Tari Melemang: Demi Catatan dari Kampung Nelayan Tanjungpisau-Penaga

27 - May - 2004 | Sita Rohana | No Comments »

“…lima orang gadis berbaju kurung panjang warna hijau dengan aksen emas. Sehelai selendang mengikat pinggang ramping mereka. Rentak gendang dan gesekan biola tua mengiringi langkah kaki gerak tangan para penari. Sebagai klimaks, mereka membentuk formasi lingkaran dan mempertunjukkan atraksi akrobatik dengan melontarkan tubuh ke belakang, “melemang” (ngayang, Jawa, pen.). Seorang anggota kru melemparkan beberapa keping uang logam. Para penari mengambilnya dengan mulut, masih dalam posisi “melemang” (pentas FBN di Tanjungpinang, 1999).

Tari Melemang adalah kesenian Melayu yang kurang begitu dikenal, bahkan oleh orang Melayu sendiri. Tari ini berakar pada tradisi Joget Dangkung[2], kesenian tradisional yang sangat digemari di Kepulauan Riau yang juga sering mendapat sorotan dari kalangan ulama sebagai kesenian yang tidak Islami.

“Seni tari Joget (Dangkung) kurang mendapat perhatian dan penghargaan yang selayaknya dari orang Melayu yang amat taat menganut agama Islam. Menurut pandangan mereka menari joget adalah tingkah laku tercela yang bertentangan dengan norma-norma agama (Islam). Mengenai ngibing dalam joget dapat mengarah kepada pekerjaan maksiat yang dipandang rendah oleh masyarakat ramai. Oleh karena penilaian yang serupa inilah orang-orang yang gemar joget atau pun pemain-pemain (panjak) joget dipandang rendah” (Kadir, 1985: 827).

Kesan negatif joget muncul seputar kebiasaan nandak (ngibing, pen.). Kebiasaan ini tidak hanya dianggap “melecehkan” perempuan, tetapi juga sering dianggap sebagai prostitusi tersamar. Untuk mendapatkan kesempatan nandak dengan penari pilihannya, penandak –biasanya laki-laki— harus  memberikan imbalan uang (di dalam pertunjukan Tayub di Jawa dikenal sebagai suwelan, pen.). Bahkan, kadang-kadang bila peminatnya banyak, para penandak harus saling bersaing dan yang memberi uang terbanyaklah yang berhak nandak. Bagi para penari joget, sesi nandak justru sangat ditunggu untuk mendapatkan penghasilan ekstra (uang dari penandak adalah hak pribadi penari, bukan kelompok, pen.). Di kalangan orang joget, banyak-sedikitnya orang yang nandak juga menjadi ukuran kefavoritan seorang penari. Oleh karena itu, para penari mengeksplorasi berbagai gaya tertentu yang bisa menjadi ciri khas sekaligus menjadi “daya tarik” bagi orang untuk nandak dengan mereka. Pada kurun waktu tahun 30-an hingga 50-an, dari panggung joget ini muncul nama Sari. Penari ini terkenal dengan atraksi “melemang” yang menjadi pemikat bagi penonton joget.

Permintaan untuk “melemang” dari penandak hanya dilayani Sari untuk penawaran tertinggi. Uang yang diberikan oleh penandak akan diambil Sari saat ia dalam posisi “melemang”, tentu saja dengan mulutnya. Kehebatannya dalam atraksi ini sangat terkenal hingga ke pulau-pulau lain. [3] Nama Tanjungpisau-Penaga (kampung tempat Sari berasal) pun akhirnya ikut terangkat. “Melemang” inilah yang kemudian menjadi bibit perkembangan Tari Melemang.

Mungkin pada awalnya Tari Melemang “diciptakan’” dengan maksud untuk merealisasikan ide besar mengenai identitas Melayu (Melayu Riau Kepulauan, pen.), tetapi pada paruh perjalanannya telah memunculkan perdebatan etika dan estetika seputar kesenian ini sendiri dan tokoh sentralnya: perempuan sebagai penari. Terlebih karena Tari Melemang berakar dari sebuah atraksi joget yang pada masanya pun sudah dianggap sangat kontroversial karena gerakannya yang seronok dan mengekspose tubuh penari perempuannya.

Dari Sebuah Kampung Nelayan

Pada tanggal 31 Januari 1985, di Pekanbaru diadakan Pertemuan Kebudayaan Melayu Riau yang membahas mengenai konservasi kebudayaan Melayu. Pertemuan ini juga merupakan persiapan Seminar Kebudayaan Melayu pada tanggal 17 Juli 1985 berkaitan dengan pembukaan Pusat Informasi Kebudayaan Melayu[4] di Tanjungpinang.

Tidak lama setelah pertemuan di Pekanbaru, seorang penilik kebudayaan mendatangi kampung nelayan Tanjungpisau-Penaga yang beberapa dekade lampau melahirkan tokoh “melemang” ternama di panggung joget (Joget Dangkung, pen.), Sari. Kampung ini terletak di belahan utara Pulau Bintan, sekitar 70 kilometer dari Tanjungpinang bila melewati jalan darat (dapat ditempuh kurang lebih 40 menit perjalanan laut dengan memakai pompong, perahu kayu bermesin). Kampung Tanjungpisau adalah salah satu kampung yang ada di wilayah Teluk Bintan yang berdekatan dengan tiga pusat ekonomi Lobam, Lagoi, dan Tanjunguban.

(foto kampung)

Tanjungpisau: Di antara lambaian nyiur

foto: koleksi pribadi, 1999

Atas nama pemerintah, penilik kebudayaan tersebut mengutarakan tujuan kedatangannya dalam bahasa resmi “…untuk membina dan mengembangkan “melemang” sebagai aset daerah yang harus dilestarikan.” Niat ini direspon dengan sangat baik oleh tokoh masyarakat setempat. Inilah yang kemudian mengawali lahirnya Kelompok Tari Melemang Tanjungpisau-Penaga yang konon akan dikembangkan “terlepas” dari pengaruh joget. Kelompok tari ini diketuai oleh Ismail, seorang pemuka masyarakat, imam masjid, dan ahli pengobatan (dukun) yang reputasinya sudah diakui sampai ke desa-desa di sekitarnya. Pengangkatan ini secara politis merupakan langkah awal dalam usaha “pembersihan” pengaruh joget dalam Tari Melemang.

Langkah berikutnya adalah membuat koreografi tari yang akan mengemas atraksi “melemang” sebagai sebuah pertunjukan utuh. Lalu diangkatlah Sari sebagai konsultan tari. Penunjukan yang ternyata sangat dilematis. Sari dikenal sebagai pemain Joget Dangkung, sehingga sebagian orang merasa kurang sreg. “…Kalau orang tahu, apa pula kata orang, bisa jadi dibilang sama dengan joget. Kalau gitu tak bagus nantinya,” tutur salah seorang anggota. Namun, mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit karena hanya Sari yang benar-benar menguasai “melemang”. Jalan tengahnya, Sari tetap dipertahankan sebagai konsultan tari, meskipun dengan kontrol ketat dari pengurus kelompok dan penilik kebudayaan.

Akhirnya, koreografi Tari Melemang pun selesai dibuat dengan mengadopsi berbagai gerakan tari yang sudah ada seperti Zapin dan Tari Saman dari Aceh sebagai pemanis sajian utama “melemang”. Kebiasaan nandak dalam joget dan mengambil barang atau uang yang dilemparkan penonton saat “melemang” seperti yang dilakukan Sari telah ditanggalkan. Meskipun pada kenyataannya di panggung FBN dan panggung lainnya atraksi memungut uang dengan mulut masih dipertunjukkan, dan pengurus kelompok berkilah itu dilakukan “semata-mata pertunjukan ketangkasan”, tanpa maksud lain. Usaha lain untuk melepaskan diri dari pengaruh Joget Dangkung adalah dalam pemilihan kostum. Kostum panggung yang dipakai bukan kebaya pendek yang pas badan seperti yang biasa dikenakan pada pertunjukan joget. Para penari Tari Melemang memakai kostum panggung berupa baju kurung Melayu yang lebih tertutup dan longgar.

Kerja besar di awal pembentukan kelompok kesenian ini adalah untuk mempersiapkan diri sebagai pengisi acara Forum Seminar Kebudayaan Melayu di Penyengat. Setelah itu, mereka juga diundang pada beberapa acara resmi di Tanjungpinang. Ketika Ismail meninggal, frekuensi pementasan pun berkurang hingga hilang sama sekali. Sampai kemudian Edi (27 tahun) menggantikan ayahnya untuk menghidupkan kembali kelompok tari tersebut. Berkat perkenalannya dengan Husnizar, seniman dan pemilik sanggar tari Sanggam di Tanjungpinang, kelompok Tari Melemang Tanjungpisau-Penaga pun dapat tampil di acara Kenduri Budaya Melayu di Pulau Batam tahun 1999. Husnizar juga sangat berperan dalam merancang penampilan baru Tari Melemang dengan usulannya untuk membuat jalan cerita yang berlatar kehidupan istana.

Format baru Tari Melemang ini melibatkan tokoh raja, permaisuri, dan putrinya yang sedang melihat pertunjukan tari. Dengan format baru ini maka pertunjukkan Tari Melemang memerlukan sekurang-kurangnya 14 orang personil yang terdiri atas 3 orang pelakon (tokoh raja, permaisuri, dan putri), 4 orang pemusik (kodian/akordeon, gong, piul/biola, dan tambur), seorang penyanyi, serta 6 orang penari. Format baru yang dalam isi tidak banyak mengalami perubahan ini dipertunjukkan pada acara Festival Budaya Nusantara di Tanjungpinang.

Tanpa diduga, pentasnya di festival ini telah menarik perhatian banyak orang. Terlebih pada gerakan “melemang” yang kontroversial bagi masyarakat Melayu yang tidak saja menjunjung tinggi nilai-nilai Islam tetapi juga memiliki aturan yang ketat dalam “gerakan” tari yang boleh dilakukan oleh penari perempuan. Lihat saja bagaimana Zapin dipertunjukkan. Tidak ada gerakan tangan yang melebihi bahu. Pun tidak ada gerakan kaki yang terangkat lebih di atas lutut. Apalagi goyangan anggota badan yang sensual seperti goyangan pantat dan dada. Sedangkan Tari Melemang, meskipun gerak tarinya masih sesantun Zapin, namun posisi “melemang”-nya sendiri tidak bisa dipungkiri mengekspose bagian depan tubuh penari perempuannya.

Tari ini pun menuai bermacam tanggapan. Beberapa orang dari generasi yang pernah melihat Sari beraksi mengatakan bahwa “melemang” tetaplah “melemang” yang dilihat sebagai atraksi yang mempertunjukkan tubuh perempuan sebagai hiburan. Terutama di kalangan perempuan sendiri yang menganggap atraksi ini sebagai sebuah “pelecehan”, seperti yang diutarakan oleh Menteri Urusan Peranan Wanita pada masa pemerintahan Orde Baru saat menyaksikan tari ini. Pembentukan narasi baru dan pemolesan yang telah dilakukan ternyata juga tidak banyak mengubah kesan yang telah ada. Bahkan, di kalangan orang Tanjungpisau sendiri, para penari Tari Melemang masih sering diperolok sebagai “pemain joget”.[5] Hal ini tentu saja membuat jengah para perempuan penari yang berasal dari kalangan masyarakat biasa tersebut. “…kami bukan main joget. Kami ada sejarah. Tak sama dengan joget,” tandas mereka.

Tari Melemang vs Tandak Lemang

Barangkali kontradiksi-kontradiksi ini yang menggelitik benak para pengamat tari dan kebudayaan Melayu. Kelompok tari pimpinan Edi ini pun mendapat undangan untuk berpartisipasi dalam festival tari Melayu yang diselenggarakan di Pekanbaru tidak lama setelah FBN. Namun, ternyata pada hari H, bukan Kelompok Tari Melemang Tanjungpisau-Penaga tampil (meskipun nama tarinya yang dipakai), melainkan sanggar tari Sanggam milik Husnizar yang membawakan tari “melemang” dalam versi kreasi baru. Tari ini berhasil meraih juara satu dan akan dikirim mewakili Riau dalam festival kesenian daerah di TMII. Debut penampilannya di Pekanbaru membawanya menuju festival tari di TMII, Jakarta. Dalam festival tersebut, tari yang kemudian diberi nama Tandak Lemang ini berhasil meraih juara ketiga.

Menurut Husnizar, ia mengirim penari dari sanggarnya sendiri karena waktunya sangat sempit untuk memberi kabar ke Tanjungpisau-Penaga. Belakangan diketahui bahwa sejak pentas di Batam tempo hari, sanggar tari pimpinan Husnizar kemudian menciptakan sebuah tarian yang gerakan dasarnya berasal dari gerakan Tari Melemang Tangjungpisau-Penaga.

Kekecewaan tentu saja melanda orang Tanjungpisau-Penaga karena berita akan “main” di Pekanbaru sudah menyebar. Edi mengungkapkan kegetirannya:

“…sejak tahun 1986 ketika Tari Melemang Tanjungpisau-Penaga dikatakan akan dilestarikan supaya dapat memberi kebanggaan kepada Riau (…) namun saya merasa pemerintah hanya setengah hati dalam usaha melestarikan kesenian rakyat ini. Tiap kali ada acara kadang kelompok Tari Melemang Tanjungpisau-Penaga sudah didaftar, begitu dekat pada waktu pelaksanaannya tahu-tahu dibatalkan dengan alasan dana tidak mencukupi atau alasan-alasan lain yang mengecewakan.”

Tenggelamnya Tari Melemang berganti dengan kejayaan Tandak Lemang yang semakin dikenal orang. Sanggar tari Sanggam pun semakin sering memperoleh undangan untuk berpentas. Tidak hanya dalam festival-festival, tetapi juga dalam berbagai acara. Sempat juga mereka menjadi pengisi acara rutin di sebuah hotel berbintang lima di Lagoi. Bahkan, Tandak Lemang pun nyaris menjadi suguhan wajib dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah.

Sebagai sebuah tari kreasi baru, Tandak Lemang memang digarap dengan cermat, baik dalam gaya maupun kostum. Tari ini dibawakan oleh 4 pasang penari remaja yang memiliki jadwal latihan rutin setiap minggunya. Kostum panggung yang dipakai adalah baju kurung Melayu berwarna terang dengan selendang yang diikatkan di pinggang dan aksesori yang gemerlapan. Tari ini berkisah tentang sekelompok anak gadis yang digoda oleh anak laki-laki. Karena terus digoda, untuk melawan godaan mereka maka mereka “melemang”. Tarian ini dibawakan dengan atraktif dan agresif, bahkan cenderung genit, dengan iringan musik riang.

Banyak perbedaan menyolok di antara kedua tari ini. Tari Melemang yang selalu berada di bawah bayang-bayang sejarah, berusaha keras untuk tampil sebagai sebuah kesenian Melayu, yang Islami. Para penari perempuannya harus menjaga image agar tidak disebut sebagai “pemain joget”, sebuah label yang berkonotasi negatif. Beban berat yang disandangnya sebagai pengusung kesenian luhur yang bersejarah seakan memberati langkah kaki dalam meniti irama tarian yang mereka bawakan. Belum lagi manajemen yang tidak profesional, sumberdaya, dan modal yang ala kadarnya membuat penampilannya pun sesederhana polesan make-up para penarinya dan sedatar pertunjukannya. Tanpa berusaha mengecilkan, tari ini terlalu dibebani oleh misi dan pesan, kurang memperhatikan aspek artistik dan hiburan, apalagi daya jual. Sebaliknya, Tandak Lemang, tampil sebagai sebuah karya seni yang “ringan” dan menghibur, tanpa harus dibebani pesan-pesan “besar”.  Ia adalah hidup kita sehari-hari, bukan dunia khayal yang jauh dari angan-angan. Seperti namanya, tandak, yang mengajak orang untuk larut dalam irama riangnya. Tak disangkal, Tandak Lemang adalah karya seni sekaligus komoditas hiburan yang “layak jual”. Masyarakat sebagai konsumen yang mulai kritis dalam memilih memiliki andil besar dalam kelangsungan hidup kedua jenis tari yang berasal dari akar yang sama ini. Hukum alam berlaku dengan caranya sendiri, seperti hukum ekonomi berlaku sesuai permintaan dan penawaran. Tandak Lemang pun kemudian menjadi kebanggaan Melayu, tanpa perlu banyak bertutur.

Lampu Panggung Meredup, Penari kembali menjadi Perempuan

Bagi Edi dan kelompoknya, Festival Budaya Nusantara tahun 1999, adalah panggung terbesar sekaligus terakhir dalam perjalanan karir mereka. Berbagai upaya yang dilakukannya untuk mempertahankan eksistensi Tari Melemang Tanjungpisau-Penaga ternyata tidak banyak membawa hasil. Akhirnya, ia pun angkat tangan dan kembali pada aktivitasnya semula, menjadi nelayan. Sepeda motor yang dipakainya ke kantor-kantor untuk meminta bantuan dana guna kelompok tarinya akhirnya dijual untuk membeli mesin bagi perahunya yang telah berbulan-bulan tidak melaut.

(foto keluarga)

Keluarga Ismail (alm.)

foto: koleksi pribadi, 1999

Begitu juga dengan para penarinya yang sebagian besar bekerja sebagai buruh pabrik di Lobam. Bagi perempuan-perempuan ini, dunia panggung menawarkan sisi kehidupan lain, kegairahan sesaat yang melenakan. Hanya ada sambutan suka-cita setiap ada undangan untuk berpentas. Tidak peduli harus mengambil cuti dan gaji dipotong. Barangkali memang mereka bangga membawakan tari yang “bersejarah” ini. Tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa panggung juga berarti “liburan”, dari kepenatan hidup yang mereka jalani.

Bagi para orang tua di Tanjungpisau, anak perempuan adalah aset ekonomi yang sangat berharga. Pusat-pusat industri seperti Lobam, Lagoi, atau Batam memang hanya memberi ruang bagi tenaga kerja perempuan, untuk yang berpendidikan pas-pasan. Di Tanjungpisau, anak perempuan yang tamat SLTP dan tidak melanjutkan pendidikannya hampir dipastikan bekerja sebagai buruh di Lobam atau Batam. Berbeda dengan anak laki-laki, hanya sebagian kecil saja yang beruntung bisa bekerja di pusat-pusat industri tersebut. Sementara kampung kecil ini juga tidak memberikan banyak pilihan pekerjaan selain mencari ikan bagi para laki-laki dan menderes karet bagi para perempuan yang sudah berkeluarga. Bagi yang memiliki kebun durian dan duku dapat memperoleh tambahan yang lumayan bila musim panen tiba. Oleh karena itu, seringkali tulang punggung keluarga justru terletak pada anak-anak perempuan, sepanjang mereka belum menikah tentu saja.

Panggung gemerlap tempat para perempuan belasan tahun itu menghirup udara segar, dari jam kerja yang panjang dan melelahkan, dari tuntutan orangtua untuk membawa gaji bulanan mereka guna menutup kebutuhan keluarga. Meskipun sesungguhnya panggung gemerlap ini pun tidak jauh berbeda dengan kehidupan yang mereka jalani. Mereka tetaplah anak wayang yang berlakon sesuai arahan yang ada, nyaris tidak ada kebebasan. Atas nama sebuah cita-cita besar –dari para pemimpin — mereka mempertaruhkan nama dan harga diri. Keberhasilan mereka adalah kebanggaan para pemimpin, tapi kejatuhan mereka tetap hanya mereka tanggung, seperti ketika orang menyebut mereka “pemain joget”.

Kini, tidak ada lagi impian kanak-kanak untuk menjadi penari. Apalagi untuk berpentas di panggung-panggung di kota. Tidak ada lagi penari, yang tinggal hanyalah perempuan, dengan beban yang sudah ada sejak ia dilahirkan.

Lampu panggung telah mati,

kita harus bergegas pulang,

dan segera menuju kebun

agar monyet-monyet tidak merampas,

duku-duku ranum panen kita di tahun ini.

 

 

Yogyakarta, 28 Oktober 2003

 

 

 

Sumber Bacaan

 

Amanriza, Ediruslan Pe dan Hasan Yunus. 1993. Seni Pertunjukan Tradisional (Teater Rakyat) Daerah Riau. Pekanbaru : IDSV.

 

Hamidy, UU. 1997. Cakap Rampai-Rampai Budaya Melayu di Riau. Pekanbaru: Universitas Lancang Kuning Press.

Kadir, Mohd. Daud. 1985. “Pertumbuhan dan Perkembangan Kesenian Melayu Riau” dalam Ediruslan Peamanriza, dkk. (ed.) Pertemuan Budaya Melayu Riau 1985. Pekanbaru: Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Riau.

Lutfi, Muchtar., Suwardi MS., Anwar Syair., dan Umar Amin. 1996. Sejarah Riau. Pekanbaru: Biro Bina Sosial Sekwilda Daerah Tingkat I Propinsi Riau.

Md Nor, Mohammad Anis. 1999. Prospek Tari Melayu dan Peranannya pada Milenium III. Makalah dalam seminar Pesta Budaya Melayu: Keberagaman Budaya Melayu Menyongsong Milenium III. Tanjungpinang : ATL dan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.

Parani, Julianti L. 1991. Seni Tari Melayu Fungsinya dalam Kebudayaan Indonesia. Tanjungpinang : Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjung Pinang.

Rab, Tabrani. 1985. “Orientasi Nilai Masyarakat Melayu: Perubahan dan Perkembangan-nya” dalam Ediruslan Peamanriza, dkk. (ed.) Pertemuan Budaya Melayu Riau 1985. Pekanbaru: Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Riau.

Rohana, Sita. 2000. “Tari Melemang: Mencari Identitas di atas Puing-puing Sejarah,” dalam Kebijakan Pemerintah dalam Kebudayaan. Jakarta: LIPI.

Sastrosuwondho, Soemantri. 1985. Teater Makyong Riau dan Perkembangannya. Tanjungpinang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.

Sinar, Tengku Luckman. 1994. Jatidiri Melayu. Medan: Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Seni Budaya Melayu (M.A.B.M.I).

Tintin, Idrus dan BM. Syamsudin. 1987. Kesenian Melayu Riau dan Perkembangannya (Pandangan Setempat). Tanjungpinang: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Tanjungpinang.


[1] Festival Budaya Nasional diselenggarakan di beberapa kota di Indonesia, salah satunya di Tanjungpinang. Festival ini terselenggara atas kerjasama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Asosiasi Tradisi Lisan.

[2] Joget Dangkung adalah kesenian rakyat Melayu Kepulauan Riau yang telah dikenal sejak abad ke-17. Kesenian ini dimainkan oleh 4-8 penari, 3 orang pemusik, dan seorang penyanyi. Pembahasan lebih lanjut lihat Idrus Tintin, 1986.

[3] Atraksi “melemang”-nya yang legendaris adalah kedua kaki terangkat ke atas. Dalam posisi ini ia bisa mengambil lidi yang kecil, sepuluh keping uang koin yang disimpan di mulutnya, atau mengangkat buah durian tanpa terluka sedikit pun. Tokoh ini meninggal tahun 1992.

[4] Lembaga ini pada tahun 1989 menjadi Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

[5] Profesi artis hiburan terlebih penari joget dalam masyarakat Melayu masih dipandang rendah—nyaris nista—bukan pekerjaan yang bermartabat. Uang yang dihasilkan dari sini  pun dianggap sebagai “uang panas” dan mudah menguap, tidak bermanfaat dalam kehidupan dan masa depan yang baik dan mapan (lihat Rohana, 1999).

Beranda  |  Kategory: Edisi 06 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia