Perempuan, Tari Tenggeng, dan Seksualitas

27 - May - 2004 | Enos Rumansara | No Comments »

 

·

 

Di lembah Balim terdapat kegiatan kesenian pada upacara kematian, panen, hari-hari besar gereja, negara RI (tujuhbelasan), yaitu tari Tenggeng. Tari Tenggeng[1] adalah sebuah tari tradisi yang sering dilakukan pada saat orang meninggal atau upacara panen kebun Hipere/Bi (petatas/umbi jalar), hari-hari besar gereja (Basar)/tujuhbelasan. Upacara kematian yaitu pada masa berkabung kegiatan tari tenggeng ini biasanya dilakukan pada honai disekitar honai dimana jenazah itu diletakkan. Tari ini dilakukan dalam honai dalam posisi duduk berpasangan antara wanita dan laki-laki. Dulu tari ini digunakan untuk mencari jodoh dan sekarang digunakan untuk melakukan kegiatan free sex dalam tari tersebut. Dalam analisis ini penekanannya pada faktor lingkungan budaya dimana unsur yang sangat mempengaruhi adalah aspek kesenian, yaitu : seni tari yang dilaksanakan pada upacara kematian. Dan pada kondisi modernisasi Tari Tenggeng dapat dilaksanakan pada momen apa saja.

Perilaku Seks Orang Dani

Dalam temuan penelitian Lokobal (1997) dikemukakan bahwa menurut orang Dani seks memiliki kekuatan positif dan negatif. Anggapan adanya kekuatan positif (baik) terjadi karena: pertama, melalui seks maka kelahiran anak manusia terjadi sehingga kehidupan dapat berlanjut. Kedua, seks mampu meredakan kemarahan dan mendamaikan pertengkaran suami istri. Ketiga, seks mendekatkan hubungan antara suami istri juga musuh, seks membuat suami bisa memberikan babi dan tenaga untuk kerabat perempuan (kerabat afinal). Sementara anggapan bahwa seks memiliki kekuatan negatif (buruk) terjadi karena: pertama, seks bisa menimbulkan perang dan kekacauan. Kedua, seks mengurangi keberanian dalam perang dan kerja. Ketiga, seks mempunyai uap/bau yang dapat membuat daging babi menjadi busuk dan makanan atau tanaman menjadi rusak. Sehubungan dengan itu, kami (orang Dani) selalu melakukan hubungan seksual dengan memperhatikan anjuran-anjuran yang ada sebagai berikut :

  • Kami (orang Dani) melakukan hubungan seks pada saat-saat dimana kami tidak kerja, pesta (upasa) dan perang,
  • Kami tidak atau jarang meraba atau memegang kemaluan perempuan dan laki-laki serta berciuman. Kami tidak berlama-lama di tempat tidur atau disamping istri…
  • Dalam hubungan badan (hubungan seksual) perempuan tidak boleh di atas laki-laki, karena dibahu laki-laki ada kekuatan perang, maka tidak boleh ditindih perempuan … Uap dari kemaluan akan mengusir roh keberanian perang yang ada di bahu/pundak laki-laki.
  • Hubungan seksual tidak boleh di luar rumah, cairan laki-laki (sperma) tidak boleh jatuh di tanah sebab nanti membuat tanah tidak subur dan tanaman menjadi kurus.
  • … bila istri masih menyusui anak kecilnya (menete), kami tidak boleh tidur sama istri, nanti anak jadi kotor dan kurus. Anak kotor dan kurus memalukan … 

 (Hasil Wawancara yang dilaporkan Niko Asalokobal, 1997 : 10)

Menurut hasil wawancara dan observasi di lapangan dapat diuraikan sebagai berikut :

  • “…Sekarang anak-anak muda itu bebas pacaran, bahkan sampai bisa hubungan badan (hubungan seksual) … “
  • “…Banyak anak-anak muda ganti-ganti pacar akhirnya banyak laki-laki atau perempuan tidak tidak kawin (nikah) sehingga orang tua dirugikan…”
  • “…anak-anak  muda sekarang tidak kenal pawi[2], hingga dorang baku naik sembarang …”
  • “ …Dulu tidak boleh naik sembarang (hubungan seksual sembarang) sebelum nikah, kalau sampai laki-laki bawa lari perempuan maka laki-laki harus denda. Naik badan sembarang (hubungan seksual sembarang) akibatnya sekarang banyak anak rumput. Orang tua dirugikan …”

(Hasil Wawancara dari Niko Asa Lokobal, 1997 : 11)

Poligami

Orang Dani menganut sistem perkawinan eksogami moiety (ebe), yaitu antara moiety Waya dengan moiety Wita. Perkawinan di dalam satu moiety (ebe) dianggap tabu. Bagi mereka (orang Dani), perkawinan adalah ikatan di antara seorang laki-laki dan perempuan untuk menjadi suami istri. Ikatan dalam perkawinan tersebut bersifat sosial, karena seluruh anggota kerabat suami dan istri terlibat, termasuk di dalamnya berbagai hak dan kewajiban.

Seseorang  (pemuda/i ) siap kawin itu dilihat dari perkembangan fisik dan kesiapan dalam kerja, yaitu antara lain :

  • Seseorang gadis siap kawin bila payudaranya membesar, dan telah mendapat meb (menstruasi).
  • Seoarang gadis siap kawin apabila sudah tau menanam hipere (ubi jalar), tau memasak, dan  memberi makan babi.
  • Seorang laki-laki siap kawin apabila sudah tumbuh kumis dan jenggot, telah bisa mempersiapkan kebun serta memiliki babi.

Tujuan perkawinan orang Dani adalah (a) untuk mengatur agar kehidupan ini baik, (b) medapat keturunan agar kehidupan ini terus berlanjut, dan (c) mengembangkan relasi. Mas kawin yang utama adalah Babi (Lokobal, 1997: 7 ).

Orang Dani menganut adat perkawinan poligami, yaitu perkawinan dimana seorang laki-laki bisa kawin lebih dari satu istri (poligini). Banyak sekali laki-laki Dani yang mempunyai istri lebih dari satu orang  bahkan ada yang mencapai puluhan istri. Alasan laki-laki Dani melakukan perkawinan poligami bermacam-macam, tetapi yang menjadi faktor pendorong untuk melakukan poligami adalah : pertama, adanya adat levirat, yaitu hak untuk mengawini janda dari saudara laki-laki yang meninggal. Kedua, kekayaan yaitu memiliki banyak babi sehingga mampu membayar maskawin. Ketiga, status sosial yang tinggi. Status ini salah satunya ditengarai dengan adanya kepala adat dan kepala perang gampang mendapat tambahan istri. Keempat, istri pertama tidak memberikan keturunan. Hal ini disebabkan karena keturunan sangat penting artinya bagi orang Dani.

Prosedur  adat perkawinan untuk istri kedua dan seterusnya tidak berbeda dengan istri pertama, tetapi penentu siapa yang menjadi istri kedua dan selebihnya adalah hak dari laki-laki yang bersangkutan, meskipun sering ada campur tangan dari istri pertama. Perkawinan itu dapat berlangsung antara : (a) seorang laki-laki bujang dengan seorang perempuan bujang, (b) laki-laki bujang dengan janda atau sebaliknya, (c) laki-laki berkeluarga dengan perempuan bujang, (d) laki-laki bujang dengan istri orang ( Siregar, dkk. 1997 : hal. 68).

Norma-Norma Baru tentang Hubungan Seksual

Seperti apa yang dikemukakan pada bagian awal bahwa bagi orang Dani seks dipahami sebagai hubungan intim antara suami dan istri, amat rahasia, sakral, dan agung sehingga hubungan seks sangat dihormati dan tidak sembarangan. Karena apabila seks dilakukan sembarangan maka yang terjadi adalah perang dan kekacauan. Hal ini terjadi karena secara tradisional orang Dani melakukan hubungan seksual selalu memperhatian situasi dan kondisi. Misalnya, (1) mereka melakukan hubungan seks pada saat-saat dimana tidak kerja, tidak ada pesta (upacara) dan perang, (2) pada waktu melakukan hubungan seksual mereka tidak atau jarang meraba atau memegang kemaluan perempuan dan laki-laki serta berciuman, (3) mereka tidak berlama-lama di tempat tidur atau disamping istri, (4) saat hubungan seksual perempuan tidak boleh di atas laki-laki, karena dibahu laki-laki ada kekuatan perang. Apabila wanita diatas  maka uap dari kemaluan perempuan akan mengusir roh keberanian perang yang ada di bahu / pundak laki-laki, (5) hubungan seksual tidak boleh diluar rumah. Apabila diluar rumah maka cairan laki-laki (sperma) akan jatuh di tanah dan akan membuat tanah tidak subur dan tanaman menjadi kurus.

Tari Tenggeng dalam  Budaya orang Dani

Tari Tenggeng adalah salah satu dari sekian banyak tari milik orang Dani. Dalam uraian berikut ini akan dikemukakan dalam dua bentuk, yaitu: (1) Tradisi Tari Tanggeng Dalam Kebudayaan Orang Dani (sebelum mendapat pengaruh dari luar), dan (2) tari Tenggeng dan  hubungan seksual bebas (Tari Tenggeng sesudah mendapat pengaruh dari luar).

Tari Tenggeng merupakan salah satu dari jenis – jenis tarian orang Dani, seperti halnya Tari Etai yang sering dilakukan oleh orang Dani di Lembah Balim. Etai adalah istilah yang digunakan untuk menyebut tari dan nyanyian / vokal yang dilakukan dalam upacara tradisional orang Dani Lembah. Etai merupakan kesenian massal yang melibatkan banyak orang seperti halnya Tari Tenggeng. Syair – syair yang digunakan dalam tari Tenggeng sebelum kontak dengan dunia luar mengandung cerita – cerita tentang kisah atau kehidupan seseorang, dua orang atau suatu kelompok masyarakat. Tari ini dalam bentuk lingkaran atau berbaris panjang dalam posisi duduk melakukan gerakan dimana bagian tangan memegang peranan yang sangat penting.

Tari Tenggeng biasanya dilakukan dalam upacara – upucara yang dilakukan untuk berkomunikasi dengan kekuatan – kekuatan gaib, seperti arwah nenek moyang (atou), roh orang yang baru meninggal yang disebut mogat dan setan yang mereka sebut agolgum.  Upacara yang dimaksud antara lain : upacara kematian, upacara perkawinan, upacara pembersihan kaneke / keneke hagasin (batu sakral) dan lain – lainnya. Didalam upacara – upacara tersebut mereka melakukan kegiatan seperti potong babi, menyanyi dan menari, dimana salah satu tari yang dilakukan dalam upacara kematian adalah Tari Tenggeng (Tari Tukar Gelang).

Upacara Kematian

Upacara kematian orang dani selalu disertai dengan beberapa kegiatan, yaitu : potong babi, membakar mayat, membakar batu untuk masak babi dan Hipere atau Bi (petatas). Ada kegiatan yang bersifat religius, yaitu : sebelum jenazah dibakar ada upacara dimana pihak kerabat memberikan sumbangan hipere dan babi dan juga ada kegiatan dimana batu untuk bayar (Ye) dan Noken (Su) yang diletakkan di depan kaum laki – laki yang disertai dengan baca mantra dan lain – lainnya. Satu kegiatan yang dilakukan setelah jenazah dibakar, yaitu menggelar Tari Tenggeng pada malam harinya ? Dari hasil wawancara dikemukakan bahwa  tari Tenggeng harus dilakukan pada malam hari dan di dalam honai. Alasan mereka bahwa mereka takut darah kerabatnya yang meninggal itu. Mereka juga dalam kesempatan itu menyampaikan rasa duka cita melalui syair – syair tradisional yang berbentuk pantun berbalas – balasan. Dikemukakan pula bahwa penyelenggraan  tari Tenggeng adalah untuk mengimbangi rasa duka cita keluarga dan kerabatnya, dimana dalam kesempatan itu para muda-mudi saling tukar gelang. Pada saat tukar gelang mereka saling menyampaikan isi hati mereka dimana apabila mereka saling menyukai untuk membentuk keluarga baru maka disampaikan kepada orang tua dan selanjutnya disahkan secara adat.  Dalam syair berbalas – balasan itu mereka menyampaikan maksud isi hati agar dalam membentuk keluarga haruslah suatu perkawinan yang sah secara adat. Sehingga hubungan seksual yang tidak sah atau hubungan seksual tanpa tanggung jawab tidak terjadi dalam Tari Tenggeng ini.

 

Proses Penyelenggaraan Tari Tenggeng

Tari Tenggeng dilakukan pada malam hari sehingga siang harinya hanya para muda mudi datang  ke tempat/Tinime (Silimo) orang meninggal untuk mengetahui honai mana yang akan dipakai pada malam hari.

Pada malam harinya para peserta Tari Tenggeng yang terdiri dari muda-mudi bahkan ada juga orang tua yang masuk untuk mencari calon istri baru pada malam itu juga. Setelah mereka berkumpul di luar Honai / (Rumah Dani), biasanya mereka saling mencari tahu siapa – siapa yang yang datang supaya sebentar pada waktu acara dimulai para penari siapa yang akan menjadi pasangannya nanti.

Tari ini dipimpin oleh seseorang yang biasanya memimpin penyelenggaraan Tari Tenggeng. Di dalam honai di siapkan api yang dapat menerangi bagian dalam honai. Pertama kali para penari wanita yang masuk kedalam rumah atau honai dimana pesertanya bisa 10 – 40 pasangan, yaitu wanita sekitar 5 – 20 orang, begitupun laki – lakinya. Wanita – wanita yang masuk kedalam honai ini mengambil posisi satu baris memanjang (Lihat Komposisi 1) atau 2 baris memanjang (lihat komposisi 2)

Komposisi 1

Keterangan:

Komposisi 2

Setelah mereka (wanita – wanita) berada dalam honai, mereka diatur oleh pemimpin tari untuk menyampaikan lagu yang syairnya mengajak para pria kenalan mereka yang ada di luar honai maupun penari pria yang belum dikenal sama sekali tetapi dia datang untuk mencari calon istir pada kesempatan ini supaya segera masuk ke dalam honai.

Kesempatan berikutnya diberikan kepada laki – laki, namun untuk masuk harus mendengar atau menunggu permintaan dari wanita yang sudah berada di dalam honai. Pesanan atau permintaan dari dalam honai kepada laki – laki di luar honai melalui pemimpin Tari tenggeng. Apabila laki – laki sudah masuk kedalam honai maka komposisinya demikian (lihat kompsisi 3 dan 4). Pada komposisi ini para penari mempunyai pasangan untuk ganti gelang.

Komposisi 3

 

Komposisi 4

Keterangan:

Apabila mereka sudah mempunyai pasangan maka mereka pun mulai melakukan tari Tenggeng (tukar gelang). Para penari secara berbalas – balasan menyampaikan isi hati mereka. Misalnya, penari laki- laki menyanyikan yang syairnya sebagai berikut:

Yauwi Yauwa,

Tibo Yagu Ago

Tabu Yago Ago

Anggup Mabn Nenok Wogorak

Engga Mban Nenok Wogorak

Nawi lel yinip

Worawi lele yinip

Yauwi Yauwa

 

Artinya : Kebun yang saya buka/mau saya panen di kampung halaman sedang ditinggalkan. Saya baru makan daunnya saja. Sehingga menawarkan perempuan siapa yang bersedia menyatakan rasa cinta untuk ikut bersamaku.

 

Nyanyian yang disampaikan oleh penari laki – laki yang sedang mencari jodoh atau berita dari perkenalan yang lalu segera menyampaikan lagunya. Apabila wanita menolak tawaran maka mereka menyanyikan nyanyian yang syairnya sebagi berikut (nyanyian penolakan):

Yauwi Yauwa

Kame mirik,

Kame gonik

Punuk Ari

Kagak ari

Gun angen nen ari

Kwa Puqi nen ari

Yauwi yauwa

Artinya: Laki-laki yang sedang menawarkan / mengajaknya untuk menukar gelang itu telah diketahuinya bahwa ia telah beristri, sehingga perempuan menolak tawarannya.

 

Setelah penari wanita menyampaikan isi hatinya untuk membalas nyanyian pertama dari laki – laki, maka laki – laki menyampaikan isi hatinya yang kedua kalinya dengan nyanyian sebagai berikut:

Yauwi Yauwa

Binde nggaruk wogogurak m’ban

Lale nggaruk wogogurak m’ban

Mire gutah yinip o

Nggoneku yinip o

Yauwi Yauwa

Artinya: meminta kejujuran dan ketulusan cintanya (wanita yang ditawarkan untuk menjadi pasangan menukar gelang), sebab ia dating ke Tenggeng ia melewati gunung dan lembah namun itu adalah wujud dari rasa cintanya terhadap pasangan tenggengnya. Untuk itu, ia berharap suatu kepastian dari wanita itu.

               (laki – laki menyampaikan isi hatinya ini dating dari kampung lain yang agak jauh dari lokasi duka)

Selain laki–laki yang datang agak jauh dari kampung, ada juga laki –laki di kampung sekitar tempat duka / orang meninggal menjawab penolakan wanita yang disampaikan lewat syair (nyanyaian yang disampaikan wanita) seperti di atas. Laki – laki tersebut membalasnya dengan perasaan hati yang kesal karena dia telah membayar uang pintu[3] kepada Ibu dari gadis yang ditawarkannya atau yang telah dipilih sebagai pasangan tukar gelang (Tenggeng) untuk nantinya menjadi suami istri. Namun tawarannya ditolak sehingga ia menyampaikan kekesalannya lewat nyanyaian berikut ini:

Yauwi yauwa

Mbinde pagi warogo

Lale pagi warogo

Kwuya pume pugu kwe

Kwuya pume pugu kwe

Mbirimbengendak nggunuk o

Kolari pegendak nggunuk o

Yauwi, yauwa

Artinya:   (Ucapan dari laki – laki)

Telah diberikan babi sebagai pembayaran pintu terhadap ibu (orang tua perempuan si gadis).

Tidak tahu bahwa ada laki – laki lain yang masuk memintanya. Tentu saja ia tidak mengetahuinya.

Kegiatan seperti dikemukakan di atas berjalan terus hingga mereka memperoleh kepastian dari apa yang mereka iniginkan dalam Tari ini. Kepastian yang dimaksud adalah wujud dari perkenalan mereka berdua (pasangan), yaitu persetujuan dari pihak calon suami dan calon istri tentang terbentuknya suatu perkawinan (keluarga baru).

 

Gerak Tari dan Makna Simbolis

Tari Tenggeng termasuk tari tradisional sehingga kelihatannya sangat sederhana, baik gerak, irama, busana, tata rias maupun temanya. Tari ini termasuk tari pergaulan dimana dalam tari tersebut penari selalu mencari pasangan seperti yang diuraikan di atas. Namun demikian Tari Tenggeng memiliki nilai relegius yang cukup tinggi, karena merupakan suatu kegiatan yang dilakukan pada saat orang meninggal dunia. Salah satu tujuan dari penyelenggaraannya adalah untuk mengimbangi rasa duka suatu keluarga inti dan kerabatnya.

Pasangan Penari berhadapan dalam posisi duduk jongkok. Dalam posisi ini para penari menyanyi dan menggerakkan tangannya kedepan memegang telapak atau tangan pasangan penarinya (si gadis / si laki – laki) sambil menukar gelang.

Makna simbol yang terdapat terdapat di dalam Tari Tenggeng adalah sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengimbangi rasa duka dak dilakukan pada malam hari agar terhindar dari darah kerabat mereka yang meninggal. Dalam gerak tari yang dilakukan terlihat atau diketahui apakah kedua pasangan tari tersebut saling menerima tawaran yang disampaikan melalui syair yang dinyanyikan. Apabila mereka saling menyukai maka pertukaran gelang pun terjadi antar mereka berdua. Dan apabila tidak maka kegiatan tawar – menawar melalui syair tetap berjalan sambil pegang tangan namun pertukaran gelang tidak dapat dilakukan kecuali mereka telah saling menyetujui.

Musik Pendukung, busana dan Peserta Tari

Musik dalam tari ini dibawakan dalam bentuk vokal/nyanyian, yaitu :  menyanyi berbalas–balasan tanpa menggunakan alat musik. Bentuk penyampaiannya seperti pantun berbalas–balasan dimana syair setiap nyanyiannya merupakan penyampaian isi hati seseorang (penari wanita/pria) dari lagu atau nyanyian pendukung tari.

 Busana yang digunakan juga merupakan busana tradisonal yaitu menggunakan koteka/kobewak bagi penari laki–laki dan taali atau gen taali/sali bagi wanita. Penari laki–laki memakai hiasan kepala yang dibuat dari anyaman tali dan bulu burung yang disebut Nggare–Nggare Yugu. Selain itu, para pemimpin atau jago–jago perang menggunakan dasi tradisonal uang disebut Kono.

Peserta atau para penari terdiri dari laki–laki dan perempuan muda/remaja. Dari hasil wawancara di lapangan peserta tari berjumlah 10–40 orang. Peserta terdiri dari anak–anak laki-laki dan perempuan muda, ada kemungkinan juga laki–laki tua namun dia adalah pemimpin perang yang masih muda dan ingin kawin lagi.

Tari Tenggeng  dan Seks Bebas

Pada bagian ini dikemukakan perubahan yang terjadi di dalam Tari Tenggeng, dimana bukan lagi tari tukar gelang ini diselenggarakan untuk mengimbangi rasa duka, tetapi untuk melampiaskan napsu birahi dari para beserta tari dalam bentuk seks bebas.

Tari tenggeng mulai mengalami perubahan bentuknya yaitu sejak terjadi kontak dengan dunia luar. Pengaruh lebih kuat lagi yaitu sejak dimulainya pembangunan di pedalaman. Pembangunan dibidang transportasi, pendidikan, pariwisata, serta pembangunan jalan darat yang menembus kecamatan-kecamatan di Kabupaten Jayawijaya. Dengan tembusnya jalan darat ini banyak para pemuda turun ke kota Wamena bahkan ada yang sampai ke Jayapura dan kota-kota lainnya di Papua.  Keluar dan masuknya para pemuda ini memperoleh pengalaman diluar dan memberikan informasi kepada teman-temannya bahwa masalah seks bukan hal yang tabu atau rahasia.

Selain itu, masuknya media Elektronik dan cetak di kota Wamena merupakan salah satu faktor yang ikut mempengeruhi terjadinya perubahan bentuk dalam Tari Tenggeng. Misalnya, banyak beredar VCD dan gambar-gambar porno yang membuat para muda-mudi bahkan mereka yang sudah berkeluarga untuk mencoba adegan-adegan yang nonton dari VCD, atau lihat dari gamabar-gambar porno itu. Tari Tenggeng merupakan wadah dimana mereka bisa dapat melakukan apa yang mereka rasa atau pikir  setelah menonton atau melihat adegan-adegan hot tersebut.

Religi Orang Dani

Tari Tenggeng merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam upacara kematian yang hingga saat ini tetap dilakukan namun nilainya tidak semurni penyelenggaraannya sebelum kontak dengan dunia luar. Akhir-akhir penyelenggaraannya secara diam-diam  dan bentuknya tidak seperti yang dilakuakn sebelum pengaruh dari luar (semasih asli). Ada bebrapa aspek religi dalam tari Tenggeng yang mengalami perubahan bentuk setelah mendapat pengaruh dari luar, yaitu dari tujuan, dilakukan dalam upacara lain. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada tabel berikut ini.

TABEL 01

KONDISI ASPEK RELIGI DALAM TARI TENGGENG

SEBELUM DAN SESUDAH KONTAK DENGAN DUNIA LUAR

KONDISI SEBELUM KONTAK

KONDISI SESUADH KONTAK

1

2

  1. Tujuan penyelenggaraan Tari Tenggeng adalah untuk mengimbangi rasa duka cita keluarga dan kerabatnya, diman pada kesempatan itu muda-mudi saling menukar gelang dan menyampaikan isi hati mereka untuk mendapat persetujuan antara kedua pihak (pasang Tenggeng) yang kemudian akan disahkan secara adat.

 

  1. Alasan menyelenggrarakan Tari Tenggeng pada malam hari adalah karena takut darah kerabat mereka yang meninggal.

 

 

 

 

  1. Diselenggarakan hanya pada upacara kematian
  2. Tujuan penyelenggaraan Tari Tenggeng adalah untuk mencari pasangan seksual. Tujuan mencari jodoh tidak menjadi tujuan utama.
  1. Alasan menyelenggrakan Tari Tenggeng pada malam hari adalah untuk menghindari teguran dari ornag tua yang tidak setuju atau pihak gerja (pendeta, penginjil, pastor) dan juga menyembunyikan diri dari intaian pihak keamanan (polisi).
  1. Diselenggrakan pada upacara kematian, upacara perkawinan, upacara buka kebun (1980-an). Kemudian tahun 1990-an Tenggeng diselenggarakan apabila ada acara Basar Gereja, dan saat sekarang Tenggeng dapat diselenggarakan pada peristiwa apa saja yang penting ada uang untuk kita Tenggeng.

Pada tabel di atas dikemukakan bahwa Tari Tenggeng tidak lagi diselenggarakan pada upacara kematian, tetapi diselenggarakan pada upacara pembukaan kebun baru1 atau upacara panen, upacara perkawinan[4] bahkan akhir – akhir ini (1990 –an) tari tenggeng diselenggarakan pada Basar Gereja dimana pada saat kegiatan resmi basar berjalan para muda – mudi menggunakan kesempatan itu untuk memilih satu honai disekitar lokasi kegiatan gereja untuk melakukan tari Tenggeng secara diam –diam. Selain itu, tari Tenggeng diselenggarakan juga pada akhir setiap kegiatan yang mendatangkan uang secara bersama –sama. Beberapa informan yang juga sebagi penari Tenggeng mengemukakan “setiap minggu kami selenggarakan tari tenggeng apabila kami ada uang”. Salah satu informan yang ditemui di Bokondini saat diatanya, “kapan kamu selenggarakan tari tenggeng lagi ?” ia mengatakan :

Minggu besok kami main tari Tenggeng lagi kalau kontraktor jaln Kabupaten bayar kami punya uang pembersihan jalan.

Dari pernyataan di atas dapat dikemukakan bahwa tari tenggeng sekarang tidak hanya pada penyelenggaraan upacara, tetapi dapat dilakukan apabila penari – penarinya sepakat untuk melakukan kegiatan itu. Karena sekarang Tari Tenggeng ini berhubungan dengan uang. Apabila ada uang, Tenggeng dapat diselenggrakan dan mencari pasangan seksualpun menjadi lancar.

Proses Penyelenggaraan Tari Tenggeng

Proses penyelenggaraan Tari Tenggeng masa sekarang mengalami perubahan yang cukup besar apabila dibandingkan dengan proses penyelenggaraan Tari Tenggeng masa sebelum terjadinya kontak budaya Dani dengan budaya luar. Hal demikian dapat dilihat dari beberapa aspek yang berhubungan dengan proses penyelenggaraannya, termasuk tujuan penyelenggaraan yang telah dikemukakan di atas. Walaupun demikian, ada beberapa aspek yang masih ada kesamaan terutama dalam aspek pemimpin, posisi pasangan yang pertama walaupun posisi selanjutnya akan terjadi perubahan jauh berbeda dengan masa dulu.

Untuk mengetahui transformasi (perubahan bentuk) yang terjadi pada masa proses penyelenggaraan Tari Tenggeng pada masa sekarang, maka berikut ini dikemukakan pada tabel kondisi awal (kondisi sebelum kontak) dan kondisi sesuadah terjadi kontak budaya Dani dengan budaya luar.

TABEL 02

KONDISI PADA SAAT BERKUMPUL DAN  MENYELENGGARAKAN TARI TENGGENG

KONDISI SEBELUM MENDAPAT PENGARUH

KONDISI SESUDAH MENDAPAT PENGARUH

  1. Para penari berkumpul untuk menggelar Tari Tenggeng hanya pada saat orang meninggal. Jadi kegaiatan ini berhubungan dengan upacara kematian.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Penari berkumpul untuk menggelar Tari Tenggeng dalam rangka mengimbangi rasa duka kerabat mereka yang meninggal dimana dalamnya penari menari dan menukar gelang (tenggeng) untuk meminta persetujuan dari kedua belah pihak untuk membentuk suatu perkawinan yang sah secara adat.

 

 

 

  1. Alasan penari meggelar Tari Tenggeng pada malam hari karena ada hubungan dengan kepercayaan tradisional mereka.

 

  1. Para penari berkumpul untuk menggelar Tari Tenggeng tidak hanya terbatas pada orang meninggal, akan tetapi dapat digelar pada upcara prkawinan, pembukaan kebun baru, pada kesempatan Basar Gereja dan juga pada kesempatan apa saj yang penting ada uang. Hal demikian didorong oleh keinginan melakukan hubungan seksual dan memperoleh uang (khusus wanita).

 

  1. Penari berkumpul untuk menggelar Tari Tenggeng karena didorong oleh keinginan birahi, yaitu mencari pasangan untuk melakukan hubungan seks yang tidak terikat seperti masa lampau. Dalam kesempatan itu, ada penari wanita yang mengikuti tari tenggeng bukan untuk kepuasan seksual akan tetapi untuk mencari uang sehingga satu malam bisa ganti pasangan 3-5 kali.

 

  1. Alasan menggelar Tari Tenggeng pada malam hari adalah menghindar dari teguran orang tua, gembala/penginjil, pendeta, pastor dan kejaran pihak keamanan (polisi tentara). Kasus di Bokoneri ditemukan bahwa mereka takut diketahui gembala (penginjil) maka mereka lakukan tari tenggeng pada malam hari 12.00 – 03.00 WIT selama 10 hari berturut-turut, yaitu pada tanggal 30 Januari – 9 Februari 1999

 

Setelah berkumpul penari – penari wanita masuk ke dalam honai seperti apa yang telah dijelaskan di atas, yaitu pemimpin tari tugasnya selalu menyiapkan dalam honai dan mengatur posisi sesuai dengan jumlah peserta. Apabila pesertanya lebih dari 40 orang (20 pasangan) maka para penari dibagi atas dua kelompok dimana salah satu kelompok masuk pada babak pertama dan kemudian babak kedua, dan selanjutnya bergantian hingga pagi hari.

Kasus yang ditemukan di Bokoneri (lihat tabel di atas), diselenggarakan oleh kerabat dari Almarhum Tigere Murib (orang Dani asal desa Bokoneri- kecamatan Bokondoini), yang dimakamkan di Sentani– Jayapura yang dibunuh Tanggema Jikwa (orang Dani dari Kelila) di Sentani. Sehubungan dengan kematian dari Tigere Murib, pada tanggal 30 Januari 1999 para muda –0mudi bahkan janda dan laki-laki dewasa lainnya di desa Bokoneri – kecamatan Bokondini berkumpul dan menggelar Tari Tenggeng. Tari Tenggeng diselenggarakan mulai dari tanggal 30 Januari – 9 Februari 1999 (selama 10 hari), yang penyelenggaraannya secara berturut-turut mulai pukul 12.00 – 03.00 pagi hari (WIT). Dari kasus ini diketahui pula bahwa anak-anak yang berumur dibawah 10 tahun (khusus Laki-laki) dapat ikut serta menyaksikan namun mereka hanya mengambil posisi bersama dengan pemusik. Menurut informan, khusus unutk anak-anak perempuan yang terlibat atau ikut menari tidak dibatasi umurnya, yang dilihat hanya pada buah dadanya saja, yaitu apabila buah dadanya sudah tumbuh dan sudah mendapat menstruasi maka ia diperbolehkan untuk mengikuti Tari Tenggeng (data lapangan).

Selain perubahan bentuk yang terjadi pada saat berkumpul, ada pula bebarapa aspek yang mengalami perubahan pada saat mencari pasangan, posisi dan praktik-praktik yang dilakukan selama menari termasuk peralatan yang digunakan pada saat masuk dan selama menari di dalam honai. Misalnya, dulu wanita yang masuk ke dalam honai telah mengetahui laki –laki yang nantinya ia minta melalui pemimpin tari untuk berpasangan dengannya. Tujuannya adalah mempertegas / memastikan hubungan mereka yang dijalain bersama dalam rangka membentuk suatu keluarga baru (keluarga inti). Sedangkan sekarang wanita yang masuk ke dalam honai sudah mengetahui laki-laki siapa yang dia cari untuk berpasangan dengannya dan bisa mendapat keuntungan darinya. Untuk itu, setiap wanita yang datang pada saat digelar tari tenggeng selalu mengincar laki –laki yang menurutnya ada mempunyai banyak uang.

Sehubungan dengan kasus yang dikemukakan di atas ada perbedaan dimana upcara diselenggarakan karena kematian biasanya 3 – 10 hari, sedangkan penyelenggaraan tari tenggeng yang berhubungan dengan acara lain, seperti perkawinan, pembukaan kebun, basar dan kegiatan yang dilakukan karena kesepakatan bersama berjalan selama 1 hingga 3 hari.

Perubahan aspek lainnya dapat dilihat pada data yang ditampilkan pada tabel berikut, yang menampilkan / mengemukakan kondisi awal dan kondisi sesudah pengaruh luar.

TABEL  03

KONDISI PADA SAAT MASUK HONAI, KOMPOISI, KEGIATAN-KEGIATAN YANG DILAKUKAN DALAM HONAI DAN PERALATAN YANG DIGUNAKAN SELAMA MENGGELAR TARI TENGGENG

KONDISI SEBELUM MENDAPAT PENGARUH

KONDISI SESUADH MENDAPAT PENGARUH

  1. Pasangan mereka sudah berkenalan sebelumnya sehingga pada kesempatan tukar gelang adalah unuytk meminta kepastian dari kedua belah pihak dalam rangka membentuk keluarga baru (kelaurga inti).

 

 

 

  1. Selain pasangan yang sudah berkenalan, ada pula pasngan yang baru dicari pada saat menggelar Tari Tenggeng. Pada kesempatan ini mereka saling menyampaikan isi hati mereka merujuk kepada sua sam suka dalam melakukan hubungan seksual.

 

 

 

 

Lanjutan tabel 04

  1. Pemimpin tari harus orang yang umurnya di atas 30 tahun atau orang sudah berkeluarga.
  1. Lagu pengiring dinyanyikan sendiri oleh penari, diman pertama kali wanita yang menyanyikan untuk mengundang laki-laki untuk masuk kedalam honai.
  1. Komposisi Tari:
  1. Sewaktu menari, penari wanita memulai menari dengan menggerakkan tangan dalam posisi jongkok sambil menanyakan penari laki-laki pasangannya dalam bentuk nyanyian yang berbalas-balasan  tanpa menggunakan bantuan musik. Selama menari mereka saling menukar gelang secar bergantian terus menerus hingga gelang habis. Apabila habis maka mulai masuk pada puncaknya diman pada saat tungku api yang mereka nyalakan sebagai penerang dipoadamkan mereka saling memeluk dan memastikan cinta mereka agar selesainya tari tenggeng mereka dapat melangsungkan upacara perkawinan mereka. Bentuk dan syair dari nyanyian dapat dilihat pada halaman 33, 34, 35.
  1. Alat tukar yang digunakan selama menari adalag gelang. Gelang yang dibuat dari serat kayu atau tali hutan.
  1. Pemimpin tari Tenggeng tidak ada syaratnya yang penting orang tersebut dapat mengatur kelancaran jalannya tari, kecuali anak menurut standar mereka belum bisa kawin (dibawah 14 tahun).
  1. Lagu pengiring dinyanyikan oleh pemain musik dan penari. Pemain musik mengambil posisi sendiri atau dipojok honai (lihat komposisi penari di bawah ini).
  1. Komposisi tari
  1. Sewaktu menari, penari mulai menari dengan meggerakkan tangannya dalam posisi jongkok sambil menanyakan calon pasngannya dengan diirngi musik yang telah siap di pinggir/ pojok dalam honai. Nyanyian yang dibawakan ini dipimpin oleh pimpinan musisi dan diatur oleh pemimipin tari. Selama menariu (gerakan berpusat pada tangan), penari saling menukar uang, mulai dari jumlah kecil hingga jumlah yang besar. Apabila si penari laki-laki tidak mampu lagi memberikan uang maka ia melanjutkan dengan memberikan benda berharga seperti manik-manik, jam tangan dan lain-laninya. Hal ini berjalan terus hingga alat tukar habis maka pemimpin akan memberikan kode/isayarat untuk memadamkan pelita atau lilin yang ada di tengah mereka sehingga dalam honai menjadi gelap. Dan pada kesempatan itu setiap pasngan dapatt melakukan bebrapa gerakan yang merangsang untuk melakukan hubungan seksual. Praktik seksual ini ini bisa dilakukan di tempat (lihat posisi pada lampiran 01) atau keluar honai dan melakukanya pada honai lain atau diluar honai. Setelah selesai melakukan hubungan seksual maka babak pertama selesai dan babak kedua segera dimulai lagi dan penari dapat meggantikan pasangan sesuai dengan keinginan, kecuali ada pasangan yang memang serius untuk nantinya mereka akan kawin sah.
  1. alat yang digunakan selama menari sebagai alat tukar yang digunakan adalah uang, mani-manik, lonceng tangan dan benda-benda lainnya yang dianggap dapat disukai oleh teman pasangannya.

Kondisi komposisi dan posisi tari Tenggeng  tempo dulu dan masa sekarang telah jelas pada tabel di atas. Namun ada beberapa aspek yang perlu dijelaskan lagi terutama posisi dan praktik–praktik yang dilakukan saat menari hingga puncak dari  tari tersebut.

Posisi penari pada saat duduk jongkok dan menari apabila dilihat kedua masa tersebut (dulu dan sekarang) ada perbedaan dimana pada masa dulu hanya sebatas tangan dengan tangan yang saling memegang dan menukar gelang. Sedangkan pada masa sekarang ada praktik dimana si penari laki-laki dapat menempelkan uang pada buah dada penari wanita yang pada akhirnya lilin atau pelita (yang berfungsi sebagi penerang) dipadamkan , dan setiap pasangan penari yang ada didalam honai itu saling memegang bagian-bagian tubuh yang dapat merangsang mereka untuk melakukan hubungan seksual, yaitu wanita memegang Inayo (kemaluan laki-laki) dan laki-laki memegang Inelak (buah dada) dan Inager (kemaluan wanita). Hubungan seksual dilakukan secara massal pada saat lilin atau pelita dipadamkan di tempat menari itu (didalam honai) / di luar honai atau mencari honai lain. Untuk memahami proses pergantian posisi setiap pasngan tari hingga melakukan hubungan seksual dapat dilihat pada sketsa posisi duduk hingga pada puncak hubungan seksual pada lampiran 2 (dua).

Ragam Gerak dan Makna Simbol dalam Tari Tenggeng

Pada akhir-akhir ini tari Tenggeng mengalami perubahan bentuk sehingga ada tambahan-tambahan gerak yang muncul pada saat tari ini ditarikan. Gerak-gerak yang dimaksud adalah gerak yang menempelkan uang pada inelak (Buah dada) waniat dan gerak-gerak lain yang meraba bagian lain seperti Ianyo dan inager. Gerak–gerak ini menunjukkan bahwa ragam gerak asli Tari Tenggeng yaitu gerak yang hanya berpusat pada tangan megalami perubahan bentuk.

Selain perubahan ragam gerak, gelang yang digunakan sebagai simbol untuk menjawab setuju atau tidak atas pertanyaan yang disampaikan oleh salah satu dari pasangan penari sehubungan dengan penyampaian isi hati mereka melalui nyanyian-nyanyian yang dinyanyikan dalam Tari tenggeng juga mengalami perubahan bentuk. Yaitu gelang yang dianyam dari serat kulit kayu diganti dengan uang, mani-manik, jam tangan, cincin dan benda berharga lainnya. Dan apabila kita melihat tujuan dari tukar menukar gelang (tempo dulu) dan uang (sekarang) berbeda, yaitu :

  • Sejak mereka belum mendapat pangaruh dari luar, penari bersedia menukar gelang apabila setuju untuk kawin dengan pasangannya,
  • Sedangkan sekarang tukar menukar uang yang makin lama makin besar jumlahnya merupakan suatu tindakan tawar menawar harga yang diterima oleh penari wanita untuk bersedia melakukan hubungan seksual dengan pasngannya (penari laki-laki).

Selain itu, makna simbol penyelenggaran Tari Tenggeng tempo dulu merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mengimbangi rasa duka cita dari kerabat-kerabat keluarga yang mengalaminya. Sedangkan sekarang penyelenggaran tari Tenggeng didorong oleh faktor kepuasan seksual, sehingga tari tersebut dapat digelar pada upacara apa saja yang dapat mengumpulkan banyak orang untuk beramai-ramai antara lain seperti upacara perkawinan, mebuka kebun baru, basar-basar gereja, malam pesta rakyat sehubungan dengan hari kemerdekaan RI (17 Agustus) dan kesempatan lain yang disepakati bersama oleh para penari.

Musik pendukung, Busana, dan Peserta Tari

Dari hasil penelitian yang diperoleh di lapangan memberikan gambaran bahwa musik pengiring, busana, dan peserta tari (penari) mengalami perubahan bentuk. Hal ini dapat terlihat dari beberapa unsur dari ketiga aspek tersebut di atas, yaitu: syair yang dinyanyikan, alat musik yang digunakan, busana pria dan wanita, jumlah penari, siapa saja yang ikut bergabung dalam kelompok penari dan lain-lainnya. Untuk lebih memahami perubahan tersebut, berikut ini dikemukakan kondisi sebelum dan sesudah pengaruh budaya luar dalam tabel 5 dibawah ini.

 

TABEL 04

 

KONDISI MUSIK PENGIRING, BUSANA DAN POSISI PENARI TENGGENG SESUDAH MENDAPAT PENGARUH KEBUDAYAAN DARI LUAR DANI

KONDISI SEBELUM PENGARUH DARI LUAR

KONDISI SESUDAH PENGARUH DARI LUAR

  1. Musik pendukung Tari Tenggeng sebelum mendapat pengaruh dari luar tidak menggunak alat musik dan penarinya sendiri menyanyikan nyanyian yang dalam bentuk balas-balasan (pantun) sambil menari.

 

  1. Syair dari nyanyian yang digunakan untuk mengiringi tari Tenggeng sifatnya membangkitkan kerinduan, kenangan hubungan pria wanita yang nantinya mempererat hubungan meraka agar segera mereka membentuk suatu keluarga yang sah atau segera menjadi suami istri.

 

Contoh syair nyanyian tempo dulu:

Yauwi Yauwa

Tibo yabu ago

Anggup mban nenok wogorak

Engga m’ban nenok wogorak

Nawilel yinip

Worawi lel yinip

Yauwi yauwa

Lagu ini dinyanyikan oleh seorang penari laki-laki yang mencari jodohnya ke kampung lain, yang artinya:

Meminta kejujuran, dan ketulusan cintanya (si gadis), sebab ia selalu melewati gunung dan lembah untuk mencari cintanya (si gadis pasangannya). Untuk itu, berilah kepastian kepadanya

 

 

 

  1. Busana yang digunakan adalah busana tradisional , yaitu laki-laki menggunakan koteka dan wanita menggunaka Sali dan yokai.

 

 

 

 

 

 

 

  1. Peserta / penari terdiri dari laki-laki dan perempuan. Penari laki-laki dan perempaun adalah mudamudi  diatas 15 tahun dan masih bujang. Ada pula laki-laki yang sudah kawin namun masih bisa ikut tenggeng dan kebanyakan panglima perang atau yang mempunyai babi banyak.
  2. Musik pendukung Tyari Tenggeng menggunakan dilengkapai dengan alat musik seperti: ukulele dan gitar. Setiap nyanyian pengiring tari dipimpin oleh pimpinan musik.
  1. Syair dari nyanyian yang digunakan untuk mengiringi Tari Tenggeng membangkitkan kerinduan, kenangan hubungan pria dan wanita yang akhirnya merangsang atau membangkitan gairah untuk melakukan hubungan seksual.

Contoh syair nyanyian sekarang:

Kwebu sira nauluk

Kebe Ninin Norak lek Kwe

Konbe pulir nani nen

Kamik tangkap

Sioga langok Karira

Artinya:

Adik mitam manise, tak dapat engkau pergi bersama kami. Namun mengenang janji palsumu, biarkan aku memegang buah dadamu. Untukku bawah dibawah awan dan gunung Tiyoga dan Wagoya.

Lagu yang mengisahkan tentang suatu perjanjiann palsu yang disampaikan oleh perempuan, malam tari itu sehingga ia mohon agar perempuan siap menerimanya.

  1. Busana yang digunakan sekarang adalah pakaian yang dijula di toko/kios, yang dibuat dari bahan tekstil. Pada waktu menari ada penari wanita yang bagian atasnya kosong atau tidak menutupi buah dadanya seperti dulu, begitu pula penari laki –laki memggunakan hiasan kepal yang dibuat dari bulu-buluy burung, sedangkan waniat menghias badan dengan manik-manik.
  1. Pemain musik terpisah dari para penari, namun demikian penari tetap ikut menyanyi. Penari atau peserta tari terdiri dari muda –mudi yang sudah mengalami menstruasi (gadis) dan laki-laki menganggap dirinya sudah bisa melakukan hubungan seksual. Selainitu, peserta pada panggung musisi bisa melibatkan anak-anak.

Apabila diperhatikan kondisi sebelum dan sesudah kontak dengan dunia luar pada tabel tersebut di atas, maka terlihat dengan jelas perubahan bentuk yang terjadi pada musik pendukung, busana, dan peserta tari Tenggeng.

Penulis adalah Dosen Antropologi Universitas Cenderawasih, Koreografer Tari Etnis Papua dan Kandidat Doktor Antropologi FISIP UI

DAFTAR  PUSTAKA

Lokobal, Nico dkk. 1997. Pandangan, Kepercayaan, Sikap dan Perilaku Masyarakat Dani Tentang Seksualitas dan Penyakit Menular Seksual (PMS). Jayapura: Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Irian Jaya CHN3.

Rumansara, Enos dkk. 1999. Transformasi Tari tenggeng Dalam Kebudayaan Orang Dani Kabupaten Daerah Tingkat II Jayawijaya (Hasil Penelitian). Jayapura: Program Studi Antropologi UNCEN.


[1] Tari Tenggeng artinya tari tukar gelang untuk mencari jodoh.

[2] Pawi adalah upacara dimana orang tua menjodohkan anaknya. Di lakukan masal oleh oang tua anak-nak muda itu karena anak-anak mereka sudah bisa dikawinkan.

[3] Uang pintu, yaitu bagian dari harta mas kawin yang diberikan oleh keluarga calon suami kepada Ibu dari anak perempuan yang menjadi calon istri. Bagi orang Dani mas kawin berupa babi.

1 Tari Tenggeng dapat dilakukan pada saat pembukaan lahan kebun baru. Mereka yang melakukan pekerjaan menebang pohon dan membersihkan kebun diundang dari kampung atau desa – desa disekitar. Setelah kegiatan ini, malam harinya dilakukan Tari Tenggeng

[4] Tari Tenggeng dapat dislenggarakan pada upacara perkawinan. Diselenggrakan pada malam pertama, yaitu pada saat calon isitri diantar ke rumah laki – laki calon suaminya. Pada malam itu, para muda –mudi datang dari kampung atau silimo sekitarnya berkumpul dan menyelenggarakan Tari Tenggeng


Beranda  |  Kategory: Edisi 06 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia