Perempuan Ngesti Pandhawa: Jangan Dikira Kami Lemah

28 - May - 2002 | Tim Srinthil | No Comments »

Siter mengalun pelan ditingkahi slender dan gender. Irama yang demikian ritmik pada tukikan irama pertama terdengar bunyi gong yang membahana di seluruh ruangan. Tidak berapa lama berselang, layar yang berwarna kuning keemasan terangkat perlahan-lahan, sampai kemudian panggung terlihat penuh.

Di antara irama gending, berdiri tegak seorang penari dengan dandanan bercorak merah lengkap dengan pernik-pernik keemasan siap membuka pertunjukan. Di kepalanya, untuk  menyempurnakan rambutnya yang rapuh terurai, ia menggunakan mahkota yang gemerlap  terutama ketika tertimpa lampu panggung yang  berputar-putar. Ia pun segera menari; gerak tubuh yang lemah gemulai, gerak kaki yang lincah, dan bola mata yang berbinar. Itulah awal pembuka sebuah pergelaran wayang orang Ngesti Pandhawa.

Perempuan penari Ngesti Pandhawa adalah sebuah kegairahan. Betapa tidak. Tarian itu kadang  berjalan lebih dari seperempat jam. Sejak mula sampai paripurna, tarian itu tetap dengan kaki lincah ibarat batang padi yang tertiup angin ke kanan dan ke kiri. Bayangkan kalau tidak didukung stamina bagus dan kemampuan yang mumpuni, rasanya  ungkapan selamat datang tidak seperti yang diharapkan.

Menurut pengamatan SRINTHIL, selama satu bulan berturut-turut pada Januari 2002, ungkapan selamat datang kebanyakan melalui seorang perempuan penari. Menurut Sulimah, perempuan paruh baya yang mengajak kelima anaknya menonton, membenarkan penga-matan tersebut. “Saya tidak pernah menonton laki-laki penari yang tampil pertama kali  selama bertahun-tahun menonton Ngesti,” tutur perempuan  yang tinggal di kawasan Lamper Sari, Semarang. Ditambahkan, menampilkan perempuan untuk menari pem-bukaan terasa lebih pas ketimbang penari laki-laki. Tetapi lain lagi menurut Cicuk, pimpinan harian  Ngesti Pandhawa. “Tidak selalu perempuan yang tampil di muka. Kadang-kadang kami juga menam-pilkan laki-laki penari sebagai pembuka,” tutur lelaki subur ini.

Ungkapan pembuka itu sendiri, menurutnya, tidak harus dianggap sebagai peristiwa yang utama. Sebab selama ini muncul anggapan bahwa tokoh pembuka sebuah pertunjukan adalah yang pa-ling penting. Menurutnya, perempuan  tidak selalu menjadi unggulan dalam dunia tontonan. Masalahnya, tutur lelaki yang tinggal dengan keluarga di kawasan Arya Mukti ini, perempuan penari ini nyata harus belajar banyak kepada sutradara yang notabene adalah seorang laki-laki.“Jadi secara kasar kalau Ngesti mau menampilkan yang terbaik adalah menampilkan laki-laki, karena memang merekalah yang mem-bentuk corak Ngesti Pan-dhawa dari awal,” ujarnya. Dari pengalaman Ngesti sendiri menjadi jelas bahwa laki-lakilah yang mbabat alas.  Jadi, para perempuan penari ini, kalau boleh dikatakan, menjadi pelengkap bagi keberadaan kesenian tradisi.

Memang, peran laki-laki yang mengatur pertunjukan itu tampak menonjol ketika kita mengamati gladi resik yang digelar satu jam sebelum pertunjukan. Para perempuan yang berperan di panggung sebagai pembuka, dayang, atau bahkan tokoh utama secara bergantian mendapatkan bimbingan dari  sang sutradara. Suatu ketika salah seorang pemeran dayang untuk Srikandi menanyakan bagaimana berjalan mengikuti ndoro dari belakang. Kali yang lain pemeran Arjuna, yang juga perempuan, menanyakan kepada sutradara bagaimana melaksanakan perang tanding dengan para buto. Kali yang beda lagi, bahkan salah seorang pemeran yang sudah lama berkecimpung di Ngesti harus mencatat tetek-bengek acting yang mesti dilakukan di panggung.

“Kami memang banyak belajar kepada para pendahulu di Ngesti ini. Masalahnya, kita juga mesti tahu karakter apa yang sungguh tepat kita perankan. Jadi bisa tampil pas di mata penonton,” tutur salah seorang pemain yang sering berperan sebagai dayang. Pertanyaan sering ditujukan kepada laki-laki karena memang para pendahulu kebanyakan laki-laki. “Kalau tidak konsultasi, bagaimana bisa tahu penampilannya kurang pas”, tambahnya.

Pernyataan itu mendapat tanggapan dari pihak perempuan sendiri. Konsultasi atau permintaan untuk mengoreksi  penampilan di atas altar merupakan satu strategi untuk mendapatkan hasil yang  bagus di hadapan penonton. “Boleh dibilang, dunia tontonan adalah dunia yang harus serba luks, serba sempurna. Karena itulah kami tidak ingin main-main dengan dunia hiburan ini,” komentar Sumarwiwik yang sudah enam tahun menjadi anggota Ngesti. “Kendati hanya hiburan, tetapi proses untuk menghasilkan sebuah hiburan yang layak bukanlah proses yang gampang”, tandasnya.  “Kalau masalah konsultasi, kami tidak hanya kepada para tetua di dalam Ngesti sendiri, tetap juga  kepada penonton laki-laki maupun perempuan. Bahkan tak jarang tetangga sendiri,” akunya berapi-api.

Wiwik yang sering mendapatkan peran utama ini menceritakan bagaimana seorang penari perempuan bisa sampai di panggung dan menunjukkan kebolehannya.  Selain berkonsultasi, mereka tidak jemu-jemu  untuk melakukan latihan di rumah atau di sanggar. Bahkan kemudian sampai menjelang pentas, diperlukan sebuah usaha koreksi dari beberapa pihak yang dianggap mampu. Ujung-ujungnya memang pentas di panggung.  Setelah itu, semuanya diserahkan kepada penonton.

Parto Dhegleng, salah seorang penonton, melihat justru para perempuan di Ngesti Pandhawa ini menjadi bagian sangat penting. Dia mengibaratkannya dengan kembang-kembang yang ada dalam jurus pencak sebelum melakukan pertandingan. “Kem-bang-kembang mencerminkan sebuah gerakan  silat selanjutnya. Kembangan yang bagus akan mem-perlihatkan gerakan selanjutnya dengan bagus,” tutur lelaki yang memimpin olahraga bela diri di kawasan Peterongan.

Bahkan Sumilah, pe-rempuan yang sehari-hari bakul pecel, melihat para perempuan pemain ini sebagai seorang penjuang seni. “Mereka kok masih saja mau ngurusi wayang orang. Padahal di rumah dia memiliki anak dan suami,” tuturnya. Dia sendiri menonton wayang orang hanya untuk hiburan bagi kelima anaknya yang semuanya berusia di bawah sepuluh tahun. Daripada di rumah sumpek, lebih baik mengajak  mereka menikmati hiburan yang murah-meriah.

Pentas: Sebuah Perlawanan

Pada hari Sabtu, 20 Januari 2002, Ngesti Pandhawa me-mentaskan lakon Srikandi Ngedan. Lakon ini menceritakan tokoh perempuan  panglima yang gila lantaran kutukan Dewa. Kondisi sakit jiwa ini membuat perilakunya lepas tanpa kendali. Dia menari di hadapan raja, mengajak dayang-dayang untuk memainkan dolanan anak, atau bahkan minum-minuman  sampai mabuk. Satu adegan yang menonjol adalah “kekuasaan” Srikandi yang memerintah para punggawa, tumenggung, dan patih untuk menari. Bila membangkang, maka para perwira tinggi ini dihajar oleh Srikandi.

Dengan keterpaksaan, mereka mengikuti gerakan Srikandi. Dengan muka yang konyol, lebih sering tertawa sendiri, Srikandi mengajak para tumenggung berjalan mengangkang berputar di depan istana. Setelah puas, Srikandi mengajak dia tiduran di lantai, menyanyikan lagu-lagu pop, sampai bermain jaran kepang. “Mengapa tidak ada bantahan dari tumenggung, barangkali itu tuntutan cerita. Tetapi lebih dari itu, paling tidak hal itu merupakan simbol  keperkasaan perempuan di satu sisi,” tutur Sumarwiwik, perempuan yang malam itu berperan sebagai Srikandi. “Gambaran tentang kekuasaan Srikandi ini bisa dilihat sebagai sebuah usaha menguasai laki-laki dalam batas-batas tertentu”, lanjutnya. Dengan kegilaan, tambahnya, pria yang berperan sangat perkasa dan bertingkah gagah tiba-tiba menjadi penurut kepada Srikandi.

“Di sinilah kita bisa memerintah. Kita akui kalau selama ini kita belajar melalui dia, bahkan dalam lingkungan kami mereka lebih menentukan berbagai kebijakan, tetapi dalam lakon barangkali perempuan akan lebih menentukan,” selorohnya. Memang di sanalah perempuan bisa memerintah seenak perutnya sambil tertawa sekeras-kerasnya. Bahkan terkadang bisa membentak.

Perempuan Serba Bisa

Perlawanan kaum perempuan  wayang orang ini semakin mengental dengan kemampuan yang dimiliki. Paling tidak ada tiga hal yang mutlak dipegang oleh seorang penari. Dalam hal acting, pertama, para seniwati mestilah mampu membawakan sebuah karakter yang dipegangnya. “Padahal kami setiap kali lebih banyak melakukan improvisasi, sehingga kemampuan melakukan acting harus oke,” tutur salah seorang perempuan anggota Ngesti. Barangkali wajah yang tidak terlalu cantik bisa ditutupi dengan rias yang lumayan, tambahnya, tetapi bila peran yang dimainkan tidak bagus maka hal itu bakal tampak mencolok mata.

Aspek terpenting yang tidak bisa dilewatkan bagi seniwati wayang orang adalah keahlian menari. Seperti yang telah digambarkan di muka, lebih sering seniwati wayang orang ini ditampilkan lebih dulu sebagai “jamuan pembuka” bagi para penonton. Perempuan penari ini dijadikan sebagai ungkapan “selamat datang”. Tidak jarang perempuan penari ini harus menari beberapa menit lebih lama, bahkan sampai setengah jam.

“Kalau tidak mampu secara kreatif  menciptakan tarian, maka akan kacau. Masalahnya, tarian kita tidak harus menganut pakem-pakem tertentu secara ketat, tetapi lebih ada pemanfatan gerak yang ritmis,” jelas salah seorang seniwati yang ikut serta dalam pentas Tjahjadadari dan Surjadadari di pentas Jumat, 28 Desember 2001. “Jika kesan pertama sudah buruk, maka tidak bisa mencapai apa yang ditargetkan untuk menggugah penonton,” tambahnya bersemangat.

Kecuali itu, di dalam setiap adegan para penari perempuan itu juga tidak jarang mengungkapkan bentuk peran melalui sebuah tarian. Misalnya, dalam peperangan Srikandi melawan Aswatama, anak Pendeta Durna, perempuan yang berperan sebagai Srikandi itu mau tak mau melakukan gerak ekspresif melalui tangan dan kakinya yang digunakan untuk memukul dan menangkis.

Di samping keahlian menari dan berperan, seorang seniwati wayang orang perlu sebuah kemampuan vocal yang bagus. Dalam setiap pementasannya, tidak jarang mereka menyanyikan sebuah lagu untuk mengungkapkan sebuah “jiwa” adegan. Misalnya, ketika hendak berperang maka lagu megatruh  mesti dinyanyikan. Saat jeda berkasih-kasihan, maka laras sinom yang digunakan untuk mengungkapkan tanda cintanya.

Berdasarkan pengamatan SRINTHIL, di samping bisa berperan di panggung untuk menari, para seniwati ini juga harus menjadi sinden. Artinya, apabila  salah seorang sinden berhalangan pentas, maka perempuan yang biasa bermain di pentas harus bisa berperan di balik panggung sebagai sinden.

“Kami dituntut untuk bisa memenuhi kriteria itu secara langsung, tetapi kita juga dituntut untuk bisa beralih fungsi secara dadakan setiap kali pementasan. Mesti bisa trampil,” tutur Ny. Harsono, pemimpin umum Ngesti Pandhawa. “Kami sudah terbiasa main sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu, sehingga kesulitan-kesulitan tersebut rasanya bisa diatasi oleh para seniwati. Kendati begitu harus diakui bahwa penguasaan tiga hal itu bukan masalah mudah. Baik dari seni vokal, seni tari, maupun seni peran memerlukan ketekunan sendiri-sendiri. Penguasaan ini tidak bisa main-main karena dipertontonkan kepada khayalak. Sebagai sebuah dunia tontonan, kesalahan sedikit saja bisa kelihatan seperti dalam kaca pembesar” lanjutnya.

Ketekunan untuk menguasai tiga hal itu, selain merupakan tuntutan profesionalitas, ternyata juga bias dipakai untuk menohok superioritas laki-laki. “Jangan dikira kami kalah sungguh-sungguh dibandingkan dengan seniman. Kami toh sama militan dengan mereka,” tandas Sumar-wiwik.  Secara kuantitas, baik seniman dan seniwati sama-sama tampil pada panggung yang sama sehingga memiliki kemungkinan yang sama untuk dinilai oleh penonton.

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

MicrosoftInternetExplorer4


Beranda  |  Kategory: Edisi 01 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia