Pada Sebuah Jilbab

10 - Oct - 2009 | Rika Iffati Farihah | No Comments »

“Rambut wanita-wanita yang tidak menutup auratnya di neraka akan berubah menjadi ular”

Demikian penggalan terjemahan sebuah kitab kuning yang dibacakan oleh guru ngaji saya sewaktu saya masih duduk di bangku Tsanawiyah (setingkat SLTP). Penggalan yang terus-menerus terngiang di benak saya untuk waktu sangat lama, mungkin malah terlalu lama. Saya memiliki ketakutan tak wajar pada ular. Fobia. Itu menjadikan ancaman siksaan semacam ini teramat menakutkan. Ketakutan inilah salah satu di antara banyak hal yang pada awalnya mendorong saya menutup rambut dengan jilbab. Dorongan yang lain tentu saja: peraturan sekolah, tuntutan keluarga, tuntutan sosial.

Saya tumbuh di lingkungan pesantren. Oleh karena itu tak pernah ada pertanyaan eksistensial “memakai jilbab atau tidak memakai jilbab” bagi saya. Yang ada hanyalah pertanyaan masalah waktu: kapan harus memakai jilbab. Ketentuan umumnya bisa dilihat dari peraturan yang berlaku pada berbagai tingkatan sekolah di bawah naungan yayasan pesantren yang saya tinggali. Pada masa saya masih bersekolah di sana, yayasan yang memayungi sekolah dari tingkat TK hingga Madrasah Aliyah itu hanya mewajibkan penggunaan ‘baju muslim’ bagi para siswa/siswinya yang sudah menginjak bangku SLTP, dan tidak sebelum itu. (catatan: hal itu sekarang berubah. Siswi Madrasah Ibtidaiyah sudah mulai diwajibkan berjilbab, dan para siswanya sudah mulai dianjurkan bercelana panjang.)

Meskipun demikian, pada masa itu, di lingkungan tersebut kata ‘jilbab’ sendiri masih multitafsir, mungkin malah sedikit kurang lazim dibandingkan kata kerudung. Penggunaannya pun tidak seketat saat ini, yang mengacu pada kain yang dililitkan rapat ke sekitar wajah dan leher perempuan. Pada masa itu, bagi santri perempuan yang sudah balig, ‘berkeliaran’ dengan rambut tergerai tanpa penutup memang tabu, tetapi tabu ini bisa diatasi dengan mudah. Sangkutkan saja sehelai kain di kepala, boleh panjang, boleh pendek (berbentuk segitiga, biasanya digunakan sebagai pelapis bagian dalam jilbab), tak harus diikat atau dikaitkan dengan peniti, tak masalah bila leher masih tampak jelas, tak jadi soal bila sebagian besar rambut masih mengintip keluar, atau bahkan kadang-kadang terlihat seluruhnya karena kain itu merosot ke leher.

Sementara itu, perempuan-perempuan yang lebih tua biasanya hanya mengenakan selendang, yaitu kain panjang yang biasanya terbuat dari bahan halus, tipis, dan menerawang, berbeda dengan jilbab yang biasanya dibentuk segitiga dan menggunakan kain yang lebih tebal serta lebih tidak tembus pandang. Selendang ini bisa dikenakan begitu saja di atas rambut, atau dikombinasikan dengan sejenis topi kain yang disebut ‘kerpus.’ Kerpus bisa juga dikenakan tanpa selendang.

Ibu saya, seorang guru di madrasah dan termasuk pengasuh pondok, dahulu masih sering berkebaya dan menyanggul rambut untuk acara-acara resmi semacam resepsi perkawinan. Sanggul jelas-jelas tak memungkinkan penggunaan jilbab model sekarang. Paling banter yang dikenakan ibu adalah sehelai selendang transparan yang sering jatuh ke bahu. Ibu yang sekarang sudah beralih ke jilbab rapat sering menuturkan keheranannya bagaimana dulu beliau tidak merasa malu mengenakan kebaya yang ketat, bergaris leher rendah, dan menerawang di beberapa bagian itu (biasanya lengan). Meski kemudian ibu membela diri dengan mengatakan bahwa toh dulu ‘semua orang’ melakukan hal yang sama.

Entah dari mana asal muasal jilbab seperti yang dikenal luas saat ini. Foto-foto para nyai zaman dahulu di beberapa pesantren yang pernah saya kunjungi menunjukkan gambaran yang kurang lebih sama: wanita-wanita bersanggul dengan selendang tersampir seadanya. Foto terlama yang pernah saya lihat menggambarkan perempuan berkerudung rapat adalah foto nenek buyut saya yang pernah bersekolah di Timur Tengah. Bentuk ‘jilbab’ yang dia kenakan tidak persis sama dengan jilbab zaman sekarang, lebih menyerupai kerudung resmi sekolah saya, namanya rubuk (semacam jilbab praktis yang sudah dijahit sedemikian rupa sehingga hanya menyisakan sebuah lubang yang agak sempit untuk wajah dan sebuah lubang lagi yang lebih lebar untuk sekeliling bahu). Meski demikian, anak perempuan buyut saya, alias nenek saya, tidak mengikuti jejak ibunya, sehingga lagi-lagi di album keluarga saya terpampanglah foto wanita bersanggul dengan balutan selendang lepas.

Dalam album foto keluarga saya, juga terlihat suatu fakta yang menarik. Pemakaian jilbab sepertinya baru marak sekitar tahun 90-an, paling tidak demikianlah fakta di dalam keluarga besar saya. Sebelum era 90-an, ibu, bulik-bulik, dan bude memakai kerudung biasa, atau bahkan tidak memakai penutup kepala sama sekali (ini berlaku terutama buat mereka yang belajar di sekolah umum). Perempuan-perempuan yang segenerasi dengan saya di dalam keluarga besar saya sebagian besar memang sudah mengenakan jilbab sejak mulai mencapai akil balig, tetapi mereka mencapai akil balig pada sekitaran tahun 90-an itu, atau bahkan lebih belakangan. Pada periode ini pulalah saya menyadari bahwa jilbab semakin menjadi tren. Pada tahun-tahun itu, tahun-tahun terakhir saya duduk di Madrasah Aliyah, penutup kepala yang lazim dikenakan para perempuan muda adalah jilbab. Para pemakai selendang lepasan atau kerpus hanya tinggal ibu-ibu atau wanita tua yang sudah tidak trendi, meskipun jilbab kami kadang juga masih memperlihatkan sebagian leher atau rambut bila ditiup angin.

Tren jilbab semakin lama semakin menguat, sedemikian kuatnya sampai-sampai saat ini kerudung lepas yang dulu dianggap memenuhi syarat sebagai penutup kepala seorang santri semakin dianggap tidak memadai. Para santri perempuan di pesantren saya sekarang tak boleh berkeliaran hanya mengenakan sehelai kain yang tersangkut seadanya. Orang-orang yang dahulu mengenakan selendang sekarang beralih mengenakan jilbab. Orang-orang yang dulu juga tidak berjilbab sekarang berjilbab dan mengecam orang-orang yang tidak berjilbab.

Di perguruan tinggi, saya kembali menemui jilbab. Tetapi kali ini segala sesuatunya sangat berbeda. Memang masih ada jilbab seperti yang saya kenal. Tapi juga ada jilbab yang tak saya kenal: Jilbab panjang, dan jilbab bercadar. Ada pula dunia non jilbab. (Waktu itu, jilbab “gaul” dan jilbab praktis dengan berbagai dekorasi dan gaya ikat belum banyak ditemui).  Tentu saja ketika masih di pesantren saya juga pernah berjumpa dengan wanita-wanita tak berjilbab, tetapi bagi saya dulu mereka adalah kelas inferior, masyarakat awam, semacam orang-orang yang belum ‘dibukakan pintu hatinya’. Sementara di kampus, tidak demikian halnya. Mereka semua adalah mahluk yang setara dengan saya.

Saat kuliah ini pula saya mendapati cara berjilbab yang terasa aneh bagi saya. Kali ini bukan bentuk jilbabnya, melainkan keketatan penggunaannya. Di lingkungan rumah saya, jilbab hanya digunakan untuk berpergian, menerima tamu, atau menghadiri acara. Tidaklah lazim di lingkungan rumah saya untuk berjilbab di dalam rumah, meskipun kadang-kadang ada lelaki bukan muhrim yang berseliweran, misalnya tukang sampah atau tukang bangunan yang sedang merenovasi rumah. Seorang teman saya bahkan pernah ditegur ayahnya ketika mengenakan jilbab saat menyapu halaman rumah. Bagi sang ayah, lingkungan rumah adalah lingkungan yang “aman”, yang tidak menuntut pemakaian jilbab.

Di lingkungan perguruan tinggi, saya mendapati teman-teman yang rajin berjilbab di mana pun mereka berada. Bahkan sekadar ke kamar mandi, bila ada kemungkinan bertemu pria bukan muhrim atau perempuan non-muslim. Kaus kaki yang tak lazim menjadi aksesoris pengguna jilbab di lingkungan rumah saya, ternyata merupakan pelengkap wajib bagi para pemakai jilbab di lingkungan perguruan tinggi. Lekuk telinga yang terlihat samar di balik jilbab pun bisa menjadi persoalan serius bagi mereka. Mereka yang mengenakan cadar, tentu memiliki peraturan yang lebih ketat lagi.

‘Keseriusan’ menyikapi jilbab ini terus-terang sempat membuat saya sedikit gentar. Sebenarnya dari segi fikih, penggunaan jilbab secara ketat ini boleh dibilang lebih tepat, lebih sesuai aturan. Namun rasanya tetap saja ada yang tidak sreg di hati karena bukan begini cara saya dibesarkan dalam memandang aturan agama. Memang aneh, lingkungan rumah saya yang lebih akrab dengan wacana keagamaan, termasuk fikih, ternyata lebih longgar dalam penerapannya dibandingkan dengan teman-teman saya yang rata-rata bukan berasal dari kalangan pesantren. Tetapi ini adalah awal dari kesadaran saya bahwa selama ini saya diajari untuk tidak  mentah-mentah mengadopsi doktrin agama, bahwa ada hal-hal semacam norma sosial atau kelaziman di masyarakat yang perlu dipertimbangkan dalam menerapkan aturan-aturan agama.

Saya juga baru menyadari bahwa ternyata ada cara pandang keagamaan yang berbeda-beda di balik jilbab-jilbab yang beraneka ragam ini. Saya mulai memahami jilbab sebagai bagian dari identitas. Cara seseorang berjilbab ternyata bisa dijadikan petunjuk kasar mengenai cara pandang keagamaannya. Barangkali memang sedikit menggeneralisasi, tetapi ada pola umum yang bisa dijadikan pegangan: bila saya ingin menemukan orang yang pemahamannya dalam hal keagamaan kurang lebih sama seperti saya, saya akan mencari mereka yang berjilbab kurang lebih sama seperti saya. Sesederhana itu.

Pemaknaan serta pemahaman saya terhadap jilbab terus mengalami perubahan, dan pada suatu titik saya merasa bahwa jilbab sebagaimana yang saya pahami selama ini bukanlah suatu keharusan agama. Namun demikian, selama beberapa waktu saya masih terus mengenakan jilbab, karena alasan saya memakai jilbab memang tidak pernah tunggal. Saya memakai jilbab tidak semata karena merasa bahwa inilah kehendak Tuhan, melainkan juga karena inilah kehendak orangtua dan lingkungan. Namun ada satu hal yang telah berubah: Jilbab bukan lagi satu-satunya pilihan yang terbuka bagi saya. []

Editor dan penerjemah lepas. Lahir dan besar di pesantren. Kini tinggal di Jogjakarta


Beranda  |  Kategory: Edisi 17 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia