Perempuan-Perempuan Ordo Ulakan

10 - Oct - 2009 | Ka’bati | No Comments »

Ketika fundamentalisme Islam menguat di Sumatera Barat, dengan salah satu indikasi munculnya Perda-perda bernuansa syariat, kita diingatkan lagi pada peristiwa gerakan kaum Paderi sebagai gerakan awal yang fundamental. Sejarah menunjukkan bahwa dalam kondisi sosial yang didominasi gerakan anti keberagaman perempuan biasanya benar-benar dimobilisasi untuk menyukseskan gerakan. Mereka juga menjadi instrumen penting dalam mensukseskan cita-cita perjuangannya. Kata-kata jihad menjadi penyemangat yang mengalirkan energi gerak luar biasa. Bahkan mampu menggerakkan hati untuk menumpahkan darah sesama saudara, menceraikan suami dan kerelaan di poligami. Dan memang pendekatan moralitas lengkap dengan perangkat patriarkisnya selalu mengiringi pergerakan yang bersifat fundamental ini. Dengan demikian perempuan sebagai pihak yang tersudordinat dengan mudah bisa dijadikan objek keinginan pelaku utama—yang pastinya didominasi laki-laki. Tetapi ketika kaum perempuan memilih bertahan dalam tradisi keislaman mereka yang tradisional dan berakar pada tradisi adat lama –di Sumatera Barat Islam tradisi ini identik dengan tariqat– yang dianggap kuno bahkan bercampur kemusyrikan, ternyata mereka tidak sepenuhnya bisa memiliki otoritas terhadap keyakinannya. Tetapi setidaknya tariqat bagi perempuan ditataran masyarakat bawah (kaum petani di pedesaan dan nelayan pinggiran) lebih akomodatif terhadap jiwa perempuan mereka.

Menarik memang mengamati dinamika kehidupan kaum perempuan dalam proses islamisasi di Sumatera Barat. Di daerah ini agama menjadi identitas masyarakat. Melekat kuatnya agama dalam kehidupan masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat pastilah memiliki akar sejarah yang panjang. Proses islamisasi di daerah ini sudah berlangsung lama. Walau terdapat ketidakpastian dalam catatan sejarah soal kapan pertama sekali penduduk asli Minangkabau mengenal Islam namun bisa dipastikan pada abad ke 17 Islam sudah dikenal luas di daerah ini.

Tidak ditemukan catatan sejarah soal kekerasan dan konflik sekitar masuknya Islam pertama sekali di Minangkabau. Sepertinya ajaran yang datang dari Semenanjung Arabia ini demikian saja diterima oleh masyarakat. Mungkin ini karena penyebarannya yang tidak bermuatan politik, tidak dengan senjata, ancaman atau bentuk kekerasan lainnya.

Christin Dobbin yang meneliti soal kebangkitan Islam dan gerakan Paderi di Minangkabau tahun 1784-1847 menemukan fakta bahwa persentuhan masyarakat Minangkabau dengan ajaran Islam berlangsung sangat alami. Masyarakat yang sebelumnya telah memiliki sistem kepercayaan sendiri merasa disempurnakan dengan kedatangan Islam. Ajaran Islam yang pertama dikenal masyarakat adalah persaudaraan sufi atau ordo tariqat.  Ada tiga ordo sufi di Minangkabau, yaitu Naksyabandiyah, Syattariyah dan Qaadariyah. Ketiganya memiliki ciri yang sama, diantaranya ketaatan pada guru, memiliki lembaga/institusi yang disebut surau tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar dan mentaati hirarki.[1] Walaupun tidak selalu harmonis tetapi kesamaan diantara ketiga ordo ini menjadi ikatan yang substansial. Dan yang pertama berkembang itu adalah tariqat Syattariyyah yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin dan berkembang di Ulakan atau yang dikenal dengan ordo Ulakan. Tekanan atas nama agama baru muncul ketika kaum Pederi memulai gerakan pemurnian Islam sekitar tahun 1803. Diawali dengan kepulangan beberapa orang ulama Islam — yang awalnya juga pengikut ordo sufi—dari Mekkah. Karena di Tanah Arab khususnya Kota Mekah kala itu berkembang ajaran Wahabi yang radikal dan cocok dengan jiwa para ulama Minangkabau tersebut. Mereka yang terpengaruh gerakan Wahabi tersebut kemudian pulang ke tanah airnya dan membuat gerakan yang serupa. Berupaya membasmi ajaran yang dianggap sesat seperti pemujaan terhadap guru, ziarah-ziarah ke makam ulama dan ibadat zikir dan doa yang dilafazkan bersama sambil menggoyangkan bagian tubuh. Mereka juga menyerang sistem budaya yang bercorak matrilinial dimana posisi perempuan di Minangkabau lebih tinggi dari laki-laki. Soal hak waris dan kepemilikan harta pusaka yang dikuasai perempuan, soal tata cara berpakaian dan kebiasaan-kebiasaan yang mereka anggab jahili seperti menyabung ayam, mengisap tembakau atau memakan sirih dikalangan perempuan. Bahkan Tuanku Nan Renceh, salah seorang tokoh Paderi yang terkenal berwatak keras itu dengan tega membunuh bibinya yang tidak bisa meninggalkan kebiasaan menyirih.

Gerakan Paderi kemudian mengalami kemunduran. Pada tahun1824, di desa-desa yang sebelumnya dikuasai oleh kaum paderi kembali ditemukan orang-orang perempaun yang makan sirih. Perempuan yang sebelumnya diwajibkan berpakaian ala Arab, baju longgar dengan penutup kepala yang hanya menampakkan bagian muka kemudian telah kembali berpakaian model lama, kebaya dan selendang kecil penutup kepala. Mereka yang sebelumnya juga dilarang memakai perhiasan dan sutera juga kembali memakainya. Ini menunjukkan betapa sesungguhnya mereka tertekan dengan gerakan fundamental kaum Paderi. Pada saat ini ordo-ordo tariqat kembali bangkit dan menjalankan sistem peribadatan mereka.

Yang menarik dari rangkaian islamisasi di Minangkabau  adalah soal gerakan pembaharuan dan modernisasi islam yang terus berlangsung. Modernisasi yang melahirkan konflik antara kaum modernis dengan kaum tradisional. Di daerah ini konflik antara islam yang modernis dengan Islam tradisional memiliki sejarah panjang pula, semenjak era Paderi bahkan sampai hari ini konfik tersebut masih terasa kental.

Walau sering mengalami kekalahan dan terpinggirkan, tetapi resistensi kaum tradisionalis Islam di Minangkabau–ordo tariqat yang berpusat di Ulakan Pariaman– masih kuat. Kebertahanan Ulakan sebagai pusat penyebaran islam tradisional (ordo Ulakan) sampai hari ini menunjukkan betapa kelompok Islam tradisional masih memiliki power.

Kelompok islam tradisional atau disebut juga sebagai  kaum kuno memiliki keunikan tradisi tersendiri. Sebagai kelompok yang mendasari iman mereka berdasarkan ketaatan pada guru-guru, ikatan batin antar sesama pengikut ajaran tariqat terasa kuat. Ini berbeda dengan kelompok Islam modernis yang bergerak melalui lembaga-lembaga formal ataupun organisasi-organisasi sosial. Walaupun kelompok tradisional dalam beberapa kasus terpaksa harus membentuk organisasi formal seperti pembentukan Perti dan sekolah-sekolah bercorak modern tetapi karena rohnya beda maka mereka tidak sukses mengelola organisasi tersebut. Setidaknya mereka tidak mampu menandingi kelompok Islam modernis dalam hal ini. Sifat ajaran tariqat yang sinkretis dan akomodatif terhadap tradisi lokal memungkinkan mereka bertahan di desa-desa sampai ke pedalaman Minangkabau. Agaknya apa yang disimpulkan Suryadi (2002:123) bahwa harmonisasi dalam kehidupan beragama dikalangan kaum tradisionalis ini lebih dimungkinkan lagi oleh sifat Tariqat yang berkembang di kawasan rantau Pariaman khususnya di Ulakan  yang sinkretis dan akomodatif terhadap tradisi lokal. Sebaliknya, menurutnya, yang sering terjadi justru konflik-konflik intern yang terkait dengan politik dan perebutan sumber-sumber ekonomi dan perdagangan. Ph.S. van Ronkel dalam laporannya (1916:8-9,15) juga mengatakan bahwa praktek beragama masyarakat  di kawasan ‘benedenlanden’ (pantai barat) memperlihatkan kecendrungan yang lebih konservatif dan dapat mengakomodasi adat sekaligus Islam. Dalam masyarakat seperti ini paham-paham yang radikal akan mengalami penjinakan. L.H. Osthoff yang mengunjungi Pariaman di tahun 1839-dua tahun setelah Bonjol, benteng terakhir Paderi jatuh ketangan Belanda—melaporkan bahwa di wilayah rantau ini tidak terlihat adanya bekas-bekas perang yang dahsyat seperti di darek. Penduduk tetap menjalankan agama dan adatnya dengan kuat, tak tampak adanya konflik intern yang dipicu oleh masalah keyakinan/agama (Osthoff 1845:9). Kajian-kajian tentang mazhab-mazhab dalam Islam menunjukkan bahwa radikalisme tumbuh di tempat-tempat yang penduduknya homogen (aliran wahabi di tanah arab lahir dari kalangan kaum Badui yang hidup di tengah gurun pasir); sebaliknya di tempat-tempat yang penduduknya heterogen, khususnya di kawasan pantai aliran seperti itu sulit berkembang.

Tetapi kemudian terbukti bahwa di desa-desa pedalaman Minangkabau dengan basis penduduk agraris kesetiaan pada ajaran tariqat tetap kuat. Modernisasi islam hanya terasa kentara di daerah perkotaan. Muhammadiyah sebagai icon pergerakan islam modern hanya kuat di daerah perkotaan seperti Bukittinggi, Padang Panjang atau Padang. PAN sebagai organisasi politik yang dibentuk oleh kelompok modernis ini juga hanya terasa kuat di daerah perkotaan. Sementara Perti dan PPP sebagai partai politik kaum tradisionalis lebih dominan di desa-desa. Ini lebih karena watak fanatisme yang dimiliki oleh kelompok tradisionalis ini.

Gerakan Paderi memang kental dengan nilai-nilai fundamentalis. Dalam Novel Bidadari Paderi yang ditulis oleh Saiful A. Imam [2] dapat dibaca bagaimana upaya-upaya kaum Paderi menerapkan ajaran Islam yang mereka sebut sebagai pemurnian tersebut. Untuk kepentingan pemurnian islam ini kaum perempuan dimobilisasi dan menjadi instrumen penting dalam mewujudkan sistem sosial yang mereka inginkan. Kaum Paderi mencoba meluruskan pemahaman masyarakat tradisional yang sebelumnya sudah memeluk islam juga tetapi mereka anggap sebagai Islam yang terkontaminasi dan tercampurbaur dengan syirik. Hegemoni Kaum Paderi berlangsung sangat keras. Pendekatan moralitas yang lengkap dengan atribut patriarkisnya tersebut membuat posisi perempuan tetap sebagai kelompok tersubordinat.

 

Munculnya Ordo Ulakan

Ulakan  sebuah desa di tepian Pantai Barat Pulau Sumatera, tepatnya berada dalam wilayah Kabupaten Padang Pariaman. Kampung (nagari) kecil ini menjadi terkenal karena merupakan jantung pertahanan kaum konservatif (tarekat) di Minangkabau. Setiap hari Rabu di Bulan Safar berlangsung perhelatan besar di daerah ini, khususnya di sekitaran makam Syekh Burhanuddin. Ribuan lebih orang datang meramaikan acara ziarah memperingati wafatnya sang ulama besar yang dianggap sebagai pengembang ajaran Islam di Sumatera Barat.

Dua orang ilmuan Belanda yang singgah di Ulakan dalam perjalanan mereka menyisiri pantai barat dari Padang ke Pariaman pada tahun 1833 mendeskripsikan keadaan Ulakan sebagai berikut:

De kampong Oelakan, behoorde tot het regentschap Priaman, bestaat uit een 25-tal bambozen hiuzen, die koel onder een kokosbosch, omtrent 2000 schreden van het zeestrand, gelegen zijn. Eertijds was dit dirp eene inlandsche strekte, die echter later door ons is geslecht geworden…De roode zandige grond, aldaar is klaarblijkelijk niet onvruchtbaar.

(S.Muller en L.Horner 1833)    

Menurutnya Kampung Ulakan yang termasuk regentschap Pariaman, terdiri dari sekitar 25 rumah bambu. Tempatnya dikelilingi oleh pepohonan kelapa, yang membuat sejuk, terletak sekitar 2000 langkah dari bibir pantai. Dulu kampung ini merupakan suatu strekte pribumi (pusat pengajaran Islam/pusat tareqat Syattariyah?), Tanahnya berpasir dan berwarna merah. Kemudian Belanda menduduki tempat tersebut, dan ternyata memiliki tanah yang berpasir dan berwarna merah di tempat itu cukup subur.[3]

Setelah hampir dua abad berlalu, Ulakan masih menampilkan wajah kumuh,sepi dan miskin. Gubuk-gubuk beratap rumbia masih tampak di sepanjang pantai. Beberapa rumah-rumah tembok model Eropa yang hoyong karena di goyang gempa yang sering terjadi sepanjang tahun, dibiarkan kusam. Beberapa bangunan baru memang tampak berdiri tetapi dengan selera yang sama. Dibangun sekenanya. Bahkan di pasir pantai masih ditemukan banyak kotoran manusia. Ini menunjukkan bahwa kesadaran akan perlunya kebersihan belum ada. Tidak semua rumah memiliki WC. Beberapa orang perempuan tua berkain sarung masih setia menjual rakik di sepanjang pantai dan pasar kecil di sekitar makan Syekh Burhanuddin sambil sesekali memercikkan ludah warna merah dari mulutnya yang mengunyah sirih. Hanya pada saat Basafa – kegiatan ziarah bersama yang dilakukan pengikut tariqat khususnya murid-murid Syekh Burhanuddin yang tersebar di seluruh dataran Minangkabau bahkan sampai ke Riau, Jambi dan Bengkulu—desa ini menjadi luarbiasa ramainya. Bulan Safar memang bulan yang ditunggu oleh masyarakat pantai Ulakan. Disaat itulah mereka bisa merayakan kegembiraan besar dengan menggeral dagangan dan mendapat keuntungan yang lumayan. Seperti para pedagang di Mekkah pada  musim haji. Seorang pedagang sate yang biasanya hanya bisa berjaul beli sekitar lima puluh ribu se hari, pada waktu basafa tersebut bisa mendapatkan uang sampai dua juta rupiah. Bahkan pemuda-pemuda pengangguran yang tinggal di desa tersebut juga bisa mendapatkan uang banyak dari usaha parkiran atau memunguti uang ‘keamanan’ dari para pedagang.

 

Tradisi Basafa dan Karakter Perempuan Pantai

Basafa sebuah perhelatan besar yang digelar di bulan Safar setiap tahunnya. Kegiatan ini merupakan ritual  masyarakat pesisir pantai yang berpusat di Ulakan Pariaman, yang berangkat dari keyakinan agama di kalangan pengikut tarikat di daerah ini. Diyakini oleh mereka para pengikut tariqat tersebut bahwa ziarah kemakam ulama dalam hal ini ulama pengembang agama Islam pertama di Sumatera Barat (Syekh Burhanuddin) sebagai suatu ibadah. Menghormati dan mematuhi guru adalah tangga menuju Allah. Tradisi ini membudaya dan menjadi sangat identik dengan masyarakat tariqat yang di Sumatera Barat ternyata masih cukup banyak pengikutnya dan ‘fanatik’. Bahkan kekuatan massa masyarakat tarikat ini juga tidak luput dari incaraan partai-partai politik. Pada penghujung kekuasaannya, tahun 2004 Megawati pernah datang ke Ulakan. Daerah kecil dan terpencil itu seakan hendak meledak karena ramainya pengunjung yang ingin menyaksikan kedatangan presiden perempuan tersebut. Kala itu berdekatan dengan moment kampanye pemilihan presiden dan Mega menyumbang dana pembangunan mesjid yang konon mencapai Rp1,5 M. Februari 2008 lalu Gus Dur dengan membawa nama PKB-nya juga berkunjung pada momen Basafa tetapi tidak memberikan sumbangan berupa materil hanya doa.

Basafa sebagai sebuah peristiwa budaya sesungguhnya merupakan konsepsi yang dibentuk secara kultural. Dan dalam kajian budaya peristiwa ini merupakan hasil dari proses panjang yang dialami oleh masyarakat yang kemudian menjadi identitas. Basafa adalah sebuah representasi masyarakat Minangkabau yang muncul dan mengakar di lapisan bawah. Sisi menarik lainnya adalah bahwa pelaku basafa dan pengikut tariqat ini kebanyakan kaum perempuan, yang di Minangkabau dengan masyarakat matriakhat-nya dipandang sebagai icon.   Di sebuah mesjid di Ulakan itu saja misalnya ketika saya berkunjung kesana pada tanggal 22/2/2008 sehari setelah acara basafa yang dihadiri Gus Dur, dari sekitar seratus orang jemaah shalat hanya sepuluh orang jemaah laki-laki selebihnya perempuan. Tidak ada seorangpun ulama perempuan atau tukang doa perempuan. Mereka hanya pengikut tetapi kesetiaannya cukup teruji. Mereka sangat ketat menjalankan ajaran yang mereka terima dari guru bahkan sampai pada hal-hal yang tidak rasional sekalipun seperti meminum air cucian tangan guru dan sebagainya.

Setelah kegiatan basafa yang berlangsung pada hari Rabu minggu ke dua dan ketiga bulan Safar itu usai maka desa kembali sepi. Surau-surau kecil yang mengelilingi makan Syekh tertutup rapat tanpa penghuni. Hanya beberapa saja yang terbuka dan dihuni perempuan-perempuan tua yang melakukan ibadat sholat empat puluh dan mengisi jeda waktu antar soalt Zuhur dan ashar dengan mengayam tikar pandan.

Pada abad ke 17, Ulakan memang terkenal sebagai pusat pengajaran Islam di Minangkabau. Daerah pesisir pantai barat, khususnya Pariaman dan Tiku merupakan daerah kunci untuk masuk ke daratan Minangkabau.

Masyarakat pantai adalah masyarakat heterogen dari segi etnis, budaya dan agama berbeda dengan darek yang dianggab homogen dan asli. Persentuhan orang pantai yang dengan orang asing melahirkan karakteristik  yang cukup berbeda dengan orang daerk. Adaptasi yang didorong oleh kontak yang intensif dengan orang asing seperti Aceh, Nias, Bugis, India, Cina, Madura, Arab dan orang-orang putih (Eropa). Beberapa bentuk dari sistem matrilinial yang berlaku di darat juga tidak dipatuhi di rantau ini. Seperti pemberian gelar Sidi, Bagindo atau Sutan yang merupagan gelar turunan dari Bapak hal yang tidak dikenal di darek dan merupakan warisan bangsa Arab. Juga dalam adat perkawinan yang dikenal dengan istilah ‘Jemputan’. Sesuatu yang mirip dengan kebiasaan di masyarakat India. Seperti jamaknya masyarakat pantai dengan topografi yang tidak sesubur  di daratan maka berdagang adalah pilihan karir yang banyak dilakoni masyarakatnya. Dan watak pedagang yang cendrung materialitik membuat perbedaan yang lain lagi dalam watak penduduknya. Ditengah suasan seperti itulah kemudian Syekh Burhanuddin melakukan gerakan pembaharuan dan memperkenalkan ajaran Islam dengan cara yang toleran. Sekembalinya dari Kotaraja Aceh- Tempat dia belajar agama kepada Syekh Abdurrauf Al-Singkili, ulama Aceh yang terkenal, Syekh Burhanuddin mendirikan surau di kampung halamannya, Ulakan Pariaman. Di surau inilah Burhanuddin melakukan pengajaran ilmu Islam dan mendidik beberapa orang muridnya yang kemudian menjadi ulama dan berperan penting dalam pengembangan ajaran Islam selanjutnya di Minangkabau.[4]

Hanya saja dalam banyak sejarah yang ada hampir tidak pernah dibahas tentang posisi perempuan dalam tradisi keberagamaan di Ordo Ulakan. Apakah mereka memang tidak punya tempat dalam sistem ajaran tariqat syattariyah tersebut atau karena memang peran mereka yang berada diluar lingkaran kekuasaan. Seperti saya singgung di atas bahwa sewaktu melakukan penelitian untuk kepentingan tulisan ini, saya melihat banyak sekali jemaah perempuan yang hadir di sekitar makam Syekh Burhanuddin. Jumlah mereka mendominasi, tetapi mereja jelas tidak dilibatkan selaku penguasa. Sebagai masyarakat pantai, perempuan di Ulakan sebenarnya memiliki karakter yang kuat, seperti digambarkan seorang peneliti Belanda Boelhouwer yang dikutip Suryadi:

Ketika masyarakat darek kebanyakan sudah memakai pakaian gaya Arab- wanita bercadar, pria bersorban, berjubah putih panjang dan memelihara jenggot—karena dipaksa oleh kaum Paderi, orang Pariaman yang sudah lebih dahulu dari pada orang darek memeluk Islam justru masih berpakaian menurut adat lama mereka. Sebagaimana yang disaksikan Boelhouwer, pada masa itu kaum wanita di Pariaman tetap memiliki kebebasan dalam berpakaian menurut adat mereka. Mereka memakai anting dari tulang dengan lobang kuping yang besar (makin besar lobang itu makin bagus). Kaum wanita dari kelas tinggi memakai emas dan intan, sebuah gaya yang radikal yang- meminjam kata-kata Boelhouwer lagi- “Tidak akan pernah dipraktekkan oleh wanita Eropa yang paling gila mode sekalipun.”[5]

Kehidupan profan tidak membuat mereka jadi membangkang pada ajaran guru sufinya. Salah seorang jamaah yang saya wawancarai januna mengaku dia merasa lebih tentram tinggal di Ulakan dan mengikuti kegiatan peribadatan ditempat tersebut. Mantan residivis yang membunuh mamak (paman)nya karena kasus harta pusaka dan telah kawin cerai sebanyak tiga kali ini mengaku lebih aman kalau berada dekat dengan Syekh atau yang juga disebut tuanku. Zamani, perempuan 50 tahun yang masih menyimpan bekas kecantikan di wajahnya itu uga mengaku tenang di Ulakan. Gaya tuanku mengajarkan agama pada mereka menurutnya sesuai dengan jiwa dan tradisi yang lama mereka anut.

“Saya pernah juga berguru dengan kelompok maju. Tetapi terasa banyak sekali aturannya. Kita seakan-akan dibuatnya jadi orang yang tak tahu sama sekalii, bodoh dan berdosa.” Tuturnya.

 

Kesimpulan 

 

Dalam banyak hal ruang bagi perempuan untuk mengendalikan keyakian mereka sering dibatasi. Sistem yang ada memang menempatkan perempuan tak lebih dari bagian yang subordinat. Baik dalam kelompok Islam modernis maupun pada tataran masyarakat Islam tradisional. Jalan sufi yang seharusnya menghantarkan manusia pada tuhan dan membaskan manusia berdialog secara individu masih saja harus melewati kontrol yang ketat dari sistem yang diciptakan laki-laki. Syekh, Tuangku, labai, katib semuanya laki-laki yang harus didoakan sebelum kita mendoakan diri sendiri. Bagaimanapun, perempuan membutuhkan agama dan ajaran yang toleran. Dan kalau pilihannya hanya sedikit maka tentu mereka memilih yang lebih dekat dengan tradisi mereka.

Catatan Belakang

1. Keterangan lebih rinci mengenai hal ini dapat dilihat dalam Christine Dobin; Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Paderi Minangkabau 1784-1847, Komunitas Bambu, 2008.

2. Saiful A.Imam, Bidadari Paderi, Republika 2007

3. Gambaran mengenai kondisi geografis Ulakan ini dapat dibaca dalam buku yang ditulis Suryadi; Syair Sunur (Teks dan Konteks Outobiografi Seorang Ulama Minangkabau Abad ke-19), hal 121. Hal serupa juga dipaparkan Christine Dobbin dalam buku Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri (minangkabau 1784-1847), hal 71.

4. Azyumardi Azra, Surau Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi, hal 9. Dia juga menyandarkan pendaptnya pada hasil penelitian Mahmud yunus tentang sejarah pendidikan Islam di Indonesia (1979).

5.Saya menemukan keterangan ini dalam buku yang ditulis oleh Suryadi:Syair Sunur, Teks dan Konteks ‘Outobiografi’ Seorang Ulama Minangkabau Abad ke-19, PPIM  2004 hal 123. Catatan sejarah ini cukup menarik untuk ditelusuri. J.C. Boelhouwer menuliskan kesaksian itu dalam tulisan berjudul Herinneringen van Mijn Verblijf op Sumatra’s Westkust Gedurende de Jaren 1831-1834 tahun 1841. Ketika melakukan perjalanan ke daerah Ulakan dan desa-desa disekitar pesisir pantai Pariaman bulan Februari- Juni 2008 lalu saya lebih tertarik memperhatikan perempuan di daerah tersebut. Dan ternyata sosok seperti yang digambarkan dalam tulisan di atas masih bisa ditemukan. Beberapa orang perempaun tua yang saya ajak bicara dengan bangga menunjukkan telinga mereka yang berlobang besar dengan anting emas yang teoyang genit.

Alumni Fakultas Dakwah IAIN Imam Bonjol Padang


[1] Keterangan lebih rinci mengenai hal ini dapat dilihat dalam Christine Dobin; Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Paderi Minangkabau 1784-1847, Komunitas Bambu, 2008.

[2] Saiful A.Imam, Bidadari Paderi, Republika 2007

[3] Gambaran mengenai kondisi geografis Ulakan ini dapat dibaca dalam buku yang ditulis Suryadi; Syair Sunur (Teks dan Konteks Outobiografi Seorang Ulama Minangkabau Abad ke-19), hal 121. Hal serupa juga dipaparkan Christine Dobbin dalam buku Gejolak Ekonomi, Kebangkitan Islam dan Gerakan Padri (minangkabau 1784-1847), hal 71.

[4] Azyumardi Azra, Surau Pendidikan Islam Tradisional dalam Transisi dan Modernisasi, hal 9. Dia juga menyandarkan pendaptnya pada hasil penelitian Mahmud yunus tentang sejarah pendidikan Islam di Indonesia (1979).

[5] Saya menemukan keterangan ini dalam buku yang ditulis oleh Suryadi:Syair Sunur, Teks dan Konteks ‘Outobiografi’ Seorang Ulama Minangkabau Abad ke-19, PPIM  2004 hal 123. Catatan sejarah ini cukup menarik untuk ditelusuri. J.C. Boelhouwer menuliskan kesaksian itu dalam tulisan berjudul Herinneringen van Mijn Verblijf op Sumatra’s Westkust Gedurende de Jaren 1831-1834 tahun 1841. Ketika melakukan perjalanan ke daerah Ulakan dan desa-desa disekitar pesisir pantai Pariaman bulan Februari- Juni 2008 lalu saya lebih tertarik memperhatikan perempuan di daerah tersebut. Dan ternyata sosok seperti yang digambarkan dalam tulisan di atas masih bisa ditemukan. Beberapa orang perempaun tua yang saya ajak bicara dengan bangga menunjukkan telinga mereka yang berlobang besar dengan anting emas yang teoyang genit.


Beranda  |  Kategory: Edisi 17 , Uncategorized | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia