Turmini, Tuak, dan Kehidupan Orang Nggunung

6 - Jan - 2012 | Paring Waluyo Utomo | No Comments »

“Saya dulu hanya sekolah setara sekolah dasar, namanya Sekolah Rakyat. Pada jaman itu, orang desa bisa sekolah itu sudah sebuah anugerah. Keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan, membuat saya sekeluarga tidak bisa melanjutkan jenjang sekolah lebih tinggi. Kami sekeluarga harus membantu orang tua berjualan tuak,” kenang Turmini.

Usianya sudah renta, hidup seorang diri, di sebuah gubuk di sudut desa Jadi, kecamatan Semanding, Tuban. Itulah Turmini, wanita yang hidup dibanyak jaman, dan menjadi saksi perguliran sejarah atas kehidupan orang-orang nggunung1 Tuban. Bahkan untuk menandai kerentaannya, Turmini tidak mengetahui kapan ia dilahirkan. Ia hanya bisa memperkirakan kalau umurnya lebih dari 60 tahun.

Sejak kecil, Turmini telah berprofesi sebagai penjual tuak. Ia menjual tuak dengan berkeliling kampung yang berbukit-bukit. Terlebih jika ada orang hajatan yang mendatangkan hiburan atau keramaian, dimanapun, asal masih di sekitar Tuban, ia bersama beberapa tetangganya akan mendatangi keramaian itu untuk menjual tuak, dan makanan pengiringnya, serta jajanan kering.

Seperti yang dituturkan Turmini kepada Srinthil, saat ia masih kecil, pohon Bogor di Tuban masih nampak rindang. Pohonnya juga masih banyak, tidak hanya di kecamatan Semanding, tapi juga di Grabakan, Rengel, Merakurak, dan Kota Tuban. Namun pohon-pohon itu kini menurun drastis, dan yang masih bertahan di Kecamatan Semanding dan Palang.

Tak hanya jumah pohon Bogor yang menurun, tapi hajatan-hajatan orang orang desa juga tak banyak lagi yang nanggap sindir, atau wayang.
“Saya dulu hanya sekolah setara sekolah dasar, namanya Sekolah Rakyat. Pada jaman itu, orang desa bisa sekolah itu sudah sebuah anugerah. Keadaan ekonomi keluarga yang pas-pasan, membuat saya sekeluarga tidak bisa melanjutkan jenjang sekolah lebih tinggi. Kami sekeluarga harus membantu orang tua berjualan tuak,” kenang Supi’ah.

Paling-paling masyarakat jaman sekarang nanggap orkes dangdut, yang penontonya sering tawuran itu. Bagi orang seperti Turmini, semakin sering ada tontonan massal di desa-desa, semakin menjadi kesempatan emas baginya untuk mencari nafkah dengan berjualan tuak.

Tantangan berjualan tuak dan makanan kecil pendampingnya bagi Turmini remaja adalah moda transportasi dan kondisi jalan. “Dulu kalau mau jualan tuak, meskipun jauh sampai belasan kilo, ya harus jalan kaki, mas. Darimana kami memiliki kendaraan, kendaraan umum juga tidak ada. Biasanya kami menginap di lokasi jualan tuak, sampai tuaknya habis, baru jalan kaki pulang,” kenang Turmini.

“Kondisi jalan saat itu belum beraspal mulus seperti sekarang, jalan berbatu cadas, terkadang lancip, apalagi saat siang hari cuaca panas, semakin menambah berat mencari nafkah. Namun yang menyenangkan, peminat tuak saat itu masih sangat banyak, meskipun sekarang juga banyak, tapi tak sebanyak dahulu. Saya waktu itu sudah terbiasa berjalan sampai ke Grabakan, pulang pergi,” imbuh perempuan yang setia berjualan tuak hingga masa tuanya ini.

Jarak desa Jadi sampai Grabakan memang masih jauh, jika diperhitungkan jaraknya bisa sampai 20 kilometer sekali berangkat. Tak terbayang jarak sejauh itu ditempuh oleh Turmini dan para perempuan penjual tuak lainnya. Selain jarak yang jauh dan medan yang berbukit-bukit, mereka juga harus melalui deretan hutan jati yang luas, sekaligus kering, terutama saat musim kemarau.

Seperti kebiasaan orang nggunung, Turmini menikah dalam usia yang sangat muda. Kira-kira umur 14 tahun ia menikah dengan sesama warga desa Jadi. Dari pernikahannya ini, Turmini dikaruniai empat orang anak. Perjalanan pernikahan Turmini tak berakhir manis, ia dan suaminya bercerai. Beberapa tahun setelah perceraian itu, ia menikah kembali. Sayangnya, tak berapa lama, pernikahannya kedua juga kandas.

Meskipun dua kali kandas dalam membina rumah tangga, tapi Turmini tidak terus-terusan larut dalam kesedihan. Ia tetap menjalani hidupnya dengan serileks mungkin dengan tetap menatap dunia melalui berjualan tuak. “Berjualan tuak itu juga tak semata-mata untuk mendapatkan uang, tetapi juga bisa berkenalan dengan banyak orang. Warung tuak biasanya digunakan untuk cangkru’an, melalui cangkrua’an itu banyak kabar yang bisa didengar, sekaligus juga mendekatkan diri dengan tetangga sekitar, karena kalau buka warung begini, yang membeli juga para
tetangga,” kata Turmini.

Teman hidup Turmini kini hanya seekor kucing kesayangannya. Di rumahnya yang mirip gubuk, tiada tempat mandi, apalagi toilet. Atap gubuk, lebih-lebih ruang dapurnya tak tertutup genting dengan rapat. Siang itu sinar matahari masuk melalui celah-celah atap gubuknya yang berongga. Hanya ada sebuah kamar, dan di belakangnya ruang dapur yang sempit. Tempat tidurnya hanya ranjang kayu yang sudah tua, dengan tikar pandan di atasnya, Tiada ruang tamu yang cukup luas, apalagi meja kursi, yang ada hanya amben panjang.

Kondisi dapurnya lebih parah lagi. Tiada kompor minyak, apalagi tabung gas elpiji. Hanya terdapat tungku perapian yang sumber apinya dari kayu bakar. Atap dapurnya yang terbuat dari daun lontar kering telah melapuk dan tak lagi tersusun dengan rapi. Bisa dibayangkan saat hujan pasti Supiah akan basah kuyup.Ini semakin memilukan karena gubuknya berlantaikan tanah, sehingga semakin menambah becek saat air hujan masuk.

Mandi, buang air besar dan kecil, mencuci dilakukan di toilet mushola yang berada tidak jauh dari gubuknya. “Sebenarnya anak-anak saya menginginkan saya hidup serumah dengan salah satu diantara mereka. Namun saya tak mau, karena saya tidak mau merepotkan mereka. Saya lebih senang hidup begini. Mencari penghasilan sendiri, meskipun hanya berjualan gorengan dan tuak,” ujar Turmini lagi.

Dengan berjualan tuak dan gorengan, sehari Turmini mendapat keuntungan berkisar Rp. 15.000- 20.000. “Lumayan cukup mas, untuk memenuhi kebutuhan saya sehari hari, meskipun harus hidup benar-benar berhemat dan makan ala kadarnya,” lanjut Turmini.

Saat ditanya soal kemungkinan adanya pelarangan berjualan tuak oleh aparat keamanan, Turmini menjelaskan, ia tak pernah berurusan dengan aparat keamanan. “Tak ada larangan dari polisi mas. Bebas saja kami menjual tuak dari dulu sampai sekarang. Tuak itu khas Tuban, lha kalau dilarang, kekhasan Tuban yang hilang. Terus kalau dilarang, akan makin banyak orang yang kehilangan mata pencaharian. Para pemilik Pohon Bogor akan bangkrut,” ujarnya.

Ditambahkan oleh Turmini, kebiasaan orang-orang Tuban minum tuak sebagai cara mencegah mereka terkena kencing batu. “Daerah Tuban ini airnya berkapur, apalagi di daerah Semanding ini. Meskipun air telah di godok (baca: rebus), airnya masih mengandung kapur. Orang-orang Tuban percaya bahwa dengan minum tuak, gumpalan kapur dalam air yang diminum dapat larut, ben gak kenek kencing batu (biar tak kenek kencing batu),” ujar tamatan Sekolah Rakyat ini.

Turmini juga menjadi saksi bahwa di desanya para pemuka agama tak menentang warga meminum tuak. Ia mengetahui bahwa minum tuak dilarang Agama Islam, tetapi karena minum tuak telah menjadi tradisi yang turun menurun, apalagi menjadi sumber ekonominya selama ini. “Kalau berurusan dengan agama, bagaimana ya mas, susah diomongkan,” katanya singkat. Tampak sekali diraut wajah Turmini penuh dilema saat ditanyakan soal tuak dan agama.

Menurut para tetangganya, Turmini tergolong perempuan yang mandiri. “Dia itu punya anak, mestinya dia bisa hidup enak serumah sama salah satu anaknya, dasar orangnya memang suka kerja sedari dulu. Sejak dulu dia itu ya jualan tuak,” ujar Pardi, salah satu tetangga Turmini yang sore itu nongkrong di warung Turmini untuk menikmati se-centak tuak, dengan sebatang rokoh kretek Sukun di jemarinya.

Di usianya yang senja, bahkan di tengah kesendirian, tak mengurangi tekad Turmini untuk terus menjual tuak, memberi layanan para penikmat tuak di desanya. Tuak dan Turmini bagaikan pasangan sehidup-semati, meskipun rumah tangganya gagal dua kali. Tidak hanya itu, bersama tuaklah Supiah menghantarkan anak-anaknya hingga dewasa, bahkan kini telah berumah tangga semua.

Cita-citanya kini hanya satu, jika suatu saat meninggal dunia, ia tidak merepotkan anak-anaknya dalam pembiayaan. “Ya berharap masih ada yang menjual tuak di kampung ini mas. Sepi kalau tidak ada warung tuak. Tidak ada tempat bagi orang-orang untuk nyangkruk bersama,” ujarnya sambil tertawa renyah.

Begitulah Turmini, di tubuhnya yang tua, masih tertanam tekad menyambung hidup, walaupun dalam suasana yang penuh keprihatinan. Jiwanya yang setia menjual tuak, tidak saja menghangatkan suasana warga kampungnya, dalam cangkrukan sore, tetapi juga menghidupkan instrumen-instrumen penting dalam tradisi lokal di Tuban.

[dinarasikan oleh Paring Waluyo]


1 Orang nggunung adalah orang-orang yang hidup didataran tinggi. Orang nggunung untuk membedakan kelompok dengan orang ngare (dataran rendah) atau orang pesisir.


Beranda  |  Kategory: Edisi 22 | Tags: , | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia