Jilbabisasi Atas Hati, Bukan Tubuh Yang Penting Asketisme dan Disiplin Diri Perempuan Sufi

10 - Oct - 2009 | Luthfi Makhasin | No Comments »

Ketika beberapa bulan yang lalu saya diminta seorang teman menulis tentang konsep jilbab di kalangan perempuan penganut tarekat, tanpa pikir panjang saya menyanggupinya. Alasan yang pertama dan paling utama, saya menganggap ini topik yang familiar dan ‘mudah’ karena masih dekat dengan topik riset saya beberapa tahun yang lewat. Disamping itu saya menganggap topik ini pada dasarnya memang sangat menarik.

            Dua bulan berlalu saya melewatinya dengan rasa gundah, tidak pede, dan perasaan tidak enak yang semakin hari semakin ‘parah’. Saya disadarkan bahwa ‘kesembronoan’ saya untuk menerima tawaran (tantangan?) teman saya itu tidak imbang dengan kemampuan otak saya yang hanya pas-pasan. Belakangan saya ‘menyesal’ dipaksa menulis topik yang benar-benar di luar kemampuan. Tapi apa boleh buat? Kalau saya mundur pastilah saya akan mengecewakan teman saya yang baik hati itu. Jadi inilah hasil kenekatan saya menulis.

 

***

Seorang antropolog kondang asal Amerika, Bob Hefner, satu waktu pernah menulis bahwa jilbab dan pakaian penutup aurat sejenisnya yang sekarang banyak dijumpai dikenakan oleh kaum perempuan di Indonesia adalah penanda luar dari proses Islamisasi mendalam yang sedang melanda masyarakat Indonesia sekarang ini. Tentu saja saya tidak dalam kapasitas untuk berdebat tentang sahih tidaknya tesis jilbab dan Islamisasi ini. Yang menarik bagi saya adalah bahwa pandangan ini dan banyak pandangan lain yang kemudian mengamininya tidak memberikan penjelasan apapun tentang bagaimana sebenarnya persoalan jilbab dan jilbabisasi ini dipahami oleh pemakainya.

             

Hal yang paling menarik tentang jilbab adalah bahwa, bahkan di antaranya pemakainya sendiri, tidak ada pemaknaan yang seragam tentangnya. Sebagian orang mengenakannya secara ala kadarnya dan bahkan cenderung ‘provokatif’ (baca: jilbab gaul). Sebagian lagi mengenakannya secara ‘moderat’, tidak ketinggalan mode tapi juga tidak mengabaikan kaidah syar’i.  Sementara sebagian kecil yang lain cenderung terlalu bersemangat dengan pilihan jilbab yang ‘kedodoran’ bahkan kadang kala ditambah dengan burka.

 

Melihat beragamnya model dan gaya orang berjilbab maka mengaitkan jilbab dengan Islamisasi menjadi kesimpulan yang tergesa-gesa atau dalam istilah seorang teman disebut sebagai kesimpulan yang terlalu melompat (baca: jumping). Tulisan ini ingin mulai dari hal yang ‘bersahaja’, menjelaskan jilbab sebagai sebuah manifestasi asketisme dan pendisiplinan atas tubuh, serta bangkitnya religiusitas sebagaimana yang saya amati dan temui di kalangan penganut tarekat.

 

Beberapa bulan yang lalu saya terlibat dalam diskusi seru dengan seorang teman dan juga guru saya melalui e-mail. Kebetulan dia sedang melakukan riset tentang bangkitnya gerakan Islam radikal di Indonesia. Ada beberapa bagian dari gagasannya yang harus saya tulis utuh. Dia mengatakan bahwa “saat ini orang tidak lagi menjadikan pertarungan ideologi, politik, ekonomi dan budaya sebagai yang paling utama. Wilayah pertarungan dan konflik telah berubah dari ruang publik (public domain) ke wilayah yang sangat pribadi (private domain) yang dia identifikasi sebagai tubuh (body). Badan wadag telah menjadi medan kontes yang paling utama dimana relasi kekuasaan diterapkan untuk kepentingan eksploitasi dan akumulasi keuntungan dengan kesenangan/kenikmatan (pleasure) sebagai komoditi utamanya.

 

Berkembang suburnya industri mode/fashion, farmasi, hiburan/entertainment, kosmetik, media, dan lainnya sekarang ini misalnya adalah contoh nyata bagaimana mekanisme eksploitasi atas tubuh ini dijalankan. Industri semacam ini (dan sistem pasar secara keseluruhan) bertahan hidup karena kemampuannya untuk memberikan definisi tunggal tentang makna kecantikan, ketampanan, dan kesehatan atas tubuh konsumennya. Penerimaan sukarela (dan lebih sering terpaksa) atas definisi tunggal tentang tubuh inilah yang menjadi tolak ukur utama bagaimana akumulasi keuntungan bisa dijalankan.

 

Cara-cara persuasif (iklan?) dan kadang ‘kekerasan’ (pornografi?) untuk memberikan makna tunggal atas tubuh membuat setiap orang cenderung kehilangan otonomi dan kontrol atas dirinya. Hasrat untuk melakukan klaim kembali atas otonomi dan kontrol diri inilah yang pada akhirnya menjadi perlawanan yang bersifat subversif terhadap pasar.”

 

Bagi teman saya, jilbab apa pun model dan bentuknya itu sama ‘porno’-nya dengan orang yang mengenakan pakaian ketat, baju renang atau bahkan bikini dua lapis seperti yang jamak saya temui di Bondi Beach (pantai nudis terkenal di Australia) dulu. Bagi saya yang sedikit-banyak pernah ‘ngaji”, pandangan seperti ini tentu saja terlalu ‘ekstrem’. Kalau diteruskan, teman saya ini pastilah akan bilang Ibu saya yang tidak pernah melewatkan sholat malam untuk mendoakan anak-anak tercintanya sama halnya dengan teman-teman gaul saya yang tidak pernah melewatkan begadang semalam suntuk di diskotik tiap malam minggu. 

 

Pada titik inilah diskusi kami ada di persimpangan jalan. Kami punya kesimpulan yang sama tapi dengan alasan yang berbeda. Seperti juga teman saya, saya percaya bahwa mode berpakaian seperti jilbab bisa dimaknai sebagai upaya orang (agency) untuk mengklaim kembali kontrol atas tubuh dan juga otonomi dirinya atau dalam istilah teman saya ‘memulai dari perilaku asketis untuk kemudian berakhir dengan perayaan atas tubuh”.

 

Yang tidak bisa saya terima dari teman saya itu adalah pandangan bahwa jilbab hanyalah modus resistensi atas pengaruh dan represi pasar. Menurut saya pandangan ini terlalu menyederhanakan persoalan. Jelas bahwa tatanan pasar kontemporer menciptakan efek negatif dan destruktifnya sendiri yang membuat setiap orang merasa wajib untuk melawannya. Tapi kalau hanya itu alasannya orang melawan, maka apapun model perlawanan yang dilakukan, pada akhirnya akan terjebak dalam mekanisme eksploitatif dan akumulasi keuntungan yang dikembangkan pasar. Kecenderungan komodifikasi terhadap jilbab sekarang ini dapat menjadi indikasi.

 

Popularitas jilbab bagi industri mode/fashion sekarang adalah lahan mencari uang yang sama-sama menggiurkan seperti halnya bikini dan mode pakaian seksi lainnya. Labelisasi “islami’ terhadap mode berpakaian dan segala bentuk produk konsumen seperti yang jamak kita saksikan saat ini menunjukkan betapa modus resistensi yang awalnya kreatif ini akhirnya juga harus tunduk pada logika komodifikasi dan akumulasi pasar.

 

Menurut saya, hal ini terjadi karena pemakai jilbab dengan sukarela (atau juga terpaksa) berusaha untuk melepaskan jilbab dari referensi ‘teologis’-nya, hal yang tidak terjadi di kalangan penganut sufi. Bagi penganut sufi, ucapan dan perbuatan (termasuk berpakaian) adalah dua hal yang akan dimintai pertanggungjawaban di kehidupan yang lain (akherat). Sehingga kontrol atas dua hal ini menjadi prinsip pemandu dalam hidup sehari-hari mereka. Bagi pengikut kalangan ini, gaya hidup asketis yang menjadi dasar ajaran mereka memang menjadikan kontrol atas tubuh adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar. Cara berpakaian seperti mengenakan juga tidak lepas dari perilaku asketis ini.

 

Menariknya, pemaknaan mereka terhadap jilbab tidaklah kaku dan tidak tunggal. Jilbab bagi mereka tidak sekedar pakaian fisik penutup aurat tapi lebih penting dari itu adalah ‘pakaian’ yang menutup dan melindungi hati. Dalam beberapa kesempatan ketika bertemu dengan penganut tarekat saya seringkali mendengar ungkapan, “ora ana gunane jilbab rapet nek laku karo ucapane ora bener” (tidak ada gunanya jilbab yang rapat menutup tubuh  jika perilaku dan ucapannya tidak benar). Belakangan saya baru sadar, mungkin itu alasan kenapa di kalangan tarekat yang pernah saya temui di Sokaraja tidak semuanya mengenakan jilbab dalam pengertian secara fisik.

 

Sufisme menurut saya menawarkan bentuk perlawanan yang unik karena kemampuannya untuk menawarkan modus baru kontrol total atas tubuh dan otonomi diri tanpa harus terjebak dalam komodifikasi dan reproduksi pasar. Sementara teman saya berpandangan bahwa jilbab dan jilbabisasi hanyalah sekedar cara melawan kekuasaan tuhan-tuhan kecil yang menopang jalannya mekanisme pasar, bagi saya jilbab adalah simbolisasi untuk melawan tuhan-tuhan kecil ini untuk kemudian berakhir dengan ketundukan pada Tuhan yang besar dan tunggal, karena saya percaya spiritualisme Sufi adalah modus perlawanan yang paling subversif dan canggih terhadap kekuasaan pasar yang menindas.

 

 

 

 

Luthfi Makhasin. Pengajar di Jurusan Ilmu Politik UNSOED Purwokerto, anggota Perkumpulan Lafadl Initiatives.

 

 

 

 

 


Beranda  |  Kategory: Edisi 17 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia