Waria: Eksistensi dalam Pasungan

28 - Oct - 2003 | Endah Sulistyowati | No Comments »

Banyak yang menilai bahwa kehadiran waria menimbulkan masalah sosial di masyarakat. Pada intinya masalah sosial timbul jika terdapat ketidaksesuaian yang besar antara apa yang terjadi dengan apa yang orang-orang pikirkan sebaiknya terjadi. Ada ketidaksesuaian antara keadaan yang sebenarnya dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat (Davis, 1976 :7). Keberadaan waria mungkin memunculkan masalah tersendiri, misalnya dari aspek sosial yang berkaitan erat dengan pelayanan pembuatan KTP (Kartu Tanda Penduduk). Pada KTP tercantum jenis kelamin tertentu dan karena waria terlahir dengan jenis kelamin laki-laki maka nama sebagai identitas laki-laki ini tentunya akan dipergunakan seumur hidupnya.

Selama ini stereotip masyarakat yang sering ditujukan kepada kaum waria adalah bahwa mereka identik  dengan prostitusi. Tekanan ekonomi dan kemiskinan yang dialami waria disebabkan oleh tidak-adanya kesempatan pendidikan dan lapangan pekerjaan formal bagi kaum waria. Prostitusi sebagai jalan pintas akhirnya menjadi alternatif terakhir untuk mempertahankan hidupnya. Keberadaan waria itu sendiri, khususnya sebagai pekerja seks, tidak terlepas dari pengaruh lingkungan setempat. Masyarakat membangun pemikiran bahwa seks bagi waria identik dengan pelacuran. Ini tidak bisa dilepaskan dari berbagai fenomena sosial di berbagai kota, yang umumnya memiliki tempat-tempat khusus prostitusi waria, mereka menyebutnya ‘cebongan’. Bisa jadi itu memang benar, tetapi seluruh persoalan waria tidak bisa dilepaskan dari konstruksi sosial waria itu sendiri. Selama ruang sosial seperti keluarga, masyarakat, negara, dan LSM masih menganggap mereka sebagai ‘orang sakit’ maka definisi sosialnya menjadi jelas : mereka harus dihindari dan dibuang. Mereka tidak perlu hadir dalam perbincangan sosial bahkan kalau perlu ‘digaruk’.

Konstruksi miring tentang waria ini pada gilirannya memunculkan reaksi yang bervariasi, mulai dari menerima dengan baik hingga perlakuan yang tidak manusiawi (diejek, dihina, diludahi, dipegang-pegang, ‘digaruk’ oleh petugas kamtib, dipukul, bahkan sampai terbunuh karena ingin lolos dari kejaran petugas kamtib (Kompas, 1995 : 11).

Tidak sedikit laki-laki yang mau berhubungan seks dengan waria bahkan menjadi pasangan tetapnya (suami/pacar), bahkan tidak sedikit pula laki-laki yang menjalani kehidupannya sebagai suami/pacar selama bertahun-tahun dan tinggal di bawah satu atap. Akan tetapi banyak konsumen waria adalah laki-laki yang mengaku/menganggap dirinya sebagai heteroseks (ketertarikan secara seksual dan erotis antara individu yang berlainan jenis) karena laki-laki tersebut juga berhubungan dengan perempuan. Hal ini memperlihatkan bahwa rata-rata konsumen waria adalah laki-laki heteroseks dan homoseks,1 bukan seperti yang diperkirakan oleh sebagian masyarakat bahwa konsumen waria hanya mereka yang juga mengalami ‘penyimpangan seks’2 (homoseks).

Banyak hal yang menyebabkan laki-laki heteroseks melakukan hubungan seks dengan waria, selain harga transaksi yang relatif murah dibandingkan dengan pekerja seks perempuan, juga cara-cara yang dilakukan lebih praktis dan cepat, serta tidak memerlukan tempat tertentu yang seringkali harus dibayar mahal melebihi jasa pelayanan seksual itu sendiri. Menarik untuk disimak bahwa laki-laki yang menjadi pasangan tetap waria adalah juga laki-laki yang mengakui dirinya sebagai heteroseks. Mungkin ada banyak alasan selain faktor ekonomi yang melatarbelakangi tindakan laki-laki untuk menjadi pasangan tetap waria selama bertahun-tahun. Karena keputusan untuk menjalani hidup bersama waria bukanlah keputusan yang mudah diambil oleh setiap laki-laki, terutama laki-laki yang menganggap dirinya heteroseks dan bukan yang murni homoseks/gay. 3

Sekilas Sosok Waria Jatinegara

Sekilas mungkin tidak ada perbedaan yang signifikan antara waria yang mangkal/beroperasi di taman Jatinegara (untuk seterusnya waria-waria yang mangkal di taman Jatinegara akan disebut sebagai waria Jatinegara) dan waria-waria di tempat lain, seperti di Taman Lawang atau di arena PRJ (Pekan Raya Jakarta) Kemayoran. Namun jika dicermati lebih jauh terdapat perbedaan yang cukup menonjol, misalnya tempat terjadinya transaksi seksual antara waria dengan si temong. Bila sebagian besar waria di Taman Lawang melakukan hubungan seksual dengan temongnya di hotel-hotel atau di dalam mobil maka sebagian besar waria di Jatinegara melakukannya di dalam taman yang gelap beralas rumput atau di pinggir rel kereta api yang sepi. Hanya sebagian kecil yang dibawa ke hotel oleh temongnya, sebaliknya justru para temong yang sering dibawa oleh waria ke kamar kontrakannya.

Kawasan Jatinegara memang tidak semasyhur Taman Lawang untuk urusan ‘mejeng’ kaum waria. Hal itu kemungkinan disebabkan oleh banyaknya pekerja seks selain waria yang juga ‘mejeng’ di taman Jatinegara sehingga tempat itu tidak dapat dikatakan sebagai lokasi khusus waria meskipun taman tersebut cukup besar dan strategis seperti halnya Taman Lawang.

Perbedaan lain antara waria Taman Lawang dan Jatinegara adalah penampilan fisik, di mana para waria Taman Lawang hampir menyerupai sosok perempuan asli dengan payudara yang besar, kulit putih mulus, postur tubuh tinggi bak foto model, dandanan yang cantik, serta pakaian yang terlihat mewah sampai penghasilan rata-rata permalam. Menurut Ismawati (2001 : 57,65,73), para waria di Taman Lawang berpenghasilan rata-rata 100.000 rupiah – 3.500.000 rupiah dalam semalam.

Sedangkan para waria Jatinegara, hanya sebagian kecil saja yang sosoknya menyerupai perempuan (biasanya mereka juga ‘mejeng’di Taman Lawang pada hari-hari tertentu), sebagian besar sisanya masih terlihat seperti laki-laki, dengan dandanan menor yang berlebihan, kulit hitam tersengat matahari, payudara rata karena belum disuntik silikon, serta usia yang sudah tua (tidak sedikit yang berusia di atas 35 tahun). Rata-rata penghasilan waria Jatinegara dalam semalam adalah 10.000 rupiah – 100.000 rupiah.

Dari perbedaan fisik yang dipaparkan di atas, mengakibatkan terjadinya perbedaan harga transaksi seksual. Dapat dipastikan bahwa sosok waria yang menyerupai perempuan memasang tarif yang lebih tinggi dibandingkan dengan sosok waria yang masih terlihat seperti laki-laki. Perbedaan tarif tersebut biasanya berpengaruh pada status sosial dan ekonomi si waria yang pada akhirnya menimbulkan perbedaan kelas antara waria ‘kelas hotel’4 dan waria ‘kelas jalanan’.5 Dalam tulisan ini, penulis menekankan pada waria Jatinegara yang termasuk dalam kategori waria ‘kelas jalanan’.

Para waria Jatinegara biasanya mulai ‘mejeng’ pada jam 9 malam sampai jam 4 pagi. Tidak ada lokalisasi khusus untuk waria sehingga mereka menyebar ke beberapa tempat. Tempat yang paling sering dijadikan lokasi ‘mejeng’ adalah sebuah taman yang terletak di bawah kolong by-pass (jalan tol Ir. Wiyoto Wiyono), sebagian besar waria menyebutnya taman Jatinegara atau taman Prumpung. Taman ini sendiri terletak pada posisi yang strategis, dekat dengan pasar Jatinegara, juga dekat dengan stasiun Jatinegara. Di bagian utara berbatasan langsung dengan perpotongan jalan Bekasi Timur Raya dan jalan Bekasi Barat Raya. Bentuk taman ini menyerupai bentuk segi lima dengan luas kira-kira 1000 m2. Kondisi taman dipenuhi dengan pohon-pohon besar yang teduh dan tempat duduk dari batu dengan bentuk melingkar mengelilingi satu pohon. Tempat duduk batu tersebut hanya ada beberapa buah dan kebanyakan sudah rusak.

Pada siang hari, banyak pedagang minuman dan warung rokok yang menggelar dagangannya di pinggir-pinggir taman. Selain para pedagang, taman tersebut ditempati oleh para gelandangan dan pengemis. Dari hasil pengamatan penulis, jarang ada pejalan kaki yang melintas dengan sengaja melalui bagian tengah taman, kebanyakan dari mereka lebih memilih memutar mengelilingi bagian pinggir taman untuk mencapai daerah di seberang taman. Hal itu mungkin disebabkan oleh kondisi taman yang luas dan banyak dipenuhi oleh gelandangan serta pengemis sehingga orang yang lewat merasa was-was/khawatir ada yang akan berbuat jahat di dalam taman.

Pada malam hari, kira-kira jam 9, para pekerja seks komersial mulai berdatangan. Tidak hanya waria saja tetapi juga pekerja seks perempuan, pekerja seks ABG, pekerja seks laki-laki (kucing) bahkan sampai kaum gay ada di taman tersebut. Mereka menempati ‘wilayahnya’ masing-masing. Di seluruh jalan bagian utara taman sampai ke pinggir rel kereta api dan sebagian jalan di bagian barat taman, ditempati oleh waria. Seluruh jalan bagian timur taman dihuni oleh pekerja seks perempuan dan pekerja seks ABG (di bagian jalan ini biasanya para pekerja seks ABG merangkap pedagang minuman teh botol). Pada bagian selatan taman, ditempati oleh pekerja seks laki-laki (kucing) dan sebagian wilayah barat taman ditempati oleh kaum gay. Di bagian barat taman yang ditempati oleh waria, ada beberapa penjual minuman yang bukan dari kalangan pekerja seks (biasanya mereka juga menjual minuman keras seperti bir yang disebut ‘intisari’). Selain pedagang minuman, ada juga karaoke dangdut yang digelar setiap malam Sabtu dan Minggu. Karaoke dangdut tersebut banyak peminatnya terutama dari kalangan sopir angkutan umum. Ramainya karaoke dangdut itu membawa dampak baik bagi para pekerja seks terutama waria karena laki-laki yang datang ke karaoke tersebut biasanya juga mencari ‘kenikmatan’ dari para pekerja seks.

Sebagian besar para waria yang mangkal di taman Jatinegara, mengontrak kamar di daerah Cipinang Jagal, Jakarta Timur, dengan harga sewa per-kamar ukuran 2×3 m tanpa kamar mandi berkisar antara 60.000 rupiah – 100.000 rupiah per bulan. Jika ingin mandi atau buang air besar, para waria dapat menggunakan kamar mandi yang disediakan oleh pemilik kontrakan atau menggunakan MCK (Mandi Cuci Kakus) umum yang ada di pinggir Kali Sunter dengan membayar 200 rupiah. Dengan penghasilan yang tidak menentu setiap malam, harga sewa kamar tersebut termasuk mahal akan tetapi hal itu biasanya diatasi dengan menyewa satu kamar beramai-ramai (dua sampai empat waria). Di daerah tersebut para waria bisa merasakan hidup tenang berdampingan dengan masyarakat lainnya tanpa takut dihina dan dicemooh. Sepertinya, masyarakat Cipinang Jagal yang bukan waria dapat mengerti keadaan waria dan bisa menerima kehadiran mereka. Hal itu terlihat dari banyaknya waria yang tinggal di sana dan sering bercengkerama dengan masyarakat setempat, terutama kaum ibu yang terlihat sedang asyik ngobrol dengan beberapa waria sambil duduk-duduk di tepi Kali Sunter yang melintasi daerah tersebut.

Tidak heran jika ada beberapa waria yang sudah menetap di Cipinang Jagal selama bertahun-tahun, bahkan ada waria yang tinggal satu atap dengan pasangan tetapnya (pasangan tetap waria biasanya disebut sebagai pacar atau suami). Menurut salah satu informan yang sudah tinggal di Cipinang Jagal selama 10 tahun, ia dan ‘suaminya’ tinggal bersama di bawah satu atap tanpa diganggu oleh orang lain, dalam hal ini adalah masyarakat setempat yang bukan waria (sebagai catatan, waria tersebut sudah ‘bersuami’ dengan laki-laki yang sama sampai sekarang selama 16 tahun). Bukan waktu yang singkat untuk menjalin suatu hubungan apalagi kalau yang berhubungan itu adalah waria dengan laki-laki yang mengaku sebagai heteroseks.

Waria Jatinegara yang sehari-harinya bekerja sebagai pekerja seks untuk menghidupi dirinya dan ‘suaminya’, tentu memiliki strategi tersendiri untuk mengatur hubungannya dengan ‘suami’ sekaligus dengan ‘tamu/klien’. Terlebih jika waria tersebut telah hidup bersama ‘suaminya’ selama belasan tahun. Dalam hal ini, bukan hanya sebagai pemuas kebutuhan seksual saja peranan yang dijalankan waria, tetapi lebih dari itu. Untuk menjaga keutuhan ‘rumah tangganya’, si waria memenuhi segala kebutuhan sang ‘suami’ dan menjalankan peranan-peranan yang mungkin saja membuat ‘suaminya’ betah di rumah.

Waria, Pelacuran, dan Penyakit Menular Seksual

Berbicara tentang waria, mungkin benar bahwa kehidupan mereka identik dengan pelacuran. Meskipun tidak seluruhnya mereka tenggelam dalam kehidupan transaksi seksual, kenyataannya sebagian besar dari hidup mereka tergantung pada dunia pelacuran. Dengan demikian, seperti kehidupan pelacuran lainnya, kehidupan waria banyak mengundang berbagai risiko penularan penyakit kelamin. Apalagi dengan perilaku hubungan seks risiko tinggi yang muncul di kalangan waria.

Keengganan waria untuk menggunakan kondom disebabkan oleh rasa tidak nyaman ketika berhubungan seks, selain itu juga karena adanya penolakan dari para ‘tamu’6 yang menggunakan ‘jasa’ waria. Kondisi fisik waria yang tidak memiliki vagina, menimbulkan mitos bahwa waria tidak dapat menularkan penyakit seksual. Di samping itu pula, waria dianggap sebagai ‘pembersih’ untuk membersihkan penyakit yang melekat pada alat kelamin laki-laki setelah ia berhubungan dengan pekerja seks perempuan. Istilah ‘pembersih’ ini dikenal dengan nama ‘cuci WC’. Padahal waria yang berhubungan seks dengan pasangannya justru rawan terkena PMS (Penyakit Menular Seksual) dan HIV/AIDS, karena baik waria dan pasangannya berjenis kelamin laki-laki (kecuali waria yang sudah melakukan operasi kelamin) sehingga praktek homoseksual pasti terjadi, yaitu hubungan seks anal dan oral.

Fenomena pelacuran waria kontradiksi dengan program pemerintah Indonesia yang sedang menggalakkan usaha mencegah penyebaran penyakit HIV/AIDS. Ironisnya, waria justru memiliki perilaku seksual berrisiko tinggi dalam menularkan penyakit seksual, termasuk HIV/AIDS. Sejak ditemukan penderita penyakit HIV/AIDS pertama di Indonesia pada laki-laki homoseksual tahun 1987, waria mendapat sorotan tajam sebagai kelompok yang rawan dalam menularkan dan ditularkan virus HIV/AIDS. Pandangan seperti ini berdasarkan beberapa hal yang menyangkut perilaku seksual waria, yaitu berganti-ganti pasangan. Sebagai kelompok yang frekuensi berganti pasangannya cukup tinggi, waria seringkali tidak memakai kondom pada saat berhubungan seksual. Peningkatan jumlah pasangan waria dalam seminggu pada tahun 1993-1997, tidak diikuti dengan pertambahan perilaku pemakaian kondom (Lubis, 1993-1997 : 6-7). Sampai akhir tahun 2001, ada 1.976 orang yang positif HIV dan 671 orang yang sudah terkena AIDS. Berapa besar pun angka kasus HIV/AIDS yang diumumkan adalah sebuah puncak gunung es. Banyak kalangan mengatakan angka sebenarnya harus dikalikan sepuluh atau seratus (Murti, dkk, 2002 : 22).Tingkat penularan HIV/AIDS pada kelompok waria penjaja seks di Jakarta tahun 2002 telah mencapai sekitar 22%, meningkat tajam hampir 4 kali lipat dibandingkan tahun 1997 (Depkes RI, FHI/ASA dan UNAIDS, 2003).

Hasil survei surveilans perilaku di beberapa kota di Indonesia menunjukkan bahwa lebih dari separuh anggota kelompok lelaki dengan mobilitas tinggi membeli jasa seks setahun terakhir ini. Sebagian besar lelaki tersebut memiliki pasangan tetap, istrinya. Diperkirakan ada sekitar 7-10 juta lelaki pelanggan jasa seks di Indonesia dan hanya 10% yang mau melindungi diri dari risiko penularan dengan menggunakan kondom secara teratur pada setiap hubungan seksual yang terjadi (Depkes RI, FHI/ASA dan UNAIDS, 2003). Pada kenyataannya, pemakaian kondom masih jarang dilakukan ketika praktik-praktik seksual berlangsung dengan berbagai macam alasan yang dikemukakan, seperti kurang nikmat/enak.

 

Relasi Gender Waria Jatinegara

Hubungan waria dan pasangannya dapat dikatakan sebagai suatu hubungan yang unik, hubungan yang lain daripada yang lain tetapi dapat dikatakan hampir serupa dengan kehidupan rumah tangga antara laki-laki dan perempuan. Hubungan tersebut tidak didasarkan atas faktor ekonomi semata tetapi juga terdapat muatan-muatan emosi dan perasaan yang menciptakan ketergantungan satu dengan lainnya dan secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kelangsungan hubungan antara waria dan pasangannya. Hubungan ini tidak hanya menggambarkan kehidupan waria yang serba susah, melacur untuk mengais rupiah guna menghidupi diri sendiri dan laki-laki yang menjadi pasangannya, tetapi juga menggambarkan adanya strategi dalam mempertahankan eksistensinya di mata laki-laki (pasangannya) dan di mata masyarakat sekitarnya (lingkungan tempat tinggal waria).

Paparan di bawah ini merupakan gambaran mengenai peran waria dalam kehidupan laki-laki, terutama laki-laki yang menjadi pasangannya. Bagaimana peran yang dijalankan waria untuk mempertahankan pasangannya justru menimbulkan ketergantungan laki-laki terhadap waria. Sehingga dapat dikatakan bahwa semua yang dilakukan waria bukan untuk memenuhi keinginan laki-laki semata tetapi sekaligus ‘mengikat’ laki-laki tersebut agar tidak meninggalkan si waria.

Biasanya pasangan tetap waria, baik suami maupun pacar, hidupnya sehari-hari ditanggung oleh waria. Semua kebutuhan dan keinginan suami atau pacar akan dilayani dengan sebaik-baiknya, seperti menyiapkan air mandi, mencuci dan menyetrika baju, memasak makanan kesukaan suami/pacar bahkan rela tidak makan agar pasangannya tetap makan. Apa yang dilakukan oleh waria terhadap pasangannya terkadang melebihi apa yang dilakukan oleh seorang istri (perempuan) terhadap suaminya.

Peran waria dalam kehidupan ‘rumah tangganya’ tidak hanya terbatas pada mencari nafkah dan melayani kebutuhan suami/pacar tetapi juga sebagai pelindung. Waria akan melakukan apa saja untuk melindungi pasangannya walaupun ternyata yang bersalah adalah pasangannya. Seperti yang dituturkan oleh Dina ketika suaminya menang berjudi dari orang lain dan orang yang kalah tersebut tidak menerima karena suami Dina ketahuan berbuat curang lalu mengajaknya berkelahi maka Dina lah yang turun tangan untuk menengahinya. Perkelahian fisik memang tidak terjadi tetapi adu mulut terjadi cukup lama sampai akhirnya orang yang kalah judi tersebut pergi sambil terus mencaci maki. Dina mengakui bahwa suaminya telah berbuat curang tetapi ia tetap membelanya dengan alasan sangat mencintai suaminya itu.

Yah…mo gimana….namanya juga cinta….apalagi dia kan laki kita….lagian duitnya juga untuk kita juga…untuk makan….

Di samping menjadi pelindung, ternyata waria juga seorang pemaaf. Seperti kisah Nur ketika ia ditinggal pergi oleh suaminya bahkan televisi dan radio juga ikut diambil. Rasa sakit hati Nur memang sangat besar tetapi ia akan memaafkan dan menerima suaminya kembali jika sang suami datang meminta maaf dengan tulus kepadanya.

Saya emang sakit hati bener ama dia…..tapi saya sayang….ya mungkin dia lagi butuh uang…..tipi ama radio kan bisa cari lagi…beli lagi…kalo laki beli di mana..

Tindakan Nur tersebut dapat dimengerti mengingat susahnya mendapatkan laki-laki untuk dijadikan pasangan tetap. Persaingan di antara waria saja sangat tinggi, belum lagi persaingan dengan perempuan. Sehingga kaum waria akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan laki-laki yang sudah menjadi suami/pacarnya.

Selain menjadi ‘kepala rumah tangga’ yang harus mencari nafkah dan menjadi ‘ibu rumah tangga’ yang harus mengatur serta melayani kebutuhan suami/pacarnya, ternyata waria juga dapat menjadi tempat curahan isi hati pasangannya jika sedang berkeluh kesah. Sebagai pendengar yang cukup baik, sebagaimana dituturkan oleh salah satu informan bahwa banyak temong yang akhirnya menjadi langganan tetap mereka. Biasanya temong yang sering ‘curhat’ adalah temong yang sudah memiliki pasangan (istri). Dapat dilihat bahwa peran waria dalam kehidupan laki-laki tidak terbatas pada suami/pacar saja tetapi juga semua laki-laki yang menggunakan ‘jasa’ waria. Selain para temong yang sudah berpengalaman dalam dunia pelacuran, banyak juga para remaja laki-laki (ABG) di sekitar taman Jatinegara yang datang ke waria untuk belajar masalah seksual. Menurut salah satu informan, para ABG tersebut ingin tahu banyak tentang masalah seksual yang tidak didapatkan di rumah dan di sekolah sekaligus belajar untuk berhubungan seksual dengan waria. Bagi para ABG itu datang ke waria dianggap lebih aman dari kemungkinan tertular PMS yang ada pada perempuan pekerja seks. Hal ini terkait dengan mitos kesehatan yang dipercaya oleh sebagian laki-laki. Pengetahuan tentang mitos tersebut biasanya disebarkan melalui teman sehingga mitos tersebut cepat tersebar dan dipercaya kebenarannya oleh laki-laki pelanggan jasa seks.

Waria juga merupakan orang yang penuh pengertian dalam hal mentolerir pasangannya untuk berhubungan bahkan sampai menikah dengan perempuan asalkan sang suami/pacar berterus-terang kepada waria dan tidak meninggalkannya (tetap menjadi suami/pacar tetapi tidak tinggal bersama lagi). Hal tersebut diakui oleh beberapa informan karena mereka tahu diri akan segala kekurangan yang dimiliki oleh seorang waria. Kekurangan yang paling dirasakan oleh waria adalah ketidakmampuan mereka dalam memberikan anak kepada suami/pacar tercinta meskipun jika mereka (sudah) melakukan operasi kelamin.

Demikian pula sebaliknya, laki-laki yang menjadi suami waria Jatinegara tidak begitu mengalami strereotipikasi dari warga sekitar. Selain karena alasan kewajaran, masyarakat setempat banyak yang menerima suami waria karena kedekatan dan tata pergaulannya yang relatif diterima oleh sekitarnya.

Dalam kehidupan sosial, khususnya kehidupan di lingkungan para waria, keberadaan laki-laki yang menjadi suami/pacar memiliki nilai tersendiri dalam kehidupan waria. Status sosial waria yang bersangkutan akan naik di mata para waria lain karena telah memiliki suami. Biasanya hal tersebut identik dengan kualitas waria itu sendiri, misalnya kemampuan waria untuk memuaskan pasangannya secara seksual dan kemampuan waria untuk memenuhi kebutuhan pasangannya dari segi materi. Rasa iri dari para waria lain merupakan kebanggaan tak terkira yang dirasakan oleh seorang waria, terlebih jika waria tersebut memiliki penghasilan lebih daripada waria lainnya dan memiliki suami/pacar yang tampan juga jantan.

Sedangkan dalam kehidupan sosial dengan masyarakat lain yang bukan waria, para waria Jatinegara khususnya yang menetap di daerah Cipinang Jagal, mengakui bahwa konflik-konflik mungkin dapat terjadi karena status mereka yang tidak jelas (bukan laki-laki dan bukan perempuan). Akan tetapi hal tersebut sedapat mungkin mereka cegah dengan mendekatkan diri (bergaul) dengan masyarakat setempat, tidak mengeksklusifkan diri karena merasa berbeda, dan sedikit demi sedikit berusaha menghilangkan rasa rendah diri (minder) karena keadaan mereka yang tidak sama seperti masyarakat pada umumnya. Usaha mereka bukan tanpa hambatan karena selama bertahun-tahun menetap di daerah tersebut, masih ada sebagian orang yang bersikap antipati pada waria.

Keberhasilan waria berbaur dengan warga Jagal dapat dilihat sebagai proses kematangan dan kedewasaan berpikir yang melibatkan dua pihak, yakni waria dan masyarakat setempat. Di satu sisi waria menyadari kekurangannya sebagai individu yang tidak mungkin dapat bertahan hidup jika sendirian dan berusaha bertahan hidup dengan menjalin hubungan dengan orang lain. Di sisi lain sikap warga Jagal yang menerima keberadaan waria di tengah-tengah mereka, diakui oleh beberapa informan sebagai timbal balik, karena sikap para waria sendiri yang cukup kooperatif dan siap membantu segala kegiatan yang berlangsung di daerah mereka, baik dalam acara kerja bakti, perkawinan, atau acara tujuh-belasan. Pengertian dari kedua belah pihak, yaitu waria dan warga setempat menciptakan kehidupan sosial yang bisa dikatakan tidak jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat lain yang tidak ada warianya, konflik dan harmoni merupakan sajian yang biasa terjadi dalam kehidupan keseharian mereka.

Menurut penuturan beberapa warga Jagal, adalah wajar laki-laki yang menjadi suami/pacar waria tidak bekerja karena kalau mereka bekerja, mereka tidak akan jadi pasangan tetap waria dan akan mencari perempuan sebagai pasangannya tetapnya. Ketika penulis menanyakan pandangan mereka terhadap laki-laki yang sudah bekerja tetapi mau menjadi pasangan tetap waria, mereka mengatakan kalau laki-laki tersebut memiliki kelainan atau ‘sakit’. Sebagian berpandangan bahwa gaji laki-laki itu tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari atau tidak cukup untuk mencari perempuan yang mau menjadi pasangannya sehingga mereka akhirnya mau menjadi pasangan tetap waria.

yah…mbak….kalo nggak punya duit….wajar aja ama waria…..tapi kalo punya duit..itu..mah namanya orang sakit…..ngapain ama waria? ya kan?…..mendingan nyari cewek…..

Waria dan Mitos-Mitos yang Menggelayut

Dari sepenggal kisah pribadi waria dan pasangannya yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa waria menginginkan lelaki heteroseks yang identik dengan sebutan lelaki jantan sebagai pasangannya. Yaitu laki-laki yang kuat secara fisik, berpenampilan seperti laki-laki biasa (bukan penampilan yang kebanci-bancian atau keperempuan-perempuanan), bisa berhubungan dengan perempuan dan waria, serta tidak berhubungan dengan hemong (gay) atau dengan waria saja. Kaum waria akan sangat bangga bila pasangannya adalah laki-laki jantan yang dikagumi oleh waria yang lain sehingga kedudukan sosial waria tersebut di mata waria lain akan meningkat.

Lalu bagaimana para waria bisa mendapat dan mempertahankan pasangannya? Di sini terdapat mitos lain yang terkenal dengan sebutan dekong, dukun ampuh yang dipercaya kaum waria untuk mendapatkan pasangan dan sekaligus mempertahankannya. Tetapi, sejauhmana kebenaran tentang dekong ini hanya waria dan dekong itulah yang tahu. Seperti halnya kemampuan Dina untuk mempertahankan “suami”nya sampai belasan tahun, dianggap sebagian masyarakat karena Dina dibantu oleh dekong yang memberi jimat berupa batu yang harus didoakan setiap malam Jum’at Kliwon. Dina sendiri tidak mengiyakan atau meniadakan kebenaran cerita itu sehingga pernyataan non-verbal ini hanya bisa dimaknai sebagai bagian dari mitos yang berkembang di sana.

Mungkin, selain karena faktor kebanggaan akan kejantanan itu maupun bantuan dekong, pilihan waria terhadap laki-laki berkait pula dengan mitos lain tentang kesehatan. Salah satu mitos yang berkembang adalah mitos tentang perempuan sebagai penyebar penyakit kelamin kepada laki-laki yang menggunakan jasanya. Dalam hal ini kaum waria biasa menyebut perempuan sebagai racun.7 Biasanya laki-laki yang baru berhubungan dengan pekerja seks perempuan, akan pergi ke tempat ‘mejeng’ kaum waria untuk ‘dibersihkan’ dengan seks oral (ngesong) atau lebih dikenal dengan sebutan ‘cuci WC’. Oleh sebab itu kaum waria dianggap sebagai ‘pembersih’. Mitos ini tidak hanya dipercaya oleh kaum waria saja tetapi juga dipercaya oleh sebagian besar laki-laki, terutama yang menjadi pelanggan jasa seks.

Mitos lain yang berkembang adalah keyakinan bahwa kondisi badan yang sehat tidak akan terkena penyakit walaupun tidak memakai kondom. Dari pengakuan beberapa informan laki-laki, diperoleh keterangan bahwa kondisi badan yang sehat dan fit menurut mereka (tidak ditunjang dengan pemeriksaan dari dokter) akan menjauhkan mereka dari penyakit. Selain itu, memilih pasangan yang kelihatan sehat dan segar badannya merupakan satu mitos yang dipercaya akan menjauhkan mereka dari penyakit kelamin dan HIV/AIDS. Padahal belum tentu badan yang terlihat sehat dari luar akan bebas dari penyakit. Seperti yang dikemukakan oleh Edi,

Jadi bukan berpatokan dia….. main dengan wanita nakal….. ada satu temen saya, nggak pernah dia nyabol segala macem….. tapi kena GO. Saya tanya, “ faktornya apa ? Pasti kamu perut kosong !”… Ini si kelamin, kalo dipaksain itu….. apa….. timbul pembengkakan di dalem, bisa lecet. Kan kita nggak tau kan….. namanya orang maen kan bisa aja….. saking nikmatnya atau gimana ya kan….. nggak kerasa, tau-tau….. Ha….. !!! Istrinya bisa aja kan nuduh dia maen…..maen perempuan…segala macem… Jadi perut kosong, kondisi lemah, dipaksain main… bisa luka… maka bisa kena GO atau apalah namanya….

Keacuhan atau mungkin ketidakpedulian terhadap pemahaman mengenai penyakit-penyakit seksual dianggap menjadi faktor yang mengabaikan rasa takut waria terhadap penyakit-penyakit seksual. Sekilas lalu, mereka cukup mengoleskan super tetra atau air daun sirih sebagai obat penyembuh jika sewaktu-waktu terkena penyakit. Bagaimanapun, hidup sebagai waria dengan berbagai terpaan konstruksi yang ada membuat waria terus belajar bahwa konstruksi itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa disiasati. Terbukti, bahwa ketatnya konstruksi tentang waria yang terus dicerca beberapa waktu yang lalu, kini bergeser, longgar, dan bahkan mulai diterima sebagai bagian dari komunitas sosial. Jika sudah demikian, di mana letak pagar besi yang memisahkan secara ketat bahwa dunia ini hanya berisi laki-laki dan perempuan? Atau benarkah bahwa hidup berumah-tangga pun hanya monopoli laki-laki dan (dengan) perempuan?

 

DAFTAR PUSTAKA

Abrar, Ana N. dan Wini Tamtiarini. 2000. Konstruksi Seksualitas : Antara Hak dan Kekuasaan. Yogyakarta : Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada.

Davis, Kingsley. 1976. Sexual Behaviour : Contemporary Social Problem, ed. Robert K. Merton & Robert Nisbet. Harcourt Brace Inc.

Depkes, FHI/ASA dan UNAIDS. 2003. HIV/AIDS. Edisi I, Februari 2003

Fromm, Erich. 2002. Cinta, Seksualitas, Matriarki, Gender. Yogyakarta : Jalasutra.

Karlen, Arno. 1978. Homosexuality, The Scene and Its Students : The Sociology of Sex. Shocken Books.

Kompas. 2002. “Tiga Orang Yang Tewas Tertembak Ternyata Waria ”, 23 Maret.

————1995. Sabtu, 26 September 1995

Lubis, Imran. Report of HIV Infection and Sexual Behaviour of The Jakarta Waria (Male Transvestites) in 1993-1997.

Murti, Chandika., dkk. 2002. Tidak Cukup Hanya Peduli : Informasi HIV/AIDS. Jakarta : Taman Sringanis-DKT Indonesia.

Oetomo, Dede. 1991. “Homoseksualitas di Indonesia” dalam Prisma no. 7 tahun XX

2000. “Masculinity in Indonesia : Genders, Sexualities, and Identities in A Changing Society” dalam Richard Parker, et.al,ed. Framing The Sexual Subject: The Politics of Gender, Sexuality, and Power. Berkeley, LA, London : University of California Press.

Salam, Noor Efni dan Ana N. Abrar. 2000. “Waria Suku Laut” dalam Konstruksi Seksualitas : Antara Hak dan Kekuasaan, ed Ana N. Abrar dan Wini T. Yogyakarta : Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada.

Tollison, C. David dan Henry E. Adams. 1979. Sexual Disorder. Gardner Press Inc.

 

1 Homoseksualitas mengacu pada rasa tertarik secara perasaan (kasih sayang,hubungan emosional) dan/atau secara erotik, baik secara predominan (lebih menonjol) maupun eksklusif semata-mata terhadap orang yang berjenis kelamin sama, dengan atau tanpa hubungan fisik (jasmaniah), dikutip dari artikel Dede Oetomo berjudul “Homoseksualitas di Indonesia” , dalam Prisma no.7/xx, Juli 1991.

2 Sebagian besar masyarakat di Indonesia, masih menganggap bahwa homoseksual, biseksual serta perilaku seks lainnya yang tidak sesuai dengan norma agama dan budaya sebagai perilaku menyimpang. Definisi mengenai normal dan tidak normal pun menjadi jelas, normal mengacu kepada perilaku seksual yang berlaku umum dan diterima di masyarakat (dalam hal ini perilaku heteroseks) sedangkan tidak normal mengacu kepada perilaku seksual yang tidak berlaku umum dan tidak diterima oleh masyarakat (perilaku di luar heteroseks yang kemudian dianggap sebagai perilaku menyimpang).

3 Kaum waria Jatinegara menyebut laki-laki homoseks/gay sebagai homo/hemong, mereka jarang atau bahkan tidak pernah memanggil laki-laki homoseks dengan sebutan gay.

4 Waria kelas hotel adalah waria yang sebagian besar temongnya berasal dari kalangan menengah ke atas dan transaksi seksual biasanya terjadi di hotel-hotel juga di dalam kendaraan (mobil) si temong dengan bayaran rata-rata Rp. 100.000,- ke atas untuk sekali kencan.

5 Waria kelas jalanan adalah waria yang sebagian besar temongnya berasal dari kalangan mnegah ke bawah dan transaksi seksual biasanya terjadi di mana saja (lebih banyak terjadi di dalam taman dan di pinggir rel KA). Bayaran yang diterima rata-rata Rp.100.000,- ke bawah untuk sekali kencan.

6 Istilah tamu atau klien digunakan untuk menggambarkan laki-laki yang memakai jasa pelayanan seks dari waria, akan tetapi di kalangan waria sendiri istilah tersebut lebih dikenal dengan sebutan temong.

7 Laki-laki gay menyebut perempuan sebagai racun yang lebih mengacu kepada istri dari laki-laki yang berhubungan dengan mereka (Oetomo, 2000 : 56, 1996 : 269). Dalam tulisan ini kaum waria menyebut perempuan sebagai racun karena percaya bahwa perempuan merupakan sumber penyakit kelamin dan HIV/AIDS karena memiliki vagina dan sudah lama berprofesi sebagai pekerja seks.


Beranda  |  Kategory: Edisi 05 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia