dengan rekan mereka. Jadi, bukan hanya masalah kenikmatan pasangan, ego laki-laki masih termasuk di dalamnya.

Eni, perempuan 27 tahun, menikah, bersuamikan seorang manager yang bekerja pada  sebuah perusahaan asing. Eni telah menikah selama lima tahun dan dikaruniai satu anak. Suaminya merupakan seorang yang sukses dan penuh percaya diri. Namun, selam lima tahun pernikahan, Eni tidak pernah merasa benar-benar nikmat saat berhubungan seksual. Akan tetapi, sebagai istri yang penurut, ia tidak pernah memberitahukan pada suaminya.

 

Kadang-kadang, kan ga enak kalo diem aja, jadi pura-pura aja sedikit berteriak ngikutin suami saya…Biar dikira enak juga…

 

Manusia, perempuan maupun laki-laki tidak terlepas dari permasalahan dalam kehidupannya sebagai mahluk hidup. Permasalahan seksual adalah salah satu di antaranya. Seksualitas ternyata tidak hanya dapat diselesaikan dengan pendekatan biologis, tetapi juga pendekatan lain yang kembali kepada konstruksi sosial-budaya masyarakat. Karena, konstruksi itulah salah satu muara yang memunculkan asumsi yang ‘timpang’ tentang seksualitas.  Konsep tentang orgasme dan ejakulasi, misalnya, seharusnya ditempatkan pada porsi yang harus terhidangkan di hadapan laki-laki dan perempuan serta dinikmati melalui kebersamaan dan tidak hanya berlaku sepihak.

Oleh sebab itu, dibutuhkan kerjasama dari keduabelah pihak dalam mewujudkan kenikmatan yang optimal dan intensif. Kenikmatan itu intens dan tidak setengah-setengah (Foucault). Kebudayaan sebagai suatu sistem ide adalah kekuatan yang krusial yang dapat menimbulkan permasalahan, tetapi di lain pihak dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Jika kenikmatan yang patriarkis dapat dishare kepada semua generasi baik perempuan maupun laki-laki, kenikmatan yang sensitive gender seharusnya juga dapat menjadi solusi bagi permasalahan kenikmatan seksual yang terjadi secara turun menurun.

 

 

Daftar Pustaka

Rudy Gunawan, Fx., dan Seno Joko Suyono. 2003. Wild Reality. Refleksi Kelamin dan Sejarah Pornografi. Magelang: Indonesia Tera.

Fromm, Erich. 2002. Cinta, Seksualitas, Matriarki dan Gender. Yogyakarta: Jalasutra.

De Beauvoir, Simone. 2003. Second Sex, Fakta dan Mitos. Surabaya: Pustaka Promothea.

Freud, Sigmund. 2003. Teori Seks. Yogyakarta: Jendela.

Swift, Rachel. 2000. Multi Orgasme. Jakarta: Kentindo Publisher.

Ladas, Alice Kahn., Beverly whipple dan John Perry. 1999. G.SPOT, Titik Kenikmatan dan Penemuan Mutakhir lainnya tentang Seksualitas Manusia.Jakarta: Mitra Media.

Biodata Penulis :

Nama : Sri Basittanti

Pekerjaan : Mahasiswa Semester Akhir Jurusan Antropologi Universitas Indonesia

No. HP : 0817786428

                       


[1] Dari teori yang dikembangkan Walby, kita bisa mengetahui bahwa patriarki privat bermuara pada wilayah rumah tangga. Wilayah rumah tangga ini dikatakan Walby sebagai daerah awal utama kekuasaan laki-laki atas perempuan. Sedangkan patriarki publik menempati wilayah-wilayah publik seperti lapangan pekerjaan dan negara. Ekspansi wujud patriarki ini merubah baik pemegang “struktur kekuasaan” dan kondisi di masing-masing wilayah (baik publik atau privat). Dalam wilayah privat misalnya, dalam rumah tangga, yang memegang kekuasaan berada di tangan individu (laki-laki), tapi di wilayah publik, yang memegang kunci kekuasaan berada di tangan kolektif (manajemen negara dan pabrik tentunya berada di tangan banyak orang).

Rumah adalah tempat dimana sosialisasi awal konstruksi patriarki itu terjadi. Para orang tua melakukan “gender” pertama-tama pada saat memberi nama kepada anak-anaknya. Anak laki-laki lazimnya diberi nama: Joko, Andi, Iwan, Budi, dan seterusnya. Sedangkan anak perempuan diberi nama: Sita, Wati, Ani, Yuli, Rina, dan lain sebagainya. Anak laki-laki belajar untuk menjadi “maskulin”, dan anak perempuan belajar untuk menjadi “feminin” dari hadiah-hadiah yang diberikan oleh ayah-ibu dan teman-teman dekat pada saat ulang tahun. Mobil-mobilan dan robot untuk anak-anak laki-laki, dan boneka serta bunga untuk anak perempuan. Hal ini berlanjut juga untuk persoalan perlakuan ayah-ibu terhadap anak-anaknya. Anak laki-laki diajari untuk bisa membetulkan genteng yang bocor atau perangkat listrik yang rusak, sementara anak perempuan belajar memasak dan menyulam. Para orang tua cemas dan gelisah jika anak-anak mereka tidak bertingkah laku sesuai dengan garis konstruksi sosial yang telah menetapkan bagaimana seharusnya anak laki-laki dan anak perempuan itu bertingkah laku.

Kalimat-kalimat kategoris bernada manipulatif, yang mengkotak-kotakkan fungsi laki-laki dan perempuan sesuai nilai-nilai kepantasan tertentu yang berlaku di masyarakat: pekerjaan apa yang lazim dikerjakan anak laki-laki, dan apa yang lazim dikerjakan oleh anak perempuan.(Nuraini Juliastuti, Kebudayaan yang maskulin, macho, jantan dan gagah, Newsletter KUNCI No.8, September 2000).

 

[2] Rachel Swift dalam Multi Orgasme, Kentindo Publisher, 2000. Hal : 328.

[3] Surat Kabar Time sebagai tanggapan terhadap buku G-SPOT, Titik kenikmatan dan penemuan mutakhir tentang seksualitas manusia! Alice Kahn Ladas, everly Whipple dan John D.Perry, Mitra Media, Jakarta, 1999.


Beranda  |  Kategory: Edisi 06 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia