Geliat Perempuan petani di Sukatani

6 - Jan - 2012 | Ingwuri Handayani | No Comments »

Dari arah Ciawi, jalan ke arah Sukabumi padat merayap. Menjelang Magrib, 24 Desember 2011, banyak mobil berplat B yang juga menempuh jalur sama. Mungkin, ini perjalanan yang tak pas karena berbareng dengan orang-orang yang hendak menghabiskan long weekend Natal dan akhir tahun. Beberapa meter dari pertigaan Ciawi, di samping SPBU, tertulis papan penunjuk, Sukabumi, 51 kilometer. Setelah itu, jalan mulai mendaki. Tak lama kemudian, rintik mulai menitik di sela-sela pohon besar di kiri kanan jalan. Sekira dua kilo dari pertigaan Ciawi, di arah kejauhan terlihat di kiri dan kanan jalan, dua gunung tampak menjulang. Gunung Salak di kanan dan Gunung Gedhe di sebelah kiri.
Di sepanjang jalan menuju Suka Bumi, beberapa kali kami berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut air minum aqua. Kata Veri Verdiansyah, narasumber yang bakal kami datangi, di kabupaten ini, ada sekitar 15 sampai 17 perusahaan air minum berbagai merk.

Veri adalah pendiri Koperasi Bumi Rejeki. Rumahnya di kampung Cikadu, Desa Sukatani kecamatan Parakan Salak. Desa Sukatani dihuni oleh sekitar lima belas ribuan jiwa. Dari 15 ribu itu, paling banyak menjadi petani kemudian pedagang, disusul karyawan pabrik lalu pemetik teh. Di Sukatani, menjadi buruh pemetik teh tak lagi menarik, selain harus berangkat tiap pukul lima pagi, mereka juga harus membawa berkilo-kilo daun yang cuma mendapat upah 10 hingga 15 ribu yang dibayar tiap akhir bulan. Para pemetik, kini tinggal generasi tua yang rata-rata umurnya sudah di atas 45 tahun.

Penduduk Sukatani dan desa-desa lain, kini lebih tertarik bekerja di pabrik yang hanya dengan modal ijazah SMP. Seperti umumnya daerah Sukabumi Utara, di Parakan Salak juga terdapat banyak pabrik. Dari sekitar 360 pabrik yang ada di Sukabumi, 100 buahnya ada di sekitar kecamatan itu. Kalau satu pabriknya rata-rata mempekerjakan 2000 orang seperti PT Daihan, maka, bisa dibilang banyak usia produktif yang terserap ke pabrik.

Banyaknya pabrik ini, kata Veri, karena ada kebijakan sudah tidak boleh membangun pabrik di sekitar Jakarta, apalagi tanah di Sukabumi masih murah. Maka, kini bisa dirasa, kalau ada orang Jakarta yang hendak mencari Pekerja Rumah Tangga (PRT) dari daerah ini akan kesulitan karena mereka lebih memilih bekerja di pabrik. Selain lebih longgar waktunya, mereka juga lebih memiliki prestise dibanding menjadi PRT.
Tulisan ini hendak menggambarkan perjalanan koperasi Bumi Rejeki yang ditopang oleh mayoritas perempuan. Dari 300 lebih anggota koperasi, 90 persennya adalah perempuan. Koperasi Bumi Rejeki, mungkin juga satu-satunya koperasi masyarakat di Kecamatan Parakan Salak.

Sebenarnya, perjalanan ke Cikadu tak sejauh yang kami kira, karena ternyata tak sampai melewati Sukabumi. Melalui pesan pendek, Veri memberi arah, bahwa setelah melewati stasiun Parung Kuda, lalu ke arah kanan menuju ke Parakan Salak. Sampai di pertigaan Parung Kuda, saya membayangkan, paling sebentar lagi, karena katanya jaraknya tinggal tujuh kilo. Tetapi, meski tinggal tujuh kilo, jalan ke kecamatan Parakan Salak rusak parah. Selain rusak, jalan itu, kecil, berkelok dan bergelombang.

Semula saya membayangkan jalan di sana lebar karena di Parakan Salak terdapat perkebunan Nusantara VIII yang berdiri sejak 1884. Apalagi, perkebunan yang didirikan keluarga Guillaume Louis Jacques Van Der Huch itu juga terdapat beberapa tempat wisata seperti air terjun, pemandian air panas dan makam si Kabayan. di Desa Sukatani sendiri, malah ada pembangkit listrik tenaga panas bumi milik Chevron geothermal salak, ltd yang beroperasi sejak 1994.

Tetapi, banyaknya pabrik seperti tak memberi impact bagi masyarakat. “Saya pribadi, belum merasa. Jalan saja masih susah. Kontribusi ke jalan masih minim. Padahal, semua pabrik lewatnya situ,” keluhnya. Banyaknya pabrik juga justru bisa dilihat sebagai bertahannya tradisi kapitalisme. Kalau dulu bentuknya perkebunan, kini perusahaan. Meski tampaknya berubah, ternyata kembali ke daur yang sama. Veri mengatakan bahwa kondisi ini akhirnya seperti membentuk sikap masyarakat yang apatis. Maka, meski jalannya hancur, tidak ada protes dari warga. Ia juga mengatakan soal mental melawan yang belum terbangun dan takut semua sama tentara. “Di sini, dulu ada sejarah PKI,” katanya. Apalagi kemudian terjadi pembantaian sehingga warga di parakan salak menjadi trauma. Hingga kini, warga tidak mau berhubungan dengan polisi dan tentara. “Kalau rumah sudah didatangi berarti sudah aib. Ceritanya sudah macam-macam,” jelasnya.

Meski begitu, keberadaan pabrik setidaknya membuat warga tak tertarik menjadi TKI. Ini berbeda dengan di Sukabumi Selatan. Hal lain yang membuat orang tak ingin jadi TKI adalah lahan di Sukabumi Utara juga masih mudah dimanfaatkan untuk diolah sehingga berproduksi seperti kayu dan beternak. Sebagai contoh, jika seseorang menanam 20 pohon kayu sengon, dalam lima tahun, jika satu pohonnya dihargai satu juta, berarti ia sudah punya tabungan 20 juta. Di sela-sela sengon, mereka juga masih bisa menanam ala tumpangsari. Selain itu juga adanya aib kalau pergi ke luar negeri. Ketakinginan menjadi TKI menjadi semakin genap karena suatu ketika, ketika ada yang keluar negeri justru malah dikejar-kejar orang. Ini semakin menguatkan stereotip orang yang berangkat menjadi TKI.

Hampir pukul 21.00 kami baru sampai Cikadu. Padahal, sebelumnya saya SMS ke Veri bahwa kami akan sampai sekitar pukul tiga sore, tetapi ternyata enam jam kemudian baru di sana. Keinginan untuk mewawancarai beberapa perempuan seperti pemetik teh pun urung dilakukan. Sebenarnya, selain lewat Parung Kuda, ada satu jalan lagi yang bisa dilalui lewat Cidahu. Tetapi, saya pun baru setelah di Cikadu. Veri mengatakan, akan jauh lebih susah memandu melalui jalan di Cikadu.

Rumah Veri berada di atas bukit. Meski tak berada di paling tinggi, dari rumahnya gunung Salak pun bisa dilihat hanya dari menyibak tirai dari ruang tamu. Tetapi, bayangan Sukabumi yang airnya mengalir tak terlihat di rumahnya. Meski bulan Desember, beberapa rumah di bagian itu, kering kerontang. Veri mengatakan bahwa ketiadaan air ini baru sepuluh tahun terakhir.

Ia mengira kenapa air susah di tempatnya. Beberapa tahun yang lalu, di daerah atas, terdapat mata air yang cukup besar. Tetapi, orang yang memiliki tempat itu, kemudian menjualnya ke PT Subur, sebuah perusahaan peternakan ayam yang menyedot lima liter tiap detiknya. Karena penyedoatan itu, masyarakat menjadi tak kebagian air sama sekali. Karena itulah kemudian, sebagian besar sawah yang dulu mendapatkan air menjadi kering. Sedikitnya air juga membuat lahan pertanian menjadi susut tinggal separuhnya. Tak hanya itu, karena sedikitnya air, maka di saat musim kemarau, pengairan menjadi bergiliran modelnya, siang di blok bawah, malam di blok atas, atau sebaliknya. PT Subur tak satu-satunya faktor. Masih ada hal lain yang membuat air susah didapat, salah satunya, banyak pohon besar ditebang yang membuat air tak bisa bertahan lama di atas. Hilangnya mitos bahwa pohon besar ada penunggunya semakin membuat orang tak takut lagi untuk menebang. Untunglah akhir-akhir ini, di masyarakat mulai muncul kesadaran soal nasib anak cucu sehingga tak banyak lagi terjadi penebangan liar. Kalau toh ada, sikap petugas juga tegas, kalau ketahuan menebang akan ditangkap polisi.

Di pinggir jalan dekat kelurahan, tampak beberapa peternakan ayam. Sebagian karena alihan dari pertanian. Tetapi Veri juga mengatakan bahwa berkait denga peristiwa politik. Kabarnya, pasca konflik 1998, banyak orang China yang berinvestasi ke daerah. Mereka lalu membeli lahan dan membuat peternakan. Karena itu pula di daerahnya banyak orang menjadi buruh ternak.

Keadaan ini membuat Veri gerah. Ia pun kemudian bertekad untuk membantu mengubah warga dari buruh menjadi juragan. Setidaknya, mereka tak lagi tergantung dan menjadi petani mandiri. Apalagi Veri merasa bahwa di Indonesia, hanya petani mandiri lah yang sepenuhnya merdeka. Tetapi, mengajak orang mengubah kebiasaan susah sekali. Sebelum membentuk koperasi, dua kali sudah Veri mencoba mengajak warga supaya bisa mendapatkan tambahan pendapatan. Tetapi, keduanya tak berjalan mulus.

Awalnya, ia mengajak anak-anak madrasah diniyah Awaliyah Takmiliyah membuat survey kecil-kecilan ke rumah-rumah penduduk. Para murid, disuruh bertanya tentang pola makan di keluarga, apa yang dimasak dan kalau bisa membuat kue, kue apa yang biasa dibuat dst. Dari situ, ia tahu bahwa pendapatan warga di kampungnya begitu sedikit. Hasil dari survey itu kemudian dia diskusikan dengan teman-temannya yang kemudian muncul inisiatif mengajak warga untuk beternak kelinci.

Ia berharap, suatu ketika, kampung Cikadu bisa menjadi pusat ternak kelinci. Selain daging kelinci, air kencing juga laku. Karena itu, ia kemudian menyebar kelinci ke jamaah masjid alkhaliliyah. Masing-masing keluarga mendapat 10 ekor. Ia merasa, dengan cara itu perekonomian warga akan terangkat. Tetapi, ia salah menerka.

Setelah berjalan delapan bulan, secara neraca harusnya bagus. Kalau dari tiap satu induk lahir lima ekor, seharusnya ada lima puluh ekor per dua bulan. Tetapi, semakin Ke sini, faktor cuaca, tingginya angka kematian dan sebagainya termasuk lahir, tetapi dijual duluan membuat kelinci. Dari masyarakat, kelincinya ada yang dikembalikan, tetapi ada juga yang habis. Satu pelajaran berharga yang Veri petik adalah, susahnya mengembangkan ternak kelinci karena faktor mental. Ini karena seringnya pemerintah memberi bantuan gratis tanpa diminta mengembalikan atau adanya evaluasi. Hal ini membuat masyarakat menjadi mudah melepaskan tanggung jawab. Kelinci milik Veri sendiri, tinggal 70 ekor. Dulu, dari yang awalnya enam ekor, berkembang sampai 300 ekor. Tetapi karena pola yang tak teratur, membuat kelinci tak terkontrol. Padahal, memelihara kelinci harus total, tak bisa setengah-setengah.

Setelah tak sukses mengajak masyarakat beternak kelinci, Veri juga pernah mengajak kelompok tani untuk menanam padi organik di kampungnya. Pertama, ia mengajak kelompok tani Margarahayu, tetapi tidak terima. Mereka merasa repat, padahal ia sampaikan bahwa pertanian organik ini ada pendamping dan modalnya. Ia kemudian pindah ke kelompok Mekar, kelompok tani kedua juga tidak mau begitu juga ke kelompok yang ketiga, kelompok Parigi, mereka juga menolak ajakan Veri. Padahal ia membayangkan Cikadu bisa menjadi kampung pertanian terpadu. Mulai dari penanaman, pupuk. Tetapi ternyata tidak semudah dibayangkan. Ternyata yang susah itu membangun karakter. Atas kegagalan itu, ia kemudian mencari kelompok tani di tempat lain, kecamatan Cidahu, yang akhirnya ada sembilan orang yang kemudian menanam padi organik.

Veri menyangka, kegagalan mengajak warga di desanya untuk diajak menanam padi organik karena mereka tahu latar pendidikan Veri. Bahwa ia tak berasal dari fakultas pertanian. Selain itu, ia juga melalaikan posisi perempuan. Waktu itu, ia masih abai soal peran perempuan. Ia menyangkam dengan mengajak laki-laki saja sudah cukup. Tetapi ia keliru. Mereka yang tak bersuara, yang tak terlihat di panggung, ternyata memiliki faktor dominan karena para istrilah yang memutuskan.

Keputusan untuk ikut beternak, misalnya yang memutuskan adalah para istri. Meski yang menyatakan sepakat di rapat adalah suami, tetapi mereka terlebih dahulu mendapat izin dari istri. Tak hanya itu, dalam beternak kelinci, ternyata yang mengurus kelinci seperti memberi pakan juga ibu-ibu. Para suami sendiri juga sudah tak memiliki waktu karena lebih banyak di sawah. Para perempuan pula yang mendekati ternak dengan sentuhan emosi. Ini terlihat saat mereka memelihara kambing, domba apalagi ayam.

Karena itu pula Veri juga kemudian tahu, ada pola yang melibatkan keluarga dalam pengambil keputusan. Suami istri juga mendialogkan setiap ada program baru, seperti bibit, pupuk atau kapan mereka mulai menanam. Sebelum memutuskan, mereka juga melakukan perhitungan secara matang, karena meleset sedikit saja akan mengubah pola yang berdampak terhadap pengeluaran dan pendapatan keluarga. di Sukatani, petani perempuan tak lagi sebagai pelayan yang sumuhun dawuh terhadap apa yang dikatakan suami. Mereka juga terlibat dalam merencanakan dan menentukan pertanian, sesungguhnya peran perempuan petani yang sangat menentukan.

Di pojok rumah, ruang berukuran tiga kali dua meter itu hanya cukup untuk satu meja, dua kursi, satu lemari. Di samping jalan kampung Cikadu, di samping warung ibunya, Veri menempatkan koperasi Bumi Rejeki di situ. Meski kecil, koperasi itu melayani lebih dari tiga ratus anggota.

Veri mengenang saat ia dulu baru saja ia membuat koperasi. Ia baru saja menyandarkan tubuh di kursi setelah seharian mengecat ruangan yang hendak dijadikan tempat koperasi saat terdengar suara orang mengetuk pintu. Seorang ibu-ibu yang kemudian memperkenalkan diri bernama Ani, Bu Ani kepada Veri kemudian mengutarakan niatnya untuk menjadi anggota koperasi. Tentu saja veri terkejut karena koperasi yang baru sehari diresmikan, bahkan ruangannya pun masih dibenahi sudah didatangi orang yang hendak menjadi anggota. Koperasi juga masih tak memiliki apa-apa. Dengan rasa tak enak, ia pun mengatakan bahwa koperasi ini belum bisa menerima anggota karena baru ditata, ia juga mengatakan kalau sudah waktunya nanti akan diberitahu. Atas jawaban itu, Bu Ani menjawab, “Kapan pun waktunya, saya siap menjadi anggota koperasi.”

Karena kedatangan Bu Ani itu, ia menjadi gelisah karenanya. Ia merasa, Satu sisi kedatangan Bu Ani seperti memberi pesan bahwa pilihan mendirikan koperasi tak keliru, tetapi ia juga gamang karena belum punya pengalaman apa-apa. Ketakutan yang lain adalah, karena ia tak punya modal sama sekali. Apalagi, waktu itu, pendapatan ia terima juga hanya cukup untuk makan dan transport bolak-balik Jakarta Sukabumi.
Tetapi, mungkin Tuhan sudah menyiapkan jawaban atas setiap pertanyaan-pertanyaan hambanya. Veri seperti dibukakan pintu rezeki yang tak disangka. Bertemu sekali-kalinya dengan orang yang kemudian orang, tetapi orang itu langsung percaya. Tak hanya meminjami, sang dermawan juga membantu managerial. Saat koperasi berdiri, bu Ani menjadi anggota pertama.

Kini, koperasi telah memiliki 350-an anggota. Dari jumlah sebanyak itu, 90 persen anggotanya adalah perempuan. Bu Ani sendiri seperti menjadi public relation yang bagus sehingga menceritakan keberadaan koperasi ke saudara, tetangga dan para pemetik teh. Saat tulisan ini dibuat, Bu Ani telah meminjam koperasi untuk yang kedua kalinya.

Veri sendiri menjadi tahu kondisi keluarga Bu Ani. Sebagai perempuan, ia lah yang justru menjadi tulang punggung keluarga. Suaminya, yang terkena katarak, sudah lima tahun tak bisa melihat.

Bu Ani sendiri bekerja dari subuh hingga sore untuk memutar ekonomi keluarga. Setiap subuh, ia harus berjalan ke desa sebelah yang jauhnya sekitar 7,5 kilometer untuk mengambil rengginang renggining. Rengginang adalah makanan yang terbuat dari ketan, yang dicetak sebentuk lingkaran seukuran gelas minuman, lalu dijemur. Setelah kering, ketan digoreng.

Rengginang renggining ini pula yang kemudian ia bawa ke kebun untuk dijual ke para pemetik teh. Dalam setiap satu buahnya, ia hanya untung 15 rupiah. Tak hanya itu, ia juga harus sabar menunggu hingga akhir bulan karena biasanya, para pemetik tak langsung membayar renggingang alias hutang. Baru setelah mendapatkan upah di akhir bulan, mereka membayar Bu Ani.

Sebelum meminjam koperasi, Bu Ani juga menunjukkan catatan-catatan nama-nama orang yang mengambil rengginangnya, meski jumlahnya tak banyak, sekitar sepuluh sampai dua puluh ribuan, tetapi ini menunjukkan betapa ia juga orang yang teliti. Suatu ketika, veri sempat bertanya apa tak rugi berdagang rengginang yang untuk mengambilnya saja jarak 7,5 kilo dengan keuntungan 15 rupiah? Berapa yang ia dapat jika harus membayar ojek? Bu Ani menjelaskan bahwa ia berjalan kaki mengambil rengginang sehingga tidak mengeluarkan duit untuk membayar ojek.

Seusai menjual rengginang, ia kemudian ke sawah. Biasanya, ia menanam sayur-mayur. Dan sebelum pulang, ia biasanya memetik sayur-mayur di kebunnya untuk dijual. Luar biasanya lagi, ia tak mengeluh dan mengatakan bahwa apa yang ia lakukan hanya menjalani saja.

Hal yang kemudian Veri dapati, perempuan lebih amanah di kampungnya dibanding laki-laki. Bisa dibilang, bahwa koperasi itu, justru berkembang karena sokongan para ibu yang secara perspektif, kejujuran, dan sosialisasi terpelihara.

Veri juga mengatakan bahwa contoh orang seperti Bu Ani, acap tak dilihat secara jeli oleh aktivis perempuan. Padahal, orang-orang seperti Bu Ani, meski tak terdengar suaranya, benar-benar menjadi tumpuan bagi orang-orang di sekitarnya.

Berbeda dengan soal pertanian, dengan koperasi, respon masyarakat cepat sekali. Veri mengatakan, “ternyata dengan uang orang tunduk, tidak dengan ilmu.” Ia juga mengatakan bahwa masyarakat saya pinjam segini, bayar berapa, bunganya berapa.”

Dari soal koperasi itu, Veri juga akhirnya tahu karakter orang. Ada yang awalnya bicara manis, tetapi di akhir tidak, ada yang biasa-biasa saja tetapi ada juga yang sebaliknya. Ia pernah suatu ketika, menyangka salah seorang calon anggota di koperasinya tidak mampu membayar angsuran, tetapi ternyata nggak. Dari situ ia kemudian membuat klasifikasi seperti misalnya anggota koperasi harus punya usaha riil.

Setelah tiga tahun, ia juga mendapat banyak masukan. referensi dari antar anggota juga sering memudahkan ia mendapat gambaran orang baru.
Ia juga menemukan kisah lain yang tak disangka. Suatu ketika, ada anggota perempuan yang belum membayar angsuran. Perempuan itu kemudian bilang ke pengurus koperasi, “Eh, Pak jangan ke rumah ya. Jangan sampai suami saya tahu.” Telusur punya telurus, ternyata dia menjadi anggota koperasi tanpa sepengetahuan suaminya. Sengaja ia tak memberi tahu bahkan tidak boleh tahu karena suaminya tidak menafkahi secara penuh. suaminya juga orangnya temperamental. Selain itu, kalau tahu istrinya punya uang, uangnya bisa diganggu. Itu yang paling dia takutkan. Kalau nggak dipinjami, suaminya akan marah-marah. Padahal, ia harus membayar angsuran. Suaminya sendiri tak bekerja secara produktif dan labil dalam memenuhi perekonomian keluarga. Selama ini, sang perempuan membayar angsuran dengan tepat hingga lunas. Dengan meminjam koperasi, uangnya kemudian diputar untuk menjalankan usaha kecil-kecilan seperti menjual sabun dan pasta gigi. Ia juga tak menerima uang langsung tetapi menangguhkan supaya tak membawa uang.

Dari situlah kemudian ia memilih untuk tak lagi menambah anggota koperasi, tetapi memperkuat anggota. Dengan cara begitu, ia merasa lebih bisa mengawasi dan manfaatnya lebih terasa dibandingkan ia memperbanyak anggota tanpa memperkuat kapasitas mereka.

Apalagi sudah ada dua perusahaan yang menjadi partner kerja koperasi untuk pembiayaan micro. Di dua perusahaan itu, koperasi bumi rejeki bekerja sama dengan manajer. Mereka yang hendak meminjam duit tak lagi ke rentenir tetapi ke koperasi bumi rejeki. Sekarang pun, kalau hendak meminjam di koperasi tak lagi mudah seperti di awal berdiri. Bagi orang luar, ia harus menjadi anggota yang harus membayar iuran pokok dan iuran wajib. Ukuran seseorang bisa meminjam, selama tiga bulan dilihat apakah ia rajin membayar iuran wajib. Dalam masa tiga bulan juga akan kelihatan keseriusan peminjam.

Dari beberapa divisi di koperasinya ada yang khusus perempuan yang dilabeli Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah (UMKM) Siti Khodijah. Penggunaan nama Siti Khodijah ini supaya spiritnya sama dengan istri pertama Nabi Muhammad itu. Harapannya, mereka yang di divisi ini, memiliki etos tinggi dan kinerjanya bagus.

Saat ini, kesadaran berorganisasi para perempuan di koperasi bumi masih rendah. Karena itu ia hendak memperkuat kelembagaannya dulu. Caranya, ia hendak membentuk yayasan supaya bisa memperluas relasi. UMKM Siti Khodijah sendiri, nantinya hendak dijadikan sayap project. Ia membayangkan, ke depan dari koperasi lahir 20 orang perempuan yang sukses dan memiliki spesialisasi usaha. Hari-hari ini, veri sendiri sedang membuka pola jaringan distribusi barang. Harapannya, dari satu yang sukses, bisa menarik dan membantu sekian puluh orang.

Veri sendiri tak menyangka bisa mendapatkan pengalaman seluas itu. Selama ini, ia merasa seperti mengalami rabun sosial, tak tahu ada problem apa di desabta. Tetapi kini, setelah tiga tahun bergulat dengan mereka, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik. Yang pertama, teori saja tak cukup untuk mengubah konsep pertanian. Tanpa pengalaman lapangan, konsep hanya akan membentur tembok karena yang paling mendasar untuk diubah adalah mindset.

Yang kedua, mendekati masyarakat juga butuh strategi yang matang. Selain tak tercakup di buku, pengalaman antar satu daerah dengan daerah lain juga berbeda. Apalagi ini terkait dengan kultur. Saat di lapangan, cara untuk menyampaikan gagasan menjadi penting. ketika hendak mengembangkan tanaman padi organik, misalnya, kita harus pintar-pintar menyederhanakan masalah, sehingga memudahkan para petani untuk mengikuti apa yang kita harapkan.

Kini juga tawaran semakin banyak datang ke Veri seperti misalnya banyak orang tua yang meminta anak-anak muda untuk diajari. Tetapi adanya perubahan kultur juga satu tantangan yang belum bisa dilampaui Veri. Anak-anak muda, kini susah kalau diajak yang bekerja kena noda seperti di pertanian. Veri mengistilah, anak-anak itu seperti bermental anak komplek, sukanya nongkrong dan gitar-gitaran. Sementara, ketika diorientasikan ke yang lebih produktif susah sekali. Suatu ketika, ia pernah mengajak anak-anak muda untuk membuat bibit sengon dan ia siap membantu penjualannya. Tetapi, ajakan itupun nihil.

Bagi Veri, yang masih mengganjal hingga saat ini adalah kesadaran untuk tidak menjual tanah. Karena ia menganggap bahwa tanah adalah satu-satunya kekayaan di dunia ketiga. Ada satu cerita yang ia kisahkan. Perempuan itu bernama Yoyoh Ruqoyah (53 tahun), salah satu anggota komunitas petani Kaki Gunung Salak. Perempuan yang tinggal di Desa Jayabakti, Kecamatan Cidahu, Sukabumi ini, memutuskan untuk memilih menjadi petani karena baginya, menjadi petani sama halnya seperti guru-guru yang mengabdikan diri untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Ia juga mengatakan bahwa cara hidup sebagai petani adalah bagian dari menjaga ketahanan pangan sebagai cermin dari kemandirian bangsa yang bermartabat.

Tak hanya itu, sejak mengetahui cara bertani organik, ia bersama suaminya malah memilih tinggal di huma supaya bisa lebih dekat dengan sawah. Mereka sekeluarga rela meninggalkan rumah yang jauh lebih bagus karena jauh dari sawah. Tetapi, justru di situlah ia menemukan kedamaian. Kegigihan dan keuletannya mampu mengembalikan keluarganya dekat dengan pertanian. Mereka semua merasa memiliki dan ikut bertanggung jawab bersama.

Ternyata dari organik itu menyatukan kembali sisi manusia dan alam. Sisi menyatukan alam dan manusia itu karena petani harus terlibat langsung. Karena sistem organik ini, menyatukan manusia dan alam yang di situ ada kesatuan manusia dengan alam sehingga di situ akan lahir kearifan lokal.

Perjuangan Yoyoh dan anggota kelompok tani organik sudah tidak tergantung lagi dengan permasalahan kelangkaan pupuk dan mahalnya harga pupuk. Mereka juga tak tertekan lagi oleh murah dan mahalnya harga gabah; atau mahal dan murahnya harga beras yang dimainkan oleh pasar.
Dengan organik, petani memiliki kemerdekaan dan kemandirian yang sesungguhnya. Khittah petani betul-betul terasakan, karena petani secara kreatif dan inovatif mampu membuat bibit dan pupuk sendiri, bahkan harga beras petani sudah tidak dimainkan lagi oleh tengkulak.

Mereka juga bisa dengan sendirinya mampu menstabilkan harga beras. Harga naik atau turun di pasaran sudah tidak menjadi kendala lagi. Oleh karena itu, harga beras petani akan tetap stabil mengingat sudah mampu menekan tekanan baik secara langsung atau tidak langsung.
Bahkan dengan kekuatan kolektif, Komunitas Kaki Gunung Salak sudah belajar menjual sendiri dengan memproduksi dalam kemasan mulai dari 5 kg sampai 10 kg. Petani komunitas organik ini d menjual langsung ke konsumen melalui koperasi. Melalui label produk Beras Organik Bintang Sembilan yang dijual langsung ke konsumen-konsumen di Jakarta melalui jejaring sosial, mengembalikan khittah petani yang merdeka dan mandiri.

Dari hasil penjualan itu, dalam setiap keuntungan per kilogram, diambil seratus rupiah untuk dijadikan dana abadi petani. Gerakan sederhana ini salah satunya dilakukan oleh perempuan yang selama ini dipandang sebelah mata. Tetapi, meski ia menemukan semangat baru, masih ada yang mengganjal di hatinya. Saat ada pertemuan dengan kawan-kawannya, ia sampaikan ganjalannya itu. Bahwa semakin ke sini, semakin sedikit anak muda yang mau bergelut di pertanian. Mereka lebih suka memilih mengadu nasib ke Jakarta dan baru kembali saat pensiun. Selain itu, Yoyoh juga cemas dengan semakin berkurangnya lahan pertanian. Padahal, sekitar lima tahun yang lalu sebagian besar tetangganya memenuhi kebutuhan sehari-hari dari lahan milik sendiri.

Veri sendiri merasa sayang melihat Bu Yoyoh. Meski memiliki semangat dan filosofi yang luar biasa, ternyata sawah yang ia garap bukan miliknya lagi. Tanah itu, sudah milik orang Jakarta yang setiap panen, bu yoyoh harus rela membagi hasilnya dengan pemilik lahan.[]


Beranda  |  Kategory: Edisi 23 | Tags: , | Trackback URI

Leave a Comment

 
INDONESIA | ENGLISH

© Copyleft 2011 by Srinthil.org
Pertanyaan, saran, keberatan, harap disampaikan melalui email: mail@desantara.or.id
Beranda | Tentang Kami | Hubungi Kami | Donasi | Sitemap | RSS
logo Jurnal Srinthil Dikelola oleh: Desantara Foundation
Komplek Depok Lama Alam Permai K3
Depok,Jawa Barat, Indonesia