Dari “Scarf” hingga “Khumaira”: Sepenggal Cerita Tentang Bisnis Jilbab

10 - Jun - 2009 | Ahmad Sabir, Franciska Anistiyati dan Kelik Prirahayanto | No Comments »

“Ini wajib, tapi juga gaul.”

Demikianlah sepotong tanggapan ringkas dari Tuti (27 tahun), mahasiswi S2 sebuah universitas negeri terkenal di Yogyakarta, ketika ditanyai soal alasannya menjadikan jilbab sebagai busananya sehari-hari. Meski singkat, beberapa patah kata dari Tuti tersebut barangkali merupakan pengakuan yang jujur, mewakili suara—tidak semua, tentu saja—perempuan Muslim Indonesia lain yang juga berjilbab. Selain itu, jawaban Tuti tadi bisa dikatakan pula sebagai semacam rangkuman terhadap dua hal yang sejauh ini memengaruhi praktik berjilbab para perempuan Muslim negeri ini, yakni jilbab sebagai bagian dari kewajiban agama di satu sisi serta jilbab sebagai bagian dari fesyen  pada sisi yang lain.

Para pemeluk Islam taat serta puritan adalah kalangan yang galib memandang berjilbab sebagai sebuah kewajiban agama. Menurut golongan ini, berjilbab merupakan sesuatu yang harus dikerjakan oleh setiap Muslimah. Ia merupakan wujud dari tindakan menjaga atau menutup aurat, juga sekaligus salah satu bukti ketundukan total seorang perempuan beriman kepada Allah. Jilbab yang menudungi kepala serta pakaian yang membungkus sekujur badan —sekedar menyisakan wajah, telapak tangan dan telapak kaki sebagai sedikit anggota raga yang tak tertabiri— lantas memiliki posisi yang istimewa di mata serta hati kalangan Muslim taat dan puritan. Kedua hal tadi dipandang sebagai bentuk pakaian yang paling ideal untuk seorang Muslimah. Banyak pihak dalam kalangan Muslim taat dan puritan masih pula mensyaratkan jilbab yang dikenakan seorang perempuan mustilah panjang menjuntai menutupi bahu serta dada, sedangkan pakaian selebihnya haruslah longgar dan menyamarkan bentuk tubuh. Sejumlah pihak bahkan menghendaki para Muslimah untuk mengenakan jubah besar, selalu memakai kaus tangan dan kaus kaki warna gelap, pula memasang kain cadar penutup wajah.

Bagian dari Mode atau Fesyen

Pemakaian jilbab di kalangan perempuan Muslim Indonesia saat ini pada kenyataannya tak lagi bisa digolongkan sebagai sekedar sebuah tindakan menjaga atau menutup aurat. Jilbab justru telah menjadi semacam ikon penting yang pancaran citranya mampu menjangkau area-area yang berada jauh di luar teritori syariat. Jilbab telah bermain-main sebagai bagian dari mode atau fesyen. Jilbab bahkan menjadi sebuah komoditas yang dikonsumsi secara massal. Keberadaan jilbab pada area-area tersebut boleh dibilang memang tak pernah menjadi sesuatu yang memenangkan restu pada tataran wacana. Banyak di antara kalangan Muslim acap menggolongkannya sebagai sebentuk penyimpangan. Jilbab-jilbab modis yang dibuat di dalam pengaruh kaidah-kaidah dunia fesyen pun tak jarang dicela sebagai jilbab-jilbab yang tidak shar’i, kurang sesuai syariat Islam.

Hanya saja, suka atau tidak suka, jilbab-jilbab modis yang “tidak shar’i itu justru secara de facto menjadi arustama dalam praktik berjilbab di Indonesia. Populasi dari pengguna jilbab-jilbab modis sejauh ini tampaknya jauh lebih banyak dibanding pengguna dari jilbab-jilbab shar’i. Hal tersebut kiranya memiliki sangkut paut erat dengan perkara tampilan. Jilbab-jilbab modis yang bertampilan cantik dan semarak dalam hal ragam tentu saja lebih menarik di mata kebanyakan perempuan ketimbang jilbab-jilbab panjang  yang karena selalu mencoba mematuhi dengan kaidah “menutupi aurat dan menyamarkan lekuk tubuh” lantas cenderung sederhana serta monoton.

Pilihan untuk bersedia berkompromi dengan dunia fesyen, yang cenderung berorientasi kepada pasar dan gaya hidup, menjadikan jilbab-jilbab modis memunyai kekuatan penetrasi terhadap pasar yang luas. Ia menjadi sebentuk ikon yang menawarkan citra bersifat two in one, religius serta sekaligus fashionable. Dengan karakter semacam ini, jilbab-jilbab modis sejatinya merupakan kekuatan penting yang berjasa besar bagi meluasnya penggunaan jilbab di Indonesia dalam dua hingga tiga dekade terakhir. Karena keberadaannya pulalah perspektif masyarakat Indonesia terhadap jilbab akhirnya berubah, dari semula bercitra minus selaku simbol kedekadenan serta fundamentalisme agama menjadi bercitra positif sebagai simbol kemodernan tanpa harus kehilangan religiusitas.  Dengan mengenakan jilbab, seorang perempuan muslim akan merasa menjadi bagian dari kemodernan dan kemajuan tanpa kehilangan perasaan sebagai muslimah yang saleh. Adakah yang lebih menarik dari itu?

Mengukur Jumlah dan Semarak

            Jika menyimak perkembangannya dalam dua hingga tiga dekade terakhir, kekuatan penetrasi pasar yang dimiliki oleh jilbab, khususnya dari jenis-jenis modis, memang menakjubkan. Jilbab yang pada sekitar tiga dasawarsa silam sebatas dikenakan segelintir pihak di negeri ini, yakni antara lain aktivis-aktivis perempuan dari kelompok-kelompok resistensi Islam di sejumlah kampus, kini menjadi busana semua lapisan perempuan Muslim, muda maupun tua, anak maupun dewasa, ekonomi atas maupun ekonomi bawah, juga terdidik maupun tidak. Besarnya jumlah pemakai jilbab, setidaknya di kalangan berusia muda, sedikit banyak bisa dicerminkan oleh peningkatan signifikan pemakai jilbab di lingkungan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta antara 1991 hingga 2006 (Baca: Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu).

Besarnya jumlah pedagang yang kini ikut bermain di bisnis jilbab dan pakaian Muslim merupakan hal lain yang dapat dipakai untuk mengintip besarnya jumlah pengguna jilbab saat ini selaku pasar mereka. Sebab, jika sedikit merujuk kepada dalil-dalil dasar hukum ekonomi, suatu penawaran yang besar atas suatu produk biasanya memiliki keterkaitan erat dengan permintaan yang besar pula terhadap produk yang bersangkutan tersebut.

Untuk mengukur semarak dari bisnis jilbab dan busana Muslim, Solo dan Yogyakarta kiranya dapat dipakai sebagai dua barometer rujukan. Solo pantas dipilih karena kota ini secara tradisional menjadi pusat perdagangan penting komoditi tekstil dan garmen, khususnya batik, di pedalaman Jawa bagian tengah. Untuk Yogyakarta, kota ini perlu dibicarakan secara khusus karena setidaknya dua alasan. Pertama, kota ini selalu menjadi tempat persemaian gerakan berjilbab di kalangan perempuan Muslim Jawa, yakni pada sekitar dekade 1910-an dan 1920-an, juga pada akhir 1970-an serta sepanjang dekade 1980-an. Kedua, Yogyakarta pernah membuka mata kota-kota tetangga di sekitarnya pada akhir 1980-an tentang prospek menarik dari bisnis busana Muslim serta jilbab, yakni ditandai dengan pendirian Al Fath, butik besar busana Muslim yang saat ini telah memiliki jaringan cabang di empat kota lain di Jawa.

Beteng Plasa, PGS dan Pasar Klewer        

Jantung bisnis jilbab serta busana Muslim di Solo tetaplah tiga pusat grosir tekstil dan garmen milik kota bengawan ini, yaitu Beteng Plasa dan PGS (Pusat Grosir Solo) yang berlokasi di ujung timur Jalan Slamet Riyadi, juga Pasar Klewer nan legendaris di sebelah barat Keraton Kasunanan Surakarta. Kios maupun lapak-lapak yang menjual jilbab serta busana Muslim dapat dengan mudah dijumpai di ketiga tempat tersebut. Di Beteng Plasa, para pedagang busana Muslim dan jilbab menempati kira-kira seperenam dari seluruh areal berniaga yang ada. Mereka itu terkonsentrasi di sisi barat lantai I, membentuk deretan kios yang menyerupai huruf U. Beteng Plasa sendiri terdiri atas tiga lantai, yang masing-masing lantainya berukuran sekitar 70 X 70 meter, dengan kios-kios jualan yang rata-rata berukuran sekitar 3 X 3 meter. Di PGS yang berukuran sedikit lebih besar dan terletak tepat di sebelah barat Beteng Plasa, para pedagang busana Muslim dan jilbab tersebar pada keempat lantai yang ada. Akan tetapi, mereka itu jika dikumpulkan menjadi satu bakal lebih dari cukup untuk memenuhi satu lantai PGS. Pedagang jilbab dan busana Muslim di Pasar Klewer tidaklah sebanyak jumlah kawan sejawatnya di Beteng atau PGS. Namun, mereka ini bisa ditemukan di kedua lantai yang ada di Pasar Klewer. Dagangan mereka dipajang dalam kios-kios maupun digelar oprokan di emperan serta koridor pasar.  

Baik Beteng Plasa, PGS maupun Klewer merupakan simpul-simpul yang memfasilitasi perdagangan jilbab dan busana Muslim antar daaerah. Jilbab-jilbab serta busana Muslim yang diperjualbelikan di ketiga sentra perdagangan tersebut berasal dari produsen lokal Solo, juga dari produsen-produsen dari sejumlah kota lain di  Jawa. Kota-kota tersebut antara lain Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, Demak, Semarang, Salatiga dan Boyolali. Setiap harinya ada puluhan produsen busana Muslim dan jilbab memasok barang ke Beteng Plasa, PGS maupun Klewer. Hal ini membuat para pedagang di tiga pusat grosir tak perlu repot dalam urusan mendapatkan dagangan baru. Dari Beteng Plasa, PGS maupun, busana Muslim dan jilbab-jilbab menyebar ke gerai-gerai kecil di seluruh penjuru Solo, berbagai daerah di seputaran eks Karisidenan Surakarta, sejumlah tempat di Luar Jawa, bahkan ada pula yang dikirim hingga ke negeri jiran, Malaysia. Para pedagang busana Muslim dan jilbab di Beteng Plasa dan PGS, khususnya yang berada di koios-kios kecil, rata-rata mengaku bisa menjual jilbab setidaknya 2 hingga 10 kodi (40 sampai 200 potong) dalam sehari, tergantung pesanan dan musim. Hari-hari menjelang Lebaran seperti biasanya disebut para padagang jilbab dan busana Muslim sebagai waktu pembelian yang paling ramai.

Kisaran harga jilbab di Beteng Plasa, PGS dan Klewer bervariasi mulai dari Rp 10 ribu sampai dengan Rp 100 ribu. Rentang harga tersebut terjadi karena jilbab memang terbagi ke dalam tingkatan kelas berdasarkan kualitas bahan dan kerumitan pembuatannya. Harga tinggi sebagai contohnya terbuat dari bahan sutera Cina. Jilbab jenis ini tak semua semua kios menyediakannya. Pembelinya pun tentu saja tak sebanyak jilbab-jilbab yang berbandrol murah.  

”Jilbab yang paling banyak diminati harganya sekitar 25 ribu rupiah”, ungkap Martin, salah seorang pemilik kios jilbab di PGS.

Raja Murah, Toko Flora dan Al Fath

Tentang bisnis jilbab serta busana Muslim di Yogyakarta, ada tiga tempat yang kiranya perlu ditinjau. Mereka ini boleh dibilang mewakili sejarah serta geliat dari bisnis satu ini. Tempat pertama tersebut adalah grosir jilbab Raja Murah di Pasar Beringharjo. Tempat kedua adalah Toko Flora di Jalan Kusumanegara no. 143-145. Tempat ketiga adalah Pusat Khazanah Muslim Al Fath di bilangan Malioboro, bagian rantai bisnis Grup Margaria milik Herry Zudianto, Walikota Yogyakarta.

Di antara mereka yang bergerak di dalam bisnis jilbab serta pakaian Muslim di Yogyakarta, grosir jilbab Raja Murah kiranya tergolong sebagai pemain kawakan atau bahkan pionir. Raja Murah adalah sebuah usaha keluarga yang berdiri sejak awal 1970-an, jauh sebelum jilbab menjadi sebuah tren seperti belakangan ini. Raja Murah awalnya menjual aneka ragam busana muslim dan perlengkapan ibadah muslim. Jilbab waktu itu menjadi salah satu item dagangan saja. Namun, mulai tahun 1994 Raja Murah memilih mengkhususkan diri pada aktivitas berjualan jilbab. Pilihan strategi bisnis ini akhirnya berbuah manis. Raja Murah kini berhasil mencatatkan dirinya sebagai grosir jilbab yang penting dan laris di kota Yogyakarta. Bagi usaha grosir yang masih tetap melayani pembelian secara ecerean itu, lokasinya yang sedikit tersembunyi di pojokan lantai III Pasar Beringharjo sama sekali tak menjadi halangan dalam urusan menggaet pembeli. Menurut pengakuan David (28 tahun), generasi ketiga pemilik Raja Murah, usaha grosir tersebut rata-rata bisa menjual 280 kodi jilbab alias 5600 potong saban harinya.

Dua wakil lainnya dari bisnis busana Muslim Yogyakarta, Toko Flora dan Al-Fath, merupakan tempat-tempat yang mengusung konsep belanja sekali henti bagi segala pernak-pernik berbau islami. Jadi, selain berdagang berbagai jenis pakaian Muslim, mereka itu juga menjual Al Quran, buku-buku Islam, sajadah, album lagu rohani Islam, mahar perkawinan, juga aneka oleh-oleh haji semacam air zamzam dari Mekkah. Meski demikian, busana Muslim dan khususnya lagi jilbab memang menjadi barang dagangan dengan porsi yang dominan.

Toko Flora pada medio hingga penghujung tahun 1980-an pernah begitu tersohor di seantero Yogyakarta sebagai toko busana Muslim yang bergengsi. Kala itu, Toko Flora boleh dibilang merupakan rujukan utama warga Yogyakarta dan seputarannya ketika mencari busana Muslim, khususnya jilbab. Hal ini diingat dengan baik oleh Nur Faidati (26 tahun), warga asli daerah Mlangi, sebuah kampung di sebelah barat kota Yogyakarta yang memiliki sejumlah pondok pesantren dan dikenal luas sejak lama sebagai kantong pemukiman para pemeluk Islam taat. Menurut gadis berjilbab tersebut, keluarganya serta para tetangganya dahulu kerap menyambangi Toko Flora, terutama ketika menjelang Idul Fitri dan Idul Adha, untuk mencari berbagai pernak-pernak berbau islami, termasuk di antaranya pakaian Muslim semacam jilbab serta baju koko.

Di Yogyakarta pada medio 1980-an, Toko Flora memang tercatat sebagai toko besar pada ruas jalan protokol yang pertama kali menggarap usaha penjualan busana Muslim dan pernak-pernak islami dengan cukup serius. Pada pertengahan tahun 1980-an boleh dibilang tak banyak tempat memiliki bagian penjualan busana Muslim dan pernak-pernak islami yang sebesar serta sevariatif yang dipunyai Toko Flora. Perlu diketahui pula bahwa dari awal berdirinya sampai sekarang, toko milik pasangan A.R. Iskandar dan Latifah Iskandar ini tidak semata berjualan busana Muslim serta pernak-pernak islami, tetapi berdagang barang kelontong serta alat-alat elektronik.       

Berbicara tentang bisnis fesyen Muslim di Yogyakarta saat ini tentu tak afdol jika tak menyinggung keberadaan Pusat Khazanah Muslim Al Fath. Usaha yang didirikan oleh pasangan Dyah Suminar dan Heru Zudianto pada 24 Februari 1989 ini merupakan toko pertama di Yogyakarta yang benar-benar menerapkan konsep butik fesyen Muslim serta tempat belanja sekali henti bagi pernak-pernik islami secara mandiri. Al Fath secara khusus hanya menjual busana Muslim serta barang-barang yang bisa dikategorikan sebagai pernak-pernik islami. Oleh pemilik dan pengelolanya, barang-barang lain semacam kelontong dan peralatan elektronik memang tak pernah dijadikan bagian dari item-item dagangan Al Fath. Dengan cara demikian, tampak sekali bahwa Al Fath berusaha membangun serta memelihara citra selaku tempat belanja busana Muslim dan pernak-pernak islami yang memang sungguh-sungguh bergengsi. Ini tentu saja penting sebab Al Fath sendiri bermain di segmen keluarga kelas menengah ke atas.

Al Fath sendiri berkembang menjadi bisnis yang sukses. Butik Muslim ini, yang awalnya sempat dipandang sebelah mata oleh sejumlah pihak karena dianggap menggarap sebuah peluang bisnis yang sempi, ternyata justru menjelma menjadi tempat yang ramai oleh pembeli. Ia bahkan lalu mampu membiak hingga tujuh gerai, yakni dua di Yogyakarta, dua di Jakarta serta masing-masing satu di Solo, Semarang dan Depok. Merujuk pada data yang termuat dalam situs swa.co.id mengenai omzet rata-rata pada tahun 2003 dari setiap gerai milik Grup Margaria, maka omzet sebuah gerai Al Fath diperkirakan berada pada kisaran angka Rp 200 juta sampai Rp 700 juta.

Mereka yang Mengikuti dalam Nama-Nama Berkesan Islami

Kehadiran Al Fath pada dua dekade silam menandai serta memantik kehadiran era baru bisnis fesyen Muslim, khususnya di Yogyakarta, juga di kota-kota lain di seputarannya. Melihat keberhasilan konsep bisnis yang diusung oleh Al Fath, butik-butik khusus busana Muslim lain pun lantas bermunculan mengikuti. Butik-butik khusus busana Muslim kemudian menjadi sesuatu yang mudah dijumpai di berbagai sudut Yogyakarta. Entri Boutique Moslem dalam Panduan Informasi Bisnis-Yellow Pages Yogyakarta Agustus 2008-2009 mencatat adanya 11 nama tempat usaha di luar Al Fath serta Toko Flora yang menyebut diri mereka sebagai butik fesyen Muslim. Beberapa di antara mereka itu adalah Dhabitah Boutique di bilangan Seturan, Griya Busana Muslim Safina di daerah Jalan Mataram, Iqra Corner di ruas Jalan Kaliurang, Kavana di Jalan Gambiran, pula Kharisma di kawasan Jalan Nyi Ahmad Dahlan. Selain itu terdapat pula Ar Rossi di Jalan KH Ahmad Dahlan 38 yang notabene adalah “adik” dari Toko Flora, juga Griya Muslim Annisa di Jalan Urip Sumoharjo (Jalan Solo) 37 A serta Karita Griya Muslim Muda di Jalan C. Simanjuntak 73 yang notabene merupakan para “adik” dari jaringan Al Fath.

Menariknya, sebagian besar butik Muslim yang muncul setelah berdirinya Al Fath ternyata memiliki nama-nama yang cenderung selanggam. Butik-butik Muslim itu umumnya mengambil nama perempuan Arab, kata tertentu dari bahasa Arab, istilah tertentu yang lazim digunakan di dalam agama Islam maupun tercantum pada kitab suci Al Quran. Font dari nama butik-butik Muslim saat ini acap kali juga dibentuk menyerupai aksara Arab. Jarang sekali atau mungkin malah tak ada lagi butik Muslim yang memakai nama lokal seperti yang digunakan oleh Raja Murah serta Toko Flora.

Hal ini besar kemungkinan dipengaruhi oleh pemilihan “Al Fath” oleh Grup Margaria sebagai nama butik Muslim mereka yang pertama dua dekade lampau. Apa yang dilakukan Grup Margaria tersebut tampaknya menyadarkan banyak pihak bahwa nama-nama yang bersumber dari bahasa Arab serta memiliki keterkaitan dengan agama Islam bakal memiliki efek positif jika dipakaikan kepada suatu usaha butik Muslim, yakni menerbitkan kesan islami. Rupanya, selain memelopori hadirnya butik khusus busana Muslim, Grup Margaria dengan Al Fath-nya agaknya juga turut memerkenalkan pula langgam penamaan yang khas pada butik-butik khusus busana Muslim, yakni nama yang menonjolkan identitas Islam.             

Aneka Ragam Jilbab, Aneka Ragam Penamaan       

Di antara aneka busana Muslim yang ada, jilbab bisa dikatakan merupakan barang jualan utama semua tempat yang bergelut dengan bisnis fesyen Muslim, entah itu yang berupa butik, kios pasar, kaki lima hingga grosir.Jilbab sendiri sebagai sebuah ikon fesyen Muslim mengalami sejumlah metamorfosis.Menurut cerita Hamidah (53 tahun), pengelola bagian gudang Toko Flora Yogyakarta, jilbab yang sempat menjadi tren pada tahun 1980-an adalah jilbab yang memiliki topi didalamnya. Jilbab tersebut disebut Hamidah sebagai “kerudung topi”.Pada jilbab model ini, kepala yang telah dipasangi topi semacam songkok lantas ditudungi atau dibalut dengan kain kerudung atau selendang, yang tak tak jarang berbahan tipis lagi transparan. Para perempuan anggota orkes musik kasidah masa itu kerap tampil dengan mengenakan jilbab model ini.

Selain jilbab “kerudung topi”, jilbab “scarf” atau “segi empat” merupakan satu jenis jilbab lain yang disebut Hamidah sebagai barang dagangan laris pada tahun 1980-an. Kala itu, jilbab ini boleh dibilang merupakan jenis jilbab pertama yang dikenal masyarakat benar-benar membungkus kepala, juga menutupi leher serta bahu dari pemakainya. Jilbab jenis ini pada dasarnya adalah kain segi empat lebar. Agar bisa dikenakan sebagai sebuah jilbab yang menudungi kepala serta menjuntai hingga ke dada, ia harus dilipat sedemikian rupa dan kemudian dikaitkan dengan memakai jarum pentul atau bros. Untuk ukuran zaman sekarang, urut-urutan menata dan mengenakan jilbab ini tergolong membutuhkan waktu yang lama. Meski demikian, jilbab ini ternyata masih tetap dijual dimana-mana hingga sekarang karena terus dipakai sebagai bentuk standar dari seragam sekolah yang berjilbab.

Saat ini, model jilbab telah beranak-pinak menjadi begitu beraneka ragam dan gaya. Ini merupakan konsekuensi dari masuknya jilbab dalam dunia fesyen dan komoditas konsumsi massal. Baik mereka yang memproduksi, menjual maupun menjadi pemakai jilbab menghendaki adanya variasi serta kebaharuan yang bersifat terus menerus. Mereka yang memproduksi jilbab dituntut untuk berinovasi dengan setidaknya menggonta-ganti model dari produk mereka agar produk tersebut dapat terserap oleh pasar. Mereka yang berdagang jilbab selalu menginginkan adanya variasi maupun sirkulasi dari model jilbab agar mampu menciptakan hasrat membeli pada para diri calon konsumen mereka. Mereka yang merupakan pemakai jilbab selalu mendambakan adanya variasi maupun sirkulasi dari model jilbab agar mereka dapat menghadirkan penampilan yang senantiasa khas, berbeda dari orang-orang lain. Pasar busana Muslim saat ini cenderung menghendaki jilbab-jilbab yang bisa dikenakan secara instan alias tidak makan tempo lama.

Soal berapa tepatnya jumlah model jilbab yang ada saat ini sepertinya agak sulit untuk dijawab. Namun, jumlahnya pastilah mencapai puluhan hingga ratusan macam. Apa lagi, perputaran model jilbab itu konon berjalan dalam tempo yang begitu cepat. Dalam hitungan pekan atau malahan hari selalu ada model jilbab yang baru yang dilempar ke pasaran.  “Setiap minggunya minimal muncul lima model baru untuk jilbab,” tutur David dari Raja Murah Yogyakarta memberi sedikit gambaran.

Di antara berpuluh-puluh hingga ratusan jenis jilbab yang beredar di pasaran turut beredar pula sejumlah nama sebagai penyebutan untuk mereka. Nama-nama jilbab sejatinya bisa dikatakan tidak memiliki suatu patokan penamaan yang benar-benar baku. Jika-jika butik-butik Muslim saat ini, dalam rangka mengejar citra islami, lazim melabeli diri mereka dengan berbagai nama yang diambil dari perbendaharaan bahasa Arab serta khazanah teologi Islam, maka jilbab-jilbab acap kali justru disebut dengan nama-nama yang boleh dibilang memang tak diniatkan untuk memberikan citra islami. Nama suatu jilbab bisa diambil dari nama artis, tokoh terkenal, atau tontonan film maupun serial televisi, khususnya yang diketahaui oleh publik mengenalkan keberadaan jilbab yang bersangkutan pertama kali. Nama sebuah jilbab juga bisa meminjam nama suatu hal yang sedang menjadi tren di suatu daerah tertentu, yakni semacam lagu populer atau bahkan tanaman hias. Kali lain, jilbab justru dinamai secara sangat teknis, yakni merujuk kepada hal-hal semacam jenis bahan, jenis jahitan hingga jenis aksesoris yang melekatinya. Nama suatu jilbab pun tak jarang bisa berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.

Menariknya, banyak nama jilbab yang pernah muncul atau sedang beredar di pasaran ini adalah nama-nama yang cenderung memancing senyum atau bahkan tawa. Orang bisa menemukan jilbab-jilbab dengan nama semacam “Jablay” dan “Kucing Garong” karena dinamai menurut judul lagu dangdut terkenal, atau memergoki jilbab-jilbab dengan nama semisal “Jenmani” serta “Gelombang Cinta” karena dinamai menurut tipe-tipe tanaman hias Anthurium yang pernah booming beberapa waktu lalu, atau menjumpai jilbab-jilbab dengan nama seperti “Ayat-Ayat Cinta” dan “Khumaira” karena dinamai menurut judul film islami laris serta tokoh dalam sebuah sinetron di salah satu stasiun tivi swasta nasional. Selain itu, orang bisa mendapati pula jilbab-jilbab yang menyandang nama milik para pesohor, yakni semacam jilbab “Gita KDI”, jilbab “Marshanda” dan jilbab “Teh Ninih”. Benang merah dari bentuk penamaan yang berbeda-beda itu sepertinya satu saja, nama-nama itu pokoknya dimaksudkan menjadi nama-nama yang mudah diingat, khususnya bagi konsumen. Kehadiran nama yang mudah diingat tampaknya merupakan resep yang dipercayai keampuhannya oleh mereka bergelut dalam bisnis pakaian Muslim dan jilbab, yakni menjadi semacam penglaris yang akan mendongkrak angka penjualan.

 

 


Beranda  |  Kategory: Edisi 17 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia