Mozaik Perempuan Asia: Dari Perlawanan Menuju Norma

28 - May - 2002 | Saifur ER | No Comments »

Istri sangat penting bagi kita

Menyapu pekarangan,

Memasak di dapur

Mencuci di sumur

Mengirim rantang ke sawah

Dan ngeroki kita kalau masuk angin

Ia menjadi sama pentingnya dengan kerbau, luku, sawah, dan pohon kelapa

Ia selalu memelihara anak-anak kita dengan

Bersungguh-sungguh seperti kia memelihara

Ayam, itik, kambing atau jagung1

Barangkali kutipan di atas mewakili suara laki-laki di Asia tentang peran dan fungsi  perempuan. Perempuan itu penting untuk laki-laki sejauh perempuan itu menjalankan kewajiban-kewajiban rumah tangga; menyapu halaman rumah, memasak di dapur, mencuci pakaian, dan mempersiapkan makan. Dengan kata lain, peranan perempuan di dalam hubungannya dengan laki-laki adalah sebagai pendamping suami. Posisi perempuan yang menjadi subordinat dari laki-laki semakin tampak pada pandangan Darmanto tentang fungsi perempuan. Perempuan disamakan dengan kerbau, luku, sawah, dan pohon kelapa. Inventarisasi aspek-aspek yang dipergunakan untuk menjabarkan perempuan itu sebenarnya merupakan unsur-unsur pelengkap dari posisi laki-laki. Artinya, kerbau,  sawah, pohon kelapa, itik, kambing, dan jagung merupakan unsur-unsur  yang bisa ada secara bersamaan atau salah satu saja sebagai bagian dari kehidupan laki-laki dalam mencari nafkah. Pendeknya, fungsi perempuan adalah sebagai pelengkap dan peranan perempuan berada pada titik subordinat (penyerta).

Anggapan demikian semakin mengukuhkan pernyataan Trinh T. Minh dalam Woman, Native, Other2  yang membahas tentang masalah perempuan di dunia ketiga. Menurutnya, suara perempuan Asia ibaratnya berdentang di ruang hampa, sehingga dia menyerukan agar perempuan Asia bangkit. Mengingat fungsi dan peranan perempuan di Asia berada pada titik di sisi laki-laki, maka menurutnya, “survival is not academic skill. It is learning how to take or difference and make the strength”.3  Sehingga Minh sampai pada simpulan bahwa “I shall loudly assert  my right, as a women, and exemplarity one, to have acces to equal opportunity; on the other hand, I shall quietly maintain my priveleges by helping the master perpetuate his cycle of oppresssion”.4  Perbedaan perempuan dan laki-laki itu memang membuat perempuan Asia berposisi sebagai pelengkap, akan tetapi itu bisa dijadikan sebagai kekuatan. Dia bisa mengambil haknya sebagai seorang perempuan sekaligus mampu menjalankan apa yang dapat selama ini dijalankan oleh laki-laki.

Mengenai perbedaan yang menjadi akar lemahnya perempuan dapat diperoleh gambarannya secara lebih jelas dalam disertasi Soenarjati Djajanegara, “Citra Wanita dalam Lima Novel Terbaik Sinclair Lewis dan GerakanWanita di Amerika”.5  Dia membahas secara mimetik citra wanita pada masa 1920-an. Pada bab VI, Djajanegara memerikan perbedaan itu perilaku maskulin dan feminin. Tidak kurang dari 15 perilaku feminin dan maskulin terdapat di dalamnya. Pada intinya perilaku feminin didominasi oleh sikap pasif, lemah, tidak tahan sakit, tidak agresif, tidak berdaya saing, orientasi ke dalam, orientasi antar orang, empati, suka mengurus, intuitif, mudah menyerah, dan emosional. Adapun perilaku maskulin adalah lawan dari perilaku yang  telah dijabarkan  di atas.

Dengan kerangka pikir bahwa ada perbedaan laki-laki dan perempuan di Asia, maka bagaimana perempuan Asia menyikapi keadaan tersebut? Apakah dengan melihat perbedaan yang dijadikan sebagai akar permasalahan itu kemudian melakuan usaha eksplisitasi atas semangat “mengambil hak perempuan dan menyamakan kedudukan dengan laki-laki”?

Jawaban dari pertanyaan itu dapat dilihat dari dua karya yang berasal dari Asia. Masing-masing memiliki judul yang sama, yakni istri. Pertama, Isteri karangan Darmanto Jatman yang diasumsikan memiliki pandangan konservatif dan kedua, Istri karangan Bharati Mukherjee dari India sebagai bahan kajian yang diasumsikan menentang konservatisme.

Isteri Darmanto:

Hadiah Norma dari Laki-laki untuk Istri

Istri milik Darmanto adalah sebuah puisi. Kendati sebuah puisi, namun ucapan verbalnya tidak sulit dipahami, dalam arti bahwa arti kata-katanya jelas. Barangkali akan sedikit menemui kesulitan ketika metafora yang digunakan mengacu pada teks atau konteks lain. Misalnya metafora suami-istri mengacu pada dunia pewayangan, dalam hal ini ditokohkan dengan Arjuna dan Sembadra, atau Arimbi dan Dima, dan Dewi Sri. Akan halnya ungkapan Jawa yang begitu lekat di dalam tuturannya barangkali bisa menyulitkan pembaca yang bukan (atau setidaknya yang tidak mengerti) Jawa.

Pada dasarnya ia menceritakan tentang peranan istri di dalam kehidupan laki-laki. Pada paragraf pertama dia menulis: “Istri mesti digemateni, ia sumber berkah dan rizki”. Fungsi dan peranan istri tampak nyata pada saat laki-laki mulai melupakannya. Ada alasan mengapa harus digemateni (Bhs. Jawa = dirawat). Pertama,  istri memainkan peranan penting dalam rumah tangga, yakni menyapu halaman, memasakkan suami di dapur, mencucikan pakaian, menyiapkan makanan, dan menolong kita sewaktu sakit. Kedua, istri merupakan teman hidup. Pada peristiwa-peristiwa tertentu, istri merupakan pendamping suami. Sehingga, Darmanto menandaskan:

Ia sisihan kita

Kalau kita pergi kondangan

Ia tetimbangan kita

Kalau kita jual palawija

Ia teman belakang kita

Kalau kita lapar dan mau makan

Ia sigaraning nyawa kita

Kalau kita

Ia sakti kita!

Ah! Lihatlah ia menjadi sama penting dengan kerbau, luku, sawah dan pohon kelapa6

Ketiga, istri juga sangat menentukan kehidupan laki-laki secara tidak langsung. Dia mengibaratkan istri: “Seperti lidah ia di mulut kita, tidak terasa/seperti jantung di dada kita, tak teraba”. Berdasarkan alasan itu maka Darmanto berkata:

Hormatilah istrimu

Seperti kau menghormati Dewi Sri

Sumber hidupmu

Makanlah

Karena memang demikian suratannya7

Laki-laki haruslah (1) menghormati istri seperti lelaki menghormati  Dewi Sri. Dewi Sri adalah Dewi kesuburan di Jawa yang biasa dilambangkan untuk tumbuhnya padi. Sehingga Darmanto menambahkan keterangan bagi Dewi Sri dengan “sumber hidupmu”. Kecuali menghormati istri, laki-laki juga menurut Darmanto berhak (2) memakannya karena takdir memang menyuratkan demikian. Arti makan secara harfiah adalah memasukkan barang  ke mulut dengan harapan perut menjadi kenyang. Dalam konteks ini, kata “makan” mengandung arti menikmati adanya istri di dalam rumah, menikmati kejelitaannya “seperti Sembadra bagi Arjuna, makin jelita ia di antara maru-marunya.”

Istri Mukherjee:

Hadiah Norma yang Tak Menyenangkan

Istri8  karya Mukherjee ini  berbentuk novel. Ceritanya berlatar belakang India dan  Amerika. Diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Wife pada 1975 kemudian di Indonesia pada 2001, 26 tahun setelahnya.

Secara garis besar, novel Istri menceritakan tentang seorang perempuan namanya Dimple Dasgupta, yang tengah menanti jodoh seorang laki-laki yang dicintai, tetapi pada saat yang sama penantian itu diselingi oleh perasaan ragu-ragu karena ia merasa rendah diri. Mukanya kelihatan buruk. Dalam foto kelihatan selalu menunduk dan tanpa senyum. Padahal, dia berangan-angan, bila sudah lulus dia berharap mendapatkan jodoh seorang yang tampan dan berkecukupan.

Orang tuanya berusaha mencarikan seorang suami melalui biro iklan. Sampai suatu hari, orang tuanya menemukan seorang laki-laki kaya tetapi berperawakan tidak menarik. Hal menarik bagi orang tua Dimple adalah bahwa laki-laki itu memiliki pekerjaan yang tetap dan sebentar lagi hendak bermigrasi ke luar negeri. Siapa yang menjadi istrinya akan ikut serta, tak terkecuali Dimple. Mereka memilihkan untuknya dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Suatu hari ia hamil, tetapi Dimple tidak menginginkannya. Dengan segala cara, ia berusaha menggugurkan kandungan dan berhasil.

Suaminya, bernama Amit tentu saja bersedih tetapi tidak bisa berbuat apa-apa sampai kemudian waktu bermigrasi tiba. Suami-istri ini pindah ke Amerika dan di sana ia mengalami suka-duka sebagai istri. Rasanya, apa yang diidam-idamkan dulu tidak pernah terwujud; seorang suami  yang tampan, penuh pengertian, dan selalu memberi perhatian. Amit adalah seorang laki-laki yang ingin diladeni semua keperluannya; segala bentuk tingkah laku Dimple di rumah harus memenuhi aturan dan keputusan suaminya.

Sampai suatu ketika, saat dia pindah rumah pertama kali sejak dia tiba di Amerika, ia  berkenalan dengan seorang laki-laki bernama Milt Glasser. Dimple jatuh cinta, demikian juga Milt. Dia hampir saja melakukan perselingkuhan kalau tidak ada pertimbangan-pertimbangan yang bersifat normatif. Perbuatan ini akan disimpan di dalam hatinya sampai  kapan pun. Ia hanya ingin tahu bahwa Dimple pernah mengalami masa-masa indah suatu kali bersama Milt. Di samping bahwa ia sudah bersuami dan harus menjalankan tugas seperti istri yang lainnya di dunia ini.

Di dalam ringkasan tergambar bagaimana ketidakpuasan Dimple terhadap suaminya. Ketidakpuasan itu karena (1) suaminya dicarikan lewat biro iklan, yang bagaimanapun juga tidak membebaskan diri Dimple untuk memilih pria; (2) suaminya berperawakan tidak menarik, yakni gemuk dan pendek; apalagi di dalam rumah tangga, menjadi alasan  (3) suaminya selalu mengatur sampai yang kecil-kecil apa yang dilakukan Dimple.

Aturan bagi Dimple itu demikian ketatnya seperti yang terlihat dalam kutipan berikut ini:

Kompor minyak tanah berbahaya, tetapi tungku listrik juga sama berbahayanya jika kepalamu sampai tertangkap dalam oven. Cara ini juga tertera di daftar Dimple (cetak miring dari penulis). Ia tak dapat menahan pikirnya bahwa Amit membongkar detil bunuh dirinya. Tapi mengapa lelaki itu mengabaikan bunuh diri dan terus saja membaca koran?

“Aturan nomor satu,” teriakan Amit dari ruang tamu ketika Dimple hampir selesai dengan bawangnya dan mulai merajang delapan siung bawang putih. “Dilarang pakai apa pun kecuali sari katun waktu memasak. Serat sintetis sangat berbahaya”9

Perhatikan kalimat “cara ini juga tertera di daftar Dimple”, itu menyiratkan bahwa memang terdapat sederet peraturan yang harus ditaati Dimple dalam menjalankan tugas rumah tangga. Dalam kutipan itu jelas, aturan tidak memakai kompor minyak tanah dan tidak menggunakan sintesis sewaktu di dapur. Dan kejengkelan itu bertumpuk-tumpuk karena terus-menerus menaati semua aturan, di samping memang sesungguhnya tidak mencintai.

Mencermati novel ini, terdapat dua cara perlawanan yang dilakukan oleh Dimple. Pertama secara langsung, yakni melakukan upaya mengatakan terus-terang kepada Amit, suaminya. Ia berkata bahwa dirinya kurang diperhatikan dibanding koran yang dibaca sehari-hari. Tetapi pernyataan itu dibantah oleh suaminya, bukannya bermaksud mengubah perilaku yang dikritik Dimple. Merasa tidak puas, dia mempunyai cara lain untuk membalas:

Penuh benci, hasrat untuk menyakiti, kendatipun tanpa bobot, hampir-hampir mengambang. Dagunya menghujam dalam ke lubang itu, begitu dalam sampai Amit menggeliat dalam tidur. Dalam kebengisan yang menurutnya tidak pantas untuk statusnya sebagai istri. Dimple berkata, “Aku akan memakai sari sintetis kalau aku meng-inginkannya! Aku akan memakai barang terkutuk macam apa pun yang kumaui, persetan!”10

Di sini tampak Dimple mengejek suaminya yang sedang tidur sambil berkata dengan kerasnya. Perkataan itu bersinonim dengan usahanya membangkang segala aturan yang diterapkan Amit. Dimple ingin lepas dari aturan-aturan yang dirasa sangat mengikat itu.

Pembalasan yang dilakukan dengan cara yang kedua, yakni secara langsung adalah dengan menjalin hubungan gelap dengan Milt Glasser. Sebenarnya ia ingin merengkuh dua hal: membalas sakit hatinya kepada Amit dengan mengkhianati cintanya dan kerinduan akan seorang laki-laki idaman. Milt adalah laki-laki idaman, tetapi pekerjaannya yang merupakan juru taksir mengakibatkan Dimple urung untuk melakukan tindak perselingkungan. Di akhir cerita dia masih ragu mengungkapkan perselingkuhan

Dimple bertanya-tanya apakah saat ini saat yang tepat untuk memberi tahu Amit bahwa dia merangsang Milt dengan enteng seperti halnya para istri dalam opera-opera sabun, menjalani kehidupan ganda dan menghampiri akhir yang buruk11

Keraguan itu tidak tertuntaskan pada akhir cerita. Hanya Dimple digambarkan ada keinginan kuat untuk membalas sakit hatinya tidak hanya berselingkuh tetapi membunuhnya. Kendati begitu sejak awal pembalasan-pembalasan yang dilakukan oleh Dimple tidak pernah secara frontal di hadapan suaminya atau lebih banyak terlihat diam-diam. Masalahnya, sebagai perempuan Asia, dia mengetahui peran istri sehingga bisa menentukan apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Misalnya ketika ia mengejek-ejek suaminya yang sedang tidur. Ketika Dimple menyakiti tubuh Amit dengan menekan dagunya sekeras mungkin, dia pada saat yang sama menyadari “dalam kebengisan yang menurutnya tidak pantas untuk statusnya sebagai istri”. Ada nilai “tidak pantas” yang masih mengendap di dalam dirinya ketika dia hendak melakukan pemberontakan.

Begitulah, sebuah lanscap perempuan Asia disusun dengan patahan-patahan kata Bharati dan Darmanto. Darmanto menantang keangkuhan gerakan feminisme Asia, yang merupakan turunan dari feminisme Eropa; betapa laki-laki dalam menentukan nilai-nilai telah dianggap sebagai sebuah hadiah kecil yang menyenangkan bagi perempuan. Sementara itu, adanya kesadaran sebuah bingkisan dari lelaki, Mukherjee mau tak mau harus mengakui mesti mengakui bingkisan itu dengan terpaksa atau dengan senang hati haruslah diterimanya. Sampai-sampai, kendati sebenarnya tidak sudi, perlawanan itu menjadi sesuatu yang sia-sia, yang tanpa makna.

Usaha pemberontakan kaum istri kepada suaminya –dalam konteks perlawanan perempuan di Asia— yang menetapkan aturan itu, seperti ditampilkan dalam Istri, akhirnya tidak berarti banyak karena masih dalam taraf mengejek dari belakang, yang kami menyebutnya dengan perlawanan “mengejek”. Sang Istri tidak berani secara frontal karena masih terkekang oleh norma yang mengatakan pantas dan tidak pantas  untuk perilaku istri.

Jadi, apa yang dikehendaki perempuan Asia mengenai adanya perbedaan laki-laki dan perempuan, kemudian dengan perbedaan itu  perempuan harus “mengambil hak perempuan dan menyamakan kedudukan dengan laki-laki”, belum juga dapat benar-benar terbukti. Nyata bahwa norma masih memegang peranan penting dalam mengatur hubungan suami-istri di Asia.

Saifur ER, pemerhati buku


Beranda  |  Kategory: Edisi 01 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia