Jaipong Jatinegara: Merebut Ruang di Kegelapan Kota

28 - May - 2002 | Bisri Effendy | No Comments »

Tepat pukul 21.00 tepak gendang Kang Ujang menghentak dan merobek suasana yang tadinya sepi mulai bergairah. Sejumlah laki-laki yang sedari sore mengelompok di pinggir jalan dan di warung-warung kopi sekitar suara itu mulai celingak-celinguk dan beberapa ada yang berkata, “Lha, itu sudah mulai”.

Satu, dua orang dari mereka beranjak dari duduknya dan melangkah menuju asal suara yang telah dihiasi liukan tembang Sunda. Dan, kira-kira 15 menit kemudian, dari jarak 40 meter di sebelah utara, tepakan gendang serupa terdengar sama kuat. Suasana di bawah jembatan layang D.I. Panjaitan itu pun benar-benar berubah menjadigegap gempita. Jalan selebar 5 meter yang seluruhnya becek karena baru saja diguyur hujan tak menghalangi mereka yang sedari sore menunggu mondar-mandir di depan panggung. Para pengendara kendaraan bermotor yang kebetulan lewat pun selalu memperlambat laju untuk menengok sebentar ke arah panggung.

Itulah awal pembuka pertunjukan seni Jaipong,  Mekar Munggaran dan Lestari Warga Saluyu. Sebuah pertunjukan seni Sunda asal Karawang dan Subang yang relatif “asing” di tengah kota metropolitan Jakarta yang penuh cafe, diskotik, layar lebar 21, dan pentas-pentas seni modern lainnya. Bahkan bagi kampung-kampung tempat dominasi orang Betawi pun juga terasa masih “asing”, karena di sana ada dangdutan, topeng dan lenong Betawi, serta cokek.

Tak ada panggung megah, tak ada lampu sorot ribuan watt, tak ada kursi-kursi merah dan permadani, dan tak ada pula layar terangkat pelan-pelan. Pertunjukan ini hanya kelas kaki-lima, berada di bawah jembatan layang, di pinggir rel kereta Jatinegara, di antara warung remang-remang, dan sederet dengan pedagang pisang dan barang loakan. Tetapi cobalah perhatikan mimik, dan kesyahduan tembang doa (kidung selamat) mereka yang sangat jelas memperlihatkan kesungguhan. Mereka berharap malam ini mendapat sebanyak mungkin, tentu bukan riuhnya tepuk tangan, melainkan uluran saweran para bajidor. “Mas, ini kan hanya mengamen”, kata Atun Djaelani, pemimpin grup Mekar Munggaran merendah.

Di panggung sederhana berukuran 4 X 3 m2, para penabuh gamelan (nayaga), 4 orang juru kawih dan tujuh penari muda-cantik berjejer sedemikian rupa; ruang itu hanya tersisa 1,5 X 3 m2 untuk menari. Sejumlah lembar kertas warna-warni menghias di atas mereka. Satu-dua lelaki muda tampak mulai mendekat panggung. Salah seorang mengulurkan tangannya dan segera disambut sang juru kawih yang sedang melantunkan tembang, sementara yang lain menari persis di depan panggung mengikuti tepak gendang dan gong serta tarian dua orang penari di atas panggung.

Pertunjukan Jaipong Mekar Munggaran maupun Lestari Warga Saluyu berlangsung setiap malam, kecuali malam Jum’at, dari pukul 21.00 hingga pukul 03.00 dini hari. “Umumnya justru di tengah malam, sekitar pukul 11.00  sampai 01.00 penonton dan pengibing memuncak”, kata Asep. Mereka menari, sendiri maupun berduet dengan temannya, sepuas hatinya, karena satu lagu yang mengiringinya sangat fleksibel durasi waktunya (bisa 30 menit, dan bisa pula 1 jam). Tampaknya, panjang waktu melan-tunkan sebuah tembang Jaipong ini sangat tergantung pada banyak-tidaknya penyaweran yang diberikan bajidor kepada sang juru kawih. Sesak di Kampung, Mengurai Mimpi di Jakarta

            Kedua grup seni Sunda itu berasal dari daerah berbeda, demikian pula kehadiran awalnya di wilayah Jatinegara ini. Mekar Munggaran berasal dari Karawang dan mulai mengelar pentas di tempat ini jauh lebih kemudian, yakni sekitar dua tahun lalu, dibanding Lestari Warga Saluyu dari Subang yang telah mengkarat di bawah jembatan ini sejak awal 70-an. Bahkan kepemimpinan grup yang kini dipimpin Asep ini telah berganti 3 kali; pertama pak Taming (kakek Asep), kedua Bu Sukesih (Ibu Asep), dan ketiga Asep sendiri.

            Nama Lestari Warga Saluyu memang lebih dikenal di Jakarta Timur, mungkin, karena jauh lebih dulu “mangkal” di tempat manggungnya sekarang. Meskipun dari segi performance dan antusias penonton kedua pertunjukan itu tak begitu berbeda. Bahkan dari segi kecantikan dan kemampuan tari, tampak Mekar Munggaran sedikit lebih unggul.

            Baik kepindahan Lestari maupun Mekar dari daerah asalnya tentu bukan tanpa disengaja dan bukan pula tanpa sebab. Semarak dan menjamurnya grup Jaipong di Karawang dan Subang tampaknya merupakan sebab tersendiri bagi kedua grup ini. Seperti yang dituturkan hasil penelitian pemetaan seni pertunjukan oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) bahwa pada tahun 1997-1998 di Karawang tercatat ada 110 grup Jaipong, sementara di Subang terdapat 97 grup seni yang sama, melibatkan 1.540 orang seniman (Karawang) dan 1.210 orang seniman (Subang).

Perkembangan dan kese-marakan seni Jaipong di kedua daerah tersebut terutama didorong oleh apresiasi mayarakat di Karawang maupun Subang yang demikian kuat. Di setiap bulan, kecuali di bulan puasa ramadlan, tak pernah lepas dari pertunjukan Jaipong. Demikian pula setiap malam, kecuali malam Jum’at, tak pernah sepi darinya. Sebagai contoh, rating pertunjukan sebuah grup Jaipong yang pada tahun 1996-1999 paling populer di Karawang dan sekitarnya, Rama Medal Mandiri Jaya (Namin Grup), penuh setiap malam; kecuali malam Jum’at, bagi grup ini, tak ada hari tanpa pentas – sebagian besar di wilayah Karawang sendiri. Penelusuran SRINTHIL beberapa waktu lalu di Karawang dan Subang memperlihatkan betapa suasana berjaipong masih sangat semarak. Tanpa diketahui sebelumnya, jalan-jalan di wilayah sebelah utara kota Karawang, Wadas, Lemah Abang sampai ke Cilamaya dalam satu malam SRINTHIL menjumpai 4 pertunjukan Jaipong dan 2 pertunjukan wayang golek (Sunda).

Satu hal penting yang bisa diduga bahwa banyaknya grupSesak di Kampung, Mengurai Mimpi di Jakarta

            Kedua grup seni Sunda itu berasal dari daerah berbeda, demikian pula kehadiran awalnya di wilayah Jatinegara ini. Mekar Munggaran berasal dari Karawang dan mulai mengelar pentas di tempat ini jauh lebih kemudian, yakni sekitar dua tahun lalu, dibanding Lestari Warga Saluyu dari Subang yang telah mengkarat di bawah jembatan ini sejak awal 70-an. Bahkan kepemimpinan grup yang kini dipimpin Asep ini telah berganti 3 kali; pertama pak Taming (kakek Asep), kedua Bu Sukesih (Ibu Asep), dan ketiga Asep sendiri.

            Nama Lestari Warga Saluyu memang lebih dikenal di Jakarta Timur, mungkin, karena jauh lebih dulu “mangkal” di tempat manggungnya sekarang. Meskipun dari segi performance dan antusias penonton kedua pertunjukan itu tak begitu berbeda. Bahkan dari segi kecantikan dan kemampuan tari, tampak Mekar Munggaran sedikit lebih unggul.

            Baik kepindahan Lestari maupun Mekar dari daerah asalnya tentu bukan tanpa disengaja dan bukan pula tanpa sebab. Semarak dan menjamurnya grup Jaipong di Karawang dan Subang tampaknya merupakan sebab tersendiri bagi kedua grup ini. Seperti yang dituturkan hasil penelitian pemetaan seni pertunjukan oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) bahwa pada tahun 1997-1998 di Karawang tercatat ada 110 grup Jaipong, sementara di Subang terdapat 97 grup seni yang sama, melibatkan 1.540 orang seniman (Karawang) dan 1.210 orang seniman (Subang).

Perkembangan dan kese-marakan seni Jaipong di kedua daerah tersebut terutama didorong oleh apresiasi mayarakat di Karawang maupun Subang yang demikian kuat. Di setiap bulan, kecuali di bulan puasa ramadlan, tak pernah lepas dari pertunjukan Jaipong. Demikian pula setiap malam, kecuali malam Jum’at, tak pernah sepi darinya. Sebagai contoh, rating pertunjukan sebuah grup Jaipong yang pada tahun 1996-1999 paling populer di Karawang dan sekitarnya, Rama Medal Mandiri Jaya (Namin Grup), penuh setiap malam; kecuali malam Jum’at, bagi grup ini, tak ada hari tanpa pentas – sebagian besar di wilayah Karawang sendiri. Penelusuran SRINTHIL beberapa waktu lalu di Karawang dan Subang memperlihatkan betapa suasana berjaipong masih sangat semarak. Tanpa diketahui sebelumnya, jalan-jalan di wilayah sebelah utara kota Karawang, Wadas, Lemah Abang sampai ke Cilamaya dalam satu malam SRINTHIL menjumpai 4 pertunjukan Jaipong dan 2 pertunjukan wayang golek (Sunda).

Satu hal penting yang bisa diduga bahwa banyaknya grupJaipong tersebut bukan mustahil jika kemudian melahirkan kompetisi ketat di antara sesama grup. Penampilan, baik para penari, juru kawih, kostum, alat-alat musik, provokasi sang alok, yang bukan saja menyangkut keterampilan tetapi juga kemampuan, paras cantik, suara merdu dan lain-lain, merupakan instrumen sangat penting bagi sebuah grup Jaipong untuk memperoleh “pengakuan” publik. Dan pengakuan inilah yang akhirnya menentukan apakah sebuah grup sering ditanggap atau tidak oleh warga masyarakat. Ini belum termasuk dukungan seorang dukun tertentu yang ahli menebar mantra-mantra “penglaris” dan “daya tarik” yang dilekatkan pada suara juru kawih, kecantikan penari dan tepak gendang. Salah seorang (tak bersedia disebut namanya) dari Namin Grup menyatakan bahwa libur pentas setiap malam Jum’at bukan karena menghormati hari itu sebagai hari sangat penting bagi kaum muslim, tetapi justru pada setiap malam itulah pimpinan grupnya harus bersemedi bersama dukun pendukungnya di Cirebon.

Pengakuan masyarakat dan kelarisan pentas mutlak diperlukan karena kedua hal itu sangat berkaitan dengan seberapa banyak pendapatan yang diperoleh. Selain uang tanggap sekitar Rp. 1.500.000,- permalam setiap grup, mereka juga memperoleh uang sawer dari bajidor –sebutan bagi penyawer– yang jumlahnya tidak menentu. Bagi grup-grup tertentu yang populer seperti Namin Grup, pendapatan saweran bisa mencapai diatas lima juta rupiah permalam. Apalagi jika mementaskan seorang penari terkenal seperti (panggilan akrab) Undur-undur yang setiap manggung ia sendiri bisa memperoleh saweran belasan juta rupiah. Tetapi bagi grup-grup kecil yang kurang terkenal, pendapatan sawerannya tidak sampai jutaan rupiah permalam.

Pendapatan yang meng-gembirakan itu, di satu sisi membuat persaingan antargrup sangat ketat dan pada sisi lain mengantarkan warga masyarakat di Karawang terutama yang mempunyai anak perempuan berparas cantik untuk memilih jalan hidup anaknya di dunia panggung ketimbang, misalnya, menjadi guru, pegawai atau profesi lain yang oleh umum dianggap mapan. Untuk itu mereka lebih suka anaknya masuk sanggar tari yang hanya dengan waktu beberapa bulan sudah bisa manggung dan mendapatkan uang, ketimbang harus melanjutkan sekolah SLTP atau SMU yang meski sudah tamat masih sulit juga memperoleh pekerjaan. Seorang kepala sekolah SLTP di Wadas menceritakan bahwa jumlah anak yang lulus SD dengan jumlah anak yang masuk SLTP sangat tidak seimbang. Salah satu alasannya adalah mereka lebih pragmatis untuk menghadapi hidup dan kehidupan.

Tentu, kita tak perlu mencari kambing hitam. Kapitalisasi global

 

Tepat pukul 21.00 tepak gendang Kang Ujang menghentak dan merobek suasana yang tadinya sepi mulai bergairah. Sejumlah laki-laki yang sedari sore mengelompok di pinggir jalan dan di warung-warung kopi sekitar suara itu mulai celingak-celinguk dan beberapa ada yang berkata, “Lha, itu sudah mulai”.

Satu, dua orang dari mereka beranjak dari duduknya dan melangkah menuju asal suara yang telah dihiasi liukan tembang Sunda. Dan, kira-kira 15 menit kemudian, dari jarak 40 meter di sebelah utara, tepakan gendang serupa terdengar sama kuat. Suasana di bawah jembatan layang D.I. Panjaitan itu pun benar-benar berubah menjadi gegap gempita. Jalan selebar 5 meter yang seluruhnya becek karena baru saja diguyur hujan tak menghalangi mereka yang sedari sore menunggu mondar-mandir di depan panggung. Para pengendara kendaraan bermotor yang kebetulan lewat pun selalu memperlambat laju untuk menengok sebentar ke arah panggung.

Itulah awal pembuka pertunjukan seni Jaipong,  Mekar Munggaran dan Lestari Warga Saluyu. Sebuah pertunjukan seni Sunda asal Karawang dan Subang yang relatif “asing” di tengah kota metropolitan Jakarta yang penuh cafe, diskotik, layar lebar 21, dan pentas-pentas seni modern lainnya. Bahkan bagi kampung-kampung tempat dominasi orang Betawi pun juga terasa masih “asing”, karena di sana ada dangdutan, topeng dan lenong Betawi, serta cokek.

Tak ada panggung megah, tak ada lampu sorot ribuan watt, tak ada kursi-kursi merah dan permadani, dan tak ada pula layar terangkat pelan-pelan. Pertunjukan ini hanya kelas kaki-lima, berada di bawah jembatan layang, di pinggir rel kereta Jatinegara, di antara warung remang-remang, dan sederet dengan pedagang pisang dan barang loakan. Tetapi cobalah perhatikan mimik, dan kesyahduan tembang doa (kidung selamat) mereka yang sangat jelas memperlihatkan kesungguhan. Mereka berharap malam ini mendapat sebanyak mungkin, tentu bukan riuhnya tepuk tangan, melainkan uluran saweran para bajidor. “Mas, ini kan hanya mengamen”, kata Atun Djaelani, pemimpin grup Mekar Munggaran merendah.

Di panggung sederhana berukuran 4 X 3 m2, para penabuh gamelan (nayaga), 4 orang juru kawih dan tujuh penari muda-cantik berjejer sedemikian rupa; ruang itu hanya tersisa 1,5 X 3 m2 untuk menari. Sejumlah lembar kertas warna-warni menghias di atas mereka. Satu-dua lelaki muda tampak mulai mendekat panggung. Salah seorang mengulurkan tangannya dan segera disambut sang juru kawih yang sedang melantunkan tembang, sementara yang lain menari persis di depan panggung mengikuti tepak gendang dan gong serta tarian dua orang penari di atas panggung.

Pertunjukan Jaipong Mekar Munggaran maupun Lestari Warga Saluyu berlangsung setiap malam, kecuali malam Jum’at, dari pukul 21.00 hingga pukul 03.00 dini hari. “Umumnya justru di tengah malam, sekitar pukul 11.00  sampai 01.00 penonton dan pengibing memuncak”, kata Asep. Mereka menari, sendiri maupun berduet dengan temannya, sepuas hatinya, karena satu lagu yang mengiringinya sangat fleksibel durasi waktunya (bisa 30 menit, dan bisa pula 1 jam). Tampaknya, panjang waktu melan-tunkan sebuah tembang Jaipong ini sangat tergantung pada banyak-tidaknya penyaweran yang diberikan bajidor kepada sang juru kawih.

Sesak di Kampung, Mengurai Mimpi di Jakarta

            Kedua grup seni Sunda itu berasal dari daerah berbeda, demikian pula kehadiran awalnya di wilayah Jatinegara ini. Mekar Munggaran berasal dari Karawang dan mulai mengelar pentas di tempat ini jauh lebih kemudian, yakni sekitar dua tahun lalu, dibanding Lestari Warga Saluyu dari Subang yang telah mengkarat di bawah jembatan ini sejak awal 70-an. Bahkan kepemimpinan grup yang kini dipimpin Asep ini telah berganti 3 kali; pertama pak Taming (kakek Asep), kedua Bu Sukesih (Ibu Asep), dan ketiga Asep sendiri.

            Nama Lestari Warga Saluyu memang lebih dikenal di Jakarta Timur, mungkin, karena jauh lebih dulu “mangkal” di tempat manggungnya sekarang. Meskipun dari segi performance dan antusias penonton kedua pertunjukan itu tak begitu berbeda. Bahkan dari segi kecantikan dan kemampuan tari, tampak Mekar Munggaran sedikit lebih unggul.

            Baik kepindahan Lestari maupun Mekar dari daerah asalnya tentu bukan tanpa disengaja dan bukan pula tanpa sebab. Semarak dan menjamurnya grup Jaipong di Karawang dan Subang tampaknya merupakan sebab tersendiri bagi kedua grup ini. Seperti yang dituturkan hasil penelitian pemetaan seni pertunjukan oleh Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) dan Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) bahwa pada tahun 1997-1998 di Karawang tercatat ada 110 grup Jaipong, sementara di Subang terdapat 97 grup seni yang sama, melibatkan 1.540 orang seniman (Karawang) dan 1.210 orang seniman (Subang).

Perkembangan dan kese-marakan seni Jaipong di kedua daerah tersebut terutama didorong oleh apresiasi mayarakat di Karawang maupun Subang yang demikian kuat. Di setiap bulan, kecuali di bulan puasa ramadlan, tak pernah lepas dari pertunjukan Jaipong. Demikian pula setiap malam, kecuali malam Jum’at, tak pernah sepi darinya. Sebagai contoh, rating pertunjukan sebuah grup Jaipong yang pada tahun 1996-1999 paling populer di Karawang dan sekitarnya, Rama Medal Mandiri Jaya (Namin Grup), penuh setiap malam; kecuali malam Jum’at, bagi grup ini, tak ada hari tanpa pentas – sebagian besar di wilayah Karawang sendiri. Penelusuran SRINTHIL beberapa waktu lalu di Karawang dan Subang memperlihatkan betapa suasana berjaipong masih sangat semarak. Tanpa diketahui sebelumnya, jalan-jalan di wilayah sebelah utara kota Karawang, Wadas, Lemah Abang sampai ke Cilamaya dalam satu malam SRINTHIL menjumpai 4 pertunjukan Jaipong dan 2 pertunjukan wayang golek (Sunda).

Satu hal penting yang bisa diduga bahwa banyaknya grup Jaipong tersebut bukan mustahil jika kemudian melahirkan kompetisi ketat di antara sesama grup. Penampilan, baik para penari, juru kawih, kostum, alat-alat musik, provokasi sang alok, yang bukan saja menyangkut keterampilan tetapi juga kemampuan, paras cantik, suara merdu dan lain-lain, merupakan instrumen sangat penting bagi sebuah grup Jaipong untuk memperoleh “pengakuan” publik. Dan pengakuan inilah yang akhirnya menentukan apakah sebuah grup sering ditanggap atau tidak oleh warga masyarakat. Ini belum termasuk dukungan seorang dukun tertentu yang ahli menebar mantra-mantra “penglaris” dan “daya tarik” yang dilekatkan pada suara juru kawih, kecantikan penari dan tepak gendang. Salah seorang (tak bersedia disebut namanya) dari Namin Grup menyatakan bahwa libur pentas setiap malam Jum’at bukan karena menghormati hari itu sebagai hari sangat penting bagi kaum muslim, tetapi justru pada setiap malam itulah pimpinan grupnya harus bersemedi bersama dukun pendukungnya di Cirebon.

Pengakuan masyarakat dan kelarisan pentas mutlak diperlukan karena kedua hal itu sangat berkaitan dengan seberapa banyak pendapatan yang diperoleh. Selain uang tanggap sekitar Rp. 1.500.000,- permalam setiap grup, mereka juga memperoleh uang sawer dari bajidor –sebutan bagi penyawer– yang jumlahnya tidak menentu. Bagi grup-grup tertentu yang populer seperti Namin Grup, pendapatan saweran bisa mencapai diatas lima juta rupiah permalam. Apalagi jika mementaskan seorang penari terkenal seperti (panggilan akrab) Undur-undur yang setiap manggung ia sendiri bisa memperoleh saweran belasan juta rupiah. Tetapi bagi grup-grup kecil yang kurang terkenal, pendapatan sawerannya tidak sampai jutaan rupiah permalam.

Pendapatan yang meng-gembirakan itu, di satu sisi membuat persaingan antargrup sangat ketat dan pada sisi lain mengantarkan warga masyarakat di Karawang terutama yang mempunyai anak perempuan berparas cantik untuk memilih jalan hidup anaknya di dunia panggung ketimbang, misalnya, menjadi guru, pegawai atau profesi lain yang oleh umum dianggap mapan. Untuk itu mereka lebih suka anaknya masuk sanggar tari yang hanya dengan waktu beberapa bulan sudah bisa manggung dan mendapatkan uang, ketimbang harus melanjutkan sekolah SLTP atau SMU yang meski sudah tamat masih sulit juga memperoleh pekerjaan. Seorang kepala sekolah SLTP di Wadas menceritakan bahwa jumlah anak yang lulus SD dengan jumlah anak yang masuk SLTP sangat tidak seimbang. Salah satu alasannya adalah mereka lebih pragmatis untuk menghadapi hidup dan kehidupan.

Tentu, kita tak perlu mencari kambing hitam. Kapitalisasi global telah masuk ke dalam alunan kehidupan masyarakat, di desa pedalaman sekali pun. Di samping itu, pembangunan yang memusat telah meninggalkan desa dengan berbagai masalah sosial ekonomi yang semakin rumit (kelangkaan pekerjaan, keterbatasan peredaran uang, dll). Sementara pada saat yang sama rangsangan modernitas dan produk-produk industri modern mengantarkan hampir setiap warga desa untuk mengubah gaya hidup secara drastis yang semua itu memerlukan kemampuan ekonomi yang setimpal.

Karawang sendiri –dan juga Subang– memang terkenal sebagai lumbung padi. Image yang terbangun begitu mendengar itu bahwa penduduk Karawang adalah para petani mampu yang memiliki hektaran sawah subur dan menjanjikan. Tetapi, dalam kenyataannya stratifikasi sosial ekonomi di sana tampak begitu jelas. Pemilikan tanah sawah dan ladang tak merata, begitu pula sumber-sumber dan alat-alat produksi lainnya. “Sekitar 65 % penduduk Karawang tidak memiliki tanah sawah, dan mereka umumnya petani buruh (petani gurem) atau bekerja di sektor jasa tradisional seperti tukang bangunan”, kata Dedeng (alumni ekonomi UII, kini guru SMU Wadas). “Kira-kira 15 % penduduk menguasai 80 % tanah pertanian, yaitu golongan petani kaya dengan pemilikan tanah rata-rata 10-12 Ha. perorang”, lanjutnya.

Para pendukung kesenian Jaipong, seperti yang diasumsikan Yanto (juru bicara Namin Grup), hampir bisa dipastikan berasal dari mereka yang tak memiliki tanah sawah atau mereka yang hanya memiliki sawah di bawah 05 Ha. Lacakan SRINTHIL di beberapa grup Jaipong membenarkan asumsi tersebut. “Kalau tokh ada yang memiliki sawah di atas satu Ha., itu diperoleh setelah ada penghasilan dari panggung”, tutur Yanto. Apakah dunia panggung menjanjikan hari esok yang lebih baik, terutama dalam hal ekonomi? “Yah, belum tentu mbak, banyak juga yang hanya cukup begitu saja. Tetapi memang ada yang menjadi kaya, seperti beberapa penari terkenal”, lanjutnya. Yang pasti panggung seni Jaipong, kata Yanto dan beberapa anggota Namin Grup, paling tidak memberikan jalan keluar di tengah semakin langkanya pekerjaan di desa.

Mungkin, kepindahan Mekar dan Lestari ke Jatinegara dapat dipahami dalam konteks seperti di atas. Kompetisi dan persaingan antar grup yang ketat di satu sisi dan kesulitan ekonomi di desa yang hampir tak bisa diselesaikan di sisi lain mendorong pendukung kedua grup seni di atas untuk menoleh ke wilayah di luar Karawang. Ini tentu kalau saja mereka masih bersikukuh menggapit Jaipong. Tetapi, bukankah di luar Karawang juga mempunyai kesenian lain yang dipandang paling pas buat penduduknya?

Pilihan pada Jakarta bagi Lestari bukan hanya karena kota metropolitan ini sejak tahun 70-an diformat oleh negara sebagai pusat segala pusat, tetapi juga di sini terdapat komunitas-komunitas urban kelas bawah yang di dalamnya terdapat komunitas Sunda. Harapan bahwa Jaipong akan memperoleh perhatian dan dukungan sangat mungkin, paling tidak dari komunitas Sunda sendiri. Sementara bagi Mekar yang hijrah ke Jatinegara sejak dua tahun lalu, pertimbangan untuk memperoleh dukungan dan perhatian tak begitu mendesak, karena mereka cukup dengan memanfaatkan lingkungan yang telah jadi.

Bisa jadi yang paling menentukan adalah imajinasi tentang Jakarta. Kota yang menyandang banyak predikat ini, terutama semasa orde baru, dibayangkan sebagai yang menjanjikan hari esok yang lebih baik, tidak hanya oleh penduduk Karawang dan Subang tetapi juga oleh hampir seluruh penduduk pedesaan dan perkotaan di luar Jakarta. Urbanisasi yang tak terbendung dan munculnya rumah-rumah kumuh – sebenarnya juga urbanisasi kelas terpelajar yang kemudian menjadi kelas menengah – merupakan indikasi gambaran tentang Jakarta.

Para pendukung Mekar maupun Lestari tentu termasuk yang membayangkan Jakarta seperti diatas. “Dulu, sebelum kami pindah ke sini, kami selalu mendapat kabar bahwa di Jakarta cari uang mudah, sedangkan di kampung susah,” kata Atun. “Karena itu kami nekad berangkat bersama rombongan ini,” lanjutnya. Cari uang dengan tetap menggenggam Jaipong tampaknya merupakan moto paling dominan bagi Atun dan Asep. Meskipun, untuk itu, mereka harus bergulat dengan begitu banyak masalah terutama karena yang dipilih adalah Jakarta yang bagi seni tradisi semacam Jaipong bagaikan “belantara yang gelap”.

Pentas Jaipong: Arena Kontestasi

            Hingga tembang ketiga pertunjukan Mekar Munggaran, malam itu, belum terlihat banyak bajidor menyawer. Baru satu, dua penyawer bertandang di depan panggung, itupun bukan yang tergolong “kakap” dan pelanggan tetap. Alim ah Alim, begitu nama tembang ketiga itu, yang memang menyi-sakan ruang im-provisasi, diselingi dengan panggilan-panggilan terhadap sejumlah nama yang menurut keterangan Atun pelanggan nyawer.

“….Pak Haji Salim Cijan-tung…”

“….Pak Haji Mahmud Kramatjati…”

“….Pak Marto Yogya…,” begitu nama-nama diselipkan dan dipanggil untuk segera tampil menyawer. Sejumlah penonton di depan panggung toleh-toleh, dan karena yang dipanggil pun tak juga muncul, mereka lalu meneruskan sorot mata ke arah panggung.

            Memanggil nama-nama tertentu adalah cara yang paling lugas menarik penyawer. Dan, sebenarnya, ini bukan hanya terjadi dalam pertunjukan Jaipong Jatinegara, tetapi juga sangat biasa dalam pertunjukan di Karawang maupun Subang. Tentu, yang dipanggil dalam selipan tembang-tembang hanyalah mereka yang memang sudah dikenal, atau atas permintaan seorang pelanggan untuk memanggil temannya yang mungkin baru pertama kali menonton.

            Hingga ketika tembang berganti berikutnya, Haji Salim baru muncul di depan panggung. Begitu pula Marto Yogya yang muncul sekitar 20 menit kemudian. Baik Salim maupun Marto menyawer cukup lama dengan mengulurkan recehan lima ribuan berkali-kali kepada seorang juru kawih Mekar Munggaran dan dua orang penari yang mengiringinya. Sementara sejumlah anak muda menari persis di depan panggung; ada yang bergaya Jaipongan, dan ada pula yang bergaya dangdut.

            Makin malam, suasana pertunjukan Mekar maupun Lestari makin bergairah. Mulai sekitar pukul 23.00 pertunjukan sangat meriah. Tembang Jaipong, atas permintaan penonton, mulai digantikan dengan lagu dangdut. Sadar akan semakin bertambahnya penonton, liukan penari yang tadinya agak “hati-hati” mulai dengan kelugasannya: erotis dengan goyang pinggul yang aduhai. Penonton pun lalu bersorak gembira dan semakin bersemangat berjoget di depan panggung. Penyawer yang tadinya amat sedikit dan terbatas pada pelanggan tetap, kini makin banyak termasuk sejumlah orang kebetulan lewat; berhenti sebentar untuk menyawer dan kemudian pergi entah ke mana.

            Ada yang menarik saat saweran berlangsung. Tangan penerima saweran tidak lantas menyimpan uang, tetapi masih menengadah, menunggu uang berikutnya. Hampir pasti si bajidor pun lalu mengulurkan rupiahnya kembali. Begitu seterusnya, hingga pemberian itu harus berlangsung berkali-kali. “Kita kan lagi perang, tak masalah. Mereka mau memberi berapa dan berapa kali menggenggam tangan kami, biarin aja,” tutur seorang juru kawih Mekar kepada SRINTHIL.

            Tampaknya kontak tontonan dengan penonton amat penting dalam pertunjukan ini. Bukan hanya penonton mempengaruhi teks pertunjukan, tetapi juga tontonan pun ber-pengaruh pada penon-ton. Suasana pertunju-kan waktu itu benar-benar memperlihatkan interaksi timbal-balik yang seimbang antara  tontonan dan penonton.  Jika dikaitkan dengan pola pandang yang biasa dipakai dalam analisis pertunjukan, terlihat dengan jelas bagaimana saling memandang terjadi antara penonton dan tontonan. Penonton boleh dengan sepuasnya menikmati kecantikan dan goyang pinggul sang penari, dan sebaliknya sang penari dan atau juru kawih boleh mendapat saweran sebanyak-banyaknya. Bukankah ini sebuah arena kontestasi yang sesungguhnya?

Mengusung Ronggeng, Merebut Ruang

            Atun Djaelani maupun Taming sengaja mengusung Jaipong dari daerah asalnya masing-masing: Karawang dan Subang. Satu hal yang paling penting menggayut di benak mereka: mencari hidup yang lebih baik, lebih survive dari segi ekonomi dengan tetap menggenggam seni tradisi. Demikian pula yang bergelora di benak para penari dan juru kawih. Mencari uang dan cita utama seorang penari atau juru kawih yang dibentuk sejak awal pergulatannya dengan kesenian ini. Karena itulah tak ada kecanggungan sedikitpun ketika mereka menerima dan merangsang penonton untuk mengulurkan saweran.

            Tetapi Jakarta yang berkembang sebagai kota metropolitan, sekali lagi,  bukanlah ladang subur bagi kesenian semacam Jaipong ini. Jakarta bagi Jaipong bak lahan tandus, kering-kerontang bagi padi. Sekejam-kejamnya ibu tiri masih lebih kejam ibukota, begitu ungkapan yang sering kita dengar, dan inipun juga termasuk bagi seni Jaipong. Ini karena di sana, penduduk dan kehidupan sangat heterogen dengan perkembangan modernitas yang amat tinggi pula. Pada saat yang sama pergulatan sosial politik, ekonomi, dan juga budaya berlangsung sangat seru. Perebutan ruang-ruang publik, baik dalam tataran wacana maupun aksi-aksi, antar berbagai kelompok sosial-kultural dan antar berbagai subkultur terjadi saling menindih dan mendesak.

            Oleh sebab itu, kehadiran Mekar maupun Lestari yang punya niat utama menggapai kehidupan yang lebih survive mau tak mau harus bertanding, bertarung memperebutkan ruang-ruang yang sudah demikian sesak. Café, diskotik, bioskop 21, dangdutan, VSD-DVD, internet yang menjamur di mana saja termasuk di sekitar tempat mangkal Mekar dan Lestari, adalah sederet rival tangguh yang mesti dihadapinya. Itu belum termasuk Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Jakarta, Teater Utan Kayu, Benthara Budaya, Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, dan lain-lain yang meskipun agak jarang selalu mementaskan kesenian tradisi dari berbagai daerah di Indonesia.

            “Kami ini bukan kesenian modern. Kami juga hanya orang-orang kampung yang ingin mengadu nasib di Jakarta ini. Apakah kami salah mengadu nasib dengan kesenian yang kami bawa dari kampung?” kata Atun. Tentu tidak salah dan memang tidak ada yang perlu disalahkan. Soalnya adalah pertarungannya memperebutkan ruang itu sendiri yang bisa dipastikan sangat ketat. Tetapi, tampaknya nasib Mekar maupun Lestari memang harus demikian: pergi meninggalkan pertarungan dan kompetisi di kampung dan menghadapi pertarungan lagi di tempat barunya yang bisa jadi lebih sengit.

            Mengusung penari muda-cantik, seperti yang diakui Atun dan Asep, merupakan strategi awal untuk menghadapi pertarungan itu. “Itu modal pertama kami,” tutur Atun kepada SRINTHIL. Apakah maksudnya menjual kecantikan mereka buat kepentingan grup? “Bukan, sekali lagi bukan itu maksudnya. Kalau menjual kesenian memang ya. Kami ini sama-sama, laki-laki maupun perempuan, berjuang meniti hidup dengan segala rintangan dan tantangannya”, lanjut Atun yang juga diiyakan oleh Asep. “Tugas kami di sini masing-masing. Memang tugasnya perempuan ya menari dan menyanyi dan berusaha agar menarik penonton sebanyak mungkin. Tetapi, tukang gendang juga harus menarik penonton, karena kalau tepak gendangnya nggak bener, penonton juga kurang senang,” jelas Atun bersemangat. Atun tak berlebihan, karena dalam pembagian rezki, perempuan memperoleh prioritas. “kami yang perempuan ini dapat lebih banyak dibanding laki-laki,” kata Lina, seorang penari Mekar Munggaran.

            Dalam hal penonton, baik Atun maupun Asep sadar bahwa penonton yang disasar bukanlah mereka yang biasa ke café, diskotik, atau konser-konser mewah, melainkan warga masyarakat kelas menengah ke bawah. Itu pun tidak seluruhnya, karena sebagian dari yang disebut terakhir mungkin juga tidak menyukai Jaipong. “Ini kan kesenian kampung, dan lagi juga kesenian Sunda. Di Jakarta ini kan tidak semua dari Sunda, apalagi banyak yang mampu dan biasa menonton di gedung-gedung. Jadi, ya terserah saja. Pokoknya kami menyuguhkan kesenian, siapa yang mau silakan nonton. Tetapi kami selalu berusaha sebaik-baiknya, agar penontonnya bisa banyak,” jelas Asep.

            Segmen pasar yang kemungkinan besar diperebutkan adalah komunitas dangdut. Selain kebanyakan terdiri dari kelas menengah ke bawah, komunitas dangdut juga terdiri dari lintas etnik, agama, dan budaya, bahkan komunitas Sunda sendiri bisa jadi merupakan penggemarnya yang sangat penting. Atun dan Asep menyadari hal itu, karena pernah suatu ketika di dekat panggung mereka ada pertunjukan dangdut, penonton tersedot sedemikian rupa, sehingga Jaipong hampir kehabisan penonton. “Untungnya, pertunjukan dangdut semacam itu tidak terjadi setiap malam,” kisah Asep.

             Tetapi, mungkin karena tantangan dari penonton, kini Jaipong Jatinegara juga dengan mudah diubah menjadi dangdutan. Seperti yang terlihat malam itu, Mekar Munggaran, ketika memasuki tembang kelima, melantunkan sebuah lagu dangdut dengan sangat seru atas permintaan seorang penyawer yang membawa 4 orang pengibing. Hal serupa juga dialami Lestari Warga Saluyu hampir setiap malam. “Bahkan seringkali menyanyikan lagu-lagu pop seperti lagunya Krisdayanti atau Betharia Sonata,” tutur seorang penyawer yang sedang istirahat duduk di samping SRINTHIL. “Kami ini kan butuh penonton dan penyawer. Jadi penyesuaian mudah kami lakukan supaya tidak kehilangan mereka,” jelas Atun. “Yang penting penonton senang, kami pun senang dapat uang,” lanjutnya.

             Yang tampaknya merepotkan mereka justru instansi pemerintah seperti Dinas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibnas) dan Dinas Kebudayaan setempat. Dengan dalih keamanan, Kamtibmas atau oknumnya sangat rajin mendatangi pertunjukan Jaipong ini; hampir setiap malam. “Yah, mereka sering datang kemari, dan kami tahu maksudnya, habis itu, pergi. Kami sudah kenal baik dengan mereka. Jadi saling mengerti, begitulah,” kisah Asep. “Pernah juga terjadi tegang dan tengkar. Tapi itu dulu, sudah lama, masih zaman pak Harto,” lanjutnya.

            Betapapun, baik Asep maupun Atun cukup tegar dan merasa berhak, karena untuk mengadakan pertunjukan Jaipong secara rutin di tempat itu sangat legal; ada izin resmi dari Pemerintah Kota Jakarta Timur. Meskipun untuk izin ini, mereka bersusah payah harus berjuang dengan mengeluarkan sejumlah lembar rupiah. “Izin dikeluarkan setahun sekali, dan kami berusaha mendapatkannya. Walau-pun untuk mendapat itu, kami harus berusaha mati-matian dan mem-bayar secukupnya,” cerita Asep.

            Tantangan demi tantangan, dan rintangan demi rintangan telah dilalui dengan baik oleh Jaipong Jatinegara ini. Kini, mereka cukup mapan dan dengan lancar manggung setiap malam, kecuali malam Jum’at. Mereka memang berpenghasilan hanya rata-rata Rp 60.000,- perorang/permalam, tetapi itu sudah dipandang cukup oleh mereka. Bahkan, para penari muda, dengan penghasilan itu, bisa menabung untuk persiapan hari esok.


Beranda  |  Kategory: Edisi 01 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia