Tuak, Tradisi dan Perempuan

6 - Jan - 2012 | Ari Ujianto | No Comments »
Tuak, Tradisi dan Perempuan

Para pembuat tuak dan legen di Tuban tidak perlu mengenal Carlo Petrini atau tergabung dalam Slow Food Movement untuk “memperjuangkan” apa yang disebut tradisi, kebudayaan dan lokalitas yang terkait dengan produksi makanan atau minuman. Walaupun dalam faktanya, menurut Massimo Montanari, budaya-budaya makanan sebagai ekspresi identitas lokal amatlah kompleks, tidak sederhana dan bukan ide yang berakar tetap. Dengan kata lain, setiap budaya, tradisi, identitas adalah dinamis, produk sejarah yang tidak stabil dan terus berubah dan bertukar. Termasuk di sini soal makanan.

Gerakan Slow Food yang didirikan Carlo Petrini dan kawan-kawan di Italia ini “memimpikan” sebuah dunia dimana setiap orang dapat mengakses dan menikmati makanan dengan baik, terwujudnya keadilan bagi petani, produsen dan bumi yang menumbuhkannya. Untuk mewujudkan visi tersebut mereka menancapkan misi sebagai organisasi akar rumput internasional yang mempromosikan makanan yang baik, bersih dan adil untuk semua.

Makanan yang disebut baik di sini, adalah yang segar sesuai musimnya, memenuhi citarasa panca indera dan merupakan budaya lokal kita. Dianggap bersih jika tidak membahayakan lingkungan, tidak membahayakan keselamatan hewan atau kesehatan kita. Sedang yang dimaksud adil adalah harga dapat diakses oleh konsumen dan kondisi dan pembayaran yang adil bagi produsen skala kecil.

Dari paparan misi indah dari Slow Food Movement ini kita patut bertanya, bukankan hal tersebut sudah terjadi dalam rantai produksi dan konsumsi tuak di Tuban selama ini?

Dilihat dari pembuatannya, bahan tuak atau legen berasal dari pohon bogor atau lontar yang tumbuh di sekitar pegunungan Kapur Utara, Tuban. Jadi tidak jauh untuk mendapatkannya. Tuak dan legen juga menuntut kesegaran, karena minuman tersebut hanya bertahan 4-5 jam saja sejak diambil dari penampungannya di pohon. Setelah 5 jam, rasa legen atau tuak sudah berubah asam dam membuat perut sakit. Kemudian, para pembuat, penjual bahkan yang mengonsumsi tuak dan legen begitu sadar bahwa yang mereka lakukan adalah bagian dari meneruskan tradisi yang telah hidup ratusan tahun. Dari cerita lisan, produksi dan tradisi minum tuak telah ada sejak abad 11 Masehi, misalnya dengan cerita ketika bala tentara Tartar dari Mongolia singgah di Tuban setelah mengalahkan tentara Kerajaan Daha, Kediri. Mereka merayakan kemenangan terhadap bala tentara Daha dengan minum tuak dan arak. Ini menandakan bahwa produksi tuak di Tuban telah berlangsung berabad-abad lalu.

Minum tuak juga dipercaya sebagian masyarakat dapat menyehatkan badan, khususnya bisa mencegah terjadinya batu ginjal, seperti yang disampaikan Sakrun, seorang buruh blandong. Hal ini kadang disambungkan dengan kondisi tanah di Tuban. Karena tanah di kawasan tengah dan selatan Tuban berkapur, maka air tanah yang dikonsumsi untuk minum pun mengandung kapur, yang lama-lama bisa menyebabkan batu ginjal. Nah, tuak dalam hal ini berfungsi melancarkan atau melarutkan kapur-kapur itu. Tapi kepercayaan ini berhadapan dengan keyakinan para agamawan yang menganggap tuak sebagai minuman yang memabukkan sehingga haram untuk diminum. Perbedaan ini masih belum menemukan jalan keluarnya. Anehnya, walau banyak warung atau kedai tuak di Tuban, jarang sekali terjadi kekerasan atau kerusuhan akibat minum tuak.

Prinsip keadilan juga terjadi di produksi maupuan konsumsi tuak Tuban. Selain harganya terjangkau oleh kalangan bawah, produksi dan penjualan tuak juga memberikan keuntungan ekonomi bagi pembuat maupun penjualnya. Bagi Saminah, perempuan warga desa Jadi kecamatan Semanding, Tuban, menjual tuak memberikan keuntungan dan pendapatan baginya setiap hari. Walaupun keuntungan itu kecil, tapi rutin, sehingga menjual tuak bisa menyangga kehidupan dia selama ini.

Yang tak banyak diketahui orang selama ini, tuak juga memberikan peran dan manfaat bagi perempuan dari keseluruhan rantai nilai, mulai dari produksi, penjualan, konsumsi. Menurut laporan Paring Waluyo, para petani pembuat tuak di Tuban sebagian besar adalah perempuan, khususnya dalam membuat bebekan sebagai bahan fermentasi terciptanya tuak serta kualitas rasanya. Pada level distribusi atau penjualan, perempuan seperti Saminah dan Supi’ah mempunyai peran utama sebagai penjual, tidak hanya di warung tapi juga ketika ada pertunjukan-pertunjukan. Dan dalam menjual tuak tidak perlu mengandalkan penampilan luar, muda atau bertubuh indah, tapi cukup dengan keramahan dan keakraban. Nah, yang mengonsumsi atau biasa disebut bala ngombe bisa dikatakan sebagian besar adalah laki-laki. Ini tentu terkait dengan persoalan stereotyping yang dialamatkan pada perempuan yang mengonsumsi tuak selama ini. Terakhir, tuak dalam tradisi Tuban juga dijadikan “pengiring” bagi pentas perempuan seni tradisi seperti Tayuban. Dengan minum tuak, para pengibing menjadi berani berhadapan dengan Sindir atau perempuan penarinya.

Semua tradisi terkait tuak kini menghadapi ancaman yang tidak mudah dihindari, yakni dengan adanya pelbagai upaya dari pemerintah, khususnya, untuk menghilangkan tuak dari tradisi Tuban serta upaya mengatur tubuh para Sindir. Pemerintah Tuban mungkin malu jika kotanya terkenal dengan kota Tuak. Lain lagi dengan pendekatan beberapa pesantren. Mereka mendekati warga pembuat tuak dengan halus, yakni dengan menghimbau agar mengurangi produksinya. Selain itu ada pula pesantren yang memilih mengedepankan pendidikan agama tinimbang melakukan pelarangan-pelarangan. “Pertarungan” dan siasat mungkin akan terus terjadi dalam persoalan ini, dan entah siapa “pemenang” dari kontestasi ini. []


Beranda  |  Kategory: Edisi 22 | Tags: , | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia