Perempuan Tayub : Nasibmu Dulu, Nasibmu Kini

28 - May - 2003 | Miftahus Surur | No Comments »

Udara segar diiringi hembusan angin masih begitu terasa ketika SRINTHIL melintasi jalan hitam menuju Tambakromo Kabupaten Pati Jawa Tengah. Suasana nyaman itu seketika tenggelam dilumat oleh arogansi air hujan yang tiba-tiba turun membasahi bumi Tambakromo. Sinar hangat matahari seketika tergantikan oleh dinginnya air hujan. Tetapi rumah-rumah penduduk yang indah dengan kesederhanannya tetap tegap berdiri, meskipun terkadang harus lenyap dari pandangan karena dibatasi hamparan luas tanaman padi yang sedang hijau-hijaunya. Pemandangan yang tidak pernah kita temukan di kota-kota metropolitan yang angkuh dengan gedung-gedung pencakar langit, bangga dengan gaya hidupnya, sesumbar dengan produk kapitalismenya, tapi lemah paguyubannya. Di kampung itu masih kita dengar tegur sapa yang tiap waktu kita rasakan ketika berpapasan dengan siapapun tanpa harus curiga atau khawatir dengan perilaku ‘tamu’  jauh yang datang dari kota. Yang mereka pelajari secara turun-temurun bahwa tamu itu harus dihormati, kalau perlu dilayani selayaknya keluarga sendiri.

Tidak pernah terbayangkan sebelumnya, di kampung yang sepi itu tersimpan perempuan-perempuan seni tradisi tayuban atau yang terkenal dengan istilah ledhek atau ronggeng. Ledhek, ronggeng, joged atau waranggana tayub adalah penari-penari perempuan seni tradisi (terutama seni tradisi Jawa), berpenampilan selayaknya artis pada kesenian tayuban dengan diiringi suara khas alunan tembang Jawa pula. Kawasan yang bernuansa kampung itu tidak begitu menyulitkan untuk bertandang mencari kediaman ledhek yang dituju. “Mas, di sebelah slepan (tempat penggilingan padi) ada rumah bagus berpagar besi hijau itu rumahnya,” ucap salah seorang penduduk kampung Tambakromo menunjukkan tempat tinggal seorang penari tayub. Wah, laku lagi dia,” desah beberapa orang perempuan yang ditujukan kepada sang ledhek. Sebuah ungkapan yang menyiratkan akan adanya bokingan baru untuk sang ledhek. Selepas sepeminuman teh kemudian, rumah yang dituju telah kelihatan gerbang besinya. Rumah itu memang berdiri perkasa di antara rumah-rumah lain yang masih beratapkan rumbia atau berdinding kayu biasa.

Pada umumnya, masyarakat sekitar di mana ledhek itu tinggal menganggap profesi sebagai penari tayub memang menghasilkan uang yang lumayan banyak. Terbukti, dari beberapa ‘artis’ itu, hampir semuanya mempunyai penampilan yang berbeda dan berada di atas penghasilan penduduk kebanyakan. Rumah megah, beberapa bidang sawah, beberapa ekor sapi sampai perabotan rumah tangga yang serba bagus cukup menggambarkan bahwa profesi sebagai ledhek ternyata menjanjikan penghasilan ekonomi yang tidak sedikit. Tapi itulah susahnya karena tidak semua perempuan bisa menjadi ledhek. Terdapat syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi sebelum menjadi selebritis panggung tayuban. Pandai menari, bersuara bagus dan bermuka cantik plus berperilaku ramah merupakan prasyarat menjadi ledhek. Itulah yang dikenal dengan sebutan bekal rupa, suara, wiraga dan trapsila.

Untuk memenuhi syarat rupa, seorang calon ledhek idealnya memiliki wajah cantik, sedap dipandang atau enak dilihat. Meskipun wajah ayu merupakan anugerah Tuhan yang tidak setiap orang bisa memilikinya, tapi tidak sedikit perempuan yang berusaha mencoba mempercantik diri melalui sarana perdukunan dengan  mengamalkan mantera-mantera tertentu yang diberikan oleh seorang dukun. Ketika sudah menjadi ledhek atau waranggana tayub-pun, mantera-mantera atau jampi-jampi yang disebut sembaga itu harus terus diamalkan, terutama menjelang pertunjukan. Bahkan, tidak sedikit pula yang menambah dengan susuk di beberapa bagian tubuhnya agar kelihatan tambah ayu  dan cantik ketika tampil di atas panggung (stage). Kemudian suara, seorang ledhek akan sangat dielu-elukan ketika piawai membawakan lagu-lagu (gendhing) tayuban dengan suara yang merdu. Meskipun tidak semua ledhek dituntut harus bersuara bagus ketika nyinden (nyanyi), tetapi kebisaan ini dipandang sebagai kelebihan tersendiri yang berharga bagi para penggemarnya. Oleh sebab itu, tidak sedikit pula ledhek atau joged yang berusaha mendandani suaranya dengan meminta pertolongan wong pinter atau dukun gurahan. Gurah merupakan pengobatan tradisional dengan menggunakan air yang telah dijampi-jampi secara khusus oleh sang dukun. Pengobatan jenis ini sangat diyakini –dan banyak terbukti- memperindah suara seseorang.

Lalu wiraga, yaitu kebolehan ledhek untuk menari, berlenggak lenggok dan meliuk-liukkan tubuhnya mengiringi irama gamelan. Wiraga tidak bisa tidak merupakan syarat dasar bagi seorang ledhek karena di situlah makna pertunjukan yang sebenarnya. Pada  dasarnya, tarian yang dibawakan ledhek hanya cukup menyuguhkan tarian yang sedap dipandang oleh penonton, tapi tidak sedikit pula ledhek yang berpendapat bahwa agar seorang ledhek tambah populer dan banyak penggemarnya, maka sebaiknya ia bisa menari seerotis dan sesensual mungkin serta mampu membangkitkan rangsangan penonton. Yang terakhir adalah trapsila, suatu sikap dan perilaku terbuka terhadap siapapun, baik terhadap juru beksa (penari utama yang biasanya terdiri dari kepala desa, penanggap atau pejabat pemerintah) maupun pengibing yang lain. Idealnya, seorang ledhek tidak membeda-bedakan antara pengibing yang hendak menari bersamanya. Selain itu, menjadi ledhek juga harus sabar dan ramah kepada khalayak (audien). Hanya saja, sikap seperti ini memang kadangkala disikapi secara lain oleh pengibing. Keterbukaan para joged  sering dimanfaatkan oleh pengibing untuk memeluk, mencium atau bahkan memeras bagian-bagian tertentu dari tubuh ledhek. Meskipun harus diakui juga bahwa ada beberapa ledhek yang memang siap dan mau untuk diperlakukan sedemikian rupa.

Gendhing yang dibawakanpun beragam, tapi ada beberapa gendhing yang sering dibawakan oleh para ledhek seperti gendhing yang diberi judul angkleng senut (Irianto : 1997). Sebutlah salah satu syairnya : “Rujak nongko rujake poro sarjono, ojo ngoyo dimen lestari widodo. Yo mas, yo mas, kawruhono jer basuki mowo beyo. Kembang ringin runtuh siji ditiup angin, sopo wonge ra kepengen tumindak koyo pemimpin. Gones-gones, sun watoro lamun siro darbe tresno,” (Rujak nangka rujaknya para sarjana, jangan hidup terlalu berlebihan jika ingin tenteram. Ya mas, ya mas, ketahuilah bahwa segala sesuatu itu butuh biaya. Kembang beringin jatuh satu tertiup angin, siapa sih orangnya yang tidak ingin berperilaku seperti pemimpin. Gones-gones, saya jatuh cinta sama kamu). Sulit dibayangkan bagaimana perasaan para penggemar tayuban ketika mendengar gendhing seperti di atas ditambah dengan penampilan menarik para penarinya yang ayu-ayu, egolan yang aduhai plus senyum yang menawan.

Tapi itulah, tayuban bukan seni yang sepi dari ejekan, uring-uringan atau pemberian cap jempol lambang erotisme, meskipun banyak pula yang kecanduan jika tidak menonton  parodi asal Jawa itu. Maklum, rentang sejarah panjang tayuban diwarnai dengan adegan-adegan ‘panas’ yang membuat penontonnya ser-seran, blingsatan, sakaw, jengah, malu, dan perasaan campur aduk lainnya.  Jika perempuan lain menumpahkan perasaannya itu dengan ngedumel atau menarik diri dari arena pertunjukan, maka laki-laki menumpahkannya dengan cara ngibing, naik ke atas panggung menari sepuasnya bareng ledhek, sambil tidak jarang pula diiringi dengan tenggakan minuman keras.

Menjadi ledhek memang berbeda dengan keinginan menjadi miss universe. Cukup bermodalkan empat unsur kejiwaragaan itu, pangkat ledhek bisa segera diraihnya tanpa harus mencerdaskan diri dengan sekolah, kursus Bahasa Inggris, atau apapun namanya. Tingkat pendidikan hampir tidak pernah terpikirkan dalam benak ledhek. Bahkan rata-rata para ledhek itu mengenyam pendidikan hanya sesaat dan jarang sampai menembus tingkat atas, SMA misalnya. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan sama sekali tidak mempengaruhi profesionalitas joged di atas pentas. Tapi, kesadaran akan pendidikan kini banyak dimiliki oleh para ledhek itu. Banyak di antara mereka yang menginginkan anak keturunannya tidak mendalami profesi seperti ibunya dan lebih senang mengeluarkan biaya demi sekolah putra-putrinya. Paling-paling, regenerasi ledhek dilakukan dengan cara merekrut beberapa bocah perempuan untuk dilatih menari dan atau nyinden. Para generasi –yang disebut wurukan- ini dibekali kepandaian dalam dua bidang tadi, selain juga latihan-latihan mental berupa belajar tampil di jalanan, numpang grup reog, atau ikut manggung dalam pementasan wayang orang. Setelah itu, barulah mereka melepaskan diri untuk kemudian menjadi ledhek, joged, waranggana tayub atau ronggeng. Pertimbangannya adalah, ledhek tidak harus terikat dalam satu grup tayuban sehingga mereka bebas untuk menentukan menari di mana atau dipanjer oleh siapapun yang punya hajat.

“Kalau di sini memang hampir tidak ada grup resmi tayub. Yang ada ya orang-perorang, kemudian dipanjer untuk nari di sebuah acara. Jadi, tidak terikat, Mas. Oleh sebab itu, sering tidaknya seorang ledhek manggung, tidak bisa dipastikan dan tidak bisa dupukul rata. Saya harus sudah dipanjer beberapa minggu sebelumnya Mas, maklum jadwal saya agak padat, apalagi kalau habis panenan biasanya banyak yang nanggap tayuban,” ucap mbak Mani, perempuan tayub yang telah menekuni profesi ledhek selama 16 tahun itu. Meskipun sudah berusia kepala tiga dan mempunyai dua orang putra-putri, hal itu tidak menjadi kendala dan menyurutkan minat mbak Mani untuk tetap manggung. Siapapun akan sulit mengira bahwa perempuan tayub asal Karangwono itu sudah merambah usia senja untuk  ukuran ledhek, karena raut wajahnya masih segar dan menyiratkan kecantikan yang tidak termakan oleh lapuknya zaman. “Saya enggak pakai susuk kok, cuma kalo sembogo (jampi-jampi, Red.) masih saya baca. Yah..biar lebih mantap aja,” ujarnya kemudian dengan berbahasa Jawa.

 

Mengurai Masa Lalu dalam Keremangan Sejarah

 

Banyak versi tentang kisah tayuban. Hasil adonan dari tarikh, mitos, dan tradisi membuat tayub menjadi legenda dan seni yang terus digandrungi masyarakat. Sebuah versi menyatakan bahwa pada awal-awal kelahirannya, seni tradisi tayuban merupakan ritual untuk sesembahan demi kesuburan pertanian. Penyajian tayub diyakini sebagian masyarakatnya memiliki kekuatan magic-simpatetis dan berpengaruh terhadap upacara sesembahan itu. Melalui upacara “bersih desa”, aparat desa mengajak warganya untuk melakukan tarian di sawah-sawah dengan harapan keberkatan itu muncul melalui prosesi yang mereka lakukan. Tanaman menjadi subur dan terhindar dari mara bahaya. Prosesi ritual biasanya tidak terlepas dari aturan, makna sampai ke penghayatan spiritual yang berbau mitis. Demikian pula dengan tayuban. ‘Sembahyang’ tayuban  dipandang memiliki kekuatan gaib yang sangat berarti bagi warga desa, sehingga mereka tidak canggung-canggung melakukan tarian dalam suasana seperti apapun. Tapi ada pula versi lain yang menyatakan bahwa tayuban memang murni sebuah ekspresi seni masyarakat. Ia tidak ada kaitannya dengan ritual atau wujud sesembahan melalui tarian rakyat. Entah, versi mana yang diakui kebenarannya, “wallahu a’lam”. Yang jelas tayuban telah tampil dengan jati dirinya yang utuh sebagaimana kita saksikan.

Biasanya, tarian itu disuguhkan oleh laki-laki dan perempuan yang menari secara bersamaan. Laki-laki disimbolkan sebagai benih tanaman yang siap tumbuh dan berkembang, sedangkan perempuan dilambangkan sebagai lahan yang siap ditanami. Seiring dengan keyakinan masyarakat akan daya magic-simpatetis tarian tayub, penyajiannya kemudian beralih bukan lagi di sawah-sawah, tetapi merambah dunia resepsi khitanan atau perkawinan. Kekuatan gaib yang ada pada tayuban itu dianggap turut berpengaruh terhadap kesuburan pasangan, sehingga berkah itu diharapkan segera mewujud dalam  bentuk kelahiran anak. Selain itu, laki-laki dan perempuan yang melakukan praktek tari kesuburan itu tidak menganggapnya sebagai ajang jual beli seks, tetapi seksualitas telah dipandang sebagai unsur sah sebuah ritus. Meskipun pada akhirnya, tayuban  tidak lagi disajikan dalam upacara-upacara tasyakuran, tetapi merubah dirinya menjadi seni hiburan rakyat. Lagi-lagi proses simbolik seperti di atas perlu direnungkan ulang, jika asumsi ketiadaan unsur magis dan mitis itu tidak ada kaitannya dengan seni tayuban dan itu diyakini kebenarannya.

Pergeseran tayuban dari seni hiburan rakyat menjadi seni komersial membuat jenis kesenian yang satu ini ‘dipaksakan hidup’ dengan imbalan. Sisi komersialitas tayub telah menggeser makna tayuban dari kesenian yang berifat ‘sakral’ menjadi bersifat profan. Masyarakat yang semula mendukung tayuban untuk upacara tasyakuran dan menambah kerukunan antar warga mulai kehilangan keseimbangan kosmosnya. Ledhek, panjak maupun juru kawih sama-sama mengarahkan tayuban menjadi seni tradisi yang diperjual-belikan. Perempuan-perempuan mulai berbondong-bondong belajar nari dan nembang. Pementasannya pun tidak harus di atas panggung, di sawah atau di keraton. Mereka cukup berjalan keliling, ngamen ala topeng monyet sambil menari di depan rumah-rumah penduduk atau di lapangan.

Seperti halnya seni-seni tradisi yang lain, perjalanan sejarah tayub pun mengalami gonjang ganjing irama sejarah. Ia pernah dipanjer oleh para pejabat kolonial Belanda untuk memeriahkan pesta di pendopo kabupaten, pernah pula diisolir oleh pemerintah akibat ‘berkoalisi’ dengan PKI. Tayuban dijadikan moncong propaganda politik PKI, terutama masa-masa berkibarnya Orde Lama. Pertelingkahan tayub dengan PKI dipandang beberapa kalangan sebagai perjodohan antara kaum abangan. Maklum, para santri lebih banyak yang mengharamkannya ketimbang membolehkannya. Akhirnya, lari ke dalam pelukan PKI lebih baik ketimbang hidup dalam makian kaum santri. Baru kemudian pada masa Orde Baru tayub kembali digelar dan disahkan kembali sebagai seni pertunjukan. Tapi sialnya, lagi-lagi tayuban lebih banyak dijadikan laras kekuasaan dari pada ekspresi kebudayaan. Tayuban menjadi media kampanye politik, propaganda pembangunan pemerintah atau  ‘titipan kilat’ pesan-pesan negara.

Demikian halnya dengan kondisi perempuan tayub kala itu. Perjalanan sejarah perempuan tayub juga tidak linear. Nilai rapornya pun tidak melulu merah, ada kalanya hitam dan ada kalanya juga biru. Dalam satu lembaran, deretan embel-embel negatif menempel pada jati diri para ledhek. Sebutan perempuan penggoda laki-laki atau pelacur seolah-olah menjadi gelar permanen. Wajar jika banyak perempuan yang merasa risih dan kesal melihat pertunjukan tayub. Alasannya cuma satu, takut kehilangan suami atau kekasih mereka akibat nggandrungi tayub. Sedangkan pada lembaran lain, menjadi ledhek merupakan kebanggan karena ia mampu mempresentasikan keperempuanan yang utuh. Ledhek merupakan subjek konkret yang membuat hampir semua audien memujinya.

Waktu itu, pertunjukan tayub memang dilakukan dalam nuansa yang masih sederhana. Rombongan ‘pengamen jalanan’ itu berkeliling ke desa-desa, dari rumah ke rumah lalu ledheknya jogetan diiringi alunan musik gamelan. Kalau sudah melenggang di jalanan, setiap orang bisa menikmati tarian dengan kompensasi paling-paling hanya nyumbang sejumlah uang ala kadarnya. Pasca “organ tunggal masuk desa”, seni tradisi tayuban merasa mendapat pesaing berat. Suguhan televisi, dangdut, atau organ tunggal yang kebanyakan menampilkan ‘artis’ cantik rupa dan jogetan yang aduhai membuat penari-penari seni tradisi seperti tayuban-pun berusaha memakai pola yang sama dengan asumsi bahwa tampilan seperti itulah yang banyak digemari penonton.

Akibat komersialisasi tayub inilah, ledhek menjadi bersemangat dan semakin menekuni tayuban. Kebutuhan ekonomi seringkali menjadi alasan utama mengapa banyak di antara ledhek yang mencari uang sambilan dengan cara merelakan dirinya diboking secara khusus oleh laki-laki untuk kencan di luar panggung. Meskipun tidak jarang pula yang melakukannya karena memang “ikhlas”. Ketidakmauan untuk terikat dalam tali rumah tangga membuat mereka lebih suka melakukan kumpul kebo atau samon leven  dengan pasangan yang diinginkannya. Kalaupun hal ini dilakukan, para ledhek itu lebih suka melakukannya dengan aparat pemerintah atau dengan para sopir. Alasannya, jika dengan aparat pemerintah, maka segala sesuatu yang berurusan dengan administrasi negara lebih mudah diatur. Selain itu, mereka juga merasa nyaman dan terayomi mana kala memiliki affair dengan pejabat pemerintah serta tidak mudah diganggu oleh orang luaran. Sedangkan dengan sopir, alasannya lebih kepada fairness si sopir yang tidak mudah cemburuan dibanding dengan suami sendiri.

Cara berpakaian yang dikenakan ledhek-pun berbeda. Dulu, ledhek mengenakan kemben, semacam kain rapat yang dipakai hanya sampai sebatas dada. Jenis pakaian seperti inilah yang dianggap pula bisa membangkitkan gairah laki-laki di samping egolan dan lenggak lenggok penari itu sendiri. Sehingga tidak jarang pengibing yang turut menari bersama ledhek memberikan uang saweran ke dalam kemben secara langsung. Kalau sudah memasukkan uang saweran ke dalam kemben, hampir secara otomatis tangan pengibing itu turut meremas-remas payu dara sang ledhek. Sekarang, ledhek mulai beralih rupa dengan mengenakan kain yang berlengan. Meskipun tidak ada perintah dari aparatus negara, kebanyakan ledhek merasa saru (tidak sopan) jika mengenakan kemben, selain juga untuk meminimalisir perilaku jahil pengibing.

 

Perempuan Tayub : Perempuan Menuding Perempuan

 

Kabupaten Pati memang gudang tempat bersemayamnya para ledhek. Dari ujung kulon sampai ujung wetan hampir terdapat ledhek. Seperti diungkap semula, ledhek memang penari perempuan tayub yang bebas dan tidak harus terikat dengan suatu group. Berbeda misalnya dengan seni re(y)og, kentrung atau ketoprak. Ketika manggung, para ledhek itu memang terkumpul dalam satu paket rombongan, tapi setelah itu mereka bisa pulang dan esoknya bisa tampil dalam panggung lain dengan personel yang berbeda. Maka tugas tuan rumahlah yang mencari personel tayub jika mereka ingin menyelenggarakan suatu acara atau penugasan itu bisa didelegasikan kepada seseorang yang mampu menghadirkan satu paket rombongan tayuban.

Di kawasan Pati, terutama di Tambakromo, khususnya Sinom, ledhek-ledhek itu menikmati kehidupan sehari-hari labih baik ketimbang penduduk lain yang hanya menekuni profesi petani sawah atau guru madrasah. Sebutlah mbak Mani atau mbak Wari, keduanya tergolong ledhek yang sudah belasan tahun malang melintang dalam dunia pertayuban. Hasil jerih payahnya sudah nyantel dalam bentuk sawah, rumah megah berlantaikan keramik lengkap dengan perabotannya. Bahkan ketika SRINTHIL bertamu, rumah keduanya sedang dibangun untuk menambah asesoris. Selain banyak kayu papan  yang sedang dipasah, sebuah mobil truk juga sedang membongkar batu apung tepat di depan rumahnya.

Mbak Mani mengaku bahwa ia melakoni tayuban sejak berumur 18 tahun. Bermodalkan wajah cantik dan bersuara merdu, ia mencoba menggeluti dunia seni yang satu itu. “Usia saya sekarang sudah 30-an, Mas. Tapi alhamdulillah, saya masih mendapatkan panjeran,” ujarnya kepada SRINTHIL. Awalnya, mbak Mani tidak langsung terjun ke dunia tayuban, tetapi ikut dalam group re(y)og. Tanpa sengaja, ada salah seorang temannya yang menawarinya untuk tayuban. Mungkin melihat penampilan dan tarian yang dibawakan mbak Mani, membuat temannya tertarik untuk mengajaknya. Mbak Manipun merasakan demikian, merasa lebih enak menjadi ledhek, maka profesi itu terus dilakoninya. “Dulu bayarannya kecil, Mas. Kalau dulu paling-paling cuma cukup buat makan sehari-hari, sekarang bisa lebih untuk dibelikan dengan yang lain,” akunya tanpa menyebutkan jumlah bayaran yang diterimanya setiap kali manggung.

Lain lagi dengan mbak Wari. Ledhek dukuh Sinom Tambakromo yang bernama lengkap Siswari itu memiliki latar sejarah yang lebih pahit ketimbang mbak Mani. Waranggana tayub  yang memulai debutnya tahun 1984 itu mengaku bahwa dia sempat mengalami masa-masa ngamen dari rumah ke rumah atau dari desa ke desa dengan didampingi dua orang panjak (penabuh gamelan/musik). Wajahnya memang tidak terlalu cantik, tetapi tertutupi oleh keindahan suaranya. “Banyak orang bilang, kalau saya ini pandai nglucu (humor) baik di atas pentas maupun di luar pentas. Itu sebabnya masih banyak yang memberi panjer untuk saya, padahal umur saya ini sudah 42 tahun lho Mas,” ucap ibu Susi Kumala Dewi (15 th), anak perempuannya hasil adopsi itu sambil tersenyum. Sejak berumur 20 tahun, mbak Wari sudah mengarungi dunia tayuban. Berbagai pengalaman, pahit getir dan manisnya menjadi seorang ledhek telah ia rasakan. Dari mulai dipuji sampai dipukul di atas panggung juga pernah dia alami.

Perihal perlakuan keras beberapa pengibing kepada ledhek, semuanya pernah dialami oleh mbak Mani maupun mbak Wari. Mbak Mani mengaku pernah ditampar akibat dia memukul muka pengibing yang berusaha menciumnya dengan gagang mik. Begitu pula dengan mbak Wari pernah dipukul wajahnya karena dianggap tidak mau melayani pengibing yang waktu itu sedang mabuk berat. Lain halnya dengan ledhek rekan mbak Wari –yang tidak mau disebutkan identitasnya, justru sering mengalami kekerasan dari suaminya sendiri. Dengan alasan tidak pantas, suaminya seringkali berperilaku kasar, tapi di sisi lain, kebutuhan ekonomi keluarga tidak pernah diperhatikan oleh suami.

Berbagai kekerasan panggung (stage violence) sekarang ini berusaha dihindari sedini mungkin dengan melakukan penolakan-penolakan secara halus, baik melalui obrolan maupun tingkah laku tarian. Seringkali ledhek melambaikan tangan atau menarik sampur (selendang) ketika pengibing mulai ‘macam-macam’. Semua ini dilakukan sebagai isyarat bahwa pengibing tidak boleh berbuat yang tidak senonoh.

Penyiasatan-penyiasatan seperti ini jarang sekali dilihat sebagai sebuah strategi perempuan tayub berhadapan dengan pengibing atau siapapun di hadapannya. Stempel perempuan penjaja seks atau perempuan nakal terlanjur melekat dan sulit untuk dilepas. Pandangan seperti ini bukan hanya muncul dari perempuan-perempuan kampung pemerhati tayuban, bahkan beberapa aktivis perempuan lokalpun mengambil sikap yang sama. Ummi Nadhiroh, ketua Ikatan Putri-Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Cabang Pati mengatakan bahwa sikap trapsila para ledhek yang mendatangkan perilaku pelecehan seksual merupakan tindakan yang memalukan. Meskipun sebagai tuntutan profesi atau sekedar mendapat tambahan ekonomi, tidak selayaknya ledhek-ledhek itu bertindak demikian. “Pentas seninya sih bagus karena tayuban merupakan tradisi masyarakat. Tapi kalau dimainkan seperti itu  (erotis, Red.), lalu pantatnya dipegang-pegang pengibing, kan itu melecehkan perempuan,” tutur perempuan nomor satu di IPPNU yang masih lajang itu.  Demikian pula dengan Ummi Hani, ketua Fatayat NU Cabang Pati itu mengatakan bahwa profesi ledhek  itu sangat rawan pelecehan dan seringkali menggangu hubungan rumah tangga sendiri dan orang lain. Banyak suami-suami yang tega menceraikan istrinya lantaran ada affair dengan ledhek. Ada pula yang hancur rumah tangganya lantaran suami sering terbakar cemburu oleh perilaku istrinya di atas panggung. “Saya sering menyarankan teman-teman yang menggeluti tayuban agar aktivitasnya itu dihentikan, karena ia bisa membawa ke kebejatan moral, kehancuran rumah tangga, dan bisa dikucilkan oleh masyarakat,” ujarnya kepada SRINTHIL.

Sebutlah Samirah, Ummi Hani bertutur, adalah mantan ledhek yang pernah mengalami kehancuran hidup rumah tangga. Sebagai salah satu perempuan tayub yang tercantik di kawasan Trangkil, Samirah memang tergolong ledhek yang terlaris di antara yang lain. Kecantikan dan keahlian dalam menari membuat siapapun siap menghambur-hamburkan uangnya agar bisa ngibing bareng Samirah. Tapi apa lacur, perempuan tayub yang saat ini beralih profesi menjadi pramuniaga di Mal Matahari Kudus itu harus rela kehilangan suami dan berpisah dengan kedua anaknya lantaran sang suami yang tidak bisa melihat istrinya dijadikan “barang dagangan” dan dinikmati oleh banyak laki-laki.

Lebih lanjut, para ‘pemerhati’ perempuan itu mengusulkan program islamisasi tayub dengan cara memakaikan kerudung ketika ledhek-ledhek itu menari atau paling tidak mengurangi sensualitas tarian. Masih menurut Ummi Hani, upaya ini merupakan pencegahan secara preventif perilaku pelecehan seksual di atas panggung sekaligus menghilangkan image negatif di masyarakat. Bahkan istri Camat Trangkil, Musus Indiyani akan berusaha mengusulkan bahwa model pakaian, tata cara menari dan ngibing dituangkan dalam aturan tersendiri. Bahkan kalau perlu diadakan pelatihan atau penataran dengan melibatkan ledhek sebagai pesertanya. Hal ini penting  agar para ledhek itu semakin terlindungi dan tidak mudah menjadi objek seksual laki-laki.

Menanggapi image negatif dari berbagai kalangan masyarakat itu, ledhek bukannya tidak mempunyai strategi khusus menghadapi hujatan demi hujatan. Ada yang merubah gaya tampilan, baik asesoris pakaian maupun gaya tarian. Mbak Mani misalnya, menanggapi suara-suara sumbang dari tetangganya yang dengki terhadapnya cukup dengan diam dan tidak menggubrisnya sama sekali. Mbak Mani masih berkeyakinan bahwa apa yang ia lakukan demi kebutuhan ekonomi dan itu dianggapnya halal. Selain itu, mbak Mani sebisa mungkin tidak akan melayani panjer yang berasal dari dusunnya sendiri. Ia lebih memilih tampil di desa lain karena itu dirasakan lebih aman dari fitnahan tetangganya. Sebagaimana mbak Mani, mbak Waripun memiliki siasat menghadapi hujatan-hujatan masyarakat. Selain acuh, mbak Wari cukup menyesuaikan diri di mana ia tampil. Jika tampil di daerah yang berlingkungan religius, maka pakaian yang dikenakannya lebih tertutup. Ketika show di tempat yang lebih ‘terbuka’, mbak Waripun berani tampil ‘terbuka’. “Gimana ya Mas. Saya nayub itu bukan hanya sekedar mencari uang, tetapi memang hobi sekali. Ketika saya mendengar suara gending, kepala saya langsung reflek gerak-gerak sendiri,” ujarnya.

Mengenai keinginan beberapa aktivis perempuan untuk ‘mengislamkan’ ledhek, para waranggana tayub itu keberatan. Alasannya, tayuban adalah seni tradisi yang dimiliki oleh masyarakat, sama sekali tidak ada hubungannya dengan tingkat atau bentuk kesalehan seseorang. Seni tari yang kental unsur seksualitasnya itu tidak bisa dijadikan ukuran untuk kemudian mem-peti-eskan tayuban, karena tidak semua tindak tanduk ledhek menyalahi aturan agama. Ia khawatir, jika para joged itu dikerudungi, maka nilai seni dan keindahan tayuban menjadi hilang. “Mereka kira kami ini tidak Islam ? Saya masih sembahyang kok, setiap sore juga masih ngaji di langgar, mengapa harus diislamkan lagi ? Terus, kalau saya nari dengan memakai kerudung, kan  lucu toh Mas,“ tuturnya kemudian. Alasan melacurkan diri demi uang rasanya seperti pukulan keras yang tidak mudah diterima oleh para ledhek itu. Pertanyaannya, apakah tayuban itu akan dijadikan sebagai tujuan komersialisasi seksualitas atau sebaliknya, seksualitas cukup dijadikan sebagai nuansa ? Benarkah seksualitas merupakan simbol kebinatangan manusia  yang seharusnya dilarang, atau sebaliknya, bahwa seksualitas merupakan struktur yang inheren dalam kejiwaan manusia sehingga patut pula untuk direfleksikan dalam kendali kemanusiaan ?

Mbak Wari mengemukakan bahwa ketika dirinya disentuh, dijawil atau dipegang oleh pengibing, dirinya tidak merasa sebagai pihak yang dilecehkan. Pertama, perlakuan seperti itu memang wajar terjadi di pentas yang melibatkan laki-laki dan perempuan. Ujar-ujar Ahmad Thohari bahwa manusia pada dasarnya  adalah homo ludens (makhluk yang berberahi) mudah tersalurkan di atas panggung. Kedua, kesiapan seorang ledhek harus benar-benar matang karena perbuatan tidak senonoh itu hampir dipastikan ada dalam setiap pertunjukan tayuban atau seni pentas yang lain. “Kalau kita tidak siap dipegang atau disentuh, ya jangan jadi ledhek. Yang penting, bagaimana kita menjaga diri dengan baik, itu saja. Kecuali kalau sudah di luar panggung, itu sudah resiko masing-masing,” paparnya lebih lanjut.

Memang, sepertinya tidak mudah merumuskan term dan unsur-unsur pelecehan seksual terhadap perempuan. Apa yang sudah tersusun rapi di dalam mindset seseorang, seringkali berbenturan ketika dikonfirmasikan kepada pelaku seni tradisi, bahkan ada yang merasa bahwa perilaku seperti itu justru menguntungkan, terutama dari sisi perolehan materi. Jangan salahkan ronggeng jika harta pengibing ludes akibat sering nyawer. Sama halnya, jangan salahkan waranggana tayub ketika laki-laki yang sudah berstatus suami harus menceraikan istri-istrinya ketika terlibat ‘skandal’ dengan ledhek. Cairnya identitas, relasi dan interaksi antara pengibing dengan ledhek tidak mudah memasukkannya dalam kamus sexual violences. Bahkan, antara ledhek-pun saling memberikan kebebasan dan tidak pernah menuding perilaku teman ‘seperjuangannya’  yang merelakan diri tidur, diajak ngamar atau dikontrak oleh laki-laki yang kemudian diberi ongkos atau imbalan yang sesuai sebagai perbuatan yang tidak pantas dilakukan.

Kepantasan bagi seorang ledhek bukan terletak pada mau tidaknya diajak ngamar, atau kesucian dari jamahan tangan laki-laki, tapi identitas itu melekat pada profesionalitas sebagai penari tayuban yang kesemuanya berkaitan dengan representasi dirinya di hadapan audien. Perpaduan antara rupa, suara, wiraga dan trapsila yang disuguhkan secara baik dan sempurna itulah  titik kepatutan –kalau tidak ingin dikatakan eksistensi identitas- ledhek. Kemandirian ledhek  merupakan kemandirian yang utuh, ia merdeka dari jajahan istilah “dunia perempuan yang malang”, karena ia tidak pernah merengek-rengek minta bantuan kepada siapapun untuk minta perlindungan. Kelelakian mudah luluh dan keangkuhan negarapun mandul di hadapan para ledhek itu. Kehidupan profesionalnya mencerminkan sebuah kesadaran untuk meraih keinginan yang didambakannya. Justru bentukan-bentukan (konstruksi) yang diciptakan oleh kalangan kampus atau perempuan-perempuan elite telah menjelmakan “makna kematian” karena telah mengingkari nilai dunia perempuan lain. Ledhek-ledhek itulah yang sepatutnya berbicara perihal mereka sendiri karena merekalah yang telah memahami sisi kehidupannya tanpa pernah merasa bersalah. Dengan mudah, perempuan tayub mampu merubah hujatan menjadi pujian, merubah yang objektif menjadi subjektif, karena mata mereka memandang dengan indra yang lurus dan tajam. Berbeda dengan perempuan-perempuan kampus yang memandang dengan kaca mata tebal, mata yang rabun sehingga realitas-realitas di hadapannya seolah-seolah menjadi kabur. Jika memang sudah demikian, siapakah yang patut menyandang gelar “perempuan berkesadaran semu” ?.

Demikianlah, melukiskan pentas perempuan seni tradisi tidak jarang melukai sisi ke-seni-an dan juga ke-perempuan-an itu sendiri. Memaksakan perempuan tayub sesuai dengan ekspresi pribadi malah akan mengecilkan perempuan, di mana heterogenitas perempuan berusaha diraup dalam satu mainstream yang sama dan general. Apa yang dialami ledhek-ledhek itu menunjukkan bagaimana resistensi perempuan bisa muncul kapanpun dan dilakukan dengan strategi yang tepat dan –seyogyanya- tidak pantas terjerumus dalam kubangan tafsir perempuan yang tereksploitasi seksualitasnya. Di satu sisi, pentas seni merupakan arena kontestasi yang terbuka, netral dan bebas dari batasan-batasan subjektif-objektif. Semuanya bisa luntur karena masing-masing pihak berhak untuk melakukan representasi secara maksimal. Sedangkan di sisi lain, perempuan tayub juga berhak untuk memberikan kepuasan publik dan berupaya agar tampilannya diterima sebaik mungkin oleh audien.

Mbak Mani, mbak Wari ataupun perempuan tayub yang lain bukanlah ledhek-ledhek yang hidup tanpa jaring masalah. Sebagai perempuan seni tradisi, mereka memang berpotensi menjadi sasaran kekerasan. Tapi, memanfaatkan sisi keperempuanannya untuk membelai keangkuhan kelelakian itulah yang patut kita renungkan sebagai realitas konkret yang tidak mudah dirumuskan melalui kajian teoritik dan ilmiah apapun.  Melihat perempuan tayub di atas panggung berarti kita diundang untuk melihat karakter yang multi-perspektif sama halnya dengan ledhek-ledhek ­yang melihat dirinya sendiri. Sambil menari seolah-seolah perempuan tayub itu mengatakan “dengan menari maka aku ada”.

 

 


Beranda  |  Kategory: Edisi 02 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia