Bissu: Menggugat Maskulinitas dan Feminitas

28 - Oct - 2003 | Bisri Effendy | No Comments »

Kun fayakun, kata Tuhan. Maka jadilah kami seperti ini. Tetapi mengapa manusia terperangkap dalam dua kutub perempuan dan laki-laki, sehingga kami yang seperti ini dipersoalkan? Mengapa manusia yang diakui sah hanyalah perempuan dan laki-laki? Dan kami di mana? Apakah ini mengingkari sunnatullah? Allah a’lam bisshawab.

(Puang Saidi, percakapan tengah tahun 2003)

Puang Saidi tentu tidak main-main. Dan rangkaian kata di atas juga tidak diungkapkan dalam panggung permainan. Tampak, dari raut wajahnya saat percakapan, sang imam Bissu di Pangkajene Kapulauan, Sulawesi Selatan ini benar-benar gundah, resah, dan gelisah. Dan pernyataannya di atas mengemuka dari pengalaman, kesaksian, dan renungan bertahun-tahun menjadi Bissu yang terjepit di antara stereotip maskulinitas dan feminitas.

Bissu memang komunitas yang terdiri dari orang-orang “ambang-pintu”, tidak laki-laki dan tidak pula perempuan. Secara biologis, kebanyakan Bissu sekarang laki-laki (berpenis), dan hanya sedikit yang perempuan (bervagina), tetapi dalam penampilan (performance) seluruhnya lebih terkesan feminis. Dalam kehidupan sehari-hari, Bissu terlepas dari kecenderungan dan hubungan seksual, mereka tak begitu berbeda dengan perempuan. Bahkan antara yang perempuan dan yang laki-laki sulit dibedakan.

 

Pendeta Tanah Bugis

Bissu adalah pendeta agama Bugis kuno pra Islam. Ketua para Bissu adalah seorang yang diberi gelar Puang Matowa atau Puang Towa. Dia adalah figur feminin dengan wajah yang licin seperti seorang kasim. Meski begitu, Bissu dari laki-laki berbeda dengan laki-laki yang keadaan jasmaninya abnormal. Bissu dan tradisi transvestite (lelaki yang berperan sebagai perempuan) di tanah Bugis mempunyai sejarah amat panjang di tanah Bugis. Mereka sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Naskah La Galigo banyak mengungkap tentang keberadaan Bissu dalam budaya Bugis, yang konon sebagai pendamping dan pelengkap kedatangan para tokoh utama langit atau dari pertala bumi. Salah satu kisah melukiskan … “ketika tengah hari itu cuaca gelap gulita, topan dan badai turun. Puang Matowa Bissu dari Lae-Lae, We Salareng dan We Apanglangi, kepada Bissu dari Ware dan Luwu turun ke bawah bersama perlengkapannya, topan dan badai pun reda.”

Norma-norma, konsep-konsep kehidupan, bahkan silsilah dewa-dewa dan kosmologi orang Bugis dalam kitab La Galigo, mereka peroleh secara lisan atau tertulis dari guru-guru pendahulu mereka. Pengetahuan warisan Bugis kuno itu mereka pertahankan dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan atau upacara orang Bugis, baik secara individu maupun kolektif dalam komunitas. Bissu memiliki bahasa sendiri untuk berkomunikasi dengan para Dewata dan untuk berkomunikasi antara sesama mereka. Bahasa tersebut bahasa suci, basa Torilangi, bahasa Bissu atau bahawa Dewata. Para Bissu beranggapan bahwa bahasa tersebut diturunkan dari surga melalui Dewata. Kata-kata dalam bahasa Dewata ini telah banyak dimuat dalam naskah La Galigo.

Bissu merupakan penasehat raja beserta seluruh keluarganya, mengabdi dan menjaga Arajang yang merupakan benda pusaka keramat. Mustika-mustika tuah ini memiliki sifat keluarbiasaan karena cara menemukannya dan bentuk yang tidak lazim. Benda pusaka ini dipelihara dalam tempat khusus di ruang istana dan tempat persembahan. Kadang mereka mengadakan upacara khusus untuk benda pusaka itu. Pusaka-pusaka itu diberi nama dan diperlakukan melebihi dari sekedar lambang. Roh-roh nenek moyang diharapkan bersarang dalam benda-benda pusaka tersebut atau turun menjelma kepada pemiliknya saat mereka memerlukannya. Itulah sebabnya, seperti kata Petta Nompo (keturunan Raja Bone) Arajang memiliki kedudukan yang penting dalam kerajaan, bahkan kadang-kadang posisi Arajang menjadi lebih tinggi ketimbang raja itu sendiri. Kehilangan sebuah Arajang berarti malapetaka bagi kerajaan tersebut.

Kata Bissu sendiri berasal dari kata bessi (Bugis) yang berarti bersih. Mereka disebut Bissu karena tidak berdarah, suci (tidak kotor), tidak ada tetek, dan tidak haid. Dr. B.F Matthes menyebut Bissu sebagai priesters en priesteresse. Ia melukiskan Bissu sebagai pendeta-pendeta pria-wanita (Calabai) Bugis, dinyatakan bahwa sumbernya datang dari Raja Luwu yaitu Batara Guru anak sulung dari Raja Agung di kayangan yang turun ke bumi (Tumanurung). Dia turun dalam sebatang bambu dan ia keluar dan terasa asing dari penduduk. Keluarnya ini ditutupi dengan bersatunya Nyi Wili Timo, saudara perempuan dewa mereka yang bangkit dari lautan. Dengan gadis-gadis cantik yang berdiam di kayangan dan bumi yang fana, barulah kehidupan pertama dimulai.

Hubungan Batara Guru dengan Nyi Wili Timo termasuk dewa-dewa dan roh-roh lain, dapat dilakukan melalui para Bissu. Misalnya Dewata yang memberikan dan menghibur serta memberikan kesuburan bumi, masyarakat yang bersungguh-sungguh dapat memperolehnya melalui perantaraan Bissu. Para Bissu dapat diberdayakan sebagai suatu penghubung ke Dewata dengan persembahan masyarakat, khususnya pada upacara-upacara keagamaan dari suatu kelompok masyarakat dengan dewa-dewa dan nenek moyang yang diadakan dengan meriah. Pada upacara semacam itu, para Bissu melebur ke dalam upacara tersebut untuk menyampaikan doa-doa. Merekalah sebagai tempat penegak pertama antara roh nenek moyang dengan keturunan mereka. Sebelum Islam, upacara mereka mendapat kedudukan penting dalam masyarakat. Dan sesudah Islam dianut oleh orang Bugis, peranan para Bissu digantikan oleh Puang Kali (Kadhi). Sebagian upacara-upacara Bissu juga telah diambil alih pelaksanaannya oleh Petta Kali.

Dalam pandangan Puang Matowa Saidi, Bissu adalah bagian dari dewa-dewa langit yang turun menjelma sebagai manusia untuk menemani manusia di dunia. Fungsi utamanya adalah untuk menghubungkan secara spiritual manusia (biasa) dengan Dewata. Hal ini dimungkinkan karena Bissu dianggap memiliki kemampuan untuk berdialog dengan dewa-dewa dengan bahasa torilangi. Karena itulah menjadi seorang Bissu di masa lampau adalah kehormatan. Bissu menganggap kedudukan mereka lebih tinggi dari raja, karena merekalah yang memegang kutika (kitab ramalan) untuk menentukan hari baik dan hari buruk. Mereka adalah penasehat raja dan dewan hadat. Petuah dan petunjuk-petunjuk mereka selalu diikuti oleh para penguasa untuk menjalankan kebijaksanaannya.

Kini, selain di Bone dan Sigeri, Bissu juga terdapat di beberapa tempat lain di Sulawesi Selatan, di antaranya di Soppeng, Luwu, dan Polywali. Khusus untuk yang di Sigeri, Puang Saidi berkisah bahwa Bissu Sigeri sebenarnya berasal dari Bone. Salah satu versi cerita rakyat yang berkembang di Bone maupun Sigeri menyatakan bahwa suatu hari raja Bone sangat bersedih karena bajak kebesaran Bone tiba-tiba lenyap secara misterius. Ini pertanda bahwa malapetaka kelaparan akan menimpa kerajaan Bone. Sang raja segera memerintahkan 40 orang Bissu mencari bajak keramat tersebut. Ia berpesan jangan kembali sebelum menemukan dan membawa pulang pusaka tersebut. Ternyata bajak keramat tersebut ditemukan di Sigeri. Tetapi malang bagi para Bissu, sebab masyarakat Sigeri tidak mau mengembalikannya ke Bone. Karena takut kembali, para Bissu memilih menetap di Sigeri sambil menjaga bajak yang dikeramatkan sebagai Arajang hingga kini.

Versi lain, juga cerita rakyat, menyatakan Arajang dan Bissu berada di Sigeri sejak Abdul Wahab Latenri Sessu Petta Loloe’ ri Sigeri menjadi raja pada tahun 1805 – 1835. La Tenri Sessu adalah putra dari La Tenri Leleang, Raja Tanete ke-14. Arajang berbentuk rakkala (bajak sawah) tersebut pernah diganti dan penggantinya diambil dari Gunung Lateangoro Segeri. Sejak itulah Arajang itu di rawat oleh Bissu dan ditempatkan pada rumah khusus yang disebut Bola Arajang. Aturan dan anggaran pemeliharaannya ditetapkan oleh raja Sigeri secara turun temurun.

Mulai dari situlah kemudian dipilih Puang Matoa. Menurut Saidi, Puang Matoa yang terpilih saat itu bernama Sanro Laebba, yang kemudian berturut-turut digantikan oleh Sanro Mattu, Sanro Sipato, dan Sanro Baddeke. Puang Saidi sendiri tidak tahu persis kapan (pada tahun atau abad ke berapa) mereka memimpin Bissu Sigeri.  Diperkirakan sekitar akhir abad ke-17 sampai abad ke-18, masa kejayaan para Bissu, di mana mereka menjadi ahli spiritual kerajaan yang sangat dihormati, semua Arajang saat itu ada di bawah pengawasan dan pemeliharaannya. Sekitar tahun 1936 diangkatlah Sanro Saeke menggantikan Sanro Baddeke yang telah lama meninggal. Tetapi, karena pengaruh Islam semakin kuat dan luas, maka pada kepemimpinan Sanro Saeke, Bissu mengalami masa-masa yang pahit akibat cercaan dan diskriminasi yang terus-menerus dari kalangan Islam.

Dan dari sejak itulah berbagai peristiwa telah dialami oleh komunitas Bissu. Kegiatan para Bissu ini dianggap menyembah berhala, tidak sesuai dengan ajaran Islam dan membangkitkan feodalisme. Mereka ditumpas, ratusan perlengkapan upacara dibakar atau ditenggelamkan ke laut. Banyak sanro (dukun) dan Bissu dibunuh atau dipaksa menjadi pria yang harus bekerja keras. Para Bissu bersembunyi dari ancaman maut yang memburunya. Sisa-sisa mereka yang selamat itulah yang masih ada sekarang ini. Boleh dikatakan, Bissu-bissu yang masih tersisa sekarang ini adalah generasi terakhir yang mewarisi kejayaan tradisi Bugis Klasik. Keberhasilan komunitas Bissu ini melintasi titian waktu dengan lika-liku yang mengguncangkan eksistensi mereka, sesuatu hal yang luar biasa.

Kontroversi Seksualitas Bissu

Sumber penting dan banyak dirujuk orang menyatakan bahwa Bissu di masa pra-Islam lebih banyak terdiri dari perempuan. Dari 40 Bissu (bissu patappuloE) ternyata hanya 8 orang yang berasal dari laki-laki (calabai), selebihnya terdiri dari perempuan (calalai). Tetapi, entah bagaimana prosesnya, dominasi perempuan tersebut kini menjadi tergeser dan kini menjadi sebaliknnya; didominasi Bissu laki-laki. Di Pangkep (salah satu konsentrasi Bissu Sulawesi Selatan), misalnya, hampir seluruh Bissu terdiri dari laki-laki, dan hanya satu orang, yaitu Maktemmi, yang perempuan.

Mitos yang beredar sekarang bahwa Bissu dari calabai mempunyai kedudukan lebih tinggi dibanding calalai. Bahkan untuk menjadi pemimpin Bissu (Puang Matoa atau Puang Lolo) haruslah dari calabai, sementara calalai, dalam struktur ke-bissu-an sekarang, hanya diposisikan sebagai core-core (perhiasan) atau dianggap Bissu mamata (Bissu belum matang). Menurut kalangan calabai, hal itu disebabkan karena Bissu laki-laki adalah suci, tidak kotor, dan tidak haid seperti halnya calalai. Tetapi Maktemmi, seorang calalai dari Pangkep, menyanggah dengan menegaskan bahwa Bissu perempuan adalah pilihan dan anugerah dari Dewata. “Bissu perempuan tak perlu mencari kebissuan, karena ia mendapatkannya dari Dewata,” tandasnya.

Lepas dari perdebatan itu, yang sekarang tampil secara sosial-psikologis, Bissu bukan – atau di antara – laki-laki dan perempuan; orang di Sulawesi Selatan sering bilang tak jelas identitasnya. Jummaise, seorang Bissu dari ….. mengatakan: “Bissu Temmakkunrai tengurane, iga missenggi Bissue naissettennitu Dewatae” (Bissu bukan laki-laki dan bukan pula perempuan, siapa yang mengetahui identitas Bissu apakah laki-laki atau perempuan, maka dia ketahui pulalah identitas dari Tuhan). Lebih lanjut Puang Saidi menjelaskan kerahasiaan itu:

“Seorang Bissu pada waktu lahir dia akan nampak sebagai laki-laki, tetapi pelan-pelan ia akan bersikap dan berperan seperti perempuan, hal ini menunjukkan bahwa Bissu tidak diketahui apa sesungguhnya identitasnya di antara laki-laki dan perempuan, ini sesungguhnya rahasia Tuhan sebagaimana kita tidak mengetahui identitas Tuhan itu sendiri seperti apa.”

Bagi Bissu, bukan laki-laki dan bukan perempuan adalah identitas yang sangat jelas. Bahkan identitas itu merupakan pemberian Tuhan dan karena itu bersifat kodrati. Sebagaimana dipetik di awal liputan ini, mereka menjadi seperti keadaannya sekarang memang dijadikan, diciptakan Tuhan, bukan rekayasa atau sesuatu yang diproses secara sosial-struktural dan psikologis.

Sebagian kalangan dan warga masyarakat di Sulawesi Selatan memang tidak pernah mempermasalahkan soal itu. Semua kelompok adat dan tradisi menganggap bahwa identitas Bissu (bukan laki-laki dan bukan perempuan) sebagai yang wajar-wajar saja dan merupakan ciptaan Tuhan. Hajjah Kanang, salah seorang pengikut tradisi di kampung Sampakang menyatakan: “Ia pattentui ancaji calabai taue Puang Allah Taala”. (yang menentukan kita menjadi waria adalah Allah Ta’ala). Oleh karena itu, menurut Kanang, yang paling bijak adalah mengakui keberadaannya dan menghormati apa adanya, bukan mengingkari atau menganggapnya aneh apalagi durhaka.

Hal serupa juga dikemukakan oleh salah satu aktivis perempuan di Sulawesi-Selatan, A. Indah Pattinaware (mantan Ketua Solidaritas Perempuan Sulawesi-Selatan). Menurutnya, keberadaan Bissu seperti apa adanya sekarang harus diakui dan dihormati, sebab hal itu sudah merupakan fakta sosial, terlepas dari apa pun kategori hukumnya. Karena itu sebenarnya kita harus membukakan ruang yang cukup kepada mereka untuk berekspresi dan menjalankan berbagai aktivitas mereka. “Seberapa jauh kita tak suka, dan seberapa gencar kita memburu mereka seperti yang dilakukan Kahar Muzakar dan kawan-kawan, tokh kenyataannya mereka tetap eksis dan tak punah,” tandasnya kepada SRINTHIL.

Suradi, budayawan Mandar yang selalu terlibat dalam Halaqah Budaya Desantara juga mempunyai pandangan yang sama. Menurutnya, seseorang yang kelaminnya laki-laki tetapi memiliki kecenderungan atau hasrat seksual kepada sesama lelaki maka sesungguhnya ia secara psikologis adalah perempuan. “Orang yang seperti ini tidak akan mungkin dipaksa untuk menyukai perempuan atau lawan jenisnya. Karena itu hukum agama sampai saat ini belum memadai menjelaskan persoalan ini dan untuk melihat persoalan ini tidak bisa memakai ukuran hukum-hukum agama yang hitam putih,” tegasnya tanpa ragu kepada SRINTHIL. Dengan tegas Suradi menyangkal pendapat yang menyatakan bahwa fenomena seperti Bissu atau waria dianggap menyimpang dan menyalahi kodrat. “Mereka sendiri tidak pernah menginginkan seperti itu, ini memang secara kodrati dan alami terjadi pada mereka. Karena itu, selama tidak melanggar aturan-aturan yang menggangu kemanusiaan, mereka harus diberi tempat dan hak yang wajar,” lanjutnya.

Akan tetapi, kalangan Islam, terutama yang ortodoks, memandang bahwa perilaku calabai seperti yang ditunjukkan para Bissu bukanlah kodrat tetapi justru menyalahi kodrat dan, karena itu berdosa. Seperti disinggung di depan bahwa Bissu, setelah masuknya Islam di Sulawesi Selatan menjadi terlunta nasibnya. Islam yang masuk ke wilayah ini melalui jalan kekuasaan politik (kerajaan), bukan hanya menjadikan dirinya sebagai agama resmi kerajaan melainkan juga menggeser dan mengubah seluruh tatanan dan nilai yang ada secara radikal. Kedudukan Bissu sebagai penasihat raja dan pemimpin upacara ritual digantikan para kadhi (Puang Kali), dan ajaran-ajaran mereka dikafirkan, disesatkan, dan dibasmi. Para Bissu yang semula berada di dalam istana harus minggir secara fisik dan politik (di luar wilayah kekuasaan).

Masa paling pahit dialami para Bissu pada 60-an hingga 80-an. Sumber tertulis maupun kesaksian langsung menjelaskan bahwa pada masa DI/TII berjaya di Sulawesi Selatan, Bissu bukan saja tidak bisa melakukan upacara-upacara ritualnya, bahkan mereka dipaksa untuk menjadi laki-laki dan bekerja keras, sebagian dikejar-kejar dan dibunuh. Operasi mappatoba yang sangat terkenal menimpa Bissu harus mencatat sejarahnya yang paling pilu. Lahirnya orde pemerintahan baru di Indonesia yang bermula dari peristiwa 65 ternyata justru melanggengkan penderitaan Bissu dalam menapaki hidup dan kehidupan. Bissu sebagai komunitas adat yang bisa dipastikan bukan komunis dan tidak ada sangkut-pautnya dengan Tumbu Talua (organisasi yang dituduh sebagai underbowe PKI), harus berurusan dengan “yang berwajib” dan seluruh aktivitasnya dicurigai. Puang Saidi memberi kesaksian bagaimana ia sebagai Bissu merasakan kesulitan, dikejar-kejar oleh kelompok agama hingga pontang-panting. Bahkan masyarakat sekitarnya pun sering mencibiri mereka, mencap musyrik, kafir, sesat, dan sebagainya.

Meski sejak 1993 suasananya sangat lain, para Bissu leluasa mengekspresikan diri di depan publik. Ini bukan berarti caci-maki, tuduhan musyrik, sesat, dan menyalahi kodrat telah menghilang. Meski tidak sekeras waktu 60-an sampai 80-an, ungkapan-ungkapan stereotip dan stigmatis masih terus mengalir. Rahman, seorang aktivis  Muhammadiyah dari kampung Sampakang (Pangkep), misalnya, menyatakan:

“Seorang laki-laki yang berperingai dan menyerupai seorang perempuan adalah merupakan penyimpangan dari kodrat Tuhan, sebab Tuhan menciptakan manusia secara berpasangan, ada laki-laki dan ada perempuan. Karena itu siapa pun adanya apakah ia menamakan dirinya Bissu kalau ia seorang laki-laki lalu menyerupai perempuan dalam kehidupan sehari-hari, maka sesungguhnya ia mempunyai kelainan jiwa.”

Senada dengan itu, Drs Amin Harun MA, Pembantu Dekan I Fakultas Ushuluddin IAIN Alauddin Makassar menyatakan:

“Pada prinsipnya laki-laki yang menyerupai perempuan itu haram dan sudah ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu haditsnya: Allah melaknat laki-laki yang berdandan seperti perempuan dan seterusnya. Karena itu waria atau Bissu adalah  kalangan yang merupakan penyakit dalam masyarakat, dan itu bisa diubah. Namun kalau memang secara hasrat seksual betul-betul menyukai laki-laki maka sesungguhnya orang itu adalah perempuan dan dia harus memastikan keberadaanya. dalam hal ini MUI telah mengeluarkan fatwa memperbolehkan laki-laki untuk mengubah jenis kelaminnya menjadi perempuan karena kecenderungan seksnya lebih banyak mengarah atau sama sekali memang perempuan.”

Bukan itu saja. Da’i sangat masyhur di Makassar saat ini, Ustadz H. Syukri Daeng Limpo kepada SRINTHIL menegaskan bahwa waria atau Bissu adalah penyimpangan dalam Masyarakat. “Kecenderungan seks seperti itu dilaknat oleh Allah SWT seperti yang terjadi di kalangan kaum atau umat Nabi Luth,” katanya. “Mestinya mereka tidak menjadi seperti itu, kalau dari sejak kecil dilatih atau dididik untuk dekat dengan agama dan berperangai laki-laki. Bayangkan saja kalau mereka sejak dari kecil disuruh shalat tentunya dalam pakaian laki-laki,” andai sang ustadz.. Oleh karena itu, menurutnya, para Bissu tersebut akan mengalami perkembangan menjadi laki-laki yang sebenarnya, karena sudah dibiasakan hasrat seksnya terhadap perempuan. “Karena itu saya tegaskan bila betul keinginan seksnya terhadap sesama laki-laki, apalagi kemudian melakukan pergaulan seks dengan sesama laki-laki (homoseks), maka itu haram, kecuali sekedar rasa sayang dan suka kepada sesama laki-laki tetapi tidak melakukan hubungan seks atau mempunyai kecenderungan seks kepada laki-laki. Kalau yang terakhir ini masih bisa ditolerir,” tandasnya kepada SRINTHIL.

Dalam Halaqah Budaya yang diselenggarakan DESANTARA bersama Lapar Makassar, 23-25 Maret 2003 yang lalu masalah seksualitas Bissu sempat muncul dan menjadi perdebatan. Beberapa peserta dari kalangan pesantren dan kaum muslim di luar pesantren cenderung memandangnya sepihak dan mengkategori Bissu dalam pengertian khuntsa (berkelamin ganda) seperti yang tersebut dalam hadits Nabi. Dalam hadits itu dinyatakan secara eksplisit bahwa Allah sangat membenci dan melaknati khuntsa. Oleh karena itu, menurut beberapa peserta tadi, sangat wajar kalau kaum muslim di Sulawesi Selatan seperti yang selama ini terjadi sangat membenci dan menjauhi Bissu. Bahkan ada yang berkeyakinan bahwa menemani, menggauli, dan mentoleransi Bissu ibadahnya tidak akan diterima Allah selama 40 hari.

Tetapi Mu’is Mandra, seorang budayawan dari Mandar, menyangkal semua itu. Lulusan IAIN Makassar yang juga aktif dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) itu menjelaskan bahwa yang dimaksud khuntsa dalam hadits itu jelas-jelas yang berkelamin ganda (mempunyai kelamin laki-laki dan perempuan, meski yang berfungsi penuh salah satunya). ‘Sebagai seorang muslim, saya percaya hadits itu benar dan saya ikuti. Tetapi Bissu di Sulawesi Selatan ini tidak mempunyai kelamin ganda,” tegasnya. “Ini kan sama sekali berbeda dengan yang dimaksud hadits shahih tadi,” sambungnya. “Bukankah Bissu laki-laki (calabai) itu mempunyai kecenderungan seks seperti perempuan?” tanya seorang peserta dari pesantren di Sinjai yang langsung dijawab Muis: “itu soal lain. Hadits itu hanya mendefinisikan khuntsa sebagai yang memiliki dua alat kelamin. Jadi, menurut saya Bissu bukanlah khuntsa dan khuntsa bukanlah Bissu.” “Saya berani berdebat soal ini dengan siapa pun,” tantang Muis.

Puang Saidi yang juga mengikuti Halaqah tersebut membenarkan apa yang disampaikan Muis Mandra itu. Saidi menyatakan bahwa Bissu sekarang maupun yang lalu dalam sejarah Bugis tidak satu pun yang berkelamin ganda. Seperti dirinya dan juga para Bissu lain berkelamin satu; laki-laki (berpenis) atau perempuan (bervagina). “Dalam tradisi Bugis ada sebutan yang sangat jelas, yaitu calabai dan calalai,” ujarnya. Namun demikian, Saidi juga mengakui bahwa meskipun berkelamin laki-laki ada kecenderungan untuk menyukai laki-laki. Bahkan tidak sedikit yang berhubungan seksual dengan laki-laki. Kasus-kasus seperti dialami dirinya “kawin” dengan seorang laki-laki (bernama Arifuddin), juga dialami oleh beberapa Bissu lain, misalnya, Nani yang “kawin” dengan Anto.

Perdebatan yang sama berulang kembali dalam Halaqah Budaya berikutnya, 26-29 Juni 2003 di Barru, terutama ketika seluruh peserta Halaqah mengunjungi pesantren DDI Mangkoso dan berdialog dengan para santri dan guru di pesantren itu. Fitri, peserta Halaqah dari kalangan waria di Sulawesi Selatan saat ini (Bissu Saidi yang sebenarnya juga ikut Halaqah kebetulan tidak bisa hadir dalam dialog tersebut), dianggap sebagai Bissu dan dikerumuni berbagai pertamyaan yang menyudutkan. Pada umumnya, para satri maupun guru di pesantren itu memandang bahwa Bissu dan waria adalah khuntsa sebagaimana yang disebut dalam hadits Nabi tersebut diatas.

Beberapa peserta Halaqah seperti Muis Mandra mencoba menjelaskan duduk –perkaranya. Seperti yang terungkap dalam Halaqah sebelumnya, bahwa para Bissu maupun waria di Sulawesi Selatan tidak sama dengan yang dimaksud hadits itu. Karenanya tidak mungkin mereka dikategori sebagai khuntsa. Para Bissu maupun waria di sini tidak mempunyai kelamin ganda. Bahkan Fitri sendiri sempat menyatakan jika memang tidak percaya silakan memeriksa dirinya apakah terdapat dua alat vital atau hanya satu. Fitri mengaku bahwa alat vital miliknya adalah alat vital laki-laki.

Penjelasan dari Fitri maupun sebagian peserta Halaqah itu akhirnya memuaskan kebanyakan santri dan guru pesantren asuhan KH. Abdul Wahab Zakaria (salah seorang peserta tetap Halaqah Budaya Desantara yang seringkali menjadi “penyelamat” forum ketika perdebatan seru menyangkut masalah agama yang pelik terancam buntu/mandeg) ini. Meski sebagian tampak masih berpikir ulang atau merenungkan kembali soal hadits dan Bissu di atas.

Tetapi, betulkah ini suatu penyimpangan, penyakit kejiwaan, atau pengingkaran terhadap Sunnahtullah, dan kerenanya mengingkari pula agama Allah? Puang Saidi, seperti terkutip di awal laporan ini menegaskan bahwa keadaan dan keberadaan Bissu seperti yang terlihat sekarang ini bukanlah kehendak Bissu itu sendiri. Yang menghendaki menjadi laki-laki sejati, ujar Saidi, bukanlah kaum agama saja, tetapi  orang tua para Bissu pun punya kehendak yang sama; menghendaki mereka menjadi lelaki sejati. “Kodrat dan iradat Tuhan menghendaki seperti ini,” lanjutnya. Secara detail, Puang Saidi menuturkan:

“Pada waktu saya kecil orang tua saya sudah melihat tanda-tanda bahwa nantinya saya akan menjadi seperti ini. Saya senang bermain dengan anak perempuan dan  permainan mereka. Namun selain itu salah satu yang agak unik pada waktu kecil, yaitu saya senang bermain seperti mempersiapakan satu hajatan dalam acara-acara adat. Saya mengambil daun-daun sirih yang masih banyak pada saat itu di sekitar rumah saya, juga saya kumpulkan pinang dan terkadang saya mengambil telur ibu saya yang disimpan di dapur. Setelah itu saya mengajak teman-teman perempuan saya waktu itu untuk ikut dengan permainan yang saya bikin. Biasanya kalau ayah saya melihat, dia akan memarahi saya dan menghancurkan semua mainan yang kami telah tata sedemikian rupa. Dia menyuruh saya bergabung dengan anak laki-laki yang saat itu tengah bermain gasing dan permainan-permainan anak laki-laki lainnya. Kalau ayah saya mengawasi terpaksa saya ikut di antara anak laki-laki itu, tapi tidak ikut bermain. Secara naluri permainan-permainan anak laki-laki itu saya kurang sukai. Setelah umur saya bertambah dan saya semakin besar ayah saya biasanya menyuruh saya untuk menggembalakan kerbau dan membajak di sawah bersama dengan kakak laki-laki saya. Sekalipun pada waktu itu saya justru lebih senang memasak bersama ibu saya. Dan anehnya setiap saya pulang mengerjakan pekerjaan itu (menggembala dan membajak) saya mendadak sakit. Mula-mula ayah dan kakak saya menganggap hal itu hanya merupakan siasat saya untuk menghindari pekerjaan berat, namun ketika saya ulangi lagi mengerjakan pekerjaan laki-laki, saya kembali sakit dan demam bahkan pada saat itu agak parah. Lalu ayah dan kakak saya mulai tidak memaksakan lagi. Apalagi kakek saya yang bernama Sanro Saeke juga menjadi Bissu, bahkan ia Puang Matoa saat itu, sering datang mengunjungi saya dan memarahi ayah bila menyuruh saya melakukan pekerjaan laki-laki. Dan yang lebih aneh lagi pada saat itu, saya sangat senang mengikuti acara-acara adat yang diadakan oleh masyarakat. Kalau saya sudah mendengar bunyi gendang hati saya tidak tenang kalau tidak menuju ke acara adat tersebut. Dan syukur pada saat itu, kakek saya sering membawa saya ikut serta.”

Pengalaman Saidi itu ternyata tidak satu-satunya. Muharram, seorang anak berusia sekitar 11 tahun yang oleh para Bissu diperkirakan akan menjadi Bissu juga mempunyai kecenderungan yang sama; lebih suka bermain dan permainan anak perempuan dan selalu sakit bila dipaksa melakukan pekerjaan laki-laki. Menurut orang tuanya,  Muharram akan sakit (sekujur tubunya akan kemerah-merahan) bila rambutnya dipotong pendek sebagaimana umumnya anak laki-laki. Tentu, bagi kalangan Bissu kehadiran anak seperti Muharram itu sangat menyenangkan, karena anak-anak seperti itulah yang kelak akan menjadi generasi penerus tradisi Bissu yang makin hari makin habis. Catatan terakhir, Bissu  di seluruh Sulawesi Selatan kini hanya  34 orang (14 orang Bissu di Pankep, 11 orang di Soppeng, dan 9 orang di Bone).

Apakah ini masih akan dicap menyalahi kodrat?

Konstruksi yang Menelikung

Puang Saidi, dengan pernyataannya di awal liputan ini, sebenarnya tak hendak menafikan kecenderungan seksual para Bissu calabai yang berbeda dengan umumnya laki-laki. Ia juga tak ingin mempersoalkan kedudukan laki-laki dan perempuan yang selama ini mendominasi dan seolah menjadi kebenaran tunggal, atau kelebihan laki-laki atas perempuan dan pandangan patriarkis yang sampai hari masih dipersoalkan oleh para feminis. Yang ingin ia koreksi adalah konstruksi bahwa mengapa yang memperoleh hak sosial, kultural, dan religius hanyalah laki-laki dan perempuan. Posisi ‘antara’ yang selama ini telah menjadi kenyataan kongkret-historis seperti yang ditempati para Bissu sama sekali tak dipertimbangkan – apalagi dihitung – dalam konstruksi itu. Ketika memikirkan, membuat tata-aturan, dan menyusun nilai-nilai yang hendak diberlakukan bagi hidup dan kehidupan manusia bisa dipastikan hanya atas dasar kepentingan dan aspirasi laki-laki dan perempuan.

Dalam merumuskan (istinbath) hukum Islam, Saidi mencontohkan, dasar paling penting (juga satu-satunya) yang selama ini dipakai adalah kelelakian dan keperempuanan. Saidi mungkin benar, karena seluruh produk hukum Islam seperti tentang nikah, waris, bahkan yang menyangkut tata-gaul selalu atas pertimbangan laki-laki dan perempuan. Satu-satunya posisi ‘antara’ yang dilirik dalam proses perumusan hukum tersebut hanyalah khuntsa yang sebenarnya sangat berbeda secara subtansial dengan Bissu atau kebanyakan waria di Indonesia. Karena Bissu maupun kebanyakan waria di sini, seperti disinggung di muka, tidak memiliki alat kelamin ganda. “Para Bissu, kalau tidak calabai (berkelamin laki-laki), ya calalai (berkelamin perempuan).

Memang benar, dalam soal waris Islam, misalnya, pembagiannya diatur atas dasar kelelakian dan keperempuanan, baik yang menyagkut jumlah bagian (sahm) maupun hak untuk memperolehnya. Seorang anak akan memperoleh separoh, se-gendong-an (Jawa) karena ia perempuan, dan sebaliknya akan memperoleh satu yang utuh, se-pikul (Jawa) karena ia laki-laki. Saudara kandung atau saudara ayah si mayit baru akan memperoleh bagian jika mereka laki-laki dan mayit yang bersangkutan tidak pula mempunyai anak laki-laki.

Di dalam aturan kewarganeragaan kita, bahkan mungkin seluruh dunia, yang tertera menyangkut jenis kelamin hanya laki-laki atau perempuan. Contoh, dalam membuat kartu identitas (KTP atau yang lain) kolom yang tersedia hanyalah laki-laki atau perempuan. Begitu pula dalam pembuatan dokumen-dokumen penting lainnya. Mungkin, ini wajar, karena dalam sejarah keberadaan manusia sejak awal seperti yang kita terima sekarang selalu dikurung dalam stereotip laki-laki dan perempuan. Sejoli Adam dan Hawa dengan berbagai pengertiannya adalah awal konstruksi tentang laki-laki dan perempuan. Dalam agama seperti Islam, misalnya, makhluk yang tidak laki-laki dan tidak pula perempuan hanya para malaikat. Tetapi, bagaimana dengan manusia yang secara sosial-psikologis termasuk kategori bukan laki-laki dan bukan perempuan seperti hanya Bissu?

Secara tidak langsung, pernyataan Saidi di atas sebenarnya juga mempertanyakan soal stereotip maskulinitas-femintas yang menyelimuti perdebatan tentang patriarkhi. Sebuah pertanyaan yang sesungguhnya sering diajukan oleh sejumlah kritikus feminisme yang menganggap bahwa justru stereotip itulah yang selama ini menjadi problem dasar dari persoalan di atas. Selama kita teperangkap dalam stereotip itu, bukan saja persoalannya tidak selesai, melainkan justru pihak perempuan sendiri yang semakin dirugikan. Bagi Bissu sendiri, stereotip maskulinitas-feminitas itu tidak harus ada. Setiap makhluk yang disebut manusia adalah sama dan kecenderungan biologis yang demikian berbeda-beda adalah kekayaan yang harus dihormati. Perlakukan terhadap mereka dan seluruh produk kebudayaannya haruslah sama.

Catatan: Liputan ini disusun sebelum terjadi penggantian Puang Matowa Bissu Saidi


 

 


Beranda  |  Kategory: Edisi 05 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia