Tradisi Tuak dan Peran Perempuan Tuban

6 - Jan - 2012 | Paring Waluyo Utomo | No Comments »
Tradisi Tuak dan Peran Perempuan Tuban

Produksi dan Persebaran Tuak
Pesisir Tuban, Jawa Timur, jika dipandang dari laut bagai secuil buih, putih berpadu dengan tanah merah. Cuaca di kawasan ini jelas panas. Penduduk setempat mengandalkan mata pencaharian dari hasil laut. Namun, yang berada di pedalaman mengandalkan pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sayangnya, tidak semua lahan pertanian subur, karena hanya kawasan sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo yang bisa mendapatkan pasokan irigasi yang cukup.

Sebaliknya, di wilayah tengah Kabupaten Tuban membentang Pegunungan Kapur Utara, yang rangkaiannya membentang dari Pati Jawa Tengah, hingga Tuban di Jawa Timur. Dari luar deretan bukit-bukit Pegunungan Kapur Utara hanya berupa batu-batu cadas dan kapur, menyembul secara variatif dari balik tanah merah. Tak banyak vetegasi tumbuhan yang bisa hidup di kawasan ini.

Corak dominan yang menghijaukan bukit-bukit Pegunungan Kapur Utara adalah tanaman aren. Orang-orang Tuban menyebutnya Wit (Pohon) Bogor dan Pohon Bambu. Bentuknya mirip pohon kelapa, yang membedakan bentuk daun dan buahnya. Daun Pohon Bogor lebar, mirip telapak kaki cicak, antar jemari ada selaputnya, sehingga terlihat lebar, tidak terurai kecil-kecil seperti daun kelapa. Buah Pohon Bogor disebut enau, atau dalam istilah lokal Tuban disebut ental atau siwalan, dan istilah latinnya Borassus sundaicus. Vegetasi Pohon Bogor ini banyak tumbuh di kawasan tengah Kabupaten Tuban, yang meliputi beberapa kecamatan antara lain; Kecamatan Palang, Semanding, Montong, Merakurak, dan Kerek.

Bermodalkan struktur ekologi inilah, warga setempat membangun kebudayaannya dari dulu hingga kini. Menjamurnya Pohon Bogor, dimanfaatkan warga setempat dari generasi ke generasi untuk sumber ekonomi. Ketika saya menggali lebih dalam, dari berbagai sumber primer, dan teks-teks kepustakaan, tidak banyak yang memberi jawaban sejak kapan orang-orang di kawasan ini mahir mengolah Pohon Bogor.

Namun, dari cerita lisan dan beberapa sumber tradisi, produksi dan minum tuak telah berjalan berabad-abad lamanya. Misalnya pada abad 11 Masehi, ketika bala tentara Tar-Tar dari Mongolia yang telah mengalahkan bala tentara Kerajaan Daha (Kediri), singgah di Tuban dan merayakan pesta kemenangan dengan minum tuak dan arak. Pada masa keemasan Kerajaan Singasari, Raja Kertanegara juga gemar minum tuak untuk perayaan-perayaan kerajaan. Tuak menjadi minuman yang melintas batas kelas, dari seorang petinggi negeri seperti raja hingga para petani biasa.

Di beberapa komunitas adat (lokal) di Nusantara, tradisi produksi dan minum tuak juga telah berlangsung lama, dan bertahan hingga kini. Dalam annual report yang dibuat oleh Shigehiro Ikagemi1 (1997; Part 5) menuliskan tradisi produksi dan minum tuak pada Komunitas Adat Batak. Diceritakan oleh Ikagemi, Komunitas Adat Batak Toba menggunakan tradisi minum tuak dalam acara-acara keagamaan yang telah berlangsung lama, dari generasi ke generasi. Bahkan, dalam tradisi Batak Toba, perempuan Batak Toba yang baru saja melahirkan diwajibkan untuk minum tuak dalam ukuran yang terbatas.

Di komunitas adat lainnya seperti beberapa suku di Bali dan Lombok, juga memiliki kebiasaan minum minuman beralkohol. Sampai kini, sangat dikenal jenis arak Bali. Bahkan arak Bali memiliki beberapa jenis. Sejenis dengan arak Bali, beberapa komunitas adat di Lombok memiliki minuman fermentasi yang populer dikenal dengan arak, ada pula yang menyebutnya brem. Komunitas Dayak di Kalimatan Tengah juga memiliki minuman tradisi yang dikenal dengan baram. Selama ratusan tahun yang lalu, baram menjadi properti ritual untuk memberi penghormatan kepada roh-roh leluhur.

Di tangan orang-orang Tuban, dari generasi ke generasi, kuncup bunga pohon Bogor diolah menjadi minuman tradisi, yang dikenal dengan nama legen dan tuak. Legen, minuman yang diambil dari “getah” kuncup bunga. Kuncup bunga itu dinamakan Wolo. Wolo ini diikat sebanyak 3 atau 4 wolo, kemudian tetesan “getah”nya ditampung selama sehari atau semalam. Tetesannya ditampung ke dalam bambu yang ditali, dikaitkan dengan kumpulan tangkai bunga Bogor yang telah diiris sebelumnya. Dalam istilah warga Tuban, bambu itu dinamakan Bethek.

Legen terasa manis, bercampur dengan “rasa soda” yang bersifat alami karena diproses dari alam secara langsung. Minuman ini tidak bisa bertahan lama. Rata-rata 4-5 jam sejak diambil dari penampungannya, legen sudah tidak bisa dikonsumsi lagi. Rasanya sudah berubah menjadi asam, dan jika diminum, membuat perut sakit.

Sama seperti legen, tuak juga bersumber dari “getah” irisan tangkai bunga pohon Bogor. Yang membedakan dengan legen, bambu untuk menampung “getah” tangkai bunga Pohon Bogor dicampuri dengan Bebekan. Ada beragam jenis bebekan. Warga Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding, Tuban lebih gemar membuat bebekan dari pelepah kulit Pohon Juwet.

Pelepah kulit Pohon Juwet dikeringkan, lalu dicincang, namun tak sampai lembut, cukup serat-serat kulitnya terurai. Tiap tetesan “getah” yang ditampung dalam bambu akan bercampur dengan bebekan. Percampuran kedua unsur inilah yang membentuk minuman tuak. Berbeda dengan warga Prunggahan kulon, warga Desa Tegalbang dan Tunah, Kecamatan Semanding, Tuban membuat bebekan dari pelepah kulit Pohon Mahoni.

Bebekan dari kulit pohon Mahoni rasanya sangat pahit, sehingga rasa tuaknya juga terasa pahit, dan rasa manis yang tipis. Sedangkan bebekan dari kulit pohon Juwet lebih variatif, perpaduan rasa manis, sedikit gurih, dan sedikit asam. Sama seperti legen, tuak juga tidak bisa bertahan lama. Dalam tempo 4-5 jam sejak diambil dari Pohon Bogor rasanya telah terasa pahit dan asam. Sebagai minuman hasil fermentasi, tuak mengandung alkohol tidak begitu tinggi. Menurut kajian Garjito, dkk (2004:94), kadar alkohol yang terkandung dalam tuak sebesar 2 – 4 persen.2

Jika dibandingkan dengan minuman bir pilsener hasil pabrikan, kadar alkhohol yang terkandung di dalam tuak jelaslah lebih rendah. Rata-rata kadar alkohol bir antara 5-10 persen. Tuak bahkan jauh lebih rendah kadar alkoholnya jika dibandingkan dengan wine yang alkoholnya mencapai 15 persen.

Dalam relasi produksi minuman tuak dan legen, kaum perempuan di Tuban memegang posisi penting. Rata-rata pembuat bebekan tuak adalah kaum perempuan. Otomatis, penentu selera tuak menjadi enak atau tidak sangat bergantung bebekan yang dibuat kaum perempuan. Semakin cermat membuat komposisi bebekan, tentu semakin memikat bolo ngombe (komunitas peminum tuak) untuk memburu tuaknya.

Selain menghasilkan “getah” untuk produksi legen dan tuak, bagian-bagian pohon Bogor masih memiliki kemanfaatan bagi penduduk setempat. Pelepah daunnya, oleh orang Tuban disebut lontar, dipakai oleh petani tadah hujan dikawasan ini untuk membuat penutup kepala (caping). Beberapa tahun yang lalu, sebelum plastik mulai menggantikan, anyaman daun lontar dipakai oleh penduduk setempat sebagai tempat nasi. Lontar dianyam, mirip ketupat, namun dalam ukuran besar. Anyaman ini dipakai untuk tempat nasi dan lauk pauknya saat acara kenduri di kampung-kampung. Warga setempat menyembutnya tumbu.

Di akhir tahun 90-an, saya sudah jarang melihat properti ini dipakai dalam kenduri di kampung-kampung di Tuban. Beberapa orang tua perempuan yang biasa menganyam tumbu telah meninggal dunia. Produksi dan penjualan tumbu di pasar telah tergantikan dengan plastik. Praktis, tumbu tak lagi menghiasi pasar-pasar di Tuban.

Komposisi lain yang bernilai manfaat dari pohon Bogor adalah buahnya. Pada umumnya masyarakat menyebutnya buah Siwalan atau Ental. Buah ini mengandung air, selain selaput biji dalamnya yang lembut. Rasanya manis, segar, sangat cocok dinikmati di cuaca panas seperti Tuban. Saat belum dikelupas kulitnya, buah Siwalan dapat dikonsumsi hingga beberapa hari kedepan, sejak pengambilan dari pohonnya.

Dari pohon Bogor inilah, para petani tegal di Tuban membangun kebudayaannya dari hari ke hari. Tuak yang berumur tua, seumuran dengan sejarah Tuban sendiri, telah menjadi citra diri orang-orang Tuban, meskipun sebagian lainnya, yang menganut keislaman secara “kuat” menolak mengidentikkan Tuban dengan tuak.

Sekilas, “batas-batas kultural” di Tuban seolah nampak jelas, mirip-mirip gambaran Clifford Geertz melalui proyek Mojokuto-nya. Di wilayah dekat pesisir, corak keislamannya lebih kuat ketimbang yang di pedalaman selatan. Apalagi komunitas santri yang bermukim di sekeliling Makam Sunan Bonang. Warga di luar kampung ini umumnya menyebut dengan Kampung Arab, dikarenakan sebagian besar penduduknya adalah warga keturunan Arab, yang sudah berabad-abad tinggal di kawasan ini sebagai pedagang.

Dulu, sekitar tahun 80-an, sebelum mengguritanya proyek-proyek industrialisasi di Tuban, bersebelahan dengan Kampung Arab adalah kampung para priyayi, pegawai-pegawai pemerintah. Kini, batas-batas itu tak nampak berbeda. Migrasi penduduk yang begitu cepat menjadi warna menentukan atas geo-identitas beberapa kampung di Tuban, dan mungkin di tempat lainnya. Konsekuensi pertumbuhan kawasan di Tuban telah membuka pusat-pusat pemukiman baru, yang lebih beragam identitasnya.

Berbeda dengan pesisir utara, tradisi keagamaan orang kampung di kawasan Tuban Selatan masih memberi wadah untuk praktik mistik Islam Jawa, sebagaimana konsepsi Mark Woodward tentang Islam Jawa (1999:226).3 Sebab sebagian kelompok sosial ini kurang menyukai praktik keagamaan Islam secara normatif.

Kira-kira sedikit asumsi Woodward di atas bisa menggambarkan kontur sosio-religiositas warga di kawasan ini. Mayoritas penduduk Kecamatan Semanding dan Palang Kabupaten Tuban beragama Islam, namun banyak di antara mereka yang sampai kini meminum tuak dan arak. Bahkan kedua minuman itu menjadi penopang kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Karena pohon Bogor bernilai ekonomis, para pemilik pohon Bogor dapat menransaksikan atau menjualnya kepada pihak lain. Satu pohon Bogor bernilai ratusan ribu, sangat tergantung kondisi pohonnya. Saat telah diperjualbelikan kepada pihak lain, pemilik tanah tidak mengenakan tarif sewa tanah atas keberadaan pohon Bogor yang dijualnya. Pembeli pohon Bogor dapat mengambil nilai ekonomisnya sampai pohon tersebut tidak berproduksi.

Dalam sehari, setiap pohon Bogor bisa menghasilkan 1 – 2 liter tuak atau legen. Semakin banyak seseorang memiliki pohon Bogor di tanah tegalan (sawah tadah hujan), otomatis petani itu akan semakin banyak menghasilkan tuak atau legen. Para petani tuak di Tuban mengambil tuak sehari dua kali, yakni pagi dan sore. Hasil tuak atau legen yang diambil pagi hari, dijual dengan memasok ke warung-warung kecil untuk jatah peminum menjelang siang.

Sedangkan tuak atau legen yang diambil siang hari, dipakai sebagai pasokan peminum tuak untuk sore sampai malam hari. Tuak dan legen yang diambil kemudian didistribusikan ke warung-warung sekeliling Kota Tuban dan Semanding. Dahulu, hingga akhir tahun 80-an, saya masih sempat menyaksikan penjual tuak dan legen keliling. Kini teramat sulit untuk menemukannya. Hasil unduhan tuak dan legen langsung dipasok ke warung-warung, bersanding dengan bir dan beberapa jenis minuman garapan industri.

Bagi petani penghasil tuak dan legen, tuak dan legen miliknya bisa dijual sendiri di rumahnya, atau dijual langsung ke warung-warung penjual tuak dan legen. Jika petani penghasil tuak dan legen memasoknya ke warung-warung, tentu mereka hanya mendapatkan keuntungan sedikit, jika dibandingkan dengan menjualnya secara langsung ke konsumen. Bagi petani yang menghasilkan tuak dan legen dalam jumlah banyak, biasanya didistribusikan ke warung-warung, dan ia hanya menyisakan sedikit untuk dijual di rumahnya.

Persis seperti peran pentingnya dalam proses produksi tuak, kaum perempuan di Tuban juga memegang peran sentral dalam proses distribusi tuak. Mayoritas penjual tuak dan legen di warung-warung adalah kaum perempuan. Untuk mengundang bala ngombe datang ke warung jualannya, perempuan penjual tuak tak harus muda, apalagi dandanan menor (make up mencolok), dan berbusana seksi.

Berbeda dengan daerah lain, yang mengandalkan perempuan muda, busana super seksi untuk menarik konsumen, para bala ngombe tuak di Tuban lebih mengedepankan rasa akan tuak. Rata-rata para perempuan penjual tuak memang wanita yang telah berumur. Tak ada kesan untuk “menjual” keseksian tubuh perempuan dalam arena bala ngombe.

Memang tak seluruh warung-warung di Tuban menyediakan tuak. Sifat tuak yang tak bisa bertahan lama, secara tak langsung menghambat distribusinya. Hanya warung-warung di sekitar Kecamatan Tuban, Semanding, Palang dan Plumpang yang kerap menyediakan tuak. Persepsi masyarakat atas tuak sebagai minuman yang diharamkan agama juga ikut membentuk terbatasnya peredaran tuak di masyarakat.

Selain warungan, memang ada beberapa “pos” dadakan saat sore hingga malam hari, sebagai lokasi penikmat tuak untuk minum bareng, selain di warung-warung. Beberapa di antaranya di Lapangan Sepak Bola Sleko, bekas Stasiun Kota Tuban, pojokan perempatan Karang Waru, semuanya di pinggiran Kota Tuban. Lokasinya cenderung sepi, agak remang-remang, namun nyaman untuk minum dan ngobrol kesana kemari.

Dalam beberapa kali mengikuti dan berbaur dengan bolo ngombe, ada banyak variasi pembicaraan, dengan berbagai topik. Suatu sore4, di tahun 2010, saat mengikuti perbincangan bala ngombe di dekat perempatan Karang Waru, mereka membicarakan soal pemilihan Bupati Tuban yang akan dilaksanakan di tahun berikutnya. Dalam perbincangannya, mereka mulai bosan dengan kepemimpinan Bupati Haeny Relawati. “Duitnya Dul Hasan, ape digawe apa? Donnyane wong Tuban dikuras Dul Hasan kabeh. (Uangnya Dul Hasan akan dibuat apa? Harta kekayaan orang Tuban sudah diambil Dul Hasan5 semua).

Parabala ngombeitu melihat kepemimpinan Bupati Haeny Relawati lebih banyak dikendalikan oleh suaminya yang menjadi pengusaha, ketimbang Haeny secara pribadi. Mereka juga membicarakan kekayaan suami Haeny Relawati yang melimpah ruah dengan membangun rumah mirip istana, beserta koleksi mobil antiknya yang berjumlah puluhan. Pada sore berikutnya, saya mengikuti bala ngombe cangkrungan bersama minum tuak di kawasan Sleko, Tuban. Sore itu bala ngombe membicarakan akan adanya tayuban di daerah Bektiharjo. Mereka satu per satu mengulas kemungkinan Sindir (penari tayub) yang kemungkinan akan diundang pada acara itu. Selain itu juga membicarakan kemungkinan adanya lowongan kerja berat (kuli bangunan) di kawasan perumahan di Karang Indah.

Sore yang ketiga kalinya, saya mengikuti bala ngombe di sebuah ladang di Desa Tegal Agung, Kecamatan Semanding, Tuban. Topik pembicaraan bala ngombe sore itu menyoal pertengkaran artis seksi Julia Perez dengan Dewi Persik. Kebetulan peserta bala ngombe saat itu semuanya anak muda yang, meskipun telah ada yang menikah namun rata-rata umurnya masih di bawah 40 tahun.

Para peminum tuak rata-rata kelas pekerja berat, buruh kayu (blandong), tukang becak, kuli bangunan, dan kondektur bis rute lokal. Bagi mereka yang berdaya beli rendah, minum tuak adalah pilihanya, selain faktor tradisi dan soal selera tuak yang tak bisa digantikan oleh jenis minuman apapun. Tuak rata-rata dijual Rp. 1.500 – 2.000 per centak. Ditambah tambur (makanan pengiring) berupa nasi jagung, sayur lodeh, lauk, serta kacang. Lauk pauknya biasanya dari beragam jenis daging hewan yang mudah didapat dan murah, seperti bekicot, belut, katak. Para peminum biasanya tak sampai menghabiskan uang Rp. 10.000 sudah merasa puas.

Keuntungan kecil tapi rutin juga dirasakan para penjual tuak. Saminah, 58 tahun warga warga Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Tuban merasakan seperti itu. Janda empat anak ini hidup seorang diri di rumahnya yang lebih pantas disebut gubuk daripada rumah tempat tinggal. “Menjual tuak tak perlu modal cukup banyak mas. Kalau menjual bir atau lainnya, tentu butuh modal besar. Itupun belum tentu tiap hari langsung laku. Kalau menjual tuak modalnya lebih rendah, dan setiap hari sering habis, sebab warga di kampung sini tiap hari menikmati tuak, terlebih menjelang sore dan malam hari sehabis kerja seharian,” ujar Saminah.

Rata-rata perempuan penjual tuak seperti Saminah dalam sehari bisa menjual 20 liter tuak, dan makanan pengiringnya (tambur). Praktis, Saminah dapat mengantongi keuntungan 15 sampai 25 ribu rupiah per hari. Nominal yang sangat penting bagi kelangsungan kebutuhan ekonominya. Berjualan tuak, oleh kebanyakan perempuan warungan di Tuban menjadi penyangga ekonomi keluarga. Memang, bagi sebagian pedagang, berjualan tuak dan tambur menjadi penghasilan sekunder. Penghasilan primernya dari hasil bercocok tanam.

Belakangan, di saat sektor pertanian apalagi pertanian tegal terpuruk, perempuan warungan yang menjual tuak dan tambur tumbuh menjadi mata pencaharian substitutif. Kalangan keluarga seperti ini tentu sangat berharap bala ngombe tetap ada, dan bahkan mungkin berkembang, agar dapur mereka tetap mengepul.

Dalam sehari masa produksi, tak seluruh minuman tuak habis, beberapa penjual tuak biasanya menimbun “tuak kadaluwarsa”. Setiap dua atau tiga hari sekali ada beberapa pengepul yang membeli tuak kadaluawarsa tersebut. Untuk 20 liter tuak kadaluarsa bisa dibeli oleh pengepul sebesar Rp. 5.000. Nilai yang cukup berarti bagi para penjual tuak, daripada minumannya terbuang.

“Tuak-tuak kadaluwarsa ini banyak dibawa ke Lamongan dan Surabaya. Katanya diolah lagi dan dijual di sana,” ujar Likanah, 41 tahun warga Desa Ngino Kecamatan Semanding, Tuban. Beberapa pengepul yang saya ajak berbicara soal tuak kadaluwarsa enggan untuk membuka resepnya. Mereka hanya menyampaikan bahwa yang kadaluwarsa perlu diolah lagi dengan direbus dan dicampuri ragi dan bahan pengawet. Pasca pengolahan ini, tuak kadaluwarsa tersebut bisa bertahan berhari-hari.

Di Lamongan dan Surabaya, tuak olahan ini bisa dijual secara variatif antara Rp.5.000 – 7.000 per liternya. Berbeda dengan tuak fresh di Tuban yang diperjualbelikan secara bebas, dan terbuka di warung-warung, bahkan di pinggir jalan untuk melayani bala ngombe, tuak kadaluwarsa yang diolah kembali cenderung ditransaksikan secara tertutup dari tangan ke tangan, dan dari mulut ke mulut.

Peralihan formasi dan habitus tuak, dari tuak alami ke tuak olahan memang membawa pergeseran dan persepsi yang kian memperburuk tafsir atas tuak. Diperdagangkannya tuak olahan di luar Tuban telah menempatkan tuak sebagai “barang kriminal”. Apalagi, cerita-cerita kematian dari beberapa peminum tuak olahan menjadi fakta ikutan yang ikut membangun persepsi menakutkan tentang minum tuak.

Kontruksi tuak saat keluar dari Tuban telah bergeser total, sayangnya bala ngombe meskipun menyadari hal itu, toh mereka tak bisa berbuat banyak. Transaksi tuak kadaluwarsa pada kenyataannya memang menguntungkan para penjual tuak. Sementara kegemaran bala ngombe minum tuak juga dipenuhi oleh para perempuan penjual tuak di warung-warung tersebut. Meski begitu, bala ngombe tampaknya tak memusingkan kontruksi tuak dan cap negatifnya.[]


1 Shigehiro Ikagemi. 1997. Tuak dalam Masyarakat Batak Toba: Laporan Singkat tentang Aspek Sosial-budaya Penggunaan Nira. Annual Report of the University of Shizuoka, Hamamatsu College No.11-3, 1997, Part 5.

2 Garjito, dkk (2004:94) dalam

3 Woodward. Mark 1999. Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan. Lkis. Yogjakartapraktik

5 Suami Bupati Tuban yang masa itu dijabat oleh Haeny Relawati, dan terpilih dua peridode berturut-turut. Pada pilkada tahun 2011 Haeny maju kembali namun menjadi calon Wakil Bupati dari Golkar. Namun ia kalah dan dimenangkan Huda dan Noor Nahar dari Partai Kebangkitan Bangsa.


Beranda  |  Kategory: Edisi 22 | | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia