Identitas Gender Bugis

28 - Oct - 2003 | Halilintar Lathief | No Comments »

Masyarakat Sulawesi Selatan umumnya mengenal banci, yang mereka  sebut ‘calabai’. Asal katanya ‘sala bai’ atau ‘sala baine’ (bukan perempuan). Orang Makassar menyebutnya Kawe-kawe, mendekati kata ‘kaweq-kaweq’ yang bararti dekat-dekat atau mendekati (menyerupai, mirip). Berbagai istilah yang digunakan untuk menyebut calabai  ini, antara lain : Wadam (Perempuan Adam), Waria (Wanita Pria), Bencong atau Banci. Para wadam Sulawesi Selatan lebih senang disebut waria, wadam, atau calabai daripada sebutan bencong atau banci. Menurut mereka istilah waria, wadam, calabai lebih terhormat karena bermakna punya keahlian dan tergabung dalam sebuah wadah organisasi, dibanding istilah bencong yang konotasinya ejekan yang merendahkan derajat  mereka.

Namun ternyata, ide dan bentuk gender di Sulawesi Selatan bukan sekedar perempuan dan pria, atau banci saja. Kenyataannya, pembagian gender masyarakat Sulawesi Selatan cukup kompleks. Selain oroane (pria) dan makkunrai (perempuan), juga dikenal calabai (pria berwatak perempuan) dan calalai (perempuan yang bersifat pria, tomboy), plus Bissu (pendeta Bugis). Artikel ini membahas pandangan identitas gender pada masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan, dan  akan menfokuskan pada Bissu dalam hubungannya dengan perananannya yang dominan  pada ritual-ritual orang Bugis.

Orang Bugis memiliki klasifikasi sendiri tentang calabai. Ada tiga tingkatan calabai yang mereka akui, yaitu : Calabai Tungkena Lino, Paccalabai, dan Calabai Kedo-kedonami. Jenis yang pertama, Calabai Tungkena Lino, yaitu calabai yang telah berhak menyandang dan menamakan dirinya Bissu. Namun tidak menutup kemungkinan jenis calabai lain dapat menjadi Bissu bila di antara mereka ada yang tiba-tiba mendapat berkah dari dewata untuk menjadi Bissu. Jenis kedua adalah Paccalabai yang di kalangan remaja Sigeri dikenal dengan istilah “maju kena – mundur kena” atau “AC-DC”,  yang maksudnya adalah calabai yang bisa berhubungan dengan pria mau pun perempuan. Calabai tipe ini disebut pula ‘piso sile’ (pisau silet) yang maknanya dapat mengiris pada dua sisinya secara bolak balik. Jenis calabai ketiga adalah Calabai Kedo-kedonami atau calabai yang hanya meniru gayanya saja. Menurut para Bissu, calabai jenis ini sangat berbahaya karena sebenarnya mereka adalah pria tulen. Mereka bergaya menyerupai perempuan (calabai) sehingga dengan mudah mereka memperdayai perempuan.

Di antara sekian jenis tingkatan calabai, maka jenis Calabai Tungkena Lino-lah yang dipandang paling tinggi kedudukannya. Hal ini dibuktikan dengan sebutan gelar “guru” setiap calabai jenjang lain memanggil Calabai Tungkena Lino.  Nama lain dari Calabai Tungke’na Lino atau Bissu adalah “Sala’ Dewi”. Calabai jenis kedua dan ketiga sangat dicela oleh Calabai Tungke’na Lin atau Bissu.

Bissu adalah pendeta agama Bugis kuno pra Islam. Mereka berperan sebagai penasehat, pengabdi, dan penjaga Arajang yang merupakan  benda pusaka keramat. Kata Bissu berasal dari kata Bugis “mabessi” yang berarti bersih. Mereka disebut Bissu karena suci (tidak kotor), tidak ada tetek, dan tidak haid. Tradisi transvestites ini, laki-laki yang berperan sebagai perempuan, sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu di tana Bugis.

Matthes menyebut Bissu sebagai pendeta-pendeta banci (calabai) Bugis, sumbernya datang dari Raja Luwu yaitu Batara Guru anak sulung dari Raja Agung di Kayangan yang turun ke bumi (Tumanurung). Dia turun dan keluar dari dalam sebatang bambu lalu merasa asing dari penduduk. Kekurangan ini ditutupi dengan kedatangan We Nyili Timo, saudara peremuan dewa mereka yang bangkit dari lautan (Tutompo).  Oleh sebab itu, sebagian masyarakat Bugis masih menghargai Bissu karena menganggap mereka adalah manurung yang memiliki banyak kelebihan berupa pengetahuan adat-istiadat, silsilah keluarga. Karena itu banyak golongan masyarakat datang bertanya, meminta pertolongan, berobat, atau berguru. Umumnya, masyarakat datang berkonsultasi terlebih dahulu sebelum mengadakan sebuah  hajatan atau memulai suatu pekerjaan besar seperti bepergian, pernikahan atau perkawinan.

Bissu memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para dewata dan untuk berkomunikasi antara sesama mereka. Bahasa suci tersebut disebut basa Torilangi (bahasa orang langit), bahasa Bissu atau bahasa dewata. Karena itu mereka dapat menjadi perantara untuk menghubungi Batara Guru dengan We Nyili Timo termasuk dewa-dewa, nenek moyang, dan roh-roh lain.

Para Bissu menganggap harkat mereka lebih suci dan lebih tinggi dari calabai-calabai biasa lainnya. Penampilan dan sifatnya yang membedakan derajat mereka dalam masyarakat calabai. Calabai biasa kadang menjadi bahan ejekan pemuda, sedang para Bissu disegani karena kesaktian dan fungsinya dalam setiap upacara ritual atau upacara adat. Jika para calabai cenderung mengenakan pakaian feminin, seksi, dan ‘buka-bukaan’, maka para Bissu tidak boleh mengenakan pakaian-pakaian yang di pandang tidak senonoh tersebut. Bila calabai harus bersifat menggoda dan genit, maka para Bissu harus bersifat kalem dan anggun yang dalam bahasa Bugis disebut malebbi (mulia). Dahulu perbedaan antara Bissu dan calabai  ditandai pula dengan tidak-bolehnya para Bissu pacaran atau kawin. Mereka harus bebas dari skandal seksual. Namun karena kualitas dan kuantititas Bissu makin berkurang, maka akhir-akhir ini diperoleh data bahwa ada Bissu yang membangun rumah tangga dengan pasangan hidupnya (beristri). Bahkan ada di antara mereka yang dikaruniai keturunan. Selain itu, kini seorang Bissu kadang juga mempunyai seorang pasangan hidup seorang pria muda seperti yang dilakukan oleh para calabai biasa. Pasangan sejenis ini disebut Toboto.

Pada dasarnya semua Bissu adalah calabai, tetapi calabai belum tentu Bissu.  Meskipun para Bissu itu adalah laki-laki yang berpakaian, berbedak, dan bertutur seperti perempuan; tetapi anehnya bahwa di antara Bissu itu ada pula perempuan yang bersifat sebagai laki-laki yang disebut calalai. Mereka pun dipandang pula sebagai pemuka dalam kepercayaannya. Tetapi meskipun mereka berhubungan dengan dewa dan orang halus, mereka tidak diindahkan oleh orang Makassar dan Bugis yang beragama Islam. Ketika mereka tidak melakukan perbuatan yang berhubung dengan kepercayaannya, si ‘Bissu’ itu senantiasa dihinakan oleh isi istana, bahkan kadang disabati. Akan tetapi di lain pihak mereka mendapat kepercayaan sehingga mereka dapat hidup bergaul dengan perempuan sebagai perempuan juga. Karena itu mereka dipercayai benar akan menjaga puteri-puteri, pada waktu puteri itu mandi dan berpakaian merekalah yang melayaninya. Tentu saja di antara ‘Bissu itu ada juga yang lupa akan dirinya. Dalam pada ia mendapat hukuman yang sangat berat.

Siapa saja boleh menjadi Bissu asal sanggup mematuhi sejumlah peraturan yang berlaku dalam masyarakat Bissu dan adat istiadat Bugis. Peluang yang paling besar untuk menjadi Bissu adalah para calabai yang tergolong dalam kelompok Calabai Tungkena Lino, yaitu calabai yang telah berhak menyandang dan menamakan dirinya Bissu. Namun tidak menutup kemungkinan jenis calabai lain dapat menjadi Bissu bila di antara mereka ada yang tiba-tiba mendapat berkah dari Dewata untuk menjadi Bissu.  Agar resmi menjadi seorang Bissu, seorang calabai harus ditasbihkan terlebih dahulu yang disebut irebba.

Dahulu dalam sebuah wilayah adat Bugis, terdapat komunitas Bissu sejumlah 40 orang yang disebut Bissu patappuloE. Jumlah 40 mengacu pada kitab I Lagaligo yang telah menyebutkan nama-nama 40 Bissu. Hanya terdapat delapan nama Bissu calabai dari keempatpuluh nama Bissu dalam naskah Lagaligo itu, selebihnya adalah Bissu perempuan. Ini menjadi aneh jika dihubungkan dengan fenomena Bissu pada masyarakat Bugis masa kiwari ini, sebab hampir tidak ditemukan lagi Bissu perempuan di seantero wilayah etnik Bugis. Apalagi terdapat pernyataan para calabai, bahwa yang bisa menjadi Puang Matowa  atau Puang Lolo Bissu (pimpinan Bissu) hanyalah Bissu calabai saja. Bissu perempuan hanyalah core-core (perhiasan) atau Bissu mamata saja (Bissu belum matang). Para Bissu calabai menyatakan bahwa peran perempuan dalam ritual hanya sebatas sebagai pembantu para Bissu, sekedar sebagai panati (petugas penjaga pusaka).  Padahal, menurut Bissu perempuan Maktemmi, Bissu perempuan berbeda dengan Bissu calabai karena mereka merupakan pilihan dewata. Bissu perempuan tidak mencari keBissuannya, mereka mendapat anugerah dan ilmu keBissuan langsung dari dewata. Mereka juga tak perlu ronda malam di pos RW kampung atau dipusingkan dengan toboto.

Sejak kapan nominasi calabai dan pengerdilan peranan perempuan pada ritual-ritual orang Bugis, belum dapat dipastikan. Sesungguhnya, pemujaan dewa-dewa dan nenek moyang dalam tradisi etnik yang berada di Sulawesi Selatan adalah pekerjaan perempuan. Sedang berperang dan mangayau adalah pekerjaan laki-laki. Tengoklah tradisi ritual orang Mamasa dan Toraja di mana peranan perempuan masih dominan.  Sesungguhnya, urusan memuja dewa dan arwah dalam tradisi orang Toraja dan Mamasa adalah pekerjaan perempuan. Sedang berperang dan mangayau adalah pekerjaan laki-laki. Ada pula laki-laki yang melakukan perbuatan yang berhubung dengan kepercayaan mereka dan karena itu pengaruhnya besar serta dihormati orang. Akan tetapi mereka itu bukan pendeta biasa, hanyalah dipandang sebagai dukun saja. Pekerjaan yang harus dilakukan oleh pendeta sehari-hari adalah menjadi tanggungan perempuan, dan pada pendapat orang Toraja sepatutnya tiap-tiap perempuan harus menjadi pendeta dalam lingkungannya sendiri-sendiri. Hal itu tentu tidak dapat tercapai, sebab pekerjaan dalam dan luar rumah mereka sehari-hari cukup banyak. Selain itu banyak di antara mereka yang tidak suka menjadi pendeta. Sebab menurut mereka, walaupun pekerjaan itu dihormati dan diinginkan orang, tetapi mengandung risiko tinggi karena mudah mendapat murka dari dewa-dewa.

Akan tetapi apa boleh buat, terpaksa perempuan harus juga merasai jadi pendeta itu. Oleh sebab itu dalam tiap kampung dipilihlah perempuan yang akan menjadi pendeta itu.  Itulah sebabnya kerapkali diadakan semacam keramaian yang harus dihadiri oleh anak gadis yang dipandang sudah cukup usianya, di bawah pimpinan seorang pendeta perempuan. Tujuannya ialah agar anak-anak itu dapat menceraikan semangat dari tubuhnya untuk mengunjungi kayangan. Di situ mereka membantu sekalian dewa dan orang halus melawan iblis dan setan-setan. Di situ pula mereka belajar segala hal yang patut diketahui oleh pendeta perempuan. Kalau ada seorang anak gadis yang merasa sanggup akan menjalankan pekerjaan pendeta itu, maka dimintalah alamat kepada orang halus; patutkah gadis itu menjadi pendeta atau tidak. Setelah itu barulah anak gadis itu mendapat pelajaran agar kelak boleh diangkat menjadi pendeta perempuan.  Peranan perempuan dalam tradisi ritual ini masih dipertahankan hingga kini di wilayah etnik Mamasa.  Mereka disebut burake atau to burake.  Saat ritual yang disebut  pabissuan, orang-orang yang boleh hadir hanyalah para perempuan. Wadam yang disebut pompe hanyalah sebagai petugas meladeni kebutuhan para burake dan memperlancar jalannya upacara. Mereka juga melakukan pengobatan dan ritual yang menyangkut  adat suka.

Berbeda dengan di Mamasa dan Bugis, peranan perempuan dalam ritual di Tana Toraja masih sejajar dengan para pria yang berberan sebagai pendeta banci.  Mereka tidak saja ditemukan di istana raja-raja, tetapi di luar istana pun ada dan dihormati oleh segenap rakyat. Pada wilayah yang mudah didatangi pendeta Nasrani dan peradaban dari luar, jumlah pendeta banci ini semakin jarang. Tetapi di tempat-tempat yang masih sunyi, pendeta banci yang disebut burake tambolang ini masih kerap dijumpai. ‘Burake’ adalah sebutan pendeta perempuan pada suku bangsa Toraja dan tambolang’ adalah nama semacam burung bangau. Sebutan itu untuk membedakannya dengan burake perempuan yang dinamai ‘burake tattiu’, yaitu nama sejenis burung yang kecil dan lebih lemah dari pada burung bangau. Sepintas lalu, kedua ‘burake’ itu hampir tidak ada bedanya. Para pendeta banci merias diri sebagai perempuan, sehingga kadang susah  membedakan  burake tattiu dengan burake tambolang.

Tentunya  pangkat sebagai pendeta berkorelasi dengan berbagai keuntungan. Mereka itu dihormati dan disegani serta dapat bayaran banyak, apalagi bila mereka pandai menyembuhkan penyakit. Pekerjaan yang mendatangkan keuntungan banyak itu pasti menarik pula hati laki-laki, yang biasanya bekerja berat. Sebab bukankah kalau ia menjadi pendeta tidak usah lagi bekerja di ladang dan tidak usah lagi berperang. Akan tetapi walau pekerjaan itu sangat menarik, memperolehnya tentulah sangat susah. Tidak sembarang perempuan dapat menjadi pendeta dengan sekehendak hatinya, apalagi laki-laki yang biasanya tidak boleh menjadi pendeta. Hanyalah mereka yang terpilih oleh dewa-dewa yang dapat melakukan pekerjaan itu. Kalau ada laki-laki yang hendak menjadi pendeta, maka ia harus dapat menyatakan dengan seterang-terangnya, bahwa ia terpilih untuk itu. Pertanda bahwa seorang laki-laki sudah terpilih menjadi pendeta, bila ia dengan tiba-tiba kesurupan. Kadang-kadang hal itu terjadi pada waktu keramaian yang bertali dengan agama. Misalnya sekonyong-konyong tubuhnya menggigil dan gementar, mulutnya berbuih, kemudian ia berguling, lalu mencabut pedangnya, mempermainkan pedang itu dengan  tangkasnya; pendeknya berlaku sebagai orang yang ada dalam pengaruh kekuatan yang gaib.

Kalau keadaan yang demikian itu hanya sebentar saja, tiadalah diperhatikan orang. Akan tetapi kalau kerapkali terjadi dalam beberapa bulan, maka dipandang bahwa ia sudah terpilih oleh dewa-dewa dan akan menjadi ‘burake tambolang’. Maka kaum keluarganya mengadakan suatu keramaian besar dengan mengumpulkan dukun-dukun untuk mengenyahkan setan yang masuk kedalam tubuh orang itu. Bila segala usaha sekalian dukun itu sia-sia belaka, maka dipastikan bahwa dewa-dewa ternyata bermaksud agar orang itu menjadi pendeta. Kemudian diajarlah ia oleh seorang burake yang paham tentang segala kepandaian pendeta. Sejak itu ia tidak dipandang lagi sebagai laki-laki, melainkan sebagai perempuan. Segala tanda-tanda yang menunjukkan ia seorang laki-laki dibuangkan. Ia harus berlaku sebagai perempuan. Lama kelamaan maka perasaannya pun sebagai perempuan juga, begitu pula pandangan orang kepadanya.

Kadang-kadang yang menjadi burake tambolang itu orang yang sudah beranak-isteri. Hal ini tidak menjadi halangan baginya, hanya saja perkawinan dengan isterinya tadi menjadi gugur. Sebab tak mungkin perempuan kawin dengan perempuan pula. Sekarang, selain menjadi burake, ia pun menjadi perempuan yang bebas pula. Maka bolehlah ia kawin lagi, tetapi sekarang tentu saja dengan laki-laki. Barangkali orang bertanya dalam hatinya, adakah laki-laki yang suka kawin dengan dia. Jawabnya, banyak! Sebabnya karena pertimbangan keuntungan yang akan diperolehnya kalau ia kawin dengan burake. Perkawinan yang demikian itu dilangsungkan dengan keramaian dan tidak ada orang yang akan memandangnya tidak patut. Perbedaannya dengan perkawinan biasa ialah bahwa bekas laki-laki itu, kalau ia sudah merasa jemu menjadi burake, dan menjadi isteri orang, bolehlah ia bercerai dari suaminya dengan tidak usah menurut sesuatu rukun lagi. Cukup diterangkan bahwa orang halus sudah meninggalkan tubuhnya, sehingga ia tidak sanggup lagi memikul pekerjaan burake.

Tetapi bilamana ia terus juga berlaku sebagai burake, lambat laun lupalah orang bahwa ia asalnya laki-laki. Maka hiduplah ia bergaul dengan burake lain, seperti perempuan dengan perempuan. Ia berjanji dan menari sebagai perempuan juga, bersenda gurau dengan laki-laki dengan tilik dan senyumnya sebagai perempuan. Ia melayani suaminya sebagaimana layaknya perempuan biasa melayani suaminya. Pendek kata, ia ‘perempuan’, hanya bedanya ia mendapat sebutan ‘tambolang’. Jika tiba pada ajalnya, jiwanya melayang ke fuya, kayangan, maka dikuburkanlah ia dengan upacara sebagaimana biasa orang menguburkan burake, sedang laki-lakinya sangat memperhatikan adat kebiasaan kematian isterinya yang dicintai.


Beranda  |  Kategory: Edisi 05 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia