Perempuan, Kyai, dan Kitab Kuning

28 - May - 2003 | Asep MR | No Comments »

Lekak-lekuk tubuhnya begitu mempesona dan aduhai. Wajah, tubuh, dan suaranya memancarkan aura melambai gairah larut dalam dekapan. Ya, malam itu, di lapangan yang tidak terlalu besar di Legoso Raya Ciputat semua orang, tua-muda, bergembira menikmati goyangan tubuh molek sang penyanyi. Tak terasa semakin jauh malam, semakin asyik menggoda. Tak dinyana, sayup-sayup terdengar di kejauhan, semakin dekat semakin bergemuruh dan mengguncang batin. Segerembolan orang berjubah putih dan kepala yang dililit sorban sambil mengacung-acungkan parang, tongkat dan pedang sambil berteriak: Allah Akbar, hancurkan kemaksiatan, hilangkan kemungkaran, bunuh hawa nafsu, Allahu Akbar.

Ibarat banteng kedaton kegilaan menyeruduk ke tengah massa. Pekik suara ketakutan, kesakitan bercampur amarah, dan kata-kata makian menggema dari penonton yang tengah menyelamatkan diri. Semuanya lari kecuali para aktor di atas panggung yang harus tabah mendengar caci maki dan meratapi alat-alat musiknya yang hancur. Sang penyanyi  berparas ayu duduk termenung diam bertopang dagu sambil bergumam dalam hati: seandainya diriku pria yang pandai bernyanyi, tentu prahara ini tak mengunjungiku[1].

            Aku, yang juga bagian dari penikmat pertunjukan, ikut lari juga. Sesampainya di kos, aku  tertegun, dan bergumam di dalam hati: itukah jundullah (pasukan Allah) yang datang ibarat kilat menyambar seperti dalam perang Badar dulu; tapi, haruskah “kemungkaran” “didakwahi” secara kasar tanpa iba dan nestapa kepada sang penyanyi, yang mencari rezeki? Tidakkah mereka ingat betapa marahnya Rasul kepada Umar bin Khathab yang hendak memenggal kepala seorang Yahudi gara-gara kencing di pelataran mesjid, sambil mengatakan: cukup kau ambil air dan siram kencing itu?

            Dalam pikiranku, muncul beribu tanya dan kebingungan. Tiba-tiba, masa lalu hadir, ketika belajar selama enam tahun di pesantren. Ya, masa yang tanpa warna-warni dan kesulitan. Kubuka kembali pelajaran-pelajaran kitab kuning yang pernah kupelajari, khususnya yang terkait dengan persoalan fikih. Dari Safinah al-Naja dan Nihayah al-Zein karya Syeikh Nawawi al-Bantani, Fathul Qarib, Fathul Mu’in, Fathul Wahhab, Syarah Bajuri dan Hasyiyah I’anatul Thalibin hadir dan mengajariku. Tiba-tiba, entah suara dari mana membisiki: para penonton hanya memperkosa tubuh molek perempuan dengan matanya, dan itu hanya di atas panggung semalaman; tapi, kyai atau ulama “memperkosa” ruh dan tubuh perempuan sejak awal kelahirannya sampai kematiannya.[2]

            Bisikan itu begitu kuat menggema seakan hendak mendorongku untuk membaca dan menelaah kembali kitab kuning yang selama ini kutinggalkan. Pada awalnya, tak ada yang menarik untuk dipertanyakan seperti ketika belajar dulu di pesantren. Maklum, saat itu aku begitu polos dan wibawa kyai sangat membius di mana semua kata dan sabdanya menyimpan hikmah kearifan dan kebenaran yang jika ditentang akan  mendatangkan laknat dan ketidakberkahan.

Tiba-tiba, terlintas jelas bayangan seorang gadis yang sangat kucintai tapi cintaku tak terbalas. Pasalnya, seperti yang dituturkan padaku, ketika dia masih dalam kandungan ibunya, sang ayah sudah menjodohkan dengan anak sahabatnya. Nasib! Tapi, bayangan gadis itu membantuku untuk menyelami dan merasakan kepedihan, kesedihan, diskriminasi, ketidakadilan, dan nestapa yang dirasakannya, nun jauh di relung hatinya.  Dan, aku akan ajak Anda berjalan-jalan di kitab kuning country untuk melihat dan merasakan bagaimana ia menundukkan perempuan sehingga “merasa nikmat dan berbahagia meski ditindas” sejak janin sampai akhirat.

Ketika seorang istri mengandung, maka sang suami akan senantiasa membaca surat Yusuf dengan harapan bahwa janin itu adalah laki-laki. Diundangnya kyai dan para tetangga agar ikut mendoakan semoga harapan itu terkabul. Dalam tasyakuran itu, si kyai mengingatkan agar jangan lupa menyembelih kambing: dua kambing jika anak itu laki-laki dan jika perempuan, cukup satu saja[3]. Mengapa anak lelaki harus diistimewakan, bukankah ini sikap diskriminatif dan memihak?

            Sikap diskriminatif ini ternyata tidak berhenti di situ. Sampai kemudian umurnya semakin bertambah. Entah, kekuatan dari mana yang memberi rambu-rambu dan garis yang harus diikuti seorang perempuan dalam kehidupan? Serta merta, sang ibu memperkenalkan dan membawanya ke dapur, dan si laki-laki bersekolah atau membantu sang ayah di ladang atau pasar. “Perempuan , memang tempatnya di dapur, “ wasiat emaknya. “Nggak perlu sekolah tinggi-tinggi, cukup kamu pandai memasak, berhias diri biar cantik dan menarik si laki-laki, dan pandai menyenangkan bakal suamimu”. 

Segera saja aku teringat pepatah Arab:

Jamal al-rajuli bi ‘aqlihi # wa jamal al-mar’ah bi jamaliha

“Kegantengan seorang lelaki terletak pada akalnya; dan kecantikan seorang perempuan terletak pada kecantikan fisiknya”

 

Pepatah itu mendapatkan relevansinya ketika aku melihat seorang kyai mendapatkan istri yang muda dan ayunya tiada bertepi. Kata temanku, ia adalah kembangnya desa ini dan dambaan setiap pemuda. Dan, tanpa hendak membenarkan dirinya, sang kyai selalu mengiming-imingi dan menyemangati santri-santrinya untuk belajar tekun dan berilmu tinggi sebab kelak perempuan atau bidadari manapun akan merengek di depan kita minta dipinang. Hebat bukan?

Lebih dari itu, para speaker kitab kuning menganggap dan menyamakan perempuan ibarat mata’ al-dunya[4], perhiasan dunia atau barang dagangan yang menanti sang pembeli. Hawa tercipta di dunia untuk menemani sang Adam, sabda “Dewa”. Mungkin anda pernah dengar cerita yang aku dapatkan dari seorang teman tentang kelakuan suami di Indramayu, bahwa kaum bapak di sana, yang mayoritas bertani, ketika dikhabari bahwa istrinya melahirkan, maka kata-tanya pertama yang meluncur: perempuan atau laki-laki. Jika jawabannya adalah perempuan, setengah berteriak kegirangan, ia segera tinggalkan ladang ‘tuk menyambut sang anak; tapi jika laki-laki, ia hanya tertunduk sedih dan terus mencangkul. Apa alasannya? Sebab, si anak perempuan kelak kalau sudah dewasa bisa “bekerja” di kota dan mendatangkan keuntungan material dari “kehormatan”nya. Brengsek sekali!

            Ibarat barang dagangan, tak ada hak untuk menolak atau menerima secara sukarela. Semuanya tergantung pada si penjual (orang tua) dan si pembeli (calon suami). Kalau dia suka dan sudi memeriksa, mengamati barang tersebut, terjadilah kesepakatan harga, dan diharuskan memberikan “uang panjar”[5] sebagai bukti keseriusannya dan agar tidak diambil orang lain sambil menanyakan kapan barang itu hendak diambil. Sampai kemudian transaksi yang sesungguhnya terjadi dengan harga yang sudah disepakati.[6]

            Lalu, perempuan itu segera diboyong dan ditempatkan di bawah bayang kuasa dan pengawasan sang suami. Tak ada penyangkalan atau bantahan.  Taat dan patuh adalah sebuah kewajiban yang harus dijalaninya. Jika tidak, mertua dan saudara serta masyarakatnya akan mengutuknya dan mencapnya sebagai “istri tak tahu diuntung”. Dan dengan ikhlas tanpa harapan apapun, mereka akan dan selalu menasihati: “sebejat dan sejahat apa-pun, dia adalah tetap suamimu yang harus dipatuhi dan ditaati ; pekerjaan apapun yang hendak kau lakukan, meskipun baik, jangan sampai suamimu tidak mengetahui dan tidak memberikan restu, jika tidak sia-sia dan tanpa pahala di mata Tuhan setiap kebaikan yang kau perbuat.[7]

Ya, dasar manusia selalu ada batasnya: dulu ayu sekarang layu. Mungkin, anda pernah merasakan masa itu, masa yang indah saat berkasih-kasihan. Ketika anda tak sengaja menginjak tangannya, anda bersujud-sujud memohon maghfirah dan rahmatnya. Tetapi ketika menjadi suami-istri, anda malah memaki-maki, bahkan menebarinya “gas” yang menyengat hidung. Begitulah keadaannya, “bunga” itu layu tak menebar aroma wangi, dan sang “kumbang” pun enggan untuk menghisapnya. Mungkin, jika suaminya berhati “kolektor”, masih ada tempat untuknya meskipun tidak seistimewa dulu karena sudah ada “barang”[8] lain yang jauh lebih gres dan mengasyikkan. Tapi, kalau ia sangat muak dan kesal, istri pertama itu segera dilempar dan dibuang[9]. Akhirnya, ia menjadi “barang bekas” dengan label dan trade mark baru alias janda. Beruntung kalau dia mendapatkan suami baru, kalau tidak, mungkin ia akan melemparkan tubuhnya untuk dinikmati bersama. Kasihan bukan!

            Lalu, pada siapa dia mengadukan persoalannya? Kepada ulama atau kyai? Mereka hanya akan menjawab bahwa apa yang dilakukan oleh suaminya sah sesuai dengan aturan hukum, kamu tidak bisa menolak, berdoa saja biar mendapat suami yang lebih baik.

            Tiba-tiba, aku terhentak dan terbangun dari lamunan, dan tanpa disadari meluncurlah kata-kata: “Manusiakah para ulama itu? Mereka halalkan “perkosaan” dengan legitimasi kitab suci. Mereka tandaskan bahwa ini haram atau halal karena mereka merasa sang pemilik otoritas dan wakil Tuhan”.  Tak seorangpun punya hak untuk menggugat, termasuk kyaiku yang sangat pandai itu. Ia juga harus patuh pada fatwa  gurunya dan menjadi kepanjangan lidahnya untuk menyampaikan “kebenaran”. Maka, ia pun akan menghardik setiap santri yang coba-coba mempertanyakan dan meragukan “kebenaran” itu.

            Tapi kawan, apakah memang kaum perempuan (baca: santriwati) senantiasa diperlakukan seperti itu tanpa pernah melawan? Lamunan dan kenyataan di atas hanya sekedar “visualisasi” perlakuan terhadap perempuan berdasarkan skenario kitab kuning. Akhirnya, apapun anggapan orang tentang mereka, mereka tetap manusia bukan batu: dicubit menjerit, dimadu meracuni. Mungkin, kisah tentang seorang istri anak kyai sepuh, yang juga kyai, yang dibesarkan dalam kitab kuning country, membantu mengenal bentuk perlawanan mereka. Mungkin ada, tapi apakah peristiwa ini dapat dianggap sebagai bentuk perlawanan? Konon, si suami suatu saat menemui sang ayah dan mengutarakan keinginannya agar dirinya memiliki kesamaan dalam hal apapun dengan sang ayah. Tak disangka, jawaban sang ayah adalah menginginkan ia menikah lagi. Jawaban sang ayah itu disampaikan kepada istrinya. Sontak saja sang istri menolak. Bentuk penolakannya tidak sekadar kata-kata, tapi dengan melepas kerudung setiap keluar rumah di komplek pesantren itu. Sesuatu yang tak pernah dilanggarnya selama ini. Dan aksinya ini cukup manjur, karena sang suami lebih memilih dan mengikuti keinginan istri dari pada menjalankan pesan sang ayah.

Pada akhirnya, aku berada dalam posisi gamang, manzilatun baina manzilatain. Di satu pihak, jutaan perempuan ditindas dan diperlakukan secara tidak manusiawi, tapi di sisi lain, berdiri angkuh tembok sang pemilik otoritas, kebenaran, dan keabsahan, menginjak-injak mereka. Dogma ulama begitu kuat menancap dalam kalbu dan menerorku setiap detik untuk tidak bermain-main serta menakutiku dengan neraka sebagai rumah kosku kelak. Apakah memang semua cendekiawan Islam, ulama atau kyai berpandangan minor dan miring terhadap perempuan?

            Tidak. Seandainya kaum kyai ini mau membuka mata dan telinganya untuk melihat dan mendengarkan gugatan kaum perempuan seperti Nawal Sadawi, Fatimah Mernissi, Binti Sathi’ atau pemikir lainnya yang serius mengkaji turast wal hadatsah (tradisi dan modernitas) seperti Abu Zayd, Hasan Hanafi, Mohammad Arkoun, Muhammad Abid al-Jabiry, mungkin akan sedikit mengubah cara pandangnya, dan mereka segera menyadari bahwa selama ini melakukan sakralisasi terhadap kitab kuning dengan menganggapnya sebagai teks primer menggeser posisi Alquran.

Coba simaklah apa yang pernah ditulis oleh Abu Zayd, pemikir Mesir yang bernasib buntung ketika harus berhadapan dengan otoritas ulama hanya karena hendak menunaikan hak akal untuk kreatif dan berimajinasi tanpa kekangan: dikafirkan, harus dicerai dari istrinya serta diusir ke luar negri. Kalau ia mau insyaf dengan kenakalan akalnya, lembaga keulamaan al-Azhar akan berbaik hati dan berkenan memaafkannya serta mencabut segala keputusannya.

            Katanya:

“Kita mesti membedakan dan memisahkan antara “agama” dan “pikiran keagamaan”. Karena agama merupakan himpunan teks-teks suci yang tetap secara historis ; sedangkan pemikiran keagamaan adalah ijtihad-ijitihad manusia untuk memahami, mentakwil dan mendapatkan pemaknaan dari teks tersebut. Wajarlah kemudian, ijtihad-ijtihad itu akan saling berbeda dari satu masa dengan masa lainnya, dari satu lingkungan –realitas sosial, historis dan geografis tertentu- dengan lingkungan lainnya dalam kerangka yang sama, dan ijtihad-ijihad itu pun akan beragam sesuai dengan tingkat kemampuan satu pemikir dengan pemikir lainnya dalam lingkungan tertentu”.[10]

 

            “Horee”, teriakku kegeriangan. Seakan-akan baru aku terima pancaran spirit baru. Ulama dan mujtahid empat mazhab dengan para pengikutnya yang telah menelurkan karya-karya “rumit” perlu dipertanyakan ulang mengenai representasi atau duta “Islam yang sesungguhnya”.  Mereka adalah seperti kita, bukan Tuhan. Istinbath yang mereka buat hanya sebatas pemikiran berlabel Islam, yang semua orang berhak melakukannya. Artinya, ketika Imam Syafi’i dikritik oleh Abu Zayd sebagai pembela etnisitas Quraisy bukan nashir Sunnah (pembela sunnah Nabi), ulama Azhar sewot dan mengganggap anak nakal satu ini telah mengkritik Islam. Seakan-akan Syafi’i dan Islam sudah ber-manunggaling kawula gusti sehingga mustahil untuk dipisahkan dan dibedakan. Sekali lagi, bedakan antara Qur’an dan tafsir Qur’an, Islam dan pemikiran Islam, Allah dan ilmu tentang Allah!!!

            Klaim kebenaran hanyalah retorika. Semuanya berada dalam lautan menafsir dan menakwil samudera “kebenaran” yang misterius, termasuk juga dalam persoalan perempuan. “Bangunan keperempuanan” sudah dilatari, ditembok, disemeni, dicat dengan pasir takwil, air dan semen tafsir, cat “kepentingan tertentu” . Dari kejauhan, bangunan itu tampak anggun dihiasi dengan ayat-ayat langit dan sabda-sabda “manusia suci dan paripurna”. Tapi, Imam Ali mengingatkan: “Alquran tidak berbicara, tetapi orang-oranglah yang berbicara”. Tergantung siapa yang punya power atau kuasa? Karena perempuan ibarat teks, dia diam dan bisu, maka kaum Adam, yang sebelumnya telah membunuh role and function-nya, mewarnai dunia mereka. Lihat saja kitab kuning, hampir semuanya dikarang oleh laki-laki dengan segala kepentingannya. Perempuan tidak pernah diberikan kesempatan untuk memandang, tapi selalu dipandang. Dan, hal inilah yang membuat Nawal Sadawi berteriak:

 

Seorang pemimpin keagamaan bukanlah Tuhan, dia adalah manusia, dan oleh karena itu dapat melakukan kesalahan. Merupakan keharusan bahwa kata-kata dan perbuatannya harus tunduk di bawah kontrol demokratis dan penilaian kritis masyarakat yang kehidupannya hendak dipengaruhi dan bahkan diarahkan olehnya. Dia mesti diawasi dan dinilai oleh laki-laki dan perempuan yang dipimpinnya.[11]

 

Walhasil, kawan, semoga kau tetap bersamaku, kita perlu fikih dan tafsir yang sesuai dan berdasarkan kepentingan dan pemikiran kaum perempuan sendiri. Fikih yang menampilkan wajah yang manusiawi; fikih yang mendahulukan prinsip mashlahah.  Tapi, adakah?

Tidak ada. Kalau para ulama hanya mengekor, taqlid, dan menyampaikan apa yang telah ditulis oleh para ulama terdahulu. Sekali lagi, tidak ada. Kalau para ulama hanya berhenti pada nash (teks) karya mereka, tidak berupaya melihat dan mempelajari siyaq al-nash (konteks)-nya serta relevansinya dengan kondisi kekinian (al-audho’ al-mu’ashirah). Dan, karena logika dan sikap ini dibalik (mafhum al-mukhalafah), maka lahirlah Fikih Perempuan yang ditulis oleh KH. Husein Muhammad, yang diharapkan oleh semua pihak, baik perempuan atau laki-laki. Syukron katsiran, ya ustadz!

            Rasanya, wacana baru yang ditawarkan oleh ustadz Husein dan ulama yang lain perlu diberi ruang yang seluas-luasnya untuk dijadikan arena yang terbuka dalam pemaparan masalah perempuan, tafadhol! Tentang batas aurat perempuan, misalnya, sebagian besar fuqaha sepakat bahwa batas aurat perempuan adalah seluruh badannya kecuali muka dan telapak tangan, selain madzhab Hanbali yang menganggap muka dan telapak tangan sebagi aurat yang wajib ditutup. Menurut kyai yang juga aktivis di LSM itu, semuanya mempunyai sederet dasar hukum dan illat. Dari hasil analisisnya, ia menyimpulkan bahwa teks-teks hukum tentang batas aurat tidak berdiri di ruang hampa tanpa realitas, tapi berdasarkan “keperluan” dan “menghindari kesulitan”. Jika kedua faktor ini disepakati sebagai penentu dalam menafsir teks-teks aurat, maka aurat bukanlah terminologi agama yang batas-batasnya ditentukan dengan teks-teks agama, tetapi terminologi sosial budaya yang sangat relatif yang bermakna kesopanan dan kewajaran yang memperhatikan aspek kemanusian dan menghindari eksploitasi terhadap perempuan (khauf al-fitnah)[12].

            Sebelum wassalam, saya ingin mengungkapkan unek-unek tentang agenda kerja kaum feminis di Indonesia. Tampaknya, kalau tidak salah tangkap, gerakan feminis lebih berorientasi kepada negara. Tidak masalah, tetapi gerakan ideologis-politis tidak akan pernah menguntungkan jutaan perempuan negeri ini, hanya menyuburkan beberapa perempuan saja. Rasanya: pengalaman wakil rakyat yang tidak pernah memperjuangkan rakyatnya, sedikit membenarkan hal di atas. Kalau ini terjadi, maka dapat mengakibatkan hilangnya kepercayaan dari perempuan kepada perempuan itu sendiri. Dar’ al-mafasid muqaddam ‘ala jalb al-mashalih (meninggalkan kerusakan didahulukan daripada mengambil maslahat). Fal aula ‘indi,  kita bersama-sama perempuan grass-root saling belajar dan melawan, memberdayakan potensi, serta menguatkan pondasi yang ada. Ya, lebih lama dan menuntut kesabaran. Lihatlah pohon kelapa di samping rumah, kalau tak ada cukup dibayangkan saja, mungkin orang yang menanamnya tidak ikut merasakan, tapi kita yang memetiknya. Idza mata bani hawa inqata’ ‘amalu illa bi tsalatsin: shadaqah al- hadharah, au ilmu al-tsaqafah yuntafa’ bih atu walad al-insaniyyah yad’u lah[13]  

 

 

Asep Mr,

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Khusnul Khotimah Bandung

 

 

 

 

 

 


[1] Para ulama berbeda pendapat tentang: apakah suara perempuan itu aurat atau bukan. Kalangan Hanafi berpandangan bahwa suara perempuan adalah aurat. Alasan mereka adalah sebuah Hadits tentang cara ma’mun mengingatkan sang imam yang alpa dalam rukun salat (takbir bagi kaum lelaki dan tepuk tangan bagi perempuan). Sedangkan kalangan Syafiiyyah dan yang lainnya tidak menganggap suara perempuan sebagai aurat kecuali dengan catatan. Seperti al-Alusi yang berpendapat bahwa suara perempuan bukan aurat dan tidak haram mendengarkannya kecuali khawatir menimbulkan fitnah. Muhammad Ali al-Shobuni, Rawa’ Al-Bayan Tafsir Ayat Al-Ahkam Min Al-Quran, (Kairo : Darul al-Fikr, tth), h. 166-167.

[2] Ketika perempuan menjadi wacana (discourse), maka pertanyaannya: bagaimana ia diproduksi, siapa yang memproduksi dan apa efeknya? Tentang hal ini, kita bisa belajar dari al-ustadz Michel Foucault tentang kuasa, pengetahuan, dan kebenaran. Foucault mengatakan bahwa kuasa tidak melulu dimiliki dan terkait dengan negara, juga individu, kyai misalnya, dan berlangsung di mana-mana. Menurutnya, di mana saja terdapat susunan, aturan-aturan, sistem-sistem regulasi, di mana saja ada manusia yang mempunyai hubungan tertentu satu sama lain dan dengan dunia, di situ kuasa sedang bekerja secara produktif dan positif melalui normalisasi dan regulasi. Bagi Foucault, kuasa akan memproduksi pengetahuan sebagai basisnya untuk kemudian menciptakan kebenaran. Dan jangan lupa, Foucault tidak memahami kebenaran sebagai sesuatu yang datang dari langit, bukan juga sebagai sebuah konsep yang abstrak, tapi ia diproduksi dan khalayak digiring untuk mengikuti kebenaran yang telah ditetapkan itu. Dalam tulisan ini, anda akan mendapatkan bagaimana kuasa kyai menentukan dan mendefinisikan perempuan: bagaimana menjadi al-mar’ah al-shalihah (istri yang soleh) menurut Alquran, Hadits, dan pendapat ulama baheula. Dari sini terbentuk apa yang disebut dengan struktur diskursif atau nalar yang menentukan, mengarahkan, dan membuat cara pandang, bertindak dan bersikap seseorang dalam kehidupannya. Misalnya, ayat “al-rijal qawwamuuna ‘ala al-nisa’” yang ditafsirkan: “bahwa laki-laki adalah pemimpin kaum perempuan”, ternyata ikut mensponsori para orang tua untuk tidak menyekolahkan anak perempuan sampai tingkat tinggi, karena “istana”nya adalah kamar dan dapur. Lihat K. Bertens, Filsafat Barat Abad XX, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1985), jld. II (Perancis), h. 487-489.   

[3] Hukum aqiqah adalah sunnat muakkad, yaitu sunnah yang mendekati wajib. Pelaksanaannya pada hari ketujuh bagi yang mampu; bagi yang tidak mampu, boleh meng-aqiqah-i dirinya kalau sudah dewasa. Fath al-Wahab, (Bandung : Ma’arif, tth), jilid II, h. 190. Adapun Haditsnya: dari Aisyah bahwa Rasulullah menyuruh para sahabat agar” menyembelih dua kambing yang cukup matang bagi anak laki-laki dan satu kambing bagi anak perempuan”. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: “Setiap anak tergadai karena aqiqahnya. (Kambing) disembelih pada hari ke tujuh kelahirannya, dipotong rambutnya dan dinamai”. Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Bulugh Al-Maram, (Beirut : Daar al-Fikr, tth), h. 248.

[4] Anda mungkin pernah mendengar lagu H. Rhoma Irama, “setiap keindahan yang tampak oleh mata, hanya istri salehah keindahan dunia”. Raja dangdut dan kyai di atas sama-sama merujuk sebuah Hadits: “Dunia ini merupakan perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah istri yang saleh”  Al-Targhib wa al-Tarhib, h. 81.    

[5]  Imam Nawawi Al-Bantani, Nihayah Al-Zein, (Syirkah Nur Asia), h. 299. Teksnya: ..”(dan) disunatkan (melihat setiap orang) dari laki-laki dan perempuan (kepada yang lainnya tanpa aurat) tanpa menyentuh apapun dari keduanya. Dan waktu melihat itu boleh dilakukan jika hendak menikahinya sebelum khitbah…”

[6] Khitbah atau lamaran ibarat lampu merah yang mengingatkan kaum laki-laki lain untuk tidak coba-coba mendekati calon istrinya, dan ini dilakukan sebelum akad nikah. Dalilnya adalah Hadits nabi: “Seseorang di antara kalian tidak boleh untuk meminang perempuan yang sudah dipinang saudaranya”.

Adapun mahar adalah sesuatu yang wajib diberikan, biasanya barang, oleh seorang suami untuk istrinya tapi tidak menjadi bagian dari rukun Nikah. Para ulama pun tidak menentukan jumlah dan besarnya mahar. Yang menarik, kalangan fuqaha sepakat bahwa kewajiban memberikan setengah mahar yang sudah disebutkan di saat akad nikah oleh istri yang pisah sebelum digauli kepada mantan suaminya. Lebih dahsyat lagi, masih menurut fuqaha, bahwa seorang istri yang pisah bukan karena talak atau sebelum digauli seperti menolak untuk masuk Islam, maka mahar yang sudah didapatinya harus segera dikembalikan; kalau belum, maka gugur kesepakatan mahar yang diucapkan di saat akad nikah. Merana sekali perempuan itu pastinya! Lihat DR. Wahbah al-Zuhali, Al-Fikih Al-Islamy Wa Adillatuh, (Beirut : Dar Al-Fikr, tth), juz VII, h. 251-315.

[7] Kesimpulan ini berdasarkan sebuah Hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasul bersabda: “Apabila seorang suami mengajak istrinya ke atas tempat tidur, kemudian istrinya menolak permintaannya; terus suami itu kesal semalaman, maka malaikat melaknatnya sampai pagi hari” (HR. Muttaqun Alaih), Bulugh Al-Maram, Op.Cit, h. 216. Dalam riwayat lain diceritakan bahwa Rasul bersabda: “Seorang istri tidak boleh berpuasa sunnah sedangkan suaminya ada kecuali dengan izinnya”,  Riyadh Al-Shalihin, h. 125.

[8] Persoalan poligami termasuk persoalan yang paling sensitif, dalam fikih disebut ta’addud al-zauj. Kalangan fuqaha sepakat bahwa laki-laki boleh memiliki empat istri. Kebolehan berpoligami in berdasar ayat Alquran: “Nikahlah kalian dengan istri-istri yang baik buat kalian, dua, tiga, dan atau empat. Kalau kalian tidak bisa bersikap adil, cukuplah satu” (QS. 3: ). Menurut Wahbah al-Zuhaily, kalangan ahlussunnah melarang seorang suami memperistri lebih dari empat dalam lindungannya serta dalam satu saat meskipun dalam iddah mutlak; kalau ia hendak memperistri yang kelima, ia harus mencerai dulu salah seorang istrinya, menunggu sampai masa iddahnya selesai, lalu menikah. Syariah membolehkan poligami dengan dua syarat: pertama, bersikap adil di antara istri-istrinya dan kedua bisa memberi nafkah semestinya. Ibid, h. 165-173.

[9] Karena lelaki bertindak sebagai aktor dalam pernikahan, maka  dia sendiri yang berhak menjadi aktor dalam perceraian (talaq). Talak dalam fikih merupakan sesuatu yang diperbolehkan tapi dibenci. Hal ini berdasarkan sebuah Hadits: “Barang halal yang paling dibenci oleh Allah adalah talak”. Lalu apakah perempuan boleh mentalak? Fikih memberi jalur yang disebutnya dengan khulu’. Yang disebut khulu adalah pengajuan gugatan cerai dari seorang istri terhadap suaminya karena beberapa alasan dan si istri diwajibkan membayar sesuatu (sebagai pengganti mahar) pada suaminya. Ibid. h. 348-508.

[10] Nashr Hamid Abu Zayd, Naqd Al-Khitab Al-Dieny, Cairo, h. 197.

[11] Issa J. Boullata, Dekonstruksi Tradisi Gelegar Pemikiran Arab-Islam, (terj.), (Yogyakarta : LKiS, 2001), h. 183.

[12] KH. Husein Muhammad, Fikih Perempuan, (Yogyakarta : LKiS, 2001), h. 51-64.

[13] “Jika anak Hawa meninggal, maka segala amalnya terputus kecuali tiga hal: sedekah peradaban yang mengalir, ilmu kebudayaan yang dimanfaatkan, atau anak kemanusiaan yang mendoakannya”


Beranda  |  Kategory: Edisi 02 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia