“Dewi Sri” Tak Manggung Lagi

1 - Jan - 2014 | Muhammad Nurkhoiron | No Comments »
“Dewi Sri” Tak Manggung Lagi

http://kathleenazali.c2o-library.net

Seni-seni tradisi yang saat ini masih diminati masyarakat, khususnya di pulau Jawa sebagian lekat dengan tradisi menghormati Dewi Sri, dewi kesuburan yang disakralkan oleh para petani. Misalnya seni Lengger/Ronggeng, Gandrung, bahkan Sanghyang dari Bali. Lengger/Ronggeng misalnya sampai sekarang masih diminati masyarakat, khususnya masyarakat di sekitar Banyumas. Oleh karena itu, Ahmad Tohari pada saat menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk, dengan mudah dapat menggambarkan suasana dan setting sosial masyarakat Banyumas(an) yang pada suatu masa masih mengingat dengan baik spirit komunitas Ronggeng dalam merawat tradisi dalam menghormati Dewi Sri.

Kesenian ini hidup dan berkembang seiring pergulatan masyarakat pertanian. Saat panen tiba, para petani dan seluruh masyarakat desa merayakan rasa sukur ini dengan menghormati Dewi Sri, Dewi kesuburan. Mereka memanggil para Lengger. Oleh karena itu, seorang Penari Lengger disimbolkan sebagai penjelmaan Dwi Sri (kesuburan) sebagai simbol kemakmuran pertanian. Para Lengger secara spontan melakukan ritual di tengah hamparan sawah usai panen tiba. Sang Penari dengan pengiringnya menggelar tikar lalu diatas tikar itu sembari diiringi calung dan kendang ia meliuk liukkan tubuhnya.

Dalam Lengger/Ronggeng ini tidak jarang diiringi ebeg (semacam Jathilan) yang ketika sampai ke situasi trance ia akan memamerkan keberingasannya; makan kaca, api, kerikil dan barang-barang keras lainnya. Ebeg digambarkan sebagai sosok antagonis yang disimbolkan sebagai kekuasaan yang merusak. Hubungan antara kekuatan yang memelihara, dan merusak masih kita dapatkan dalam kepercayaan Hindu Bali, Dewa Wisnu dan Siwa, simbol yang selalu dirayakan dalam ritual dan upacara mereka. Dalam Islam disebutkan oleh Alquran sifat-sifat manusia, faalhamaha fujuraha wa taqwa ha (di dalam diri manusia terdapat sifat merusak dan tunduk patuh). Ini adalah tradisi esoterisme yang dapat ditelusuri di berbagai tradisi keagamaan, upaya-upaya untuk menjaga keseimbangan dengan menghimpun kekuatan memelihara dan mengurangi sifat merusak.

Lebih-lebih di masyarakat petani pedesaan. Hubungan antara kekuatan yang memelihara dan merusak tidak dapat dipisahkan dengan ekologi pertanian. Masyarakat petani menghadapi situasi ini dalam kehidupan sehari-hari. Panen raya adalah berkah yang harus disyukuri, akan tetapi pada saat yang bersamaan, mereka harus mewaspadai perubahan iklim dan cuaca yang tidak bisa ditebak, sewaktu-waktu berkah mereka segera ditarik dengan penderitaan karena serangan hama, penyakit endemik, banjir dan kemarau panjang yang membuat mereka dalam suasana prihatin. Kehadiran ebeg adalah batas yang harus mereka tempatkan saat harus merayakan dewi kesuburan bersama Ronggeng.

Dalam Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari, dikisahkan Ronggeng atau Lengger sebagai sosok yang mendapat indhang, sejenis roh halus yang masuk ke tubuh Ronggeng dan akibatnya si penari mendapat energi baru diatas kemampuan biasanya. Diawali oleh peristiwa kesurupan (trance), penari yang mendapat pulung ini secara spontan memiliki energi luar biasa dalam memainkan tubuhnya seiring suara calung dan kendang. Jadi proses menjadi penari, tidak bisa dimiliki oleh siapa saja, dan tidak semua penari yang bekerja keras belajar menjadi Ronggeng tidak selalu mendapat indhang. Untuk mendapatkan indhang, yang harus dilakukan adalah ritual khusus sebagai upaya memanggil roh indhang. Ritual ini antara lain diawali oleh proses midang selama tujuh kali, dimana penari berkeliling desa untuk mendapatkan dukungan (legitimasi sosial). Proses ini juga bagian dari uji nyali mental sang penari. Biasanya saat prosesi ini penari meminta tanggapan imbalan berupa uang dari rumah ke rumah sebagai pengesahan sosial apakah ia bisa diterima dengan baik atau tidak. Setelah itu dia bisa diwisuda, suatu simbol dimana uji nyalinya dinyatakan lulus. Namun demikian, uji nyali saja tidak cukup, seorang penari harus melewati ritual-ritual khusus berupa puasa, semedi, mandi air bunga setaman, dan pantangan beberapa hal. Ini adalah momen-momen paling keras sebelum ia mendapat kehormatan sebagai ratu Ronggeng.

Jadi menjadi Ronggeng tidak cukup ditempa dengan latihan berdisiplin tinggi, karena menjadi Ronggeng adalah bakat alam. Alam yang memilihnya menjadi Ronggeng. Dalam cerita yang disajikan Ahmad Tohari, suasana dukun paruk menciptakan para Ronggeng dari generasi ke generasi. Meskipun demikian, pewarisan ke generasi berikutnya tidak bisa dilakukan karena dara biru Ronggeng. Roh halus telah menentukan sendiri kepada siapa darah menjadi Ronggeng harus diserahkan.

Melalui Novel Ahmad Tohari itu pula kita mendapatkan informasi mengenai ritual bukak kelambu. Bukak kelambu dimaksudkan sebagai proses ritual membuka keperawanan si penari yang ditawarkan kepada seluruh laki-laki yang mampu membayar paling tinggi. Deskripsi Tohari bisa menimbulkan multitafsir dan polemik jika proses ini dimaknai secara keliru. Beberapa kali penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk ini menyatakan kebenaran informasi ini. Akan tetapi barangkali sekarang sudah banyak komunitas Ronggeng sendiri yang tidak mau lagi mengakui keberadaaan ritual bukak kelambu. Masalahnya sederhana saja, mereka tidak mau terlibat polemik berkepanjangan dengan tokoh-tokoh agama yang telanjur memaknai ritual ini sebagai amoral.

Bukak kelambu adalah proses paling mengesankan dalam hidup Ronggeng karena menjadi tahap paling menentukan untuk melangkah ke tahap berikutnya. Seorang Ronggeng akan menjadi dikenal dan dihormati setelah melewati masa ini. Persetebuhan dua insan yang dilakukan diluar pernikahan resmi, mereka bukan pasangan suami istri. Bagi penari Ronggeng tahap ini harus dilalui untuk mencapai derajat lebih tinggi sebagai bintang Ronggeng. Fase transisi yang mentransformasikan tubuh perempuan yang semula milik pribadi menjadi milik bersama, milik publik. Bagi Desa Dukuh Paruk, yang digambarkan oleh Tohari sebagai latar kelahiran Ronggeng, tubuh Srinthil sebagai penari Ronggeng justru dimaknai sebagai pelindung kesuburan dan kemakmuran desa. Sang Penari telah menerima dengan baik, roh pendahulu desa yang sejak lama bersama mereka dan melindungi keberadaan mereka saat ini.

Dalam ritual bukak kelambu, lelaki yang bersetubuh dengan Ronggeng tidak dianggap sebagai perselingkuhan atau perzinahan. Karena ritual ini dilangsungkan oleh komunitas dimana para suami yang berlomba untuk mendapatkan posisi mendampingi sang penari telah diketahui oleh para istri-istrinya. Para perempuan lain yang laki-lakinya mendapat giliran bersama Ronggeng dalam ritual Bukak Kelambu tak harus dibuat malu, sebaliknya ia merasa bangga karena suaminya seperti mendapat kehormatan. Dilihat dari perspektif feminisme, relasi Ronggeng dihadapan para lelaki ini bisa jadi menimbulkan polemik. Disatu sisi, bukak kelambu memposisikan relasi perempuan yang lebih dominan dihadapan lelaki — karena yang menentukan proses ritual, akan tetapi permainan ini juga bisa dianggap sebagai komodifikasi dan desakralisasi tubuh perempuan, karena tubuh perempuan dihargai secara material (siapa yang menawar paling tinggi, dia lah yang memenangkan peran bukak kelambu).

Perempuan Ronggeng dalam tradisi bukak kelambu adalah perempuan dengan subyek yang menciptakan aura kesuburan. Ini berbeda dengan anggapan miring yang menyatakan posisi Ronggeng seperti membuka praktek prostitusi. Padahal menjadi Ronggeng bukan pilihan profesi dalam rangka mencari nafkah ekonomi, apalagi dimaknai menjual tubuh perempuan dengan tawaran paling tinggi. Ronggeng adalah panggilan masyarakat yang prosesnya dimediasi melalui roh halus. Tradisi bukak kelambu mentransformasi antropologi tubuh perempuan yang semula bersifat privat menjadi milik publik. Karena menjadi Ronggeng adalah panggilan untuk mereproduksi, memanggil kembali Dewi Sri, dewi kesuburan. Dalam kosmologi agraris, menciptakan kesuburan adalah tugas bersama.

Namun, tradisi ini sulit diterima oleh cara pandang Patriarkis dan moral Victorian pada masa sekarang. Perempuan yang terdomestifikasi alih-alih menjadi milik publik, posisinya didudukkan sebagai objek seksualitas hanya oleh satu laki-laki (suami). Sementara moral victorian beranggapan hubungan persenggamaan suatu pasangan hanya bisa dilegitimasi oleh moral bersama sejauh dilakukan di dalam proses pernikahan, pasangan suami istri. Menurut Foucault, karena penalaran modern tentang seksualitas dibatasi seperti ini, modernitas sebagai abad laki-laki, dan menunjukkan bahwa laki-laki merupakan jenis spesial subjek dan objek total atas pengetahuannya sendiri (Dreyfus and Paul Rabinow, 1982; 18). Pendisiplinan wacana seksualitas pada akhirnya menempatkan seksualitas sebatas dibicarakan di ruang privat, wacana ini juga meletakkan moralitas perkawinan, rumah tangga sebagai lembaga reproduksi yang penting menopang abad modern. Pilihan bagi perempuan di era ini seperti buah simalakama, jika tidak terdomestifikasi ia menjadi obyek komoditas kapitalisme. Lambang kesuburan terdesak oleh perempuan sebagai agen komoditas ekonomi-politik.

Moral victorian berbeda dengan wacana seksualitas di masa abad Hinduisme yang masih didominasi oleh budaya agraris. Dalam versi Hinduisme di India masa lampau yang paling ekstrim membicarakan seksualitas, dikenal ada golongan sekte mistikus, golongan ciwa cakra tantrayana yang didalam cita citanya mengejar moksa jalan sesingkat singkatnya antara lain dengan persetubuhan (maithuna), Golongan ini menyembah cakti dari ciwa, yaitu Uma atau Durga. Dalam aliran ini yang bagi masyarakat dianggap terlarang justru dianggap sebagai ritual suci. Menurut bahasa mereka, tidak ada sesuatu yang kotor bagi manusia yang suci. Sejarah seksualitas Hindu seperti ini juga masuk dalam tradisi dan kebudayaan di nusantara, dimana seksualitas dipandang lebih “terbuka”, seterbuka kebutuhan sehari-hari seperti makan dan minum yang harus dinikmati sebaik baiknya.

Banyak candi-candi yang sangat terkenal di India menggambarkan adegan-adegan seksual yang merupakan ciri tradisional mengenai seksualitas (Onghokham, 1991; 17). Simbol yoni, lingga sebagai simbol kelamin juga banyak dijumpai di dalam patung-patung sekitar candi di beberapa daerah di pulau Jawa. Wacana seksualitas seperti ini lebih dipandang sebagai lambang kesuburan masyarakat, sesuai dengan sosiologi masyarakat di Nusantara yang berbasis agraris. Seksualitas memiliki dimensi sakralitas,

Spirit perempuan dalam tradisi Ronggeng, Lengger dapat pula dijumpai di dalam kesenian tradisi Gandrung Bayuwangi, Sanghyang Bali. Kesenian-kesenian ini memiliki dimensi sakralitas karena dapat berfungsi sebagai medium pengobatan dan solidaritas sosial. Prosesi mereka melakukan ritual sakral juga hampir serupa yaitu melakukan pemanggilan terhadap dayang, widadari yang dipercayai sebagai mahluk halus yang selama ini turut menemani dan membantu mereka mengurangi kesengsaraan, bencana dan berbagai penyakit yang merusak kehidupan mereka[2]. Kematian dan kehidupan manusia bukan siklus yang terputus tetapi saling berhubungan dan membangun komunikasi satu sama lain dalam keseimbangan alam. Masa lalu dan sekarang berhubungan secara siklikal menuju masa depan. Oleh karena itu, pemanggilan pada roh halus adalah upaya membangun hubungan, saling berkomunikasi menciptakan keseimbangan alam.

Dalam kosmologi agraris, manusia dan alam berhubungan secara harmonis, manusia memerlukan alam dengan seluruh mekanisme dan berbagai perubahan yang menyertainya. Kosmologi agraris masih meyakini betapa kehidupan manusia sangat tergantung dengan siklus dan perubahan alam sebagai sandaran kehidupan mereka. Manusia dan alam menjadi satu kesatuan yang saling menopang. Tidak ada dualisme manusia dan alam. Oleh karena itu, kreativitas kebudayaan terbaik adalah mengembangkan kehidupan alami sebaik mungkin. Ini artinya, masyarakat menyadari hidup dan perkembangan mereka harus disesuaikan dengan keselarasan alam. Menurut Deleuze dan Guattari, esensi manusia dan alam adalah skizofrenia, dunia produksi dan reproduksi mesin hasrat (Deleuze dan Guattari, 1972/1983; 5, dan Ritzer 2008; 212). Sebuah mesin yang berpacu liar dan bebas lepas dari hasrat seksualitas yang ditundukkan, ditertibkan oleh kapitalisme.

Namun dalam kondisi sekarang “skizoprenia” Ronggeng tak hidup lagi, yang tersisa adalah para Ronggeng yang sudah mengikuti hukum kapitalisme. Saat ini Ronggeng sudah menjadi kesenian hiburan biasa. Siapa saja bisa menyewa untuk mementaskan kesenian ini. Kesenian ini serupa dengan Gandrung dari Banyuwangi, Cokek dalam masyarakat Betawi, Ledek dari Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan dombret (Ninuk Kleden, 1991; 40-2). Kesenian-kesenian tradisi ini meskipun masih diminati masyarakat, sudah semakin kehilangan esensi sakralitasnya. Tentu saja pemaknaan Lengger dalam konteks sekarang menjadi lain. Dominasi patriarkis menjadikan posisi Lengger terdesak ke pinggir, sekedar penghibur laki-laki. Kegembiraan dalam merayakan kesuburan tak lagi dimiliki para petani. Pertanian telah hilang sebagai lokasi budaya terpenting bagi masyarakat Jawa[3]. Tanah-tanah diperkosa dengan varietas unggul yang dipenuhi dengan kandungan kimiawi yang mematikan. Saat tanah tak lagi subur, tanah-tanah telah digundul, digali untuk tambang dan dihancurkan seluruh dimensi ekologinya. Dalam situasi seperti ini sumber-sumber kebudayaan yang mengkreasi semacam seni tradisi Lengger, Ronggeng, Gandrung, dan lain-lain hilang. Sakralitas tanah yang dilenyapkan menghilangkan dimensi sakralitas seni-seni tradisi. Kesenian Lengger pun cuma menjadi hiburan dan bahkan lebih celaka lagi menjadi obyek sahwat kaum lelaki yang dipenuhi hasrat seksual mekanik dan impersonal.

Dengan demikian menghidupkan sakralitas Lengger tidak bisa dilakukan melalui revitalisasi kesenian secara parsial karena Lengger, Ronggeng adalah bagian yang tak terpisahkan dari denyut nadi tradisi dan budaya agraris yang mennyetujui pengolahan tanah dan penciptaan tradisi diatasnya sebagai sesuatu yang sakral. Ini artinya tanah bukan dilihat sebagai nilai komoditas (ekonomi) semata akan tetapi menjadi sumber kehidupan dan way of life.

Hidup matinya Lengger, Ronggeng adalah hidup matinya nilai-nilai agraris; suatu nilai yang dibentuk dari “spirit perempuan” (female spirit) yang menurut Vandhana Siva, turut membangun keselarasan manusia dan alam.

—————————————————————————————

*Penulis, adalah Ketua Yayasan, Desantara Foundation
Menjabat sebagai Komisioner KOMNASHAM Periode 2012-2017.

[1] Tulisan ini merupakan revisi dan adaptasi dari tulisan berjudul “Spirit Perempuan” dalam Seksualitas Seni Tradisi Lengger yang Disampaikan dalam acara kuliah umum Ourvoice Indonesia, Jakarta 29 Desember 2013. Istilah manggung adalah kata kerja dari asal kata benda, panggung (biasa dijumpai dalam pengguna bahasa Jawa), maksudnya berada di atas panggung (sedang pentas kesenian).

[2] Yang menarik medium untuk menjemput para dayang, widadari ini tidak mesti diperankan oleh perempuan yang sesungguhnya. Selama beberapa periode, Seblang, Lengger juga pernah diperankan oleh transgender (waria). Ini menunjukkan yang dipentingkan dalam pelaksanaan ritual kesenian Lengger, Seblang, adalah karakter perempuan. Namun peran transgender meredup bersamaan dengan semakin menguatnya tradisi santri di masyarakat Jawa. Bahkan peran transgender ini bila dilihat lebih luas memiliki posisi penting di dalam ritual-ritual kesenian tradisi yang menyebar di beberapa tempat di nusantara seperti gemblak dalam seni tradisi Reyog, Bissue di Sulawesi Selatan. Dalam tradisi Bissue, mereka ini malah diperankan sebagai pemimpin ritual di kerajaan-kerajaan Islam Sulawesi Selatan, yang dimanfaatkan untuk upacara pengobatan dan lain-lain. Lihat, Maintaining Using Identity Throuhg Musical Performce: Seblang And gandrung of banyuwangi, East Jawa Indonesia, Disertasi (1985). Hlm, 227. Lihat juga, Robert Wessing, A Dance of Life The Seblang of Banyuwangi, Indonesia, Bijdragen tot de Taal, Land -en Volkenkunde 155 (1999), No.4, Leiden. Hlm 644-682.

[3] Yang menarik menurut saya, cerita Ronggeng yang diangkat Ahmad Tohari dalam Ronggeng Dukuh Paruk juga mendeskripsikan mengenai suatu periode perubahan besar-besaran masyarakat Indonesia yang turut menggeser nilai-nilai yang semula disakralkan dalam seni tradisi Ronggeng. Tohari menggambarkannya melalui peristiwa politik 1965. Tohari menggambarkan situasi Dukuh paruk yang semula sangat bersahaja, memiliki nilai keagaaam lokal yang menopang dan mempertahankan seni tradisi Ronggeng ikut hancur karena dituduh sebagai basis komunis. Secara umum, periode 1965, mengawali perubahan besar masyarakat pedesaan yang mulai digarap dan diintervensi oleh negara Orde Baru melalui revolusi hijau. Periode revolusi hijau menandai pergeseran pertanian sebagai basis persemaian sistem budaya agraris yang ditopang oleh sosial keagamaan sinkretis menjadi lahan komoditas yang ditopang oleh sistem keagamaan pragmatis, formalistis. Benih-benih lokal yang semula tidak diperjualbelikan dan dengan mudah diakses oleh petani dilenyapkan dan diganti dengan benih legal yang dikenalkan pemerintah dan harus dibeli oleh petani. Pertanian hanya dilihat sebagai komoditas ekonomi. Usai peristiwa 1965, banyak sekali tradisi kelompok abangan, yang didalamnya banyak menyimpan nilai-nilai keagamaan sinkretis, esoteris hilang karena dituduh sebagai aliran sesat, dan komunis. Akibatnya, seni-seni tradisi yang menyimpan nilai kearifan lokal ikut tenggelam, atau berubah menyesuaikan keadaan zaman. Lihat, Muhammad Nurkhoiron, Islamisasi dan Resistensi Abangan Dalam Masyarakat Jawa Modern (Studi Kasus Desa Kajen dan Desa Bakaran Pati Jawa Tengah), Tesis Sosiologi Paska Sarjana UI, Depok.


Beranda  |  Kategory: Esai | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia