Homoseksual atawa Heteroseksual?

28 - Oct - 2003 | James Danandjaja | No Comments »

Di kalangan orang awam daerah urban, para  homoseksual dikenal dengan istilah Waria dengan berbagai interpretasi dan maknanya. Dari sudut leksiologi, ia dianggap sebagai orang yang berjenis kelamin wanita dan pria, walaupun dalam kenyataannya tidak sesederhana itu. Waria yang kita temukan adalah seorang yang berpakaian wanita dan berdandan seperti wanita, namun jika diteliti lebih lanjut, ia bisa seorang banci atau wandu (hermaphrodite) secara fisik maupun secara kejiwaan. Dari segi fisik, ia mempunyai alat kelamin yang berjenis jantan maupun betina, tetapi dalam kenyataan, tidak selalu demikian, karena seringkali orang bersangkutan mempunyai alat kelamin pria tulen, dan jika diperkosa oleh seorang wanita yang subur, maka si pemerkosa akan mengandung. Biar pun yang bersangkutan itu berfisik jantan, tetapi selera seksualnya tidak ditunjukkan ke jenis betina, melainkan kepada sesama jantannya. Jadi istilah waria tidak dapat dijadikan istilah umum bagi pria jenis itu. Artinya dalam kenyataan istilah waria tidak tepat, yang tepat adalah istilah homoseks (atau homo saja). Karena selain fisik harus pula dilihat dari sudut kejiwaan dan orientasi seksualnya. Oleh karena itu, waria tidak dapat dijadikan istilah umum bagi seluruh pria yang mempunyai kelainan jenis kelamin ataupun kejiwaan.

Dalam penelitian selama ini ternyata Tuhan tidak hanya menciptakan manusia ke dalam dua jenis kelamin saja, karena dalam kenyataannya ada jenis ‘antara’. Dengan perkataan lain, boleh dikatakan bahwa di antara jenis kelamin jantan dan betina ada jenis kelamin ‘antara’. Dan repotnya di antara jenis kelamin jantan dan ‘antara’, secara gradasi ada jenis-jenis yang berbeda. Demikian juga di atara jenis ‘antara’ dan betina.

Selanjutnya, pada ‘antara’ ini dapat digolongkan lagi dari sudut fisik dan psikis serta orientasi seksual. Dari sudut fisik, yakni anatomi khususnya alat kelamin dan buah dadanya, dari sudut kejiwaan atau orientasi seksual dapat digolongkan lagi ke dalam Gei (gay) (bagi yang secara fisik adalah jantan), dan lesbi (lesbian) (bagi yang secara fisik adalah betina). Perlu kiranya ditambahkan di sini bahwa dari sudut fisik pada masa teknologi maju dapat dikaburkan lagi, karena yang berfisik jantan kini dapat diubah bentuk fisiknya, yakni antara lain mencangkokkan buah dada atau mencopotkan penisnya dan membentuknya menjadi vagina dan lain-lain.

Untuk lebih mempertajam agar istilah waria jangan dijadikan istilah umum dari para homoseksual, perlu sekali dipertajam lagi hakikat dari para homoseksual ini, khususnya jenis ‘antara’ yang tergolong jantan itu. Untuk keperluan itu akan dijelaskan beberapa istilah yang dapat membuktikan keanekaragaman kaum homoseksual.

Istilah-istilah tersebut adalah banci atau wandu (hermaphrodite), transvestite, transsexsual, gay, dan lesbian. Hermaphrodite adalah istilah bagi jenis ‘antara’ yang secara fisik adalah memiliki dua macam ciri fisik. Katanya yang “asli” adalah orang-orang yang tubuhnya dapat dipisahkan menjadi dua jenis, misalnya tubuh bagian kanan dadanya gepeng, dan dada kirinya mentol. Wajah muka sebelah kanan memiliki kumis dan jenggot, sedangkan wajah muka sebelah kirinya tanpa kumis dan jenggot. Orang banci atau wandu ini, memiliki alat kelamin tidak sempurna sampai dua macam. Bagian bawahnya berupa vagina, sedangkan bentuk klitorisnya besar dan panjang seperti penis.

Istilah hermaphrodite adalah gabungan dari nama Hermas (nama dewa dari mitologi Yunani yang berperan sebagai kurir para dewa), dan Aphrodite (nama dewi percintaan dari mitologi Yunani, yang dalam mitologi Romawi terkenal dengan nama Venus).

Transvestite adalah seorang homoseksual yang gemar memakai pakaian dan perhiasan tubuh wanita dan dengan berdandan seperti wanita, ia akan mendapat kepuasan birahi seksual. Dalam penyaruhannya, mereka akan mengadopsi gaya gerak tubuh (body language) lawan seksnya, namun dalam gaya karikaturnya. Dalam penyaruhan ini,  di Indonesia suara bicaranya sengaja disengau-sengaukan. Untuk melengkapi gaya karikatur wanita, seorang transvestis di Indonesia akan suka memakai kebiasaan orang wanita yang dijangkiti “penyakit” latah baik dalam meniru suara (echolalia) maupun mengulangi gerak orang lain (echopraxia), apabila dikageti. Jenis ini dapat dibedakan menjadi dua, yang pertama adalah lelaki atau wanita tulen sehingga dalam kehidupan sehari-hari akan berumah-tangga seperti layaknya kaum heteroseksual dan dapat membuahi keturunan. Sebagai contoh, seniman seperti Didik Nini Thowok (penari kocak dari Yogyakarta) dan Tessi (Kabul, Basuki), pelawak srimulat. Jenis yang kedua, adalah mereka yang setiap hari dalam kehidupannya memakai pakaian lawan jenis, yakni seorang laki-laki jantan yang selalu memakai pakaian wanita dan jiwanya betul-betul diidentifikasikan dengan betina. Adat ini dipraktikkan oleh seorang bissu, yakni dukun tradisional dari Sulawesi, yang selalu berpakaian wanita, walaupun jenis kelaminnya adalah sebenarnya jantan. Tetapi orientasi seksualnya adalah menyenangi para bocah jantan. Ia ini dapat digolongkan sebagai pedophile (gemar berhubungan seksual dengan anak di bawah umur)

Transsexsual adalah kaum homo yang mengubah bentuk tubuhnya dengan operasi plastik atau menyuntikkan hormon-hormon seks dari lawan jenis kelamin, agar bentuk tubuhnya dapat menjadi serupa dengan lawan jenis jika yang jantan akan mengubah dadanya dengan cara operasi plastik atau menyuntikkan diri dengan hormon seks, menjadi mentol seperti betina, dan membuang penis serta testisnya dan membentuk lubang seperti vagina. Berhubung tehnik operasi yang belum canggih maka pada dewasa ini para ahli bedahnya belum dapat melakukan pencangkokan dengan alat-alat kelamin yang asli, sehingga dapat berfungsi secara alami, sehingga dapat melahirkan anak atau dapat dipakai untuk senggama, mengeluarkan ASI (Air Susu Ibu). Contoh kaum homoseksual yang tenar dipentas adalah Dorce Gamalama, yang telah mengubah fisik melalui operasi plastik dari jantan menjadi betina. Yang juga dapat digolongkan ke dalam jenis ini adalah orang kasim (neunuch). Mereka ini sebenarnya adalah jantan, tetapi karena dipaksa untuk dikastrasi, sewaktu masih kana-kanak, mereka kemudian menjadi banci atau wandu, tetapi bukan hermaphrodite karena alat kelaminnya tidak lengkap lagi. Hal ini disebabkan oleh paksaan penguasa dari keraton yang memiliki harem. Karena katrasi dilakukan sewaktu seorang anak laki-laki masih belum baligh, dengan menghilangkan testisnya, maka gerak tubuhnya dan suara tetap seperti kanak-kanak. Setelah dewasanya nanti berdasarkan suatu kebiasaan kalangan keraton yang mempunyai harem. Para kasim ini biasanya menjadi sangat licik, dalam intrik-intrik di dalam istana. Tokoh dalam sejarah Tiongkok dan Asia Tenggara yang sangat termasyur adalah Laksamana Cheng Ho. Di Jawa terkenal dengan nama Sampo Tuan Lang atau Sampo Kong atau Dampu Hawang.

Jenis homoseksual yang lain lagi adalah gay (bagi laki-laki) dan lesbi atau lesbian (bagi wanita). Istilah-istilah tersebut ditujukan pada seorang pria beneran maupun wanita beneran, yang mempunyai alat kelamin jantan maupun betina beneran, jika bersebadan akan dapat menghasikan keturunan anak. Seorang gay atau lesbi mempunyai orientasi seksual terhadap sesama jenis kelaminnya, sehingga jika dipaksa kawin ia dapat menghasilkan anak. Contoh yang terkenal adalah Iskandar Zulkarnain (Alexander the Great). Ia adalah raja Masedonia yang gemar menaklukkan bangsa-bangsa lain, seluruh jenderal-jenderalnya adalah para gay yang hebat-hebat dalam pertempuran.

Di antara para homoseksual dan heteroseksual adalah suatu jenis, lagi yang disebut Biseksual. Orientasi para biseksual adalah kedua-dua jenis kelamin. Dalam arti mereka gemar berhubungan seks dengan kedua jenis seks, serta dilakukan karena terpaksa seperti halnya para gay.

Kaum Heteroseksual yang Berhak Memandang (?)

Para homoseks ini sudah ada sejak adanya makhluk hidup di dunia, sehingga tidak heran jika homoseksualitas dapat menjadi masalah bagi yang mempraktikannya di peradaban yang bersifat male chauvinism (yang menganggap bahwa jenis kelamin yang terluhur adalah jenis pria). Akibatnya kedudukan jenis kelamin wanita adalah lebih rendah dari pria. Sehingga orang dari jenis kelamin wanita, apalagi yang bersifat ‘antara’ dipandang rendah, bahkan diusahakan untuk diperbudakkan, bahkan dilenyapkan. Akibatnya kemudian di negara Barat (Ero Amerika) telah timbul gerakan emansipasi. Yang mereka sebut Gay Power. Istilah gay juga timbul sebagai akibat gerakan emansipasi tersebut. Pada dewasa ini istilah gay sudah mulai lemah gregetnya, sehingga para aktivis hak asasi gay (Gay right), mulai menyebut diri mereka dengan sikap menentang (deviant) tidak mau lagi disebut dengan istilag gay, melainkan dengan istilah Queer Nation (bangsa aneh) atau dengan kependekan queer saja. Sebenarnya istilah queer (aneh) adalah istilah yang diberikan oleh para anti gay dari kalangan heteroseksual untuk menghina para homoseksual, tetapi sebagai sikap menantang mereka malah mengadopsi nama itu.

Perlakuan diskrimatif sebenarnya pada dasarnya dilakukan oleh masyarakat heteroseks di Barat, dan tidak di masyarakat Timur. Diskriminasi terhadap kaum homoseks sebenarnya adalah sama dengan diskriminasi terhadap kaum minoritas. Dan biasanya para mayoritas menganggap bahwa dirinya lebih hebat. Perlakuan terhadap para homoseksualitas di Amerika masih jelek, walaupun mereka sudah tidak dilarang lagi menjadi tentara, tetapi dalam praktiknya didiskriminasikan, masih dilakukan karena mereka masih tetap dianggap aneh (queer), sehingga tidak normal/abnormal. Menurut antropolog psikologi terkemuka  Ruth F. Benedict (1934), penggolongan dari tipe kepribadian “normal” dan “abnormal” berhubungan erat dengan perumusan konfigurasi atau pola kebudayaan (pattern of culture) dari suatu masyarakat. Berdasarkan teorinya, maka Benedict berpendapat bahwa tidak ada kriteria yang sahih (valid) mengenai tipe kepribadian “normal” dan “abnormal”. Suatu kepribadian dianggap normal apabila sesuai dengan tipe kepribadian yang dominan, sedangkan tipe kepribadian yang sama, apabila tidak sesuai dengan tipe kepribadian dominan akan dianggap “abnormal” atau menyimpang (deviant) (Danandjaja, 1994;41).

Di Amerika kini ada banyak gay yang membuka identitas diri ke-gay-annya, namun dari pihak kaum lesbi masih sedikit. Malah di kota San Fransisco sudah ada sejak lama daerah-daerah yang mayoritas didiami oleh para gay. Di sana mereka membuka toko-toko, bar-bar minuman keras, atau kafe-kafe, dan lain-lain.

Para gay di Amerika Serikat sudah banyak yang membuka diri. Istilahnya adalah “out of the locker” (keluar dari persembunyian). Bagi para wanita juga sudah ada yang melakukannya. Sebagai contoh di Universitas California di Berkeley, saya pernah menghadiri suatu ceramah yang diberikan oleh seorang guru besar wanita. Ia dengan blak-blakan menambah keterangan sewaktu dibacakan Curriculum Vitae-nya  dengan mengatakan: “perlu ditambahkan bahwa saya adalah anggota dari perhimpunan para lesbi.”

Sebelum perang Dunia II, para homoseksual dianggap pengidap gangguan jiwa bahkan sakit jiwa, akan tetapi kini tidak lagi. Kendati masih tetap didiskriminasi, dilecehkan, diperas, bahkan dibunuh karena dianggap tidak normal, dalam arti tidak memiliki kebiasaan seks normal.

Di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, para homoseksual dari jenis transeksual dan transvestis, masih dikejar-kejar polisi. Mereka ini disebut waria. Para gay-nya sudah banyak yang membuka diri antara lain dengan membuat penghimpunan dan menerbitkan buletin-buletin; namun para lesbi masih “menutup diri” rapat-rapat.

Penulis adalah Guru Besar Antropologi,

Universitas Indonesia

 

Daftar Pustaka

Danandjaja, James. 1994. Antropologi Psikologi; Teori Metode dan Sejarah Perkembangannya. Jakarta: PT Raja Gravindo Persada Jakarta.

1995. Foklor Amerika; Cermin Budaya Multikultural yang Manuggal. Jakarta: PT Pustaka Graffiti Pers.


Beranda  |  Kategory: Edisi 05 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia