Gerak Merayap Penutupan Aurat: Catatan Dari Foto-Foto Masa Lalu

10 - Oct - 2009 | Kelik Prirahayanto | No Comments »

Sepotong halo bersambung selamat siang terucap di bawah pengaruh kental sebuah aksen asing. Bibir seorang perempuan bule paruh baya merupakan muasalnya. Sekumpulan anak muda yang tengah sibuk mengerjakan praktek fotografi menjadi tujuannya. Selepas saling bertukar senyum, dua pihak tersebut lantas berbincang sejenak dalam bahasa Indonesia yang banyak bercampur bahasa Inggris. Usut punya usut, perempuan kulit putih berambut coklat pendek itu ternyata bermaksud untuk memotret beberapa orang dari kumpulan yang disapanya. “Moslem girls.” Si perempuan bule memberi penjelasan lebih lanjut dalam bahasa Inggris yang kentara berlogat Jerman atau Belanda. Rupanya empat orang gadis berjilbablah yang dikehendaki olehnya. Permintaan itu sendiri dikabulkan dengan senang hati. Maka, selama lima menitan menjadi sibuklah si perempuan  bule memotreti model-model dadakannya.

Adegan tadi terjadi di reruntuhan Pulo Kenanga di selatan Pasar Burung Ngasem Yogyakarta. Semua itu barangkali hanyalah bagian prosesi berwisata seorang dari negeri seberang, yang dengan kameranya berupaya sebanyak mungkin mengumpulkan foto-foto kenangan mengenai lawatannya di Indonesia. Hanya saja, bahwa seorang kulit putih dari Eropa merasa tertarik untuk menjadikan foto-foto para perempuan berjilbab sebagai bagian dari foto-foto kenangannya tentang Indonesia kiranya merupakan satu hal yang tak seyogyanya diabaikan begitu saja. Kisah singkat tadi boleh jadi malah dapat menjadi sedikit petunjuk tentang bagaimana perempuan-perempuan Melayu berjilbab, juga jilbab itu sendiri, sebenarnya dilihat oleh orang-orang Barat seperti halnya sang perempuan bule pengunjung Pulo Kenanga.

Representasi Menonjol dari Citra Perempuan Indonesia Saat Ini

Kini, jilbab serta perempuan-perempuan berparas Melayu yang mengenakannya barangkali telah menjadi ikon-ikon yang kian identik dengan sosok Indonesia. Dua hal tadi sepertinya telah menjelma menjadi representasi-representasi menonjol dari citra perempuan Indonesia saat ini. Jilbab pun bertransformasi jadi semacam busana khas dari perempuan Indonesia. Para perempuan yang mengenakannya berkembang pula jadi sebentuk arustama baru dari tampilan perempuan Indonesia. Dalam merepresentasikan sosok perempuan Indonesia, daya pencitraan milik dua hal tersebut tadi agaknya telah menyepadani daya pencitraan dari sekian ikon mapan bercitarasa Mooi Indie semacam gadis-gadis Bali, perempuan-perempuan berkemben serta berkebaya, juga petani-petani wanita bercaping.

Apa yang terjadi ini sangat bisa dimaklumi. Kondisi yang ada akhir-akhir ini memang cenderung mendukung lahirnya pemahaman semacam tadi. Khususnya pada sekitar tiga dekade terakhir,  berjilbab —sebagai cara berbusana yang dianggap paling ideal bagi perempuan menurut agama Islam— sedang menjadi praktek berbusana yang kian populer di kalangan perempuan Muslim Indonesia, yang tentu saja adalah juga bagian terbanyak dari kaum perempuan Indonesia. Padahal, Indonesia sendiri dikenal sebagai sebuah negara yang sekitar 90 persen dari seluruh penduduk memeluk agama Islam. Maka, meluasnya pemakaian jilbab di antara para perempuan Muslim Indonesia ini berdampak pada makin lekatnya Indonesia dengan identitas Islam. Besarnya jumlah perempuan Muslim Indonesia yang tampil berjilbab tentunya cenderung menjadi simbol yang signifikan tentang besarnya jumlah pemeluk Islam di Indonesia.

Bagaimana pemakaian jilbab meluas di dalam kalangan perempuan Muslim Indonesia dalam sekitar tiga dekade terakhir sedikit banyak  dapat disimak dari perkembangan yang berlangsung di Yogyakarta antara awal 1990-an hingga medio 2000-an. Pada kurun tersebut, jumlah perempuan berjilbab di kota gudeg, khususnya yang berusia muda hingga sekitar 30 tahunan serta menuntut ilmu jenjang S1 dan D3 di UGM, terlihat meningkat dengan signifikan. Buku-buku wisuda S1 dan D3 UGM merupakan sumber-sumber dokumentasi yang merekam dengan cukup baik fenomena tadi. Buku-buku yang terbit periodik empat kali dalam setahun tersebut dapat membantu mengidentifikasi keberadaan perempuan-perempuan pemakai jilbab di lingkungan UGM, juga menunjukkan perkembangan jumlah mereka dari waktu. Hal ini dimungkinkan karena sejak pertengahan 1980-an buku-buku wisuda S1 dan D3 UGM telah dilengkapi dengan foto-foto setengah badan dari para wisudawan-wisudawatinya.

Pada tahun 2006, sekitar 45 persen atau hampir separuh dari seluruh wisudawati S1 dan D3 yang diwisuda UGM sepanjang tahun tersebut ternyata adalah para perempuan berjilbab. UGM sendiri sepanjang tahun 2006 tercatat mewisuda tak kurang dari 3400 wisudawati S1 dan D3. Dari jumlah tersebut, berdasarkan foto yang ada dalam buku wisuda, 1633 orang di antaranya teridentikasi sebagai para pemakai jilbab. Lima tahun sebelumnya, yakni tahun 2001, UGM tercatat mewisuda 2751 wisudawati S1 dan D3. Dari jumlah tersebut, 848 orang atau hampir 31 persen teridentifikasi sebagai para pemakai jilbab. Mundur lima tahun lagi, yakni tahun 1996, UGM tercatat mewisuda 1650 wisudawati S1 dan D3. Dari jumlah tersebut, 320 orang atau 19 persen lebih teridentifikasi sebagai para pemakai jilbab. Jauh sebelumnya lagi pada tahun 1991, UGM tercatat mewisuda 1355 wisudawati S1 dan D3. Dari jumlah tersebut, baru 52 orang atau sekitar 3,8 persen saja yang teridentifikasi sebagai para pemakai jilbab.

Dua Tipe Jilbab

Setidaknya dari foto setengah badan mereka, jenis jilbab yang dikenakan para wisudawati UGM pada kurun 1991 hingga 2006 dapat dipilah menjadi dua tipe besar. Tipe pertama adalah jilbab lebar. Jilbab ini tak sekedar membungkus kepala. Ia juga menyamarkan bentuk leher serta pundak dari pemakainya. Tipe kedua adalah jilbab rapat. Jilbab ini memang membungkus kepala, tapi masih membuat leher maupun pundak dari pemakainya dapat dikenali bentuknya atau bahkan terlihat.

Tampilan jilbab dari tipe lebar umumnya lebih sederhana ketimbang jilbab dari tipe rapat. Keduanya memang sama-sama banyak memiliki variasi warna, baik yang polos maupun yang bermotif. Hanya saja, jilbab dari tipe rapat memang cenderung lebih terpengaruhi oleh kaidah-kaidah fesyen dibanding jilbab dari tipe lebar. Di dalam jilbab-jilbab tipe rapat seringkali ditemukan adanya penambahan ornamen-ornamen pemercantik tampilan, yakni mulai dari bordir, lipit-lipit kain bertumpuk, model belitan leher, hingga semacam korsase.

Dalam perihal pakaian selebihnya yang dikenakan, dua tipe jilbab di atas juga berbeda langgam. Pakaian selebihnya dari jilbab lebar antara lain berupa terusan panjang, rok A line panjang, blus lengan panjang, tunik, hingga jubah besar. Pakaian-pakaian tadi biasanya cenderung longgar karena memang dimaksudkan untuk menyembunyikan bentuk raga dari pemakainya. Bentuk ekstrim darinya muncul dalam wujud jubah besar warna gelap dengan cadar sebagai penutup wajah. Di sisi yang lain, pakaian selebihnya dari jilbab rapat boleh dibilang tak banyak memiliki perbedaan dengan busana-busana yang dikenakan para perempuan tak berjilbab. Jilbab dari jenis rapat acap didapati dipadupadankan dengan pakaian-pakaian “sekuler” semacam blus lengan panjang, sweter, kaus berlapis kardigan, oblong dengan deker lengan, pantalon, hingga celana jins —bahkan termasuk jika pakaian-pakain tadi cenderung ketat mengepas bentuk tubuh pemakainya. Saking adaptifnya, pola berjilbab semacam itu seringkali dijuluki secara sinis oleh sejumlah pihak sebagai “jilbab gaul”. Lekuk tubuh agaknya bukanlah sesuatu yang benar-benar ingin ditutupi oleh pola berjilbab satu ini.

Sebentuk Ekspresi Eksistensialis yang Serius

Potret-potret setengah badan dalam balutan jilbab oleh sejumlah wisudawati UGM, sebagaimana tersaji dalam buku-buku wisuda UGM dari kurun 1991 hingga 2006,  sebenarnya adalah juga sebentuk eskpresi eksistensialis yang serius. Apa yang ditampilkan pada lembaran foto- foto setengah badan itu memang merupakan citra diri yang dikehendaki subjek untuk diserap oleh orang lain. Pakaian yang dikenakan untuk berfoto semacam itu biasanya merupakan hasil pilihan yang diambil secara sadar atau bahkan cermat. Pose orang-orang dalam foto-foto tersebut juga bersifat formal, diambil dari depan, dengan mimik wajah yang datar dan hanya menoleransi senyuman dalam kadar minimal. Foto-foto setengah badan itu umumnya adalah foto-foto yang dibuat melalui jasa foto profesional, entah dengan mendatangi studio foto atau mendatangkan tukang foto ke rumah. Meski harus mengeluarkan sejumlah uang, orang-orang toh tetap merasa perlu memeroleh foto-foto setengah badan semacam itu.

Perlu diingat pula, foto pada buku wisuda umumnya juga merupakan foto yang terpampang pada ijazah. Padahal, hingga sekitar pertengahan 1990-an, wisudawati UGM yang memilih tampil berjilbab untuk ijazah kelulusan mereka mustilah lebih dahulu menempuh serangkaian prosedur tertentu yang disyaratkan oleh pihak kampus. Mereka diwajibkan untuk membuat surat pernyataan siap menanggung segala konsekuensi yang mungkin muncul dari pilihan mereka itu. Di UGM, surat semacam itu pada awal hingga menjelang akhir 1990-an harus diurus calon wisudawati di tingkat rektorat, kemudian kira-kira selepas 1998 hingga awal 2000-an cukup diurus di level fakultas. Setidaknya begitulah seingat Ana, seorang perempuan alumnus Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) UGM tahun 2001 yang sekarang bekerja di lingkungan almamaternya. Jadi, perempuan-perempuan yang tampil berjilbab pada foto buku wisuda serta foto ijazah mereka adalah orang-orang yang memang ingin dikenal sebagai seorang perempuan Muslim.

Sebelum tahun 1990 pemakaian jilbab sempat cukup lama menjadi praktek yang tak direstui dan banyak dirintangi, baik oleh Pemerintah, dunia usaha, juga banyak kalangan di masyarakat. Ketika itu pemakaian jilbab bisa mengundang stigma buruk semacam “fanatik” atau “ekstrimis” bagi pemakainya. Jilbab secara de facto dilarang untuk dipakai di lingkungan sekolah-sekolah negeri serta instansi pemerintah. Perusahaan-perusahaan juga sering meminta perempuan berjilbab yang hendak bekerja di tempat mereka untuk menanggalkan jilbab.

Dalam prosedur pembuatan berbagai dokumen resmi semacam KTP, SIM, SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik), paspor dan ijazah, berlaku sebuah aturan yang mengharuskan adanya pas foto dengan dua telinga terlihat sepenuhnya. Keberadaan aturan tersebut secara menjadi  masalah serius bagi perempuan-perempuan berjilbab. Meski tidak secara eksplisit melarang pemakaian jilbab, aturan tentang dua telinga yang terlihat secara implisit menghendaki para pemakai jilbab untuk menanggalkan jilbab mereka ketika mengurus dokumen-dokumen resmi. Perempuan berjilbab yang bersikeras tidak memerlihatkan telinganya, yang berarti tak bersedia mencopot jilbabnya, bisa saja gagal mendapatkan dokumen-dokumen yang diperlukannya.

Dengan hambatan-hambatan seperti di atas, maka menjadi bisa dipahamilah mengapa pada tahun 1986 tak ada wisudawati S1 dan D3 UGM yang tampil berjilbab dalam buku wisuda mereka. Hal tersebut terjadi karena para perempuan berjilbab banyak yang memilih berkompromi dengan tampil tanpa berjilbab dalam foto buku wisuda maupun ijazah mereka. Mereka ini pada saat wisuda banyak kembali tampil dalam balutan jilbab mereka. Contoh dari mereka yang berkompromi seperti itu salah satunya bisa dipastikan adalah seorang wisudawati UGM berjilbab yang sosoknya kebetulan terekam dalam salah satu foto dokumentasi wisuda dari tahun 1986.

Sejak pencabutan larangan berjilbab di sekolah-sekolah negeri pada tahun 1990, Pemerintah Indonesia akhirnya berangsur-angsur melonggarkan pembatasan dalam hal berjilbab. Foto-foto berpakaian jilbab pun diterima sebagai foto-foto dokumen resmi. Aturan foto dengan dua telinga terlihat memang masih diberlakukan oleh instansi  kepolisian, antara lain dalam soal pengurusan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian) yang dahulu dikenal dengan nama SKKB. Akan tetapi, penerapannya sudah jauh lebih longgar. Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Abubakar Nataprawira, seperti dikutip dari Kompas.com tanggal 7 Agustus 2008, menyatakan bahwa foto perempuan berjilbab dapat dipergunakan dalam pengurusan SKCK untuk kepentingan mendaftar sebagai caleg Pemilu 2009.

Seiring dengan kebijakan akomodatif pemerintah dalam soal jilbab, terjadi perbaikan persepsi tentang busana islami satu ini di masyarakat maupun di dunia usaha. Jilbab yang dahulu dimaknai sebagai simbol fundamentalisme lantas cenderung bersilih ke arah simbol kesalehan.  Kini, industri sinetron maupun sinetron Indonesia bahkan sering menjadikan tokoh berjilbab sebagai tokoh protagonis mereka. Pekerja berjilbab juga menjadi pemadangan wajar di berbagai tempat kerja. Tren peningkatan jumlah pemakai jilbab di UGM antara 1991 hingga 2006 menjadi petunjuk dari efek sikap akomodatif dalam soal jilbab dari Pemerintah Indonesia, masyarakat, juga dunia usaha, sejak tahun 1990.

Jilbab, khususnya pada bagian tudung kepala, bertransformasi ke arah bentuk yang lebih permanen. Jilbab semacam itu perlahan-lahan menggeser keberadan kerudung yang sebelumnya lebih umum dikenal di Indonesia. Jilbab dianggap lebih memenuhi kaidah-kaidah menutup aurat ketimbang kerudung. Bentuk jilbab dari medio 1980-an sedikit banyak dapat ditunjukkan oleh dua lembar foto dari beberapa santriwati Pondok Pesantren Pabelan di Muntilan, Magelang. Dalam foto yang diambil pada tahun 1986 atau 1987 itu, para santri perempuan tampak mengenakan jilbab bertipe lebar yang menjuntai hingga kira-kira sedada, menyamarkan bentuk leher maupun pundak. Warna dari jilbab-jilbab itu polos tanpa motif dan terkesan sederhana. Para santri perempuan mengenakan atasan semacam kebaya, tapi longgar dan berukuran lebih panjang. Tubuh bagian bawah dari para santriwati itu tampak terbalut kain dari jenis batik dan sarung tenun.

Kerudung

Setidaknya di Jawa hingga akhir 1970-an, kerudung menempati posisi yang kira-kira dimiliki oleh jilbab saat ini, yakni sebagai busana yang dianggap paling ideal untuk dikenakan oleh para perempuan Muslim. Untuk kurun waktu yang panjang, pemakaian kerudung atau kain penutup kepala tampaknya sempat dianggap penduduk Jawa sebagai semacam perwujudan tertinggi dari konsep menutup aurat bagi perempuan, seperti yang diajarkan oleh agama Islam. Inilah mengapa perempuan berlatar belakang pesantren serta perempuan yang menjadi bagian organisasi-organisasi Islam dahulu acap menggunakan kerudung sebagai simbol kelekatan mereka terhadap identitas Islam. Sampai kini pun, perempuan-perempuan Muslim sepuh berlatarbelakang semacam itu, khususnya yang berusia 60-an lebih, generasi yang mengalami masa muda sebelum tahun 1970-an, tetap banyak yang menjadi pemakai kerudung dan tidak beralih ke jilbab.

Kerudung mudah dipadupadankan dengan berbagai jenis pakaian. Karena itu, kerudung lazim dikenakan bersama pakaian-pakaian tradisional Nusantara. Di Jawa, ia galib dipadukan dengan bawahan kain serta atasan kebaya. Di luar Jawa, ia sering ditemukan bersanding bersama atasan semisal baju kurung dan bawahan berupa balutan kain atau sarung. Hanya saja, kerudung terkesan inferior jika dibandingkan dengan pakaian yang menyertainya. Karena cuma berupa kain yang disampirkan sekedarnya di kepala, kerudung bukanlah pihak yang dapat menuntut banyak penyesuaian dari pakaian-pakaian yang menyertainya.

Pemakaian kerudung sebagai bagian dari pakaian perempuan Muslim Indonesia terlihat di dalam foto dari tahun 1960, yakni foto keluarga KH Abdul Karim, pengasuh Pesantren Lirboyo Kediri kala itu. Perempuan-perempuan dalam foto itu, yang notabene berlatarbelakang lingkungan pesantren, terlihat mengenakan kerudung, berkain serta berkebaya. Rambut para perempuan berkerudung dalam foto itu agaknya dirapikan dengan sanggul. Menariknya, kebaya para perempuan pesantren itu tampaknya serupa dengan kebaya para perempuan Jawa umumnya. Kebaya itu bukan kebaya longgar berukuran panjang seperti yang dikenakan para santriwati Pesantren Pabelan pada tahun 1980-an. Kebaya itu juga jenis yang memerlihatkan leher serta sedikit dari bagain dada. Maka, jika kerudung ditanggalkan, perempuan-perempuan akan terlihat sama saja seperti perempuan-perempuan dari luar lingkungan pesantren.

Terlepas dari berbagai kekurangannya, kerudung tetaplah pembuka jalan bagi keberadan jilbab di Indonesia. Kerudung berkembang sebentuk pakaian perempuan Muslim sejak sekitar awal abad ke-20 .  Seperti halnya jilbab yang muncul di akhir 1970-an dan awal 1980-an, kerudung pada dasarnya adalah simbol penguatan identitas Islam yang muncul pada awal abad ke-20. Kerudung  dipromosikan di kalangan perempuan Muslim oleh organisasi yang mencita-citakan purifikasi Islam semacam Muhammadiyah. Oleh mereka, kerudung dipakai sebagai salah satu alat untuk memerkenalkan ajaran Islam yang murni, bebas dari pengaruh unsur-unsur lokal yang bersifat sinkretis. Kerudung juga merupakan simbol resistensi kelompok Islam terhadap gerakan kristenisasi yang menguat kala itu, khususnya di Jawa. Golongan evangelis Protestan maupun misionaris Katolik saat itu memang sedang gencar mendirikan berbagai sekolah, sejumlah rumah sakit, juga gereja-gereja. Hal-hal tersebut membuat banyak elit Islam berpandangan bahwa kaum mereka sedang diinfiltrasi serta hendak dimurtadkan oleh orang-orang Nasrani.

Seperti apa pemakaian kerudung di awal abad ke-20 terekam dalam sebuah foto tentang kegiatan pengajian di Yogykarta pada tahun 1920-an. Kegiatan pengajian itu berlangsung di halaman sebuah sekolah Muhammadiyah. Di hadapan kumpulan anggota pengajian yang duduk bersila, juga sekitar 10 meter di samping kanan pemimpin pengajian, beberapa perempuan Jawa terlihat berdiri seperti celingukan. Para perempuan itu mengenakan pakaian yang sejenis dengan pakaian yang dipakai oleh para perempuan dari Pesantren Lirboyo pada tahun 1965: berkerudung, berkebaya dan berkain.

Penyerapan kerudung sendiri di kalangan perempuan Muslim agaknya tak sampai menghasilkan kelompok pengguna harian yang sebegitu besarnya seperti halnya penggunaan jilbab sekarang. Kesimpulan semacam antara lain muncul karena keberadaan perempuan-perempuan berjilbab memang begitu sukar ditemukan dalam foto-foto lama kota-kota seperti Yogyakarta, Surabaya, Solo serta Magelang, dari kurun akhir abad XIX hingga 1960-an. Pemakaian kerudung sepertinya lebih banyak bersifat temporer, terbatas pada acara-acara khusus keagamaan Islam semacam peringataan hari raya Maulid, perayaan Lebaran atau pengajian. Melihat bahwa kerudung memang cenderung tersampirkan ala kadarnya di kepala, mudah sekali dipasang maupun dicopot, juga mudah saja untuk jatuh semisal tertiup angin, perempuan pemakainya pun rasa-rasanya akan cenderung memiliki penafsiran yang longgar pula terhadap keberadaan benda itu di kepala mereka. Mereka ini besar kemungkinan tak akan keberatan untuk terkadang tampil di hadapan umum tanpa mengenakan kerudung.

Penjinakan terhadap Ketelanjangan Dada

Jika serangkaian penelusuran yang berkaitan dengan jilbab serta kerudung ini ditarik mundur lebih jauh, segalanya akan tergiring ke satu perhentian, yakni penghujung abad ke-15. Titik tersebut adalah semacam tapal batas bagi dua zaman yang berbeda. Di satu sisi terentang sebuah zaman yang berisikan pemakluman berabad terhadap ketelanjangan dada perempuan. Di sisi seberangnya tumbuh tegak sebuah zaman dengan semangat yang berkebalikan. Zaman itu adalah zaman yang berjuang untuk menjinakkan ketelanjangan dada perempuan.

Kira-kira dari pertengahan alaf ke-2 hingga menjelang akhir abad ke-15, dada telanjang perempuan pernah menjadi bagian lazim keseharian di Jawa dan sejumlah tempat lain di Nusantara. Hal ini karena seperti hal kaum laki-lakinya, perempuan pribumi kala itu biasa mengenakan kain pada tubuh bagian bawah saja. Untuk tubuh bagian atas, mereka membiarkannya hampir sepenuhnya telanjang. Hanya selembar kain terkadang masih disampirkan atau dililitkan di dada secara minimalis. Kebiasaan semacam ini antara lain direkam oleh relief-relief pada dinding candi-candi semacam Borobudur dan Prambanan. Novel “Arus Balik” karya Pramoedya Ananta Toer, yakni bagian awal bab III atau halaman 38-41, sedikit menukilkan tentang bagaimana sisa-sisa kebiasaan tersebut masih dipraktekkan kalangan penduduk pedesaan Tuban pada awal abad le-16. Kebiasaan bertelanjang dada, baik pada laki-laki maupun perempuan ini tampaknya berkaitan pula dengan keberadaan kain yang kala itu merupakan barang impor dari India dan Cina.

Ketika Islam akhirnya bangkit menjadi kekuatan dominan di Jawa, kebiasaan bertelanjang dada, khususnya pada perempuan, menjadi sesuatu yang tak lagi direstui oleh pihak penguasa. Sejak itu, dada perempuan dan payudaranya beralih dimasukkan ke dalam golongan aurat yang harus ditutupi. Maka, para perempuan pun menjadi berkemben. Kebiasaan baru di awal zaman dominasi Islam ini terekam oleh lukisan orang Belanda dari sekitar tahun 1596 tentang situasi pasar di Banten yang merupakan sebuah kerajaan Islam. Dalam lukisan itu terlihat adanya pedagang-pedagang perempuan yang mengenakan balutan kain serta kemben dada sebagai pakaiannya. Pada tahun-tahun setelahnya, perempuan Jawa kemudian mengenal pula atasan pelapis kemben semacam baju kebaya yang kemudian mereka jadikan pakaian sehari-hari.

Jika dilihat secara menyeluruh, jilbab, kerudung, kebaya, juga kemben ternyata menunjukkan adanya suatu urutan dari proses menutup aurat di kalangan perempuan Jawa. Kehadiran keempat jenis pakaian tadi secara evolutif dalam kurun sekitar setengah alaf terakhir ini memerlihatkan pengaruh Islam untuk menjinakkan ketelanjangan dada perempuan yang pernah begitu mengakar. Dengan demikian, jilbab sejauh ini boleh dipandang sebagai ujung atau puncak dari proses penjinakan yang telah berlangsung lima abad lebih itu.

               

              

 


Beranda  |  Kategory: Edisi 17 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia