Perempuan dalam Timangan Tradisi

28 - May - 2002 | Kusnadi | No Comments »

Berdasarkan fakta-fakta antropologis, aktivitas perempuan dalam seni tradisi merupakan gejala umum yang terjadi dalam berbagai bentuk masyarakat tradisional. Seni tradisi diartikan sebagai seni (kesenian) yang dimiliki bersama oleh suatu komunitas atau masyarakat yang diwariskannya dari generasi ke generasi. Masyarakat tradisional dimaknai sebagai komunitas yang masih memegang teguh nilai dan tradisi lokal sebagai referensi kehidupan kolektif. Umumnya, komunitas ini berada di daerah pedesaan dan pedalaman. Basis sosial ekonomi mereka adalah pertanian dan atau perladangan, karenanya disebut sebagai masyarakat agraris.

Dalam masyarakat seperti itu, keberadaan seni tradisi mencerminkan nilai budaya yang mereka miliki. Sebagai salah satu unsur atau hasil  budaya, seni tradisi memiliki fungsi integrasi sosial untuk menjaga keutuhan para pendukungnya dan fungsi estetika untuk memenuhi kebutuhan mereka akan keindahan dan hiburan. Fungsi-fungsi ini sangat terasa pada masyarakat tradisional yang memiliki tingkat homogenitas sosial yang tinggi dan belum banyak terimbas oleh perubahan sosial budaya atau modernisasi. Akan tetapi, bentuk-bentuk masyarakat demikian semakin bergeser sejalan dengan semakin luasnya rembesan modernisasi yang membawa konsekuensi serius di bidang sosial, ekonomi, dan budaya dalam kehidupan mereka.

Masyarakat Osing di Kabupaten Banyuwangi dikenal luas sebagai suatu masyarakat tradisional yang memiliki kekayaan seni tradisi. Salah satu seni tradisi itu adalah seblang. Kesenian seblang di Olehsari, kecamatan  Glagah, merupakan satu-satunya jenis “kesenian sakral” di Banyuwangi atau (barangkali juga) di Jawa Timur. Syarat-syarat kultural pementasannya sangat ketat  karena untuk kepentingan  ritual yang sakral. Dalam pementasan kesenian ini, kaum perempuan mengambil peranan yang cukup besar, khususnya dalam menyiapkan kebutuhan selamatan dan sesaji ritual. Peranan ini lebih bermakna simbolik dalam kaitannya dengan tujuan pementasan seblang.

Sebagai sebuah seni tradisi, seblang berhadapan dengan proses perubahan sosial yang kini sedang berlangsung di lingkungannya. Dampak perubahan ini akan membawa implikasi-implikasi sosial budaya terhadap kelangsungan hidup kesenian seblang. Tulisan ini akan mengidentifikasi implikasi-implikasi tersebut dan kemampuan adaptasi masyarakat Osing sebagai pendukung kesenian seblang dalam menyikapi perubahan-perubahan sosial budaya yang  terjadi.

Komunitas Osing

Komunitas Osing (wong Osing) dikenal sebagai penduduk asli pa-ling awal  Banyuwangi (Blambangan) yang kenyataannya sekarang lebih merupakan subkultur. Jumlahnya diperkirakan sekitar separo dari jumlah total penduduk Kabupaten ini yang pada tahun 1998 mencapai 1.451.787 jiwa. Komunitas ini menyebar di desa-desa pertanian subur yang berada di bagian tengah dan timur kabupaten di ujung timur pulau Jawa ini. Komunitas lain yang populasinya di bawah komunitas Osing adalah komunitas Jawa (wong kulonan) yang mendiami desa-desa pertanian bagian selatan,  Madura (wong Meduro) yang menempati daerah perkebunan di wilayah barat dan daerah perladangan di bagian utara Kabupaten Banyuwangi. Mereka juga ditemukan di beberapa kawasan  pesisir Banyuwangi dan pusat-pusat perekonomian lokal, seperti Muncar. Komunitas lain yang jumlahnya lebih kecil, seperti Bugis, Mandar, Bali, dan Melayu juga ditemukan di kota Banyuwangi dan desa pesisir yang lain. Dalam laporan etnografi maupun sejarah lokal, mereka diidentifikasi sebagai penduduk pendatang.

Heterogenitas penduduk itu merupakan konsekuensi dari posisi  Banyuwangi sebagai kota bandar maritim sejak masa lalu dan dibukanya perkebunan-perkebunan komersial oleh Pemerintah Belanda  di bagian barat yang berbatasan dengan Kabupaten Jember. Terlepas dari implikasi-implikasi lain, kemajemukan tersebut merupakan kekayaan sosial dan kultural Banyuwangi yang bukan mustahil justru menjadi faktor sangat penting bagi perkembangan di berbagai bidang kehidupan masyarakatnya.

Dari sudut komposisi penduduk, komunitas Osing lebih dominan (dominance society) dibandingkan dengan komunitas lain. Penetrasi unsur-unsur budayanya, seperti seni suara (lagu-lagu Banyuwangen) hampir merata bukan saja di Banyuwangi bahkan juga di wilayah timur Jawa Timur (Probolinggo hingga Banyuwangi). Sebagai suatu kelompok etnik (etnic group), komunitas Osing diikat oleh identitas budaya yang sama. Salah satu identitas yang paling mudah untuk menandai keberadaan mereka adalah (penggunaan) bahasa lokal, yang disebut basa Osing atau basa Banyuwangen. Meski dalam perspektif linguistik  basa Osing dipandang sebagai salah satu dialek/variasi regional bahasa Jawa, tetapi komunitas Osing tetap mempertahankan bahwa bahasa mereka adalah bahasa tersendiri dan bukan bagian dari bahasa Jawa.

Dengan pengalamannya yang cukup panjang, komunitas Osing juga mampu menyikapi berbagai hal yang datang dari luar. Sejumlah ahli Osing menyatakan bahwa komunitas Osing bersikap terbuka, adaptif, dan kreatif terhadap unsur kebudayaan lain.1  Hal ini terlihat dalam sikap mereka ketika  berhadapan dengan berbagai kebudayaan asing seperti Portugis, Belanda, Inggris, dan Arab di masa kolonial atau masa sebelumnya ketika penyebaran agama Islam terjadi. Semua itu telah membentuk corak budaya egaliter dalam kehidupan masyarakat Osing. Mereka juga memiliki kemampuan yang baik untuk mengolah interaksi unsur-unsur budaya yang ada sehingga menghasilkan produk budaya yang baru.

Sebagai komunitas lokal, Osing memperlihatkan kemampuannya yang tinggi dalam mengapresiasi seni tradisi. Sikap apresiatif itu terbentuk karena faktor historis (pusat pemerintahan Kerajaan Blambangan), kondisi geografis (kawasan pertanian)  yang subur, dan letak geografis “antara” yang menempatkan daerah Banyuwangi ke dalam “posisi peralihan” antara kebudayaan Jawa dan Bali. Dua kebudayaan yang selalu berebut pengaruh dalam sejarah sosial  masyarakat Osing melalui berbagai cara, termasuk penaklukan politik oleh kerajaan-kerajaan tradisional di kedua wilayah tersebut. Integrasi kedua kebudayaan sangat terasa pada bentuk dan substansi seni tradisi yang tumbuh di Banyuwangi.

Peranan Kultural

Berdasarkan uraian di atas, jika dibandingkan dengan masyarakat lain di Jawa Timur, komunitas Osing memiliki jumlah seni tradisi yang lebih banyak dan beragam. Gandrung, Janger, Mocoan, Kuntulan, dan Angklung adalah sebagian dari kesenian tradisi yang berkembang di kalangan komunitas Osing. Tetapi Gandrung adalah kesenian Osing yang paling populer (merakyat) dibanding dengan kesenian-kesenian lainnya.

Asal-usul kesenian gandrung tidak dapat dipisahkan dari seni tradisi seblang, sebuah kesenian yang sarat ritual dan  terlokalisasi hanya di dua desa, yakni desa Bakungan dan desa Olehsari, dua desa yang terletak di sebelah barat (pinggiran) Kota Banyuwangi.2  Pada masa lalu, seblang menjadi seni pertunjukan yang merakyat dalam kehidupan masyarakat Osing. Ia bisa ditanggap atau diundang untuk dipentaskan, umumnya untuk melunasi nazar atau kaul.  Kesenian yang bersandar pada penari kesurupan (trance) ini berpentas setiap saat, dari desa ke desa.3

Kini, di kedua desa tersebut, pentas seblang dilakukan setahun sekali untuk kepentingan bersih desa dan upacara kesuburan. Di kedua desa, makhluk-makhluk halus yang dipercaya oleh penduduk setempat sebagai cikal-bakal desa/para leluhur atau penunggu (sing mbaurekso) desa/tempat-tempat tertentu mengambil peranan yang penting dalam pementasan kesenian seblang, seperti penentuan penari seblang di desa Olehsari. “Keputusan” makhluk-makhluk halus memilih seorang penari seblang dikomunikasikan kepada masyarakat setempat melalui seseorang yang sedang mengalami kesurupan. Pementasan ini pun mencerminkan bersatunya kekuatan-kekuatan mikrokosmos (masyarakat) dengan kekuatan makrokosmos (jagad raya, termasuk dunia makhluk halus di alam gaib) untuk menciptakan kembali keselarasan hidup dan kesejahteraan sosial dalam hubungan peranan yang bersifat timbal-balik.

Di desa Olehsari dan Bakungan serta desa-desa di sekitarnya, ditemukan beberapa kuburan keramat dari orang-orang yang dimuliakan (punden), yang diyakini masyarakat Osing setempat sebagai cikal-bakal desa mereka. Cerita-cerita gaib tentang kuburan tersebut dapat dengan mudah diperoleh dari masyarakat. Salah satu cerita gaib tersebut adalah bahwa makam-makam itu dijaga oleh seekor harimau. Dalam konteks kepercayaan tradisional di Indonesia dan Asia Tenggara pada umumnya, makam keramat yang dijaga oleh seekor harimau gaib merupakan makam cikal-bakal desa (berkelamin) laki-laki. Ia adalah orang yang pertama kali membuka hutan di daerah tersebut (mbabat alas) untuk dihuni dirinya dan anak-cucu keturunannya kelak.

Berdasarkan kepercayaan di atas,  agar dalam membuka hutan yang masih perawan dan berbahaya (alas gung liwang-liwung, jalma moro, jalma mati) itu bisa berlangsung dengan aman, tidak merenggut korban jiwa, biasanya cikal-bakal tersebut memiliki kemampuan ilmu gaib (kesaktian) yang bisa menjadikan dirinya sebagai harimau jadi-jadian (macan daden-daden). Harimau inilah yang akan mengusir harimau yang sesungguhnya (macan alas) atau binatang buas lainnya, sehingga tidak mengganggu kegiatan penebangan hutan.4  Ketika ia meninggal, kekuatan kesaktian itu ditampakkan kepada anak-cucunya dalam rupa binatang gaib berwujud harimau yang biasanya terlihat lalu-lalang atau duduk di dekat sekitar makam.

Pentas seblang harus dipahami sebagai upaya bersama antara cikal-bakal dengan anak-cucunya untuk meneguhkan identitas seketurunan, menghormati leluhur, dan menjaga keselamatan anak-cucu.5  Kegiatan selamatan yang menyertai pentas seblang  dan kegiatan pementasannya merupakan bentuk duniawi yang bisa diberikan anak-cucu untuk menghormati para leluhurnya. Sementara itu, para leluhur mem-berikan jaminan kesuburan tanah dan keamanan desa dari berbagai bencana alam atau penyakit agar anak-cucu mereka bisa dengan tenang menjalani kehidupan dunia. Pementasan seblang adalah refleksi hubungan timbal-balik dan penyatuan jiwa antara para leluhur dengan anak-cucu keturunannya. Kepercayaan tradisional memang memberikan tempat pemikiran bahwa para leluhur yang dianggap memiliki kesaktian itu masih bisa mempengaruhi jalan kehidupan anak-cucunya di dunia. Pentas seblang memiliki makna religiusitas yang dalam untuk menciptakan kebersamaan sosial di kalangan anak-cucu para leluhur.

Baik seblang, maupun kesenian tradisi lainnya yang tumbuh dan berkembang di daerah pedesaan merupakan unsur terpenting dari kebudayaan agraris yang berbasis pada kegiatan pertanian atau perladangan. Dalam kebudayaan petani, nilai-nilai mistis dan religius merupakan pusat orientasi kehidupan yang paling utama. Berbagai gerak tarian dan nyanyian melambangkan ungkapan-ungkapan religius yang terkait dengan kepentingan kehidupan petani, seperti datangnya kesuburan, kesejahteraan sosial, ketenangan hidup, dan keselarasan sosial, bebas dari berbagai macam penyakit,  intrik, dan konflik sosial. Kedekatan hubungan dengan alam (dunia makrokosmos) sangatlah erat, sehingga perubahan-perubahan apa pun yang terjadi dalam kegiatan pertanian akan mempengaruhi persepsi dan perilaku sosial masyarakat  petani.

Karena itu, dalam banyak kasus pementasan seni tradisi di kalangan petani, di antaranya berkaitan erat dengan mitologi kesuburan. Dalam mitologi ini, Dewi Sri  sangat dihormati masyarakat petani. Penghormatan itu dilakukan, misalnya dengan melarang anak-anak petani membuang sebutir padi atau nasi secara sembarangan, karena diyakini akan membuat Dewi Sri marah atau menangis. Sepiring nasi yang dimakan tidak boleh disisakan, jadi harus habis dan piring bersih dari butiran-butiran nasi. Ungkapan ini mencerminkan perhatian yang serius terhadap harapan-harapan yang diinginkan masyarakat ketika melaksanakan upacara atau pentas seni tradisi. Harapan yang telah terwujud itu (panen padi dengan baik dan keluarga-keluarga petani bisa menikmatinya) tidak boleh disia-siakan.

Keterlibatan kaum perempuan yang cukup dominan dalam kegiatan upacara  desa atau pementasan seni tradisi, khususnya seblang, secara simbolik sangat terkait dengan mitos-mitos kesuburan tersebut.6  Dalam struktur kosmologis masyarakat-masyarakat primitif, perempuan disimbolisasikan sebagai kekayaan bumi, sehingga disebut sebagai “dewa bumi”. Perempuan dianalogikan dengan tanah, rumah, dan kesuburan.7  Substansi dari simbolisasi ini masih terwariskan pada sebagian masyarakat kita. Dalam sejarah peradaban manusia, makhluk yang sangat berjasa mengembangkan kegiatan budi daya tanaman-tanaman pertanian adalah kaum perempuan.

Struktur sosial masyarakat agraris memberikan tempat yang layak bagi perempuan untuk menjalankan fungsi-fungsi kemasyarakatan. Keberadaan perempuan dalam pementasan seni tradisi misalnya merupakan upaya kultural menjalankan salah satu fungsi kemasyarakatan. Mereka menjalankan peranan kultural itu tidak dalam paksaan sosial. Peranan kultural diterimanya dengan rasa ikhlas dan bertanggung jawab. Dalam pementasan seblang di Olehsari misalnya, keputusan penetapan penari seblang sepenuhnya didasarkan pada pertimbangan kultural. Para penari, pembuat sesaji dan omprok (mahkota seblang), pesinden, pawang, dan penabuh gamelan masih saling berkerabat.

Mereka  menempati bagian-bagian tertentu dalam sistem kekerabatan yang kompleks dari masyarakat setempat. Peranan-peranan yang dimainkan oleh mereka adalah peranan kultural. Tidak ada bayangan dalam pikiran mereka untuk mencari penghasilan dari pementasan seni tradisi. Kaum laki-laki tetap sebagai petani dan kaum perempuannya ikut membantu pekerjaan-pekerjaan tertentu di dalam kegiatan  pertanian, seperti menanam padi, menyiangi, dan memanennya. Secara umum, sistem pembagian kerja secara seksual (sistem gender) pada masyarakat setempat  bersifat umum, yakni kaum laki-laki bertanggung jawab atas pekerjaan-pekerjaan publik, sedangkan para perempuannya mendominasi pekerjaan-pekerjaan domestik.8  Sekalipun demikian, dalam kebudayaan Osing, kaum perempuan memiliki peranan dominan dalam menetapkan pengambilan keputusan-keputusan rumah tangga.

Perubahan Sosial

Perubahan sosial diartikan sebagai perubahan dalam kedudukan dan peranan-peranan sosial dari individu-individu atau kelompok-kelompok dalam struktur suatu masyarakat. Perubahan kedudukan dan peranan-peranan sosial itu berimplikasi luas terhadap persepsi kebudayaan masyarakat atas kondisi yang berkembang di lingkungannya. Karena itu, perubahan sosial selalu diikuti dengan perubahan kebudayaan. Perubahan demikian mencerminkan bahwa pada dasarnya tidak ada masyarakat yang statis. Suatu masyarakat akan tumbuh, berkembang, dan berubah, sehingga akan terjadi hilangnya nilai-nilai budaya lama dan tumbuhnya nilai-nilai baru yang menjadi referensi perilaku masyarakat. Peristiwa seperti ini merupakan sesuatu hal yang biasa dan wajar dalam perkembangan kebudayaan.

Secara umum perubahan sosial di Kabupaten Banyuwangi mulai berlangsung secara intensif sejak dibukanya perkebunan-perkebunan komersial Belanda di sebelah barat Banyuwangi, seperti di kecamatan Kalibaru dan Glenmore pada abad ke-19. Pada akhir abad ke-19, sarana dan prasarana ekonomi, seperti jaringan jalan raya dan jalur kereta api mulai dibangun. Pembangunan jaringan perhubungan antardaerah ini sebagai upaya memacu kegiatan ekonomi pemerintah kolonial. Mobilitas barang, uang, jasa, dan manusia semakin meningkat dan berakibat luas terhadap perkembangan masyarakat Banyuwangi dalam segala aspek kehidupannya, khususnya di daerah-daerah pedalaman.

Dalam masa setelah merdeka, perubahan sosial budaya semakin meningkat seiring dengan kegiatan pembangunan nasional di berbagai bidang kehidupan. Perubahan-perubahan penting yang terjadi adalah berlangsungnya secara intensif diversifikasi pekerjaan masyarakat. Pembangunan di sektor pertanian yang mensyarat-kan padat modal dan teknologi (green revolution) telah mendorong petani-petani berlahan sempit menjual lahan pertanian mereka karena beban biaya produksi yang tidak mampu dijangkaunya. Konsentrasi pemilikan lahan-lahan persawahan di pedesaan Banyuwangi pada sebagian kecil warga masyarakat terus berlangsung. Kecenderungan ini mengurangi secara substansial jumlah petani. Sementara itu, penghasilan di sektor pertanian cukup kecil sehingga tidak menarik minat kerja masyarakat. Mereka yang terlempar dari sektor pertanian berupaya memasuki sektor-sektor pekerjaan lain, seperti beragam jasa dan perdagangan.

Kedua sektor di atas juga sangat diminati oleh generasi muda, sekalipun mereka harus bermigrasi ke kota-kota besar di Jawa, Bali, dan menjadi tenaga kerja kasar di luar negeri. Gejala ini menjadikan sektor pertanian bukan lagi sebagai  gantungan hidup yang paling utama bagi masyarakat. Padahal, tergerusnya basis sosial-ekonomi (basis material) masyarakat di sektor pertanian akan mempengaruhi apresiasi mereka terhadap eksistensi seni tradisi. Sebagaimana dikatakan di atas, kehadiran seni tradisi merupakan fenomena masyarakat agraris dan terkait erat dengan kebudayaan petani yang bersifat mistis-religius. Jika basis sosial-ekonomi masyarakat petani sudah bergeser, bukankah hal ini akan mempengaruhi kerapuhan akar keberadaan dan kelangsungan hidup seni tradisi?

Oleh sebab itu, perubahan mendasar dalam basis sosial-ekonomi masyarakat agraris, proses kapitalisasi pedesaan (penetrasi kapitalisme), dan beragamnya produk kesenian modern yang dihasilkan berkat kemajuan teknologi  telah mendorong perubahan pada basis budaya masyarakat, yang kemudian menimbulkan komersialisasi seni tradisi, yang  berlanjut pada marginalisasi dan pemunahan seni tradisi tersebut. Proses-proses sosial-budaya ini bisa menjadi kerangka berpikir untuk memahami kepunahan kesenian seblang yang bisa ditanggap masyarakat pada masa lalu, gandrung lanang, dan semakin lesunya eksistensi kesenian tradisi dewasa ini dalam kehidupan masyarakat Banyuwangi.

Peranan kultural yang dimainkan oleh para seniman dalam kegiatan seni tradisi itu mulai tergantikan oleh peranan instrumental, yakni menjadikan kesenian sebagai sarana mendapatkan keuntungan ekonomi. Pentas seni tradisi adalah sama dengan menjual jasa hiburan (estetika). Seni tradisi adalah sama dengan komoditas pasar. Dalam konteks demikian, seni tradisi  dan para senimannya menjadi terkooptasi oleh pasar. Kesadaran kultural bergeser menjadi kesadaran instrumental.

Ketika seni tradisi menjadi objek ideologi pasar, eksploitatif yang bersifat sistemik terhadap seni tradisi (dan para senimannya) tengah berlangsung. Kaum perempuan pun tidak lagi secara bebas dan utuh (total) memainkan peranan kultural dalam kehidupan masyarakat.9  Kita tidak dapat menyalahkan mereka karena kekuatan pasar itu sangat besar dibandingkan dengan daya tolak masyarakat. Biasanya, kemenangan pasar ini dianalogikan dengan kemenangan maskulinitas atas feminitas. Kerangka ini yang sekarang menjebak kaum perempuan yang bergiat dalam kesenian tradisi.

Penutup: Masa Depan Seblang

Dalam perspektif pemikiran perubahan sosial-budaya di atas, masa depan kelangsungan hidup seni tradisi seblang di Olehsari bisa diprediksikan. Yang pertama-tama harus dipahami terlebih dahulu adalah mengidentifikasi faktor-faktor perubahan sosial yang berdampak secara signifikan terhadap basis sosial-ekonomi masyarakat Osing di Olehsari. Kedua, memahami seberapa besar perubahan pada tataran basis material tersebut berpengaruh terhadap basis budaya masyarakat, termasuk di dalamnya tentang persepsi atau cara pandang masyarakat terhadap keberadaan kesenian seblang

Secara umum, masalah perubahan sosial di Kabupaten Banyuwangi sudah dipaparkan di atas. Dibandingkan dengan kawasan lain di Banyuwangi, masyarakat di desa Olehsari dan desa-desa di sekitarnya memiliki kemampuan yang baik dalam mempertahankan kebudayaan tradisional mereka.10  Sampai paruh pertama tahun 1990-an, keberadaan kepercayaan lokal yang berpusat orientasi pada kuburan-kuburan keramat desa dan tradisi-tradisi lokal lainnya di desa-desa sebelah barat Kota Banyuwangi ini masih sangat kuat. Tradisi-tradisi budaya dan kepercayaan lokal dengan Islam sebagai “agama formal” masyarakat menyatu di dalam sinkretisme.11

Faktor yang penting ikut menyumbang pemertahanan tradisi budaya di atas adalah karena desa-desa tersebut berada dalam kawasan yang “terisolasi”. Artinya, desa-desa yang berada di kecamatan Glagah tersebut tidak berada di jalur lalu-lintas sosial ekonomi yang intensif. Hal ini berbeda dengan desa-desa Osing yang lain, seperti di kecamatan Kabat, Rogojampi, Genteng, Gambiran, Singojuruh, Srono, dan Cluring. Homogenitas masyarakat, pekerjaan, dan kebudayaan Osing di Olehsari masih terjaga, sedangkan kristalisasi heterogenitas sosial dan diversifikasi pekerjaan sedang berproses.

Sekalipun demikian, perluasan kawasan kota Banyuwangi ke arah barat, pembangunan jalur baru kereta api yang melintasi kawasan ini pada akhir tahun 70-an, dan perbaikan prasarana ekonomi (jalan raya) telah meningkatkan kegiatan perekonomian lokal dan mobilitas sosial masyarakat setempat. Kawasan kecamatan Glagah sedang bergerak ke arah “kotanisasi pedesaan”, mengikuti arus perkembangan Kota Banyuwangi. Pencarian pekerjaan lain di luar sektor pertanian (off-farming) sangat dimungkinkan. Gejala demikian sedang berkembang akhir-akhir ini di kawasan tersebut.

Jika kecenderungan di atas  semakin mengkristal pada masa-masa mendatang, sektor pertanian yang menjadi basis kegiatan sosial-ekonomi masyarakat Osing di Olehsari juga akan tergeser. Ketika heterogenitas pekerjaan tercipta secara seimbang atau sektor-sektor pekerjaan lainnya sudah mendominasi pekerjaan di sektor pertanian, ancaman terhadap kelangsungan seni tradisi seblang adalah suatu keniscayaan yang bakal terjadi. Kelangsungan eksistensi kesenian tersebut sangat ditentukan oleh masih bertahannya basis sosial-ekonomi masyarakat yang berpusat di sektor pertanian atau masih kokohnya keberadaan masyarakat petani dan kebudayaan yang mereka miliki. Perubahan kebudayaan merupakan sesuatu hal yang tidak bisa dihindari.

Di samping hal-hal di atas adalah dampak penetrasi kebijakan pariwisata daerah. Promosi wisata telah meningkatkan perhatian masyarakat luas untuk menyaksikan pertunjukan kesenian ini. Kesenian seblang merupakan salah satu objek wisata daerah. Intervensi birokrasi terhadap kesenian seblang cukup kuat. Sebagai contoh adalah pentas seblang pada tahun 1993. Pada saat itu, melalui mediasi Bu Sutrinah yang sedang kesurupan (Minggu, 28 Maret 1993, pukul 20.47) makhluk-makhluk halus meminta agar yang menjadi penari seblang adalah gadis yang bernama Winarni. Karena dipengaruhi kekasihnya, Winarni  tidak bersedia dan menurut kepercayaan lokal, penolakan terhadap kehendak makhluk halus bisa berakibat buruk terhadap keselamatan dirinya. Akhirnya, makhluk-makhluk halus memilih gadis Lasiyani, murid sekolah dasar. Menurut kepala desa setempat, yang ketepatan hadir dalam pertemuan “negosiasi kultural” tersebut, Lasiyani masih terlalu kecil dan bisa kepayahan karena harus menari selama tujuh hari. Di samping itu, karena Lasiyani belum tumbuh sebagai gadis yang menarik perhatian publik, dikhawatirkan bisa mengurangi daya tarik masyarakat dan mengganggu kegiatan pariwisata. Akhirnya, kepala desa mengajukan Salwati, gadis yang sedang menginjak usia dewasa sebagai penari seblang dan para makhluk halus pun menyetujui usulan kepala desa ini (karena tidak ada pilihan yang lain lagi), asalkan pada pentas seblang tahun 1994, Lasiyani sudah bisa ditampilkan. Intervensi  kepala desa tersebut menggambarkan pertarungan kepentingan antara kuasa politik (negara) dan pasar dengan tradisi lokal.

Salwati, sudah tiga kali menjadi penari seblang, yaitu pada pentas tahun 1990, 1991, dan 1992. Menurut tradisi lokal, setelah tiga kali pentas, Salwati tidak dapat diperpanjang lagi “tugas kulturalnya” itu dan harus diganti oleh gadis yang lain. Yang menarik dalam menyikapi tugas menjadi penari seblang lagi pada tahun 1993 adalah bahwa keluarga Salwati sebenarnya sangat keberatan. Mereka khawatir terhadap timbulnya persepsi masyarakat lokal terhadap keluarga Salwati bahwa kesediaan menjadi penari seblang untuk yang keempat kalinya itu ditafsiri sebagai upaya  mencari keuntungan material (uang) semata. Dari pementasan seblang memang diperoleh sumbangan-sumbangan uang secara suka rela dari para penonton yang kelak akan diberikan pada penari seblang. Jumlahnya tidak seberapa, tetapi mungkin dipandang besar oleh masyarakat setempat. Persepsi demikian mencerminkan bahwa penetrasi pasar dan penghargaan terhadap “uang” mulai berkembang. “Uang” menjadi norma penilaian terhadap suatu perilaku sosial. Dalam hal ini, kegiatan pariwisata daerah akan lebih mempercepat proses kapitalisasi pedesaan, perubahan sosial, dan mendorong komersialisasi seni tradisi, sehingga menjadi kekuatan pemisah antara kesenian seblang dengan akar kulturalnya.

Aspek eksternal lainnya yang diperkirakan dapat mengganggu kelangsungan hidup kesenian seblang adalah dakwah pemurnian ajaran agama Islam. Di Olehsari ada sedikit penduduk yang menganut paham keagamaan Islam modernis, yang disponsori oleh seorang guru agama sekolah dasar. Sekalipun minoritas, paham keagamaan ini dapat menggusur keberadaan kesenian seblang dengan alasan-alasan “tidak sesuai dengan ajaran Islam”. Secara umum, paham keagamaan ini tidak memiliki keakraban dengan seni tradisi, apalagi seni tradisi yang dianggap sarat dengan dunia mistik, seperti seblang. Disadari atau tidak, paham keagamaan ini telah “berjasa besar” dalam menggusur atau mematikan eksistensi seni tradisi, kepercayaan lokal, dan tradisi-tradisi kecil (little traditions) dari masyarakat petani.

Sebagai seni tradisi, seblang  merupakan kesenian yang tertutup (closed art). Artinya, kesenian ini tidak dapat melibatkan orang lain yang tidak berada dalam jaringan kekerabatan yang kompleks dengan para seniman seblang, khususnya bagi penari seblang. Proses regenerasi seblang tidak mudah dilakukan karena ketatnya persyaratan-persyaratan kultural yang harus dipenuhi, sesuai dengan keinginan makhluk-makhluk halus setempat. Kemacetan pada aspek regenerasi dan inovasi kesenian seblang merupakan salah satu ancaman yang bisa menggusur kelangsungan  hidup kesenian ini.

Pada dasarnya, keteguhan masyarakat memegang kepercayaan dan tradisi-tradisi lokal tidak dapat dijamin berlangsung dalam masa yang lama. Masyarakat memiliki kreativitas dan kemampuan beradaptasi terhadap proses-proses sosial yang berlangsung di lingkungannya. Dari sisi ini, masyarakat Osing memiliki pengalaman budaya yang kaya. Faktor-faktor yang telah diuraikan di atas merupakan gejala konkret yang bisa mengancam kelangsungan hidup kesenian seblang. Pada sisi lain, masyarakat masih sangat percaya bahwa pementasan seblang memberikan berkah untuk kehidupan mereka. Mereka mengungkapkan bahwa ketika pementasan seblang berhenti pada masa pendudukan Jepang, bencana pertanian dan penyakit melanda desa Olehsari. Kepercayaan ini merupakan modal budaya (cultural capital) untuk menjaga eksistensi kesenian seblang  dan menyikapi dampak negatif dari perubahan sosial yang demikian deras.

Dengan memperhatikan potensi kreativitas budaya yang dimiliki oleh masyarakat Osing, niscaya akan terjadi dialog dan negosiasi budaya untuk “menjinakkan” faktor-faktor krusial yang bisa mengancam kelestarian kesenian seblang. Hasil dialog dan negosiasi itu akan berupa persepsi-persepsi budaya yang baru terhadap kesenian seblang. Ada kemungkinan lain bahwa kesenian seblang akan mengalami adaptasi bentuk dan pergeseran substansinya. Kalau saja, perkembangan terburuk akan menimpa kesenian ini, yakni harus mati ditelan zaman dan masyarakat gagal memperoleh bentuk kesenian yang baru,  pada saat itulah peranan kultural yang dimainkan oleh kaum perempuan dalam kesenian seblang untuk memperoleh kesejahteraan dan kemakmuran kehidupan bagi  masyarakatnya  telah berakhir. Suatu perubahan sosial yang sia-sia jika dipandang dari perspektif antropologis.

Kusnadi, antropolog dan peneliti pada Center for Society and Culture Studies (CSCS),  Fakultas Sastra Universitas Jember, Jawa Timur.

KEPUSTAKAAN

Beaty, Andrew . 2001. Variasi Agama di Jawa: Suatu Pendekatan Antropologi. Jakarta: Rajagrafindo Persada.
Geertz, Hildred. 1981. Aneka Budaya dan Komunitas di Indonesia. Jakarta: Pulsar.
Kusnadi. 1991. “Osing: Sosok Budaya Orang Pinggiran” dalam Buletin Sastra 1 (01), Juli, hal. 55-61.

_____.1992.   “Carok dan Mitos Perempuan Madura” dalam Buletin Sastra 1 (01),                        Juli, hal. 7-15.

_____.1993. Simbolisme Tari Seblang. Jember: Pusat Penelitian, Universitas Jember.

_____.2001    Pangamba’ Kaum Perempuan Fenomenal: Pelopor dan Penggerak Perekonomian Masyarakat Nelayan. Bandung: Humaniora Utama Press.

Prinantyo, Adi. 2001  “Wisata Rumah Adat Using di Banyuwangi Terbengkalai: Dibangun dengan Biaya Rp 4 Milyar”, dalam Kompas, 21 Desember, hal. D (Rubrik Jawa Timur).


Beranda  |  Kategory: Edisi 01 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia