Hilangnya Tuak dan Berubahnya Gaya Hidup

6 - Jan - 2012 | Paring Waluyo Utomo | No Comments »

Perjumpaan orang-orang Tuban dengan dunia luar memang bukan sesuatu yang baru. Sejak masa kejayaan Singasari, Tuban telah menjadi kota pelabuhan yang menjadi pintu utama Singasari terhadap dunia luar. Transaksi perdagangan kuno juga sudah berjalan berabad-abad lamanya, terutama dengan Cina dan Timur Tengah.

Interaksi dengan kaum pedagang Cina sejak jaman Singasari telah membuahkan migrasi dan membentuk komunitas-komunitas baru di Tuban. Beberapa keturunan Tionghoa, bermukim dan menjadikan Tuban sebagai “rumah kedua”. Mereka juga membangun komunitas-komunitas pecinan dengan bangunan arsitekturalnya yang khas di Hidup pinggiran pantai.

Transaksi perdagangan dengan dunia Arab dan Gujarat, melahirkan peradaban-peradaban baru di Tuban, sebagai pintu perkembangan Islam awal di tanah Jawa. Bahkan dalam perkembangannya, Islam menjadi pilar kekuasaan penting di tanah Jawa selepas runtuhnya Majapahit yang berpusat di Trowulan, pedalaman Jawa Timur.

Seluruh interaksi orang-orang Tuban dengan dunia luar yang berabad-abad lamanya diakui atau tidak, telah membentuk mozaik kebudayaan di Tuban lebih beragam, warna warni, kaya tetapi masih menyisakan kosmologi lama, misalnya saja dengan tradisi minum tuaknya. Tuak sebagai perlambang eko-budaya setempat, bersanding mesra dengan arak yang sejak lama di kenalkan oleh bangsa Mongolia yang telah mendarat di Tuban sejak masa kekuasaan Kertanegara di Singsari.

Praktis, sejatinya sejak lama Tuban masuk kawasan dalam persilangan kebudayaan-kebudayaan besar dunia. Akan tetapi Tuban yang kecil, tidak serta-merta menjadi pion yang mudah dikuasai, diatur, dan dihegemoni. Sejarah membuktikan bahwa orang-orang Tuban mampu menerima, berdialog, sekaligus menyeleksi ulang apa yang sekiranya mereka perlukan dalam berkebudayaan. Dalam terminologi Lombart, kebudayaan Jawa memiliki energi osmosis, yang mampu penyerap atau menolak seluruh kebudayaan baru sebagai bagian dari modernisasi. Bagaimana wajah perjalanan kebudayaan di Tuban lebih lanjut? tentu waktu yang akan memberi tempat untuk mencari jawaban.

Waktu terus berjalan, modernisasi dan pembangunan suka tidak suka telah mengubah wajah peradaban, tak terkecuali kebudayaan masyarakat di Kabupaten Tuban. Dunia menjadi jauh lebih flat dengan daya dukung teknologi untuk menggerakkan manusia dan sumber daya dalam waktu cepat dan singkat. Batas-batas kebudayaan cenderung pula lebih mencair, sehingga usaha-usaha untuk mencari sesuatu yang otentik, tidak saja sia-sia, tetapi juga menceburkan kita dalam sirkuit pengetahuan yang semakin membingungkan.

Kisah mengenai perubahan-perubahan sosial penting di Tuban sebagai bagian dari negara modern, terbaca ketika bersentuhan dengan proyek-proyek besar. Sejak akhir tahun 90-an misalnya, di wilayah ini banjir investasi, baik asing maupun swasta nasional. Di sektor energi dan sumber daya alam, beberapa perusahaan raksasa yang memulai masuk ke Tuban adalah PT.Semen Gresik, Tbk yang disusul dengan beberapa perusahaan lain seperti Holcim Ltd dan Petrochina Ltd untuk usaha sektor minyak dan gas.

Sesuai data Dinas Perindustrian Kabupaten Tuban, pada tahun 2003, pemerintah setempat menyediakan lahan 49.209,5 hektar untuk kegiatan industri. 1 Kawasan seluas ini mencakup beberapa kecamatan di Tuban, antara lain; Kerek, Jenu Tambakboyo, Bancar, Merakurak, Palang, Semanding, Widang, Plumpang dan Rengel. Kegiatan industri ini sebelumnya berdiri pada lahan pertanian produktif yang membentang sepanjang 6,3 kilometer. Dari luas lahan untuk industri tersebut, 25 persennya berada dalam wilayah laut, berupa pelabuhan yang berlokasi di Kecamatan Jenu, berjarak sekitar 15 kilometer arah barat Kota Tuban.

Dari kawasan Industri yang direncanakan tersebut terbagi dalam zona-zona pengembangan industri, yaitu : Zona I Dipusatkan di Kecamatan Bancar dengan luas lahan 5.802,01 Ha. Potensi industri yang dapat dikembangkan meliputi industri keramik, pecah belah, pengolahan hasil perikanan dan pertanian. Zona II Dipusatkan di Kecamatan Jenu, Tambakboyo, Merakurak dan Kerek dengan luas lahan seluas 34.182,67 Ha. Potensi Industri yang dapat dikembangkan yaitu industri berat seperti industri genteng, gypsum dan eternit, semen, industri pecah belah, keramik, pengolahan hasil perikanan dan pertanian. Zona III Dipusatkan di Kecamatan Palang, Semanding, Widang, Plumpang dan Rengel dengan luas lahan seluas 9.225,27 Ha Potensi Industri yang dapat dikembangkan meliputi industri batu kapur, keramik dan pupuk.

Megaproyek dengan investasi besar yang membawa dampak ekologi yang serius bagi perubahan sosial-ekonomi di Tuban, tentu suatu peristiwa yang baru bagi masyarakat Tuban. Berbeda dengan Komunitas Sedulur Sikep di Pati, Jawa Tengah yang menolak datangnya investasi PT.Semen Gresik, Tbk di kawasan Kendeng Utara, masyarakat Tuban, terutama yang di perkotaan, dengan defisit lahan dan skill, justru menerima investasi besar itu sebagai suatu berkah pembangunan. Dengan menempel pada industri-industri besar itu, warga setempat memiliki kesempatan lain dalam hal produksi.

Karena minimnya skill, mereka berintegrasi dengan industri. Rata-rata, mereka menjadi tenaga kerja kasar di Semen Gresik, Semen Holcim, dan Petrochina, serta beberapa kegiatan industri lainnya. Sebagai data ilustratif atas serapan ketenagakerjaan pada sektor ini, kami suguhkan komposisinya sebagai berikut:

Semen Gresik Tbk, nilai investasi perusahaan yang berada di Kabupaten Tuban adalah sebesar Rp. 3.063.111.789.869,- Jumlah karyawan PT. Semen Gresik Tbk sebanyak Total Karyawan : 6.504 orang (SGG), S1/S2/S3 : 1.464 Orang, D3 : 508 Orang, SLTA : 3.786 Orang dan SLTP: 746 Orang . Sementara Semen Holcim, nilai investasi sebesar Rp. 3.130.250.000.000,- (Tiga trilyun seratus tiga milyar dua ratus lima puluh juta rupiah ). Perusahaan yang saat ini sedang dalam persiapan pembangunan pabrik direncanakan akan menyerap tenaga kerja sebagai berikut; Tenaga Ahli: 25 orang, Pegawai Tetap : 250 orang. Jumlah pegawai harian sangat menyesuaikan tiap harinya. Untuk Petrochina, nilai investasi yang ditanamkan di Kabupaten Tuban untuk mendirikan perusahaan PT. TPPI (Trans Pacific Petrochemical Indotama) adalah sebesar Rp. 377,720.000.000. Jumlah Tenaga Kerja : 562 Orang dengan pendidikan SD, SMP, SMA, D1, D3, S1, S2. Jumlah Tenaga Kerja Asing: 13 orang asing dengan pendidikan Sarjana3.

Pada sisi lower manajemen itulah orang –orang Tuban mengisi sektor-sektor tenaga kerja, dengan tingkat pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) ke bawah. Di sekitar kawasan-kawasan industri, masyarakat setempat yang dulunya bertani kini membuka usaha sektor jasa (indekos) dan dagangan kelontong, karena lahan bertani sudah tidak ada lagi. Sebagian lainnya memilih berpindah ke wilayah-wilayah lain di Tuban untuk tetap mencari lahan pemukiman baru, agar mereka tetap bisa bertani.

Urbanisasi dan pertambahan penduduk akibat investasi besar yang didukung teknologi canggih menjadi pola baru dalam perubahan sosial di Tuban. Situasi ini menghadapkan orang-orang Tuban dalam suatu peralihan besar, terutama dalam hal praktik-praktik produksi, yang berimplikasi pada perubahan gaya hidup, karena pada akhirnya akan menghasilkan pola-pola konsumsi yang berbeda-beda akibat penetrasi pasar global yang sedemikian agresif.

Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan untuk memfasilitasi para pendatang baru di sektor industri, di pinggiran dan pusat perkotaan Tuban tumbuh pusat-pusat perbelanjaan seperti Bravo Supermarket dan pusat-pusat hiburan malam yang menjamur di sisi barat Kota Tuban. Bisnis karaoke dan bar yang sebelumnya sangat minim, kini bak cendawan di musim penghujan. Bahkan lokalisasi Dasin yang berada pada perbatasan Kecamatan Jenu dan Kota Tuban kini seolah menjadi “Las Vegas” kecil yang menyemarakkan kehidupan malam itu. Gelak tawa wanita-wanita malam di kawasan ini tak lagi dihiasi “produk lokal”, tetapi migrasi-migrasi agresif dari berbagai daerah. Mereka ikut mengadu nasib cari peruntungan di Tuban.

Dulu, sebelum pusat-pusat hiburan di sekitar Dasin belum semarak seperti sekarang, lokalisasi Dasin hanya dihuni oleh warga setempat, yang kebanyakan wanita paruh baya, yang menjual jasa prostitusi kepada para sopir truk dan bis yang melintas di jalur pantai utara Jawa (Pantura). Sepuluh tahun silam, ketika saya memiliki kesempatan untuk hang out dengan beberapa kawan, warung-warung di Dasin yang dikelola oleh warga setempat masih banyak menyajikan tuak. Kini meskipun masih ada tuak, namun relatif jarang, dan didominasi oleh bir, serta beberapa minuman alkohol lokal yang diproduksi oleh usahawan setempat.

Di pusat kota, sepanjang jalan strategis, seperti Jalan Basuki Rahmat, Pemuda, Veteran, café-café skala kecil menengah menjadi arena baru dalam kehidupan publik. Tiada tuak dalam suasana malam seperti itu berbeda dengan duapuluh tahun yang lalu. Tuak setidaknya masih menjadi menu wajib dalam menemani kehidupan malam di Tuban. Sengaja saya mengunjungi café-café, dari skala kecil (rumahan) sampai yang cukup mewah, yang tersedia hanya botol-botol bir, dan beberapa varian red label yang citranya “berkelas”.

Puncuk dicinta ulam tiba, perjumpaan produk-produk global seperti bir dan minuman red label, menemukan pasangannya ketika bertemu dengan kaum muda, lebih-lebih dari kelas menengah ekonomi. Ini seperti konsepsi Irwan Abdullah (2006; 183) bahwa kaum muda sangat memungkinkan menjadi agen dari berbagai varian nilai-nilai untuk didefinisikan ulang. Meskipun, ada deviant, kaum muda menjadi artikulator pembangkangan dalam kisah-kisah protes.4

Mudzakhir, 25 tahun, warga Kelurahan Kebonsari, Kota Tuban, seorang teman kecil saya, dari golongan kelas yang belum mapan secara ekonomi menyatakan: “Anak-anak muda jaman sekarang, terutama yang di wilayah kota (Tuban) enggan untuk minum tuak. Sebagian dari mereka sebenarnya masih suka dengan tuak, tetapi minum tuak ada tempatnya tersendiri. Café-café ini memang pemiliknya orang-rang Tuban sendiri. Mereka tidak menjual tuak karena para pengunjungnya bukan asli orang Tuban semua, contohnya para karyawan semen, atau TPPI yang sebagaimana orang luar Tuban. Kalau menjual tuak mencitrakan sebagai café yang kurang bergengsi. Mosok café dodolan tuak (Masak café menjual tuak) ha..ha..ha..”

Dahulu, Mudzakhir termasuk anak muda yang sesekali juga minum tuak, karena pergaulannya dengan kelas-kelas sosial baru, seperti anak-anak muda Kota Tuban yang berkuliah di Surabaya atau Malang, definisinya atas tuak ikut pula berubah. Sejak itu, tuak ia letakkan sebagai kategori minuman yang ndeso atau lebih tepatnya kurang nggaya. Peralihan perilaku Mudzakhir yang dulu doyan tuak, dan kini hanya doyan bir semata, menyiratkan betapa ia dengan cepatnya “mengakselerasikan” dirinya dengan tatanan dan tren global, meski dalam situasi dan konteks yang sederhana, yakni soal selera minuman beralkohol.

Di sisi yang lain, disadari atau tidak, Mudzakhir dan teman-temannya menghadirkan gaya hidup baru, yang mengontraskan diri dengan “gaya minum” lama. Dengan membangun jarak yang oposisional itu, mereka memiliki ruang sendiri, ruang baru, yang bebas merdeka untuk mengguratkan nilai sendiri, meski harus meminjam trend-trend global.

Berbeda dengan Mudzakhir, teman seumur saya, Susilo Utomo, 33 tahun, warga Desa Tegalombo, lebih menggemari minum tuak daripada bir. Dari sisi pergaulan sosial, Susilo Utomo lebih banyak bergaul dengan orang-orang kampung biasa, bukan kelas mahasiswa perkotaan. Meskipun secara ekonomi lebih mampu daripadi Mudzakhir, Susilo Utomo tidak begitu gemar untuk kongkow malam hari di café-café.

“Saya lebih senang di warung-warung kopi atau warung penjual tuak, ketimbang di café-café. Secara ekonomi, masuk café jelas lebih mahal ketimbang masuk warung tuak atau kopi biasa. Jika disuruh memilih tuak dengan bir, saya sama-sama suka. Karena tuak harganya jauh lebih murah, maka, setiap hari saya lebih memilih meminum tuak daripada bir. Saya tidak peduli dengan urusan gengsi, dengan menganggap minum bir lebih modern ketimbang minum tuak. Memang, minum bir di jaman sekarang terlihat lebih modern”.

Sebagai pemuda yang bergerak dalam usaha kecil-kecilan, pemasok barang-barang untuk warung kelontong, pekerjaan Susilo Utomo memang secara sosio-ekonomis lebih mendekatkannya kepada tuak daripada bir. Apalagi pergaulan sehari-harinya lebih banyak berinteraksi dengan warga desa yang gemar minum tuak. Bahkan hampir semua lokasi penjual tuak dengan kualitas bagus, pemuda lajang ini mengenalnya.

Jika Mudzakhir meninggalkan tuak dan lebih memilih bir, Susilo Utomo menyukai keduanya, tetapi kebiasaan dan pekerjaan serta pergaulannya lebih mendekatkannya kepada tuak, maka ia lebih sering minum tuak ketimbang bir. Posisi yang diambil oleh Susilo Utomo ini bagaikan dalam “dua dunia” sekaligus. Maaf jika saya dengan serampangan harus meletakkan tuak dan minuman beralkohol pabrikan pada posisi dua dunia yang berbeda, meski asumsi ini sebenarnya tidak cukup memadai, dan tergesa gesa5.

“Dua dunia” yang saya maksudkan, Susilo Utomo bisa menempatkan diri dalam pergaulan dua entitas sosial yang berbeda. Ia memiliki komunitas “kelas warungan” tetapi juga punya akses kepada entitas kelas “bar n’ café”. Sedikit berbeda dengan Mudzakhir, Susilo Utomo tidak membutuhkan satu kamar saja untuk mengikuti modernisasi. Dalam hal membangun basis-basis produksi ekonomi, Susilo Utomo menggunakan tuak sebagai simbol komunikasi sosial, dilain pihak agar tidak dikatakan sebagai pemuda ndeso (tradisional/ketinggalan jaman), ia juga menunjukkan penerimaanya kepada bir atau red label sebagai simbol-simbol kemajuan, pemuda masa kini.

Berbeda dengan kedua pemuda di atas, Sakrun 41 tahun bapak dua anak, asal Desa Bektiharjo lebih menyukai minum tuak daripada minuman beralkohol lainnya. Sakrun sehari-hari sebagai buruh blandong, sekaligus satu-satunya seniman Kalongking6 yang masih tersisa di Kabupaten Tuban.

“Setiap hari, terutama sore menjelang malam, saya minum tuak bersama bala ngombe. Saya tidak menyukai minuman lain selain tuak. Pernah sekali minum bir, malah perut saya terasa kembung. Mungkin tuak dibuat secara alami, sementara minuman lain seperti bir dibuat dengan olahan pabrik.

Namun bukan itu yang terpenting bagi saya mas. Tuak itu berkaitan dengan minuman turun-temurun yang di lingkungan saya bermanfaat untuk mencegah kemungkinan adanya batu ginjal dalam saluran kencing. Sampeyan tahu sendiri bahwa air untuk minum mengandung kapur. Gumpalan kapur itu saya yakin bisa dihancurkan dengan minum tuak. Satu hal lagi, tuak menjadi sarana ampuh bagi saya untuk menjalankan atraksi dalam pertunjukan Kalongking. Saya bisa ndadi (trance) berbekal tuak dan doa-doa yang saya dapatkan dari warisan leluhur saya”

Tuak, bagi orang seperti Sakrun tidak sekadar minuman seperti yang dikatakannya di atas, tuak tampaknya dibuatnya menjadi fungsi “medis” untuk mengantisipasi penyumbatan saluran kemih, tetapi juga menghantarkannya ke dimensi-dimensi privat, yang hanya dia yang merasakannya. Dimensi ruang batin yang tak terkatakan. “Hal seperti itu hanya bisa dilakoni (dilakukan) mas,” ujarnya.

Kisah Sakrun, dalam menafsirkan dunia kecilnya lewat “spiritualitas” nya dengan tuak, mungkin dianggap aneh, bahkan menyimpang. Namun, kemampuan Sakrun untuk tetap otonom, dan tetap menjadi struktur sosial yang “lepas” dari global villages, dalam kerangka membangun definisi tentang kemanusiaan, patut diapresiasi. Tuak bagi Sakrun telah menjadi “batas-batas kebudayaan” dalam kerangka mempertahankan sekaligus meyakini kesadaran-kesadaran yang dimilikinya. Melalui tuak, dan Kalongking pula, tampaknya Sakrun membungkus dirinya, karena saya sebagai peneliti, paling jauh mendengarkan dan mengamati Sakrun menginterpretasikan tuak dan keseniannya.

Jika orang-orang Tuban memiliki historisitas sendiri dalam bergumul dengan tuak. Bagaimana dengan orang-orang luar Tuban yang tinggal di daerah ini? Andre Hartono, 36 tahun, pemuda asal Sukabumi, Jawa Barat yang bekerja sebagai karyawan di Semen Gresik Tbk menolak untuk menikmati tuak. Sesekali ia memang menikmati minuman beralkhohol buatan pabrik. Ia menikmati itu bersama dengan teman-teman kongkow-nya yang rata-rata kita kategorikan sebagai pemuda yang mapan secara ekonomi, dengan beragam latar belakang pekerjaan.

Ia menyatakan: “Saya tidak terbiasa minum tuak, pernah sekali sedikit mencicipinya, segera saya memuntahkannya. Rasanya asam, saya tak menyukainya. Konon menurut teman-teman, mabuk dikarenakan tuak rasanya tidak nyaman banget. Rasa pening di kepala baru hilang setelah beberapa hari. Berbeda dengan bir atau minuman alkohol lainnya. Saya bisa menikmatinya. Tubuh saya mungkin tak cocok dengan tuak, kalaupun cocok, belum tentu saya mendapatkan tuak dalam kemasan dan ruangan yang memadai, comfortable dengan ragam kudapan lain yang cocok dengan selera saya. Tidak mungkin saya misalnya harus minum tuak di pinggir-pinggir jalan, atau warung-warung di Semanding yang jaraknya saja membuat malas melangkah”.

Apa yang disampaikan Andre di atas, adalah sedikit dari orang luar dalam memandang dan meletakkan tuak. Ada hambatan serius baginya untuk merengkuh tuak dalam perjalanan hidupnya. Selain urusan-urusan genetis-biologis yang memang sulit ia terima, variabel penting ia menghindari tuak, karena persoalan citra atau konstruksi tentang tuak dalam kelas sosialnya. Andre setidaknya sedikit mewakili kaum muda pendatang, kaum muda perkotaan yang memiliki lintasan kebudayaan sendiri yang kehadirannya kait-mengait dengan modernisasi dan investasi besar di Tuban.

Jelaslah bahwa tuak yang dahulu kita lihat memiliki cultural boundary-nya, tetapi jika di dalami, dikonfirmasikan kepada masing-masing individu, pada konteks sosial, dan kepentingannya masing-masing, sebagaimana penjelasan Bachtiar (1998:5)7 akan mendapatkan signifikansi internalnya masing-masing. []


5 Agar tidak membuat asumsi yang membabi buta, dan meletakkan bir dan tuak pada garis yang oposisional terus menerus, saya perlu mengajukan contoh dan praktik lain, bahwasanya bir dan tuak sering juga sebagai produk kebudayaan yang memiliki peran yang sama. Dalam beberapa ritual Komunitas Tengger misalnya, bir, kadang juga coca-cola, dan fanta kerap menjadi sesaji yang dipersembahkan kepada roh-roh leluhur. Poin saya, meski cenderung dikonotasikan sebagai produk modern yang tak sakral, nyatanya bir, coca cola dan fanta juga bisa berperan sebagai produk subtitutif dalam praktek-praktek tradisi yang arkaik. Demikian di Tuban sendiri, dalam ragam acara-acara tayuban di pedesaan Tuban, tuak dan bir juga berjajar mesra dalam warung-warung kelas bawah. Bahkan keduanya juga menjadi teman penting untuk menghangatkan tayuban.

6 Kalongking adalah kesenian tradisi di Tuban, mirip dengan jaran kepang, seniman Kalongking akan mengalami trance (ndadi), sehingga raga manusia tidak semata-mata dikendalikan oleh rohnya, tetapi jaga manusia akan menjadi wadag bagi roh-roh besar, sehingga wadag manusia bisa melakukan berbagai atraksi yang tidak bisa dinalar dengan akal manusia biasa. Dalam atraksinya, Seniman Kalongking akan berjalan di seutas tali sepanjang empat sampai enam meter diatas ketinggian empat meter di atas permukaan tanah. Atraksi lainnya, seniman Kalongking bisa berjoget diatas gerabah yang ditaruh diatas kepala manusia lainnya.

7 Alam, Bachtiar. 1998 Globalisasi dan Perubahan Budaya Perspektif Teori Kebudayaan, Antropologi Indonesia Vol 21 No 54 hal 1-11


Beranda  |  Kategory: Edisi 22 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia