Konsumsi Para Santri: Dari Kerudung Sampai Jilbab

10 - Oct - 2009 | Heru Prasetia | 1 Comment »

Sore itu, di Mlangi, sebuah desa di pinggir kota Yogyakarta, segerombol gadis remaja berjalan perlahan menyusuri jalan desa, mereka mengenakan baju lengan panjang dan rok panjang hingga menutupi kaki-kaki mereka yang berderap. Kepala mereka tertutup kerudung rapat oleh pakaian. Hanya terlihat wajah dan sedikit pergelangan tangan yang sedang menjinjing buku. Cara berpakaian mereka nyaris sama dengan yang dipakai para mahasiswi berrjilbab di sejumlah universitas terkemuka di negeri ini.

Sekira sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu, para santri yang berangkat mengaji itu tidak menutup rapat rambut kepala. Mereka hanya menyelubungi dengan selembar kain secara longgar. Demikian pula para Ibu Nyai yang mengajar mengaji. Mereka mengenakan kebaya seperti perempuan Jawa lainnya pada jaman itu ditambah dengan selendang yang disampirkan di kepala. Waktu itu tak dikenal model pakaian jilbab seperti yang dikenakan para santri masa kini.

Belum pula genap 20 tahun jilbab menjadi lambang kesalehan pemakainya. Anda bisa mengamati foto-foto masa lalu di dunia pesantren. Tak banyak, kalau bukan tidak ada, yang megenakan jilbab rapat menutup semua rambut dan leher. “Satu-satunya yang saya ingat memakai kerudung rapat adalah nenek buyut saya, anaknya, atau nenek saya, justru hanya berkerudung biasa,” demikian ungkap Rika  (29 tahun), yang berada di pondok pesantren sejak dalam kandungan itu. Umumnya pada masa lalu para istri kiai memang tidak menutup kepala mereka dengan rapat, demikian pula santri-santrinya. Sekarang, hanya para nenek tua saja yang masih memakai kerudung tidak rapat itu. Tentu saja begitu banyak faktor yang mengubah penampakan luar perempuan pesantren. Pertanyaan pertama yang langsung menyergap begitu melihat fakta ini adalah apakah hal itu menyangkut “dunia dalam” yang juga berubah, ataukah ia hanya bagian dari konsumsi budaya massa dan pengaruh publik yang memengaruhi mikropraktik perempuan pesantren?

 

Penutup Kepala Sebagai Busana Agama

Jilbab tidak semata menjadi busana yang berasosiasi pada ketaatan dan kesalehan namun juga pada ekspresi identitas.  Pakaian atau busana menjadi cara orang untuk mengekspresikan keyakinan agamanya. Pada bagian inilah agama berperan penting dalam membangun konstruksi atas pakaian. Biasanya pakaian oleh agama akan dikaitkan dengan makna kesopanan dan kepantasan. Dalam konteks ini, lazimnya perempuanlah yang menjadi sasarannya. Di negeri ini, barangkali juga di negeri lain, para perempuan berhadapan dengan sebuah ekspektasi sosial bahwa seorang perempuan muslim yang baik haruslah berpakaian sopan. Jilbab, karena dianggap sebagai pakaian yang dititahkan Tuhan, mewakili konstruksi tersebut: simbol kesopanan.

Istilah jilbab berasal dari kata bahasa Arab jalaba, yang artinya menghimpun atau membawa. Dalam kosakata bahasa Indonesia jilbab adalah kerudung lebar yg dipakai perempuan muslim untuk menutupi kepala dan leher sampai ke dada. Secara umum, mereka yang menutupi bagian itu disebut orang yang berjilbab. Kata jilbab yang merujuk pada pakaian penutup aurat adalah khas indonesia.  Di sejumlah negeri berpenduduk muslim, pakaian jenis ini dikenal dengan sejumlah istilah. Di Iran disebut chador, sementara di India dan Pakistan disebut pardeh, milayat di Libya, abaya di Irak, charshaf di Turki, tudung di Malaysia, dan hijâb di beberapa negara Arab-Afrika.

Kain puntup kepala, dalam sejarah umat manusia, mulai dikenal sejak jaman Code Bilalama (3000 SM), Code Hammurabi, 2000SM, dan Code Ayiria 1500SM. Pada masa-masa itu, perempuan merdeka (bukan budak) harus menggunakan penutup kepala di tempat terbuka. Sedangkan para budak justru dilarang menggunakannya. Kultur ini punya pengaruh pada kultur Jazirah Arab ketika ada persentuhan akibat jalur dagang. Jauh sebelum Islam datang, para perempuan Arab kala itu sudah terbiasa dengan penutup kepala. Dalam wacana keislaman, hal serupa juga terjadi. Dalam aturan Islam kewajiban menutupi seluruh tubuh hanyalah perintah untuk perempuan merdeka. Tidak ada kewajiban untuk menutup rambut kepala bagi para budak, sekalipun meraka beragama Islam. Hal sedemikian ini melatarbelakangi munculnya pendapat bahwa jilbab lebih merupakan keharusan budaya ketimbang kewajiban agama. Pedapat seperti ini tentu saja merupakan pendapat yang minoritas. Secara umum, garis mainstream Islam mengatakan bahwa menutupi tubuh adalah tuntunan Tuhan yang tak boleh dielakkan.

 Kendati jika dilihat dari sejarahnya pakaian penutup sudah terbit sejak sebelum Masehi, dalam perkembangannya kain penutup kepala ini lantas identitik dengan orang Islam. Intitusionalisasi pakaian melalui perangkat hukum-hukum fiqh, telah menempatkan jilbab sebagai pakaian agama, demikian ungkap Nasarudin Umar dalam Fenomenologi Jilbab, Kompas, 25 November 2002. Kain penutup kepala ini tidak lagi sebagai pembungkus tubuh, namun juga menjadi penanda ketaatan dan kepatuhan. Termasuk ideologi. Dalam Islam, pakaian memainkan peran sentral dalam ekspresi relijius. Ketegangan yang menyertai maraknya jilbab di Indonesia, misalnya, adalah salah satu contoh betapa pakaian bisa bersifat sangat ideologis.

 

Jilbab, Busana Santri?

Menurut doktrin keagamaan yang diajarkan di pesantren, perempuan harus menutupi aurat mereka. Apa saja aurat itu? Ada banyak pendapat soal ini. Tapi secara umum, pendapat yang paling populer adalah yang mengatakan bahwa yang bukan termasuk aurat ialah wajah dan telapak tangan. Karena itu, dari sisi doktrin, jilbab sebagaimana dipakai para santri masa kini sesuai dengan ajaran tersebut ketimbang kerudung atau kerpus—tutup kepala sejenis topi yang hanya menutup rambut— yang dikenakan ibu-ibu nyai dan santri perempuan masa lalu. Para santri, lebih-lebih nyai atau istri kiai, tentu akrab dengan doktrin tentang aurat tersebut. Meski demikian para santri dan ibu-ibu nyai di masa lampau justru tampak lebih longgar dalam berbusana. Mereka tidak mengenakan jilbab sebagaimana perempuan masa kini, namun cukup mengenakan kerpus disambung dengan secarik kain.

Jejak yang meraka tinggalkan di foto-foto keluarga menunjukkan bahwa tak banyak, bahkan nyaris tidak ada, yang pakaiannnya hanya menyisakan wajah untuk dilihat. “Praktik keseharian pesantren itu tidak semata-mata selalu berdasar doktrin, kadang dalam hal-hal tertentu justru mengikuti budaya” demikian ungkap Mustafied, seorang pengajar di salah satu Pondok Pesantren di Mlangi Yogyakarta. Dalam kultur pesantren, dunia sosial disikapi dengan dua cara. Pertama, melalui pendekatan legal-formalistik. Pendekatan model ini biasanya menyangkut pada aspek-aspek ritual yang berhubungan langsung dengan ibadah kepada Tuhan. Kedua, melalui cara akomodasi dengan mengikuti budaya setempat. Ini adalah suatu kemampuan untuk mengadaptasi dan menyesuaikan diri. Biasanya ini berlaku pada aspek-aspek yang berhubungan dengan manusia lain. Yang jelas, menurutnya, orang pesantren biasanya tidak berani menyangkal doktrin secara frontal kendati dalam praktiknya tidak sejalan dengan doktrin. Mereka melakukan hal-hal yang tak sejalan dengan doktrin itu dalam diam. “Meski melakukannya, mereka biasanya tidak akan berani, misalnya, mengatakan bersalaman dengan lawan jenis itu boleh,” imbuhnya.

Dalam pendapat Abdurrahman Wahid, pesantren cukup mewakili untuk dinamai sebagai sebuah subkultur. Ada cara hidup sendiri, tata hierarki tersediri, dan—tentu saja—etika dan norma tersendiri. Pesantren memang punya nilai etik dan kepantasan yang berbeda dengan masyarakat di luarnya. Kendati demikian, pesantren tidak bisa begitu saja terpisah dnegan masyarakat yang lebih luas. Apa yang dikembangkannya adalah sebuah kultur yang tetap menjadi bagian dari kultur yang lebih besar. Dalam aspek ini, ada sifat akomodatif pesantren terhadap kebiasaan masyarakat di sekelilingnya.

Cara orang pesantren berbusana bisa jadi masuk dalam kategori akomodasi ini. Busana yang dikenakan kalangan pesantren tidak secara frontal “menyalahi” kode kepatutan sosial yang ada. Hal lain yang menunjukkan betapa praktik keseharian orang pesantren tak melulu berpatokan pada doktrin adalah hal-hal seperti bagi warisan dan cerai-menceraikan istri.  Menurut cartatan Bruinessen di artikel Kitab Kuning Dan Perempuan,Perempuan Dan Kitab Kuning, praktik keseharian di pesantren pada umumnya justru jauh lebih longgar dari hukum-hukum fiqh tertulis yang diajarkan di tempat itu. Ia mencontohkan praktik li’an dan waris. Li’an adalah proses seorang laki-lai menceraikan dengan tuduhan zina istrinya tanpa harus ada saksi-saksi. Kalau sang suami bersumpah bahwa istrinya telah main serong dan Tuhan melaknatinya kalau ia berbohong, istrinya segera diceraikan tanpa kewajiban suami terhadapnya, dan anaknya (kalau hamil) dianggap tidak sah. Praktik li’an ini jarang sekali terjadi dalam kehidupan. Contoh lainnya adalah waris, pembagian yang dalam ketentuan hukum fiqh perempuan hanya mendapat separuh bagian kerapkali tak dilakukan. Biasanya para orangtua sering mencari jalan keluar melalui wasiat atau dengan cara menghibahkan harta miliknya sebelum meninggal dunia.

Hal semacam inilah yang barangkali terjadi dalam hal busana kaum perempuan pesantren jaman dulu. Para Nyai bukannya tak mengerti dan tak memahami doktrin atau hukum fiqh, namun aspek budaya dan sosial yang lebih menonjol dalam soal pakaian ini. Dinamika pandangan orang pesantren terhadap tubuh perempuan memang unik. Kendati jika dilihat dari catatan sejarah dan foto masa lalu perempuan pesantren tidak menutup rapat tubuh mereka, namun di dunia pesantren perempuan adalah makhluk yang agak meresahkan dan harus dijauhkan dari pandangan (laki-laki). Lihat saja pemisahan kelas antara laki-laki dan perempuan yang secara ketat diberlakukan di pesantren sejak awal munculnya santri putri hingga sekarang. Pemisahan ini bahkan juga masih terjadi diperguruan tinggi yang ada di lingkugan pesantren. Jika tidak dengan pemisahan ruang kelas dan jam pelajaran, pemisahan dilakukan dengan tabir.

Bahkan pernah pada suatu masa ketika perempuan dipandang sebagai mahkluk ajaib yang penuh misteri. Situasi seperti ini tercermin dari pertanyaan-pertanyaan pada batsul masail muktamar NU pada tahun 20-30an seperti dicatat oleh M. Imam Aziz dalam artikel Pesantren Putri dan Evolusi Kesadaran. Pertanyaan yang muncul pada masa-masa itu adalah bolehkah perempuan mempelajari sesuatu selain al-Qur’an, bolehkah perempuan belajar berhitung, bolehkah perempuan naik sepeda, bolehkah perempuan mendatangi kegiatan keagamaan, bolehkah laki-laki memulai salam kepada perempuan, bolehkah laki-laki melihat telapak tangan dan wajah perempuan lain (bukan mahram)? Dan semacamnya. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu pernah dibahas pada muktamar-muktamar NU tersebut memberi petunjuk yang sangat jelas tentang bagaimana posisi perempuan dalam pesantren pada masa lalu. Jika hal-hal semacam di atas saja masih menjadi perdebebatan, artinya perempuan memang belum bisa mendapatkan akses yang lebih luas dalam bidang-bidang di luar peran tradisionalnya.

Jika di masa lalu perempuan pesantren sangat sulit mendapatkan akses pada pendidikan, terutama pendidkan di luar pesantren,  di masa kini para santri perempuan sudah sangat banyak yang bisa meneruskan ke jenjang perguruan tinggi.  Proses perkembangan ini terjadi secara sosial, jika dilihat dari teks-teks doktrinal yang diajarkan, pesantren tetap mengacu pada teks yang sama sebagaimana para kiai masa silam membaca teks itu. Dengan begini, perkembangan yang terjadi berada di luar teks atau doktrin yang diajarkan, tapi pada proses sosial antara pesantren dengan dunia sosial di sekelilingnya. Acuan tekstual boleh sama, tapi tindakan bisa berbeda. Moral dan praktik mengalami pergeseran. Hal lain yang juga bisa jadi contoh tentang ini adalah sekolah. Bagi pesantren-pesantren salaf (tipe pesantren yang hanya mengajarkan kitab kuning), sekolah dengan ilmu-ilmu pengetahuan umum adalah sesuatu yang terlarang. Minimal, pesantren jenis ini tidak akan menyediakan sekolah umum buat para santrinya, pada titik yang lebih ekstrim ada pesantren yang bahkan melarang santrinya juga masuk sekolah umum. Namun seiring perkembangan zaman, hampir semua pesantren saat ini mendirikan sekolah tanpa ada keributan dan ketegangan yang berarti.

Menimbang adanya fakta-fakta di atas, maka adalah meleset jika mengatakan bahwa segala praktik keseharian para santri hal-hal di atas maka adalah salah jika mengatakan segala praktik yang dilakukan para santri—dan kiai—hanya melulu mengacu pada apa yang mereka pelajari dari kitab-kitab. Ada hal-hal lain di luar itu yang turut membentuk praktik keseharian. Praktik keseharian juga tidak hanya dibimbing oleh satu sistem nilai, tapi juga oleh nilai-nilai lainnya. Membayangkan perempuan pesantren melulu bertindak atas dasar doktrin adalah tidak tepat. Bagaimanapun, pesantren adalah bagian dari kultur yang lebih besar. Orang yang hidup di pesantren juga hidup bersama masyarakat lain di sekelilingnya. Dalam bentang yang lebih luas, pesantren hidup dalm konteks dan situasi sosial tertentu yang berubah-ubah.

Bagaimanapun, di masa lalu tidak ada pakaian jilbab sebagaimana yang biasa kita lihat di jalanan masa kini.  Belum ada industri garmen yang merancang, membuat, dan mendistribusikan pakaian semacam itu. Modifikasi atas pakaian yang dianggap memenuhi syarat menutup aurat dipadu dengan model pakaian lokal melahirkan jenis pakaian yang tampak di foto-foto santri masa lalu itu. Kerudung dan kebaya, bagaimanapun, adalah pakaian yang sopan dan pantas dipakai tanpa mengundang kecaman pada masa itu. Mustafid menambahkan bahwa dalam soal hidup berjalan bersama budaya masyarakat, pesantren memang sangat mudah menyesuaikan diri. Meski punya nilai-nilai dan sitem tersendiri dengan masyarakat banyak, dunia pesantren biasanya tak terlalu jauh berbeda dnegan masyarakat di sekelilingnya. Termasuk dalam soal praktik atau perilaku sehari-hari. Dalam hal-hal baru, tak selamanya pesantren berpegang teguh dengan apa yang diyakininya. Ada hal-hal yang tak terelakkan yang kemudian secara perlahan diterima di dunia pesantren.

Pilihan atas busana, selain didorong oleh doktrin agama, juga dibimbing oleh nilai-nilai seperti kepantasan, kesopanan, dan kaidah sosial lainnya. Pada dekade 60 atau 70-an, tak cukup tersedia pilihan busana penutup aurat itu selain selembar kain atau selendang.  Karena itulah masuknya penutup aurat model jilbab ke pesantren oleh sebagian kalangan tidak dianggap sebagai hal baru yang bisa menggoncang tatanan dan nilai pesantren.   Mbak Dur, seorang pengasuh pesantren di Yoagyakarta menilai bahwa tak ada yang berubah dengan cara berpakaian orang pesanntern, dari dulu sama-sama menutup aurat. Proses pembudayaan ini berlangsung dari generasi ke generasi. Jilbab, dengan demikian, lebih dipandang sbagai mode. Sesuatu yang tidak berbeda dengan mode berbusana kerudung dan kerpus plus kebaya.

Bagi generasi tua, memakai jilbab barangkali adalah pilihan, bisa dipakai bisa tidak. Kini  masih bisa ditemui ibu-ibu sepuh di pondok-pondok pesantren yang hanya mengenakan kebaya dilengkapi dengan kerudung. Namun pada generasi berikutnya, jilbab adalah sejenih pilihan tertutup. Rika, yang besar di pondok pesantren, mengatakan bahwa  dalam dirinya tidak pernah terbit pertanyaan tentang apakah harus memakai jilbab atau tidak. Baginya, jilbab sudah menjadi sesuatu yang tak terbantahkan. Pilihannya cuma masalah waktu: kapan harus memakai jilbab. Arina (26 tahun), mengenal jilbab sejak masuk ke bangku Tsnawiyah setingakt SMP, yang mewajibkan jilbab sebagai seragam sekolah. Kendati begitu, mereka juga menyaksikan bahwa generasi yang lebih tua dari dirinya cenderung lebih longgar dalam berbusana. Ibu Arina bahkan tidak berjilbab sampai ia berbesan dengan keluarga kiai. Ia juga mengalami ketika model jilbab belum seperti sekarang ini. “Saya dan teman-teman, biasa mengenakan kain penutup kepala yag tidak terlalu besar, cukup dikerudungkan saja di kepala ketika mengaji…mungkin karena pilihan mode, dulu belum ada model jilbab seperti ini,” ujarnya. Rika punya kesaksian lain: “Pemakaian jilbab sepertinya baru marak sekitar tahun 90-an, paling tidak demikianlah fakta di dalam keluarga besar saya. Sebelum era 90-an, ibu, bulik-bulik, dan bude memakai kerudung biasa, atau bahkan tidak memakai penutup kepala sama sekali.”

Bagi Arina, jilbab pada mulanya ia kenal sebagai suatu kewajiban sekolah. Setelah menetap di pondok pesantren, ia mulai mengerti tentang keharusan menutup aurat bagi perempuan. Jilbab baginya kemudian menjadi kewajiban agama. Ia memilih mengenakan jilbab karena ajaran agama mengatakan demikian. Perjalanan hidupnya pun berada dalam orbit yang mendorong busana muslimah itu. Arina masuk pondok sejak Tsnawiyah (setingkat SMP), melanjutkan kuliah di IAIN—yang mewajibkan mahasiswanya mengenakan jilbab— sambil mondok di pesantren krapyak, Yogyakarta. Selesai kuliah, ia sejenak mengajar ngaji di pesantren tersebut. Ia bekerja pula di perusahaan yang mendorong karyawannya mengenakan jilbab. Demikian pula dengan Rika yang sejak kecil hidup di dunia pesantren. Bagi kalangan pesantren yang segenerasi dengan Rika dan Arina, jilbab adalah sesuatu yang lumrah, suatu mode pakaian yang memang sudah seharusnya dikenakan kaum santri.

 

 

Pergeseran dan perubahan

Keterbukaan pesantren pada dunia di luar dirinya, sebuah hal yang tak terelakaan itu, telah membawa berkahnya sendiri. Di antaranya adalah perpergeseran-pergesarn makna yang dialami individu-individu yang pernah hidup di lingkungan bernama pondok pesantren ini.“Pandangan saya tentang jilbab masih sangat konservatif, Saya sejak dulu menganggap itu kewajiban. Tapi sekarag saya menganggapnya lebih sebagai kesopanan,” demikian papar Arina. “Saya merasa nyaman jika mengenakan jilbab, misalnya aku tidak nyaman jika menerima tamu tanpa jilbab. Jadi lebih pada nilai kesopanan. Saya tetap percaya jilbab adalah kewajibab agama, tapi saya menyesuaikan dengan konteks keindonesaan, saya tidak merasa perlu memakai jilbab-jilbab panjang,” imbuhnya. Ketika masih di pesantren rika mengaggap orang luar pesantren yang tak berjilbab adalah orang-orang kelas dua yang belum tercerahkan. Pandangannya berubah ketika dia mulai kluar dari cangkang pesantren dan masuk bangku kuliah di unversitas umum yang para pemakai jilbabnya kadang lebih ketat ketimbang ketika dia di pesantren. “Saat kuliah ini pula saya mendapati cara berjilbab yang terasa aneh bagi saya. Kali ini bukan bentuk jilbabnya, melainkan keketatan penggunaannya,” ujarnya. Di lingkuannya rumahnya jilbab tidak digunakan secara ketat, namun di lingkungan teman-teman kuliahnya ia mendapati temannya yang bahkan merasa harus berjilbab ketika hendak ke kamar mandi. Pengalaman Rika ini menunjukkan adanya perbedaan cara menyikapi jilbab antara orang pesantren dengan kalangan islam perkotaan.

Perjumpaan dengan berbagai hal baru tentu akan melahirkan pergeseran. Arina, yang hingga kini tetap mengenakan jilbab, merasa bahwa bagian terpenting dari jilbab adalah kenyamanan ketika ia mengenakannya. Persinggungannya dnegan pemikiran-epmikiran Islam kontemporer ketika kuliah di IAIN juga mengubah cara pandanganya terhadap agama. Rika dengan sejumlah perjumpaannya lantas sampai pada titik ketika dia melihat jilbab adalah soal identitas. Baginya, jilbab bukan lagi satu-satunya pilihan. Tentu saja perubahan dan pergeseran tidak hanya terjadi pada mereka yang sudah keluar dari pesantren. Dunia pesantren pun mengalamai perubahan seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi di luar diri mereka. Mode berpakaian jilbab, pada kenyataannya, adalah juga perubahan yang datang dari luar.

Patut dicatat bahwa yang pada awalnya menggenakan penutup kepala rapat atau jilbab ini adalah kalangan perempuan islam perkotaan. Umumnya aadalah mahasiswa. Sebagai sebuah mode busana muslimah, tak ada catatan yang pasti tentang kapan dan siapa persisnya yang memperkenalkan model penutup rambut semacam itu. yang tampak terang adalah bahwa momen jilbabisasi dimulai dari kalngan terpelajar kelas menengah, terutama dari kalangan mahasiswa. Hasballah melalui Cultural Presentation of the Muslim Middle Class in Contemporary Indonesia, mengutarakan bahwa melalaui jaringan aktivis mahasiswa Islam inilah transmisi dan sosialisasi jilbab terjadi. Setelah itu baru kemudian para Nyai di pesantren juga mulai mengenakan tudung kepala model baru itu. Penyerapan pesantren terhadap model pakaian jilbab jelas tidak sulit. Terutama karena doktrin yang diajarkan di pesantren memang mendorong pakian yang menutupi tubuh dengan rapat. Popularitas jilbab semakin kencang seiring menguatnya simbol-simbol islam dalam dunia sosial Indonesia.

Pesantren hidup dalam atmosfer seperti ini. Simbol-simbol keislaman seperti jilbab telah menjadi bagi strategi pemasaran modern. Agama tidak lagi bekerja untuk membatasi konsumsi, namun justru menggelorakannya. Selain jilbab, contoh paling gambliang dari ini adalah haji dan label halal. Bagaimanapun, jilbab—dari berbagai mode  yang tersedia—adalah produk pasar. Perempuan Islam di Indonensia, termasuk mereka yang hidup di pesantren, berhadapan dengan banjir barang dan promosi pakaian jilbab. Mereka berhadapan dengan pasar yang tak cuma menjanjikan barang, namun juga surga. Pilihan atas pakaian, dengan moel yang bisa diteriama memenuhi harapan doktrinal sekaligus harapan sosial tentu akan lebih mudah diterima. Apalagi beragamnya pilihan atas model jilbab juga memberi ruang untuk menunjukkan status sosial pemakainya. Tren paling gampang dilihat adalah bahwa islam di indonesia telah menjadi agama yang sangat trendi, fashionable. Seiring dengan ini, berbagai produk Islami bermunculan dan sesuai dengan hasrat masyarakat konsumer. Para santri dan Nyai berada dalam dunia sosial seperti ini.

 

 

 

 


Beranda  |  Kategory: Edisi 17 | | Trackback URI

One Response to “Konsumsi Para Santri: Dari Kerudung Sampai Jilbab”

  1. [...] Eh, ternyata di zaman dahulu kala, saya pernah menulis dan meliput tentang pergeseran cara berbusana perempuan di pesantren. Kita tahu, di masa lalu para santri perempuan berbusana secara lebih longgar jika dibanding sekarang. Mengapa ya itu terjadi? Pertanyaan itulah yang kemudian membawa saya menulis di sini —> http://srinthil.org/523/konsumsi-para-santri-dari-kerudung-sampai-jilbab/ [...]

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia