Diskriminasi Perempuan terhadap Wanita

28 - May - 2002 | Seno Gumira Ajidarma | No Comments »

Sudah beberapa tahun terakhir ini, entah sedang makan di warung, entah sedang diskusi, entah cuma omong kosong saja, terlalu sering saya mengalami betapa ketika mengucapkan kata wanita, langsung ditukas, tepatnya “dibetulkan” oleh seorang teman lawan jenis (nah, teman tapi lawan), dengan kata perempuan.

            “Huss, perempuan,” katanya.

Artinya, oleh “para lawan jenis” (ketimbang dibetulkan lagi), rupa-rupanya kata wanita itu salah, keliru, tidak betul, mungkin pula merendahkan, memalukan, setidak-tidaknya kurang sempurna. Dalam suatu argumen yang saya baca entah di mana, alasannya memang klasik: perempuan berasal dari kata empu, bukan empu pembuat keris (Freud: phallus lagi!), melainkan sebagai yang-empu-nya, yang memiliki, setidak-tidaknya yang melahirkan – tentu saja melahirkan manusia, dan melahirkan manusia artinya melahirkan dunia bermakna seperti yang dihayati   bersama oleh 4 milyar penduduk bumi. Hampir segala-galanya.

            Sedangkan wanita diandaikan dalam pengertian yang stereotip : ratu rumah tangga, pendukung suami, hiasan sosial lelaki, pengurus anak. Istilah “betul-betul wanita” selalu dihubungkan dengan kecantikan, kelemahgemulaian, kelembutan, kehalusan, kesantunan, keberadaban – lagi-lagi citra stereotip. Nyaris fisikal, karena kalau gagah perkasa dan suka mendaki gunung atau mendaki tebing tidak akan dibilang “engkau sungguh wanita”, meski tidak juga akan dibilang “engkau sungguh perempuan”. Artinya, istilah perempuan juga tidak menampung segenap ke-bukan-wanita-an seorang –untuk sementara saya beri istilah, apapun artinya- femina. Karena, kalau seorang femina unggul dalam mendaki tebing atau jadi pasukan komando, mestinya tidak harus berarti ia memasuki dunia dan memanfaatkan bahasa lelaki.

            Sebuah penelitian yang pernah disiarkan Time (lacak sendiri sajalah), menegaskan bahwa pembagian kerja seksual seperti lelaki berburu dan femina di dapur sebetulnya bukan suatu kodrat alamiah. Dibuktikan bahwa ada suatu masa, yah memang di zaman pra-tulisan, di mana lelaki tinggal di rumah dan femina yang berburu. Di samping itu, yang lebih hebat, dikatakan tidak betul bahwa secara alamiah fisik femina itu lebih lemah dari fisik lelaki. Berdasarkan penelitian hewes-hewes, ditunjukkan berbagai bukti  keunggulan fisik Femina, sampai menunjukkan berbagai titik di tubuhnya, bahwa femina secara fisik justru lebih unggul dari pria lelaki lanang bin maskulin.

            Jadi, anggapan baku sudah hancur. Tapi, apakah nasi sudah menjadi bubur? Manusia sedang menulis sejarah kebudayaannya kembali. Pertanyaannya: apakah wanita akan tetap diletakkan pada posisi kurang terhormat dibanding perempuan? Pertanyaan saya sebetulnya: apakah dalam politik bahasa ini, tidak mungkin memberi makna baik pada sesuatu yang dianggap jelek, ketimbang sebaliknya, seperti bagaimana perempuan mendiskriminasikan wanita? Tepatnya, tidak mungkinkah wanita itu kita muliakan, bukan sebagai Miss Universe, tetapi sebagai Yang-Empu-nya? Apa iya perempuan ingin menghapuskan kata wanita untuk sebuah dunia di masa depan, setidaknya, di Indonesia?

            Dalam politik bahasa, saya ingat juga selaan-selaan di tengah obrolan, jika terucapkan kata Cina.

            “Huss, Tionghoa,” katanya lagi.

            Baiklah kata Cina mungkin berasal dari kata yang bertujuan menghina, tapi tidakkah mungkin untuk menghapus makna penghinaan itu, dan menjadikannya kata yang bersifat etnik saja? Soalnya, Tionghoa pun berbau eufemisme – dan eufemisme bukanlah sopan santun, untuk tidak mengatakan sama-sama merendahkan. Sehingga, untuk kembali ke dunia femina, pertanyaannya adalah: bisakah kita membebaskan diri dari penjara bahasa, dengan cara membebaskan bias makna pada arti katanya?

            Dengan begitu, masalahnya bukanlah soal bagaimana perempuan mendiskriminasikan wanita, melainkan bagaimana bukan hanya perempuan, tapi juga lelaki, gay, waria, dan kaum lesbian, merehabilitasi konotasi konco wingking pada kata wanita. Dalam penulisan kembali sejarah kebudayaan tercakup pengertian penulisan ulang kamus bahasa.

            Menengok persoalan ini sepintas lalu, ternyata bahwa oposisi biner, perempuan-wanita terbayangi oleh maskulin-feminin, dan dengan maraknya wacana gay, waria, dan lesbian, oposisi biner sudah terpecah-belah: dunia ini tidak simetris. Alternatif ini bukan cuma itu, melainkan juga anu alias tak jelas, dan mungkin juga tak perlu terlalu jelas, karena tidak mungkin. Masalahnya kembali kepada sikap etis: kalau ada femina lebih suka menjadi wanita, dan merasa wanita adalah pilihan terbaik, dengan segala argumen bagi stereotip wanita, bagaimana? Seberapa jauh perempuan berhak melecehkan, bahkan meniadakan wanita?

             Memang dianggap ada virus internalisasi nilai pada wanita, sehingga perempuan sibuk melakukan penyadaran, tetapi dalam internalisasi itu tidak kurang-kurangnya pembalikan oposisi penjajah-terjajah, sehingga lelaki justru hampir selalu tampil sebagai makhluk yang lemah, memble, tidak percaya diri, bodoh, bebal, dan segala tindak kekerasan yang ditampilkannya justru merupakan upaya menutupi rendah diri itu, yang pada dasarnya tidak pernah berhasil. Budaya lelaki terbukti secara eksplisit tidak kurang memalukannya, dan untuk itu tidak selalu diperlukan feminisme. Wanita itu tidak selalu terjajah, wanita itu juga bisa menjajah, karena memang mau dan mampu.

            Saya kira isu utama feminisme bukanlah terutama masalah gender, melainkan ketidakadilan. Artinya, feminisme mestinya juga menolak ketidakadilan bagi lelaki. Jika ada yang protes bahwa femina dan anak-anak paling menderita dalam konflik bersenjata, itu tidak berarti lelaki dewasa tak bersenjata boleh-boleh saja dibantai secara massal bukan? Bahwa feminisme selalu melihat dunia secara struktural, dan bahwa dalam pandangan itu terdapat banyak sekali kecocokan, yakni bahwa dunia tidak adil terhadap kaum femina, tidak usah dipungkiri. Tapi jelaslah bahwa isu feminisme bukan balas dendam, melainkan dunia yang lebih adil.

             Pertanyaannya sekarang, bagaimana perempuan bisa bersikap lebih adil kepada wanita, misalnya dengan tidak usah membetul-betulkan orang yang menyebut kata wanita, padahal maksud orang itu ternyata memuja wanita sebagai perempuan? Mungkinkah penyadaran menjadi rehabilitasi, dan bukan diskriminasi?

            Demikianlah obrolan warung kopi ini, sampurasun dan amit mundur. Ciao!

 

 


Beranda  |  Kategory: Uncategorized | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia