Feminisme Multikultural: Seperti Apa?

28 - May - 2002 | Manneke Budiman | No Comments »

Bukan hal yang mudah untuk membayangkan suatu titik temu antara gerakan feminis dan gerakan multikultural, kendati telah banyak diperlihatkan dalam berbagai bentuk dan forum bahwa keduanya bukan hanya selaras namun juga tidak berbeda satu dengan yang lain. Misalnya, karena feminisme secara konsisten senantiasa memperjuangkan kesetaraan gender, yakni posisi dan peran yang sama antara laki-laki dan perempuan yang tidak ditentukan oleh bias gender, sesungguhnya feminisme sedang mencoba membawa perubahan pada kultur patriarki yang monolitik dan, dengan demikian, merupakan komponen dari agenda multikultural yang marak di segala aspek.
Selain itu, meski pada awalnya feminisme dikritik keras karena ideologi pukul-ratanya yang menggeneralisasi begitu saja persoalan-persoalan perempuan secara semesta—tanpa melihat bahwa geografi, demografi, tingkat pengetahuan, serta perkembangan teknologi dan informasi telah membuat perempuan sendiri tidak monolitik—dalam perkembangannya menjadi semakin hirau terhadap adanya sejumlah kesenjangan antara, katakanlah, persoalan-persoalan perempuan di Barat dan di Dunia Ketiga. Ini juga merupakan isyarat penting bahwa gerakan feminisme semakin menampakkan semangat multikultural.
Akan tetapi, pada saat yang sama kita juga terus-menerus masih melihat hadirnya pemikiran-pemikiran yang konservatif, bahkan nyaris fasis, dalam gerakan feminisme hingga saat ini. Sebagian orang menilai bahwa isu pelecehan seksual merupakan produk mutakhir feminisme garis keras ini. Di satu pihak, dijadikannya ‘pelecehan seksual’ sebagai terminologi kunci perjuangan untuk melindungi perempuan di tempat kerja atau di tempat-tempat umum bisa dimaknai positif. Namun, di pihak lain, penggunaan isu ‘pelecehan seksual’ sebagai senjata ini juga dinilai “kebablasan”, sehingga yang terjadi kerap adalah pembungkaman terhadap ‘yang liyan’ (dengan l kecil. Baca: laki-laki). Wujudnya adalah seringnya laki-laki yang dihadapkan pada dakwaan pelecehan seksual ini telah mengalami penghakiman terlebih dahulu bahkan sebelum kasusnya menjadi benar-benar jelas. Apalagi bila kita mau melihat betapa masih kaburnya batas-batas makna istilah ‘pelecehan seksual’ itu sendiri, dan perdebatan akan hal itu masih perlu terus dilakukan dalam konteks wacana publik yang lebih luas daripada sekadar wacana feminis semata.
Apa yang cenderung terjadi adalah pengganyangan para tersangka, dan bukan ‘pendidikan’ untuk mengubah perilaku yang dicurigai seksis dan merupakan produk ideologi dominan masyarakat tempat para “tersangka” itu hidup. Tidak jarang, isu pelecehan seksual bahkan digunakan pula untuk kepentingan-kepentingan pencapaian karier dan popularitas oleh sejumlah kecil perempuan, yang lebih suka memanfaatkan feminisme untuk kepentingan yang sangat individual dan sama sekali tidak terkait dengan penguatan dan peningkatan perempuan secara umum.
Ini semua memperlihatkan gejala bahwa feminisme juga bisa menjadi anti-multikultural dan sangat esensialis dalam prinsip-prinsipnya. Padahal, esensialisme inilah yang giat ditentang oleh berbagai gerakan multikultural di segala bidang, dan feminisme sendiri sesungguhnya lahir dari penolakan terhadap esensialisme itu.  Dalam konteks inilah saya akan mendiskusikan sejumlah persoalan dan kontradiksi yang perlu disikapi oleh feminisme apabila ia ingin dapat terus berevolusi secara progresif dan menjadi semakin liberating dalam perjuangannya mengangkat perempuan ke kesetaraan.
Saya sengaja akan menggunakan pendekatan yang cukup kontroversial dan, mungkin saja, akan ditolak keras oleh sebagian pemikir dan praktisi feminis, yakni beberapa pemikiran tokoh yang juga dikenal kontroversial dalam feminisme, Camille Paglia. Ia berkali-kali dicap sebagai seorang tokoh anti-feminis karena gagasan-gagasannya yang memerahkan telinga dan berseberangan dengan arus utama feminisme, meskipun berkali-kali pula ia tegaskan bahwa justru dirinyalah seorang feminis tulen, dan bukan mereka yang selama ini menggembar-gemborkan diri sebagai pendekar feminisme.
Ada alasan mengapa tulisan ini mau mengambil risiko semacam itu. Salah satu kritik terhadap feminisme pula adalah kurang terbukanya para pemikir di bidang ini terhadap pandangan-pandangan yang “mengganjal” kemajuan agenda-agenda feminis. Sigmund Freud, misalnya, ditolak habis-habisan karena gagasan-gagasannya tentang seks dan perempuan yang cenderung deterministik, sekalipun kemudian gagasan-gagasan itu dipungut juga oleh beberapa pemikir progresif, seperti Luce Irigaray dan Julia Kristeva. Orang semacam Paglia justru mengundang perempuan untuk menggeluti Freud agar dapat memahami bahwa seks adalah sebuah medan tempur yang senantiasa menuntut kewaspadaan dan sikap awas. Seks, dengan kata lain, tidak dapat ditaklukkan begitu saja dengan perangkat-perangkat hukum yang khusus dirancang untuk melindungi perempuan dari “lawannya”, laki-laki, melainkan harus dikonfrontasi dan disiasati.
Paglia angkat bicara mengomentari sebuah kasus pelecehan seksual terkenal di Amerika Serikat, yang menyangkut Clarence Thomas, seorang calon hakim agung, dan Anita Hill, seorang pegawai bawahan Thomas, keduanya berkulit hitam. Kasus ini terjadi di awal tahun 1990-an, yang berakhir dengan tetap lolosnya Thomas di dalam dengar pendapat dengan Komisi Hukum Senat AS dan dinobatkannya Anita Hill oleh kelompok-kelompok feminis di AS sebagai seorang pahlawan feminisme karena kesaksian-kesaksiannya yang menyudutkan mantan atasannya itu.
Dengar pendapat Senat tersebut di mata Paglia tidak beda dari arena koloseum Romawi yang haus darah dan, baik Thomas maupun Hill sesungguhnya telah sama-sama menjadi korbannya. Ucapan-ucapan Thomas di tempat kerja yang banyak bernuansa seksual yang, menurut Hill, membuatnya tertekan itu, bukanlah persoalan gender bagi Paglia. Para agamawan yang konservatif pun juga menentang perbincangan-perbincangan tentang seks dan pornografi, sehingga menjadikan kasus Thomas dan Hill sebagai kasus pelecehan seksual adalah suatu kesalahan. Ini lebih merupakan persoalan tanggungjawab pribadi masing-masing orang dalam menentukan apa yang bisa dan tidak bisa diterima.
Bagi Paglia lagi, isu pelecehan seksual penting tidak hanya untuk menjadi peringatan bagi calon pelaku melainkan juga untuk membantu perempuan berdiri di atas kaki sendiri dan berkonfrontasi dengan isu tersebut. Tak kalah pentingnya, menurut Paglia, adalah perlindungan atas hak-hak orang yang didakwa melakukan pelecehan seksual karena demokrasi memang mensyaratkan itu. Pendirian yang agak nyeleneh ini dituangkan Paglia dalam bukunya, Sex, Art, and American Culture (Vintage, 1992), yang berisi kumpulan eseinya yang menantang dan merupakan sekuen kedua setelah buku pertamanya yang menggegerkan, Sexual Personae.
Hal yang menurutnya amat mengganggu pikirannya adalah bahwa isu pelecehan seksual di tempat kerja justru mengembalikan perempuan ke status tradisionalnya sebagai makhluk yang perlu dilindungi dari laki-laki. Di bawah persoalan tersebut, akar yang masih kuat tertancap adalah puritanisme Amerika yang suka melakukan pengganyangan seks. Paglia melihat bahwa kita tidak pernah bisa senantiasa diatur oleh kaidah-kaidah yang kaku agar hidup kita sepenuhnya menjadi terstruktur karena garis-garis pembatas antara ruang profesional dan ruang pribadi tidak pernah jelas. Ia menyayangkan Hill, seorang sarjana hukum lulusan Yale, yang tidak mampu menyatakan secara terbuka ketertekanannya di tempat kerja, meskipun ia telah bekerja di kehakiman selama sepuluh tahun. Bahwa ia kemudian memutuskan untuk bicara pada saat nominasi Thomas membuat isu pelecehan seksual itu menjadi sarat dengan bobot politis yang tujuannya adalah mengganyang orang lain untuk mencapai kepentingan sendiri.
Paglia juga bersuara tentang isu perkosaan, yang tak henti-hentinya marak diperdebatkan di kalangan feminisme Amerika. Dalam konteks inipun ia mempersalahkan kaum feminis Amerika yang, bukannya membantu perempuan menghadapi isu-isu penyerangan seksual seperti perkosaan, justru menempatkan perempuan dalam bahaya dengan cara menyembunyikan kebenaran tentang seks dari mereka. Singkat kata, perempuan semakin diyakinkan bahwa mereka hanyalah korban dari perkosaan. Padahal, feminisme telah berhasil mengobarkan perang terhadap perkosaan, sehingga isu itu kemudian memperoleh tanggapan yang sangat serius dari masyarakat.
Paglia sepakat penuh bahwa perkosaan adalah isu yang serius meski bukan barang baru. Pada masa lampau menjadi tugas seorang ayah dan para saudara laki-laki untuk melindungi seorang perempuan dari perkosaan. Namun, kini setelah ikatan keluarga menjadi longgar dan para perempuan meninggalkan rumah mereka untuk bersekolah atau bekerja jauh di tempat lain, para pendekar feminis tidak betul-betul membekali mereka untuk menghadapi situasi baru ini. Perempuan terus dicekoki gagasan bahwa mereka sama dengan laki-laki dan bebas melakukan apa saja, pergi ke mana saja, mengatakan apa saja, dan mengenakan apa saja. Paglia menentang hal ini dengan keras karena ia teguh pada pendiriannya bahwa perempuan selalu berada dalam bayang-bayang bahaya seksual.
Peperangan seks senantiasa terjadi di sepanjang sejarah manusia. Laki-laki bertarung untuk merebut jati dirinya dari kekuasaan ibu yang besar, harus menempuh risiko untuk menjadi laki-laki, dan hanya bisa menjadi maskulin ketika para laki-laki lain mengakui dirinya. Berhubungan seks dengan perempuan adalah salah satu cara memperoleh pengakuan ini. Perempuan baik-baik yang dibuat lugu oleh gagasan-gagasan para feminis dibuat tidak mampu menyadari sisi-sisi gelap tersebut, sehingga mereka tidak siap menghadapi perkosaan, terutama yang dilakukan oleh para laki-laki baik-baik yang mereka kenal (acquaintance rape).
Pandangan Paglia ini memang agak berorientasi biologis dan bertentangan dengan azas pemikiran feminis yang memandang hubungan laki-laki dan perempuan sebagai sesuatu yang landasannya adalah konstruksi sosial. Sebabnya, menurut Paglia, adalah bahwa agresi dan erotisisme saling terkait erat. Berburu dan memburu serta menaklukkan buruan adalah bagian dari seksualitas laki-laki dan, selama generasi demi generasi, terus diupayakan untuk dijinakkan dan dikendalikan agar tidak menjadi brutal dan anarkis. Namun, kecenderungan itu tidak dapat sepenuhnya dihilangkan oleh masyarakat dan segala normanya. Maskulinitas selamanya agresif, tidak stabil, dan mudah terbakar. Perempuan yang tidak memahami ini tidak akan dapat memahami perkosaan dan, oleh sebab itu, tidak akan dapat mempertahankan diri dari perkosaan.
Pemikiran ini sudah barang tentu membuat banyak orang merasa gerah. Akan tetapi, Paglia jelas tidak sedang berbicara membela kaum laki-laki atau membenarkan perkosaan. Ia sedang menggugat pandangan-pandangan kita tentang apa itu perkosaan dan mengapa ia terjadi. Para feminis militan yang terobsesi dengan political correctness dalam bahasa, dan para feminis akademis yang percaya bahwa pengetahuan dan pengalaman dibangun oleh bahasa, gagal memahami apa yang terjadi dalam komunikasi-komunikasi pra-verbal dan non-verbal dan bahwa seks terdapat di dalam serta melalui tubuh. Hasrat seksual, tambah Paglia, tidak pernah dapat sepenuhnya diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk verbal. Di mata Paglia, kesalahkaprahan inilah yang menjadi sumber kegagalan laki-laki dan perempuan untuk dapat saling memahami.
Belajar dari masa lalu adalah cara terbaik memahami perkosaan. Sejarah tidak pernah memperlihatkan adanya harmoni seksual. Setiap perempuan harus bertanggungjawab atas seksualitasnya sendiri, waspada dan berhati-hati ke mana pun dan bersama siapa pun ia pergi. Apabila terjadi sesuatu yang tidak beres, ia harus menerima konsekuensinya dan bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan serupa. Namun, lari ke figur “orangtua” (baca: negara dan aparatus-aparatusnya) atau mengguratkan nama-nama laki-laki tersangka pelaku perkosaan di dinding-dinding WC adalah suatu tindakan pengecut dan kekanak-kanakan. Satu-satunya solusi bagi perkosaan, di mata Paglia, adalah mawas diri dan pengendalian diri karena ujung tombak pertahanan perempuan yang utama adalah dirinya sendiri.
Pemikiran semacam ini lahir dari Paglia dalam konteks ketika date rape marak terjadi di kampus-kampus di Amerika, memaksa berbagai universitas membuat peraturan yang keras dalam hal kencan untuk melindungi para mahasiswi dari perkosaan yang dilakukan oleh teman kencannya. Universitas bukanlah gedung pengadilan dan para penyelenggaranya bukan bagian dari sistem peradilan yang dilengkapi dengan kekuatan hukum. Perempuan tidak pernah boleh terlena oleh mimpi adanya laki-laki ideal yang terpelajar, peka, mampu mengendalikan diri, dan koperatif. Feminisme yang perlu dipromosikan, demikian kata Paglia, adalah feminisme yang menekankan pada kemandirian dan tanggungjawab pribadi perempuan. Sayangnya, banyak perempuan muda masa kini yang cerdas dan ambisius namun tersesat oleh pemikiran-pemikiran feminis militan dan akademis, yang menghalalkan perempuan mereguk kebebasan namun mengharamkan mereka untuk menyadari risikonya.
Kasus Kennedy dan Tyson bisa menjadi ilustrasi yang baik untuk menjelaskan alur pikiran Paglia ini. Semua orang tahu reputasi keluarga Kennedy dalam hal seks dan kebrutalan Mike Tyson. Bahwa masih ada perempuan yang berani kembali di tengah malam buta ke kediaman William Kennedy Smith atau ke kamar hotel Tyson setelah pesta bubar adalah suatu kegilaan. Perkosaan pun terjadi dalam kedua kasus itu. Namun, siapa yang patut dipersalahkan di sini? Para pelaku perlu dihukum setimpal, namun kedua perempuan yang cukup bodoh untuk kembali ke “sarang musuh” dengan naif itupun juga harus bertanggungjawab. Dalam hal inilah Paglia secara khusus bertabrakan dengan para pemikir feminis Amerika lainnya karena baginya persoalannya sederhana saja: perempuan yang tidak siap mengambil risiko atau terlalu bodoh untuk menyadarinya sebaiknya tinggal di rumah.
Kasus Lorenna Bobbit yang terkenal, juga di tahun 1990-an, mungkin dapat dijadikan bandingan. Lorenna, seorang imigran dari Amerika Selatan yang menikahi Bobbit, mantan marinir yang menjadi tukang pukul sebuah klub malam, hidup dalam perkawinan yang tidak bahagia karena suaminya seorang yang bukan hanya ringan tangan namun juga brutal dalam hal hubungan seksual dengan istrinya. Lorenna tidak pergi ke polisi untuk melaporkan perlakuan suaminya atas dirinya karena ia tidak percaya hukum akan dapat melindunginya. Hal luar biasa yang dilakukannya adalah pada satu malam, ketika suaminya pulang dalam keadaan mabuk dan terlelap, ia memotong penis suaminya dan membuangnya ke semak-semak beberapa kilometer dari rumahnya, sementara si suami bergulat dengan kesakitan dan menghubungi polisi serta rumah sakit.
Lorenna menjadi pahlawan bagi para feminis pada saat itu karena ialah yang harus duduk di kursi terdakwa di pengadilan atas tuduhan penganiayaan. Di persidangan bahkan terungkap bahwa Bobbit yang veteran Perang Teluk itu sama sekali tidak mengerti arti foreplay dalam hubungan seksual. Seks baginya hanya penaklukan dan persoalan kalah dan menang, seperti di medan tempur. Tindakan Lorenna yang “main hakim sendiri” untuk mengakhiri kebrutalan suaminya, bagi mereka yang sepaham dengan Camille Paglia, adalah bentuk pertahanan diri yang efektif. Bobbit tetap hidup, namun dengan penis yang tidak pernah berfungsi penuh lagi seperti sedia kala, sekalipun dokter dapat menyambungkannya kembali. Sementara itu, Lorenna dibebaskan dengan syarat mengikuti terapi psikologis.
Inti pemikiran Paglia, apabila dapat disimpulkan, adalah bahwa perempuan harus menyadari bahwa seks adalah medan perang bagi laki-laki, dan belajar bertanggung jawab atas diri sendiri serta menerima risiko merupakan bentuk beladiri terbaik bagi perempuan dan hakikat utama feminisme. Perempuan tidak boleh bermimpi dapat menggunakan negara sebagai instrumen pemaksaan etika dan moral atas laki-laki, atau bermimpi mengubah dunia menjadi surga yang aman bagi perempuan. Ini adalah hal yang tidak akan terjadi, terutama dalam konteks hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Kita tentu saja tidak perlu bersetuju dengan semua gagasan tersebut. Paglia juga punya kelemahan. Ia banyak dikritik bahwa secara tidak langsung ia membenarkan perkosaan, dan bahwa gagasan-gagasannya sangat berorientasi biologis. Akan tetapi, pandangan-pandangannya yang alternatif itu dapat memperkaya kompleksitas pemikiran dalam gerakan feminisme, suatu praktik yang juga digalakkan dalam cara berpikir multikultural. Di dalam Paglia, ada kekayaan kontradiksi serta ambivalensi antara pemikiran-pemikiran yang esensialis dan yang libertarian. Pemikirannya tentang seks yang deterministik itu dipadukan dengan keyakinannya bahwa masyarakat yang ter-deseksualisasi yang diimpi-impikan feminisme hanya dapat dicapai lewat totalitarianisme dan bukan demokrasi, apalagi lewat multikulturalisme.
Feminisme harus dapat menjaga dirinya agar tidak menjadi suatu universalisme, seperti halnya Marxisme—yang justru menjadi penyebab utama kegagalannya dalam tataran praksis sekalipun mencapai sukses gemilang di tataran teoritis. Ini terutama apabila feminisme hendak terus dapat menjangkau para perempuan di luar sana, sekaligus menjangkau perbedaan (difference), sehingga perempuan tidak ditempatkan dalam konteks yang tidak hanya generalistik tetapi juga universalistik. Perempuan, objek sekaligus subjek feminisme (dengan segala kontradiksinya), bukan sebuah entitas yang monolitik melainkan spesifik-spesifik yang dibangun oleh pengalaman dan kesadaran yang berbeda-beda.
Oleh sebab itu, memandang perempuan dalam suatu universalisme bukan hanya berarti kembalinya esensialisme yang pada awalnya, dan masih hingga kini, digugat keras oleh feminisme tetapi juga warisan cara pandang yang imperialistik terhadap dunia. Sebaliknya, merayakan perbedaan semata dengan sama sekali menolak adanya (atau perlunya momen-momen universalistik) juga mengandung bahaya kembalinya esensialisme. Perempuan seakan-akan kemudian merupakan suatu entitas yang hanya bisa diakses oleh perempuan sendiri, dan ini justru melanggengkan garis-garis yang selama ini mensegregasikan perempuan dari laki-laki. Persoalannya lalu adalah: Adakah jalan tengahnya?
Jawabnya adalah ada dan sekaligus tidak ada, tergantung dari mana kita melihat persoalannya. Gayatri Spivak, dalam sebuah wawancara (dimuat dalam The Postcolonial Critic: Interviews, Strategies, Dialogues (Routledge, 1990)) menyatakan bahwa pilihan yang perlu dibuat ketika kita dihadapkan pada suatu kemustahilan untuk menentukan posisi seperti ini hanyalah kembali pada suatu esensialisme namun yang sifatnya strategis lebih daripada permanen. Strategic essentialism ini bermanfaat karena sebagai sebuah –isme, feminisme tidak bisa tidak harus memperjuangkan semua perempuan di mana pun juga mereka berada, lepas dari batas-batas geografis, etnis, dan kelas. Feminisme tidak bisa elitis namun juga tidak mungkin sub-alternitas belaka. Ini adalah sebuah momen yang universalistik, kalau boleh dikatakan demikian. Pada saat yang sama, feminisme juga harus mampu mengenali serta mengkritisi batas-batas esensialisme itu sendiri dan memanfaatkannya sejauh mungkin.
Spivak menggunakan terminologi strategic essentialism ini untuk menjelaskan posisinya sendiri sebagai seorang feminis akademis yang berasal dari Dunia ketiga namun berkiprah di Barat dan berbicara dalam “bahasa” yang Liyan. Posisi yang serba salah dan mustahil tersebut bagaimanapun juga perlu bisa disiasati agar, pertama, subaltern dapat bersuara dan, kedua, yang tak kalah pentingnya juga, suara tersebut didengar oleh yang Liyan (baca: Barat). Apabila hal ini tidak ditempuh, dikhawatirkan gerakan feminis di belahan Timur dunia hanya akan mengulangi kesalahan yang pernah dibuat counterpart-nya di Barat: Sibuk bercakap-cakap tentang dirinya sendiri sembari merasa seolah-olah telah berbicara tentang semua perempuan.
Apakah kemudian kita dapat dengan aman mengatakan bahwa strategic essentialism ini akan mampu mengantarkan feminisme ke dalam suatu dialog dengan, dan bila mungkin menjadi suatu bagian dari, gerakan multikultural? Hanya praktik di lapangan yang bisa menjawabnya dengan meyakinkan. Bagaimana posisi yang problematik namun perlu diambil itu dapat diterjemahkan dari tataran teoretis murni, sebagaimana ditelurkan Spivak, ke dalam suatu praktik yang menguatkan dan membebaskan itulah yang akan menentukan progres perjuangan kaum feminis.
Kembali ke Paglia, berbagai pemikiran yang dikemukakannya dan yang berseberangan dengan posisi feminisme mainstream tampaknya perlu dicoba dipahami dalam konteks tersebut. Pada tataran diskursif, gagasan-gagasan Paglia bisa terdengar mengerikan, tetapi pada tataran realitas Paglia barangkali telah berjasa membuka mata perempuan akan medan yang sedang mereka masuki: sebuah medan perang. Ia juga mungkin lebih berhasil membekali kaum perempuan dengan kesadaran akan kenyataan yang tidak indah dihadapan mereka dan, oleh karena itu, perempuan perlu mempersiapkan diri untuk berperang dan mempertahankan diri. Bagaimanapun juga, pada akhirnya nasib perempuan ada di tangan mereka sendiri, dan bukan terutama ditentukan oleh campur tangan negara atau bentuk-bentuk kekuasaan lainnya.
Dalam konteks multikulturalisme, kemungkinan-kemungkinan yang ditawarkan Paglia barangkali juga mampu membantu feminisme terhindar dari perangkap political correctness yang cenderung beroperasi atas dasar sensor dan pencekalan, serta berpotensi menjadi fasis. Adalah suatu pemandangan yang ironis ketika pada suatu hari di pertengahan tahun 1990-an para feminis akademis dan garis keras berkumpul di University of Chicago dan dalam sebuah ruangan tertutup menyobek-nyobek serta memberangus berbagai material yang dikategorikan porno (termasuk buku Madonna yang laku keras, Sex). Sementara itu, di luar gerbang, para pekerja seks komersial perempuan berdemonstrasi menuntut agar mereka dibiarkan mengurusi tubuh mereka sendiri.
Adalah juga suatu ironi yang lain ketika, setelah melalui suatu perjuangan panjang yang melelahkan, para pelobi feminis di Kanada akhirnya berhasil mendesak pemerintah meloloskan sebuah undang-undang anti pornografi untuk mencekal berbagai material porno yang diperdagangkan secara bebas di Kanada. Namun, yang kemudian terjadi adalah berbagai material erotika kaum lesbian pun turut diberangus pada saat undang-undang tersebut mulai dilaksanakan.
Feminisme akan dan perlu selalu mengandung kontradiksi internal karena ia harus bertempur baik di medan ideologis/teoretis maupun di medan politis/praksis, tetapi feminisme juga perlu selalu awas untuk tidak menjadi ironis seperti kedua ilustrasi di atas. Keharusan untuk mampu beroperasi secara efektif di kedua jenis medan yang berbeda itu sendiri sudah merupakan potensi multikultural yang luar biasa. Demikian pula, kemampuannya untuk secara kritis berkontradiksi dengan dirinya sendiri tanpa menjadi konyol akibat dosis universalisme dan utopianisme yang berlebihan  dapat lebih jauh lagi membawa feminisme ke dalam pertemuan yang semakin solid dengan multikulturalisme.

Manneke Budiman, Pengajar Sastra UI Jakarta


Beranda  |  Kategory: Edisi 01 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia